Organisasi Pemuda Solo Gelar Doa Bersama dan Aksi Solidaritas Mahasiswa yang Meninggal

Organisasi Pemuda Solo Gelar Doa Bersama dan Aksi Solidaritas Mahasiswa yang Meninggal

SOLO(Jurnalislam.com)- Organisasi Kepemudaan (OKP) Kota Solo menggelar aksi damai Panggung Rakyat di depan Patung Soekarno, Manahan, Solo, kamis, (3/10/2019).

 

Aksi damai tersebut terdiri dari pembacaan puisi, akustik dan mimbar bebas. OKP terdiri dari sejumlah organisasi kemahasiswaan yang ada di kota Solo diantaranya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Gerakan Nasional Mahasiswa Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

 

Lalu Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (Hikmabudhi). Sekertaris IMM Surakarta Suryadik menyebut bahwa tujuan aksi damai tersebut bentuk wujud rasa keprihatinan mereka terhadap bangsa Indonesia.

 

“Dalam perjalanannya Indonesia mengalami suasana kemelut pasca proklamasi. Sejarah nasional resmi berpuncak pada pembacaan proklamasi 17 Agustus 1945.

Penyerahan kedaulatan resmi dari Belanda ke RI tahun 1949 dikerdilkan. Sejumlah peristiwa besar yang terjadi antara 1945 dan 1949 tidak dikisahkan,” katanya.

 

Menurutnya, Kebanyakan orang Indonesia tidak mengetahui tentang kekerasan politik rasis besar-besaran, termasuk pembunuhan serta pemerkosaan terhadap kaum minoritas Tionghoa pada tahun 1947.

 

“Mereka juga tidak tahu pada masa itu terjadi kekerasan politik besar-besaran terhadap ratusan ribu warga minoritas Eropa dan Indonesia. Pada masa yang sama, terjadi pergolakan dikalangan elite kaum Nasionalis sendiri, yang sebagian mendorong terjadinya ‘Peristiwa Madiun 1948’,” ungkapnya.

 

Namun, katanya, alih-alih terselesaikannya polemik yang dirasa telah selesai kemudian perlu memerlukan kesadaran penuh dalam pelaksanaanya. Masalah berikutnya pun muncul tatkala usaha mewujudkan tatanan ideal dalam kedaulatan Indonesia, yaitu munculnya kasus rasisme dikalangan bangsa Indonesia sendiri.

 

“Jika didalam novel Multatuli yang telah terlanjur tersebar ke negeri Belanda, yang pada akhirnya rakyat Belanda sedih dan tidak terima bahwa Belanda adalah penjajah negeri orang. Hari ini hal itu dilakukan oleh negeri jajahannya yaitu Indonesia untuk menjajah negerinya sendiri,” ungkapnya.

 

Lebih lanjut Supriyadik menuturkan bahwa selama 74 tahun Indonesia merdeka semua anak bangsa telah berusaha melakukan penataan konstitusi yang imbang dengan proses dan dialektika yang panjang.

 

“Hasil dari kontestasi politik di Pemilu 2019 akan menjadi puncak dari nasib Indonesia untuk satu periode berikutnya. Semoga Indonesia mampu menjadi bangsa besar yang diidam-idamkan oleh Soekarno yakni bangsa yang mandiri, atau berdikari,” tandasnya.

Bagikan

One thought on “Organisasi Pemuda Solo Gelar Doa Bersama dan Aksi Solidaritas Mahasiswa yang Meninggal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X