Berita Terkini

Data dalam Berita: Antara Propaganda dan Bukti

Oleh: Beggy Rizkiyansyah – Anggota Divisi Wacana Publik Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

“Tingkat Kemiskinan RI terendah sepanjang sejarah.”

Berita itu dirilis detik.com pada Senin, 16 Juli 2018. Detik.com meliris berita tersebut berdasarkan pemaparan Kepala Badan Pusat Statsitik (BPS), Suhariyanto dalam konferensi pers neraca perdagangan Juni 2018.

“Apakah ini yang terendah, iya (terendah), bisa saya sampaikan kalau dilihat pada tahun Maret 2011 itu persentasenya 12,49%,” kata Suhariyanto di kantor BPS pusat, Jakarta, Senin (16/7/2018).

Tentu tak ada yang salah dengan pemaparan tersebut. Persoalannya adalah cara Detik.com yang menyajikan berita tersebut. Pers bukanlah sekedar pencatat rilis resmi pemerintah. Sekedar menyebarluaskan. Fungsi seperti ini lebih tepat disebut humas ketimbang pers. Fungsi pers sebagai watchdog pemerintah seharusnya membuat Detik.com lebih kritis dan tak sekedar menyampaikan kembali apa yang disajkan dalam bentuk konferensi pers.

Ada banyak hal yang dapat ditelisik dari pernyataan BPS tersebut. Misalnya, berapa nominal garis kemiskinan yang dimaksud BPS? Jika kita membuka data dari BPS, ternyata garis kemiskinan untuk Indonesia sebesar 383.908 rupiah. Atau misalnya untuk provinsi DKI Jakarta adalah 593.208 rupiah. Jumlah ini tentu saja dapat dikritisi. Jika kita merujuk pada pernyataan BPS, maka warga DKI Jakarta dengan penghasilan 600 ribu dapat disebut tidak miskin. Tentu saja jumlah 593.208 ini jika dikomparasikan dengan realitas hidup di Jakarta, adalah jumlah yang sulit dicapai untuk mencapai hidup yang layak.

Survei BPS pun perlu dikritisi. Survei dilakukan setelah pemerintah melakukan gempuran dana bantuan sosial. Peningkatan dana bantuan sosial meroket hingga 87,6 persen dari kuartal I 2017 ke kuarta I 2018. Ada  injeksi yang dilakukan sebelum survei diterapkan. Artinya penurunan angka tersebut bukan karena membaiknya perekonomian, tetapi bantuan temporer yang disalurkan oleh pemerintah.

Penelusuran seperti ini yang seharusnya dilakukan oleh pers. Pers tidak sekedar mencatat dan menulis ulang data mentah. Konteks, latar belakang, dan penelahaan harus dilakukan terhadap data-data yang disajikan sehingga pembaca memahami secara utuh data tersebut.

Fenomena penyajian data dalam berita menjadi pembahasan yang menarik. Seperti diketahui, Detik.com merilis berita berdasarkan data-data yang dipaparkan BPS. Penyajian data dalam jurnalisme menjadi sangat penting, terutama belakangan ini. Terlebih kini muncul istilah jurnalisme data.

Jurnalisme data merupakan satu tren jurnalisme era digital dimana kepekaan terhadap berita dibuat dalam bentuk pemanfaatan big data pada proses penulisan berita. Pemakaian data dalam jurnalisme memperkaya karya jurnalistik itu sendiri. Pemakaian data adalah alat yang sangat kuat yang dapat memperkaya diskusi dan membuka berbagai isu baru. Data-data mampu memberi pijakan kuat dalam argumentasi.

Menurut Stephen Cushion dkk (2016) dalam Data Journalism, Impartiality and Statistical Claims, saat ini data- data bukan saja tersedia untuk memperkaya informasi publik, tetapi juga lebih mudah dikutip karea tersedia khususnya secara daring (online). Oleh sebab itu jurnalisme dituntut untuk lebih terbuka dan transparan, sebagai bentuk praktek jurnalisme yang baik.

Persoalannya adalah masyarakat kita bukanlah masyarakat yang terbiasa dengan angka-angka. (Stephen Cushion dkk : 2016) Fenomena big data saat ini juga harus disikapi secara bijak. Keberlimpahan data harus dilihat sebagai satu alat, bukan tujuan. Tim Harford, seorang jurnalis mengatakan;

“Big data do not solve the problem that has obsessed statisticians and scientists

for centuries: the problem of insight, of inferring what is going on, and figuring out

how we might intervene to change a system for the better. . . “Big data” has arrived,

but big insights have not.” (BBC Trust Impartiality Review: 2016)

Data tak berbicara dengan sendirinya. Data perlu lagi dijelaskan. Konteks data menjadi sangat penting. Persoalannya jurnalis sering kali abai untuk mampu menelaah data. Padahal data amat menolong jurnalis. Anthony Reuben dari BBC menjelaskan nilai tambah jurnalis yang mampu ‘membaca data.’ Menurutnya,

“Being comfortable with numbers sets you apart from many other journalists. It helps you to develop the alarm bells that should go off when PR companies send you bogus research or governments announce figures that do not add up.” (BBC Trust Impartiality Review: 2016)

Sayangnya penyajian data di media massa seringkali melepaskan data tersebut dari konteksnya. Padahal amat penting bagi seorang jurnalis untuk menjelaskan pada pembaca soal konteks data tersebut.

Data dalam jurnalisme bukan hanya tentang keakuratan data, tetapi juga penjelasan tentang data tersebut. Apakah liputan menyertakan penjelasan yang sesuai, penjelasan mengenai angka dalam data dikumpulkan? Apakah memuat analisis yang memberi gambaran lebih luas tentang data tersebut? Akurasi bukan sekedar mengumpulkan fakta yang benar, tetapi jika isunya kontroversial, opini yang relevan juga harus ditampilkan. (BBC Trust Impartiality Review: 2016)

Konteks dari data juga ditekankan dalam BBC Impartiality Review: Making Sense of Statistics (2016);

 “Context is crucial. Without it, statistics can rarely be fully understood by audiences. We

might, for example, observe five fire engines attending a fire. But without the context, how

do we know whether this is a lot of fire engines or a very small number of them? How can

we judge whether their deployment is excessive, stretched too thin or just about right? A

number on its own means nothing. As one person told us:

The power of statistics lies not simply in its ability to summarise numerical data, but

from the ability to make inferences.” (BBC Trust Impartiality Review: 2016)

Pembaca kadang kala perlu konteks yang lebih jelas tentang sebuah data. Pertama, mereka perlu tahu apa pentingnya data tersebut bagi mereka? Kedua, mereka perlu tahu validitas dari angka tersebut. Data pengangguran misalnya dapat memberi kita informasi bahwa kekuatan buruh telah berubah. Statistik kriminalitas dapat memberi kita informasi tentang tingkat keamanan dan keselamatan yang berubah di masyarakat kita. Angka kematian dapat memberi tahu kita kemajuan dalam pengobatan medis dan seterusnya. (BBC Trust Impartiality Review: 2016)

Seringkali angka-angka dalam statistik disimpulkan oleh media dengan istilah yang lebih mudah, seperti “naik dan turun,” “lebih baik dan lebih buruk,” “kemajuan dan kemunduran,” dan sebagainya. Statistik sesungguhnya hanya terlihat bermanfaat dalam jangka panjang, bukan jangka pendek. Dalam jangka pendek, perubahan angka-angka dalam statistik kurang berarti. Angka-angka dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau inflasi misalnya, biasanya relatif stabil dan tak berubah secara drastis dalam jangka pendek.

Simpulan statistik yang berupa “pencapaian’ atau “kemunduran” sebaiknya memang disajikan dengan penjelasan, antara lain; angka dasar statistik tersebut; frekuensi dari peristiwa tersebut; jumlah nyata atau keseluruhan dari simpulan (misalnya angka nyata dari persentase); dan menambahkan konteks dan resiko dari statistik tersebut). (BBC Trust Impartiality Review: 2016)

Penyajian berita statistik pada dasarnya terbagi menjadi tiga; pertama informasi statistik tanpa bukti yang mendukung. Kedua, statistik dengan bukti pendukung dan penjelasan (termasuk konteks) yang memadai. Ketiga, statistik dengan bukti pendukung namun tanpa penjelasan yang memadai. (Stephen Cushion dkk : 2016)

Penyajian statistik dalam berita memang seharusnya memberi pencerahan bukan malah membingungkan. Jurnalis bertugas membantu pembaca memahami isu dengan jelas dan mudah. Persoalannya, statistik seringkali menjadi senjata dalam politik.

Pemerintah sebagai pihak yang berkuasa lebih sering menggunakan statistik sebagai klaim mereka. Hal ini mungkin karena negara didukung oleh lembaga yang berurusan dengan statistik dan membutuhkan statistik untuk kebijakan mereka. Sementara kubu oposisi biasanya lebih lemah dalam penyajian statistik dan hanya reaksi atas klaim yang dilakukan pemerintah. (Stephen Cushion dkk : 2016)

Mirisnya para jurnalis seringkali begitu saja menayangkan statistik baik dari pemerintah maupun oposisi. Mereka hanya menampilkan kedua statistik dari kedua kubu tersebut tanpa memverifikasi dan menjelaskan lebih lanjut. Hal ini akhirnya hanya membuat pembaca kebingungan dan pers kehilangan fungsi statistik sebagai pencerah.

Jika demikian maka amat penting bagi jurnalis untuk bersikap kritis terhadap statistik. Pertama, siapa yang mengatakan? Apa yang mereka katakan? Adakah sumber lain yang mampu memberi perbandingan? Bagaimana data itu dibuat? Apakah tersedia untuk publik? Jika tidak, apa sebabnya?

Pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan, pemahaman akan data, dan penyampaian data beserta konteks akan memenuhi fungsi pers sebagai watchdog, sekaligus memberi penjelasan kepada pembaca. Sehingga pers tak sekedar humas bagi pihak tertentu. Apalagi alat propaganda.

Tulisan ini merupakan Program #MelekMedia dari Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

Sebulan di Pengungsian, Warga Desa Rempek Lombok Utara Masih Kesulitan Air Bersih

LOMBOK UTARA (Jurnalislam.com) – Musibah gempa yang melanda Lombok dan sekitarnya memaksa warga untuk tinggal sementara tenda-tenda pengungsian. Tidak terkecuali bagi masyarakat terdamapka gempa di dusun Rempek Rimur, Desa Rempek, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara.

Mardi (50 tahun), salah seorang warga setempat mengungkapkan, dia dan keluarga sudah satu bulan tinggal di tenda pengungsian. Selain karena bangunan rumah yang hancur, warga juga masih trauma dengan gempa-gempa susulan untuk kembali ke rumah-rumah mereka.

“Untuk sementara ini kami mencoba memperbaiki dan membangun kembali rumah kami walaupun dengan keadaan seadanya,” tutur Mardi kepada Jurnalislam.com, Rabu (29/8/2018).

Mardi mengaku masih kesulitan mendapatkan air bersih untuk keperluan sehari-hari.  “Kami sangat kesulitan untuk bisa mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.

Warga hanya mendapatkan air bersih konsumsi yang disediakan para relawan. Namun mobil tangki air bersih masih sangat terbatas.

Sementara itu, untuk keperluan mandi, masak, dan lainnya mereka sangat kesulitan.

“Untuk mendapatkannya kami harus menempuh jarak yang cukup jauh,” kata Mardi seraya berharap pemerintah segera menanggapi kondisi tersebut.

Din Syamsuddin Tanggapi Isu Kristenisasi di Lombok

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsudin mengatakan, banyak isu bermunculan pascagempa yang terjadi di Lombok, termasuk soal isu kristenisasi.

Din mengakui setiap ada bencana alam di daerah manapun, sering terjadi kristenisasi yang dilakukan lembaga-lembaga kemanusiaan keagamaan.

“Itu bertentangan dengan etika kerukunan umat beragama yang disepakati dalam musyawarah besar pemuka agama kerukunan bangsa pada Februari lalu,” katanya di Kantor MUI Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu (29/8/2018).

Din meminta sebaiknya jangan ada kelompok-kelompok agama yang memancing di air keruh dengan membujuk para pengungsi untuk beralih keyakinan, baik dari Islam ke non Islam atau Hindu ke non Hindu.

Din pun mengakui masih mencari informasi apakah betul ada kalangan agama tertentu yang berusaha sistematis memanfaatkan keadan pengungsi yang kesusahan, kemudian ditarik ke agamanya.

“Saya belum dapat informasi pastinya. Baru liat dari video yang tersebar,” pungkasnya.

Din Syamsuddin: Kasus Meliana Itu Penistaan Agama

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsudin menyatakan kasus Meliana warga Tanjung Balai, Medan yang mengeluhkan volume azan masuk kategori penistaan agama.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, Din memandang, Meliana tidak hanya permasalahkan soal volume azan, tapi juga menjelekkan Islam.

“Saya sudah dapat informasi bahwa Meliana keberatan dengan azan yang katanya keras dan mengganggu kemudian protes secara vulgar dengan menjelek-jelekkan tidak hanya soal azan, bahkan menjelekkan Islam yang lain. Itu informasi yang saya terima. Kalau itu yang terjadi, penistaan agama,” kata Din kepada wartawan di kantor MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu (29/8/2018).

Din berpesan agar masyarakat mengambil hikmah dari kejadian itu. Ia juga mengingatkan tentang pentingnya toleransi antarumat beragama.

“Pemeluk agama lain harus mau bertoleransi, toh azan itu kan gak lama. Begitu juga dengan umat Islam, jangan keras-keras dan dipanjangkan. Suarakan cukup menjelang azan,” pungkasnya.

Jamaah Ansharusy Syariah Bangun Sekolah Darurat di Lombok

LOMBOK (Jurnalislam.com) – Gempa bumi yang melanda daerah Lombok menyisakan duka tersendiri bagi masyarakat, tidak terkecuali bagi anak-anak. Selain rumahnya runtuh dihantam oleh kerasnya gempa, merekapun sekarang tidak bisa mendapatkan pendidikan secara layak seperti biasanya.

Relawan dari Jamaah Ansharusy Syariah wilayah Nusa Tenggara bersama sahabat Yamima mendirikan sekolah dan masjid darurat di dusun Rempek, Desa Rempek, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara.

Ketua Jamaah Ansharusy Syariah Wilayah Nusa Tenggara, Muhammad Taqiyuddin menyampaikan melihat sangat pentingnya pendidikan bagi anak-anak para korban gempa ini, mereka tidak boleh ketinggalan untuk melakukan proses pembelajaran.

“Kami bersama sahabat yamima sudah mendirikan sekolah darurat untuk anak-anak supaya mereka juga tetap bisa mendapatkan ilmu walaupun mereka sekarang tidak bisa melakukan pembelajaran secara formal,” kata Taqiyuddin.

Selain mendirikan sekolah darurat, JAS juga mendirikan masjid darurat untuk masyarakat dengan harapan agar mereka juga bisa kembali melakukan aktivitas ibadah dengan maksimal.

Sementara itu tokoh masyarakat setempat, Isatim menyampaikan rasa terima kasihnya atas kehadiran dari para relawan yang datang membantu.

“Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada relawan dari sahabat yamima dan jamaah ansharusy syariah yang sudah mau membantu kami dengan mendirikan masjid darurat dan sekolah darurat,” katanya.

“Bantuan ini sangat berarti bagi kami semua, karena sampai hari ini kami semua masih tinggal ditengah-tengah tenda pengungsian,” pungkasnya.

Fintech Syariah Dorong Pengusaha Akses Modal Tanpa Riba

JAKARTA (Jurnalislam.com) – PT Zahir Internasional kini juga menekuni financial technology (fintech). Perusahaan nasional yang selama ini menjadi market leader industri software akuntansi itu hadir dengan solusi yang dinamakan Zahir Capital Hub.

“Zahir Capital Hub adalah fintech syariah yang siap membantu perusahaan mendapatkan akses permodalan dan pembiayaan hingga ratusan miliar rupiah  dengan mudah,” kata Chief Executive Officer (CEO) PT Zahir Internasional, Muhamad Ismail lansir Republika.co.id, Selasa  (28/8/2018).

Muhamad menambahkan, salah satu kendala yang dihadapi sebuah perusahaan adalah permodalan dan pembiayaan. “Hal itu tidak hanya dialami oleh perusahaan mikro, kecil dan menengah, tapi juga perusahaan besar,” ujarnya.

Sering terjadi, kata Muhamad, sebuah perusahaan tidak mampu memenuhi order dalam jumlah besar karena terkendala masalah modal untuk memproduksi barang yang dipesan tersebut.

Muhamad mengatakan, Zahir Capital Hub   menawarkan layanan yang pintar dan mudah bagi  perusahaan  untuk mendapatkan investasi permodalan dari mitra syariah yang kredibel dan terpercaya. “Zahir siap  membantu menghubungkan bisnis dengan fintech syariah seperti, Ethis, Asy-Syirkah, Kapital Boost, dan Alami,” ujarnya.

Muhamad menyebutkan, ada beberapa keuntungan menggunakan layanan Zahir Capital Hub. Pertama, konsep permodalan syariah.  “Konsep permodalan Zahir penghubungkan perusahaan  dengan fintech syariah yang bebas dari riba,” tuturnya.

Kedua, terhubung luas ke jaringan investor.  “Zahir  akan mengajukan permintaan permodalan ke jaringan investor sesuai dengan yang dibutuhkan oleh perusahaan,” kata Muhamad.

Ketiga, jaminan kerahasiaan data informasi. “Zahir  menjamin keamanan dan kerahasiaan data perusahaan yang mengajukan permintaan permodalan tersebut,” paparnya.

Keempat, plafon  disesuaikan dengan kebutuhan. “Plafon  permodalan hingga  ratusan miliar,” ujarnya.

Saat ini, kata Muhamad, Zahir Capital Hub sudah menjalin kerja sama dengan sejumlah fintech  syariah seperti, Ethis, Asy-Syirkah, Kapital Boost, dan Alami. “Namun kami juga siap menghubungkan perusahaan yang membutuhkan permodalan/pembiayaan secara syariah dengan fintech syariah lainnya,” kata Muhamad.

Untuk sementara, kata Muhamad, Zahir Capital Hub hanya melayani  perusahaan yang beroperasi di Indonesia. “Perusahaan yang tertarik menggunakan layanan Zahir Capital Hub bisa membuka link terkait https://zahiraccounting.com/id/capital-hub,” tuturnya.

Berdasarkan data dari Asosiasi Fintech Indonesia tahun 2018, saat ini terdapat 235 perusahaan fintech di mana 26 di antaranya bergerak di bidang market aggregator. Alami merupakan perusahaan fintech/ teknologi finansial (tekfin) aggregator syariah pertama di Indonesia.

Awal Juli lalu,  Alami  melakukan kemitraan dengan 13 bank umum syariah (BUS)  untuk menyalurkan dananya. “Saat ini kita memiliki setidaknya 13 BUS yang siap menyalurkan dana kepada umat. Melalui positioning kami sebagai perusahaan tekfin aggregator syariah, Alami memiliki keunggulan untuk mempertemukan layanan perbankan tadi ke calon-calon nasabah yang ingin memperbesar skala usaha namun tetap dalam koridor syariah,” tutur CEO dan Founder Alami, Dima Djani.

Ketua Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) Ronald Yusuf  Wijaya mengatakan potensi pasar  fintech syariah di Indonesia sangat pesat. “Bahkan, potensi fintech syariah terbesar di dunia sebetulnya ada di Indonesia, melebihi Malaysia dan Dubai yang selama ini aktif berusaha untuk menjadi hub atau pusat ekonomi syariah dunia, termasuk di dalamnya fintech syariah,” ujarnya, Senin (27/8/2018).

Ronald mengemukakan, selama ini banyak usaha mikro kecil menengah (UMKM) terkendala permodalan. “Fintech syariah bisa membantu para pengusaha UMKM itu agar mendapatkan permodalan atau pembiayaan sesuai dengan koridor syariah,” tuturnya.

Tak hanya itu, kehadiran fintech syariah mendorong para UMKM agar bisnis mereka maju dan berkembang, sehingga menembus pasar ekspor. “Kita harus mengubah mind set, selama ini Indonesia menjadi pasar atau konsumen. Dengan kehadiran fintech yang  mendorong para pelaku usaha untuk menembus pasar ekspor, maka Indonesia tidak hanya menjadi konsumen, tapi juga produsen,” papar Ronald Yusuf  Wijaya.

 

Terungkap, Sebelum Ditabrak hingga Tewas, Mobil Bos Indaco Halangi Jalan Eko Prasetyo

SOLO (Jurnalislam.com) – Polresta Surakarta menggelar aksi rekonstruksi kasus tabrak lari yang dilakukan bos PT Indaco Iwan Andranacus di simpang Pemuda Manahan dan Jalan KS Tubun, Manahan, tepatnya di timur Mapolresta Surakarta, Rabu (29/8/2018).

Dalam rekonstruksi pertama di Simpang Pemuda Manahan, terungkap bahwa mobil Iwan lah yang menghalangi jalan Eko Prasetyo. Merasa dihalangi, Eko lalu mengetuk kaca mobil dan mengatakan sesuatu kepada Iwan, namun tiga pengawalnya Iwan keluar mobil dan memukuli Eko lalu Eko pun melarikan diri.

“Nanti kita akan cek ulang, tapi muncul fakta bahwa kendaraan tersangka menghalangi korban,” kata Kapolresta Surakarta Kombes Pol Ribut Hari Wibowo kepada wartawan usai rekontruksi.

Setelah dapat melarikan diri, Iwan dan ketiga pengawalnya masih mengejar Eko yang mengendarai sepeda motor Beat hingga kearah MT Haryono namun Eko dapat menghindar hingga akhirnya tak terkejar.

Setelah menurunkan ketiga pengawalnya, Iwan kembali bertemu Eko di simpang jalan Adi Sucipto, keduanya kembali adu mulut dan cek-cok lalu Eko menendang mobil Iwan dan lari ke arah jalan KS Tubun hingga akhirnya ditabrak mobil Iwan yang melaju dengan kencang dari belakang hingga terlepas helmnya. dan dalam rekontruksi itu, terlihat kepala Eko seperti terlindas ban mobil milik Iwan.

“Ada trauma benda tumpul di kepala korban. Ini masih kita dalami,” terang Kasatreskrim Polresta Surakarta, Kompol Fadli kepada wartawan usai rekontruksi.

Usai menabrak Eko hinggak tewas seketika, Iwan yang mengendarai Mersedez Benz AD 888 QQ kemudian melarikan diri hingga 15 menit kemudian berhasil ditangkap oleh petugas keamanan.

Usai Rekontruksi, kepada wartawan Kapolresta Surakarta Kombes Pol Ribut Hari Wibowo menjelaskan ada 42 adegan yang dilakukan, ia menyebut bahwa hasil rekontruksi tersebut lebih meyakinkan terhadap apa yang disangkakan terhadap tersangka yakni pasal 338 KUHP.

“InsyaAllah kita telah menyelesaikan rekontruksi untuk meyakinkan kita terhadap pasal yang disangkakan kemudian ada 42 adegan yang dilaksanakan,” ungkap Ribut.

Analis: Ketika Rezim Suriah Mobilisasi Serangan Terakhir di Benteng HTS

IDLIB (Jurnalislam.com) – Ketika pasukan rezim Syiah Suriah memobilisasi serangan terakhir untuk merebut kembali provinsi Idlib yang dikuasai oposisi, sebuah tarik menarik perang internasional antara Turki, Iran, Rusia dan Amerika Serikat sedang mengambil bentuk yang akan memutuskan nasib tiga juta penduduk Idlib.

Merebut Idlib akan memungkinkan rezim Suriah untuk akhirnya mendapatkan kembali kendali atas sebagian besar negara tersebut untuk pertama kalinya sejak pecahnya perang  global berdarah pada tahun 2011.

Pasukan rezim Nushairiyah yang didukung oleh angkatan udara dan angkatan laut Rusia mempersiapkan serangan terhadap para pejuang oposisi dan faksi-faksi jihad, termasuk kelompok bersenjata yang pernah berafiliasi dengan Hay’at Tahrir al-Sham (HTS)  – sedangkan Moskow dan Ankara mencoba untuk menegosiasikan solusi demi menyelamatkan provinsi itu dari serangan dahsyat dan menghindari masuknya jutaan pengungsi Suriah ke Turki.

Baca juga: 

Namun analis mengatakan serangan Idlib tidak dapat dihindari karena negosiasi antara berbagai pihak di Suriah sejauh ini terus menerus gagal mengakhiri perang.

“Saya ragu apakah Turki atau pihak lain akan dapat mencegah serangan terhadap Idlib atau pengambilalihan oleh rezim,” kata Joshua Landis, direktur Pusat Studi Timur Tengah di Universitas Oklahoma.

Pasukan rezim Suriah yang didukung oleh kekuatan udara Rusia pasti akan merebut kembali, kecuali AS melakukan sesuatu yang drastis, seperti membangun zona larangan terbang di atas provinsi itu, Landis mengatakan kepada Al Jazeera, Rabu (29/8/2018).

Turki mempertahankan beberapa pangkalan militer di provinsi ini. Laporan pers Arab baru-baru ini mengatakan Turki telah menuntut pemimpin  HTS – sebelumnya dikenal sebagai Jabhat Fath al Sham (JFS)- dan kelompok bersenjata lainnya untuk meninggalkan Idlib.

Baca juga: 

Syeikh Abu Muhammad al-Jaulani, panglima perang Hayat Tahrir al-Sham, dilaporkan telah menyatakan tidak akan mengindahkan tuntutan Turki dan memerintahkan para pejuangnya untuk “mengikuti Allah, bukan Turki” dan bersiap untuk menghadapi pertempuran.

Koalisi Hayat Tahrir al Sham
Koalisi Hayat Tahrir al Sham

Namun seorang ulama Salafi jihadi yang terkenal dari Yordania yang memiliki pengetahuan tentang kelompok-kelompok bersenjata yang bertempur di Suriah meragukan seruan terakhir Syeikh al-Jaulani kepada para pasukanya untuk bertempur sampai mati.

Pemimpin HTS bersikap dia benar-benar ingin bersama dengan Turki tetapi dengan syarat besar untuk memenuhi tuntutannya”, katanya kepada Al Jazeera, menolak untuk diidentifikasi karena dia dilarang berbicara kepada media oleh intelijen Yordania .

“Ketika tidak mendapatkan syarat yang diinginkannya dari Turki, dia membuat pernyataannya tetap menyerukan perang,” katanya.

Berdasarkan informasi dan keakrabannya dengan kepemimpinan HTS, Yordania mengatakan HTS akan mencair dan berakhir sambil menyatakan bahwa langkah itu untuk “kepentingan terbaik agama dan masyarakat Idlib”.

Landis setuju bahwa waktu bagi kelompok bersenjata itu sudah habis dan opsi HTS telah habis, terutama terhadap Turki.

Pemerintah Turki tidak akan mengizinkan para anggota HTS bermukim kembali di Turki karena takut dituduh menyembunyikan “teroris”, sehingga memperumit hubungan dengan badan-badan intelijen Barat.

“HTS telah mencapai akhir baris,” kata Landis, yang juga seorang penulis blog the Syria Commentblog.

Baca juga: Analisis: Turki Perhitungkan Kekuatan Hayat Tahrir al Sham di Idlib

Satu-satunya pilihan yang mungkin dimiliki oleh mujahidin HTS adalah relokasi ke Suriah utara dekat Aleppo, di mana oposisi lain masih memiliki kendali. Tetapi bahkan pilihan itu rumit dan dapat memicu pertempuran di antara faksi-faksi oposisi.

Pemain lain di papan catur adalah Iran, yang telah memberikan dukungan politik, keuangan, dan militer yang stabil kepada rezim Syiah Suriah Bashar al-Assad sejak perang dimulai tujuh setengah tahun yang lalu.

Diperkirakan 1.000 lebih orang Iran – termasuk anggota senior Pengawal Revolusi elit Syiah Iran- telah tewas di Suriah sejak 2012.

Pada hari Ahad, Menteri Pertahanan Iran Amir Hatami bertemu al-Assad dan rekan Suriahnya Ali Abdullah Ayyoub.

“Tidak hanya orang-orang di wilayah itu tetapi orang-orang di dunia berhutang budi pada pertempuran yang telah terjadi melawan jihadis di Suriah,” kata Hatami kepada Assad dalam sebuah pertemuan, menurut kantor berita Iran Tasnim.

Dia menambahkan Suriah “melewati tahap kritis” dan menyatakan harapan pada keterlibatan Iran dalam rekonstruksi negara.

Atase militer Iran untuk Damaskus, Brigadir Jenderal Abolghasem Alinejad, mengatakan penasihat militer akan tetap di Suriah di bawah perjanjian pertahanan yang ditandatangani pada hari Senin.

Setelah Tembak Mati Warga Palestina di Kepala, Begini Kata Tentara Zionis

AL QUDS (Jurnalislam.com) – Seorang mantan tentara zionis yang menembak mati seorang warga Palestina yang terluka mengatakan bahwa dia “tidak sedikitpun menyesal” atas tindakannya.

“Saya tahu apa yang saya lakukan itu benar, dan saya melakukannya dengan kepala tegak,” kata Elor Azaria dalam wawancara dengan koran Israel Hayoum, yang kutipannya dirilis pada hari Rabu (29/8/2018), Anadolu Agency melaporkan.

“Saya tidak menyesalinya,” katanya, “dan jika waktu kembali ke momen di Hebron, saya masih tetap akan melakukan persis apa yang saya lakukan, karena itu adalah hal yang benar untuk dilakukan.”

Baca juga: 

Azaria menembak seorang Palestina di kepala setelah dugaan serangan di kota Hebron, Tepi Barat pada tahun 2016 meskipun faktanya ia terluka dan tidak bersenjata.

Tentara itu tertangkap kamera ketika menembak mati warga Palestina oleh seorang aktivis kelompok hak asasi Israel, B’Tselem.

Azaria dijatuhi hukuman 18 bulan penjara setelah dinyatakan bersalah membunuh pria Palestina.

Namun pada September 2017, hukuman penjaranya dikurangi oleh Kepala Staf Angkatan Darat Israel Gadi Eizenkot menjadi hanya 14 bulan penjara.

Baca juga: 

Azaria menuduh tentara bertanggung jawab atas pemenjaraannya, mengutip pernyataan mantan Menteri Pertahanan Moshe Ya’alon dan Kepala Staf Angkatan Darat Gadi Eisenkot yang membeberkan pengakuannya.

“Jika mereka menutup mulut mereka, tidak akan ada yang terjadi,” katanya, “dan yang terjadi adalah ketidakadilan”.

Rusia Targetkan HTS di Idlib, PBB: Semua Pihak Tahan Diri

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Sekjen PBB Antonio Guterres menyuarakan keprihatinan yang mendalam pada hari Rabu (29/8/2018) atas “semakin besarnya risiko serangan rezim Suriah skala penuh di provinsi barat laut Idlib.”

“Sekretaris Jenderal mendesak kepada Pemerintah Suriah dan semua pihak untuk menahan diri dan memprioritaskan perlindungan warga sipil,” kata juru bicara Guterres, Stephane Dujarric dalam sebuah pernyataan, lansir Anadolu Agency.

Guterres mempertahankan sikapnya bahwa “setiap penggunaan senjata kimia sama sekali tidak dapat diterima.”

Baca juga: 

Dia meminta Turki, Rusia dan Iran “menemukan solusi damai untuk situasi di Idlib, zona de-eskalasi terakhir yang tersisa.”

Ketiga negara itu dikenal sebagai “penjamin Astana” karena peran mereka dalam pembicaraan damai di ibukota Kazakhstan untuk mengakhiri tujuh tahun konflik Suriah.

Terletak di dekat perbatasan Turki, Idlib pada bulan Mei ditetapkan sebagai zona de-eskalasi dimana tindakan agresi secara tegas dilarang sebagai bagian dari proses Astana yang sedang berlangsung.

Guterres menyerukan “pada semua pihak untuk mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi keberlangsungan hidup warga sipil, memungkinkan kebebasan bergerak, dan melindungi infrastruktur sipil, termasuk fasilitas medis dan pendidikan, sesuai dengan hukum humaniter internasional dan hukum hak asasi manusia.”

Di tengah permintaan mendesak kepala PBB, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan pada hari Rabu bahwa militer Rusia dan Turki sedang membahas “tindakan praktis” terhadap teroris di Suriah, Idlib.

Baca juga: 

“Pemahaman politik sepenuhnya ada antara Moskow dan Ankara; sangat penting untuk memisahkan oposisi bersenjata normal dari  Jabhat Fath al Sham (JFS) dan pada saat yang sama untuk mempersiapkan operasi melawan jihadis ini, melakukan segalanya untuk meminimalkan risiko terhadap penduduk sipil,” Kata Lavrov sambil menyebut Idlib sebagai” sarang jihadis besar terakhir .”

“Bagaimana menerjemahkan perjanjian politik ini ke dalam bahasa tindakan praktis – telah dibahas oleh militer Rusia dan Turki, yang menangani situasi di lapangan,” katanya.

Lavrov mengatakan dia mengharapkan agar Barat tidak menghalangi operasi militer yang direncanakan terhadap JFS, yang telah berganti nama menjadi Hayat Tahrir al-Sham (HTS), di Idlib.

Suriah baru saja mulai bangkit dari konflik dahsyat yang dimulai pada awal 2011, ketika rezim Syiah Nusiriyah Bashar al-Assad menindak keras para pengunjuk rasa dengan keganasan militer yang tak terduga.

Pejabat PBB memperkirakan ratusan ribu warga sipil tewas dalam konflik itu.