Berita Terkini

Kisah Imam Masjid Al-Mujahidin Saat Tsunami Menerjang Desa Wani

“Tinggi, tinggi sekali itu pak, warnanya hitam, seperti ular kobra rupanya,” kata kakek 5 cucu itu menggambarkan ombak besar yang melaju cepat dan terus mendekat.

DONGGALA (Jurnalislam.com) – Waktu shalat magrib kan segera tiba, Tanwir Haji Mursaid (60), bersiap menuju masjid Al-Mujahidin, Pelabuhan Wani II, Kecamatan Tanatopea, Kabupaten Donggala. Ia adalah imam di sana.

Masjid Al-Mujahidin terletak persis dekat dermaga Pelabuhan Wani II. Jamaah shalat magrib masjid seluas 10 x 15 m2 itu biasanya sekitar 3 sampai 4 baris. Begitu kata Pak Tanwir.

Saat itu, tidak ada kekhawatiran sedikitpun, Pak Tanwir yang sudah rapih dengan sarung tenun dan batiknya, berjalan tenang menuju masjid terbesar di kecamatan Tanatopea.

Bapa Tanwir Haji Mursaid, Imam Masjid Al-Mujahidin. Foto: Ally/Jurniscom

Waktu magrib pun tiba, Pak Tanwir meminta sang muazin untuk mengumandangkan azan. Namun tak tiba-tiba bumi berguncang, masjid bergoyang-goyang seperti ditimang-timang.

“Prak, prak, prak” suara bangunan berjatuhan, Pak Tanwir sempat terjatuh berkali-kali di dalam masjid, kemudian berlari menyelamatkan diri.

Ternyata, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan Sulawesi Tengah berduka. Gempa 7,4 SR diikuti tsunami dan likuifaksi (pencairan tanah) melanda beberapa wilayah di titik di Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi, beberapa saat sebelum maghrib, Jumat (28/9/2018).

Kekagetan Pak Tanwir bertambah saat berada di luar masjid yang menghadap pantai itu, ia diperlihatkan sosok hitam tingginya melebihi Kapal Sabuk Nusantara 39 yang sedang bersandar di dermaga Pelabuhan Wani.

Kapal Sabuk Nusantara 39 yang terseret tsunami. Foto: Ally/Jurniscom

“Tinggi, tinggi sekali itu pak, warnanya hitam, seperti ular kobra rupanya,” kata kakek 5 cucu itu menggambarkan ombak besar yang melaju cepat dan terus mendekat.

Tak Tanwir menjelaskan, berdasarkan penuturan warga desa Wani yang selamat dari terjangan tsunami, ombak hitam itu bukan air laut, melainkan semburan lumpur dari dalam tanah bawah laut yang terbelah ketika gempa terjadi.

Warga itu bernama Ambo, saat ini Ambo tengah dirawat di Puskesmas. Pak Tanwir mengisahkan, saat kejadian Ambo sedang berada di kapal pengangkut barang yang bersandar di dermaga untuk memindahkan pupuk ke dalam gudang kapal.

Ambo sempat terseret jauh oleh tsunami, beruntung dia selamat dan hanya terluka di bagian punggung saja.

Melihat ombak hitam nan tinggi itu, Pak Tanwir berlari menuju rumah untuk menyelamatkan sang istri.

Mereka bersama warga pelabuhan Wani lainnya berlari sejauh 5 km menjauhi pantai. Hampir tidak mungkin bagi kakek 60 tahun berlari tanpa henti dengan jarak sejauh itu. Tapi itulah yang dialami Pak Tanwir saat tsunami menerjang pesisir Wani.

“Saya bawa lari istri dan cucu saya, saya terus lari jauh-jauh dari pantai, kira-kira 5 km,” tutur Pak Tanwir mengisahkan.

“Sa (saya-red) juga heran kenapa saya bisa kuat lari sejauh itu,” sambungnya.

Beruntung, Pak Tanwir bersama seluruh anggota keluarganya selamat dari tsunami yang juga menerjang beberapa daerah lainnya seperti Kota Palu dan Kabupaten Donggala. Tapi rumah Pak Tanwir beserta isinya tak terselamatkan lagi. Rumahnya hancur terseret puluhan meter dari lokasi asalnya.

“Rumah kami sudah tidak ada pak, hancur kena tsunami,” tutur Pak Tanwir lirih.

Tak hanya rumah Pak Tanwir, pemukiman penduduk di sekitar Pelabuhan Wani II juga hancur digusur tsunami. Tsunami menyapu bersih semua bangunan yang dilewatinya.

Kondisi Dewa Wani, Kecamatan Tanatovea, Kab Donggala, Sulteng. Foto: Ally/jurniscom

Tsunami meninggalkan pemandangan suram yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Desa Wani II, tempat ia lahir dan dibesarkan kini luluh lantak. Kayu dan batu-batu dermaga berserakan dimana-mana. Kapal Sabuk Nusantara 39 sebesar itupun terseret hingga “mendarat” di tengah-tengah pemukiman warga.

Belum lagi nyawa yang hilang. Hanya delapan jenazah warga Pelabuhan Wani II yang berhasil ditemukan, sementara puluhan lainnya dinyatakan hilang. Mereka yang selamat pun tak luput dari luka-luka. Termasuk istri Pak Tanwir yang sempat dirawat karena luka di bagian kaki akibat terjatuh beberapa kali saat menyelamatkan diri.

Namun semua warga terkejut ketika Masjid Al-Mujahidin yang posisinya tepat di bibir pantai, tidak mengalami kerusakan berarti. Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan kuasa-Nya pada masjid berkubah hijau ini.

Padahal nyaris tak ada yang penghalang antara masjid dengan laut. Meski bangunan di sekelilingnya hancur berkeping-keping, tapi ia tetap kokoh berdiri. Beberapa bagian masjid memang retak-retak, tapi masjid berwarna hijau itu masih layak dipakai.

Ia dikelilingi kayu-kayu dari rumah-rumah yang hancur dan material yang dibawa tsunami dari laut. Sebuah kapal nelayan bersandar tepat di halaman depannya.

“Masjid itu masih utuh pak, tak ada rusak,” kata seorang warga.

Menatap Laut. Bapa Tanwir Haji Mursaid, Imam Masjid Al-Mujahidin. Foto: Ally/Jurniscom

Sore itu, Selasa (9/10/2018) Pak Tanwir sedang berdiri termenung di atas dermaga samping Kapal Sabuk Nusantara 39 yang mendarat.

Tatapannya tajam melihat ke arah laut lepas, seolah melemparkan tanya, kenapa engkau menjadi begitu buas.

Namun Pak Tanwir paham betul soal hikmah di balik musibah.

Ia yakin ada pesan Tuhan di balik bencana yang dialami manusia. Karena mutiara akan berserakan di pantai saat badai usai dan pelangi tiba ketika hujan mereda.

“Ini peringatan sudah, peringatan ini, semoga cepat sadar semua orang ini,” tutur Pak Tanwir.

Lantunan ayat suci mulai diperdengarkan dari Masjid Al-Mujahidin. Itu tandanya Pak Tanwir harus segera pulang untuk bersiap menunaikan panggilan-Nya.

Sebagai imam masjid, Pak Tanwir kerap mengingatkan warganya untuk bergegas menyambut panggilan shalat.

Di akhir perbincangan, Pak Tanwir sedikit menyinggung musabab musibah hari Jumat itu terjadi.

Salah satunya adalah kesyirikan yang ada dalam ritual adat Palu Nomoni.

Meskipun Pak Tanwir tak menjelaskan secara terperinci, tapi ia dengan tegas menolak tradisi tersebut.

Menurutnya, ritual itu sudah tidak perlu dilakukan lagi karena ada unsur syirik di dalamnya.

“Waktu Palu Nomoni pertama kali diadakan lagi, itu ada angin kencang, petir. Tak perlu lagi itu Palu Nomoni, itu syirik,” tegasnya.

Beberapa warga Palu yang sempat diwawancarai tim Jurnalislam.com memang tidak setuju dengan ritual Palu Nomoni. Alasan mereka seragam. “Itu syirik”.

Penulis: Ally Muhammad Abduh

Ini Update Laporan Lengkap BNPB Terkait Gempa-Tsunami Sulawesi Tengah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kepala Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyatakan, masa tanggap darurat diperpanjang dengan pertimbangan masih banyaknya masalah yang harus diselesaikan di lapangan.

“Maka untuk menyelesaikan itu diperlukan kemudahan akses. Agar penanganan bisa lebih cepat, untuk itu masa tanggap darurat diperpanjang 14 hari kedepan. Yaitu 13 Oktober sampai dengan 26 Oktober,” katanya dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jaktim, Kamis (11/10/2018).

Selain itu, Sutopo menjelaskan masa tanggap darurat pasca bencana Sulawesi Tengah diputuskan dalam rapat koordinasi yang dilakukan oleh Gubernur Sulawesi Tengah bersama Kementerian dan Lembaga beserta para Bupati.

Selain masa tanggap darurat, rapat tersebut juga memutuskan batas akhir pencarian korban. Sutopo memaparkan, sebenarnya dalam rapat sebelumnya yang dilakukan pada 8 Oktober, telah disepakati bahwa hari ini adalah periode terakhir evakuasi secara resmi. Namun karena ada beberapa permintaan dari warga untuk perpanjangan waktu pencarian korban, maka diputuskan untuk diperpanjang 1 hari.

“Sehingga masa pencarian korban akan dihentikan mulai tanggal 12 Oktober. Besok sore akan diakhiri secara resmi, paginya masih akan dilakukan pencarian oleh tim Basarnas, TNI, Polri, PMI dibantu relawan lain,” terang Sutopo.

Meski begitu, lanjutnya, bukan berarti evakuasi akan benar-benar dihentikan. Hanya saja tidak akan dilakukan secara besar-besaran seperti sebelumnya dan akan diserahkan kepada Basarnas kota Palu.

“Selanjutnya, basarnas akan menyerahkan evakuasi lanjutan kepada Basarnas kota Palu. Jika masih ada warga yang mencari korban dan sebagainya kita himbau untuk tidak melakukan karena kondisi jenazah sudah rusak dan dapat menyebabkan penyakit,” tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga menyebutkan bahwa korban jiwa akibat gempa dan tsunami di Palu dan Donggala yang telah ditemukan per Kamis (11/10/2018) mencapai 2.073 jiwa.

Dari jumlah tersebut, BNPB menguraikan bahwa sebagian besar korban jiwa berasal dari kota Palu yaitu sebanyak 1.663 jenazah. Sementara itu, di Donggala ditemukan 171 jenazah, di Sigi 223 jenazah, Parigi Moutong 15 jenazah dan Pasangkayu, Sulewesi Barat 1 jenazah.

BNPB menjelaskan bahwa dari jumlah tersebut 994 jenazah telah dimakamkan secara massal. Sedangkan 1.079 jenazah lainnya dikembalikan pada pihak keluarga dan dimakamkan di pemakaman masing-masing keluarga. Hingga saat ini tercatat 680 orang berstatus korban hilang.

Untuk korban luka, BNPB melaporkan bahwa 2.549 orang menderita luka berat dan 8.130 orang mengalami luka ringan. Sehingga total korban luka mencapai 10.679 orang.

Dalam peta sebaran pengungsi yang juga tercantum dalam laporan tersebut, terdapat 112 titik posko pengungsian dengan jumlah penghuni 78.994 jiwa dari total 87.725 pengungsi. Sisanya, lebih memilih untuk mengungsi ke luar daerah Sulawesi tengah.

Tercatat, bangunan rusak akibat gempa dan tsunami sebanyak 67.310 unit berasal dari berbagai daerah. Terbanyak dari kota Palu sejumlah 65.733 unit disusul Sigi 897 unit dan Donggala 680 unit. Jumlah tersebut belum termasuk 99 fasilitas pribadatan dan 20 fasilitas kesehatan yang juga turut hancur. Setidaknya 1 rumah sakit, 10 puskesmas dan 4 puskesmas pembantu serta 5 puskedes luluh lantak akibat bencana alam tersebut.

Evakuasi Korban Likuifaksi di Petobo Resmi Dihentikan, 180 Jenazah Ditemukan

PALU (Jurnalislam.com) – Evakuasi pencarian korban pencairan tanah atau likuifaksi di Kelurahan Petobo, Palu Selatan, Palu, Sulawesi Tengah resmi dihentikan. Sesuai dengan arahan pemerintah bahwa tanggap bencana gempa-tsunami Sulawesi Tengah berakhir hari ini, Kamis (11/10/2018).

Tim SAR mengakhiri proses evakuasi dengan doa bersama yang diikuti oleh seluruh tim SAR gabungan yang terlibat dalam pencarian di tempat ini.

“Iya tadi saat evakuasi berakhir kami semua menggelar doa bersama. Kemudian juga ada acara ramah-tamah sesama anggota dan juga ada evaluasi,” kata Safety Officer Basarnas untuk Petobo, Chandra Kresna di Petobo, Kamis (11/10/2018).

Chandra menuturkan total jenazah yang dievakuasi dari kelurahan Petobo tercatat ada 180 jenazah. Jumlah tersebut termasuk 5 jenazah yang ditemukan hari ini.

“Sedangkan untuk tim SAR gabungan yang terlibat berjumlah 121 personel dengan menggunakan eskavator dan satu buldoser,” katanya.

Meski evakuasi korban telah dihentikan, para korban selamat masih berharap keluarga mereka yang hilang bisa ditemukan.

Sebab, diduga masih ada ribuan jenazah yang tertimbun didalam reruntuhan bangunan yang tenggelam akibat likuifaksi di tempat ini.

Hingga berita ini diturunkan, BNPB di Jakarta mengabarkan untuk memperpanjang masa tanggap darurat bencana selama 14 hari dan proses evakuasi selama satu hari.

Reporter: Ally Muhammad Abduh

Wali Kota Palu Berencana Dirikan Monumen di Petobo dan Balaroa

PALU (Jurnalislam.com) – Wali kota Palu, Hidayat berencana mendirikan monumen di wilayah yang terkena dampak pencairan tanah atau likuifaksi yakni Petobo dan Balaroa. Hidayat menyebut sudah berkordinasi dengan pihak-pihak terkait.

“Ada Gubenur, Kapolda, Danrem, BNPB, kemarin semua rapat bahwa ada keputusan sementara tanggal 12 itu ditutup, pencarian dan evakuasi di 2 tempat lokasi itu,” katanya kepada wartawan seusai jumpa pers di rumah jabatan wakil wali kota Palu, Rabu, (11/10/2018).

“Rencananya di dua lokasi kejadian itu akan dijadikan monumen dan juga ruang terbuka, ada beberapa warga korban, ahli waris yang menyampaikan sendiri kami siap,” imbuh Hidayat.

Namun, kata Hidayat, pihaknya masih menunggu surat pernyataan kesediaan warga atas rencana tersebut, selain dengan warga, pemerintahan kota Palu saat ini sudah berkordinasi dengan pemuka agama untuk meminta persetujuan atas rencana yang sudah disepakati dirinya dan pemerintahan kota provinsi tersebut.

“Surat itu kami minta pernyataan warga, kami menunggu itu, karena gubenur minta itu, keputusan rapat harus ada itu, kan rapat kemarin ada pemuka agama, ketua MUI, ada dari FKUB, tokoh agama lain,” ujarnya.

“Kami juga surat menyurat ke tokoh-tokoh agama seperti MUI, persatuan gereja, kita sudah minta fatwanya,” tandasnya.

Sudah 300 Jenazah Ditemukan di Perumnas Balaroa

PALU (Jurnalislam.com) – Hingga hari ke tiga belas pasca gema- tsunami yang melanda Sulawesi Tengah, Badan Nasional Penangggulangan Bencana (BNPB) mencatat 2.045 jasad korban berhasil teridentifikasi.

Salah satu fokus pencarian berlokasi di Perumnas Balaroa, Kota Palu. Di lokasi ini, Badan SAR Nasional (Basarnas) menemukan 300 jenazah.

“Sekitar 300 korban tertimbun telah ditemukan, kondisinya sudah membusuk,” kata anggota regu Tim 5 Basarnas, Dwi Adi kepada awak media di Perumnas Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (11/10/2018).

Jumlah tersebut diperkirakan masih bertambah, mengingat pagi ini Tim SAR menemukan 3 jenazah lagi dalam satu titik penggalian.

Dilokasi ini, diduga masih banyak korban meninggal yang tertimbun reruntuhan akibat likuifkasi.

Meski masa tanggap darurat akan selesai pada hari ini, Kamis (11/10/2018), namun proses evakuasi di Perumnas Balaroa tetap dilakukan.

“Untuk Basarnas sendiri masih menerima informasi apabila ada info dari keluarga korban untuk mencari keluarganya yang tertimbun reruntuhan,” jelas Dwi.

Sebanyak 20 personel Tim SAR dari Basarnas yang dibantu tim relawan rescue Aksi Cepat Tanggap (ACT) masih melakukan proses evakuasi di komplek perumahan berpenduduk 800 kk ini. Evakuasi dibantu dengan 6 unit escavator.

Reporter: Ally Muhammad Abduh

Ini Jawaban Wawali Kota Palu, Pasha ‘Ungu’ Menyoal Kekurangan Logistik Pemerintah

PALU (Jurnalislam.com) – Wakil Wali kota Palu, Sigit Purnomo atau yang karib disapa Pasha ‘Ungu’ mengatakan, saat ini posko darurat yang berada di rumah jabatannya kekurangan logistik, terutama kebutuhan dan perlengkapan bayi, ibu hamil dan kebutuhan perempuan.

“Kalau hari ini masyarakat berteriak kebutuhan susu, keperluan bayi, pembalut wanita, ibu hamil termasuk tenda. Kalau keperluan seperti mie instan kita sudah ada, tapi cukup hari ini katakanlah siang ini, tapi nanti malam makan apa,” katanya saat ditemui Jurnalislam.com di Rumah Jabatannya, Rabu (10/10/2018).

Pasha mengaku, menolak jika dikatakan pemerintahan kota Palu tidak bergerak cepat dalam penanganan bencana, terutama terkait masalah pendistribusian logistik. Ia menyebut pihaknya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengkoordinasikan kebutuhan para pengungsi.

“Kami sudah mengunakan struktur pemerintahan melalui kelurahan karena menjadi garda terdepan, itupun tidak maksimal, bukan lurahnya tidak mau bergerak, ada kami titipkan tapi kalau sedikit bagaimana?,” paparnya.

Menurut Pasha, permasalahan utama yang dialami pihaknya adalah keterbatasan logistik yang ada di posko darurat. Selama ini, katanya, bantuan yang datang hanya berkisar beberapa truk yang akan dibagikan untuk 400.000 orang pengungsi dari jumlah 46 kelurahan di kota Palu.

“Tapi 400.000 jiwa logis nggak, katakanlah 1000 truk, saya kira tidak cukup, apalagi kalau hanya hitungan 100 atau 200 truk. Bagaimana mungkin kita bisa adil dan dianggap mampu, pasti wajar bila masyarakat mengganggap kita tidak bergerak,” ujarnya.

“Saya kira wajar, bukan karena tidak mau tapi saya jawab logistik kita kurang, coba kalau ditaruh disini 500 truk kan gampang kita baginya, ada 8 kecamatan isinya 64 kelurahan, nah silahkan satu lurah bawa 1 truk, kan cuma 46 kenapa kita pusing gitu,” tandas Pasha.

Hari Terakhir Evakuasi, Tim SAR Masih Temukan Jenazah di Perumnas Balaroa

PALU (Jurnalislam.com) – Masa tanggap darurat bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah akan selesai pada hari ini, Kamis (11/10/2018). Sehingga proses evakuasi korban pada titik bencana di Kota Palu, Donggala dan Sigi selesai dilakukan.

Hingga saat ini, diduga masih banyak korban belum ditemukan seperti di Perumnas Balaroa, Petobo dan Jonooge. Wilayah tersebut dilanda likuifaksi atau pencarian tanah akibat gempa 7,4 SR.

Pantauan Jurnalislam.com, di hari terakhir ini Tim SAR masih menemukan jenazah. Seperti di Perumnas Balaroa Kota Palu, hingga pukul 10.00 WITA, 3 jenazah berhasil ditemukan.

“Sampai saat ini sudah tiga kantong,” kata Danru 2 Tim Rescue ACT, Tejo Kuntoro di lokasi, Kamis (11/10/2018).

Terkait penghentian evakuasi, Tejo mengatakan, ACT tetap satu komando dengan Basarnas. Namun, pihaknya tetap siaga jika masih diperlukan.

“Kalau hari ini dihentikan kita tetap siap untuk membantu,” ujar Tejo.

Oleh karena itu, pihaknya masih menerima informasi dari masyarakat jika menemukan jasad korban dari reruntuhan akibat gempa dan tsunami.

“ACT masih menerima informasi untuk melakukan evakuasi,” jelasnya.

Sementara itu, personel Basarnas yang datang dari berbagai daerah dikurangi jumlahnya.

“Evakuasi masa tanggap darurat berakhir hari ini, cuma kelanjutannya koordinasi dengan pemerintah daerah,” kata anggota Tim 5 Basarnas Dwi Adi saat ditemui Jurnalislam.com di lokasi, Kamis (11/10/2018).

Kendati demikian, Tim SAR dari Basarnas masih menerima informasi jika terdapat keluarga korban yang tahu informasi mengenai keberadaan jasad korban.

“Untuk Basarnas sendiri masih menerima informasi apabila menemukan jasad korban, maka akan diaktifkan kembali untuk tanggap darurat,” ujarnya.

Reporter: Ally Muhammad Abduh

MUI Apresiasi Pembatalan Kontes LGBT oleh Polda Bali

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kepolisian RI, khususnya kelada Kepala Bidang Hubungan Masarakat Kepolisian Daerah (Polda) Bali, Kombes Pol Hengky Widjaja yang telah membatalkan rencana penyelenggaraan kontes yang mengatasnamakan lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) yaitu Ajang Pemilihan Mister dan Miss Gaya Dewata 2018 di Bali.

“MUI apresiasi pembatalan yang dilakukan Polda Bali karena mendengarkan aspirasi ulama di Bali,” kata ketua Plt MUI, Zainut Tauhid saat dihubungi Jurnalislam.com, Kamis (11/10/2018).

Zainut Tauhid berharap pelarangan itu akan diberlakukan di semua daerah di wilayah NKRI.

Zainut menyatakan, MUI prihatin dengan semakin maraknya aktivitas kelompok LGBT yang sudah berani secara terbuka dan terang-terangan menunjukkan eksistensinya.

“Ini merupakan indikator bahwa jumlah dan aktivitas penganut homoseks di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan,” tegasnya.

Menurutnya, hal ini menunjukan bahwa masalah homoseksual tidak bisa lagi dianggap menjadi masalah sederhana, dan perlu mendapat perhatian yang sangat serius dari semua pihak. Khususnya dari pemerintah, tokoh agama dan masyarakat,

“Praktik lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) serta seks bebas harus dilarang, karena bertentangan dengan nilai-nilai agama dan Pancasila,” pungkasnya.

Dia pun menjelaskan MUI sudah mengeluarkan fatwa pada 2014, tentang LGBT hukumnya haram atau dilarang oleh agama.

“Semua agama juga melarang tindakan atau perilaku LGBT. Penolakan terhadap LGBT bahkan sudah menjadi kesepakatan bersama dalam hukum positif di Indonesia,” tuturnya.

Selain itu, lanjutnya. Norma hukum positif di Indonesia tidak melegalkan LGBT. Dalam Undang-undang Perkawinan menyatakan bahwa sahnya perkawinan jika dilakukan oleh mereka yang berbeda jenis kelamin menurut ajaran agama.

Senator AS Peringatkan ‘Neraka Bayarannya’ Jika Jamal Khashoggi Dibunuh

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Akan ada “balasan neraka” jika Arab Saudi membunuh jurnalis Washington Post yang hilang, seorang senator senior memperingatkan secara singkat pada hari Rabu (10/10/2018).

Lindsey Graham, yang mengatakan dia akan bertemu dengan utusan Saudi untuk Washington pada Rabu malam, mengatakan sejauh ini penjelasan Riyadh atas hilangnya Jamal Khashoggi “tidak masuk akal.”

“Saya tidak pernah lebih terganggu daripada saat ini,” kata Graham kepada wartawan di gedung Capitol, tetapi dia memperingatkan agar tidak terburu-buru menilai mengenai nasib Khashoggi.

Khashoggi terakhir terlihat memasuki Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober, dan belum terdengar lagi kabarnya sejak saat itu di tengah spekulasi bahwa ia dibunuh oleh pemerintah Saudi.

Baca juga: Begini Perkembangan Terbaru Kasus Terbunuhnya Wartawan Arab ’Jamal Khashoggi’

“Jika ini memang terjadi, jika orang ini dibunuh di konsulat Saudi di Istanbul, itu akan melintasi setiap garis normalitas dalam komunitas internasional,” katanya. “Jika itu terjadi, akan ada neraka yang harus dibayar.”

Peringatan mengerikan tersebut merupakan peringatan kedua yang dikeluarkan hari Rabu.

Anggota Kongres Ro Khanna juga mengatakan bahwa AS harus meninjau ulang hubungannya dengan kerajaan jika Khashoggi dibunuh oleh Riyadh.

“Jika dugaan itu benar, saya harap ini adalah panggilan membangunkan yang serius kepada Administrasi Trump dan DC secara lebih luas bahwa kita memerlukan re-evaluasi lengkap atas hubungan kita dengan Arab Saudi,” Khanna, yang telah menjadi pengkritik sengit operasi militer Riyadh di negara tetangga Yaman, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Jamal Khashoggi
Jamal Khashoggi

“Dari perang di Yaman, hingga pengusiran diplomatik baru-baru ini terhadap sekutu NATO kami di Kanada, sudah waktunya kita menghadapi kenyataan bahwa hubungan ini tidak melayani kepentingan kita. Inilah yang terjadi ketika Anda membiarkan diktator paling otoriter sedunia,” dia menambahkan.

Presiden AS, Donald Trump, pada hari Rabu mengatakan dia berbicara dengan para pejabat Saudi di tingkat “tertinggi” tentang hilangnya Khashoggi, tetapi tidak menyebutkan secara spesifik dengan siapa dia berbicara.

Pengakuan itu muncul satu hari setelah sepasang anggota parlemen bikameral dan bipartisan mengeluarkan surat kepada presiden yang memintanya untuk “secara pribadi” mengangkat masalah tersebut dengan pemerintah Saudi dan Turki.

“Kami menulis guna mendesak Anda untuk secara pribadi mengangkat masalah hilangnya dan keberadaan warga Virginia Jamal Khashoggi dengan pemerintah Arab Saudi dan Turki. Kami juga meminta Anda menawarkan dukungan AS untuk setiap penyelidikan independen mengenai kepergiannya,” tulis Senator Tim Kaine dan Gerry Connolly, yang mewakili negara bagian Virginia di ruang masing-masing.

Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Trump mengatakan bahwa AS akan “menyelidiki sampai dasar” atas hilangnya sang jurnalis.

“Saya tidak senang tentang ini. Kami harus melihat apa yang terjadi,” kata Trump, menambahkan bahwa AS telah melakukan kontak dengan pejabat Turki tentang kasus ini.

Baca juga: Trump Bahas Hilangnya Khashoggi dengan Pemimpin Tinggi Arab Saudi

Otoritas Saudi belum memberikan penjelasan yang jelas tentang nasib Khashoggi sementara beberapa negara, terutama Turki, AS dan Inggris telah menyatakan keinginan mereka agar masalah ini harus dijelaskan secepatnya.

Menurut tunangannya, Hatice Cengiz, Khashoggi pertama kali tiba di Konsulat Saudi di Istanbul pada 28 September. Karena dia diberitahu bahwa dokumennya akan siap dalam sepekan, Khashoggi pergi ke London dan kembali ke Istanbul pada 1 Oktober.

Khashoggi menelepon konsulat dan diberitahu “bahwa dokumennya sedang dipersiapkan” dan dia bisa datang ke konsulat. Dia pergi ke gedung diplomatik itu pada 2 Oktober dengan Cengiz.

Sebelum dia memasuki gedung, Khashoggi menyuruh Cengiz menghubungi Yasin Aktay, penasihat Presiden Recep Tayyip Erdogan, dan Asosiasi Media Turki-Arab seandainya dia tidak muncul dari konsulat dalam dua jam.

Kantor Kepala Penuntut Umum di Istanbul telah meluncurkan penyelidikan resmi terhadap hilangnya Khashoggi.

Departemen kepolisian Turki mengatakan beberapa jam kemudian bahwa Khashoggi tidak meninggalkan gedung itu sejak dia masuk.

Pada hari yang sama, 15 warga Saudi, termasuk beberapa pejabat, tiba di Istanbul dengan dua pesawat dan mengunjungi konsulat saat Khashoggi juga berada di dalam gedung, kata sumber-sumber polisi.

Semua individu yang diidentifikasi telah meninggalkan Turki.

Berikut Situasi Terakhir di Idlib, Benteng Terakhir Mujahidin Suriah

IDLIB (Jurnalislam.com) – Turki mengatakan zona penyangga yang direncanakan di provinsi barat laut Suriah, Idlib telah dibersihkan dari senjata berat sebagai bagian dari kesepakatan yang dicapai antara Moskow dan Ankara, tetapi para ahli mengatakan Ankara masih memiliki banyak tantangan di depan.

Front Pembebasan Nasional (the National Liberation Front-NLF), sebuah organisasi payung oposisi yang didukung Turki yang mencakup Tentara Pembebasan Suriah (the Free Syrian Army-FSA), menegaskan kepada Al Jazeera bahwa mereka telah menyelesaikan proses penarikan senjata berat dari Idlib, benteng pertahanan terakhir yang dikuasai oposisi dan faksi-faksi jihad di Suriah.

“Senjata berat kami – termasuk tank dan meriam – telah dipindahkan ke garis belakang zona de-militerisasi sehingga mereka tidak lagi menjadi target pesawat tempur Rusia,” kata juru bicara NLF Naji al-Mustafa, kepada Al Jazeera, Rabu (10/10/2018).

Baca juga: 14 Kelompok Oposisi Moderat dan HTS Siap Pertahankan Idlib

“Kami akan tetap berada di garis pertahanan dengan senjata kecil dan senjata ringan,” kata al-Mustafa.

Perjanjian, yang ditandatangani pada 17 September di Sochi Rusia, bertujuan untuk mencegah serangan pemerintah skala besar atas Idlib dengan menciptakan zona penyangga 15-20km di area tersebut.

Zona itu – diperkirakan akan didirikan pada 15 Oktober – dimaksudkan akan membentang dari pinggiran utara Latakia yang berdekatan sampai ke pinggiran wilayah barat laut Aleppo.

PBB telah memperingatkan bahwa serangan yang dipimpin rezim Assad terhadap Idlib akan menciptakan bencana kemanusiaan di kawasan itu. Idlib adalah rumah bagi hampir tiga juta orang, setengah dari mereka mengungsi secara internal menghindari serangan sebelumnya.

Baca juga: Inilah 22 Kelompok Teroris Syiah Dukungan Iran yang Mulai Mengepung Idlib

Walaupun operasi sebelumnya berakhir dengan negosiasi pengiriman pasukan dan keluarga mereka ke utara, serangan Idlib akan membuat warga mendapatkan ultimatum; memilih menyeberang ke wilayah yang dikuasai Turki atau tetap hidup di bawah pengaruh Assad sekali lagi.

Dalam beberapa hari terakhir, Turki telah mengirim bala bantuan ke 12 pos pengamatannya yang tersebar di seluruh Idlib dan mengirim pasukan untuk berpatroli di daerah de-militerisasi.

Menurut kesepakatan itu, pasukan Turki dan polisi militer Rusia akan mengawasi keamanan di daerah itu – tetapi masih belum jelas apakah pasukan Rusia akan berpatroli di sisi zona yang dikuasai oposisi.

Pengamat mengatakan melucuti zona itu hanyalah satu aspek dari perjanjian, yang juga mengharuskan penarikan semua pejuang radikal dari daerah tersebut pada 15 Oktober.

Baca juga: Penarikan Senjata Berat dari Garis Depan Idlib Bukti Percayanya Oposisi pada Turki

Pejuang ini termasuk aliansi faksi jihad Hayat Tahrir al-Sham (HTS), yang didominasi oleh faksi oposisi yang merupakan mantan afiliasi al-Qaeda, Jabhat Fath al Sham (JFS).

“Masih ada klausul dalam perjanjian yang terbuka untuk berbagai interpretasi oleh Turki atau Rusia,” Ahmed Abazeid, seorang peneliti Suriah yang tinggal di Istanbul, mengatakan kepada Al Jazeera.

“Kesepakatan itu pada dasarnya adalah taktik negosiasi jangka panjang antara kedua negara,” katanya.

Selain NLF, HTS adalah salah satu kekuatan oposisi dominan di Idlib. Pada tahun 2016, HTS ditetapkan sebagai “kelompok teror” oleh Rusia dan dengan demikian tidak pernah dimasukkan dalam resolusi gencatan senjata dan upaya de-eskalasi.

Baca juga: Analisis: Turki Perhitungkan Kekuatan Hayat Tahrir al Sham di Idlib

Sejak penandatanganan kesepakatan itu, HTS belum mengungkapkan pendiriannya atas kesepakatan itu tetapi telah menerima penarikan senjata berat dari zona itu, tanpa mengumumkan bahwa mereka telah secara resmi setuju untuk melakukannya, aktivis di lapangan menegaskan kepada Al Jazeera.

Langkah ini menyoroti upaya HTS untuk tetap berada di “sisi baik” Turki, Abazeid, yang juga ahli dalam kelompok bersenjata di Suriah, mengatakan.

“HTS akan melakukan apa yang dikatakan Turki untuk mendapatkan restunya karena mereka mungkin menjadi ancaman dalam fase berikutnya dari perang ini,” katanya.

Namun kehadiran HTS sendiri tetap menjadi ancaman bagi perjanjian tersebut, meskipun keputusan mereka untuk melucuti senjata sejak Rusia menyebut kehadiran mereka di masa lalu sebagai alasan untuk menyerang wilayah di Idlib.

Zona ini meliputi puluhan desa yang tersebar di seluruh wilayah, terutama distrik Jisr al-Shughour, yang telah menderita serangan pemboman rezim pemerintah di masa lalu, desa-desa di Hama Governorat, dan desa-desa di pinggiran Aleppo, serta Latakia.

Di antara desa-desa ini terdapat garis pertahanan atau titik-titik yang dijaga oleh salah satu, dua, atau beberapa faksi – termasuk faksi di bawah NLF, dan HTS.

Baca juga: Pengamat: Kelompok Jihadis akan Dijadikan Alasan Rezim Assad untuk Serang Idlib

“Banyak kota atau desa yang dikendalikan secara eksklusif oleh HTS,” Ahmed Husseinat, seorang aktivis di Jisr al-Shughour, yang dikendalikan oleh NLF dan HTS dari berbagai bidang, mengatakan kepada Al Jazeera.

Inilah sebabnya mengapa mengisolasi HTS dan kelompok-kelompok kecil lainnya adalah tugas kompleks yang dihadapi Turki saat ini, Marwan Kabalan, direktur Pusat Penelitian dan Kebijakan Kebijakan Arab, mengatakan kepada Al Jazeera.

Menurut Kabalan, Turki sejauh ini berhasil membagi HTS menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah yang “lebih pragmatis” yang ingin melindungi keluarga dan komunitas lokal mereka dari potensi serangan Rusia dan kelompok kedua terutama berisi pejuang asing.

Pertikaian oposisi di provinsi ini juga menambah kompleksitas tujuan Turki di Idlib.

Pada hari Jumat, pertempuran pecah dan berlangsung selama tiga hari berturut-turut, antara faksi NLF Nour al-Din al-Zinki dan HTS di Kafr Halab – sebuah kota yang terletak di barat daya Aleppo.

Juru bicara Nour al-Din al-Zinki, Mohammed Adib, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa HTS meluncurkan serangan itu, mengatakan mereka “mencari seseorang mata-mata yang bekerja untuk rezim Assad.”

“Kami terkejut melihat mereka mengelilingi Kafr Halab pada Jumat pagi … ini adalah alasan yang digunakan HTS setiap kali mereka meluncurkan langkah agresif terhadap setiap kota atau desa di daerah itu,” kata Adib.

Walaupun Adib percaya serangan itu bertujuan untuk merebut lebih banyak wilayah, para ahli mengatakan itu hanyalah sebuah “kekuatan bergerak”.

“HTS masih ingin membuktikan bahwa mereka mampu dan di sini, di wilayah ini, bahkan setelah (kesepakatan) Sochi – untuk menunjukkan mereka tidak hancur,” kata Abazeid.

Kabalan mengatakan HTS khawatir ada potensi serangan oleh NFL yang didukung Turki.

“Mereka mencoba untuk menyenangkan (dengan diam-diam setuju untuk melucuti senjata), tetapi juga berusaha untuk membuktikan bahwa mereka kuat,” kata Kabalan.

Turki masih belum menentukan arah untuk membubarkan diri HTS, tetapi Kabalan mengatakan pertandingan akhir untuk Rusia adalah untuk mencoba mencapai tujuannya melalui diplomasi dan tekanan, bukan kekuatan militer.

“Inilah mengapa saya percaya perjanjian akan dipatuhi,” katanya.

Tapi Abazeid mengatakan perbedaan tentang bagaimana mengamankan kunci rute mungkin masih membahayakan kesepakatan.

Baca juga: Kekhawatiran Warga Idlib Ditengah Kerapuhan Perjanjian Ankara dan Moskow

Rusia dan rezim Syiah Nushairiyah Assad berniat membangun kontrol atas dua jalan raya utama – M4, yang menghubungkan kota pelabuhan Latakia dengan Aleppo, Raqqa dan Deir Az Zor yang kaya minyak; dan juga M5, yang menghubungkan ibu kota Damaskus dengan Aleppo, dan akhirnya ke jalur perdagangan Turki dan Eropa.

Fase mendatang juga akan menentukan apakah Turki akan menyetujui kembalinya pemerintah “yang lebih lunak” ke provinsi.

“Karena semua alasan-alasan yang belum diputuskan inilah serangan sepenuhnya masih mungkin dilakukan, “kata Abazeid.”

Alasannya adalah selalu tentang hadirnya kelompok jihadis.”