Berita Terkini

Sekjen PBB dan Bos Bank Dunia Kunjungi Palu, Siap Kucurkan Bantuan

PALU (Jurnalislam.com)—Wakil Presiden Jusuf Kalla mendampingi Sekjen Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Antonio Guterres dan Direktur Bank Dunia Kristalina Ivanova Georgieva mengujungi Palu, Jumat (12/10/2018).

Pantauan Jurnalislam.com, setelah meninjau dampak gempa dan tsunami, Guterres menyampaika bela sungkawa dan juga solidaritas kepada rakyat Indonesia, khususnya korban gempa.

Ia juga berjanji akan membantu proses pemulihan pasca gempa. “Kami siap mendukung pemerintah Indonesia,” katanya.

Direktur Bank Dunia Kristalina Georgieva pun menyampaikan duka yang mendalam kepada para korban gempa. Bank Dunia, katanya akan juga terlibat memberikan bantuan rehabilitasi bencana.

Sementara itu, Jusuf Kalla mengatakan akan segera membentuk badan rehabilitasi / satgas gempa Palu.

“Untuk  rekosntruksi itu beratnya ke PU, untuk relokasi ke pemerintah setempat, gubernur dan wali kota,” pungkasnya.

reporter : Ally M Abduh

 

Era Digital, PGRI Serukan Revitalisasi Ilmu Pendidikan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Unifah Rosyidi menilai, perlu ada revitalisasi ilmu pendidikan dan pendidikan guru. Karena di era digital, guru tidak lagi berperan sebagai sumber belajar atau pemberi pengetahuan tetapi harus menjadi motivator, mentor dan fasilitator.

“Revitalisasi itu menurut saya adalah komponen inti dari pengembangan bidang studi pendidikan,” kata Unifah dalam seminar TIK di Hotel Sultan Jakarta, Kamis (11/10/2018) dilansir Republika.co.id.

Unifah mengatakan, saat ini diberbagai daerah masih banyak guru yang gagap teknologi alias gaptek. Karena itu, lanjutnya, guru-guru harus mulai disiapkan untuk menghadapi perubahan-perubahan yang besar dan tidak dapat dihindari ini.

Guru, lanjut Unifah, tidak mungkin dapat bersaing dengan mesin dalam mengajar. Khususnya dalam proses belajar yang sifatnya hapalan, hitungan, proyeksi, peramalan serta mesin pencarian informasi. Karena mesin, jauh lebih cerdas, cepat dan efektif dalam mengerjakan tugas.

“Lalu peran guru bagaimana? Intinya guru harus bisa lebih cakap dalam mengubah pelajaran yang membosankan, dan mampu menciptakan proses pembelajaran yang stimulan sehingga siswa bisa cepat meresap materi,” ungkap Unifah.

Selain itu, dia juga menyampaikan bahwa guru akan jauh lebih sukses jika mengajarkan nilai-nilai etika, budaya, kebijaksanaan, pengalaman hingga empati sosial. Karena nilai-nilai itulah yang tidak dapat diajarkan oleh robot.

Tanggap Bencana, ECR, Maharani Peduli, dan Onsight Foundation Lakukan Sejumlah Aksi Kemanusiaan di Palu

PALU (Jurnalislam.com) – Sebagai bentuk kepedulian terhadap para korban gempa dan tsunami Palu, Emergency Crisis Response (ECR) bekerjasama dengan Maharani Peduli, dan Onsight Foundation mendirikan posko kemanusiaan di Pesantren Karomah 13 milik Gus Nur di jalan Zebra no 13, Palu.

Salah satu relawan ECR, Kelik Subagio menjelaskan, bahwa sudah sejak hari kedua pasca bencana, gabungan relawan kemanusiaan ini terjun langsung membantu para korban bencana di sejumlah wilayah yang ada di Palu.

“Kita melakukan sejumlah pengobatan darurat di wilayah Petobo, Sidera, Langaleso yang terkena dampak likuifaksi,” terangnya kepada Jurnalislam.com, Jumat (12/10/2018).

“Dihari-hari berikutnya banyak menderita diare, gatal karena lumpur, luka sobek karena tertimpa reruntuhan bangunan,” imbuhnya.

Selain melakukan pengobatan kepada korban, Maharani Peduli membagikan sekitar 1000 nasi kepada sejumlah kamp pengungsian yang berada di wilayah Petobo.

“Setiap hari kita membagikan paket nasi bungkus buat makan para pengungsi di Petobo yang terkena dampak bencana lumpur sehari 2 kali siang dan sore hari,” kata Ray, salah satu anggota Maharani Peduli.

Pemberian bantuan kepada warga terdampak

“Lauknya bervariasi dari ayam, ikan, telur, sayuran. Kita juga membagikan popok dan susu bayi, yang saat ini memang masih sangat dibutuhkan anak-anak di pengungsian,” tambah dia.

Direncanakan, mereka akan terus melakukan aksi kemanusian di sejumlah tempat yang saat ini belum tersentuh bantuan oleh pemerintahan kota Palu.

Tuntut Pelarangan Al Quran, Parlemen Jerman dari Berbagai Partai Kecam AfD

JERMAN (Jurnalislam.com) – Para anggota parlemen dari berbagai partai yang berbeda mengecam keras Partai Alternatif untuk Jerman (Alternative for Germany-AfD) pada Kamis (11/10/2018) atas mosi kontroversialnya yang menuntut pelarangan Al-Quran.

Partai Kanselir Angela Merkel, Christian Democratic Union (CDU), menuduh AfD menggeneralisasi Islam dengan menyimpang dan menetapkan stereotip Muslim sebagai kekerasan.

“Tuduhan Anda jahat, diskriminatif dan juga merusak. Apa yang Anda coba capai bukanlah perdamaian sosial tetapi mendiskreditkan Islam dan penganutnya,” kata anggota parlemen CDU Christoph de Vries dalam debat di parlemen, lansir World Bulletin.

Baca juga: Partai AFD Jerman Serukan Larangan Praktek Keagamaan dan Simbol-simbol Islam

Mitra koalisi Merkel, Social Democratic Party (SPD), juga menolak mosi itu, mengatakan bahwa itu adalah upaya lain dari AfD untuk menstigmatisasi umat Islam.

“Anda menghasut kebencian terhadap Islam dalam manuver politik yang diperhitungkan,” kata anggota parlemen SPD, Lars Castellucci.

“Mayoritas besar Muslim di negara ini mendukung demokrasi, mereka setia kepada negara kita,” tegasnya.

Anggota parlemen oposisi Left Party Christine Buchholz mengatakan pemimpin AfD, Alexander Gauland semakin mirip dengan Adolf Hitler.

“AfD sedang mencoba untuk merendahkan Islam dengan metode yang sama yang digunakan oleh anti-Semit terhadap orang Yahudi,” katanya.

Baca juga: Tokoh Utama Partai Anti Islam Jerman Mengundurkan Diri dan Masuk Islam

Buchholz menuduh AfD melakukan kampanye anti-Muslim dengan menggunakan ayat-ayat dari Al-Quran, yang selalu diambil di luar konteks.

Left Party mendukung kebebasan beragama semua orang di negara ini,” dia menekankan.

Gerakan kontroversial kanan-jauh Afd, yang disampaikan kepada Komite Urusan Hukum pada hari Kamis untuk dibahas dalam perdebatan lanjutan, menuntut pemerintah untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna melarang penyebaran pesan-pesan Al-Qur’an.

AfD mencetak rekor kemenangan dalam pemilihan federal tahun lalu dan memasuki parlemen untuk pertama kalinya.

Mengadopsi retorika anti-Islam secara eksplisit, AfD berpendapat bahwa Jerman berada di bawah ancaman “Islamisasi”, terutama setelah hampir satu juta pengungsi – sebagian besar dari Suriah dan Irak – tiba di negara itu sejak tahun 2015.

Sudah 198 Warga Gaza Gugur Sejak Aksi Great Return March Dimulai

GAZA (Jurnalislam.com) – Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengatakan bahwa sebanyak 198 warga Palestina, termasuk 37 anak di bawah umur, telah menjadi martir oleh pasukan penjajah Israel, dan 22.000 lainnya terluka sejak dimulainya aksi massa Great Return March pada bulan Maret terhadap pendudukan Israel.

Para pengunjuk rasa menuntut “hak untuk kembali” ke rumah dan desa mereka di Palestina yang bersejarah, sejak mereka diusir pada tahun 1948 untuk membuka jalan bagi terbentuknya negara baru Israel.

Baca juga: Aksi “Great Return March” Jumat ke-28, 2 Orang Syahid

Mereka juga menuntut diakhirinya blokade 11 tahun Israel di Jalur Gaza, yang telah menghancurkan ekonomi wilayah pesisir dan merampas banyak barang kebutuhan pokok bagi kira-kira dua juta penduduknya.

Turki-Saudi Bentuk Tim Gabungan Selidiki Bersama Kasus Jamal Khashoggi

ANKARA (Jurnalislam.com) – Sebuah tim gabungan Turki-Saudi akan menyelidiki hilangnya wartawan Saudi Jamal Khashoggi atas permintaan Kerajaan, kata asisten presiden Turki pada hari Kamis (11/10/2018).

Berbicara kepada Anadolu Agency, Ibrahim Kalin mengatakan: “Dalam kerangka kerja sama erat antara Turki dan Kerajaan Arab Saudi dan atas saran Kerajaan, tim kerja gabungan antara Turki dan Arab Saudi akan dibentuk untuk menyelidiki kasus Jamal dalam segala aspeknya.”

Baca juga: Intel AS Curigai Pangeran Salman Terlibat atas Terbunuhnya Jamal Khashogi

Khashoggi telah hilang sejak 2 Oktober, ketika ia mengunjungi Konsulat Saudi di Istanbul.

Otoritas Saudi belum memberikan penjelasan yang jelas tentang nasib Khashoggi ketika beberapa negara – terutama Turki, AS dan Inggris – mendesak klarifikasi.

Intel AS Curigai Pangeran Salman Terlibat atas Terbunuhnya Jamal Khashogi

WASHINGTON DC (Jurnalislam.com) – Senator Republik Lindsey Graham mengatakan dia akan mencari sanksi ekonomi yang bersifat menghukum terhadap Pangeran Mahkota Saudi Mohammad bin Salman dan pejabat lainnya di kerajaan itu jika penyelidikan resmi AS menunjukkan bahwa mereka terlibat dalam pembunuhan Jamal Khashoggi.

Graham mengatakan kepada Al Jazeera pada hari Kamis (11/10/2018) bahwa dia telah membaca data intelijen AS yang menunjukkan keterlibatan pemerintah Saudi dalam hilangnya penulis Saudi itu.

“Saya sudah melihat intel. Itu sangat mengerikan. Anda tidak harus menjadi Sherlock Holmes untuk mengetahui hal ini,” kata Graham.

Wakil jurubicara Deplu AS Robert Palladino mengatakan pada hari Rabu bahwa walaupun dia tidak dapat berkomentar mengenai masalah intelijen, sedikitnya dia dapat “mengatakan secara definitif bahwa Amerika Serikat tidak memiliki pengetahuan awal tentang hilangnya Jamal Khashoggi”.

Komentar itu muncul sehari setelah Washington Post – media tempat Khashoggi menulis kolom – melaporkan bahwa intelijen AS telah mencegat komunikasi pejabat Saudi yang berencana menculik wartawan dan kritikus terkemuka.

Baca juga: Begini Perkembangan Terbaru Kasus Terbunuhnya Wartawan Arab ’Jamal Khashoggi’

Khashoggi, yang telah menghabiskan tahun terakhir di Amerika Serikat dalam pengasingan setelah melarikan diri dari Arab Saudi di tengah-tengah tindakan keras terhadap mereka yang kritis terhadap kerajaan, menghilang pada 2 Oktober setelah memasuki konsulat Saudi untuk mendapatkan surat-surat yang diperlukan untuk menikah.

Menurut beberapa media, mengutip sumber-sumber Turki yang tidak disebutkan namanya, polisi di Turki percaya penulis itu tewas di dalam fasilitas diplomatik. Arab Saudi mempertahankan Khashoggi meninggalkan konsulat sebelum menghilang.

Graham mengatakan bahwa jika Saudi terlibat AS akan perlu mengambil “tindakan tegas”.

“Mereka, Saudi, menempatkan kami di tempat yang buruk, dan mereka harus membayar mahal, karena saya tidak ingin ada yang bingung tentang bagaimana perasaan kami tentang hal-hal seperti ini,” kata Graham.

Baca juga: Erdogan: Buktikan Kalau Wartawan Saudi Tewas di Luar Konsulat Arab

“Jika ternyata orang ini terbunuh atau dianiaya oleh pemerintah Saudi, kami memperkirakan hal seperti ini dilakukan juga oleh [Presiden Rusia Vladmir] Putin dan kami menjatuhkan sanksi keras padanya ketika dia melakukannya. Jadi, semua yang kami lakukan untuk Putin, juga ingin saya lakukan ke Arab Saudi.”

Sebuah kelompok bipartisan dari 22 senator AS mengirim surat kepada Presiden Donald Trump pada hari Rabu memicu penyelidikan pemerintah AS di bawah UU Magnitsky, undang-undang sanksi 2012 yang awalnya ditujukan untuk Rusia dan diperluas oleh Kongres pada tahun 2016 untuk berlaku secara global.

Graham mengatakan dia yakin Trump mengambil pendekatan yang benar dengan mengikuti proses investigasi Magnitsky dan, jika ditunjukkan, dia tidak akan mentolerir pembunuhan Khashoggi.

“Aku akan melepaskan sanksi dari Hades,” kata Graham. “Saya ingin menjadi contoh dari pemerintah saat ini dengan melakukan hal ini. Saya tidak ingin orang lain berpikir bahwa jika mereka memiliki aliansi dengan kami, maka kami tidak peduli dengan nilai.”

Baca juga: Senator AS Peringatkan ‘Neraka Bayarannya’ Jika Jamal Khashoggi Dibunuh

Graham menambahkan bahwa dia tidak puas dengan percakapan kemarin dengan Duta Besar Saudi di Washington. “Saya tidak percaya apa pun yang mereka katakan,” kata Graham kepada Al Jazeera.

Graham juga menarik perbedaan antara bereaksi terhadap kematian Khashoggi dengan sanksi ekonomi dan membatasi penjualan senjata AS ke Arab Saudi atau membatasi dukungan militer AS untuk perang di Yaman.

“Perang Yaman adalah perang proksi dengan Iran,” kata Graham, menambahkan bahwa Yaman dan Khashoggi adalah “dua hal yang berbeda,” sebuah sentimen yang digemakan oleh anggota Republik lainnya.

Pada hari Kamis, Trump mengatakan dia tidak melihat alasan untuk memblokir investasi Arab Saudi di AS.

“Mereka [Saudi] menghabiskan $ 110 miliar untuk peralatan militer dan untuk hal-hal yang menciptakan lapangan kerja … untuk negara ini,” kata Trump kepada wartawan di luar Gedung Putih. “Saya tidak suka dengan konsep menghentikan investasi sebesar $ 110 miliar ke Amerika Serikat, karena Anda tahu apa yang akan mereka lakukan? Mereka akan mengambil uang itu dan membelanjakannya di Rusia atau Cina atau di tempat lain.”

Baca juga: Trump Bahas Hilangnya Khashoggi dengan Pemimpin Tinggi Arab Saudi

“Segala sesuatu yang kita tahu menunjuk kepada pemerintah Saudi dan belum satupun dari kita ingin melompat ke kesimpulan. Jika saya harus bertaruh hari ini, mereka merencanakannya, mereka membunuhnya dan mungkin orang yang sangat tinggi menyadarinya,” kata Bob Corker dari Tennessee, ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat, mengatakan kepada Al Jazeera.

Proses Magnitsky, yang melibatkan penyelidikan 120 hari, “menciptakan banyak tekanan” pada Saudi dan Gedung Putih di bawah pimpinan Trump, katanya.

“Kami sangat menyadari bahwa pemerintah memiliki investasi politik yang sangat besar di Arab Saudi yang berkaitan dengan proses perdamaian seluruh Timur Tengah,” kata Corker.

“Kami harus mengirim sinyal sejak awal bahwa membunuh wartawan adalah hal yang tidak pantas dan jika dia (MBS) terlibat, harus ada sanksi.”

Kisah Imam Masjid Al-Mujahidin Saat Tsunami Menerjang Desa Wani

“Tinggi, tinggi sekali itu pak, warnanya hitam, seperti ular kobra rupanya,” kata kakek 5 cucu itu menggambarkan ombak besar yang melaju cepat dan terus mendekat.

DONGGALA (Jurnalislam.com) – Waktu shalat magrib kan segera tiba, Tanwir Haji Mursaid (60), bersiap menuju masjid Al-Mujahidin, Pelabuhan Wani II, Kecamatan Tanatopea, Kabupaten Donggala. Ia adalah imam di sana.

Masjid Al-Mujahidin terletak persis dekat dermaga Pelabuhan Wani II. Jamaah shalat magrib masjid seluas 10 x 15 m2 itu biasanya sekitar 3 sampai 4 baris. Begitu kata Pak Tanwir.

Saat itu, tidak ada kekhawatiran sedikitpun, Pak Tanwir yang sudah rapih dengan sarung tenun dan batiknya, berjalan tenang menuju masjid terbesar di kecamatan Tanatopea.

Bapa Tanwir Haji Mursaid, Imam Masjid Al-Mujahidin. Foto: Ally/Jurniscom

Waktu magrib pun tiba, Pak Tanwir meminta sang muazin untuk mengumandangkan azan. Namun tak tiba-tiba bumi berguncang, masjid bergoyang-goyang seperti ditimang-timang.

“Prak, prak, prak” suara bangunan berjatuhan, Pak Tanwir sempat terjatuh berkali-kali di dalam masjid, kemudian berlari menyelamatkan diri.

Ternyata, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan Sulawesi Tengah berduka. Gempa 7,4 SR diikuti tsunami dan likuifaksi (pencairan tanah) melanda beberapa wilayah di titik di Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi, beberapa saat sebelum maghrib, Jumat (28/9/2018).

Kekagetan Pak Tanwir bertambah saat berada di luar masjid yang menghadap pantai itu, ia diperlihatkan sosok hitam tingginya melebihi Kapal Sabuk Nusantara 39 yang sedang bersandar di dermaga Pelabuhan Wani.

Kapal Sabuk Nusantara 39 yang terseret tsunami. Foto: Ally/Jurniscom

“Tinggi, tinggi sekali itu pak, warnanya hitam, seperti ular kobra rupanya,” kata kakek 5 cucu itu menggambarkan ombak besar yang melaju cepat dan terus mendekat.

Tak Tanwir menjelaskan, berdasarkan penuturan warga desa Wani yang selamat dari terjangan tsunami, ombak hitam itu bukan air laut, melainkan semburan lumpur dari dalam tanah bawah laut yang terbelah ketika gempa terjadi.

Warga itu bernama Ambo, saat ini Ambo tengah dirawat di Puskesmas. Pak Tanwir mengisahkan, saat kejadian Ambo sedang berada di kapal pengangkut barang yang bersandar di dermaga untuk memindahkan pupuk ke dalam gudang kapal.

Ambo sempat terseret jauh oleh tsunami, beruntung dia selamat dan hanya terluka di bagian punggung saja.

Melihat ombak hitam nan tinggi itu, Pak Tanwir berlari menuju rumah untuk menyelamatkan sang istri.

Mereka bersama warga pelabuhan Wani lainnya berlari sejauh 5 km menjauhi pantai. Hampir tidak mungkin bagi kakek 60 tahun berlari tanpa henti dengan jarak sejauh itu. Tapi itulah yang dialami Pak Tanwir saat tsunami menerjang pesisir Wani.

“Saya bawa lari istri dan cucu saya, saya terus lari jauh-jauh dari pantai, kira-kira 5 km,” tutur Pak Tanwir mengisahkan.

“Sa (saya-red) juga heran kenapa saya bisa kuat lari sejauh itu,” sambungnya.

Beruntung, Pak Tanwir bersama seluruh anggota keluarganya selamat dari tsunami yang juga menerjang beberapa daerah lainnya seperti Kota Palu dan Kabupaten Donggala. Tapi rumah Pak Tanwir beserta isinya tak terselamatkan lagi. Rumahnya hancur terseret puluhan meter dari lokasi asalnya.

“Rumah kami sudah tidak ada pak, hancur kena tsunami,” tutur Pak Tanwir lirih.

Tak hanya rumah Pak Tanwir, pemukiman penduduk di sekitar Pelabuhan Wani II juga hancur digusur tsunami. Tsunami menyapu bersih semua bangunan yang dilewatinya.

Kondisi Dewa Wani, Kecamatan Tanatovea, Kab Donggala, Sulteng. Foto: Ally/jurniscom

Tsunami meninggalkan pemandangan suram yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Desa Wani II, tempat ia lahir dan dibesarkan kini luluh lantak. Kayu dan batu-batu dermaga berserakan dimana-mana. Kapal Sabuk Nusantara 39 sebesar itupun terseret hingga “mendarat” di tengah-tengah pemukiman warga.

Belum lagi nyawa yang hilang. Hanya delapan jenazah warga Pelabuhan Wani II yang berhasil ditemukan, sementara puluhan lainnya dinyatakan hilang. Mereka yang selamat pun tak luput dari luka-luka. Termasuk istri Pak Tanwir yang sempat dirawat karena luka di bagian kaki akibat terjatuh beberapa kali saat menyelamatkan diri.

Namun semua warga terkejut ketika Masjid Al-Mujahidin yang posisinya tepat di bibir pantai, tidak mengalami kerusakan berarti. Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan kuasa-Nya pada masjid berkubah hijau ini.

Padahal nyaris tak ada yang penghalang antara masjid dengan laut. Meski bangunan di sekelilingnya hancur berkeping-keping, tapi ia tetap kokoh berdiri. Beberapa bagian masjid memang retak-retak, tapi masjid berwarna hijau itu masih layak dipakai.

Ia dikelilingi kayu-kayu dari rumah-rumah yang hancur dan material yang dibawa tsunami dari laut. Sebuah kapal nelayan bersandar tepat di halaman depannya.

“Masjid itu masih utuh pak, tak ada rusak,” kata seorang warga.

Menatap Laut. Bapa Tanwir Haji Mursaid, Imam Masjid Al-Mujahidin. Foto: Ally/Jurniscom

Sore itu, Selasa (9/10/2018) Pak Tanwir sedang berdiri termenung di atas dermaga samping Kapal Sabuk Nusantara 39 yang mendarat.

Tatapannya tajam melihat ke arah laut lepas, seolah melemparkan tanya, kenapa engkau menjadi begitu buas.

Namun Pak Tanwir paham betul soal hikmah di balik musibah.

Ia yakin ada pesan Tuhan di balik bencana yang dialami manusia. Karena mutiara akan berserakan di pantai saat badai usai dan pelangi tiba ketika hujan mereda.

“Ini peringatan sudah, peringatan ini, semoga cepat sadar semua orang ini,” tutur Pak Tanwir.

Lantunan ayat suci mulai diperdengarkan dari Masjid Al-Mujahidin. Itu tandanya Pak Tanwir harus segera pulang untuk bersiap menunaikan panggilan-Nya.

Sebagai imam masjid, Pak Tanwir kerap mengingatkan warganya untuk bergegas menyambut panggilan shalat.

Di akhir perbincangan, Pak Tanwir sedikit menyinggung musabab musibah hari Jumat itu terjadi.

Salah satunya adalah kesyirikan yang ada dalam ritual adat Palu Nomoni.

Meskipun Pak Tanwir tak menjelaskan secara terperinci, tapi ia dengan tegas menolak tradisi tersebut.

Menurutnya, ritual itu sudah tidak perlu dilakukan lagi karena ada unsur syirik di dalamnya.

“Waktu Palu Nomoni pertama kali diadakan lagi, itu ada angin kencang, petir. Tak perlu lagi itu Palu Nomoni, itu syirik,” tegasnya.

Beberapa warga Palu yang sempat diwawancarai tim Jurnalislam.com memang tidak setuju dengan ritual Palu Nomoni. Alasan mereka seragam. “Itu syirik”.

Penulis: Ally Muhammad Abduh

Ini Update Laporan Lengkap BNPB Terkait Gempa-Tsunami Sulawesi Tengah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kepala Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyatakan, masa tanggap darurat diperpanjang dengan pertimbangan masih banyaknya masalah yang harus diselesaikan di lapangan.

“Maka untuk menyelesaikan itu diperlukan kemudahan akses. Agar penanganan bisa lebih cepat, untuk itu masa tanggap darurat diperpanjang 14 hari kedepan. Yaitu 13 Oktober sampai dengan 26 Oktober,” katanya dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jaktim, Kamis (11/10/2018).

Selain itu, Sutopo menjelaskan masa tanggap darurat pasca bencana Sulawesi Tengah diputuskan dalam rapat koordinasi yang dilakukan oleh Gubernur Sulawesi Tengah bersama Kementerian dan Lembaga beserta para Bupati.

Selain masa tanggap darurat, rapat tersebut juga memutuskan batas akhir pencarian korban. Sutopo memaparkan, sebenarnya dalam rapat sebelumnya yang dilakukan pada 8 Oktober, telah disepakati bahwa hari ini adalah periode terakhir evakuasi secara resmi. Namun karena ada beberapa permintaan dari warga untuk perpanjangan waktu pencarian korban, maka diputuskan untuk diperpanjang 1 hari.

“Sehingga masa pencarian korban akan dihentikan mulai tanggal 12 Oktober. Besok sore akan diakhiri secara resmi, paginya masih akan dilakukan pencarian oleh tim Basarnas, TNI, Polri, PMI dibantu relawan lain,” terang Sutopo.

Meski begitu, lanjutnya, bukan berarti evakuasi akan benar-benar dihentikan. Hanya saja tidak akan dilakukan secara besar-besaran seperti sebelumnya dan akan diserahkan kepada Basarnas kota Palu.

“Selanjutnya, basarnas akan menyerahkan evakuasi lanjutan kepada Basarnas kota Palu. Jika masih ada warga yang mencari korban dan sebagainya kita himbau untuk tidak melakukan karena kondisi jenazah sudah rusak dan dapat menyebabkan penyakit,” tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga menyebutkan bahwa korban jiwa akibat gempa dan tsunami di Palu dan Donggala yang telah ditemukan per Kamis (11/10/2018) mencapai 2.073 jiwa.

Dari jumlah tersebut, BNPB menguraikan bahwa sebagian besar korban jiwa berasal dari kota Palu yaitu sebanyak 1.663 jenazah. Sementara itu, di Donggala ditemukan 171 jenazah, di Sigi 223 jenazah, Parigi Moutong 15 jenazah dan Pasangkayu, Sulewesi Barat 1 jenazah.

BNPB menjelaskan bahwa dari jumlah tersebut 994 jenazah telah dimakamkan secara massal. Sedangkan 1.079 jenazah lainnya dikembalikan pada pihak keluarga dan dimakamkan di pemakaman masing-masing keluarga. Hingga saat ini tercatat 680 orang berstatus korban hilang.

Untuk korban luka, BNPB melaporkan bahwa 2.549 orang menderita luka berat dan 8.130 orang mengalami luka ringan. Sehingga total korban luka mencapai 10.679 orang.

Dalam peta sebaran pengungsi yang juga tercantum dalam laporan tersebut, terdapat 112 titik posko pengungsian dengan jumlah penghuni 78.994 jiwa dari total 87.725 pengungsi. Sisanya, lebih memilih untuk mengungsi ke luar daerah Sulawesi tengah.

Tercatat, bangunan rusak akibat gempa dan tsunami sebanyak 67.310 unit berasal dari berbagai daerah. Terbanyak dari kota Palu sejumlah 65.733 unit disusul Sigi 897 unit dan Donggala 680 unit. Jumlah tersebut belum termasuk 99 fasilitas pribadatan dan 20 fasilitas kesehatan yang juga turut hancur. Setidaknya 1 rumah sakit, 10 puskesmas dan 4 puskesmas pembantu serta 5 puskedes luluh lantak akibat bencana alam tersebut.

Evakuasi Korban Likuifaksi di Petobo Resmi Dihentikan, 180 Jenazah Ditemukan

PALU (Jurnalislam.com) – Evakuasi pencarian korban pencairan tanah atau likuifaksi di Kelurahan Petobo, Palu Selatan, Palu, Sulawesi Tengah resmi dihentikan. Sesuai dengan arahan pemerintah bahwa tanggap bencana gempa-tsunami Sulawesi Tengah berakhir hari ini, Kamis (11/10/2018).

Tim SAR mengakhiri proses evakuasi dengan doa bersama yang diikuti oleh seluruh tim SAR gabungan yang terlibat dalam pencarian di tempat ini.

“Iya tadi saat evakuasi berakhir kami semua menggelar doa bersama. Kemudian juga ada acara ramah-tamah sesama anggota dan juga ada evaluasi,” kata Safety Officer Basarnas untuk Petobo, Chandra Kresna di Petobo, Kamis (11/10/2018).

Chandra menuturkan total jenazah yang dievakuasi dari kelurahan Petobo tercatat ada 180 jenazah. Jumlah tersebut termasuk 5 jenazah yang ditemukan hari ini.

“Sedangkan untuk tim SAR gabungan yang terlibat berjumlah 121 personel dengan menggunakan eskavator dan satu buldoser,” katanya.

Meski evakuasi korban telah dihentikan, para korban selamat masih berharap keluarga mereka yang hilang bisa ditemukan.

Sebab, diduga masih ada ribuan jenazah yang tertimbun didalam reruntuhan bangunan yang tenggelam akibat likuifaksi di tempat ini.

Hingga berita ini diturunkan, BNPB di Jakarta mengabarkan untuk memperpanjang masa tanggap darurat bencana selama 14 hari dan proses evakuasi selama satu hari.

Reporter: Ally Muhammad Abduh