Berita Terkini

Heboh Crosshijaber, MUI: Mereka Merusak Ajaran Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menanggapi fenomena crosshijaber yang ramai diperbincangkan di media sosial, Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menegaskan, perbuatan crosshijaber atau crossdress sangat dilarang oleh ajaran Islam.

“Kalau ada pria memakai busana muslimah dalam Islam perbuatan tersebut jelas sangat dilarang dan harus dihindari,” katanya saat dihubungi Jurnalislam, Rabu (16/10/2019).

Beliau menjelaskan, dalam Islam laki-laki dilarang menyerupai perempuan dan sebaliknya perempuan dilarang menyerupai laki-laki.

“Jadi kalau ada yang melakukan hal tersebut patut dicurigai mereka punya maksud buruk untuk merusak ajaran agama Islam,” katanya.

Fenomena para pria yang menggunakan hijab ini dikaitkan dengan gangguan perilaku seksual transvestisme.

Transvestisme adalah gangguan perilaku seksual yang membuat seseorang berpakaian atau mengenakan aksesori yang berlawanan dengan jenis kelaminnya untuk tujuan tertentu. Perilaku berpakaian seperti lawan jenis ini dikenal juga dengan nama crossdressing.

Baca juga:

Fenomena Crosshijaber, MIUMI: Hukumnya Haram

AILA Desak Aparat Tindak Tegas Pelaku Crosshijaber

Puluhan Ribu Warga Bima Ikuti Pawai Rimpu, Hijab Syari Asli Indonesia

AILA Desak Aparat Tindak Tegas Pelaku Crosshijaber

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia, Rita Soebagio menyayangkan maraknya fenomena pria mengenakan hijab dengan tujuan agar bisa masuk ke ruang-ruang privasi perempuan atau yang dikenal crosshijaber. Ia meminta aparat penegak hukum menindak tegas kelompok yang meresahkan tersebut.

“Ini saya kira sudah harus masuk ranah aparat yang menyelidiki ya,” kata Rita kepada Jurnalislam.com Rabu (16/10/2019).

Rita menjelaskan, dari ranah kejiwaan, transvestisme adalah sebuah bentuk gangguan identitas jenis kelamin jika merujuk pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) atau Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ). Oleh sebab itu, diperlukan terapi agar kembali kepada fitrahnya sebagai laki-laki.

Transvestisme adalah gangguan perilaku seksual yang membuat seseorang berpakaian atau mengenakan aksesori yang berlawanan dengan jenis kelaminnya untuk tujuan tertentu. Perilaku berpakaian seperti lawan jenis ini dikenal juga dengan nama crossdressing.

“Tapi sebelum sampai pada ranah kejiwaan, saya sangat berharap pihak berwenang dapat melakukan penyidikan lebih lanjut mengingat sekarang terjadi kegelisahan di kalangan perempuan,” ujarnya.

Sebab, jelas Rita, fenomena yang terjadi dimana transvetisme berlindung di balik niqob, sehingga sulit diidentifikasi.

“Ada efek yang saya khawatirkan jika pihak berwenang tidak bertindak cepat, yaitu stigma semakin kuat terhadap perempuan bercadar dan rawan terjadi persekusi masyarakat karena ada kekhawatiran yang tinggi,” kata master Psikologi dari Universitas Indonesia ini.

Fenomena crosshijaber ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak yang khawatir soal batasan-batasan penggunaan ruang umum khusus wanita, seperti toilet atau tempat wudu.

 

Fenomena Crosshijaber, MIUMI: Hukumnya Haram

BEKASI (Jurnaislam.com) – Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Kota Bekasi menanggapi fenomena crosshijaber yang ramai diperbincangkan di dunia maya belakangan ini. MIUMI menegaskan, crosshijabers hukumnya haram.

“Tren crosshijaber dimana laki-laki menggunakan jilbab dan cadar yang sedang ramai di media sosial, hal tersebut hukumnya haram baik karena penyimpangan orientasi seksual maupun sebagai cara agar dapat bergaul rapat dengan perempuan dengan maksud-maksud yang tidak baik,” ujar Wildan Hasan, Ketua MIUMI Kota Bekasi dalam rilisnya, Selasa (15/10/2019).

Wildan mengungkapkan, crosshijaber yang disebabkan oleh penyimpangan seksual jelas keharamannya dalam syariat Islam. Ia pun meminta aparat penegak hukum untuk menindak tegas penyimpangan seperti ini, selain juga pelakunya diberi terapi agar kembali kepada fitrahnya sebagai laki-laki.

Selain berharap ada penindakan secepatnya, perilaku tersebut menurut Wildan juga harus mendapatkan penangan yang tegas dan menyeluruh, karena diduga ada pihak yang tidak menyukai Islam dan sengaja memperburuk citra umat Islam khususnya kaum muslimah.

“Perilaku tersebut tentu saja sangat memprihatinkan dan meresahkan. Di zaman yang saat ini serba boleh dan bebas atas nama HAM dan toleransi, tantangan bagi umat Islam khususnya para ulama dan para dai semakin berat untuk membentengi dan menyadarkan umat dari perkara-perkara yang menyimpang dari aqidah dan akhlaq Islam,” ujarnya.

Wildan juga menyerukan kepada para dai, masyarakat, dan juga Pemerintah Indonesia untuk mewaspadai tren crosshijaber ini, karena menurutnya ini adalah bagian dari upaya merusak tatanan hidup masyarakat yang agamis sebagaimana fenomena homoseksualitas, LGBT, free sex dan lain sebagainya.

“Oleh karena itu harus dihadapi dengan segenap kekuatan dan oleh seluruh lapisan masyarakat dari pemerintah sampai warga negara, dari kebijakan pemerintah sampai kesadaran masyarakat. Semua harus memiliki kesadaran yang sama atas bahaya hal tersebut dan melakukan gerakan bersama untuk menangkal dan mengenyahkan bahaya-bahaya itu,” tutupnya.

Crosshijaber adalah pria yang berpenampilan seperti wanita. Bahkan mereka juga kerap mengenakan cadar untuk dapat masuk ke ruang khusus wanita.

Di sosial media, beredar postingan berupa screenshot dengan tagar #crosshijaber atau juga #crossdress, bahkan ada sebuah menggunakan nama “Komunitas Cross Hijaber, namun sekarang sudah dihapus.

Sumber: Kiblat.net

TaniHub dan DD Kembangkan Bisnis Ternak Berbasis Syariah

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Sebanyak 25 kelompok ternak mendapatkan modal dengan konsep syariah sebesar Rp 2 miliar untuk setiap kelompoknya.

Dana tersebut dihasilkan dari kerja sama antara lembaga filantropi, Dompet Dhuafa dengan startup agritech, TaniHub Group.

“Permodalannya konsep syariah, bagi hasil. Ini pinjaman lunak, jadi yang sangat bersahabat, dengan konsep mengutamakan untuk petani. Pengembaliannya dikembalikan ke lander (peminjam), fintech kita sebutnya lander, dengan skema bagi hasil,” kata Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa, Imam Rulyawan, di Jakarta, Senin (14/10).

Imam mengatakan, kerja sama keduanya menghasilkan program pembiayaan khusus, dari salah satu unit bisnis TaniHub, Tanifund untuk pemberdayaan kelompok ternak kambing, jaringan mitra Dompet Dhuafa.

Terdapat 25 kelompok peternak akan didukung, yang targetnya satu kelompok peternak permodalan untuk 2.000 ekor kambing.

Dalam satu kelompok ada 5-10 peternak yang terlibat di dalamnya.

“Kelompok mendapatkan uang pinjaman, kalau dirata-ratakan sekitar satu kelompok Rp 2 miliar, 25 kelompok itu ada di Jawa Tengah, Jawa Timur, sebagian Sumatera, Banten, sebagian di Flores Nusa Tenggara Timur,” ucap Imam.

Dari pinjaman tersebut, ini akan berdampak pada peningkatkan kapasitas ternak, pendapatan meningkat, dan kesejahteraan para peternak juga ikut berpengaruh.

Target modal yang akan disampaikan kepada para peternak yakni sampai akhir tahun ini.

Di samping itu, Dompet Dhuafa juga telah mempersiapkan perhitungan keuntungan, dan kerugian yang dapat terjadi dalam pembiayaan kepada para peternak ini.

“Kalau tidak mendapatkan keuntungan, layaknya usaha, tentu ada pertanggungjawaban secara aturan main. Mohon doanya kita tetap menyusun risiko, analisa risiko sebaik mungkin, sehingga apabila terjadi kerugian, kita juga sudah memperhitungkan ada ongkos yang kita pisahkan sebagai angka kerugian. Misalnya ada ternak yang mati, sudah kita prosentasekan, potensi-potensi kerugian dalam bentuk biaya,” papar Imam.
sumber: republika.co.id

Tegas! Ini Jawaban UAS terhadap Para Penolaknya

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Dai kondang Ustaz Abdul Somad (UAS) menegaskan bahwa dirinya mendoakan para penolaknya.

UAS kerap mendapat penolakan dari pihak-pihak yang ia sebut ‘gagal paham’ itu.

Yang terakhir, agendanya mengisi kuliah umum di Universitas Gadjah Mada (UGM) urung dilakukan karena ditolak pihak rektorat.

Masih di Jawa Tengah, UAS juga ditolak mengisi tabligh akbar di pesantren berkebutuhan khusus Al-Achsaniyyah Kudus.

Alasannya beragam, dari mulai acara yang tidak sesuai dengan kegiatan akademik sampai tudingan UAS terpapar radikalisme.

Kendati demikian, UAS tidak pernah memaksakan diri untuk melanjutkan agenda ceramah jika ada penolakan.

“Kalau kemudian kita marah-marah, masalah tidak akan selesai. Kalau saya marah satu kali, umat akan marah tiga kali. Sekali hentakan gelombangnya itu luar biasa. Maka kita serahkan kepada Allah setelah ada ikhtiar,” kata UAS dalam FAKTA TVone di Yogyakarta.

“Mudah-mudahan panitia-panitianya tetap bangkit semangatnya, tidak down. Tidak hanya karena batal lantas mereka yang sudah berhijrah itu kembali lagi ke kebiasan buruknya,’ sambung UAS.

Ia pun berkelakar, seandainya ada orang yang tidak jadi berbuat baik karena ceramahnya ditolak dan dibatalkan, maka dirinya hanya mendapat dosa lima persen. Sementara 85 persen dosa ditanggung oleh mereka yang menolak agenda ceramahnya.

“Saya mungkin hanya mendapat 5 persen dosanya, yang 85 persen itu yang batalin itu,” ujar UAS.

Baca juga:

Muslim United Diharapkan Mampu Lahirkan Gerakan Sinergi Antar Elemen Umat

Ini Saran Ustaz Salim A Fillah Soal ‘Follow Up’ Setelah Muslim United

UAS: Kalau Saya Marah Satu Kali, Umat Akan Marah Tiga Kali

UAS di UII: Undang Saya ke Universitas Saya Akan Bicara Ilmiah

Di UAD, UAS Ungkapkan Kekagumannya pada Sosok KH Ahmad Dahlan

MUI Heran Apa yang UGM Takutkan dari Sosok UAS

Muslim United Diharapkan Mampu Lahirkan Gerakan Sinergi Antar Elemen Umat

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Penulis asal Yogyakarta ustaz Salim A Fillah menyebut kegiatan Muslim United (MU) #2 sebagai langkah awal umat Islam di Indonesia untuk merajut ukhuwah dan menyatukan umat.

“Jadi MU itu syiar tapi kita ingin nanti ada gerakan yang semakin sinergis antar berbagai elemen,” kata ustaz Salim A Fillah kepada Jurnalislam.com di Masjid Jogokariyan, Sabtu (12/10/2019) malam.

Momen MU #2 juga dinilai ustaz Salim bentuk syiar Islam agar semakin melekat di tengah masyarakat, bahwa persatuan umat ini sangat diperlukan menghadapi berbagai hal.

Selain di kegiatan MU #2 di Yogyakarta, ustaz Salim juga menyebut momen kebangkitan umat juga dirasakan di berbagai daerah, hal itu ditandai dengan banyaknya kegiatan dakwah islami yang melibatkan antar elemen umat Islam.

“Ada teman teman hijrah fest, ada teman teman muslim fest, macam macam namanya namun semangatnya sama kita tau ini gejalanya sama yang sangat murni,” ungkapnya.

“Dan umat ini benar benar haus kebangkitan, umat ini haus persatuan, umat ini sudah lelah dengan berbagai perpecahan, kita insya Allah akan melakukan semangat itu terus di masyarakat,” pungkas ustaz Salim.

Baca juga:

Penyelenggara Jamin Tidak Ada Islam Radikal dalam Acara Muslim United

Muslim United 2019 Tetap Digelar, Begini Penjelasan Ketua Panitia

Kegiatan Muslim United #2 Pindah ke Masjid Jogokariyan

Majukan Ekonomi Rakyat Dengan Gerakan ‘Buy Muslim First’

PA 212 Tegaskan Tidak Berekonsiliasi dengan Pihak Pengkriminalisasi Ulama

Ini Saran Ustaz Salim A Fillah Soal ‘Follow Up’ Setelah Muslim United

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Penulis asal Yogyakarta ustaz Salim A Fillah menyebut kegiatan Muslim United (MU) #2 sebagai langkah awal umat Islam di Indonesia untuk merajut ukhuwah dan menyatukan umat.

“Kita di MU berhimpun di lingkaran kecil ini, tapi ketika kemudian menebarkan ketempat kita semuanya, kita harus memperbesar lingkaran itu kemudian menjadikan satu persatuan umat yang bergerak dengan baik,” katanya kepada Jurnalislam.com di Masjid Jogokariyan, Sabtu (12/10/2019) malam.

“Jadi MU itu syiar tapi kita ingin nanti ada gerakan yang semakin sinergis antar berbagai elemen,” tambahnya ustaz Salim.

Momen MU #2 juga dinilai ustaz Salim bentuk syiar Islam agar semakin melekat di tengah masyarakat, bahwa persatuan umat ini sangat diperlukan menghadapi berbagai hal.

“Isu dan tantangan kedepan dengan berkumpul seperti ini, kita merasakan satu perasaan yang sulit digambarkan dengan kata kata, akan memberikan kesan yang mendalam bagi umat, kemudian memberikan kepada kita satu semangat bahwa di kehidupan sehari hari pun perasaan bersatu ini harus dirawat,” ujarnya.

Baca juga: 

Ini Kata Generasi Milenial Tentang Muslim United #2

Puluhan Mantan Preman Solo Sajikan 2500 Cup Kopi Taubat di Muslim United

Merchandise dan Aksesoris Muslim United Laris Diborong Warga

Dihadiri Ribuan Peserta, Muslim United Jadi Berkah Tersendiri Bagi Para Pedagang

Amer Azzikra: Anak Muda Terbaik Adalah yang ‘Mengakhirat’

Temukan Kejanggalan Tewasnya Akbar Alamsyah, KontraS: Keterangan Polisi Berbeda-beda

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menemukan sejumlah kejanggalan dari mulai hilangnya Akbar Alamsyah sampai dinyatakan meninggal dunia.

KontraS menemukan adanya keterangan berbeda dari pihak kepolisian soal keberadaan Akbar.

Awalnya Kabiro Pemantauan dan Penelitian KontraS Rivanlee Anandar mengatakan Akbar Alamsyah dinyatakan hilang sejak 25 September lalu.

Dia menyebut berbagai upaya sudah dilakukan untuk mencari Akbar hingga akhirnya keluarga mendapat kabar Akbar berada di Polres Jakarta Barat.

“Tanggal 27 September, keluarga datang ke Polres Jakarta Barat untuk meminta izin memberikan makanan ke Akbar yang dikabarkan berada di dalam tahanan. Namun sang kakak diberitahukan oleh petugas di sana bahwa Akbar tidak bisa ditemui dan makanannya di tinggal di depan sel tahanan,” kata Rivanlee kepada wartawan di kantor KontraS, Senen, Jakarta Pusat, Senin (14/10/2019).

Rivanlee mengatakan keluarga akhirnya pulang ke rumah dan justru mendapat kabar Akbar berada di RS Pelni. Kemudian terungkap Akbar sudah berada di RS Pelni sejak 26 September.

Keesokan harinya, keluarga mengecek dan Akbar sudah dirujuk lagi ke RS Polri Kramat Jati.

“Keluarga korban langsung mendatangi RS Polri dan di sana keluarga korban juga mendapat kesulitan untuk bertemu dengan Akbar untuk menjenguk Akbar, karena berada di ruang ICU, sampai-sampai keluarga korban harus dijaga ketat oleh kepolisian untuk bertemu dengan akbar sampai dia (Akbar) dipindah ke RSPAD Gatot Soebroto untuk perawatan yang lebih intensif sampai akhirnya Akbar meninggal beberapa waktu lalu,” ucapnya.

Sumber:detik.com

Baca juga:

Keluarga Sebut Jasad Akbar Tak Bisa Dikenali Karena Wajah Lebam

YLBHI: Banyak Kejanggalan dalam Kasus Kematian Mahasiswa Akbar Alamsyah

Korban Demo DPR Akbar Alamsyah Wafat, Ibunda: Anak Saya Disiksa

Tiga Wanita Berhijab Diserang Seorang Pria di San Diego

Penyerangan Wiranto, Yaqut Tuding Keterlibatan Kelompok Radikal

Solopeduli Tambah Ambulan Gratis Untuk Wilayah Sukoharjo

SOLO (jurnalislam.com)- Untuk memenuhi kebutuhan ambulan gratis di wilayah Sukoharjo, donatur dan Bank Muamalat menyerahkan ambulan kepada Solopeduli pada ahad, (13/10/2019). 1 unit ambulan ini ditujukan bagi kaum dhuafa dan masyarakat yang membutuhkan, khususnya di wilayah Kabupaten Sukoharjo.

”Permintaan Ambulan Gratis di wilayah Kabupaten Sukoharjo cukup tinggi, untuk itu ambulan ini kami operasikan di wilayah Sukoharjo. Alhamdulillah hingga saat ini ada 9 unit ambulan gratis yang kita operasikan,” kata direktur utama Solopeduli Sidik Anshori.

“7 ambulan kita operasikan di wilayah Soloraya, yakni di Surakarta, Karanganyar, Boyolali, Sragen, Klaten, wonogiri, dan Sukoharjo, sedang 2 lainnya di area aceh dan Lombok,” imbuh Sidik.

Ia berharap dengan penambahan ambulan di Sukoharjo tersebut, masyarakat di wilayah Sukoharjo tidak perlu kebingungan dan kesusahan untuk mencari ambulan gratis.

Penyerahan simbolisasi Ambulan gratis dilakukan oleh Branch Manajer Bank Muamalat Solo Budi Santoso kepada Dewan Pengawas Solopeduli, Bapak Zainal Abidin di Hotel Sunan Solo pada ahad, (13/10/2019).

Sedangkan untuk penyerahan mobil ambulan diserahkan kepada Kepala area Solopeduli Sukoharjo yang dilakukan secara langsung di Kantor area Sukoharjo di Jl. Pemuda No.8 Kutorejo, Jetis, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukorejo, Jawa Tengah pada senin, (14/10/2019).

UAS: Kalau Saya Marah Satu Kali, Umat Akan Marah Tiga Kali

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Dai kondang Ustaz Abdul Somad (UAS) mengungkapkan alasan dirinya mengunggah daftar riwayat hidup atau Curriculum Vitae (CV) melalui akun Instagram pribadinya. UAS mengatakan, CV itu diunggah supaya orang tidak salah menilai dirinya.

“Supaya orang tidak salah nilai, tidak keliru, kan kalau orang terus termakan isu kan kasian. Dia akan terus keliru. Orang keliru bicara berawal dari keliru mendengar, keliru melihat, keliru berpikir. Kalau menurut logika Al-Qur’an, dengar dulu, lihat, renungkan, Jika salah lihat, salah dengar, salah renung, salah berpikir, salah ngomong,” katanya dalam wawancara di program Fakta TvOne di Yogyakarta beberapa waktu lalu.

“Makanya saya kasih lihat CV saya, kalau dia gagal paham kita kasih paham. Yang susah itu kalau kita menghadapi orang yang cari makanya dari gagal paham,” paparnya.

UAS kerap mendapat penolakan dari pihak-pihak yang ia sebut ‘gagal paham’ itu. Yang terakhir, agendanya mengisi kuliah umum di Universitas Gadjah Mada (UGM) urung dilakukan karena ditolak pihak rektorat. Masih di Jawa Tengah, UAS juga ditolak mengisi tabligh akbar di pesantren berkebutuhan khusus Al-Achsaniyyah Kudus. Alasannya beragam, dari mulai acara yang tidak sesuai dengan kegiatan akademik sampai tudingan UAS terpapar radikalisme.

“Jadi radikal itu sekarang seperti label, kita tempelkan ke orang yang kita tidak suka untuk membunuh karakter dia. Ini kalau dalam Bahasa Arab namanya mantiq thufuli (logika anak kecil). Anak kecil itu kalau dia benci maka dia gunakan kata yang sama dia ulang berkali-kali untuk memberikan label bahwa saya tidak suka ini. jadi kita tidak pernah dewasa, padahal kita sudah merdeka 74 tahun,” kata UAS.

Padahal, menurut dai lulusan Universitas Al-Azhar Kairo ini, radikalisme adalah cara-cara kekerasan yang digunakan untuk merubah situasi sosial. “Jadi pada zaman Belanda dulu semua pejuang kita itu radikal di mata Belanda,” imbuhnya.

Kendati demikian, UAS tidak pernah memaksakan diri untuk melanjutkan agenda ceramah jika ada penolakan. Ia lebih memilih mendoakan dan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT.

“Kalau kemudian kita marah-marah, masalah tidak akan selesai. Kalau saya marah satu kali, umat akan marah tiga kali. Sekali hentakan gelombangnya itu luar biasa. Maka kita serahkan kepada Allah setelah ada ikhtiar,” tuturnya.

“Mudah-mudahan panitia-panitianya tetap bangkit semangatnya, tidak down. Tidak hanya karena batal lantas mereka yang sudah berhijrah itu kembali lagi ke kebiasan buruknya,’ sambung UAS.

Ia pun berkelakar, seandainya ada orang yang tidak jadi berbuat baik karena agenda ceramahnya ditolak dan dibatalkan, maka dirinya hanya mendapat dosa lima persen. Sementara 85 persen dosa ditanggung oleh mereka yang menolak agenda ceramahnya.

“Saya mungkin hanya mendapat 5 persen dosanya, yang 85 persen itu yang batalin itu,” ujar UAS.

Baca juga:

Lunturnya Intelektualitas Kampus, Munculnya Islamophobia

Di UAD, UAS Ungkapkan Kekagumannya pada Sosok KH Ahmad Dahlan

UAS di UII: Undang Saya ke Universitas Saya Akan Bicara Ilmiah

Penyerangan Wiranto, Yaqut Tuding Keterlibatan Kelompok Radikal

MUI Heran Apa yang UGM Takutkan dari Sosok UAS