FPI Gerebek Gudang Miras di Bekasi, Barbuk Diserahkan ke Polisi

CIKARANG (Jurnalislam.com) – Laskar Front Pembela Islam DPC FPI Cikarang Selatan Bekasi Sabtu (20/12/2014) mengaku berhasil membongkar sebuah gudang minuman keras di wilayahnya.

Tak kurang dari 14 dus minuman keras (Miras) siap edar merek Mensen berhasil disita dan diamankan.

Semua barang bukti selanjutnya diserahkan kepada pihak kepolisian, dengan terlebih dahulu menumpahkan semua isinya. Pemilik rumah yang sekaligus menjadi bandar Miras, Pono alias Buyung langsung digelandang ke kantor polisi.

Sebagaimana dikutip Tim News FPI di akun Facebook Mohammad Habib Rizieq, keberhasilan aksi penggerebekan gudang Miras ini adalah berkat kerjasama antara warga dan FPI. Warga merasa gerah dan resah dengan peredaran Miras di wilayahnya. Miras-Miras tersebut banyak dijual dan sangat mudah didapati di toko-toko jamu.

Menurut Tim FPI, beberapa kali toko-toko itu sudah pernah dirazia ormas-ormas Islam, anehnya, mereka tidak pernah jera. Mereka bahkan terus aktif berjualan. Salah seorang warga menuturkan, bandar Miras akan memberi ganti untung kepada toko jamu, sebanyak dua kali lipat jika Miras di toko mereka terkena razia.

Sebagaimana dilaporkan Tim FPI, bandar Miras inilah yang selama ini menjadi biang kerok dan tidak tersentuh.

Geram dengan kenyataan ini, warga melapor ke FPI. Setelah FPI melakukan proses investigasi dengan menyebar beberapa ‘intelejen’ untuk memantau alur peredaran Miras, akhirnya mereka menggerebek gudang Miras.

Sabtu malam, bertepatan dengan pengajian rutin yang sekaligus ada acara musyawarah bersama ormas-ormas Islam se kabupaten Bekasi, FPI meluncur ke sebuah rumah yang dicurigai sebagai gudang Miras.

“Bersama warga, FPI akhirnya merangsek masuk ke rumah tersebut. Dan benar saja, di halaman belakang rumah tersebut ditemukan belasan dus Miras siap edar,” tulis Tim FPI.

Usai menemukan bukti, FPI menghubungi pihak Polsek Cikarang Selatan untuk melakukan proses olah TKP, penyitaan, dan penangkapan terhadap pemilik rumah yang sekaligus menjadi bandar.

 

Ally | Hidayatullah | Jurniscom

Pengungsi Muslim Afrika Tengah : Antara Dibunuh Atau Mati Kelaparan

AFRIKA TENGAH (Jurnalislam.com) – Setidaknya 470 Muslim dari etnis minoritas Peuhl, terjebak selama beberapa bulan di kota Yaloke, Republik Afrika Tengah, sekitar 200 km dari ibukota Bangui, dan perlu direlokasi sebagai hal yang mendesak, Badan Pengungsi PBB (UNHCR) mengatakan.

Dalia Al Achi, petugas informasi publik untuk UNHCR di Bangui, mengatakan kepada Al Jazeera pada hari Selasa bahwa kelompok etnis Peuhl, yang awalnya melarikan diri dari Bangui pada bulan April 2014, bertambah putus asa karena kondisi hidup mereka memburuk. Dia mengatakan kelompok mereka memerlukan bantuan kemanusiaan mendesak dan harus direlokasi ke wilayah CAR (Republik Afrika Tengah) lainnya atau mungkin ke negara tetangga Kamerun atau Chad.

"Masalah ini sebenarnya cukup sederhana: Sekarang kita memilih kehidupan atau kematian. Apakah kita hanya akan melihat mereka mati, atau kita akan mengambil pelajaran dari apa yang mereka katakan dan mencoba untuk menyelamatkan mereka," kata al-Achi.

Lebih dari 700 Muslim Peuhl lolos dari Bangui setelah milisi Kristen anti-Balaka, yang terdiri dari warga Kristen, mulai menargetkan mereka.

Setelah menghabiskan dua bulan di jalanan, bersembunyi di semak-semak saat mereka berjalan menuju wilayah barat negara itu, dengan harapan mencapai Chad atau Kamerun, rombongan tiba di Yaloke, dan menetap di sana sejak saat itu.

Saat mereka melarikan diri, lebih dari 150 tewas oleh pasukan Kristen anti-Balaka. 42 orang lainnya tewas di Yaloke akibat penyakit dan cedera. UNHCR mengatakan 474 warga yang tersisa menghadapi gizi buruk dan risiko penyakit. Lebih dari 30 persen menderita malaria, sementara sedikitnya enam orang menderita TBC.

42 orang tewas sejak mereka tiba di Yaloke, dan yang lainnya menjadi lemah dari hari ke hari. Ini benar-benar tidak dapat diterima," kata al-Archi.

"Mereka tidak berharap untuk tinggal di sini dalam waktu lama, sehingga nutrisi utama mereka juga telah mengering dengan kematian ternak mereka," kata al-Archi.

PBB mengatakan bahwa kelompok pengungsi itu berjuang untuk berintegrasi ke dalam masyarakat setempat karena ancaman yang ditimbulkan oleh milisi Kristen anti-Balaka di sekitar mereka. Meskipun pasukan internasional telah hadir, kelompok ini masih mengalami ancaman terus-menerus, termasuk agresi fisik, dan penjarahan oleh milisi Kristen anti-Balaka.

Gemma Cortes, petugas informasi publik Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) di Bangui, menggambarkan kebutuhan kemanusiaan di Yolake “sangat besar."

Cortes mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pemberian bantuan ke banyak bagian di negara itu sulit karena meningkatnya kekerasan. Dia mengatakan bahwa Yolake hanya salah satu dari banyak tempat yang berada di bawah tekanan, dan etnis minoritas Peuhl, adalah salah satu banyak komunitas yang terancam saat ini.

"Perhatian utama kami adalah akses. Dan karena Yolake berada dalam kekerasan, pekerjaan kami menjadi terhambat," kata Cortes.

PBB mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pejabat mereka telah mengunjungi kelompok Peuhl pada tanggal 18 Desember untuk menilai situasi mereka.

"Ditemukan bahwa lebih dari 90 persen dari mereka ingin meninggalkan Yolake untuk mencari perlindungan di Kamerun atau Chad. Orang-orang memohon bantuan dengan kendaraan dan keamanan untuk membantu mereka meninggalkan negara itu," kata pernyataan itu.

Pada hari Senin, Human Rights Watch merilis sebuah laporan mengatakan bahwa ratusan pengungsi Muslim kini terjebak di kamp-kamp di bagian barat negara itu, hidup dalam kondisi buruk dan berada di bawah tekanan.

"Mereka terjebak di beberapa wilayah menghadapi pilihan suram: pergi serta menghadapi kemungkinan serangan dari milisi Kristen anti-Balaka, atau tinggal kemudian mati karena kelaparan dan penyakit," Lewis Mudge, peneliti Afrika di Human Rights Watch, mengatakan dalam laporan tersebut.

HRW menuduh bahwa pemerintah dan pasukan penjaga perdamaian PBB telah menghalangi orang yang ingin meninggalkan wilayah-wilayah tersebut.

 

Deddy | Aljazeera | Jurniscom

LUIS : Densus 88 Tidak Profesional dan Melanggar HAM

Laporan Hasil Investigasi LUIS Terkait Penangkapan Dody Kuncoro SUKOHARJO

(Jurnalislam.com) – Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) langsung melakukan invetigasi setelah mendapat kabar penangkapan Dodi Kuncoro di Kp Gambiran, Kartasura, Sukoharjo, Selasa (23/12/2014).

LUIS menemui Tukiyanto ayah Dodi, Tri Hidayati istri Dodi dan Dedy Purnomo kakak Dodi serta beberapa warga setempat. Berikut hasil Tim Investigasi LUIS yang diketuai Edi Lukito, SH selaku Ketua LUIS :

1. Menurut saksi, penangkapan dilakukan setelah Sholat Ashar dengan cara dipukul dibagian kepala hingga jatuh lalu dibawa ke mobil

2. Menurut saksi, yang menangkap terlihat ikut sholat berjamaah sejak 1 pekan ini.

3. Saat penangkapan tidak ada Surat Penangkapan yang diberikan kepihak keluraga

4. Saat melaporkan ke SPK Polres Sukoharjo tentang Laporan Kehilangan Anggota Keluarga di jawab KA SPK Ipda Ahmad Djaelani bahwa Surat Tanda Bukti Laporan anggota keluarga yang hilang yang diminta keluarga tidak bisa diberikan karena ada informasi yang menangkap dari Densus 88.

5. Rumah kontrakan disewa selama 4 tahun sejak desember 2013 dan Dody Kuncoro selalu bermasyarakat maupun mengikuti kegiatan keagamaan.

Tim investigasi LUIS yang diketuai oleh Edi Lukito, SH menyimpulkan bahwa Densus 88 sengaja mengambil momentum menjelang Natal untuk melakukan Operasi Intelijen.

“Berupa penangkapan serentak di beberapa tempat yang terkesan acara Natal di Indonesia tidak aman,” ungkap Edi dalam rilisnya kepada Jurnicom, Rabu (24/12/2014) pagi ini.

Edi Lukito juga menyatakan Densus 88 telah mengulang sejarah dengan penangkapan yang tidak prosedural dan tidak professional.

“Densus 88 mengulang sejarah dengan berbuat tidak prosedural dan tidak profesional, baik dalam hal pemberian Surat Penangkapan maupun Tindak Kekerasan yang mengarah pada pelanggaran HAM,” pungkasnya.

 

Ally | Endro | LUIS | Jurniscom

Setelah Toni dan Adi, Densus 88 Tangkap Dodi Kuncoro di Sukoharjo

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Tim Densus 88 kembali menangkap seorang terduga teroris di Kp Gambiran RT 02 RW 14 Kel Makamhaji, Gambiran RT 02 RW 14 Kel Makamhaji, Kec Kartasura Kab Sukoharjo Jawa Tengah pada Selasa (23/12/2014) pukul 15.45 WIB.

Adalah Dodi Kuncoro (31), seorang penjual gorengan yang ditangkap di depan Masjid istijabah yang letaknya tidak jauh dengan rumah kontrakannya usai menunaikan salat Ashar.

Berdasarkan keterangan dari saksi mata, Parjiman, penangkapan dilakukan ketika DK keluar dari Masjid. DK ditangkap oleh sejumlah petugas berpakaian preman yang turun dari dua mobil jenis Toyota Avanza. Dodi ditangkap atas tuduhan keterlibatannya dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso.

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Ronny F Sompie mengatakan DK mengirim uang Rp 1,5 juta untuk pelatihan militer kelompok MIT pimpinan Santoso.

"Sementara ini, dia masih dalam pengembangan bersama tim densus," kata Ronny, Rabu (24/12/2014).

Selain itu menurut keterangan Ronny, DK juga terlibat kelompok Badri. "Yang bersangkutan adalah jaringan sindikat pelaku teror kelompok Badri asal Solo yang melakukan pelatihan dan membuat komponen rangkaian elektronik pemicu bom di rumah Rudi alias Pak Tuek, bersama kelompok Badri lainnya," tambah Ronny.

Ini adalah penangkapan ketiga, sebelumnya Densus 88 menangkap Tony Sangaralo alias Toni alias Amir alias Fadhil alias Abu Sauqi (26) pertigaan Bandeng, Glagah, Lamongan, Jawa Timur pada hari Ahad (21/12/2014) dan Adi Margono (46) di Perumahan Puri Brawijaya Permai, Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi Kota, Jawa Timur, Senin malam (22/12/2014).

Ally | Tribunnews | Jurniscom

Sepanjang 2014 Sudah 60 Jurnalis Tewas di Suriah

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 60 jurnalis tewas saat bekerja pada tahun 2014, termasuk 17 yang meninggal saat meliput perang di Suriah, Komite untuk Melindungi Wartawan mengatakan dalam laporan tahunannya pada hari Selasa (23/12/2014).

Kelompok yang berbasis di New York tersebut mengatakan bahwa pihaknya masih menyelidiki kematian sedikitnya 18 wartawan lainnya untuk menentukan apakah kematian mereka terkait dengan pekerjaan.

Laporan terbaru mengabarkan bahwa wartawan yang tewas akibat perang Suriah berjumlah 79 sejak konflik dimulai pada Maret 2011.

Hampir setengah dari semua jurnalis yang tewas pada tahun 2014 meninggal di Timur Tengah.

Meskipun  jumlah keseluruhan tahun 2014 lebih rendah dari jumlah 70 wartawan yang tewas tahun lalu, persentase korban yang sangat tinggi adalah wartawan internasional.

Empat belas korban adalah anggota pers internasional, dibandingkan tahun 2013 yang berjumlah enam, menurut laporan tersebut.

Eksekusi dua wartawan freelance Amerika oleh pejuang Islamic State pada bulan Agustus dan September menggambarkan tingkat bahaya bekerja sebagai seorang wartawan asing di daerah konflik.

Ada peningkatan risiko bagi koresponden Barat yang bekerja di daerah konflik, mayoritas wartawan asing yang bekerja di bawah ancaman .

Laporan mereka mengatakan setidaknya empat wartawan dan tiga pekerja media tewas saat meliput serangan militer Israel selama 51 hari di Jalur Gaza pada bulan Juli dan Agustus, di mana lebih dari 2.100 warga sipil Palestina dan 73 warga Israel tewas.

Pada tanggal 9 Juli, seorang sopir yang bekerja untuk Media 24, sebuah lembaga yang berbasis di Gaza, tewas ketika mobilnya yang bertuliskan stiker besar "TV", terkena serangan Israel.

Kematian setidaknya lima wartawan dan dua pekerja media di Ukraina pada tahun 2014 adalah pembunuhan terkait jurnalisme yang pertama di negara itu sejak 2001, kata laporan tersebut.

Komite untuk Melindungi Wartawan mulai menyusun catatan mengenai kematian yang berhubungan dengan jurnalisme pada tahun 1992.

Menurut catatannya, Irak, Suriah dan Filipina telah menjadi negara paling mematikan bagi jurnalis sejak tahun itu.

Deddy | Anadolu Agency |

Petinggi Fatah : Hentikan Perundingan Sia – sia Dengan PBB

RAMALLAH (Jurnalislam.com) –  Anggota komisi pusat gerakan Fatah, Marwan Barghutsi yang saat ini ditahan di penjara Israel meminta dilakukan perubahan terkait draft resolusi yang diajukan Palestina ke Dewan Keamanan PBB. Ia menganggap draft yang sedang dirancang DK PBB tersebut menganulir sejumlah hak nasional Palestina. Ia minta dilakukan kajian ulang secara utuh dan sekaligus bagi draft tersebut.

Dalam suratnya yang dikirimkan lewat penjara, Barghutsi mengatakan, usulan tukar guling tanah adalah melemahkan hak-hak kita, terutama dalam hal kedaulatan penuh wilayah perbatasan tahun 1967. Kondisi ini, memberikan kesempatan bagi Israel untuk melegalkan wilayah permukiman. Oleh karena itu, harusnya ditekankan bahwa permukiman tersebut tidal legal dan merupakan kejahatan perang yang harus disingkirkan, ungkapnya.

Selain itu, Barghutsi menambahkan, Al-Quds Timur adalah ibu kota negara Palestina. Teks apapun yang mengatakan Al-Quds adalah ibu kota bagi dua negara merupakan misi politik Israel yang jelas-jelas salah. Apalagi ditengah gempuran yang mereka lakukan terhadap rakyat Palestina dan tempat sucinya baik Islam maupun Kristen.

Barguhtsi menegaskan pentingnya komitmen dengan hak-hak kembali, sesuai dengan resolusi dewan umum PBB 194.

Tentu tak mungkin kita menerima resolusi terkait dengan penjajahan dan hak-hak bangsa Palestina kemudian kita lalai dengan masalah krusial yaitu masalah tawanan. Karena masalah tawanan bukanlah bagian dari solusi akhir akan tetapi terkait masalah ini harus ditekankan bahwa membebaskan semua tahanan adalah hak mutlak dan prasyarat untuk mencapai perdamaian.

Demikian juga dengan masalah blokade Gaza setelah mereka menghancurkanya dan membiarkan Gaza dalam kondisi porak poranda akibat agresi Zionis.

Akhirnya Pemimpin Fatah ini  meminta untuk menghentikan perundingan sia-sia dengan Israel dengan menggunakan PBB sebagai corongnya.

Sejumlah faksi Palestina telah menyatakan penolakan mereka terhadap rancangan resolusi PBB antara lain ; Gerakan Perlawanan Islam, Hamas, Front Populer, Front Demokratik, Partai Rakyat Palestina dan Inisiatif Nasional Palestina.

Deddy | PNN | Jurniscom |

Kelompok Anti Islam di Jerman, PEGIDA Lakukan Aksi lagi

DRESDEN (Jurnalislam.com) – Gerakan Patriotic Europeans Against the Islamisation of the West (PEGIDA) melanjutkan aksi anti imigran pada Senin (22/12) malam. Popularitas PEGIDA terus meningkat paska dibentuk pada Oktober lalu. Kini jumlah pendukungnya mencapai 15 ribu orang.

Ribuan orang demo di jalanan kota Dresden, Jerman. Mereka datang dari seluruh penjuru negeri. Paul adalah salah satunya. Pensiunan dokter dari ibukota, Berlin tersebut mengatakan aksi sangat penting untuk menunjukan bahwa PEGIDA berisi orang-orang biasa, bukan dari ideologi garis kanan.

PEGIDA secara umum menolak masuknya imigran dari negara-negara konflik, seperti Suriah, Irak dan sekitarnya. Mereka menganggap imigran berpotensi merusak stabilitas dengan menyebar ajaran Islam radikal.

"Saya secara prinsip tidak melawan Muslim," kata Paul pada Aljazirah, Selasa (23/12). Namun, ia mengatakan tak ingin Muslim mengubah budaya Jerman. Mereka tetap ingin menjadi orang Eropa. Selain itu, Paul mengatakan tak ingin imigran memanfaatkan Jerman untuk mencari materi.

Sementara, Kanselir Jerman Angela Merkel mengutuk demonstrasi tersebut. "Tak ada tempat untuk membenci mereka yang datang ke negara kita," katanya. Menteri Peradilan Heiko Maas mengatakan aksi telah mempermalukan Jerman. Sementara beberapa politisi menyebut PEGIDA sebagai reinkarnasi Nazi.

Pendukung PEGIDA mengatakan mereka melawan segala bentuk kebencian dan radikalisme, tak peduli dari agama atau aliran politik mana pun. Kelompok ini ingin mempertahankan budaya barat yang didominasi Yahudi dan Kristiani.

Mereka melawan parallelgesellschaft, sebutan untuk komunitas imigran yang tetap mempertahankan norma budaya mereka dan tidak berintegrasi dengan masyarakat lokal. 

Beberapa meter di belakang Paul, berdiri Jorg. Para demonstran menolak menyebut nama panjang mereka dan hanya ingin dikutip dengan nama panggilan. Jorg memegang papan yang tertulis 'benci', 'kekerasan', dan 'Al Quran' yang dicoret tinta merah.

Ia mengatakan Islam mengajarkan kebencian, kekerasan dan membahayakan perdamaian masyarakat Jerman. Henrik yang berasal dari Bremen mengatakan tidak boleh ada syariah di Eropa. Ia tak ingin tradisi Kristen menghilang.

Tak hanya PEGIDA, gerakan sayap kanan lain yang pernah muncul adalah Hooligans Against Salafists di kota Cologne. Menurut Gereon Flumann dari Badan Federal Jerman untuk Civic Education, gerakan dengan ide sayap kanan telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

"PEGIDA mengaku tidak mempromosikan xenophobia (anti pada hal asing), namun jika dilihat dari demo dan tindakan mereka, mungkin ada xenophonia dibalik PEGIDA," kata Flumann. Sejauh ini, demonstrasi Dresden bebas dari kekerasan, tidak seperti demonstrasi Hooligans Against Salafists.

Muslim adalah minoritas terbesar di Jerman. Jumlahnya sekitar lima persen dari 82 juta populasi. Menurut jurnal sains dan bina lingkungan internasional, jumlahnya terus meningkat hingga lebih dari lima persen pada 2009. 

Jerman menghadapi gelombang migran yang terus meningkat. Dalam enam bulan pertama tahun 2014, jumlah pencari suaka lebih dari 65.700 orang. Lebih tinggi dari negara lain di seluruh dunia. Mereka pada umumnya berasal dari Suriah, Irak dan Afganistan.

Menurut survei Pew Research Center pada sepertiga orang Jerman, 29 persen menganggap imigran adalah beban karena mengambil jatah lapangan kerja dan memanfaatkan keadaan sosial. Sentimen anti Islam muncul seiring peningkatan jumlah Muslim.

"Saya kira ada pemahaman bahwa Islam telah mengakar dalam masyarakat dengan berpartisipasi dalam politik dan komunitas publik, dan mereka tidak tenang," kata seorang profesor dari Berlin Free University Institut Studi Islam, Schirin Amir-Moazami.

Gelombang anti imigran lebih banyak muncul di bagian timur Jerman. PEGIDA merencanakan protes berikutnya setelah Senin malam. Mereka ingin melihat apakah jumlah partisipan terus bertambah. (amaif/aljazeera/republika)

Astagfirullah, Masjid di Semarang Jadi Sasaran Vandalisme Geng Motor

UNGARAN (Jurnalislam.com) – Aksi geng motor di Kota Ungaran, Kabupaten Semarang kian meresahkan masyarakat. Perbuatan jahil mereka tak hanya menyasar ruang-ruang publik, tempat-tempat ibadah pun juga jadi sasaran.

Tiga buah coretan mengotori dinding lantai tiga Masjid Agung Ungaran yang terletak di depan rumah dinas Bupati, Jl Ahmad Yani, Ungaran.

Penjaga masjid, Khamdan Ngabdul Hakim (23), mengaku kaget saat mengetahui ada coretan tulisan berwarna hitam dengan ukuran yang sangat besar di dinding salah satu ruangan di lantai tiga.

Diberitakan tribunnews, Tulisan tersebut antara lain “X-NZB2″, “X-NZB2 Siap Tempur” dan “Voltavia” dengan ukuran huruf sekitar 80 sentimeter.

“Kamar kami juga di lantai tiga ini, kalau ada yang naik ke sini pasti kita tahu. Diperkirakan mereka beraksi pada saat pelaksanaan ibadah salat Jumat, saat itu semua penjaga tugas di ruang utama salat di lantai dua,” kata Hakim, Senin (22/12) siang.

Dari penelusuran Hakim, diduga coretan tersebut dibuat oleh anggota geng motor yang mempunyai markas di daerah Bergas dan Bawen. Coretan dinding tersebut sudah ada sekitar tiga pekan yang lalu dan sudah dilaporan ke Satpol PP Kabupaten Semarang.

“Katanya itu lambang sebuah geng motor yang ada di salah satu SMP di Bergas. Tapi ada yang bilang juga geng motor dari Bawen,” ujarnya.

Marno, takmir Masjid Agung Ungaran, mengatakan, sebelum adanya coretan tersebut, pihaknya juga mengeluhkan adanya kejadian pecahnya beberapa asbes dan gipsum yang ambrol. Diduga, itu terjadi karena diinjak-injak oleh pelaku yang sama.

Pecahnya asbes tersebut mengakibatkan gipsum dibawahnya ambrol karena terkena aliran air hujan sehingga lantai utama masjid tergenang air.

“Asbes yang ambrol ada empat lembar ukuran 90 cm x 2,2 meter dan gipsum empat lembar ukuran 1,2 meter x 2,40 meter. Bagian atap ini sudah dua kali kita perbaiki akibat diinjak-injak. Lha itu belum lama, malah ada coretan di dinding ini,” terang Marno.

Yang lebih memprihatinkan, lanjut Marno, kaligrafi bertuliskan Allah yang terbuat dari stainless di bagian mustaka atau puncak Masjid juga hilang. Di bagian tiang mustaka malah digantungkan duk (setangan leher) Pramuka.

“Entah bagaimana caranya mereka bisa naik ke puncak masjid. Yang jelas tulisan ‘Allah’ hilang, ditutupi duk pramuka. Di atap juga ada pecis yang ketinggalan,” ungkapnya.

Kejadian yang meresahkan ini pun sudah dilaporan ke pihak Satpol PP Kabupaten Semarang dengan harapan kedepan keberadaan Masjid Agung terhindar dari tangan-tangan jahil.

Demi mengantisipasi kejadian serupa, pihaknya setiap pelaksananan ibadah shalat jumat mengerahkan remaja puteri untuk mengawasi area parkir dan tangga menuju lantai dua masjid.

“Sementara kami minta bantuan anak-anak Panti Sahal Suhail yang puteri untuk berjaga di area parkir dan sekitar masjid pada saat Jumatan. Kalau ada yang keluyuran di tengah parkir dan lantai masjid saat shalat jumat, bisa dideteksi,” imbuhnya. (amaif/muslimdaily)

Himbauan Ustadz Abu kepada Umat Islam Soal Natal : Jangan Bantu, Jangan Ganggu

NUSAKAMBANGAN (Jurnalislam.com) – Amir Jama’ah Ansharut Tauhid (JAT), Ustadz Abu Bakar Ba’asyir- semoga Allah menjaganya- menegaskan bahwa seorang Muslim haram menghadiri atau membantu dan mengenakan atribut Natal. Tetapi beliau juga melarang umat Islam untuk mengganggu perayaan mereka.

“Hukumnya haram. Dilarang menghadiri, membantu, tetapi juga jangan mengganggu. Kecuali kalau acara natal itu ada upaya untuk mengganggu umat Islam. Termasuk juga dilarang memakai atribut natal,” tegas ulama sepuh itu di Lapas Pasir Putih Nusakambangan, Selasa (23/12/2014).

Beliau juga berpesan kepada umat Islam untuk terus memperjuangkan tegaknya Syariat Islam di Indonesia. Karena menurut beliau, segala persoalan yang merugikan dan bertentangan dengan Islam tidak mungkin bisa selesai jika hanya dihadapi cabang-cabangnya.

“Harus dirubah pokoknya, yakni negaranya. Dirubah menjadi Negara Islam,” pungkasnya.

Alhamdulillah, beliau sendiri dalam keadaan sehat walafiat. (amaif)

Adi Margono Ditangkap Ketika Sedang Memapah Seorang Tunanetra Pulang dari Masjid

BANYUWANGI (Jurnalislam.com) – Adi Margono (46) ditangkap oleh Densus 88 di Perumahan Puri Brawijaya Permai, Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi Kota, Jawa Timur. Pria kelahiran Semarang itu ditangkap Senin malam (22/12/2014) saat sedang memapah orang tua tunanetra, Slamet pulang ke rumahnya usai menunaikan shalat Isya di masjid Nurul Jannah.

"Pak Adi dibawa setelah shalat Isya di depan mushala. Saat dia menuntun saya keluar dari mushala karena memang mata saya tidak bisa melihat," ujar Slamet, seperti ditulis tribunnews, Selasa (23/12/2014)

Saat itu, Slamet sempat melawan ketika merasa ada seseorang yang mencengkeram kerah bajunya dan berteriak "polisi". Slamet mengaku kerah bajunya dilepaskan setelah Densus 88 tahu dia tidak bisa melihat.

Penjual kerupuk rambak itu ditangkap atas tuduhan keterlibatannya dalam pelatihan militer di Janto Aceh. Menurut Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Ronny F Sompie, keterlibatan Adi yakni mengantarkan Saiful Sayyaf alias Gaplek, Zuher dan Kuncoro untuk pelatihan di Jantho Aceh bersama ikhwan yang lain.

"Selain itu dia (Adi) juga mengantar atau mengirim Guntur Amuntai untuk bergabung melaksanakan perampokan  dengan kelompok Pak Bos alias Sabar di Medan," kata Ronny kepada Tribunnews.com. (eko,tribunnews,amaif)