Minim Bantuan Pemerintah, Yanmas Bagikan Paket Sembako di Wilayah Sigi

SIGI (Jurnalislam.com) – Pelayan Masyarakat (Yanmas) Jamaah Ansharusy Syariah kembali melakukan aksi sosial di wilayah terdampak bencana gempa dan tsunami Palu. Kali ini, relawan Yanmas membagikan 250 paket sembako di 3 desa Beka, Marawola, kabupaten Sigi, Sabtu (13/10/2018).

Korlap aksi Juanda mengatakan, sebelumnya salah satu warga dari desa Beka mendatangi posko Yanmas di Palu beberapa hari yang lalu. Warga Beka mengeluhkan tentang minimnya jumlah bantuan yang diberikan pemerintah kepada mereka.

“Kemarin posko kita didatangi warga desa Beka menyatakan bahwa disana minim bantuan sampai hari Jumat kemarin cuma dapat 2 liter beras, tapi kalau bantuan yang lain sudah ada semisal mie instan, pampers dan lain sebagainya. Akhirnya tim kami kemarin kesana dengan warga yang melapor ke posko kita,” katanya saat dihubungi Jurnalislam.com, Sabtu, (13/10/2018).

Juanda menjelaskan, desa Beka merupakan salah satu wilayah yang terkena dampak gempa yang cukup parah. Selain merusak bangunan, jalan di desa tersebut juga banyak yang retak dengan kedalaman yang bervariasi.

“Disana juga banyak yang manula dan tidak punya kendaraan, akhirnya kita yang mendatangi lokasi tersebut untuk langsung menyalurkan bantuan langsung kepada korban terdampak bencana gempa tersebut,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia berharap apa yang dilakukan Yanmas dapat meringankan penderitaan yang dialami para korban. Kedepan, kata dia, Yanmas masih akan terus melakukan aksi sosial serupa di sejumlah tempat yang terkena dampak gempa dan tsunami Palu.

Bawa 1.000 ton Bantuan, Kapal Kemanusiaan ACT Tiba di Palu

PALU (Jurnalislam.com) – Kapal Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) tiba di Pelabuhan Pantoloan Kota Palu, Sabtu (13/10/2018).

Kapal yang berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya ini membawa 1000 ton bantuan yang terdiri dari 500 ton beras dan 500 ton kebutuhan pokok.

“Bantuan terdiri dari 500 ton beras yang kita datangkan khusus dari lumbung pangan kita di Blora dan ditambah 500 ton bantuan dari masyarakat yang bervariasi melalui cabang kami di ACT Surabaya,” kata Senior Vice Presiden ACT, Syuhelmaidi Sukur kepada awak media di Pelabuhan Pantoloan.

Syuhelmaidi menjelaskan, bantuan dari masyarakat tersebut adalah bantuan yang secara langsung diberikan oleh masyarakat melalui ACT cabang Surabaya.

Senior Vice Presiden ACT, Syuhelmaidi Sukur. Foto: Ally/Jurniscom

Bantuan tersebut akan disalurkan kepada pengungsi korban gempa dan tsunami melalui 8 posko ACT yang ada di Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Sigi.

“Karena kita melihat 4 kabupaten inilah yang terdampak cukup parah oleh gempa dan tsunami,” ujarnya.

Delapan posko kemanusiaan ACT untuk bencana Sulteng tersebut diantaranya 1 di Donggala kota dan 3 di pantai barat. Kemudian 2 di Kota Palu, 1 di Sigi, dan 1 lagi di Parigimoutong.

Ini adalah Kapal Kemanusiaan pertama ACT yang ada tiba di Palu setelah melalui perjalanan selama 5 hari dari Surabaya. Kapal kedua akan segera didatangkan dari Jakarta.

“Insya Alloh akan ada lagi kapal kemanusiaan kedua yang berangkat dari Jakarta,” pungkasnya.

Reporter: Ally Muhammad Abduh

Tak Ingin Bencana Hadir, Ulama dan Tokoh Banyuwangi Akan Nasehati Bupati

BANYUWANGI (Jurnalislam.com) – Banyaknya bencana yang hadir di Indonesia dimaknai oleh berbagai pihak. Seperti ulama dan tokoh Islam yang tergabung dalam majelis silaturohim ulama dan umat Banyuwangi (MSUUB) ini. MSUUB melakukan pertemuan untuk mengkaji permasalahan dan mencari solusi terbaik.

“Dengan mengharap rida Alloh Ta’ala, maka MSUUB segera akan memberikan nasehat dan imbauan kepada Bupati Banyuwangi untuk segera mengkaji dan menghentikan kegiatan budaya yang mengandung unsur Fahsya’, Kemungkaran dan Tasyrik yang dikemas dengan berbagai macam festival,” terang koordinator MSUUB, Agus Iskandar saat ditemui dalam pertemuan yang di adakan di Masjid Al Hilal, Banyuwangi, Jumat (12/10/2018).

Agus mengatakan, sudah menjadi tugas sebagai saudara sesama muslim dan juga warga negara yang baik untuk mengingatkan agar terhindar dari bencana, dan selamat.

“Kejadian bencana di Palu, Lombok harus menjadi cermin bagi kita warga Banyuwangi untuk saling memperbaiki diri,” ungkapnya.

“Agar selamat dari murka Allah,” tambahnya.

Ia menjelaskan, prioritas imbauan yang akan diberikan kepada pemerintah dan masyarakat adalah pembatalan acara Festival Gandrung Sewu yang akan diadakan pada 20 Oktober 2018.

“Kita hanya mengingatkan. Soal mau diterima atau tidak, ya terserah. Menurut kami, Bupati sebagai pemegang kebijakan, kan bisa mencari acara lain yang lebih bijaksana untuk memajukan Banyuwangi,” tegasnya.

Kontributor: Ihsan

Ribuan Masyarakat dan Majelis Dzikir Al Khairaat Gelar Dzikir dan Doa Bersama di Pantai Talise Palu

PALU (Jurnalislam.com) – Lebih dari seribu jamaah Al Khairat Palu melakukan aksi dzikir dan doa bersama di Anjungan Nusantara kawasan pantai Talise, Jumat (12/10/2018). Hal itu mereka lakukan untuk menolak bala (musibah) yang datang di kota Palu dan sekitarnya.

“Semata-mata untuk mengajak masyarakat kota Palu, Donggala dan sekitarnya untuk berdzikir kepada Allah, beristigfar kepada Allah dalam rangka menolak bala, karena baru-baru mengalami musibah yang luar biasa yang ditimpakan di kota Palu,” kata salah satu pengurus majelis dzikir Al Khairaat, Jamaludin kepada jurnalislam.com seusai doa bersama.

Menurut Jamal, datangnya gempa dan tsunami di Palu merupakan peringatan dari Allah agar masyarakat Palu dan sekitarnya senantiasa bertaubat dan kembali mengingat Allah.

“Jadi kita semua mengajak semuanya bahwa bala ini dijadikan peringatan kepada umat manusia sehingga majelis dzikir berinisiatif berdzikir di tempat ini hingga masyarakat kota Palu, Donggala dan sekitarnya selalu berdzikir kepada Allah,” terang Jamaludin.

Ia berharap, apa yang dilakukan Majelis dzikir Al Khariraat tersebut dapat menjadi contoh dan diikuti masyarakat Sulawesi terutama di kota Palu da sekitarnya.

“Harapan kita kedepan supaya masyarakat semakin selalu dekat kepada Allah,” tandasnya.

Aksi Dzikir dan doa bersama dimulai sekitar pukul 15.30 WITA. Selain dzikir dan doa bersama, masyarakat juga melakukan shalat magrib berjamaah di tempat tersebut yang dipimpin langsung oleh pimpinan majelis Al Khairaat Habib Al Aydrus Shaleh Al Jufri.

“Apa yang Terjadi dengan Lumpur, Tanyakan Masyarakatnya”

PALU (Jurnalislam.com) – Imam besar Front Pembela Islam (FPI) Sulteng, Habib Hasan Alhabsy mengimbau kepada warga Palu untuk tidak salah dalam memilih pemimpin. Menurutnya, pemimpin yang bertaqwa dapat mendatangkan keberkahan Allah.

“Kedepan, jangan sembarangan pemimpin kita angkat di negeri ini, pilih pemimpin yang bertaqwa kepada Allah, kalau tidak kita akan sengsara di negeri sendiri, apa yang terjadi dengan lumpur, tanyakan masyarakatnya,” kata Habib Hasan sesaat memberikan nasehat keagamaan di Monumen Anjungan Nusantara, Pantai Talise, Palu, Jumat (12/10/2018).

Ia juga mengaku pernah menegur sejumlah hotel dan tempat karaoke yang berada di sepanjang pantai Talise, Sulteng. Sebab tidak menyediakan fasilitas ibadah.

Hal itulah yang dinilai Habib Hasan sebagai salah satu penyebab murkanya Allah dengan menurunkan tsunami karena manusia lupa untuk bersujud kepada Rabbnya.

“Saya pernah tegur hotel hotel itu, saya tanya siapa pimpinannya, hei ini bukan Yahudi, disini ada Islam, disini ada akhirat, karena kalau tsunami datang tidak peduli. Dimana ada itu dia sikat,” ungkap dia.

“Bada magrib kita semua duduk di kafe, baik itu muslim, non-muslim. Kenapa, karena tidak ada fasilitas di tempat ini, tidak ada tempat fasilitas untuk salat dan tempat wudu, tidak ada. Kedepan kita harus pertahankan tidak boleh ada tempat tempat yang tidak ada tempat ibadahnya,” imbuhnya.

Habib Hasan juga ikut menolak dengan diadakannya festival Nomoni di tempat tersebut. Menurutnya, ada unsur kesyirikan dalam festival Palu Nomoni tersebut.

“Sebagian kita mau menghidupkan budaya-budaya yang sudah ditolak dan tidak bisa diterima, umat Islam yang bertanggungjawab, kedepan tidak ada lagi yang seperti ini, kita harus lawan, kita harus pertahankan Palu,” paparnya.

Selain itu, Habib Hasan mengajak umat Islam yang ada di kota Palu untuk senantiasa beramar ma’ruf nahi mungkar (berbuat baik mencegah kemungkaran). Hal itu, katanya, harus senantiasa dilakukan agar Allah tidak menurunkan adzabnya kepada manusia.

“Kedepan kita harus sama-sama menjaga negeri ini, kita harus menolak bala di negeri ini, tidak akan mulia hidup kita ini, kalau tidak menjaga yang namanya amar ma’ruf nahi mungkar,” pungkasnya.

Resolusi Wisata Pantai Talise, Palu Menurut Imam Besar FPI Sulteng

PALU (Jurnalislam.com) – Monumen Anjungan Nusantara di pesisir Pantai Talise, Kota Palu, Sulawesi Tengah kini telah porak poranda akibat diterjang gelombang tsunami sesaat setelah gempa berkekuatan M 7,4 mengguncang kota Palu, Jumat (28/9/2018).

Anjungan ini menjadi ikon kota Palu dan selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat lokal maupun wisatawan. Apalagi pada hari Sabtu dan Ahad. Kini anjungan yang menjadi kebanggan warga Palu tersebut hanya tersisa puing-puing yang berserakan tidak beraturan di kanan kiri jalan menuju Jembatan Kuning Palu.

14 hari pasca munculnya gelombang besar yang membuat warga berhamburan guna mencari tempat aman itu, masyarakat Palu melakukan aksi dzikir dan doa bersama di tempat tersebut pada Jumat (12/10/2018). Tak kurang seribu orang datang untuk berdoa untuk keselamatan ibu kota provinsi Sulawesi Tengah itu.

“Sayidina Umar saat jadi khalifah, ia dengar ada gempa di suatu negeri, lau ia datangi tempat itu dan ia tanyakan, dosa apa yang kau perbuat, sehingga bumi ini berguncang, bukan berapa mayat yang ditemukan, berapa kerugian yang ditanyakan, sayidina Umar bertanya dosa apa yang kalian perbuat sehingga bumi ini bergoncang,” kata Imam besar Front Pembela Islam (FPI) Sulteng, Habib Hasan Alhabsy dihadapan ribuan jamaah yang datang.

Menurut Habib Hasan, kemaksiatan yang ada di sekitar Anjungan Nusantara sudah tidak bisa ditoleransi lagi, banyaknya kafe dan tempat karaoke di sepanjang pantai Talise membuat warga Palu lalai untuk bersujud dan bersimpuh dihadapan Allah.

“Telah nampak kerusakan di muka bumi akibat ulah manusia itu sendiri, disaat magrib sebagian kita enak selfie, sebagian kita enak dengan musik, sebagian kita enak dengan karaokenya, begitu adzan dikumandangakan, disitu tsunami datang,” ungkapnya.

“Semoga tsunami tidak akan datang lagi, kita jadikan tempat ini berdzikir, dan tidak boleh ada tempat-tempat yang tidak ada masjid dan musholanya di tempat ini, setiap hari Jumat, majelis itu harus hadir disini, sampai kiamat kalau bisa,” tandasnya.

ACT Akan Bangun 5.000 Unit Huntara untuk Korban Bencana Sulteng

PALU (Jurnalislam.com) – Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) akan membangun sekitar 5.000 hunian sementara (huntara) untuk para korban bencana di Palu, Donggala dan Sigi, Sulawesi Tengah.

Senior Vice President ACT, Syuhelmaidi Syukur mengatakan, pembangunan hunian sementara akan dimulai pekan ini.

Saat ini, pihaknya tengah mencari lokasi yang akan dijadikan lahan untuk mendirikan hunian sementara tersebut.

Beberapa lokasi yang sudah siap untuk dibangun hunian sementara yakni di Palu Barat, Duyu dan Sirenja.

“Mungkin dalam pekan ini kita akan datangkan tim kontruksi yang untuk segera membangun perencanaan. Setelah itu kita akan segera bergerak,” kata Syuhelmaidi di Posko Kemanusiaan ACT Palu, Jalan Haji Hayun, Palu Timur, Jumat (12/10/2018).

Syuhelmaidi menargetkan pengerjaan hunian sementara untuk para korban ‎akan rampung dalam waktu tiga pekan.

Nantinya didalam setiap kompleks hunian sementara akan dilengkapi dengan masjid, sekolah, taman bermain untuk anak-anak hingga warung wakaf.

“Pengalaman kami satu kompleks hunian itu antara 2-3 pekan. Tidak bisa terlalu cepat juga karena kita kan perlu kualitas juga,” katanya.

Selain hunian sementara, ACT juga akan membangun‎ rumah tahan gempa kepada para korban.

“Untuk rumah tahan gempa, kita sedang meminta kepada tim konstruksi untuk mendesain rumah kayu kepada masyarakat sini dengan konsep sederhana tapi bisa digunakan oleh masyarakat yang rumahnya rusak,” kata Syuhelmaidi.

Terkait siapa saja korban yang berhak mendapatkan fasilitas tersebut, ACT menyerahkan hal itu kepada warga setempat.

“Nanti kita masuk ke warga dan sampaikan kalau kita akan bangun rumah. Biar warga yang tentukan sendiri siapa yang berhak dikasih rumah kita hanya menyediakannya saja,” ucap Syuhelmaidi.

Reporter: Ally Muhammad Abduh

Habib Rotan: Insya Allah Tahun Depan Tak Ada Lagi Palu Nomoni

PALU (Jurnalislam.com) – Salah satu ulama terkemuka di Sulawesi Tengah, Habib Al Aydrus Shaleh Al Jufri atau yang lebih dikenal dengan sebutan Habib Rotan menegaskan, tahun depan sudah tidak ada lagi Ritual Palu Nomoni.

“Insya Alloh tak ada lagi itu Palu Nomoni,” katanya usai memimpin dzikir akbar di Monumen Anjungan Nusnatara Palu, Pantai Talise, Kota Palu, sore ini, Jumat (12/10/2018).

Ia berharap Kota Palu dan sekitarnya segera pulih dan kembali menjadi kota yang aman dan damai.

“Kita ingin Palu aman dan tidak ada masalah,” ucapnya singkat.

Ratusan warga Kota Palu mengikuti acara dzikir akbar dan salat maghrib berjamaah di Monumen Anjungan Nusnatara, Pantai Talise, kota Palu.

Acara itu digelar oleh Majelis Dzikir Nurul Khairaat. Warga korban gempa, tsunami, dan likuifaksi juga terlihat mengikuti acara dengan khusyu.

Suasana salat dan dzikir berjamaah di Monumen Anjungan Nusnatara, Pantai Talise, Jumat (12/10/2018). Foto: Arie

Dai kondang, Ustadz Abdul Somad (UAS) dalam akun instagramnya pernah menjelaskan asal muasal Habib Shaleh dijuluki Habib Rotan.

“Habib Shalih yang masyhur dengan nama Habib Rotan karena berjuang di Poso dengan Rotan ‘keramat’ ini telah membimbing langsung ribuan orang, ada lima ribu yang ada di sekitar beliau. Tapi, ada tujuh belas ribu lagi di pegunungan yang belum tersentuh. Inilah sebenar da’wah, mengajak orang ke jalan da’wah,” papar UAS.

Reporter: Ally M Abduh

Ini Pernyataan Sikap Pemuda dan Pelajar Garut Menyoal Kasus LGBT di Garut

GARUT (Jurnalislam.com) – Beberapa hari terakhir ini Garut sedang di gegerkan dengan isu LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) yang merambah usia tingkat SMP/SMA/sederajat disebuah grup media sosial, Facebook dengan beranggotakan lebih dari 2000 akun pribadi.

Kejadian tersebut dinilai sejumlah elemen masyarakat dengan nama Pemuda dan Pelajar Garut meresahkan masyarakat, yang notabene mayoritas beragama Islam.

Oleh sebab itu, Pemuda dan Pelajar Garut menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung DPRD Garut pada Jumat (12/10/2018). Berikut pernyataan sikap yang ia lontarkan sesaat melakukan aksi bertajuk “Tolak LGBT di Garut” tersebut:

1. Mendesak DPRD Kabupaten Garut beserta Bupati dan Wakil Bupati Garut untuk menerbitkan Perda khusus terkait LGBT dan Penyakit Masyarakat lainnya.

2. Mendesak Bupati Garut untuk menyediakan sarana rehabilitasi Pelaku LGBT.

3. Mendesak Kapolres Garut supaya menerbitkan surat edaran kepada pemiliki kos-kosan untuk melakukan pengawasan secara ketat.

4. Mendesak aparat keamanan untuk menindak, menertibkan dan menutup tempat-tempat yang terindikasi menjadi sarana perkumpulan komunitas serta aktivitas LGBT seperti warung remang-remang, tempat hiburan dan sebagainya.

5. Mendesak dinas pendidikan untuk mewajibkan di sekolah binaanya mengadakan program pembinaan keagamaan khusus di luar jam pelajaran.

6. Mendesak Kominfo untuk mengawasi, memperketat dan memblokir konten LGBT yang beredar di Media Sosial.

7. Mendesak MUI Garut untuk menerbitkan Fatwa MUI tentang bahaya LGBT lalu mensosialisasikannya kepada masyarakat luas.

8. Mengajak kepada seluruh masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalan mencegah perbuatan LGBT dan perbuatan maksiat lainnya.

Viral Hadirnya Ribuan ‘Gay’, Ratusan Massa Datangi DPRD Garut

GARUT (Jurnalislam.com) – Ratusan massa dari berbagai ormas turun ke jalan untuk melakukan aksi unjuk rasa, menolak Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Kabupaten Garut, Jumat (12/10/2018). Aksi ini merupakan buntut dari laporan masyarakat terhadap adanya ribuan kaum Gay (homoseksual) yang tengah viral beredar di Garut.

Massa dari Pemuda dan Pelajar Garut ini terdiri dari HMI Garut, KAMMI Garut, HIMA Persis, IMM Garut, PUI, HISGAR, DOGGAR, dan Jamaah Ansharusy Syariah memulai aksi dimulai dari Simpang 5 Tarogong Kidul, dilanjutkan dengan berjalan ke kantor DPRD Garut.

Massa aksi diterima oleh Ketua Komisi D DPRD kabupaten Garut, Asep De Maman, diruangan rapat komisi D. Korlap Aksi, Yassir menyampaikan tuntutan untuk menghadirkan Muspida Kabupaten Garut dan Intansi-intansi terkait untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Perwakilan massa aksi diterima oleh Komisi D DPRD Garut

“Karena komisi D ini tidak bisa mengambil kebijakan, dan sifatnya hanya menyampaikan aspirasi, maka kami menuntut bapak komisi untuk mengahadirkan intansi-intansi terkait untuk hadir disini,” jelas Yassir dihadapan massa dan perwakilan komisi D.

Menanggapi itu, Asep menyampaikan pernohonan maafnya dihadapan perwakilan massa aksi karena tidak bisa menghadirkan elemen yang diajukan.

“Saya mohon maaf untuk hari ini tidak bisa memenuhi tuntutan saudara-saudara semua karena sifatnya mendadak,” ungkap Asep.

“Paling juga kami bisa menjadwal ulang pertemuan ini hari Selasa dan kami berjanji akan mengundang semua yang disebutkan tadi,” tambah asep.

Massa aksi melanjutkan orasi di depan kantor DPRD dan juga menyampaikan pernyataan sikap.

Sebelumnya, dilaporkan ramainya pemberitaan di media sosial tentang grup Facebook Gay di Garut yang beranggotakan lebih dari 2000 orang. Ditambah laporan dari KPA Garut yang menyatakan jumlah penyuka sesama jenis ini berjumlah 3.300 orang dengan pengidap penyakit HIV sebanyak 40 orang.