Rusia dan AS Perang Mulut, Trump: Kami akan Putuskan Segera atas Serangan Beracun

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Perang kata-kata pecah antara Moskow dan Washington di tengah rapat mendadak Dewan Keamanan PBB mengenai indikasi serangan bahan kimia di sebuah kota yang dikuasai oposisi Suriah. Seruan agar dunia internasional menanggapi insiden itu meningkat, lansir Aljazeera Senin (9/4/2018).

Tim penyelamat dan petugas medis mengatakan “serangan gas beracun” di Douma pada hari Sabtu (7/4/2018) menewaskan puluhan orang, termasuk puluhan anak-anak dan perempuan. Rezim Syiah Nushairiyah Bashar al-Assad dan sekutunya Rusia menyebut tuduhan itu “palsu”.

Ketika serpihan senjata kimia itu berlanjut pada hari Senin, Presiden AS Donald Trump berjanji untuk segera mengumumkan “keputusan besar” atas serangan itu, sementara timpalannya dari Rusia, Vladimir Putin, memperingatkan bahwa AS melakukan “provokasi”.

Erdogan: Kapan Barat Mau Peduli pada Anak-anak dan Wanita yang Dibantai di Suriah?

Dalam sebuah pernyataan, Kremlin mengatakan Putin telah mengadakan percakapan telepon dengan Kanselir Jerman Angela Merkel, di mana kedua “pemimpin bertukar pendapat tentang situasi di Suriah, termasuk tuduhan bahwa Damaskus menggunakan senjata kimia oleh sejumlah negara Barat.

“Pihak Rusia menekankan tidak bisa menerima provokasi dan spekulasi mengenai masalah ini,” tambah Kremlin.

Trump mengutuk “serangan keji terhadap warga tak berdosa” di Suriah, ketika ia membuka rapat kabinet di Gedung Putih, menambahkan bahwa keputusan akan datang dalam “24-48 jam berikutnya”.

“Ini tentang kemanusiaan; itu tidak boleh dibiarkan terjadi,” katanya.

Setelah Serangan Gas Beracun Assad, Jaishul Islam Beserta Warga Tinggalkan Douma

Sebelumnya, Trump dan Presiden Prancis Emmanuel Macron telah bersumpah akan “meluncurkan balasan serangan yang kuat dan secara bersama-sama”, sementara Jim Mattis, menteri pertahanan AS, mengatakan tidak keraguan lagi untuk tindakan militer.

Pada April tahun lalu, Trump memerintahkan serangan udara menargetkan fasilitas milik rezim pemerintah Suriah setelah serangan kimia di Khan Sheikhoun, sebuah kota yang dikuasai oposisi, yang menewaskan sedikitnya 80 orang.

“Pertanyaannya sekarang adalah apakah presiden akan melakukan reaksi yang sama setelah melihat gambar serupa keluar dari Douma,” kata Kimberly Halkett dari Al Jazeera, melaporkan dari Washington, DC, menambahkan bahwa beberapa pertemuan darurat dengan penasihat militer dan politik berlangsung di dan di sekitar Gedung Putih tentang masalah ini.

Anak-anak jadi korban serangan gas beracun

Pada hari Ahad, Trump memperingatkan Iran dan Rusia bahwa akan ada “harga besar untuk dibayar” karena mendukung “binatang Assad”.

Puluhan Anak Tewas Keracunan, Trump: Pendukung Binatang Assad Harus Bertanggung Jawab

Krisis itu akan dibahas Dewan Keamanan selanjutnya pada hari Senin, dimana AS mengedarkan rancangan resolusi untuk penyelidikan independen baru terhadap serangan senjata kimia di Suriah.

Theresa May, perdana menteri Inggris, mengatakan pada hari Senin bahwa rezim Suriah “dan pendukungnya, termasuk Rusia, harus dimintai pertanggungjawaban” jika dipastikan bertanggung jawab menjatuhkan senjata kimia pada warga Douma.

Tetapi juru bicara Kremlin Dmitry Peskov berusaha menghindar pada hari sebelumnya mengancam bahwa “membuat kesimpulan seperti itu adalah salah dan berbahaya”.

Peskov berkelit dengan mengatakan bahwa bisa saja oposisi yang melancarkan serangan itu untuk melempar kesalahan pada Damaskus, sesuatu yang menurut Rusia bisa terjadi.

“Baik presiden dan kementerian pertahanan, mengutip sumber-sumber intelijen, telah berbicara tentang provokasi yang sedang dipersiapkan,” alasan Peskov.

Setelah Serangan Gas Beracun Assad, Jaishul Islam Beserta Warga Tinggalkan Douma

SURIAH (Jurnalislam.com)Jaish al-Islam, kelompok oposisi terakhir yang tersisa di Ghouta Timur, telah setuju untuk meninggalkan Douma menuju wilayah yang dikuasai oposisi di Suriah utara, menurut para perunding dari pihak oposisi dan kementerian luar negeri Rusia.

Kesepakatan itu terjadi sehari setelah serangan kimia menewaskan puluhan orang dan mempengaruhi ratusan warga Douma lainnya. Serangan itu memicu kemarahan global tetapi dibantah sebagai “laporan fabrikasi (palsu)” oleh rezim Syiah Suriah, yang pasukannya pada Jumat melancarkan serangan terhadap para oposisi dengan dukungan serangan udara.

Biadab, Rezim Assad Gunakan Senjata Kimia pada Posisi Jaishul Islam, 70 Warga Mati Lemas

Kesepakatan, yang dicapai antara Jaish al-Islam dan Rusia pada hari Ahad (8/4/2018), termasuk gencatan senjata dan evakuasi pejuang dan warga sipil dari daerah tersebut, lansir Aljazeera.

“Menurut orang-orang yang membantu merundingkan perjanjian ini, Jaish al-Islam telah sepakat dengan pasukan Rusia untuk memulai evakuasi dengan keluarga mereka, serta siapa saja yang ingin pergi,” kata Natasha Ghoneim dari Al Jazeera, dari Amman, mengatakan.

Erdogan: Kapan Barat Mau Peduli pada Anak-anak dan Wanita yang Dibantai di Suriah?

Berdasarkan perjanjian itu, polisi militer Rusia akan bergerak ke Douma untuk menggantikan pasukan rezim Suriah, tambah Ghoneim.

Tentara Rusia juga mengatakan pada hari Ahad bahwa mereka telah mencapai kesepakatan dengan Jaish al-Islam untuk menarik sekitar 8.000 pejuang Jaish al-Islam dan sekitar 40.000 keluarga mereka.

Mayor Jenderal Yuri Yevtushenko seperti dikutip oleh kantor berita Associated Press mengatakan bahwa konvoi 100 bus telah memasuki Douma untuk memulai evakuasi.

Evakuasi Jaisyul Islam dari Ghouta Timur Tertunda, Ini Sebabnya

Kantor berita Rusia, RIA, mengutip sumber keamanan, mengatakan pejuang Jaish al-Islam akan meninggalkan Douma dalam dua gelombang dalam beberapa jam mendatang.

Kesepakatan juga dilaporkan sebelumnya pada hari itu oleh kantor berita resmi rezim Suriah, SANA, mengutip sumber rezim yang mengatakan bahwa perjanjian itu akan memastikan “kepergian semua anggota Jaish al-Islam ke Jarablus dalam waktu 48 jam.”

Sebagai gantinya, Jaish al-Islam akan membebaskan para sandera yang mereka tahan, kata sumber itu, menurut SANA.

Erdogan: Kapan Barat Mau Peduli pada Anak-anak dan Wanita yang Dibantai di Suriah?

SIIRT (Jurnalislam.com) – Presiden Recep Tayyip Erdogan pada hari Ahad (8/4/2018) menyerukan kepada Barat untuk memperhatikan anak-anak, wanita dan warga sipil yang menjadi “martir” di Ghouta Timur.

Sedikitnya 78 warga sipil tewas setelah pasukan rezim Syiah Bashar al-Assad menyerang sasaran mereka di distrik Douma di Ghouta Timur dalam serangan, di mana gas beracun tampaknya telah digunakan, menurut lembaga pertahanan sipil White Helmets, lansir Anadolu Agency.

“Kapan Anda [Barat] berbalik dan melihat anak-anak, wanita dan manusia dibantai dan menjadi martir di Ghouta Timur sehingga kita dapat mengatakan ‘mereka bertindak adil’?,” kata Erdogan di depan kongres provinsi Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) di provinsi Siirt tenggara.

“Memalukan sekali mereka yang mengubah tragedi kemanusiaan di wilayah kami menjadi masalah politik internal mereka dan untuk keuntungan mereka sendiri. Demokrasi Anda, hak asasi manusia, dan pemahaman Anda tentang diplomasi adalah hal yang memalukan,” katanya.

Biadab, Rezim Assad Gunakan Senjata Kimia pada Posisi Jaishul Islam, 70 Warga Mati Lemas

Erdogan mengatakan sedikitnya 4.017 teroris telah dinetralisasi sejak peluncuran Operasi Olive Branch di barat laut Suriah, Afrin.

Otoritas Turki sering menggunakan kata “dinetralkan” dalam pernyataan mereka untuk menyiratkan bahwa teroris yang bersangkutan menyerah atau terbunuh atau ditangkap.

Berbicara di kongres partai yang berkuasa di provinsi Van timur, Erdogan mengatakan Barat tidak bereaksi ketika anak-anak di Ghouta Timur menjadi martir, tetapi hanya bereaksi ketika Turki membunuh teroris di Afrin.

Dia menambahkan bahwa Turki meluncurkan dua pukulan dengan operasi Olive Branch dan Euphrates Shield, yang membebaskan hampir 4.000 kilometer persegi di barat laut Suriah dari teroris.

Erdogan mengatakan Ankara dengan dua operasinya membuka kedok IS dan PYD/PKK.

“Sekarang para teroris telah terbuka kedoknya, kita bisa melihat orang-orang yang bersembunyi di belakang mereka.”

Turki pada 20 Januari meluncurkan Operasi Olive Branch untuk menghapus teroris YPG/PKK dan IS dari Afrin.

Puluhan Anak Tewas Keracunan, Trump: Pendukung Binatang Assad Harus Bertanggung Jawab

Menurut Staf Umum Turki, operasi tersebut bertujuan untuk membangun keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan Turki dan wilayah Timur Tengah serta melindungi Suriah dari kekejaman dan penindasan teroris.

Operasi tersebut dilaksanakan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, resolusi Dewan Keamanan PBB, hak membela diri di bawah piagam PBB, dan penghormatan terhadap integritas teritorial Suriah, katanya.

Erdogan mengatakan bahwa jumlah teroris yang “dinetralkan” di Irak utara mencapai 327.

Serangan udara pada target PKK di Irak utara, di mana kelompok teror tersebut memiliki basis utama mereka di wilayah pegunungan Qandil, dekat perbatasan Iran, telah dilakukan secara teratur sejak Juli 2015, ketika PKK melanjutkan kampanye teror bersenjata.

Sebanyak 154 teroris dinetralkan dalam operasi kontra-terorisme Turki di wilayah pegunungan Gabar timur, daerah pegunungan Cudi di tenggara Sirnak, dan timur Tunceli, kata presiden.

Blokir pernyataan DK PBB untuk Dukung Palestina, Hamas Kutuk Amerika

GAZA (Jurnalislam.com) – Kelompok perlawanan Palestina Hamas pada hari Sabtu (7/4/2018) mengutuk AS karena memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan penyelidikan atas tindakan kekerasan Israel di Jalur Gaza.

Juru bicara Hamas Hazem Qassem mengatakan dengan memblokir resolusi, AS terlibat dalam serangan Israel terhadap warga sipil tak bersenjata di Gaza, lansir Anadolu Agency, Ahad (8/4/2018).

Dia mengatakan dengan memblokir kecaman Dewan Keamanan pada hari Jumat atas tindakan Israel terhadap demonstran sipil di Gaza, AS “mengambil bagian dalam serangan terhadap warga kami.”

AS selama dua pekan berturut-turut memblokir pernyataan Dewan Keamanan yang mendukung hak Palestina untuk melakukan unjuk rasa secara damai dan mendukung seruan Sekretaris Jenderal Antonio Guterres untuk melakukan penyelidikan independen terhadap aksi protes berujung serangan mematikan di Gaza.

Setelah Lobi dengan Zionis di AS, Pangeran Arab: Israel Punya Hak Tanah di Palestina

Washington adalah satu-satunya anggota Dewan Keamanan dari 15 anggota yang menolak pernyataan mengutuk respon Israel terhadap demonstrasi ‘March for Return’.

Qassem juga mengatakan bahwa AS “mendorong pasukan penjajah untuk melanjutkan kejahatannya.”

Kementerian Luar Negeri Palestina telah meminta masyarakat internasional untuk menemukan formula baru yang akan menolak hak AS untuk memveto resolusi Dewan Keamanan yang berupaya menuntut pembentukan komisi penyelidikan independen terhadap peristiwa di Gaza.

Jika gagal melakukannya, Dewan Keamanan akan menjadi lembaga yang tidak berdaya dan kehilangan kredibilitas, kementerian mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Erdogan pada PM Israel: Anda Seorang Teroris, Negara Anda adalah Negara Teror

Kementerian iItu juga mengutuk AS karena memveto resolusi Dewan Keamanan untuk kedua kalinya dan mencatat bahwa Washington telah menutup-nutupi pembantaian warga Palestina oleh pasukan Israel.

AS telah menolak permintaan oleh Dewan Keamanan untuk penyelidikan independen dan transparan terhadap insiden kekerasan di mana puluhan warga Palestina menjadi martir akibat penggunaan kekuatan Israel yang tidak proporsional di Jalur Gaza sejak 30 Maret.

Puluhan Anak Tewas Keracunan, Trump: Pendukung Binatang Assad Harus Bertanggung Jawab

SURIAH (Jurnalislam.com) – Sebuah serangan kimia di sebuah kota yang dikuasai oposisi Suriah telah memicu kemarahan internasional.

Sedikitnya 85 orang, termasuk banyak wanita dan anak-anak, tewas di Douma pada hari Sabtu (07/04/2018), menurut pernyataan oleh petugas penyelamat dan staf medis.

Kecaman dilontarkan pada hari Ahad (8/4/2018) saat Presiden AS Donald Trump memperingatkan akan ada “harga besar sebagai balasan,” sementara Turki mengatakan: “tidak mungkin untuk membenarkan atau menerima serangan tersebut untuk alasan apapun dan dengan cara, bentuk atau wujud apapun,” lansir Aljazeera.

“Banyak yang mati, termasuk wanita dan anak-anak, dalam serangan KIMIA tanpa perasaan di Suriah,” tulis Trump di Twitter, mengecam Presiden Suriah Bashar al-Assad dan sekutunya, Presiden Rusia Vladimir Putin.

“Presiden Putin, Rusia dan Iran bertanggung jawab karena mendukung Binatang Assad. Harganya besar,” katanya.

Ancaman Trump diucapkan tepat setahun dan sehari setelah tentara AS menembakkan rudal jelajah di sebuah pangkalan udara Suriah sebagai balasan atas serangan gas sarin yang mematikan di kota Khan Sheikhoun yang dikuasai oposisi.

Tom Bossert, penasihat keamanan dalam negeri Gedung Putih, mengatakan kepada stasiun televisi ABC bahwa dia “tidak akan men-tolerir lagi” ketika ditanya apakah AS dapat membalas lagi dengan serangan rudal.

Biadab, Rezim Assad Gunakan Senjata Kimia pada Posisi Jaishul Islam, 70 Warga Mati Lemas

Pemerintah Assad dan Rusia sama-sama membantah penggunaan senjata kimia dan menyebut berita tersebut sebagai “fabrikasi (palsu)”. Kementerian luar negeri Rusia menyebut laporan terbaru itu sebagai “provokasi”, dan memperingatkan bahwa “intervensi militer adalah dalih yang dibuat-buat.”

Mengomentari insiden tersebut, Uni Eropa menyerukan tanggapan internasional terhadap serangan itu.

“Bukti-buktinya mengarah pada satu lagi serangan kimia oleh rezim,” kata blok itu dalam sebuah pernyataan.

“Ini adalah masalah yang memprihatinkan bahwa senjata kimia terus digunakan, terutama pada warga sipil. Uni Eropa mengutuk dalam istilah terkuat penggunaan senjata kimia dan menyerukan tanggapan segera oleh masyarakat internasional.”

Uni Eropa juga meminta Dewan Keamanan PBB untuk menetapkan kembali pemeriksaannya demi mengidentifikasi para pelaku serangan kimia dan pada Rusia dan Iran – sekutu terdekat pemerintah Suriah – untuk menggunakan pengaruh mereka terhadap al-Assad demi mencegah serangan lainnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian mengatakan Prancis mengecam keras serangan dan pemboman oleh pasukan rezim pemerintah Suriah dalam 24 jam terakhir di Douma, menambahkan bahwa itu adalah “pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional.

Dia meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa untuk bertemu secepatnya untuk memeriksa situasi dan mengatakan bahwa Perancis akan bekerja dengan sekutu untuk memverifikasi laporan bahwa senjata kimia digunakan.

Mengacu pada peringatan Presiden Emmanuel Macron bahwa Perancis dapat menyerang secara sepihak jika ada serangan kimia mematikan, Le Drian mengatakan bahwa Paris akan menanggung semua tanggung jawabnya dalam perang melawan proliferasi senjata kimia.

The White Helmets Suriah, yang merupakan responden pertama di wilayah Suriah yang dikuasai oposisi, mengatakan serangan pada Sabtu malam itu melibatkan “gas klorin beracun.”

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Suriah telah dituduh menggunakan senjata kimia sebagai alat melawan oposisi bersenjata.

Biadab, Rezim Assad Gunakan Senjata Kimia pada Posisi Jaishul Islam, 70 Warga Mati Lemas

DOUMA (Jurnalislam.com) – Sebuah serangan kimia yang diluncurkan pada kubu pertahanan oposisi terakhir di Douma, yaitu Jaishul Islam, di dekat ibu kota Suriah, Damaskus, telah menewaskan sedikitnya 70 orang dan ratusan orang juga terkena dampaknya, kata relawan medis kepada Al Jazeera.

The White Helmets, sekelompok penyelamat yang beroperasi di daerah yang dikuasai oposisi di Suriah, mengatakan pada hari Sabtu (7/8/2018) bahwa sebagian besar korban jiwa adalah wanita dan anak-anak.

“Tujuh puluh orang mati lemas dan ratusan lainnya masih tercekik (sulit bernafas),” Raed al-Saleh, kepala The White Helmets, mengatakan kepada Al Jazeera, menambahkan bahwa jumlah korban tewas diperkirakan akan meningkat karena banyak orang berada dalam kondisi kritis.

Al-Saleh mengatakan bahwa gas klorin dan gas lain yang tidak dikenal tetapi lebih kuat dijatuhkan dari atas Douma.

“Para sukarelawan White Helmet mencoba membantu warga, tetapi yang bisa kami lakukan hanyalah mengevakuasi mereka ke area lain dengan berjalan kaki karena sebagian besar kendaraan dan pusat-pusat penampungan tidak berfungsi.”

Korban serangan gas beracun rezim Assad, kebanyakan anak-anak

Salah satu anggota White Helmets mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ada satu keluarga yang seluruh anggotanya mati lemas ketika mereka bersembunyi di ruang bawah tanah milik mereka, mencoba berlindung dari serangan udara dan bom barel.

Rezim Syiah Assad Lakukan 214 Serangan Bom Beracun pada Rakyatnya Sendiri

Pemerintah Amerika Serikat telah memperingatkan tanggapan global terhadap Suriah jika laporan tentang serangan kimia itu dikonfirmasi.

Namun rezim Syiah Suriah berkelit, menyebut berita tersebut sebagai fabrikasi (buatan, palsu), mengabaikan pembicaraan bahwa tentara Suriah menggunakan gas beracun sebagai “lucu”.

Pasukan pro-rezim Assad dan sekutu mereka pada hari Jumat (6/4/2018) melancarkan serangan udara dan darat yang dahsyat ke Douma, kota terakhir yang dikuasai oposisi Jaish al Islam di Ghouta Timur.

Kantor berita rezim Suriah SANA mengatakan pemboman besar, yang menghancurkan 10 hari tenang, sebagai balasan terhadap penembakan oleh Jaish al-Islam, kelompok bersenjata yang mengendalikan Douma, di daerah pemukiman di Damaskus.

Jaishul Islam Bantah Laporan Telah Sepakat dan Menyerahkan Kota Douma ke Rezim Assad

SANA melaporkan bahwa penembakan oleh Jaish al-Islam itu menewaskan empat orang dan menyebabkan kerusakan material. Jaish al-Islam membantah tuduhan itu.

“Douma mengalami serangan udara yang intens dan banyak wilayah kota hancur,” kata Moayed al-Dayrani, seorang warga Douma dan relawan medis, kepada Al Jazeera, menambahkan bahwa para dokter berjuang untuk menjangkau semua korban.

“Kami saat ini berurusan dengan lebih dari 1.000 kasus orang yang berjuang untuk bernafas setelah bom kaporit dijatuhkan di kota. Jumlah korban tewas mungkin akan sangat jauh meningkat.”

Douma Media Center, sebuah kelompok pro-oposisi, memasang gambar di media sosial orang-orang yang sedang dirawat oleh petugas medis, dan gambar yang tampak seperti mayat, termasuk banyak wanita dan anak-anak.

Rusia Tolak Rancangan Resolusi PBB atas Serangan Senjata Kimia

Petugas penyelamat juga memposting video orang-orang yang menunjukkan gejala yang serupa dengan serangan gas. Beberapa tampak mengeluarkan busa putih di sekitar mulut dan hidung mereka.

Gejala serangan klorin termasuk batuk, dyspnea, iritasi intensif pada selaput lendir dan kesulitan bernafas.

Ahmad Tarakji, presiden Asosiasi Medis Amerika Suriah, mengatakan bahwa “hanya ada beberapa dokter dan staf medis” yang masih “di Douma untuk mengobati begitu banyak korban jiwa.”

Berbicara kepada Al Jazeera dari Fresno, di negara bagian California, AS, Tarakji mengatakan bahwa banyak keluarga di Douma saat ini yang sedang berlindung di ruang bawah tanah untuk melindungi diri mereka sendiri dari bom barel dan penembakan.

“Penggunaan senjata kimia seperti klorin atau produk sejenis, secara de facto gas ini turun mengalir hingga ke ruang bawah tanah dan orang-orang itu … mulai terpapar senjata kimia itu dan itulah mengapa jumlah korban sangat tinggi,” tambahnya.

Perancis akan Intervensi Militer ke Suriah Jika Serangan Senjata Kimia Assad Terbukti

Dalam beberapa tahun terakhir, rezim Syiah Suriah telah dilaporkan menggunakan senjata kimia sebagai alat melawan oposisi bersenjata, laporan tersebut selalu dibantah.

Oposisi di Ghouta Timur berhasil menahan serbuan pasukan rezim Syiah Suriah selama bertahun-tahun dalam peperangan, tetapi pengepungan rezim selama empat tahun terhadap distrik itu telah menyebabkan krisis kemanusiaan akibat kekurangan makanan dan obat-obatan yang parah.

Pekan lalu, dua kelompok oposisi mencapai kesepakatan evakuasi dengan tentara Rusia, yang menghasilkan sekitar 19.000 orang dievakuasi ke provinsi utara Idlib.

Mereka termasuk pejuang dari kelompok oposisi Faylaq al-Rahman dan Ahrar al-Sham, keluarga mereka dan warga lainnya.

Kelompok-kelompok oposisi berpendapat bahwa evakuasi seperti itu sama dengan pemindahan paksa, tetapi akhirnya menyerah setelah berpekan-pekan dibombardir serangan intens oleh rezim dan Rusia.

Hanan Halimah, seorang mantan penduduk Douma, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa lebih dari 100.000 warga sipil masih terperangkap dan tidak mungkin menerima bantuan karena kota itu telah menderita kerusakan yang parah selama serangan rezim terakhir.

WHO: Inilah Serangan Senjata Kimia yang Paling Mengerikan

Info Grafik, Serangan Senjata Kimia Rezim Assad

 

 

Jet Tempur F 16 AS Jatuh di Las Vegas

LAS VEGAS (Jurnalislam.com) – Sebuah jet tempur F-16 Amerika jatuh pada hari Rabu (4/4/2018) di dekat Las Vegas, dan merupakan kecelakaan pesawat militer AS ketiga dalam dua hari.

“Sebuah jet Angkatan Udara F-16 yang ditugaskan ke Pangkalan Angkatan Udara Nellis, Nevada, jatuh sekitar pukul 10.30 pagi selama pelatihan rutin di Nevada Test and Training Range,” kata Angkatan Udara dalam sebuah pernyataan, lansir eurasiadiary.com, Kamis (5/4/2018).

“Kondisi pilot tidak diketahui saat ini,” katanya.

Kecelakaan itu menyusul dua kecelakaan lain sehari sebelumnya.

Di California, helikopter Korps Marinir CH-53E jatuh bersama empat awak kapal.

Pesawat Tempur Rusia jatuh di Suriah, 39 Tentara Tewas Seketika

“Keempatnya diduga mati,” kata the 3rd Marine Aircraft Wing.

Dan di Djibouti, sebuah jet Marine AV-8B Harrier jatuh setelah pilot keluar saat lepas landas.

“Dokter mengatakan pilot itu dalam kondisi stabil,” kata Komando Sentral Angkatan Laut AS.

Kepala Departemen Pertahanan AS James Mattis mengamankan rekor anggaran bulan lalu untuk Pentagon. Kelebihan anggaran tersebut akan memungkinkan investasi yang telah ditahan selama beberapa tahun, termasuk di Angkatan Laut, yang berlebihan di pengeluaran luar negeri, dan Angkatan Udara, yang kekurangan pilot karena pilihan di sektor swasta yang lebih menguntungkan.

Evakuasi Jaisyul Islam dari Ghouta Timur Tertunda, Ini Sebabnya

SURIAH (Jurnalislam.com) – Evakuasi dari kota Douma yang dikuasai oposisi di dekat ibu kota Suriah dihentikan pada hari Kamis (5/4/2018), beberapa hari setelah ratusan pejuang oposisi dan keluarga mereka pergi ke daerah-daerah di utara negara itu sebagai bagian dari kesepakatan penyerahan Ghouta Timur setelah serangan besar-besaran oleh rezim Syiah Nushairiyah Suriah.

Kantor berita rezim, SANA, mengatakan penangguhan itu adalah hasil dari perselisihan di dalam kelompok oposisi Jaisyul Islam sendiri, menambahkan bahwa bus yang memasuki Douma untuk evakuasi pada hari Kamis kembali tanpa penumpang, Middle East Eye melaporkan, Kamis.

Douma adalah kota terakhir yang dipegang oleh oposisi di pinggiran Ghouta timur Damaskus. Kelompok oposisi lainnya setuju untuk pindah ke utara setelah serangan rezim yang didukung Rusia pada Februari dan Maret yang menewaskan ratusan orang dan menyebabkan bencana kehancuran.

Jaishul Islam Bantah Laporan Telah Sepakat dan Menyerahkan Kota Douma ke Rezim Assad

Jaisyul Islam tampaknya telah mencapai kesepakatan dengan Rusia untuk pindah ke bagian utara Suriah yang dikendalikan oleh pasukan oposisi sekutu Turki. Pada hari Rabu, 650 pejuang dan warga sipil yang dikawal oleh Bulan Sabit Merah Suriah meninggalkan Douma dan menuju ke utara menuju kota Jarablus, menurut SANA dan aktivis oposisi.

Jaisyul Islam tidak pernah secara terbuka mengkonfirmasi perjanjian tersebut, dan dikatakan terbagi tentang apakah akan meninggalkan Douma, dengan garis keras yang ingin tinggal dan berjuang.

The Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) yang berbasis di Inggris mengatakan penangguhan itu dipicu oleh tindakan yang diambil oleh pasukan Turki di daerah-daerah tujuan para pejuang oposisi. Dikatakan ada sekitar 14.000 pejuang Jaisyul Islam di Douma dan wilayah Qalamoun timur di dekatnya.

Pada hari Kamis, seorang reporter untuk televisi rezim Syiah Suriah yang berbicara dari daerah di tepi Douma mengatakan tidak ada pejuang Jaisyul Islam yang tersisa sejauh ini, menambahkan bahwa mereka yang berangkat selama tiga hari terakhir adalah anggota kelompok lain.

Jaisyul Islam, yang memiliki akar kuat di pinggiran timur Damaskus, telah bertahan dalam beberapa pekan terakhir karena hampir semua gerilyawan lainnya di Ghouta timur telah mencapai kesepakatan untuk pindah ke wilayah utara yang dikuasai oposisi. Para oposisi mengatakan perjanjian semacam itu menyebabkan pemindahan paksa, dan mereka terpaksa menyerah setelah bertahun-tahun mengalami pengepungan, blokade dan beberapa pekan menderita akibat pengeboman brutal rezim dan Rusia.

SOHR mengatakan Jaisyul Islam sedang mencoba untuk menegosiasikan kesepakatan baru dengan Rusia dan rezim Suriah agar beberapa pejuang dapat menyerahkan senjata mereka dan tetap berada di kota Douma.

Rayakan Hari Passover, Zionis Yahudi dan Pasukan Israel Serbu Masjid Al Aqsha

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Ratusan pemukim illegal Yahudi, dikawal ketat oleh pasukan khusus zionis dengan senjata lengkap, menyerbu kompleks Masjid al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki untuk menandai hari raya Yahudi Passover.

Kantor berita Palestina WAFA melaporkan bahwa sekitar 500 pemukim memasuki Masjid al-Aqsha pada Kamis (5/4/2018) dini hari sebelum melakukan ritual keagamaan Yahudi di dekat Masjid Kubah Batu, lansir Aljazeera.

Firas al-Dib, seorang juru bicara Otoritas Wakaf Keagamaan, mengatakan sedikitnya 491 pemukim dan 13 perwira pasukan khusus “masuk ke kompleks”, sehingga jumlah total pemukim Yahudi yang memasuki situs religius secara ilegal sejak Ahad menjadi 1.731.

Bangunan marmer dan batu kuno – yang dikenal umat Muslim sebagai al-Haram al-Sharif – merupakan rumah bagi Masjid al-Aqsha, situs ketiga tersuci umat Islam, dan Dome of the Rock abad ke-7.

Astaghfirullah, Zionis Akan Rayakan Purim Yahudi di Masjid Al-Aqsha

Kunjungan oleh kelompok-kelompok Yahudi, termasuk politisi, telah memicu kekerasan selama bertahun-tahun, dimana penduduk Palestina khawatir bahwa kelompok garis keras zionis Yahudi mencoba untuk menguasai situs tersebut.

Juga pada hari Kamis, ratusan pemukim Yahudi, dibantu pasukan penjajah Israel, memaksa masuk ke sebuah pemakaman Ulama Islam di kota Nablus Tepi Barat yang diduduki dan mulai menyerang warga Palestina, menurut saksi.

Puluhan pemuda Palestina berkumpul di situs itu untuk memblokir serangan tetapi dengan cepat ditanggapi oleh tentara zionis yang menembakkan gas air mata, peluru karet dan peluru tajam.

Menteri Zionis Desak Bangun Kuil Yahudi Gantikan Masjid Al Aqsha

Yahudi mengklaim situs tersebut adalah tempat pemakaman tokoh alkitabiah Yusuf. Namun warga Palestina membantah dan menantang pernyataan ini, mengatakan bahwa yang dimakamkan di sana adalah seorang pemimpin agama Muslim yang terkenal – Sheikh Youssef Dawiqat.

Makam itu sering menjadi lokasi bentrokan, diserahkan kepada penduduk Palestina pada tahun 2000, tetapi penjajah Israel menuduh massa Palestina menodai makam.

Giliran Mahasiswa Kashmir Hadapi Pasukan Penjajah India

SRINAGAR (Jurnalislam.com) – Bentrokan kekerasan meletus antara mahasiswa yang memprotes dan polisi India di seluruh kota Srinagar di Kashmir yang dikendalikan India.

Pasukan India menembakkan gas air mata ke arah para demonstran pada hari Kamis (5/4/2018) saat memprotes pembunuhan 20 orang, termasuk pejuang separatis dan warga sipil oleh pasukan pemerintah di distrik Shopir Kashmir selatan baru-baru ini,lansir Aljazeera.

Sedikitnya empat warga sipil, 13 pejuang Kashmir dan tiga tentara India tewas dalam bentrokan pada hari Ahad di tiga desa Shopian.

Seorang pejuang juga terbunuh dalam pertempuran senjata singkat di Dialgam, sebuah desa di distrik Anantnag.

Mahasiswa dan mahasiswi Kashmir

Ketika sekolah-sekolah dan perguruan tinggi dibuka kembali pada hari Kamis setelah ditutup sepenuhnya di seluruh kawasan itu, para siswa Bemina Degree College, Amar Singh College dan Women’s College di Srinagar turun ke jalan dan mulai memprotes di luar gedung kampus mereka.

Polisi menggunakan pelet, tabung gas air mata dan granat kejut untuk membubarkan para siswa, yang memprotes dengan melempar batu ke pasukan keamanan dan mengangkat slogan anti-India.

Cedera yang diderita para siswa telah dilaporkan oleh berbagai perguruan tinggi setelah bentrokan sehari tersebut.

Bentrokan Antara Pejuang Muslim Kashmir dengan Pasukan India Berlanjut, 19 Tewas

Sementara itu, inspektur jenderal polisi Kashmir mengatakan kepada kantor berita lokal di Srinagar bahwa dua petugas polisi terluka, tetapi situasi keseluruhan masih tetap terkendali.

Setelah pembunuhan 1 April, ketegangan meningkat pekan ini, dengan demonstrasi besar-besaran di banyak wilayah. Lebih dari tiga lusin orang terluka.

Sebagian besar pejuang yang tewas dalam bentrokan Ahad adalah warga Muslim lokal Kashmir selatan.

Pemimpin separatis Kashmir telah menyerukan penutupan dua hari untuk memprotes pembunuhan di wilayah itu, sebelum memperpanjang seruan penutupan sampai 3 April.

Semua toko, sekolah dan perguruan tinggi masih tetap ditutup pekan ini, sebelum pejabat pemerintah mengumumkan dimulainya kembali kelas pada hari Kamis.

Mujahidin Kashmir Serbu Basis Militer India, Sedikitnya 8 Pasukan Tewas

Kashmir yang mayoritas penduduknya Muslim adalah salah satu daerah yang paling termiliterisasi di dunia dan telah dibagi antara India dan Pakistan sejak merdeka dari Inggris pada tahun 1947.

Baik Pakistan maupun India mengklaim wilayah Himalaya secara penuh dan telah berperang tiga kali di wilayah pegunungan tersebut.

Warga Kashmir menuntut referendum untuk membiarkan mereka memutuskan masa depan.

Puluhan ribu orang, kebanyakan warga sipil, telah tewas sejak 1990.