Responsive image

Rusia dan AS Perang Mulut, Trump: Kami akan Putuskan Segera atas Serangan Beracun

Rusia dan AS Perang Mulut, Trump: Kami akan Putuskan Segera atas Serangan Beracun

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Perang kata-kata pecah antara Moskow dan Washington di tengah rapat mendadak Dewan Keamanan PBB mengenai indikasi serangan bahan kimia di sebuah kota yang dikuasai oposisi Suriah. Seruan agar dunia internasional menanggapi insiden itu meningkat, lansir Aljazeera Senin (9/4/2018).

Tim penyelamat dan petugas medis mengatakan “serangan gas beracun” di Douma pada hari Sabtu (7/4/2018) menewaskan puluhan orang, termasuk puluhan anak-anak dan perempuan. Rezim Syiah Nushairiyah Bashar al-Assad dan sekutunya Rusia menyebut tuduhan itu “palsu”.

Ketika serpihan senjata kimia itu berlanjut pada hari Senin, Presiden AS Donald Trump berjanji untuk segera mengumumkan “keputusan besar” atas serangan itu, sementara timpalannya dari Rusia, Vladimir Putin, memperingatkan bahwa AS melakukan “provokasi”.

Erdogan: Kapan Barat Mau Peduli pada Anak-anak dan Wanita yang Dibantai di Suriah?

Dalam sebuah pernyataan, Kremlin mengatakan Putin telah mengadakan percakapan telepon dengan Kanselir Jerman Angela Merkel, di mana kedua “pemimpin bertukar pendapat tentang situasi di Suriah, termasuk tuduhan bahwa Damaskus menggunakan senjata kimia oleh sejumlah negara Barat.

“Pihak Rusia menekankan tidak bisa menerima provokasi dan spekulasi mengenai masalah ini,” tambah Kremlin.

Trump mengutuk “serangan keji terhadap warga tak berdosa” di Suriah, ketika ia membuka rapat kabinet di Gedung Putih, menambahkan bahwa keputusan akan datang dalam “24-48 jam berikutnya”.

“Ini tentang kemanusiaan; itu tidak boleh dibiarkan terjadi,” katanya.

Setelah Serangan Gas Beracun Assad, Jaishul Islam Beserta Warga Tinggalkan Douma

Sebelumnya, Trump dan Presiden Prancis Emmanuel Macron telah bersumpah akan “meluncurkan balasan serangan yang kuat dan secara bersama-sama”, sementara Jim Mattis, menteri pertahanan AS, mengatakan tidak keraguan lagi untuk tindakan militer.

Pada April tahun lalu, Trump memerintahkan serangan udara menargetkan fasilitas milik rezim pemerintah Suriah setelah serangan kimia di Khan Sheikhoun, sebuah kota yang dikuasai oposisi, yang menewaskan sedikitnya 80 orang.

“Pertanyaannya sekarang adalah apakah presiden akan melakukan reaksi yang sama setelah melihat gambar serupa keluar dari Douma,” kata Kimberly Halkett dari Al Jazeera, melaporkan dari Washington, DC, menambahkan bahwa beberapa pertemuan darurat dengan penasihat militer dan politik berlangsung di dan di sekitar Gedung Putih tentang masalah ini.

Anak-anak jadi korban serangan gas beracun

Pada hari Ahad, Trump memperingatkan Iran dan Rusia bahwa akan ada “harga besar untuk dibayar” karena mendukung “binatang Assad”.

Puluhan Anak Tewas Keracunan, Trump: Pendukung Binatang Assad Harus Bertanggung Jawab

Krisis itu akan dibahas Dewan Keamanan selanjutnya pada hari Senin, dimana AS mengedarkan rancangan resolusi untuk penyelidikan independen baru terhadap serangan senjata kimia di Suriah.

Theresa May, perdana menteri Inggris, mengatakan pada hari Senin bahwa rezim Suriah “dan pendukungnya, termasuk Rusia, harus dimintai pertanggungjawaban” jika dipastikan bertanggung jawab menjatuhkan senjata kimia pada warga Douma.

Tetapi juru bicara Kremlin Dmitry Peskov berusaha menghindar pada hari sebelumnya mengancam bahwa “membuat kesimpulan seperti itu adalah salah dan berbahaya”.

Peskov berkelit dengan mengatakan bahwa bisa saja oposisi yang melancarkan serangan itu untuk melempar kesalahan pada Damaskus, sesuatu yang menurut Rusia bisa terjadi.

“Baik presiden dan kementerian pertahanan, mengutip sumber-sumber intelijen, telah berbicara tentang provokasi yang sedang dipersiapkan,” alasan Peskov.

Bagikan
Close X