Taliban: Serangan Penyusup Tewaskan dan Lukai 4 Pasukan Penyerbu Amerika

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Seorang tentara AS telah tewas dan dua lainnya terluka dalam “serangan orang dalam” di Afghanistan selatan, menurut NATO.

Serangan “green-on-blue“, di mana pasukan Afghanistan menembaki pasukan internasional yang bekerja bersama mereka, merupakan pembunuhan insider pertama dalam hampir satu tahun terakhir.

“Anggota yang terluka, yang dalam kondisi stabil, saat ini sedang dirawat,” misi Resolute Support NATO di Afghanistan mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu (7/7/2018), lansir Aljazeera.

“Insiden ini sedang diselidiki.”

NATO tidak menginformasikan identitas prajurit yang tewas atau memberikan rincian lebih lanjut tentang lokasi kejadian.

Serangan Penyusup Seorang Taliban Bunuh 16 Milisi Bentukan AS

Seorang perwira polisi setempat mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa penembakan itu terjadi di bandara di Tarinkot, ibukota provinsi Uruzgan.

Di Twitter, Taliban juga memberi informasi bahwa lokasinya adalah Uruzgan.

“Seorang prajurit patriot Afghanistan menembaki serdadu Amerika di bandara Uruzgan menewaskan dan melukai sedikitnya empat penyerbu Amerika,” kata Taliban.

Saat ini, ada sekitar 14.000 pasukan AS di Afghanistan, sebagai komponen utama dari misi NATO di sana untuk mendukung dan melatih pasukan lokal.

Beberapa pasukan AS terlibat dalam operasi kontraterorisme, khususnya terhadap sisa-sisa kelompok Islamic State (IS).

Serangan “green-on-blue” terakhir terjadi pada bulan Agustus 2017 ketika seorang tentara NATO Rumania tewas.

Pasukan Penyusup Taliban Bunuh 4 Serdadu AS di Nangarhar

Lebih dari setahun yang lalu, tiga tentara AS tewas oleh seorang tentara Afghanistan di provinsi Nangarhar.

Insiden terbaru terjadi ketika Letnan Jenderal Scott Miller ditetapkan untuk menjadi komandan pasukan AS dan NATO berikutnya di Afghanistan.

Dia akan mengambil alih posisi tersebut dari Jenderal John Nicholson, yang keluar dari jabatannya setelah penempatan dua tahun.

Penempatan Miller ke Afghanistan, yang akan membuatnya dipromosikan menjadi jenderal bintang empat, terjadi pada saat pasukan pertahanan lokal masih berjuang untuk membendung Taliban yang bangkit kembali.

IS juga mempertahankan pijakan timur dan utara meskipun serangan pemboman udara yang intensif oleh pasukan Afghanistan dan AS.

Warga sipil Afghanistan semakin menjadi target sasaran selama periode pertempuran yang luar biasa pada musim dingin lalu.

Sebuah laporan Departemen Pertahanan AS yang dirilis awal bulan ini menemukan korban sipil telah meningkat 73 persen antara Desember dan Mei dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dokumen itu juga menemukan peningkatan 14 persen dalam jumlah personil tentara Afghanistan yang tewas atau terluka ketika melakukan patroli lokal dan selama operasi pos pemeriksaan.

Pengawas Senjata Kimia Dunia: Assad Gunakan Senjata Kimia di Douma

DEN HAAG (Jurnalislam.com) – Pengawas senjata kimia internasional mengatakan pada hari Jumat (6/7/2018) bahwa rezim Nushairiyah Assad menggunakan gas klorin di Douma Suriah.

Misi pencarian fakta (FFM) dari Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (the Organization for the Prohibition of Chemical Weapons-OPCW) mengeluarkan laporan sementara tentang penyelidikannya di wilayah tersebut, yang diserang oleh rezim Suriah pada bulan April hingga menewaskan 78 warga sipil.

“Selain residu eksplosif, juga ditemukan berbagai bahan kimia organik yang diklorinasi dalam sampel dari dua situs,” kata organisasi itu dalam sebuah pernyataan.

Tim Penyelidik Senjata Kimia Dunia Berhasil Ambil Sampel di Douma

Ia menambahkan bahwa tidak ada “zat saraf atau produk degradasi mereka” yang ditemukan.

“Tim FFM akan melanjutkan pekerjaannya untuk menarik kesimpulan akhir.”

Organisasi tersebut mencatat bahwa kegiatan tim di Douma termasuk “kunjungan di tempat untuk mengumpulkan sampel lingkungan, wawancara dengan saksi, [dan] pengumpulan data”.

Ia juga mengatakan bahwa laporan itu dibagikan kepada penandatangan Konvensi Senjata Kimia dan Dewan Keamanan PBB.

Setelah Serangan Koalisi Amerika di Douma, Rusia akan Kirim Pertahanan Udara Canggih

Remaja Muslimah Diserang Hingga Terluka dan Telanjang, Umat Islam Belgia Kecam Keras

BRUSSELS (Jurnalislam.com) – Kaum Muslim Belgia pada hari Jumat (6/7/2018) mengecam keras serangan Islamophobia baru-baru ini di negara itu.

Dalam pernyataan bersama, Badan Eksekutif Muslim Belgia (the Belgian Muslim Executive Body-EMB) dan Pusat Islamique Belge (the Centre Islamique Belge-CIB) mengatakan seorang gadis Muslim berusia 19 tahun menjadi sasaran di kota Charleroi, Belgia, karena agamanya.

Mereka mengatakan “serangan tercela” tersebut tidak hanya menargetkan Islam, tetapi nilai-nilai dasar dari semua masyarakat Belgia dan kebebasan beragama.

“Kekerasan tidak boleh ditanggapi dengan kekerasan,” kata pernyataan itu, seraya menambahkan bahwa mereka percaya bahwa polisi dan pengadilan akan mengambil tindakan yang diperlukan terkait insiden itu.

Remaja Muslimah Belgia Dirobek Bajunya dalam Serangan Islamophobia

Pada Senin malam, dua penyerang menyerang seorang remaja Muslim di kota Anderlues, dilaporkan merobek pakaiannya, meninggalkannya dengan bekas luka akibat benda tajam di dada, kaki, dan perutnya hingga bagian atas telanjang .

Pada hari Rabu, jurubicara Inter-federal Centre for Equal Opportunities (UNIA) Bram Sebrechts mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa menurut pendapatnya serangan itu dimotivasi oleh Islamophobia.

Namun, Kantor Kejaksaan Charleroi akan membuat keputusan tentang sifat serangan itu, kata Sebrechts.

Anggota parlemen Belgia yang berasal dari Turki, Mahinur Ozdemir mengatakan, wanita muda itu keluar pada malam hari untuk mencari kucingnya ketika dia diserang.

Ozdemir mengatakan korban bisa saja dibunuh.

“Jika langkah-langkah tidak diambil, akan mustahil untuk mencegah serangan seperti itu,” katanya.

Uni Eropa akhir-akhir ini menyaksikan meningkatnya Islamophobia dan kebencian terhadap para migran dalam beberapa tahun terakhir yang dipicu oleh propaganda dari partai-partai sayap kanan dan populis, yang telah mengeksploitasi ketakutan atas krisis pengungsi dan terorisme.

1 Warga Palestina Gugur dan 396 Terluka oleh Serangan Pasukan Zionis

GAZA (Jurnalislam.com) – Pasukan penjajah Israel membunuh seorang pengunjuk rasa Palestina pada hari Jumat (6/7/2018) di tengah-tengah agitasi selama beberapa bulan terhadap pendudukan tanah Palestina, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.

Ashraf al-Qidra, seorang juru bicara kementerian, mengatakan selama demonstrasi di As-Sadr, timur Jalur Gaza, Mohammed Jamal Abu Halima, 22 tahun, menjadi martir oleh peluru zionis.

396 warga Palestina lainnya juga terluka oleh peluru tajam Israel dan tabung gas.

Ribuan Wanita Palestina Unjuk Rasa, 134 Terluka Ditembak Pasukan Israel

Sebuah pernyataan tertulis yang dikeluarkan oleh Angkatan Darat Israel mengatakan para prajurit merespon orang-orang Palestina yang mencoba menyeberangi pagar dengan tembakan artileri dan tembakan senjata berat, lansir Anadolu Agency.

Sejak unjuk rasa dimulai pada 30 Maret, 137 demonstran Palestina telah menjadi martir – dan ribuan lainnya terluka – oleh tembakan tentara penjajah Israel.

Para pengunjuk rasa menuntut “hak untuk kembali” ke rumah dan desa mereka di Palestina yang bersejarah sejak mereka diusir pada tahun 1948 untuk memberi jalan bagi negara baru Israel.

Mereka juga menuntut diakhirinya blokade Jalur Gaza yang sudah berlangsung satu dasawarsa, yang telah menghancurkan perekonomian kantong pesisir dan merampas banyak komoditas pokok bagi 2 juta penduduknya.

PM Zionis Netanyahu Intruksikan Parlemen Israel Masuki Masjid Al Aqsha 3 Bukan Sekali

Pejuang Suriah Akhirnya Sepakati Gencatan Senjata Bersyarat di Daraa dengan Rusia

SURIAH (Jurnalislam.com) – Saat matahari terbenam pada hari Jumat (6/7/2018), sebuah konvoi besar kendaraan lapis baja dan tank berbendera Rusia dan Suriah berjalan menuju persimpangan perbatasan Nassib-Jaber yang menghadap ke Yordania.

Pergerakan kendaraan menunjukkan bahwa kawasan strategis penting, yang selama bertahun-tahun dikuasai oleh oposisi anti Assad, sekarang di bawah kendali pasukan pro rezim Suriah.

Beberapa jam sebelumnya, para pejuang oposisi yang memerangi serangan rezim Nushairiyah di provinsi Deraa Suriah selatan telah mencapai kesepakatan dengan para perunding dari Rusia, sekutu besar rezim Suriah Bashar al-Assad.

Petugas Medis: Rezim Assad Gunakan Semua Jenis Senjata di Daraa

Berdasarkan kesepakatan itu, pihak oposisi setuju untuk menyerahkan senjata berat mereka. Sebagai gantinya, tentara Suriah setuju untuk meninggalkan empat desa – Kahil, al-Sahwa, al-Jiza, al-Misaifra – di timur Deraa, sumber mengatakan kepada Al Jazeera.

Pejuang yang menentang kesepakatan itu akan diberikan jalur aman ke daerah yang dikuasai oposisi di Suriah utara. Sehingga, pejuang Tentara Pembebasan Suriah (Free Syria Army-FSA) dan keluarga mereka diharapkan untuk pergi ke provinsi utara Idlib dan ke daerah kecil di bawah kendali oposisi dekat Dataran Tinggi Golan. Rincian bagian ini diharapkan akan dibahas dalam beberapa pekan mendatang.

Berdasarkan perjanjian itu, pasukan Suriah tidak akan diizinkan untuk tetap berada di wilayah yang diambil kembali oleh rezim, sumber mengatakan kepada Al Jazeera.

Sebaliknya, polisi militer Rusia akan dikerahkan di sepanjang perbatasan dengan Yordania, mengamankan kota-kota dan desa-desa yang tercakup oleh kesepakatan itu. Persimpangan Nassib yang secara strategis penting akan berada di bawah manajemen pegawai sipil rezim Suriah dan polisi militer Rusia.

Kehadiran polisi militer Rusia adalah kunci untuk perjanjian dan jaminan yang diberikan kepada oposisi dan warga sipil.

Ini juga merupakan salah satu konsesi utama yang diperoleh Yordania, yang khawatir bahwa milisi Syiah Internasional yang bertempur bersama pasukan rezim Syiah Assad akan menguasai daerah itu di perbatasan utara.

Konsesi ini akan memungkinkan puluhan ribu pengungsi Suriah di sepanjang perbatasan Yordania untuk kembali ke rumah mereka karena banyak yang ketakutan menjadi sasaran pasukan rezim.

Menurut badan pengungsi PBB, UNHCR, 60.000 dari lebih dari 320.000 orang yang melarikan diri dari pertempuran sengit sejak 19 Juni telah ditempatkan di sepanjang perbatasan dengan Yordania. Sisanya mencari perlindungan di perbatasan dengan dataran Golan yang diduduki Israel.

Pengungsi Warga Daraa Meningkat Hingga 320.000, Rusia Lanjutkan Negosiasi Hari Ini

Tidak ada komentar langsung dari rezim Assad dan para pendukungnya di Rusia. Namun mengambil alih penyeberangan Nasib adalah kemenangan besar bagi rezim Suriah, yang pada akhirnya ingin membuka kembali perbatasan sebagai rute perdagangan yang signifikan.

Hal ini juga berpotensi memungkinkan tentara Suriah untuk mendorong lebih jauh ke selatan melalui daerah di sebelah timur kota Deraa, di mana wilayah oposisi menyempit ke koridor tipis di sepanjang perbatasan Yordania. Ini akan membagi wilayah menjadi dua.

Kesepakatan Jumat itu terjadi sehari setelah Jordania, yang menampung lebih dari 1,4 juta pengungsi Suriah dan telah menutup perbatasan utaranya, mengatakan pihaknya berhasil meyakinkan oposisi Suriah dan Rusia untuk bertemu lagi.

Tapi pengumuman itu hanya muncul setelah sebelumnya rezim maju menuju penyeberangan perbatasan Nassib, sumber di lapangan mengatakan.

Mengomentari negosiasi, Jumana Ghunaimat, juru bicara rezim Yordania, mengatakan kepada Al Jazeera: “Solusi di Suriah adalah politik, bukan militer. Perang dan lebih banyak pertempuran tidak akan menghentikan perjuangan rakyat Suriah.”

Ghunaimat menambahkan: “Kita harus menghentikan perang, dan itulah tujuan utama negosiasi yang kita mediasi.”

Menurut oposisi, Moskow sebelumnya menolak tuntutan mereka untuk menyerahkan senjata berat mereka secara bertahap dan menyediakan jalur aman bagi para oposisi dan warga sipil yang tidak ingin hidup di bawah kekuasaan rezim untuk menuju wilayah oposisi di tempat lain.

Pengungsi Warga Daraa Meningkat Hingga 320.000, Rusia Lanjutkan Negosiasi Hari Ini

DARAA (Jurnalislam.com) – Setelah hari-hari negosiasi gagal dimediasi oleh Yordania, yang telah berulang kali menyerukan gencatan senjata segera, faksi oposisi dan Rusia diperkirakan akan melanjutkan pembicaraan pada hari Jumat (6/7/2018).

Sekitar 320.000 orang telah mengungsi sejak serangan dimulai bulan lalu.

Sementara 60.000 orang lainnya terjebak di perbatasan Nassib-Jaber yang menghadap ke Yordania, ribuan lainnya kini berada di sepanjang perbatasan barat dengan Dataran Tinggi Golan yang dijajahi Israel.

Namun baik Yordania dan Israel mengatakan mereka tidak akan menerima pengungsi ke negara mereka.

Petugas Medis: Rezim Assad Gunakan Semua Jenis Senjata di Daraa

Mohammed Khalil dan keluarganya meninggalkan Nassib menuju area perbatasan 10 hari yang lalu.

Ayah dari dua orang, yang mengungsi dua kali sebelumnya dalam beberapa hari terakhir, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ribuan orang di dekat perbatasan mencoba untuk bertahan di bawah teriknya sinar matahari, tanpa akses ke pasokan dasar.

PBB mendesak Yordania untuk menerima beberapa pengungsi dari Deraa Suriah

“Siapa pun di sini yang memiliki tenda dianggap beruntung,” katanya dari daerah yang memisahkan penyeberangan perbatasan kedua negara.

Menurut dia, beberapa kematian terjadi karena infeksi dari gigitan ular, yang banyak berkeliaran di daerah padang pasir terbuka. Tanpa akses ke peralatan medis dan antibiotik yang memadai, banyak dari korban jiwa ini tidak dapat diselamatkan.

Gencatan Senjata di Daraa Gagal, Ini Penyebabnya

Khalil mengatakan dia juga menyaksikan beberapa kematian yang diakibatkan oleh konsumsi air yang tercemar.

“Tak satu pun dari badan bantuan internasional hadir di sini,” katanya tentang daerah yang sebagian besar ‘tidak dilengkapi dengan peralatan memadai’.

Meskipun beberapa bantuan yang diberikan oleh warga Yordania telah tiba pada hari Rabu, Khalil mengatakan bantuan tersebut hampir tidak cukup untuk puluhan ribu orang – kebanyakan wanita dan anak-anak – saat ini di daerah perbatasan.

Khalil, 23, berharap untuk kembali ke Nassib dalam waktu dekat.

“Kami tidak menginginkan apa pun,” katanya. “Yang kami minta adalah rasa keamanan dan stabilitas yang langgeng.”

Petugas Medis: Rezim Assad Gunakan Semua Jenis Senjata di Daraa

SURIAH (Jurnalislam.com) – Ribuan warga Suriah dari sejumlah kota yang dikuasai oposisi di sisi timur Deraa telah pergi ke daerah yang menghadap perbatasan Yordania, ketika pasukan rezim Syiah Bashar al-Assad dan sekutu-sekutunya menekan dengan serangan mereka untuk menguasai Suriah barat daya.

Banyak keluarga yang mengungsi pada hari Kamis (5/7/2018) disebabkan gencarnya serangkaian serangan udara “menghancurkan kota” yang dilancarkan intensif dan secara spesifik menargetkan kota Deraa, dan daerah sekitarnya termasuk kota Nassib, Om Elmiathin, Saida, al-Shayah dan Tafas, aktivis dan petugas medis mengatakan kepada Al Jazeera.

“Pemboman tersebut tidak menyelamatkan siapa pun. Mereka [pasukan rezim] tidak membedakan antara warga sipil dan personil militer, atau antara rumah, masjid dan rumah sakit,” Amer Abazeid, juru bicara Pertahanan Sipil Suriah yang dikenal sebagai White Helmets, mengatakan kepada Al Jazeera dari kota Deraa.

“Pasukan rezim saat ini menggunakan semua jenis senjata terhadap desa-desa tersebut, termasuk bom barel dan rudal surface-to-surface,” katanya.

Rezim Assad Gelar Serangan Besar pada Zona Gencatan Senjata Barat Daya Suriah

Sedikitnya enam warga sipil tewas dalam serangan Kamis, yang dimulai setelah jeda singkat hasil negosiasi antara faksi oposisi dan Rusia rusak.

Pada 19 Juni, pasukan Nushairiyah Assad, bersama dengan bantuan militer Rusia, memulai serangan mereka di Deraa dan provinsi Quneitra yang berdekatan.

Tim pertahanan sipil di Deraa mengatakan mereka masih bekerja untuk menghitung lebih banyak korban, Abazeid mencatat.

“Sudah semakin sulit untuk melakukannya tanpa akses ke titik medis,” jelasnya.

Bulan lalu, angkatan udara Suriah menargetkan sedikitnya enam rumah sakit dan titik-titik medis di seluruh Deraa, sehingga menantang petugas medis untuk merawat dan menghitung warga sipil, dan mereka yang kehilangan nyawa.

Sudah 198.000 Warga Tinggalkan Daraa, Hindari Serangan Brutal Assad

Serangan udara yang diluncurkan oleh pasukan Syiah Assad diperkirakan telah menewaskan lebih dari 175 orang sejauh ini.

PBB mengatakan kehidupan lebih dari 750.000 warga sipil berada dalam bahaya akibat pertempuran yang sedang berlangsung antara pasukan pemerintah dan oposisi. Oposisi sekarang kebanyakan terletak di kota-kota di front timur, dekat dengan daerah perbatasan.

Kareem al-Aswad, seorang aktivis di kota Deraa, mengatakan pemboman Kamis telah menyebabkan keluarga mengungsi dan berkumpul di daerah yang berjarak kurang dari 1 kilometer dari perbatasan Yordania.

Artileri Assad Hantam Yordania, Menlu Ayman: Pasukan Kami Siap Bela Negara

“Serangan udara menargetkan ruang terbuka di kota-kota yang terletak di sepanjang garis yang berdekatan dengan daerah perbatasan,” al-Aswad mengatakan kepada Al Jazeera dari pinggiran kota Deraa.

“Ruang-ruang ini tidak kosong … Mereka adalah kamp pengungsi,” katanya.

“Mereka dalam sepuluh hari terakhir menjadi tempat berlindung bagi orang-orang terlantar yang melarikan diri dari berbagai bagian Deraa,” al-Aswad menambahkan, menggambarkan suara bom tersebut seperti “menghancurkan daratan.”

Lelaki berusia 23 tahun itu mengatakan banyak dari anggota keluarganya termasuk di antara mereka yang memilih untuk pergi, tetapi beberapa memilih untuk tetap berharap bahwa negosiasi akan berakhir dengan baik kali ini.

Mulai Hari Ini Amerika Lancarkan Perang Dagang terhadap China

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Pemerintahan Presiden Donald Trump diperkirakan mulai menerapkan tarif untuk China pada hari Jumat (6/7/2018) yang secara resmi akan memulai perang dagang, menurut laporan media AS, lansir Anadolu Agency.

Tarif senilai $ 34 miliar untuk barang-barang China akan berlaku pada pukul 12:01 pagi waktu EST (0400GMT), sementara $ 16 miliar dijadwalkan untuk kemudian hari.

Gedung Putih pada awalnya mengumumkan pada bulan April bahwa mereka berencana untuk menampar Cina dengan tarif $ 50 milyar, dan menambahkan pada bulan Juni mereka dapat “mencakup teknologi industri yang signifikan.”

Begini Kata Ahli Ekonomi Dunia Terkait Dampak Perang Dagang China-AS

Tarif baru diberlakukan “mengingat pencurian properti intelektual dan teknologi China dan praktik perdagangan tidak adil lainnya,” kata Gedung Putih dalam sebuah pernyataan pada 15 Juni.

Sebagai tanggapan, Beijing diperkirakan akan segera memberlakukan tarif pembalasan terhadap AS, yang dapat meningkatkan perang perdagangan antara dua ekonomi terbesar di dunia dan memiliki efek spillover di wilayah lain.

Setelah administrasi Trump mengumumkan memberlakukan tarif 25 persen pada baja dan 10 persen pada impor aluminium pada Maret, China mengatakan akan memberlakukan tarif $ 3 milyar antara 15 hingga 25 persen pada 128 barang Amerika.

Kapal Perang AS Provokasi Teritorial Perairan China

Setelah rencana Washington untuk memberlakukan tarif 25 persen pada 1.300 barang-barang China yang bernilai $ 50 miliar pada bulan April, Beijing segera mengatakan akan menempatkan tarif 25 persen pada 106 barang Amerika senilai $ 50 miliar.

Defisit perdagangan AS dengan China adalah $ 347 miliar pada tahun 2016.

Gelombang Panas Hantam Kanada, 21 Orang Tewas

KANADA (Jurnalislam.com) – Gelombang panas yang terburuk dalam beberapa dekade telah menewaskan 21 nyawa di Kanada diperkirakan akibat suhu panas dan kabut asap pada hari Kamis (5/7/2018).

Provinsi Quebec dilanda suhu tinggi temperatur 86 F plus (30 C) mulai 29 Juni dengan tingkat humidex yang menyertainya antara 104 F – 113 F (40 C -45 C), lansir World Bulletin.

Daerah yang paling terkena dampak berada di wilayah Montreal dan petugas pemadam kebakaran dan polisi di sana telah mengetuk 15.000 pintu dalam sepekan terakhir untuk memeriksa kesejahteraan warga.

Korban yang menyerah pada panas berusia antara 50 dan 80 tahun dan tidak memiliki AC di tempat tinggal mereka serta tinggal sendirian di apartemen, kata para pejabat.

Korban Tewas Gelombang Panas Pakistan Mencapai 1.400 Orang

Selain itu, sebagian besar masalah kesehatan diperparah oleh kualitas udara yang buruk yang merupakan produk sampingan dari panas dan kelembaban yang sangat tinggi, kata Otoritas Kesehatan Regional Dr. Mylene Drouin.

“Untuk saat ini, (kematian) mereka sesuai dengan karakteristik yang kami jelaskan – orang dengan penyakit kronis, masalah kesehatan mental, orang yang tinggal sendirian, orang yang tinggal di blok apartemen antara empat hingga enam lantai dan tanpa AC.”

Walikota Montreal Valerie Plante mengatakan warga perlu memeriksa tetangga yang rentan bersama dengan polisi dan petugas pemadam kebakaran.

“Jika Anda mengenal orang-orang dengan masalah pernapasan atau orang-orang yang sudah lanjut usia, jangan ragu untuk mengunjungi mereka atau menelepon mereka untuk menanyakan apakah mereka memerlukan sesuatu,” katanya pada pertemuan komite.

Iran Dihantam Gelombang Panas 72 Derajat Celcius

Lingkungan Kanada mengeluarkan peringatan bahwa kabut asap sebagai “konsentrasi polutan yang tinggi diperkirakan akan bertahan sepanjang malam.”

Panas diperkirakan akan menghilang tepat pada hari Jumat dengan suhu 77 F (25 C), normal untuk sepanjang tahun ini.

Turki Kutuk Keras Tindakan Zionis Yahudi Hancurkan Rumah Warga Badui Palestina

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Turki pada hari Kamis (5/7/2018) “sangat” mengutuk pembongkaran tentara penjajah Israel terhadap rumah-rumah orang Badui Palestina di Abu Nuwar.

Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri juga mengutuk “awal persiapan untuk menghancurkan di wilayah Badui Khan Al-Ahmar di wilayah Palestina yang dijajah.”

“Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh otoritas Israel dengan kekebalan hukum mengancam perspektif Negara Palestina yang berdekatan dan independen,” katanya, lansir Anadolu Agency.

Pemukiman Ilegal Yahudi Israel Usir Warga Muslim Yerusalem Secara Sistematis

Kementerian itu mendesak Israel untuk mengakhiri “kegiatan ilegalnya yang memperburuk ketegangan di kawasan itu dan merusak visi solusi dua negara.”

Di bawah perjanjian Oslo 1995 antara Israel dan Palestina, Tepi Barat dibagi menjadi wilayah A, B dan C. Otoritas administratif dan keamanan wilayah A diberikan kepada Palestina sementara administrasi daerah B diberikan kepada Palestina tetapi keamanan di tangan Israel, sementara di daerah C, baik pemerintah maupun otoritas keamanan, berada di Israel.

Komunitas Abu Nuwar Badui yang berjumlah 700 orang, yang berada di daerah C, menolak meninggalkan desa mereka meskipun otoritas Israel terus menerus mengancam dan menekan mereka.

Tujuh Bank Terbesar Danai Pemukiman Ilegal Israel di Palestina