Pengungsi Warga Daraa Meningkat Hingga 320.000, Rusia Lanjutkan Negosiasi Hari Ini

Pengungsi Warga Daraa Meningkat Hingga 320.000, Rusia Lanjutkan Negosiasi Hari Ini

DARAA (Jurnalislam.com) – Setelah hari-hari negosiasi gagal dimediasi oleh Yordania, yang telah berulang kali menyerukan gencatan senjata segera, faksi oposisi dan Rusia diperkirakan akan melanjutkan pembicaraan pada hari Jumat (6/7/2018).

Sekitar 320.000 orang telah mengungsi sejak serangan dimulai bulan lalu.

Sementara 60.000 orang lainnya terjebak di perbatasan Nassib-Jaber yang menghadap ke Yordania, ribuan lainnya kini berada di sepanjang perbatasan barat dengan Dataran Tinggi Golan yang dijajahi Israel.

Namun baik Yordania dan Israel mengatakan mereka tidak akan menerima pengungsi ke negara mereka.

Petugas Medis: Rezim Assad Gunakan Semua Jenis Senjata di Daraa

Mohammed Khalil dan keluarganya meninggalkan Nassib menuju area perbatasan 10 hari yang lalu.

Ayah dari dua orang, yang mengungsi dua kali sebelumnya dalam beberapa hari terakhir, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ribuan orang di dekat perbatasan mencoba untuk bertahan di bawah teriknya sinar matahari, tanpa akses ke pasokan dasar.

PBB mendesak Yordania untuk menerima beberapa pengungsi dari Deraa Suriah

“Siapa pun di sini yang memiliki tenda dianggap beruntung,” katanya dari daerah yang memisahkan penyeberangan perbatasan kedua negara.

Menurut dia, beberapa kematian terjadi karena infeksi dari gigitan ular, yang banyak berkeliaran di daerah padang pasir terbuka. Tanpa akses ke peralatan medis dan antibiotik yang memadai, banyak dari korban jiwa ini tidak dapat diselamatkan.

Gencatan Senjata di Daraa Gagal, Ini Penyebabnya

Khalil mengatakan dia juga menyaksikan beberapa kematian yang diakibatkan oleh konsumsi air yang tercemar.

“Tak satu pun dari badan bantuan internasional hadir di sini,” katanya tentang daerah yang sebagian besar ‘tidak dilengkapi dengan peralatan memadai’.

Meskipun beberapa bantuan yang diberikan oleh warga Yordania telah tiba pada hari Rabu, Khalil mengatakan bantuan tersebut hampir tidak cukup untuk puluhan ribu orang – kebanyakan wanita dan anak-anak – saat ini di daerah perbatasan.

Khalil, 23, berharap untuk kembali ke Nassib dalam waktu dekat.

“Kami tidak menginginkan apa pun,” katanya. “Yang kami minta adalah rasa keamanan dan stabilitas yang langgeng.”

Bagikan
Close X