Remaja Muslimah Diserang Hingga Terluka dan Telanjang, Umat Islam Belgia Kecam Keras

Remaja Muslimah Diserang Hingga Terluka dan Telanjang, Umat Islam Belgia Kecam Keras

BRUSSELS (Jurnalislam.com) – Kaum Muslim Belgia pada hari Jumat (6/7/2018) mengecam keras serangan Islamophobia baru-baru ini di negara itu.

Dalam pernyataan bersama, Badan Eksekutif Muslim Belgia (the Belgian Muslim Executive Body-EMB) dan Pusat Islamique Belge (the Centre Islamique Belge-CIB) mengatakan seorang gadis Muslim berusia 19 tahun menjadi sasaran di kota Charleroi, Belgia, karena agamanya.

Mereka mengatakan “serangan tercela” tersebut tidak hanya menargetkan Islam, tetapi nilai-nilai dasar dari semua masyarakat Belgia dan kebebasan beragama.

“Kekerasan tidak boleh ditanggapi dengan kekerasan,” kata pernyataan itu, seraya menambahkan bahwa mereka percaya bahwa polisi dan pengadilan akan mengambil tindakan yang diperlukan terkait insiden itu.

Remaja Muslimah Belgia Dirobek Bajunya dalam Serangan Islamophobia

Pada Senin malam, dua penyerang menyerang seorang remaja Muslim di kota Anderlues, dilaporkan merobek pakaiannya, meninggalkannya dengan bekas luka akibat benda tajam di dada, kaki, dan perutnya hingga bagian atas telanjang .

Pada hari Rabu, jurubicara Inter-federal Centre for Equal Opportunities (UNIA) Bram Sebrechts mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa menurut pendapatnya serangan itu dimotivasi oleh Islamophobia.

Namun, Kantor Kejaksaan Charleroi akan membuat keputusan tentang sifat serangan itu, kata Sebrechts.

Anggota parlemen Belgia yang berasal dari Turki, Mahinur Ozdemir mengatakan, wanita muda itu keluar pada malam hari untuk mencari kucingnya ketika dia diserang.

Ozdemir mengatakan korban bisa saja dibunuh.

“Jika langkah-langkah tidak diambil, akan mustahil untuk mencegah serangan seperti itu,” katanya.

Uni Eropa akhir-akhir ini menyaksikan meningkatnya Islamophobia dan kebencian terhadap para migran dalam beberapa tahun terakhir yang dipicu oleh propaganda dari partai-partai sayap kanan dan populis, yang telah mengeksploitasi ketakutan atas krisis pengungsi dan terorisme.

Bagikan