Myanmar Dirikan Pangkalan Militer di Desa Terjadinya Pembantaian

MYANMAR (Jurnalislam.com) – Myanmar membangun pangkalan militer di desa Rohingya yang mereka bakar kini telah diratakan, kata sebuah kelompok hak asasi internasional.

Militer membuldozer rumah dan mulai membangun sedikitnya tiga fasilitas baru di negara bagian Rakhine, Myanmar barat, menurut laporan Remaking Rakhine State oleh Amnesty International, yang diterbitkan pada hari Senin (12/03/2018).

Laporan tersebut mengatakan bahwa pembangunan tiga pos militer itu dimulai pada bulan Januari, berdasarkan pada citra satelit dan pernyataan saksi dari pengungsi Rohingya.

Pemerintah Myanmar Hilangkan Bukti Kejahatannya dengan Ratakan 55 Desa Rohingya

“Apa yang kita lihat di negara bagian Rakhine adalah perampasan tanah oleh militer dalam skala dramatis. Pangkalan baru didirikan untuk menampung pasukan yang sama yang telah melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap Muslim Rohingya,” Tirana Hassan, direktur respons krisis Amnesty, mengatakan, lansir Aljazeera.

“Pembangunan baru ini memperkokoh diskriminasi tidak manusiawi yang terjadi di Myanmar.”

Pemerintah Myanmar Hanya Hukum 10 Aparat atas Pembantaian Muslim Rohingya

Hampir 700.000 warga Muslim Rohingya telah meninggalkan Myanmar sejak Agustus lalu sebagai akibat tindakan brutal pasukan pemerintah yang diluncurkan setelah serangan balasan terhadap pos-pos militer Myanmar oleh pejuang Muslim, Arakan Rohingya Solidarity Army (ARSA).

Saksi mata mengatakan kepada Amnesty bahwa warga Muslim Rohingya di kota Buthidaung telah diusir secara paksa dari rumah mereka demi kepentingan perkembangan pembangunan pangkalan baru ini.

PBB Kecam Pembakaran Masjid, Rumah dan Toko Muslim di Sri Langka

SRI LANGKA (Jurnalislam.com) – PBB pada hari Ahad (11/3/2018) mengutuk serangkaian serangan anti-Muslim di Sri Lanka termasuk pembakaran masjid dan tempat usaha kaum Muslim.

Wakil Sekretaris Jenderal Urusan Politik Jeffrey Feltman mengatakan kepada pemerintah Sri Lanka bahwa orang-orang di balik kekerasan harus dibawa ke pengadilan.

Selama kunjungannya Feltman “mengutuk kerusakan hukum dan ketertiban dan serangan terhadap umat Islam dan harta benda mereka,” sebuah pernyataan PBB mengatakan.

Feltman, yang bertemu dengan para pemimpin Muslim setempat untuk menunjukkan solidaritas, “mendesak pelaksanaan komitmen pemerintah yang cepat dan penuh untuk membawa pelaku kekerasan dan perkataan kebencian ke pengadilan, untuk mengambil tindakan demi mencegahnya terjadi lagi, dan untuk menerapkan peraturan yang tidak diskriminatif terhadap hukum”.

Serangan kekerasan terhadap umat Islam menyapu distrik pusat Kandy selama sepekan terakhir.

Redam Kerusuhan di Negara Mayoritas Buddha, Ratusan Biksu Lawan Gerakan Anti Muslim

Kekerasan tersebut, yang dipicu oleh kematian seorang anggota Buddha Sinhala setelah perkelahian oleh sekelompok pria Muslim karena perselisihan lalu lintas, menyebabkan sedikitnya dua orang tewas dan masjid, puluhan rumah, dan took-toko dibakar atau dimusnahkan.

Puluhan orang terluka dalam kerusuhan tersebut.

Pihak berwenang menyatakan keadaan darurat dan memberlakukan jam malam untuk mengurangi kekerasan tersebut, namun Muslim Sri Lanka mengatakan kepada Al Jazeera bahwa mereka khawatir serangan tersebut akan berlanjut.

Polisi telah menangkap tersangka penghasut kerusuhan tersebut.

Kerusuhan Sri Langka: Kaum Muslim di Kandy Takut Warga Buddha Serang saat Shalat Jumat

Pada hari Sabtu, Presiden Maithripala Sirisena mengumumkan panel tiga anggota akan ditunjuk untuk menyelidiki dan mencabut jam malam. Namun, tentara tetap di jalanan.

Kekerasan tersebut telah menimbulkan kekhawatiran timbulnya ketidakstabilan di Sri Lanka, sebuah negara kepulauan Asia Selatan yang masih berjuang untuk pulih dari perang saudara etnis hampir tiga dekade.

Erdogan: Hai NATO, Kapan Anda Datang ke Suriah dan Berada di Pihak Kita?

ANKARA (Jurnalislam.com) – Erdogan pada hari Ahad (11/3/2018) mengatakan bahwa tentara Turki dan sekutu oposisi Suriah sekarang hanya barada empat sampai lima kilometer dari Afrin.

Presiden Turki mengatakan sejauh ini 950 kilometer persegi distrik tersebut telah dikuasai saat serangan militer. Operasi itu bukan untuk “menduduki” tapi “membebaskan”, katanya, lalu menyerahkannya kepada warga.

“Di wilayah Afrin, pemilik tanah sudah mulai kembali,” kata Erdogan, lansir Aljazeera.

Dalam sebuah pernyataan di hadapan Dewan Keamanan PBB pada hari Ahad dewan Kurdi yang memerintah Afrin menuntut tanggapan terhadap serangan Turki.

Kini Armada Perang Turki Berjarak 6 Km dari Kota Afrin

“Masyarakat internasional harus mendukung perlawanan warga Afrin dan menghentikan kebekuan terhadap serangan invasif,” katanya, meminta DK PBB untuk membangun zona larangan terbang di atas Afrin.

Erdogan juga mengecam NATO pada hari Ahad, menuduh aliansi militer Barat tersebut gagal mendukung operasi Turki.

“Hei NATO, mengingat apa yang telah terjadi di Suriah, kapan Anda akan datang dan berada di sisi kita?” Erdogan mengatakan dalam sambutannya kepada pendukung di Bolu, sebuah kota di sebelah timur Istanbul.

Warga Kurdi Siap jadi Tameng Hidup saat Turki Memasuki Kota Afrin

“Kami terus-menerus dilecehkan oleh kelompok-kelompok teror di perbatasan kami. Sayangnya, sampai saat ini, belum ada kata atau suara yang positif, apakah persahabatan ini adalah kesatuan NATO? Bukankah kami anggota NATO?”

YPG adalah sekutu penting Amerika dalam perang di Suriah dan operasi Turki tersebut meningkatkan ketegangan dengan kekuatan Amerika dan NATO di Eropa.

Ankara memandang YPG sebagai perpanjangan Partai Pekerja Kurdistan yang berbasis di Turki (PKK), dianggap sebagai organisasi “teroris” oleh Turki dan negara-negara lain.

Warga Kurdi Siap jadi Tameng Hidup saat Turki Memasuki Kota Afrin

SURIAH (Jurnalislam.com) – Warga Kurdi berencana untuk bertindak sebagai perisai manusia untuk melindungi kota Afrin di Suriah saat militer Turki dan pasukan sekutunya bersiap untuk merebut pusat kota yang dikuasai Kurdi.

Turki meluncurkan operasi lintas perbatasan pada 20 Januari dengan mengatakan bahwa hal itu diperlukan untuk melenyapkan milisi Kurdi yang dikenal sebagai Unit Perlindungan Rakyat (YPG), yang didukung oleh Amerika Serikat, yang dijadikan Turki sebagai ancaman.

Setelah beberapa pekan pertempuran, tentara Turki dan sekutu Free Syrian Army (FSA) sekarang berada di pinggiran kota Afrin dan siap untuk masuk. Sejumlah kota dan desa direbut dari YPG pada hari Ahad oleh militer Turki dan sekutunya di utara dan selatan distrik Kurdi.

Terdesak Armada Perang Turki, Pemimpin Teror Dukungan AS Kabur dari Afrin

“Kecepatan penyerangan mengejutkan semua orang,” kata Alan Fisher, Al Jazeera, melaporkan dari kota perbatasan Gaziantep, Ahad (11/3/2018). Dia menambahkan bahwa pendukung di Turki juga berencana untuk datang dan bertindak sebagai tameng manusia dalam upaya untuk mencegah serangan habis-habisan terhadap Afrin.

“Ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa mereka ingin membantu YPG melawan FSA dan Turki, dan karena itu mereka menawarkan diri sebagai perisai manusia – sebuah tawaran yang diterima oleh YPG. Dan bukan hanya orang-orang dari daerah Kurdi yang pergi ke sana. Kami juga mendengar laporan kelompok perempuan, kelompok sosialis yang juga menawarkan untuk menempatkan diri di antara FSA dan Turki dan YPG.

Selama 48 jam terakhir, kota Afrin dilaporkan telah ditargetkan oleh serangan udara Turki, pasokan air dan internet telah terputus.

Erdogan: Kami Berada di Afrin pada Hari Ini, Besok Kami Berada di Manbij

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada hari Sabtu mengatakan pasukannya akan berada di dalam Afrin dalam hitungan hari, namun karena alasan kemanusiaan, mereka meluangkan waktu untuk merancang dan mencegah jatuhnya korban warga sipil.

Lebih dari satu juta orang sekarang berada di kota Afrin dan desa di sekitarnya setelah melarikan diri dari pertempuran tersebut, menurut kelompok pemantau the Syrian Observatory for Human Rights.

“Kami mendengar dari penduduk di dalam kota itu sendiri bahwa kebanyakan rumah menampung empat sampai lima keluarga karena banyak orang yang pindah ke kota karena serangan ini,” Fisher melaporkan.

Masjid di Berlin Dibakar Penyerang Bertopeng

JERMAN (Jurnalislam.com) – Sebuah Masjid di Berlin telah dibakar oleh penyerang bertopeng pada Ahad (11/3/2018) dini hari, lansir Aljazeera.

“Saksi mata mengatakan kepada kami bahwa tiga penyerang dengan wajah tertutup melemparkan bom molotov dan segera melarikan diri,” kata Bayram Turk, kepala asosiasi Masjid.

Serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah masjid lain yang dikunjungi oleh masyarakat Turki di Jerman diserang pada hari Jumat.

Lagi, Sebuah Masjid di Florida Dibakar Akibat Kebencian Rasial

Pada hari Jumat, Masjid Aksemsettin – milik the Muslim-Turkish association Islamic Community National View (IGMG) – di kota Lauffen am Neckar juga diserang.

Jerman memiliki komunitas Turki berjumlah tiga juta. Banyak di antaranya adalah generasi kedua keturunan Turki yang lahir di Jerman yang kakek-neneknya pindah ke negara itu selama tahun 1960an.

Yerusalem: Masjid Al Aqsho Pernah Dibakar oleh Sekte Berbasis di AS

Dibantu Serangan Udara Brutal, Pasukan Rezim Assad Kepung Douma, 42 Tewas

GHOUTA TIMUR (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 42 orang telah terbunuh di Ghouta Timur Suriah saat pasukan pemerintah terus melakukan serangan udara brutal ke daerah kendali pejuang Suriah sambil terus bergerak mendekat ke pusat kota-kota.

Aktivis di Douma, salah satu pusat kota utama, mengatakan kepada Al Jazeera pada hari Ahad (11/3/2018) bahwa jet-jet Suriah “tidak berhenti membom kota-kota di seluruh Ghouta.”

Televisi rezim Suriah mengklaim bahwa kota Mudeira telah dikuasai pada hari Ahad oleh tentara, yang sekarang dapat terhubung dengan unit-unit di sisi lain Ghouta Timur.

Pasukan rezim pemerintah sekarang mengepung Douma setelah merebut kota tetangga Mesraba, 10km di timur Damaskus, pada hari Sabtu, katanya.

Pasukan Rezim Assad Rebut Kota Terbesar di Ghouta Timur

Kemajuan pasukan rezim di Mudeira mendorong mereka masuk jauh ke dalam wilayah yang dikuasai oposisi, menyebabkan Douma dan Harasta terputus.

PBB memperkirakan ada 400.000 warga sipil yang terjebak di Ghouta Timur.

Aktivis Nour Adam mengatakan delapan orang warga tewas di Jobar, sebuah kota di sebelah timur ibukota Damaskus, dan 16 orang dari keluarga yang sama terbunuh dalam serangan terhadap Douma.

Beberapa oarng lainnya meninggal dalam serangan yang melanda kota-kota Harasta, Zamalka, dan Arbin, kata Adam.

Pada hari Sabtu, the Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), sebuah lembaga monitor perang yang berbasis di Inggris, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Ghouta Timur telah dibagi menjadi tiga bagian – Douma dan sekitarnya; Harasta di barat; dan sisa kota lainnya di selatan.

Serangan terbaru rezim Syiah Nushairiyah terhadap Ghouta Timur, yang dimulai pada 18 Februari, telah membunuh 1.099 warga sipil dalam 21 hari terakhir, SOHR melaporkan.

Angka tersebut mencakup 227 anak dan 145 wanita, sementara sedikitnya 4.378 lainnya luka-luka.

The Syrian Civil Defence, sebuah kelompok penyelamatan relawan yang juga dikenal sebagai the White Helmets, mengatakan pada hari Ahad bahwa sebuah serangan rezim Assad terhadap Arbin sehari sebelumnya menggunakan “klorin … fosfor.” Itu adalah serangan senjata kimia kedua yang diduga menyerang daerah pinggiran dalam hitungan hari.

Serangan pemerintah Suriah mengikuti pola serangan sebelumnya pada kubu oposisi, mengerahkan kekuatan udara besar dan pengepungan yang ketat untuk memaksa pejuang oposisi menerima kesepakatan “evakuasi.”

Terdesak Armada Perang Turki, Pemimpin Teror Dukungan AS Kabur dari Afrin

Kesepakatan ini meminta oposisi menyerahkan wilayah mereka dengan imbalan jalan yang aman ke daerah-daerah oposisi di barat laut Suriah, Idlib, bersama dengan keluarga mereka dan warga sipil lainnya yang tidak ingin kembali ke dalam pemerintahan Assad.

Alan Fisher dari Al Jazeera, melaporkan dari Gaziantep di sepanjang perbatasan di negara tetangga Turki, mengatakan pasukan Suriah yang didukung Rusia cenderung menggunakan kekuatan militer untuk mencoba dan mengamankan “keuntungan politik.”

“[Mereka melakukannya] dengan mengatakan kepada pejuang bahwa mungkin Anda harus pindah ke bagian lain Suriah,” kata Fisher.

Pada hari Jumat, sejumlah pejuang oposisi dan keluarga mereka dievakuasi dari Ghouta Timur, media rezim melaporkan.

Mereka yang dievakuasi ini termasuk oposisi dari Jaish al-Islam, salah satu kelompok oposisi utama di daerah tersebut, yang mengumumkan telah menyetujui pengungsian beberapa pejuang Hayet Tahrir al Sham.

Aktivis Ghouta: Rezim Syiah Assad Lakukan Semua Jenis Kejahatan yang Ada di Dunia

Wael Olwan, juru bicara kelompok oposisi Failaq al-Rahman, yang memiliki hubungan dengan the Free Syrian Army, pada hari Ahad membantah bahwa perundingan tersebut sedang berlangsung – meskipun pemerintah mengklaim bahwa pembicaraan dengan kelompok oposisi sedang berlangsung.

Daerah Ghouta Timur di pinggiran Damaskus telah berada di bawah kendali kelompok oposisi bersenjata sejak 2013 – dua tahun setelah sebuah gerakan rakyat Suriah menyerukan mundurnya Presiden Bashar al-Assad.

Sejak saat itu daerah tersebut berada di bawah pengepungan yang mencekik oleh pasukan rezim Assad dalam upaya mengusir oposisi.

Pertempuran terus-menerus di berbagai tempat, ditambah dengan serangan darat yang sengit dan serangan udara yang membabibuta, telah mencegah makanan dan persediaan medis yang sangat dibutuhkan sampai ke penduduk yang terjebak di dalamnya.

Taliban Bunuh Lebih dari 10 Pasukan Elit Afghanistan Bentukan AS

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Mujahidin Imarah Islam Afghanistan (Taliban) membunuh sedikitnya 10 pasukan komando Afghanistan bentukan AS dan beberapa petugas lainnya saat sebuah penyergapan di provinsi Farah Jumat malam (9/3/2018). Pertahanan di Farah menurun dalam dua tahun terakhir karena Taliban memfokuskan upaya di provinsi barat.

Pejuang Taliban menyergap unit pasukan khusus yang bermitra dengan pasukan setempat yang bersiap untuk melancarkan serangan di distrik Bala Buluk, Farah, kata pejabat provinsi kepada TOLONews. Jumlah korban yang diderita oleh pasukan gabungan Afghanistan bervariasi dalam laporan pers Afghanistan. Namun, pejabat dari Unit Pasukan Khusus Afghanistan mengkonfirmasi bahwa sepuluh tentaranya tewas. Delapan polisi juga tewas dan sedikitnya tiga lainnya ditangkap oleh Taliban dalam pertempuran tersebut, lansir The Long War Journal, Sabtu (10/3/2019).

Pejabat Unit Pasukan Khusus Afghanistan menyalahkan kurangnya dukungan udara dan kegagalan militer Afghanistan dan polisi dalam memberikan bantuan saat Taliban melancarkan serangan mereka menjadi penyebab tingginya jumlah korban di pihak mereka, lapor ATN News.

Gunakan Night Vision, Taliban Tewaskan 18 Tentara Bentukan AS dalam Semalam

Pasukan khusus Afghanistan berada di ujung tombak dalam perang melawan Taliban. Hilangnya komandan, yang dianggap paling efektif dan paling termotivasi dari semua pasukan Afghanistan, adalah pukulan yang menyakitkan. Empat komandan lainnya tewas dalam serangan Taliban di Farah awal pekan ini.

Juru bicara Taliban Zabihulah Mujahidin mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut di akun Twitter resminya.

“Pasukan musuh yang tiba di daerah Tapa Sadat di Farah Rod #Farah diserang, 53 komandan bayaran tewas atau terluka serta cukup banyak senjata yang disita. Yang lainnya mencoba melarikan diri dalam pengejaran Mujahidin,” tulisnya. Mujahidin juga mengirim tiga foto senjata yang diduga disita dari pasukan komando Afghanistan selama penyergapan tersebut.

Mengingat keefektifan operasi melawan pasukan elit Afghanistan, ada kemungkinan pejuang Taliban menyusup ke pasukan elit dalam membantu serangan tersebut. Taliban sangat mahir menginfiltrasi pasukan Afghanistan.

Serangan Penyusup Seorang Taliban Bunuh 16 Milisi Bentukan AS

Pertahanan di provinsi Farah semakin memburuk selama dua tahun terakhir. Kota Farah adalah satu dari lima provinsi yang berada di bawah ancaman langsung Taliban pada akhir 2016. Taliban tetap berada di pinggiran kota tersebut pada tahun 2017 dan terus-menerus mengalahkan pasukan pertahanan di seluruh provinsi tersebut.

Pada pertengahan Januari 2018, pejabat Afghanistan telah memperingatkan bahwa Taliban tidak lagi berada di pinggiran kota dan telah memasuki kota. Deputi gubernur provinsi tersebut, Mohammad Younus Rasuli, mengkritik pasukan pertahanan, yang menurutnya menderita korban berat.

Taliban: Helikopter Tempur Chinook Amerika Ditembak Jatuh di Begama, Puluhan Tewas

“Saat ini pasukan pertahanan belum melakukan langkah apapun untuk menargetkan jihadis dan strategi bertahan kami juga salah. Pada pekan lalu saja, lebih dari 50 anggota pasukan pertahanan terbunuh,” kata Rasuli, menurut TOLONews.

Pada akhir Januari, Mohammad Aref Shah Jahan, gubernur Farah, berhenti, “karena situasi pertahanan yang memburuk di Farah.” Dia menyalahkan memburuknya pertahanan ini sebagian karena “campur tangan berbagai individu terhadap saya,” Reuters melaporkan.

Akhir bulan lalu, Taliban menguasai sebuah pangkalan militer Afghanistan di Bala Buluk dan membunuh 25 tentara dan menangkap tiga lainnya. Sebelum serangan itu, Taliban membunuh 20 polisi dalam tiga serangan terpisah di provinsi tersebut.

Taliban Tunjukan Kekuatan Militernya di Farah

Taliban telah menunjukkan kekuatan militernya di Farah. Pada bulan Oktober 2017, Taliban merilis sebuah video tentang para pejuangnya yang berkumpul untuk sebuah parade dan pidato oleh pejabat senior di provinsi tersebut, tanpa takut menjadi sasaran serangan udara pasukan Afghanistan atau AS (NATO).

Hargai Membom Mekkah 2.500 Point, Polisi Inggris Kejar Penyebar Selebaran Kebencian

INGGRIS (Jurnalislam.com) – Polisi anti-terorisme di Inggris sedang menyelidiki kemungkinan kejahatan kebencian setelah beberapa orang menerima surat yang meminta mereka menyerang Muslim pada tanggal 3 April, yang disebut dalam selebaran tersebut sebagai hari “menghukum seorang Muslim.”

Beberapa warga Inggris di London, West Midlands dan Yorkshire mengatakan bahwa mereka menerima surat tersebut melalui pos, menurut laporan, lansir Aljazeera Sabtu (10/3/2018).

Beberapa meng-upload gambar komunikasi tersebut di media sosial.

Selebaran itu mengatakan: “Mereka telah menyakiti Anda, mereka telah membuat orang-orang yang Anda cintai menderita, mereka telah menyebabkan Anda sakit dan sakit hati. Apa yang akan Anda lakukan?”

Isi surat ini berlanjut dengan menawarkan penghargaan bagi penyerang, mulai dari 10 poin untuk menyerang seorang Muslim secara verbal dan 50 poin untuk melemparkan air keras ke wajah seorang Muslim, hingga 1.000 poin karena mengebom sebuah Masjid dan 2.500 poin untuk “membom Mekkah”.

Ada lebih dari 2,5 juta Muslim di Inggris, dimana Islam adalah agama terbesar kedua.

Muslim di Inggris jadi Target Serangan Islamophobia Media Cetak

Pada hari Sabtu, polisi West Yorkshire bergabung dengan Polisi Metropolitan London dalam usaha untuk “menangkap orang atau sekelompok orang yang bertanggung jawab atas ini”.

“Keamanan publik tetap menjadi prioritas kami dan saya akan mendesak masyarakat kita untuk waspada tapi tidak takut,” kata polisi West Yorkshire dalam sebuah pernyataan. “Kami lebih kuat saat kita berdiri bersama sebagai satu kesatuan dan tidak akan terpecah.”

Tell MAMA, sebuah organisasi yang memantau kejahatan kebencian anti-Muslim, mengatakan bahwa pihaknya bekerja dengan polisi.

“Masalahnya sedang diperlakukan dengan sangat serius,” kata organisasi tersebut.

“Semua surat dan amplop harus disimpan dan ditangani minimal untuk melestarikan bukti agar polisi melakukan penyelidikan,” kata monitor tersebut, memberitahu para penerima.

Muslim Inggris, pemimpin agama, politisi dan kelompok hak-hak sipil telah menyatakan ketakutan dan kemarahan mereka pada perkembangan tersebut.

“Kampanye surat keji yang dikirim ke umat Islam di Inggris telah menyebabkan tekanan dan kewaspadaan yang dalam. Kami menyambut baik tindakan yang diambil oleh polisi untuk menyelidiki masalah ini,” kata Miqdaad Versi, asisten sekretaris jenderal the Muslim Council of Britain, salah satu organisasi payung Muslim Inggris terbesar, kepada Al Jazeera.

“Sayangnya, kampanye ini mencerminkan kebencian terhadap Muslim yang terus menampakkan diri selain munculnya kelompok paling-kanan. Para pejabat terpilih perlu berdiri dan mengambil tindakan melawan Islamofobia dengan cara yang sama seperti yang telah mereka lakukan untuk melawan kefanatikan terhadap kelompok lain, Versi menambahkan.

Yasmin Qureshi, politisi Partai Buruh dan seorang pengacara, mengatakan: “Saya terkejut mengetahui bahwa pengecut ekstremis menyebarkan surat tanpa nama yang mendorong orang untuk menyerang Muslim.”

200 Lebih Masjid di Inggris Gelar “Open House” Bagi Masyarakat Non Muslim

Jess Phillips, anggota parlemen Partai Buruh untuk Birmingham Yardley, mengatakan: “Ini benar-benar tidak dapat dipercaya, jika ada anggota konstituen kami yang menerimanya silakan hubungi kami.”

“Ini sangat menyedihkan bukan hanya bagi mereka yang telah menerima surat tersebut tapi juga untuk masyarakat luas,” kata Naz Shah, anggota parlemen untuk Bradford West di West Yorkshire.

“Kepala kepolisian anti-teror di timur laut Inggris, Russ Foster, telah memberikan kepastian bahwa penyelidikan menyeluruh dan profesional berjalan dengan baik dan mendesak setiap korban yang menerima surat semacam itu untuk melaporkan masalah tersebut ke polisi,” Shah mengatakan.

Kepala hubungan antaragama Gereja Inggris, Andrew Smith, men-tweet: “Betapa marahnya mendengar tentang ucapan mengerikan yang telah dikirim tentang ‘menghukum seorang Muslim’. Tidak dapat dibayangkan betapa mengerikan dan menakutkannya jika mendapatkan surat seperti itu. Demi melipatgandakan usaha kita membangun perdamaian di masyarakat kita dan dukung mereka yang merasa takut atau terintimidasi. Usaha terus berlanjut.”

MIUMI Mantapkan Niatnya untuk Persatukan Umat

BELITUNG (Jurnalislam.com) – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menggelar silaturahmi dengan para ulama dan tokoh Islam Belitung. MIUMI berharap dapat menjadi pemersatu umat.

Bertempat Kantor Bupati Belitung, Tanjung Pandan, Belitung Regency, Bangka Belitung, pertemuan itu dihadiri ulama dan tokoh ormas Islam. Sekjen MIUMI Pusat, Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) berjarap pertemuan tersebut dapat mendorong persatuan dan perjuangan umat Islam baik dalam aspek politik, ekonomi, sosial. Dengan diharapkan diharapkan dapat membawa Indonesia kepada era lebih beradab.

“MIUMI ini tagline-nya adalah menjadikan Indonesia lebih beradab. Bukan hanya akhlaq tetapi juga pemikiran, sains dan juga dalam tindakan-tindakannya,” ujar UBN didepan puluhan Tokoh dan Ulama, Sabtu (10/3/2018).

UBN: Jadikan Indonesia Penuh Berkah dengan Perbanyak Istigfar

Dalam silaturahmi yang dihadiri Pejabat sementara (Pjs) Bupati Belitung, UBN menyebut saat ini Allah tengah menurunkan banyak rahmatnya untuk Indonesia. Hap itu ditandai dengan meningkatnya ghiroh atau semangat masyarakat Indonesia dalam berislam.

“Saya sampaikan juga kepada para petinggi negeri, ketika kami berkumpul sesama dai, dan memikirkan ghiroh-ghiroh umat Islam di berbagai daerah, ini adalah suatu rahmat besar dari Allah yang banyak tokoh gagal paham atas apa yang tengah berkembang di masyarakat ini,” ungkapnya.

Karenanya, MIUMI ini diharapkan dapat menyatukan ghiroh yang ada di daerah-daerah dan satu komando untuk kemajuan Islam khususnya di Indonesia. “Kita bergerak di bidang intelektual di MIUMI berharap dapat menyatukan ghiroh umat, dan meningkatkan bagaimana darajat muslim ke mukmin,” ungkap UBN.

Sementara, Ketua MIUMI Jawa Barat Tiar Anwar Bachtiar yang turut hadir pada kesempatan itu menjelaskan, bahwa organisasi yang dideklarasikan pada 28 Februari 2012 itu memiliki cita-cita kebangsaan dengan berpegang pada Ahlu Sunnah Wal Jama’ah. MIUMI diharapkan menjadi perekat tokoh dan ulama muda dari lintas ormas.

“Kehadiran MIUMI ingin menghidupkan tradisi ulama terdahulu, walaupun berbeda-beda pemikiran tapi bisa menyatukan umat,” paparnya.

Tiar menyampaikan, MIUMI juga berupaya membangun dakwah Islam berbasis riset, tidak sekedar ceramah di mimbar tetapi komprehensif menyangkut kajian ilmiah. Karenanya organisasi itu menghimpun aktivis dan intelektual dai. “Ciri khas MIUMI adalah ulama yang menggerakkan, tidak hanya mengajar,” tandasnya.

Ketua Aliansi Umat Islam Belitung (Antab), Suhardi mengungkapkan kepada INA/JITU bahwa kegiatan ini diawali dengan silaturahmi yang diharapkan dapat mempererat persaudaraan umat islam lintas organisasi.

Pertemuan tersebut dihadiri lebih dari 20 ulama dan perwakilan ormas Islam Belitung. Hadir pula perwakilan dari Polres Belitung serta Dandim 0414 Belitung.

Reporter: Muhammad Jundii | Islamic News Agency (INA)

Kedubes Iran di London Diserang oleh Pengikut Tokoh Syiah Irak

LONDON (Jurnalislam.com) – Para pengikut sekte Syiah Ayatollah Hossein al-Shirazi menyerbu kedutaan Iran di London pada hari Jumat (09/3/2018) untuk memprotes penangkapan tokoh Syiah Irak di Qom oleh otoritas Iran.

Sebuah saluran berbahasa Persia yang disiarkan dari luar Iran melaporkan bahwa pengikut Shirazi menyerbu kedutaan dan mengangkat bendera pro-Shirazi.

Menurut BBC, polisi Inggris mengatakan mereka menerima sebuah laporan bahwa kedutaan Iran di London diserang pada pukul 16:20 waktu setempat, lansir Alarabiya Sabtu (10/3/2018).

Presiden Perancis Serukan Pembubaran Pasukan Syiah Irak, Al Maliki Berang

Empat orang ditangkap, kata polisi, karena dicurigai melakukan kejahatan dan secara tidak sah berada di tempat diplomatik.

“Keempat orang tersebut telah dibawa ke sebuah kantor polisi di London pusat. Mereka tinggal dalam tahanan di sana,” kata seorang juru bicara polisi.

Tampaknya para pemrotes tidak berhasil masuk ke dalam gedung tersebut.

Juru bicara kementerian luar negeri Iran Bahram Ghasemi mengatakan bahwa Teheran melakukan protes keras kepada pemerintah Inggris atas insiden tersebut, menurut kantor berita negara IRNA.

Wakil menteri luar negeri Iran Abbas Araghchi membuat demonstrasi yang diketahui oleh duta besar Inggris di Teheran, menuntut “perlindungan mutlak terhadap para diplomat kami di London dan segera menangani polisi dan para penyerang,” IRNA mengatakan.

Putra Mahkota Raja Arab Temui Pimpinan Syiah Irak, Muqtada al-Sadr

Dalam sebuah e-mail, duta besar Iran di London, Hamid Baidi Nejad, mengkonfirmasi bahwa penyerang membawa tongkat dan pisau saat mereka menyerbu kedutaan tersebut.

Kantor berita IRNA menggambarkan kejadian di London sebagai “tindakan teroris.”

“Ini adalah pengikut Ayatollah Shirazi, mereka melakukannya secara independen,” kata Qassim al-Fahd, perwakilan media Ayatollah Shirazi di London.

“Mereka tidak memiliki hubungan organisasi dengan Shirazi dan perwakilannya, tanggapan Iran terhadap Irak akan berlanjut dalam beberapa hari mendatang,” Fahd memperingatkan.