Dibantu Serangan Udara Brutal, Pasukan Rezim Assad Kepung Douma, 42 Tewas

12 Maret 2018
Dibantu Serangan Udara Brutal, Pasukan Rezim Assad Kepung Douma, 42 Tewas

GHOUTA TIMUR (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 42 orang telah terbunuh di Ghouta Timur Suriah saat pasukan pemerintah terus melakukan serangan udara brutal ke daerah kendali pejuang Suriah sambil terus bergerak mendekat ke pusat kota-kota.

Aktivis di Douma, salah satu pusat kota utama, mengatakan kepada Al Jazeera pada hari Ahad (11/3/2018) bahwa jet-jet Suriah “tidak berhenti membom kota-kota di seluruh Ghouta.”

Televisi rezim Suriah mengklaim bahwa kota Mudeira telah dikuasai pada hari Ahad oleh tentara, yang sekarang dapat terhubung dengan unit-unit di sisi lain Ghouta Timur.

Pasukan rezim pemerintah sekarang mengepung Douma setelah merebut kota tetangga Mesraba, 10km di timur Damaskus, pada hari Sabtu, katanya.

Pasukan Rezim Assad Rebut Kota Terbesar di Ghouta Timur

Kemajuan pasukan rezim di Mudeira mendorong mereka masuk jauh ke dalam wilayah yang dikuasai oposisi, menyebabkan Douma dan Harasta terputus.

PBB memperkirakan ada 400.000 warga sipil yang terjebak di Ghouta Timur.

Aktivis Nour Adam mengatakan delapan orang warga tewas di Jobar, sebuah kota di sebelah timur ibukota Damaskus, dan 16 orang dari keluarga yang sama terbunuh dalam serangan terhadap Douma.

Beberapa oarng lainnya meninggal dalam serangan yang melanda kota-kota Harasta, Zamalka, dan Arbin, kata Adam.

Pada hari Sabtu, the Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), sebuah lembaga monitor perang yang berbasis di Inggris, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Ghouta Timur telah dibagi menjadi tiga bagian – Douma dan sekitarnya; Harasta di barat; dan sisa kota lainnya di selatan.

Serangan terbaru rezim Syiah Nushairiyah terhadap Ghouta Timur, yang dimulai pada 18 Februari, telah membunuh 1.099 warga sipil dalam 21 hari terakhir, SOHR melaporkan.

Angka tersebut mencakup 227 anak dan 145 wanita, sementara sedikitnya 4.378 lainnya luka-luka.

The Syrian Civil Defence, sebuah kelompok penyelamatan relawan yang juga dikenal sebagai the White Helmets, mengatakan pada hari Ahad bahwa sebuah serangan rezim Assad terhadap Arbin sehari sebelumnya menggunakan “klorin … fosfor.” Itu adalah serangan senjata kimia kedua yang diduga menyerang daerah pinggiran dalam hitungan hari.

Serangan pemerintah Suriah mengikuti pola serangan sebelumnya pada kubu oposisi, mengerahkan kekuatan udara besar dan pengepungan yang ketat untuk memaksa pejuang oposisi menerima kesepakatan “evakuasi.”

Terdesak Armada Perang Turki, Pemimpin Teror Dukungan AS Kabur dari Afrin

Kesepakatan ini meminta oposisi menyerahkan wilayah mereka dengan imbalan jalan yang aman ke daerah-daerah oposisi di barat laut Suriah, Idlib, bersama dengan keluarga mereka dan warga sipil lainnya yang tidak ingin kembali ke dalam pemerintahan Assad.

Alan Fisher dari Al Jazeera, melaporkan dari Gaziantep di sepanjang perbatasan di negara tetangga Turki, mengatakan pasukan Suriah yang didukung Rusia cenderung menggunakan kekuatan militer untuk mencoba dan mengamankan “keuntungan politik.”

“[Mereka melakukannya] dengan mengatakan kepada pejuang bahwa mungkin Anda harus pindah ke bagian lain Suriah,” kata Fisher.

Pada hari Jumat, sejumlah pejuang oposisi dan keluarga mereka dievakuasi dari Ghouta Timur, media rezim melaporkan.

Mereka yang dievakuasi ini termasuk oposisi dari Jaish al-Islam, salah satu kelompok oposisi utama di daerah tersebut, yang mengumumkan telah menyetujui pengungsian beberapa pejuang Hayet Tahrir al Sham.

Aktivis Ghouta: Rezim Syiah Assad Lakukan Semua Jenis Kejahatan yang Ada di Dunia

Wael Olwan, juru bicara kelompok oposisi Failaq al-Rahman, yang memiliki hubungan dengan the Free Syrian Army, pada hari Ahad membantah bahwa perundingan tersebut sedang berlangsung – meskipun pemerintah mengklaim bahwa pembicaraan dengan kelompok oposisi sedang berlangsung.

Daerah Ghouta Timur di pinggiran Damaskus telah berada di bawah kendali kelompok oposisi bersenjata sejak 2013 – dua tahun setelah sebuah gerakan rakyat Suriah menyerukan mundurnya Presiden Bashar al-Assad.

Sejak saat itu daerah tersebut berada di bawah pengepungan yang mencekik oleh pasukan rezim Assad dalam upaya mengusir oposisi.

Pertempuran terus-menerus di berbagai tempat, ditambah dengan serangan darat yang sengit dan serangan udara yang membabibuta, telah mencegah makanan dan persediaan medis yang sangat dibutuhkan sampai ke penduduk yang terjebak di dalamnya.