Myanmar Dirikan Pangkalan Militer di Desa Terjadinya Pembantaian

MYANMAR (Jurnalislam.com) – Myanmar membangun pangkalan militer di desa Rohingya yang mereka bakar kini telah diratakan, kata sebuah kelompok hak asasi internasional.

Militer membuldozer rumah dan mulai membangun sedikitnya tiga fasilitas baru di negara bagian Rakhine, Myanmar barat, menurut laporan Remaking Rakhine State oleh Amnesty International, yang diterbitkan pada hari Senin (12/03/2018).

Laporan tersebut mengatakan bahwa pembangunan tiga pos militer itu dimulai pada bulan Januari, berdasarkan pada citra satelit dan pernyataan saksi dari pengungsi Rohingya.

Pemerintah Myanmar Hilangkan Bukti Kejahatannya dengan Ratakan 55 Desa Rohingya

“Apa yang kita lihat di negara bagian Rakhine adalah perampasan tanah oleh militer dalam skala dramatis. Pangkalan baru didirikan untuk menampung pasukan yang sama yang telah melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap Muslim Rohingya,” Tirana Hassan, direktur respons krisis Amnesty, mengatakan, lansir Aljazeera.

“Pembangunan baru ini memperkokoh diskriminasi tidak manusiawi yang terjadi di Myanmar.”

Pemerintah Myanmar Hanya Hukum 10 Aparat atas Pembantaian Muslim Rohingya

Hampir 700.000 warga Muslim Rohingya telah meninggalkan Myanmar sejak Agustus lalu sebagai akibat tindakan brutal pasukan pemerintah yang diluncurkan setelah serangan balasan terhadap pos-pos militer Myanmar oleh pejuang Muslim, Arakan Rohingya Solidarity Army (ARSA).

Saksi mata mengatakan kepada Amnesty bahwa warga Muslim Rohingya di kota Buthidaung telah diusir secara paksa dari rumah mereka demi kepentingan perkembangan pembangunan pangkalan baru ini.

Bagikan