Seorang Remaja Palestina Ditembak di Kepala dari Jarak Dekat oleh Tentara Zionis

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Pasukan penjajah Israel telah menembak mati seorang remaja Palestina di Tepi Barat yang diduduki, kementerian kesehatan Palestina mengkonfirmasi.

Abu Naim, 16, ditembak di kepala dengan peluru tajam saat terjadi konfrontasi dengan tentara penjajah Israel di desa al-Mughayir, timur laut kota Ramallah, Tepi Barat yang diduduki.

Menurut media lokal, Abu Naim – seorang siswa SMA – ditembak pada jarak dekat. Konfrontasi tersebut dilaporkan meletus setelah pasukan zionis menyerbu desa tersebut, Selasa (30/1/2018), lansir Aljazeera.

Pemakaman anak laki-laki tersebut akan diadakan pada hari Rabu setelah shalat Dzuhur di kampung halamannya.

Lagi, Warga Palestina Dibunuh oleh Penjajah Israel di Timur Qalqilyah

Seorang juru bicara militer Israel mengatakan “kerusuhan terjadi di daerah ini. Ban dibakar dan batu dilemparkan ke arah tentara,” menurut media Israel.

Juru bicara tersebut “tidak dapat memastikan bahwa ada warga Palestina yang terkena tembakan”.

Abu Naim adalah warga Palestina keenam yang dibunuh oleh pasukan zionis sejak awal tahun 2018.

Ketegangan di wilayah tersebut meningkat dalam beberapa pekan terakhir setelah keputusan kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald Trump menetapkan Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Pernyataan Trump pada 6 Desember itu mendorong unjuk rasa mematikan di wilayah Palestina dan demonstrasi massa dalam solidaritas dengan orang-orang Palestina di seluruh dunia Muslim.

Ujug-ujug Aparat Zionis Tangkap Tokoh Utama LSM Arab di Palestina

Kunjungan Wakil Presiden AS Mike Pence ke Israel dan wilayah tersebut meningkatkan permusuhan di antara warga Palestina terhadap AS. Pidatonya di parlemen Israel di Yerusalem pada 22 Januari penuh dengan pujian bagi Israel.

Pada hari Selasa, sekelompok warga Palestina memprotes kedatangan delegasi Amerika ke kota Bethlehem, Tepi Barat. Delegasi tersebut dilaporkan berada di sana untuk mengadakan sesi pelatihan perdagangan digital, menurut media Israel.

Sebuah video yang dibagikan di media sosial menunjukkan para pemrotes memasuki ruang pertemuan sambil memegangi spanduk dan menentang keputusan pemerintah AS seputar Yerusalem, setelah itu delegasi berkemas dan pergi.

Jaksa Agung Saudi Sita $ 100 Milyar Lebih Hasil Korupsi dari Keluarga Kerajaan

RIYADH (Jurnalislam.com) – Jaksa Agung Arab Saudi Sheikh Saud al-Mojeb mengatakan bahwa kerajaan tersebut telah menyita lebih dari $ 100 miliar dalam upaya anti-korupsi.

Jumlah tersebut – SAR 400 miliar ($ 106.7 miliar) – berasal dari berbagai jenis aset, termasuk real estat, entitas komersial, uang tunai dan banyak lagi, Mojeb mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh kantor informasi pemerintah pada hari Selasa (30/1/2018).

Dia menambahkan bahwa jumlah total orang yang dipanggil untuk diinterogasi mencapai 381, sementara 65 tetap ditahan sebagai bagian dari pembersihan anti-korupsi nasional.

Pernyataan tersebut muncul saat pihak berwenang Saudi membebaskan semua tahanan yang tersisa dari hotel Ritz-Carlton, setelah ditahan selama lebih dari dua bulan atas tuduhan korupsi.

“Tidak ada lagi tahanan yang tersisa di Ritz-Carlton,” kata seorang pejabat Saudi kepada kantor berita Reuters, Selasa.

Puluhan anggota keluarga kerajaan, menteri, dan pengusaha papan atas ditangkap pada awal November dalam sebuah “tindakan anti-korupsi” yang diluncurkan oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Tuduhan terhadap orang-orang yang ditahan termasuk pencucian uang, penyuapan, pemerasan pejabat.

Tindak Lanjuti Penangkapan, Pemerintah Arab Ciduk Puluhan Anggota Keluarga Kerajaan

Mereka yang ditangkap ditahan secara kolektif di hotel Ritz-Carton di negara tersebut. Sementara itu, hotel ini tutup untuk urusan normal.

Pada hari Sabtu, pengusaha terkemuka Arab Saudi Pangeran Alwaleed bin Talal dilepaskan saat tanda-tanda pembersihan tampak mereda. Pangeran Alwaleed mengatakan dalam wawancara eksklusif Reuters bahwa “tidak ada tuduhan” terhadapnya.

Tindakan keras tersebut, yang terjadi melalui keputusan kerajaan pada bulan November 2017, merupakan tanggapan atas “eksploitasi oleh beberapa jiwa lemah yang telah menempatkan kepentingan mereka sendiri di atas kepentingan publik, agar secara haram memperoleh uang”.

Mahjoob Zweiri, seorang profesor Arab yang berbasis di Doha, mengatakan bahwa pembersihan tersebut merupakan bagian dari rencana Mohammed bin Salman untuk mengkonsolidasikan kekuatan ekonomi, juga politik di Arab Saudi.

“Pembersihan itu diperlukan untuk menghancurkan kerajaan ekonomi lainnya di Arab Saudi,” katanya kepada Al Jazeera.

Zweiri mencatat bahwa sifat tuduhan terhadap orang-orang yang ditahan tetap tidak jelas, dan mungkin ada rincian lebih lanjut dari kasus yang diungkapkan – namun tidak dalam waktu dekat.

“Ada kasus ketidakpercayaan,” katanya. “Dan pihak berwenang akan menindaklanjuti [pihak yang dibebaskan] untuk memastikan tidak ada yang berbicara tentang apa yang terjadi untuk mempertahankan narasi pemerintah tentang tindakannya.”

Menurut Zweiri, pembersihan itu adalah pesan peringatan, dan hanya mereka yang memainkan “politik” dan memelihara hubungan dengan raja yang akan dapat melakukan kegiatan bisnis di kerajaan.

“Sekali lagi ini tentang seberapa baik Anda terhubung dengan pendirian baru. Tidak ada pertanggungjawaban … korupsi tentu saja akan berlanjut – namun dengan cara yang berbeda”.

Jet tempur UAE Dukung Serangan Separatis Selatan Rebut Markas Militer Yaman di Aden

YAMAN (Jurnalislam.com) – Seorang pejabat senior Yaman mengatakan kepada Al Jazeera bahwa separatis selatan, yang didukung oleh Uni Emirat Arab (UEA), menguasai sebuah pangkalan militer di kota pesisir Aden, setelah sebuah jet tempur UEA mengebom fasilitas tersebut.

Pejabat tersebut mengatakan kepada Al Jazeera, Selasa (30/1/2018), bahwa pejuang dari Pasukan Perlawanan Selatan (the Southern Resistance Forces-SRF), sayap bersenjata Dewan Transisi Selatan (the Southern Transitional Council-STC) – sebuah gerakan politik yang menuntut pemisahan diri untuk Yaman selatan – merebut pangkalan tersebut pada awal hari Selasa, meskipun sebuah gencatan senjata yang ditengahi oleh mitra koalisi Arab Saudi dan UEA, ditetapkan beberapa jam sebelumnya.

Dalam sebuah posting di Twitter, Mukhtar al-Rahbi, seorang pejabat di pemerintahan Yaman, mengatakan: “Sebuah pesawat koalisi Arab, yang mengatakan bahwa mereka mendukung legitimasi [pemerintah yang diakui secara internasional di Yaman] mengebom basis Brigade Keempat. Benar-benar sebuah lelucon.”

Pertempuran Meningkat di Aden: Pasukan Yaman Dukungan Saudi vs Separatis Selatan Dukungan UEA

Video yang diposting di media sosial menunjukkan asap hitam tebal mengepul dari kamp, ​​yang terletak di distrik Dar Saad di utara Aden.

Merebut Brigade Keempat merupakan keuntungan terbesar bagi kelompok separatis sejak pertempuran pertama kali meletus pada hari Ahad.

Seorang sumber di kota tersebut mengatakan kepada Al Jazeera bahwa SRF sekarang telah menguasai sebagian besar Aden dan berjuang menuju gerbang Istana Al-Mashaiq tempat pemerintah Yaman tinggal.

Sumber tersebut mengatakan bahwa Perdana Menteri Ahmed bin Daghr dan beberapa menteri tetap berada di dalam gedung tersebut dan bahwa separatis tidak merebut istana itu sendiri.

Pertempuran di Aden pertama meletus pada hari Ahad, ketika STC memerintahkan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi untuk memberhentikan perdana menteri dan kabinetnya atau menghadapi penggulingan.

Tuntut Pemerintahan Hadi Lengser, PM Yaman: Kudeta di Kota Aden Didukung oleh UEA

Kelompok tersebut menuduh pemerintah Bin Daghr di Aden melakukan korupsi besar hingga menghasilkan “situasi ekonomi, keamanan dan sosial yang memburuk yang belum pernah disaksikan dalam sejarah selatan.”

Hadi, yang sebagian besar tinggal di Arab Saudi selama perang, menolak ultimatum tersebut, dan menggambarkan tindakan separatis sebagai “kudeta”.

Kekerasan tersebut telah menewaskan sedikitnya 36 orang dan melukai 185 lainnya sejak hari Ahad, menurut Komite Palang Merah Internasional.

Perundingan Suriah: Proposal Komite Kontitusional Disahkan Tanpa Delegasi Oposisi

SOCHI (Jurnalislam,com) – Proposal untuk membentuk sebuah komite konstitusional disahkan pada hari Selasa (30/1/2018) di Kongres Dialog Nasional Suriah di kota Sochi, Rusia, yang diselenggarakan oleh Ankara, Teheran, dan Moskow, Anadolu Agency melaporkan.

Para pihak pada kongres dua hari tersebut mengatakan dalam sebuah pernyataan akhir bahwa mereka ingin mengakhiri konflik yang sedang berlangsung di wilayah tersebut sesegera mungkin.

Pernyataan tersebut juga meminta “semua teman Suriah untuk mengambil seluruh langkah yang diperlukan untuk membantu negara tersebut bergabung kembali ke dalam masyarakat internasional dan mengembalikan statusnya sebagai anggota terhormat.”

“Untuk itu kami sepakat untuk membentuk sebuah komite konstitusional yang terdiri dari delegasi Pemerintah Republik Arab Suriah bersama dengan perwakilan luas delegasi untuk merancang sebuah reformasi konstitusional sebagai kontribusi terhadap penyelesaian politik di bawah naungan PBB sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan 2254 ,” kata pernyataan tersebut.

Perundingan Damai Suriah di Sochi Dihadiri Semua Elemen kecuali Faksi Jihad

Komite konstitusi akan mencakup “pemerintah, perwakilan oposisi, pakar Suriah, masyarakat sipil, independen, pemimpin suku dan kelompok perempuan,” menurut pernyataan tersebut.

Ditambahkan bahwa kesepakatan akhir mengenai mandat dan kerangka acuan, wewenang, peraturan prosedur, dan kriteria seleksi untuk komposisi komite harus dicapai dalam proses Jenewa yang dipimpin oleh PBB.

Pernyataan tersebut meminta sekretaris jenderal PBB untuk menunjuk utusan khususnya ke Suriah demi membantu tugas komite konstitusional di Jenewa.

Sebelumnya pada hari Selasa, oposisi Suriah memutuskan untuk tidak berpartisipasi dalam pertemuan puncak Sochi dan sebaliknya mengumumkan bahwa Turki dapat melakukannya atas namanya, kata sumber diplomatik yang tidak dikenal.

Delegasi oposisi Suriah tiba di Sochi untuk pertemuan puncak tersebut namun kemudian berubah pikiran saat mereka melihat gambar dengan bendera rezim Suriah di atasnya. Setelah itu, mereka memberi Turki wewenang untuk mewakilinya di pertemuan puncak, kata sumber tersebut.

Shalat Gerhana: Hukum, Waktu dan Tata Caranya

JURNALISLAM.COM – Gerhana matahari dan bulan merupakan fenomena alam yang tidak seperti biasanya, maka Allah Ta’ala mensyariatkan atas kita melalui lisan Nabi-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam untuk melaksanakan shalat gerhana. Pada gerhana matahari biasanya disebut dengan shalat kusuf, sedangkan pada gerhana bulan dengan shalat khusuf. Namun terkadang kedua nama tersebut memiliki arti yang sama. Artinya kusuf bisa digunakan untuk gerhana matahari dan bulan, begitu juga khusuf.

Hukum Shalat Gerhana

Para ulama sepakat bahwa shalat gerhana, termasuk shalat gerhana matahari (kusuf) adalah sunnah muakad (sangat dianjurkan), baik untuk laki-laki maupun perempuan.

Waktu Shalat Gerhana

Waktu untuk mengerjakan shalat gerhana adalah antara sejak mulainya gerhana hingga gerhana berakhir (matahari/bulan kembali ke kondisi semula)

Tata Cara Shalat Gerhana

Shalat gerhana, baik gerhana bulan maupun matahari, lebih utama dikerjakan secara berjamaah, meskipun menunaikannya secara berjamaah bukan termasuk syarat utama syahnya shalat tersebut. Ketika menjelang pelaksanaan shalat gerhana, hendaklah muadzin mengumandangkan lafazh “Ash shalaatu jaami’ah”.

Jumhur ulama mengatakan bahwa shalat gerhana dilakukan sebanyak dua rakaat. Setiap rakaat harus dilakukan dua kali ruku’. Tidak ada perselisihan di antara ulama, shalat gerhana dikerjakan dua rakaat. Dan pendapat yang masyhur dari pelaksanaannya adalah pada setiap rakaatnya dua kali berdiri, dua kali bacaan, dua kali ruku’, dan dua kali sujud. Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam al-Syafi’i, dan Imam Ahmad rahimahumullah.

خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِى حَيَاةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِلَى الْمَسْجِدِ فَقَامَ وَكَبَّرَ وَصَفَّ النَّاسُ وَرَاءَهُ فَاقْتَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قِرَاءَةً طَوِيلَةً ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ. ثُمَّ قَامَ فَاقْتَرَأَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً هِىَ أَدْنَى مِنَ الْقِرَاءَةِ الأُولَى ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً هُوَ أَدْنَى مِنَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ. ثُمَّ سَجَدَ – وَلَمْ يَذْكُرْ أَبُو الطَّاهِرِ ثُمَّ سَجَدَ – ثُمَّ فَعَلَ فِى الرَّكْعَةِ الأُخْرَى مِثْلَ ذَلِكَ حَتَّى اسْتَكْمَلَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ وَانْجَلَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَنْصَرِفَ ثُمَّ قَامَ فَخَطَبَ النَّاسَ فَأَثْنَى عَلَى اللَّهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَافْزَعُوا لِلصَّلاَةِ

Pada saat Nabi hidup, terjadi gerhana matahari. Rasulullah keluar ke masjid, berdiri dan membaca takbir. Orang-orang pun berdatangan dan berbaris di belakang beliau. Beliau membaca surat yang panjang. Selanjutnya beliau bertakbir dan ruku’. Beliau memanjangkan waktu ruku’ hampir menyerupai waktu berdiri. Selanjutnya beliau mengangkat kepala dan membaca “Sami’allaahu liman hamidah, rabbanaa walakal hamdu”. Lalu berdiri lagi dan membaca surat yang panjang, tapi lebih pendek daripada bacaan surat yang pertama. Kemudian beliau bertakbir dan ruku’. Waktu ruku’ ini lebih pendek daripada ruku’ pertama. Setelah itu beliau sujud. Pada rakaat berikutnya, beliau melakukan perbuatan yang sama hingga sempurnalah empat ruku’ dan empat sujud. Setelah itu matahari muncul seperti biasanya, yaitu sebelum beliau pulang ke rumah. Beliau terus berdiri dan menyampaikan khutbah, memuji Allah dengan puji-pujian yang layak bagi-Nya. Tak lama kemudian, beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukanlah karena kematian seseorang atau kehidupannya. Oleh karena itu, jika kau menyaksikan gerhana bergegaslah untuk mengerjakan shalat.” (HR. Muslim)

Ibnu Abbas juga meriwayatkan hadits shalat gerhana sebagaimana dicantumkan Imam Al Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab shahih beliau:

عنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ انْخَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ، فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ، فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلاً نَحْوًا مِنْ قِرَاءَةِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً ، ثُمَّ رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلاً ، وَهْوَ دُونَ الْقِيَامِ الأَوَّلِ ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً ، وَهْوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ ، ثُمَّ سَجَدَ ، ثُمَّ قَامَ قِيَامًا طَوِيلاً وَهْوَ دُونَ الْقِيَامِ الأَوَّلِ ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً ، وَهْوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ ، ثُمَّ رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلاً ، وَهْوَ دُونَ الْقِيَامِ الأَوَّلِ ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً ، وَهْوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ ، ثُمَّ سَجَدَ ، ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ تَجَلَّتِ الشَّمْسُ ، فَقَالَ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ

Dari Abdullah bin Abbas, bahwa pada suatu hari terjadi gerhana matahari. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berdiri untuk mengerjakan shalat. Beliau berdiri lama sekali, kira-kira sepanjang bacaan surat Al-Baqarah, kemudian beliau ruku’ juga sangat lama. Lalu berdiri kembali dengan waktu yang sangat lama, tetapi lebih pendek dibandingkan dengan waktu berdiri yang pertama tadi. Kemudian beliau ruku’ lagi yang lamanya lebih pendek daripada ruku’ pertama. Lalu beliau sujud. Selanjutnya beliau berdiri lagi dan waktu berdirinya sangat lama hingga hampir menyamai rakaat pertama. Setelah itu beliau ruku’ dan lamanya hampir sama dengan ruku’ yang pertama. Lalu berdiri lagi, tetapi lebih pendek dibanding dengan berdiri yang pertama. Kemudian ruku’ lagi yang lamanya lebih pendek daripada ruku’ pertama, dan kemudian sujud. Setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat, matahari telah kembali normal seperti biasa. Beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan itu adalah dua tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana matahari dan bulan itu bukanlah karena kematian atau kehidupan seeorang. Maka jika engkau melihatnya, ingatlah dan berzikirlah kepada Allah” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Abdil Barr mengatakan, “dua hadits di atas adalah hadits paling shahih mengenai shalat gerhana.”

Ibnu Qayyim mengatakan, “Hadits yang shahih, sharih, dan dapat dipakai sebagai pegangan dalam masalah shalat gerhana adalah dengan mengulangi ruku’ setiap rakaat, berdasarkan hadits Aisyah, Ibnu Abbas, Jabir, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Amr bin Ash, dan Abu Musa Al Atsari. Semua meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bahwa ruku’nya diulang dua kali dalam tiap raka’at. Para perawi yang meriwayatkan berulangnya ruku’ itu lebih banyak jumlahnya, lebih dapat dipercaya, dan lebih erat hubungannya dengan Rasulullah jika dibandingkan dengan perawi-perawi yang mengatakan tidak perlu melakukan ruku’ secara berulang-ulang. Begitu pula pendapat mazhab Maliki, Syafi’i, dan Ahmad. Tetapi Abu Hanifah berpendapat bahwa shalat gerhana itu adalah dua rakaat dan mengerjakannya seperti shalat Hari Raya atau Shalat Jum’at.
Jadi dapat diringkas dari tata cara pelaksanaan shalat gerhana sebagai berikut:

  1. Bertakbir, membaca istiftah, Isti’adzah, al-Fatihah, kemudian membaca surat yang panjang, setara surat Al-Baqarah.
  2. Ruku’ dengan ruku’ yang panjang (lama).
  3. Bangkit dari ruku’ dengan mengucapkan Sami’Allahu LIman Hamidah, Rabbanaa wa Lakal Hamd.
  4. Tidak langsung sujud, tetapi membaca kembali surat Al-Fatihah dan surat dari Al-Qur’an namun tidak sepanjang pada bacaan sebelumnya.
  5. Ruku’ kembali dengan ruku’ yang panjang tapi tidak sepanjang yang pertama.
  6. Bangkit dari ruku’ dengan mengucapkan, Sami’Allahu LIman Hamidah, Rabbanaa wa Lakal Hamd.
  7. Sujud, lalu duduk di antara dua sujud, kemudian sujud kembali.
  8. Kemudian berdiri untuk rakaat kedua, dan caranya seperti pada rakaat pertama tadi.

Catatan:

* Disunnahkan pelaksanaan shalat gerhana di masjid, tidak ada azan atau iqomah sebelumnya, hanya panggilan “Al-Shalatul Jami’ah.”

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, “Bahwa telah terjadi gerhana matahari di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam lalu beliau mengutus seorang untuk menyeru “Al-Shalatul Jami’ah,” maka mereka berkumpul dan beliau maju bertakbir dan shalat dua rakaat dengan empat ruku’ dan empat sujud.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr, ia mengatakan: “Ketika terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, diserukan “Al-Shalatul Jami’ah”. (HR. Al-Bukhari)

* Disunnahkan Imam untuk memberikan nasihat kepada manusia dengan berkhutbah setelah shalat, memperingatkan mereka agar tidak lalai dan memerintahkan mereka supaya memperbanyak doa, istighfar, dan amal shalih. Hal ini didasarkan pada hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, “Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah selesai dari shalat, beliau berdiri dan berkhutbah kepada jama’ah. Beliau memuji Allah dan menyanjungnya. Kemudian beliau mengatakan,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا ثُمَّ قَالَ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنْ اللَّهِ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلبَكَيْتُمْ كَثِيرًا

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Maka jika kalian melihatnya bersegeralah berdoa kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah. Kemudian beliau bersabda: Wahai Umat Muhammad, demi allah, tidak ada seorangpun yang lebih pencemburu daripada Allah. (Dia cemburu) hamba sahaya laki-laki dan hamba sahaya perampuan-Nya berzina. Wahai umat Muhammad, demi Allah kalau saja kalian tahu apa yang aku ketahui niscaya kalian sedikti tertawa dan banyak menangis.” (HR. Al-Bukhari)

Demikian, pembahasan shalat gerhana, baik hukum, waktu maupun tata caranya, Wallahu alam bishowab.

 

Sumber : Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq , Ibnul Hajar dalam Fath al-Baari, Bab Shadaqah fi al-Kusuf.

MUI Akan Gelar Pertemuan Bahas Solusi Perdamaian Suriah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Luar Negeri KH Muhyidin Junaidi mengatakan, pihaknya akan menggelar pertemuan untuk mencari solusi dari konflik Suriah. Pertemuan ini akan digelar usai perhelatan Ijtima Ulama pada bulan Maret mendatang.

“Kami ingin memberikan penjelasan komperhensif soal peran Jakarta atas konflik di Timur Tengah karena Indonesia punya peran strategis dalam skala global,” kata Muhyiddin di Jakarta, Selasa (30/1/2018) sebagaimana dilansir Anadolu Agency.

Pertemuan ini akan dihadiri oleh Duta Besar Suriah, Menteri Luar Negeri, ormas Islam, pemerhati Timur Tengah dan lembaga kemanusiaan Indonesia yang telah berkiprah di Suriah.

“Kami ingin meminta penjelasan dari Dubes karena ada pihak oposisi yang aspirasinya juga harus diterima dan didengar,” jelas Muhyiddin.

MUI juga ingin mengetahui lebih jauh kontribusi yang sudah dilakukan pemerintah Indonesia dalam menciptakan perdamaian di Suriah. Mengingat konferensi soal Suriah juga tengah berlangsung di Sochi, Rusia.

“Masyarakat Indonesia secara umum melihat Suriah sudah hancur, padahal ada di beberapa daerah masih aman. Kita ingin mencari perdamaian seperti apa yang diinginkan,” ujarnya.

Menurut Muhyiddin, MUI sudah memiliki sikap jelas terkait konflik di Suriah.

Muhyiddin menyampaikan jika pihak oposisi hendak menggantikan rezim, seyogyanya hal itu dilakukan dengan cara-cara konstitusional.

“Pemerintah dan oposisi Suriah harus duduk bersama secara dialogis untuk mencari perdamaian,” jelas Muhyiddin.

MUI akan menyampaikan sejumlah rekomendasi dari hasil pertemuan ini.

Perang sipil meletus di Suriah pada awal 2011, ketika rezim Bashar al-Assad bertindak represif kepada demonstrasi pro-demokrasi. Perang di Suriah telag merenggut ratusan ribu jiwa, dan lebih dari sepuluh juta lainnya terpaksa mengungsi.

BMKG: Gerhana Bulan Total 2018 Tidak Berbahaya, Bisa Dilihat Mata Telanjang

DENPASAR (Jurnalislam.com) – Fenomena gerhana bulan total diperkirakan akan berlangsung besok, Rabu 31 Januari 2018. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Wilayah III Denpasar, melaporkan bahwa fenomena yang jarang terlihat ini akan berlangsung selama 1 jam 16 menit.

“Adapun keseluruhan gerhana (gerhana sebagian dan total) berlangsung 3 jam 22 menit,” kata laporan itu.

BMKG memaparkan secara rinci waktu terjadinya gerhana. Gerhana sebagian mulai muncul pada pukul 18.48 WIB/ 19.48 WITA/ 20.48 WIT. Sedangkan gerhana total mulai pukul 19.51 WIB/ 20.51 WITA/ 21.51 WIT.

“Akhir gerhana total 21.07 WIB/ 22.07 WITA/ 23.07 WIT. Dan akhir gerhana sebagian pukul 22.11 WIB/ 23.11 WITA/ 00.11 WIT,” kata laporan BMKG memperkirakan.

Shalat Gerhana: Hukum, Waktu dan Tata Caranya

BMKG menjelaskan bahwa seluruh Indonesia bisa melihat rangkaian keseluruhan gerhana tersebut. Lembaga pemantau iklim dan fenomena alam itu juga menegaskan bahwa gerhana bulan tidak berbahaya dan bisa disaksikan dengan mata telanjang maupun menggunakan teleskop atau binokuler.

Tanggapi Pernyataan Kapolri, Ansharusyariah: Ini Politik Belah Bambu

SOLO (Jurnalislam.com) – Pernyataan Kapolri Jenderal Tito Karanvian yang mengatakan ormas Islam selain Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah adalah perontok bangsa menuai kecaman. Amir Jama’ah Ansharusy Syariah Jawa Tengah Ustadz Surawijaya menilai ini adalah politik belah bambu.

“Ini adalah politik belah bambu yang dilakukan oleh seorang figur publik dan tidak pantas dilakukan oleh seorang Kapolri,” katanya kepada Jurnalislam.com, Selasa (30/01/2018).

Menurut pria yang karib disapa Cak Rowi, Indonesia adalah hasil perjuangan umat Islam seluruhnya dan bukan hanya NU dan Muhammadiyah. Cak Rowi sangat menyayangkan pernyataan tersebut.

Cak Rowi meminta Kapori untuk mengklarifikasi pernyataan tersebut dan meminta maaf kepada umat Islam.

“Agar masyarakat tidak semakin tidak percaya khususnya umat Islam terhadap lembaga kepolisian,” ujarnya.

Seperti diketahui, Tito yang dimuat INews TV dalam sebuah pertemuan dengan jamaah NU yang viral di media sosial dalam dua hari terakhir. Dalam rekaman tersebut, Kapolri mengatakan, “perintah saya melalui video conference, minggu lalu, dua minggu lalu saat Rapim Polri, semua pimpinan Polri hadir, saya sampaikan tegas, menghadapi situasi saat ini, perkuat NU dan Muhammadiyah,” kata Kapolri.

Tito meminta agar jajaran Kepolisian untuk mendukung NU dan Muhammadiyah secara maksimal. “Semua Kapolda saya wajibkan untuk membangun hubungan dengan NU dan Muhammadiyah tingkat propinsi. Semua Kapolres wajib untuk membuat kegiatan-kegiatan untuk memperkuat para pengurus cabang di tingkat kabupaten kota,” lanjut Tito.

Berikut video pernyataan Kapolri tersebut:

https://www.youtube.com/watch?v=EAO0dlBb-YU

Tangkal Pendangkalan Aqidah dan Kerusakan Moral, Ulama dan Aktivis Islam Tasikmalaya Deklarasikan Ikatan Dai Almumtaz

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Ribuan umat Islam menghadiri Deklarasi Ikatan Dai Almumtaz (IKDAM) di Desa Gunung Siman, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Senin (29/1/2018) malam. Acara juga dihadiri unsur muspida Kota Tasikmalaya, ormas Islam, organisasi kepemudaan serta para ulama.

IKDAM merupakan badan otonom Aliansi Aktivis dan Masyarakat Muslim Tasikmalaya (Almumtaz) dibawah divisi dakwah dan pendidikan yang lahir berdasarkan hasil musyawarah pengurus Almumtaz pada tanggal 17 Nopember 2017.

Pembentukan IKDAM didasarkan pada beberapa hal diantaranya, keprihatinan atas semakin maraknya pendangkalan aqidah umat Islam, kerusakan moral generasi muda serta pelecehan terhadap ajaran Islam dan kaum muslimin.

“Semakin maraknya gerakan kemunkaran, kerusakan moral generasi muda dan berbagai pelecehan terhadap Islam dan kaum muslimin dengan berbagai cara baik melalui pendidikan, sosial kemasyarakatan maupun politik,” kata Ketua Almumtaz Hilmi Afwan.

Komitmen IKDAM ini dituangkan dalam poin-poin deklarasi sebagai berikut:

  1. Menjadikan lembaga Ikatan Da’i Almumtaz sebagai forum koordinasi dan konsolidasi para da’i penggerak amar ma’ruf nahyi munkar dan penegakan yariat Islam
  2. Membangun dan mengembalikan pemahaman lslam berdasarkan Al-Quran dan Sunnah sesuai manhaj ulama salafush shaleh bagi segenap umat manusia.
  3. Mengokohkan Ukhuwah Islamiyah dalam realita kekinian umat Islam.
  4. Membangun, menyebarkan, mengamalkan sikap hidup sesuai tuntunan syariah dan membela nilai-nilai Islam.
  5. Mengkoordinasikan dan mengkonsolidasikan para dai dalam gerakan amar ma’ruf nahyi munkar dan penegakan Syariah.

Almumtaz juga mengukuhkan kepengurusan IKDAM yang diketuai oleh Ustadz Ikmal Isbahizzaman, S.Th.I, M.Pd.I, Ustadz Furqon Abdullah sebagai wakil ketua, Ustadz Abu Fauzana sebagai sekretaris, dan Ustadz Ahmad Ruslan Abdul Ghani sebagai bendahara.

Deklarasi IKDAM ditutup dengan Tabligh Akbar yang diisi oleh KH. Abu Muhammad Jibriel dan Ketua Majelis Tanfidziyah Majelis Mujahidin Ustadz Irfan S Awwas.

Untuk diketahui, Almumtaz adalah koordinator ormas-ormas Islam, OKP, aktivis dan pesantren-pesantren di Tasikmalaya yang didirikan pada tahun 2014 lalu. Aliansi ini didirikan sebagai wadah silaturahim dan koordinasi guna memperkuat ukhuwah Islamiyah dalam menjaga nilai-nilai Islam di Kota Tasilmalaya sebagai kota yang mempunyai visi relijius Islami.

Konferensi Kota yang Diberkati: Yerusalem dapat Diselesaikan oleh Persatuan Umat Islam di Dunia

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Kepala Urusan Agama Turki Ali Erbas mengatakan pada hari Senin (29/1/2018) bahwa masalah Palestina dan Yerusalem dapat dipecahkan melalui usaha-usaha persatuan dari dunia Muslim.

Acara di Istanbul tentang “Yerusalem: Kota yang Diberkati oleh Wahyu“, yang diselenggarakan oleh Urusan Agama Turki, bertujuan untuk menarik perhatian mengenai pentingnya Yerusalem dalam iman Islam dan untuk menekankan solidaritas terhadap orang-orang Palestina yang tertindas.

Berbicara di acara di Istanbul, Erbas mengatakan: “Sekarang jelas bahwa mereka yang menjajah Palestina dan Yerusalem dan menyeret dunia ke dalam perang dan kekacauan adalah pihak yang tidak peduli dan tidak memperhitungkan nilai-nilai seperti hukum, belas kasihan, suara hati, keadilan dan hak asasi manusia. Satu-satunya solusi pada saat ini adalah umat Islam bersatu bersama-sama mencegah kezhaliman dan penjajahan,” lansir World Bulletin.

Dihadiri Dewan Gereja Dunia, OKI Kembali Gelar Konferensi Internasional Bahas Yerusalem

Dia menggarisbawahi bahwa Israel terus melakukan penindasan terhadap rakyat Palestina dan menduduki wilayah mereka dengan dukungan dari AS dan kekuatan global lainnya.

“Komunitas penyerang, yang dibangun oleh segelintir minoritas di pusat geografi Islam, telah menjadi hambatan terbesar bagi perdamaian di Timur Tengah – dengan dukungan sejumlah pusat kekuasaan, terutama Amerika Serikat – melalui sembrono dan sikap nyeleneh yang mengabaikan hukum internasional, moralitas dan kesucian keyakinan lain. ”

Erbas menyalahkan posisi masyarakat Islam yang tersebar dan lemah di dunia untuk situasi di Yerusalem.

“Negeri-negeri Islam harus meninggalkan pertengkaran dan konflik buatan di antara mereka sendiri,” tegasnya.

“Dunia Islam yang kuat dan sejahtera akan menjamin kedamaian dan kepercayaan seluruh umat manusia serta menjadi hati nurani dan harapan akan hak asasi manusia, hukum, keadilan dan keselamatan”, tambahnya.

“Kami tahu bahwa pertempuran ras dan denominasi […] adalah virus mematikan yang ditinggalkan oleh orang lain dalam geografi ini.”

Begini Ancaman Trump bagi Negara yang Menolak Yerusalem sebagai Ibukota Israel

Ketua Kantor Muslim Kaukasia di Azerbaijan, Syeikhul Islam Allahshukur Pashazade bersumpah untuk mendukung perjuangan Palestina dan berterima kasih kepada Turki atas dukungannya kepada Palestina dan Yerusalem.

Sekitar 70 ilmuwan Muslim dan peneliti dari 20 negara, termasuk Pakistan, Indonesia, Irak, Yordania, Azerbaijan, Kazakhstan, Inggris, Prancis, Kenya, Somalia, dan Uganda, ikut serta dalam acara dua hari tersebut.