Tindak Lanjuti Penangkapan, Pemerintah Arab Ciduk Puluhan Anggota Keluarga Kerajaan

9 November 2017
Tindak Lanjuti Penangkapan, Pemerintah Arab Ciduk Puluhan Anggota Keluarga Kerajaan

RIYADH (Jurnalislam.com) – Pemerintah Arab Saudi telah melakukan penangkapan lebih lanjut dan membekukan lebih banyak rekening bank dalam tindakan anti-korupsi yang meluas terhadap elite politik dan bisnis kerajaan, sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan pada hari Rabu (8/11/2017), Middle East Eye melaporkan.

Puluhan anggota keluarga kerajaan, pejabat dan eksekutif bisnis telah ditahan dalam pembersihan yang diumumkan pada hari Sabtu. Mereka menghadapi tuduhan pencucian uang, penyuapan, pemerasan dan pemanfaatan jabatan publik untuk keuntungan pribadi.

Namun sumber-sumber tersebut, yang berbicara pada hari Rabu, mengatakan bahwa sejumlah orang lain yang dicurigai melakukan pelanggaran juga ditahan dalam perluasan tindakan keras tersebut, yang dipandang sebagai inisiatif pewaris takhta yang mahakuasa, Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

Yang lain berada di bawah pengawasan dan ditelepon oleh penyidik ​​mengenai keuangan mereka namun tampaknya tetap bebas, salah satu sumber mengatakan, menambahkan bahwa jumlah orang yang menjadi sasaran tindakan keras tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi ratusan orang.

Rekening bank domestik yang dibekukan sebagai hasil pembersihan berjumlah lebih dari 1.700 dan meningkat, naik dari 1.200 yang dilaporkan pada hari Selasa, sumber perbankan mengatakan.

Beberapa yang baru-baru ini ditahan termasuk individu yang memiliki hubungan dengan keluarga dekat mendiang pangeran mahkota dan menteri pertahanan Pangeran Sultan bin Abdulaziz yang meninggal pada 2011, kata sumber tersebut.

Yang lain tampaknya adalah manajer dan pejabat tingkat rendah, salah satu sumber mengatakan.

Dituduh Korupsi, 11 Pangeran Arab dan Mantan Menteri Ditangkap

Banyak warga Saudi menyanjung pembersihan tersebut sebagai serangan terhadap pencurian dana negara oleh orang kaya, dan Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa mereka yang ditangkap telah “memerah susu negara mereka selama bertahun-tahun”.

Namun beberapa pejabat Barat menyatakan kekhawatiran atas kemungkinan konsekuensi tindakan tersebut terhadap kesukuan dan politik kerajaan eksportir minyak terbesar di dunia tersebut.

Pasar saham Arab Saudi terus turun pada awal perdagangan hari Rabu karena kekhawatiran tentang dampak ekonomi dari pembersihan anti-korupsinya.

Indeks Saudi TASI 1,0 persen lebih rendah setelah setengah jam perdagangan. Saham perusahaan yang terkait dengan orang-orang yang ditahan dalam penyelidikan meluncur lebih jauh.

Akhir Selasa, Putra Mahkota Mohammed bin Salman dan bank sentral Saudi berusaha meredakan kekhawatiran tentang tindakan keras tersebut.

Mereka mengatakan bahwa walaupun beberapa individu menjadi target dan membekukan rekening bank mereka, perusahaan nasional dan multinasional – termasuk yang sebagian atau seluruhnya dimiliki oleh individu yang sedang diselidiki – tidak akan terganggu.

Otoritas anti-korupsi juga membekukan rekening bank Pangeran Mohammed bin Nayef, salah satu anggota paling senior dari penguasa Al Sauds, dan beberapa anggota keluarganya langsung, sumber menambahkan.

Pangeran Mohammed, atau MbN seperti yang diketanal, digulingkan sebagai putra mahkota pada bulan Juni ketika Raja Salman menggantikannya dengan putra mahkota Pangeran Mohammed bin Salman.

Sejak hari Ahad, bank sentral telah memperluas daftar akun sehingga mengharuskan kreditur membekukannya setiap jam, seorang bankir regional mengatakan, menolak disebutkan namanya karena dia tidak berwenang untuk berbicara dengan media.

MbN membuat penampilan publik pertamanya sejak penggulingannya pada hari Selasa saat pemakaman Pangeran Mansour bin Muqrin, wakil gubernur provinsi Asir, yang tewas dalam sebuah kecelakaan helikopter hari Ahad. Tidak diketahui penyebab terjadinya kecelakaan itu

Pangeran Saudi Tewas dalam Kecelakaan Helikopter di Perbatasan Yaman

Di antara eksekutif bisnis yang ditahan dalam penyelidikan sejauh ini adalah miliarder Pangeran Alwaleed bin Talal, ketua firma investasi Kingdom Holding; Nasser bin Aqeel al-Tayyar, pendiri Al Tayyar Travel; dan Amr al-Dabbagh, ketua pembangun Red Sea International.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan pada hari Selasa bahwa pihaknya telah mendesak Arab Saudi untuk melakukan penuntutan terhadap pejabat yang ditahan.

Mengomentari pembersihan tersebut, Human Rights Watch meminta pihak berwenang Saudi untuk “segera mengungkapkan dasar hukum dan pembuktian penahanan setiap orang dan memastikan bahwa setiap orang yang ditahan mendapatkan hak proses hukum mereka.

“Sangat bagus bahwa pihak berwenang Saudi menyatakan bahwa mereka ingin mengatasi bencana korupsi, namun cara yang tepat untuk melakukannya adalah melalui penyelidikan peradilan yang cermat terhadap tindakan pelanggaran yang sebenarnya, bukan penangkapan massal sensasional di sebuah hotel mewah,” pejabat Right Watch Sarah Leah Whitson dalam sebuah pernyataan.