Serangan Mematikan Pejuang Ghouta Targetkan Pos Militer Rezim Assad di Ibukota Suriah

DAMASKUS (Jurnalislam.com) – Serangan roket pada sebuah pos militer pasukan Syiah Assad di sebuah pasar di pinggiran kota Damaskus menewaskan 35 orang pada hari Selasa (20/3/2018) dan merupakan salah satu serangan paling mematikan di ibukota Suriah sejak awal konflik Suriah pada tahun 2011, kata televisi rezim pemerintah Suriah, lansir Middle East Eye.

Serangan roket oleh kelompok oposisi juga melukai 23 orang di daerah Jaramana di timur Damaskus, televisi rezim mengutip seorang pejabat polisi.

Awalnya dilaporkan 20 orang tewas dalam serangan tersebut.

51 Pasukan Assad Tewas dalam Pertempuran di Timur Ghouta dan Damaskus

Seorang sopir taksi, yang memilih untuk tidak memberikan nama, mengatakan kepada AFP bahwa dia berada di dekat lokasi saat roket menghantam daerah tersebut.

“Menambahkan bahwa pos pemeriksaan militer berada di sebelah pasar,” kata pria berusia 41 tahun itu

Sejak 18 Februari, pasukan rezim Syiah Assad dan Rusia melancarkan serangan intens terhadap oposisi di benteng oposisi di luar Damaskus.

Serangan udara dan darat telah menyita sedikitnya 80 persen wilayah Ghouta timur dan membunuh lebih dari 1.450 warga sipil, kata the Syrian Observatory for Human Rights.

Sekitar 50 warga sipil juga tewas akibat serangan udara rezim dan Rusia pada wilyah, kata monitor yang berbasis di Inggris itu.

Bersembunyi di dalam Sekolah 16 Bocah Tewas oleh Serangan Udara Rezim Assad

PBB mengatakan pada hari Selasa bahwa pihaknya “sangat prihatin” atas keamanan puluhan ribu warga sipil yang melarikan diri dari Ghouta timur serta prosedur pemeriksaan keamanan bagi mereka yang mencoba untuk pergi.

Sekitar 50.000 warga sipil telah keluar dari daerah kantong menuju daerah yang dikendalikan pemerintah.

“Eksodus ini cukup kacau … ada pemboman yang sedang berlangsung, ini adalah zona perang,” juru bicara badan kemanusiaan PBB Jens Laerke mengatakan kepada wartawan di Jenewa.

“Kami sangat prihatin atas keselamatan mereka,” katanya.

Badan pengungsi PBB tersebut pada hari Selasa juga mendesak untuk melindungi mereka yang telah melarikan diri dan melindungi ratusan ribu warga sipil yang masih terjebak pertempuran dan sangat membutuhkan bantuan.

 

Bersembunyi di dalam Sekolah 16 Bocah Tewas oleh Serangan Udara Rezim Assad

GHOUTA (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 56 warga tewas dalam serangan udara oleh pesawat tempur rezim Suriah dan agresor Rusia di Ghouta Timur, menurut kelompok pertahanan sipil Suriah yang dikenal sebagai the White Helmets.

Pada Senin malam, sedikitnya 16 anak-anak dan empat perempuan dilaporkan terbunuh saat berlindung di sebuah sekolah di kota Irbin, yang dilanda serangan udara.

Aktivis mengatakan kepada Al Jazeera, Selasa (20/3/2018) bahwa korban tewas ketika rezim Assad membombardir daerah kantong kembali setelah jeda singkat.

Sebaliknya, TV rezim Suriah melaporkan pada hari Selasa bahwa sedikitnya 35 orang tewas setelah roket ditembakkan ke arah pos militer yang dikendalikan pemerintah di ibukota, Damaskus.

Serangan Mematikan Pejuang Ghouta Targetkan Pos Militer Rezim Assad di Ibukota Suriah

Kantor berita SANA menyalahkan “oposisi bersenjata di Ghouta Timur” karena menembakkan roket, yang menargetkan pasar di lingkungan Kashkoul di Jaramana, pinggiran Damaskus tenggara.

Ghouta Timur, yang berada di bawah kendali oposisi sejak pertengahan 2013, berada di bawah serangan bom tanpa henti, yang diluncurkan oleh pasukan Suriah dengan dukungan Rusia sebulan yang lalu.

Menurut PBB, ratusan orang tewas ketika pasukan rezim Assad

dan sekutu Rusianya berusaha mengusir kelompok-kelompok oposisi bersenjata dari Ghouta Timur.

Namun aktivis dan pemantau mengatakan bahwa jumlah korban tewas jauh lebih tinggi, dengan beberapa melaporkan sebanyak 1.400 orang terbunuh.

Presiden Perancis: Kami akan Intervensi Militer ke Ghouta, Serang Suriah

Jaish al-Islam, salah satu kelompok oposisi bersenjata di daerah tersebut, melakukan serangan balik pada hari Senin, kata aktivis.

Pasukan Syiah Nushairiyah Bashar al-Assad mengklaim berhasil menguasai 80 persen wilayah tersebut.

Reporter Al Jazeera Zeina Khodr, yang melaporkan dari Beirut di negara tetangga Lebanon, mengatakan bahwa telah terjadi pembicaraan antara Rusia dan pejuang oposisi, namun pemboman baru tersebut merupakan indikasi bahwa perundingan tidak berjalan dengan baik.

Aliansi pro-pemerintah menginginkan penyerahan penuh, sedangkan oposisi menginginkan kesepakatan gencatan senjata, kata wartawan kami.

“Oposisi sekarang berada dalam posisi lemah, dan menyusut di wilayah yang mereka kuasai di bawah serangan besar, terutama di kota Douma … dan Irbin,” katanya.

Terus Dibombardir Rezim, Gelombang Pengungsi Ghouta Capai Jumlah Tertinggi

Meskipun ribuan orang telah melarikan diri ke berbagai tempat perlindungan di wilayah yang dikuasai pemerintah, sekitar 340.000 orang masih terperangkap di dalam, menderita kekurangan makanan akut dan kekurangan pasokan medis, para aktivis mengatakan kepada Al Jazeera.

Warga di Ghouta Timur telah meminta dukungan internasional dan agar pemantau ditempatkan di lapangan untuk memastikan keselamatan dan perlindungan mereka jika pasukan rezim Syiah Nushairiyah menguasai lebih banyak wilayah di daerah tersebut.

Pada hari Senin, Assad mengunjungi pos-pos tentaranya di daerah tersebut.

MUI Minta Umat Islam Papua Tidak Terprovokasi Ancaman PGGJ

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Kerukunan Umat Beragama, KH Yusnar Yusuf menyayangkan tuntutan Persekutuan Gereja-gereja di Kabupaten Jayapura (PGGJ) terkait pembangunan Masjid Al-Aqsha yang melebar dari pokok permasalahan. Yusnar juga menyebut tuntutan tersebut disertai ancaman.

Melalui surat edaran, PGGJ menuntut pembangunan menara masjid harus dibongkar karena menara masjid tidak boleh lebih tinggi dari bangunan gereja di sekitarnya. PGGJ juga menuntut umat Islam tidak boleh melakukan dakwah, larangan berjilbab, pengeras suara masjid harus diarahkan ke dalam masjid dan lain sebagainya.

Menag Berharap Masalah Masjid di Papua Selesai Lewat Musyawarah

“Nah ancaman yang dilakukan oleh PGGJ inilah yang memicu perbedaan pendapat yang bisa menjadi preseden buruk,” katanya kepada wartawan di Kantor MUI, Selasa (20/3/2018).

Padahal, lanjutnya, umat Islam selalu menjaga kondusifitas umat beragama lainnya yang hidup di daerah yang mayoritas muslim. “Disini tidak terjadi toleransi, tapi intoleransi,” ujarnya.

Kendati demikian, Yusnar meminta umat Islam di Jayapura dan Papua tidak terprovokasi.

Bidang Kerukunan Umat Beragama MUI juga menginformasikan, pada Senin (19/3/2018) digelar rapat dengan semua stakeholder dan unsur masyarakat yang ada di Jayapura. Dari pertemuan tersebut dibentuk tim kerja untuk menyelesaikan masalah terkait tuntutan PGGJ pada umat Islam. Artinya, saat terjadi musyawarah pada 19 Maret 2018 tidak ada solusi sehingga dibentuk tim kerja untuk menyelesaikan masalah.

“Kita mengharapkan ini tidak terjadi konflik, kita minta supaya terjadi kedamaian,” pungkasnya.

Reporter: Gio

Diundang Konferensi Internasional, MUI Perjuangkan Kemerdekaan Palestina

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri, Muhyiddin Junaidi sebagai delegasi Indonesia menyatakan akan memperjuangkan kemerdekaan Palestina dalam Konferensi Internasional yang digelar tanggal 11-13 April di Ramallah, Palestina.

“Lima delegasi Indonesia sepakat akan membantu Palestina dengan all out,” katanya kepada wartawan di kantornya, Selasa (20/3/2018).

Muhyiddin menjelaskan dalam konferensi internasional nanti akan menyampaikan beberapa usulan. Diantaranya tidak lagi mendengarkan Amerika sebagai peace negotiator.

“Karena Amerika sudah tidak bersikap netral, dengan berpihak kepada Israel,” pungkasnya.

Kelima delegasi yang diundang untuk menghadiri konferensi internasional ke-9 di Ramallah pada 11-13 April 2018 adalah Muhyiddin Junaidi mewakili MUI, Din Syamsudin mewakili Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP), Wakil Menteri Luar Negeri dan beberapa tokoh yang lain.

ReporterL Gio

Pekan ini Pangeran Arab Tour ke Amerika Serikat, Begini Kata Pengamat Timur Tengah

RIYADH (Jurnalislam.com) – Semua mata akan tertuju pada Pangeran Mahkota Saudi Mohammed bin Salman pekan ini, saat dia melakukan kunjungan pertamanya ke Amerika Serikat setelah mengkonsolidasikan pengaruhnya di kerajaan Teluk.

Pemimpin Saudi, yang biasa disebut MBS, akan bertemu dengan pemimpin politik dan bisnis di Washington, New York, Silicon Valley dan tempat lain, dalam tur dua pekan di seluruh negeri.

Dia diharapkan bertemu Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa (20/3/2018), dan mengadakan pertemuan lain dengan para pemimpin bisnis di industri teknologi, saat putra mahkota itu mengamati investasi AS untuk mendukung rencana diversifikasi ekonomi Saudi.

Raja Salman Dukung Palestina Sedangkan Anaknya Pangeran Salman Dukung Donald Trump

Namun tujuan utama dari kunjungan itu adalah memperbaiki citra Arab Saudi di benak publik AS, kata Nader Hashemi, direktur Pusat Studi Timur Tengah di Sekolah Studi Internasional Josef Korbel Universitas Denver.

“Arab Saudi tahu bahwa itu memiliki masalah dalam hal citra (tampilan),” kata Hashemi kepada Al Jazeera.

 Mohammed bin Salman
Mohammed bin Salman

Dia mengatakan bahwa sebagian besar masalah itu didasarkan pada pandangan “bahwa Arab Saudi adalah salah satu negara di Timur Tengah yang mempromosikan interpretasi Islam yang sangat konservatif dan otoriter.”

Untuk mengatasinya, bin Salman mencoba menampilkan (mencitrakan) dirinya “sebagai angin segar, seorang reformis (pembaharu) … sebagai pembebas perempuan (pencetus emansipasi wanita), sebagai seseorang yang pro-reformasi [dan] sebagai seseorang yang membawa Arab Saudi ke arah yang berbeda (moderat),” kata Hashemi.

“Arab Saudi dan firma hubungan masyarakat dan sekutunya di Amerika Serikat telah menghabiskan banyak uang untuk mencoba menghadirkan pangeran mahkota Saudi yang baru sebagai bentuk pemimpin politik yang berbeda.”

Putra mahkota menggunakan strategi hubungan masyarakat yang sama dalam kunjungan tiga hari ke Inggris, di mana ia bertemu dengan pejabat senior Inggris, termasuk Perdana Menteri Theresa May, serta berbagai pemimpin bisnis dan pertahanan.

Pemerintah Saudi juga meluncurkan kampanye hubungan masyarakat sebelum kunjungan tersebut, memasang iklan di surat kabar Inggris dan di papan reklame sebagai pencitraan.

Dorongan media juga sedang berlangsung di AS, di mana program CBS News, 60 Minutes, menayangkan wawancara eksklusif dengan bin Salman pada 18 Maret, malam sebelum kunjungannya ke Washington secara resmi dimulai.

Tapi seperti di Inggris, kunjungan pangeran mahkota tersebut juga diperkirakan akan dipenuhi oleh pemrotes, dengan demonstrasi yang direncanakan di kota-kota seperti Boston dan Washington DC.

Pemimpin Turki: Uni Eropa Langgar Janji Bantuan Pengungsi Suriah

ANKARA (Jurnalislam.com) – Pidato di the Bestepe Culture and Congress Center di kompleks kepresidenan di ibukota Ankara, Pemimpin Turki, Recep Tayyip Erdogan, menuduh Uni Eropa melanggar janji bantuan pengungsi, mengatakan bahwa dia akan meminta tahap kedua sebesar € 3 milyar ($ 3,69 milyar) untuk pengungsi Suriah selama pertemuan puncak di Bulgaria pekan depan yang hingga kini belum disalurkan, lansir Anadolu Agency, Senin (19/3/2018).

KTT Uni Eropa-Turki ditetapkan pada 26 Maret di Varna, Bulgaria, yang mempertemukan para pemimpin Uni Eropa dan presiden Turki.

Presiden mengatakan Uni Eropa sedang membahas sisa € 3 miliar namun negaranya tidak menerima semua jumlah yang dijanjikan di awal bahkan setelah dua tahun kesepakatan migrasi.

“Janji-janji itu belum dipenuhi, mereka mengatakan akan mengalokasikan 3 miliar euro ditambah bantuan lain sebesar 3 miliar euro, namun sejauh ini 850 juta euro telah kami terima,” kata Erdogan.

Pekan lalu, Komisi Uni Eropa menawarkan tambahan € 3 miliar ($ 3,72 miliar) untuk pengungsi Suriah di Turki sebagai bagian dari kesepakatan 2016.

Komisaris Eropa untuk Migrasi, Urusan Dalam Negeri, dan Kewarganegaraan Dimitris Avramopoulos telah mengatakan bahwa Uni Eropa akan menyerahkan tahap kedua sebesar € 3 miliar untuk proyek-proyek yang mendukung pengungsi Suriah di Turki.

Uni Eropa Ajak Dunia Bersatu Desak Assad Hentikan Pembantaian Warga Ghouta Timur

Pada tahun 2016, Turki dan Uni Eropa menandatangani kesepakatan untuk membendung aliran migrasi tidak teratur melalui Laut Aegea dengan mengambil langkah-langkah ketat terhadap pedagang manusia dan meningkatkan kondisi bagi hampir 3 juta pengungsi Suriah di Turki.

Kesepakatan tersebut juga memungkinkan percepatan penawaran keanggotaan Uni Eropa bagi Turki dan perjalanan bebas visa untuk warga negara Turki di wilayah Schengen, dengan syarat bahwa Ankara memenuhi semua 72 persyaratan yang ditetapkan oleh UE.

Turki telah lama mengeluh bahwa UE lamban mengirimkan dana yang dijanjikan untuk pengungsi dan gagal mencapai kesepakatan mengenai perjalanan bebas visa.

Erdogan: Operasi Militer Turki Berlanjut ke Manbij

ANKARA (Jurnalislam.com) – Operasi militer yang dipimpin Turki di wilayah Afrin Suriah akan berlanjut sampai koridor teror melalui Manbij, Ayn al-Arab, Tell Abyad, Ras al-Ayn, dan Qamishli dihapus, Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan Senin (19/3/2018), lansir Anadolu Agency.

Erdogan mengeluarkan pernyataan tersebut setelah tentara Turki dan pejuang Free Syrian Army mengambil alih pusat kota Afrin pada hari Ahad dini hari.

Berbicara di the Bestepe Culture and Congress Center di kompleks kepresidenan di ibukota Ankara, presiden mengatakan: “Operasi militer akan berlangsung sampai koridor teror melalui Manbij, Ayn al-Arab, Telah Abyad, Ras al-Ayn, Qamishli telah dibersihkan.”

Apalagi, katanya 3.622 teroris telah “dinetralisir” sejak awal Operation Olive Branch di Afrin barat laut Suriah.

Selama Operasi Militer, 29 Desa Juga Dibebaskan Turki dari Milisi Dukungan AS

Otoritas Turki sering menggunakan kata “dinetralisir” dalam pernyataan mereka untuk menyiratkan teroris yang bersangkutan menyerah atau terbunuh atau tertangkap.

Erdogan mengatakan bahwa tahap terpenting dari Operation Olive Branch diselesaikan setelah menguasai pusat kota Afrin.

“Kami telah menghilangkan sebagian besar koridor teror di wilayah ini,” katanya.

Erdogan juga mengisyaratkan adanya operasi lain melawan kelompok teror PKK di kota Sinjar, Irak.

“Kita bisa tiba-tiba datang pada suatu malam di Sinjar Irak dan menyingkirkan teroris PKK di sana,” kata Erdogan.

Pada pertengahan 2014, PKK berhasil mendirikan pijakan di Sinjar dengan dalih bahwa mereka “melindungi” komunitas Ezidi setempat dari kelompok Islamic State (IS).

Turki meluncurkan Operation Olive Branch pada 20 Januari untuk membersihkan kelompok teroris dari Afrin di Suriah barat laut di tengah ancaman yang berkembang yang ditimbulkan dari wilayah tersebut.

Inilah Perbandingan Kerusakan Kota Akibat Operasi Militer oleh Turki, Rusia, AS dan Suriah

Pada hari Ahad, pasukan pendukung Turki membebaskan kota Afrin, yang merupakan tempat persembunyian utama bagi PYD/PKK sejak 2012.

Menurut Staf Umum Turki, Operation Olive Branch bertujuan untuk membangun keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan Turki dan wilayah Timur Tengah serta melindungi penduduk Suriah dari kekejaman dan penindasan teroris.

Operasi tersebut dilakukan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, resolusi Dewan Keamanan PBB, hak pembelaan diri berdasarkan piagam PBB, dan penghormatan terhadap integritas wilayah Suriah, katanya.

Militer juga mengatakan bahwa hanya target militer yang dihancurkan dan “perhatian sepenuhnya” diambil untuk menghindari penyalahgunaan warga sipil manapun.

Inilah Perbandingan Kerusakan Kota Akibat Operasi Militer oleh Turki, Rusia, AS dan Suriah

ANKARA (Jurnalislam.com) – Militer Turki pada hari Senin (19/3/2018) mengatakan bahwa warga sipil, situs sejarah, budaya dan tempat ibadah “tidak diganggu gugat” oleh pasukan Turki.

Angkatan Bersenjata Turki, bersama dengan Free Syrian Army, mengambil kendali penuh terhadap pusat kota Afrin di Suriah barat laut pada hari Ahad (18/3/2018) pukul 8.30 pagi waktu setempat (GMT0530).

“Warga sipil, lingkungan, sejarah, agama dan budaya semuanya tidak dapat diganggu gugat oleh Angkatan Bersenjata Turki,” menurut pernyataan yang disebarkan oleh Angkatan Bersenjata Turki di Twitter.

Angkatan Bersenjata Turki juga merilis foto pasca operasi Raqqah, Aleppo, Mosul dan Ghouta Timur untuk membandingkan situasi kota-kota tersebut saat ini dengan Afrin.

Pusat kota Afrin dibersihkan dari milisi terror dukungan AS pada hari ke-58 Operation Olive Branch.

Selama Operasi Militer, 29 Desa Juga Dibebaskan Turki dari Milisi Dukungan AS

Turki pada 20 Januari meluncurkan Operation Olive Branch untuk menghapus teroris PYD dari Afrin.

Menurut Staf Umum Turki, operasi tersebut bertujuan untuk membangun keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan Turki dan wilayah Timut Tengah serta melindungi Suriah dari kekejaman dan penindasan teroris.

Setelah militer Turki dan Free Syrian Army membebaskan pusat kota Afrin dari teroris YPG pada hari Ahad, cuplikan foto dari atas menunjukkan bahwa warga sipil dan bangunan di sana tetap tidak terluka atau rusak.

Sebaliknya, selama operasi yang didukung AS di Raqqah Suriah, lebih dari 2.000 warga sipil terbunuh dan pusat kota berubah menjadi reruntuhan saat AS bersama YPG merebut kota Raqqah dari Islamic State (IS).

Seperti di Dresden pada WWII: AS Ratakan Raqqa dengan Pemboman Lalu Tutupi dengan Bantuan

Pada 17 Oktober 2017, YPG yang didukung oleh pasukan AS membersihkan kelompok IS dari Raqqah. Rekaman yang difilmkan oleh koresponden Anadolu Agency menunjukkan keseluruhan Raqqah berubah menjadi reruntuhan.

Sekelompok aktivis – bernama Raqqah is Being Slaughtered Silently – melaporkan pada 17 Oktober 2017 bahwa 90 persen kota itu rusak.

Pada 14 Desember 2017, Syrian Network for Human Rights mengatakan dalam sebuah laporan bahwa 2.371 warga sipil – termasuk 562 anak – tewas dalam operasi tersebut dan sekitar 450.000 warga sipil ditinggalkan.

Angkatan Bersenjata Turki dan Free Syrian Army (FSA) telah menunjukkan kepekaan maksimum demi keselamatan warga sipil selama Operation Olive Branch, yang diluncurkan pada 20 Januari untuk membersihkan wilayah tersebut dari teroris YPG.

Bunuh 58 Anggota Jamaah Tabligh Sedang Shalat, Rusia: Serangan Udara di Masjid Aleppo oleh AS

Rekaman yang difilmkan oleh Anadolu Agency dan pesawat tak berawak Turki mengungkapkan bahwa bangunan di pusat kota Afrin tetap tidak rusak.

Rekaman juga menunjukkan bahwa kehidupan telah kembali normal dan warga sipil dapat terlihat berada di jalanan.

Beberapa kendaraan dan bangunan di pusat kota dirusak oleh kelompok teroris dukungan AS untuk memberi kesan bahwa militer Turki telah menargetkan warga sipil.

Pasca Penyerangan, Banser Berjaga di Rumah Rais Syuriah NU Kendal

KENDAL (Jurnalislam.com)- Ketua Pengurus Cabang (PC) Ansor Kendal Muhammad Ulil Amri menurunkan sejumlah personil Banser di rumah KH Ahmad Zaenuri (51) dan RSI Weleri, Kendal.

Hal itu dilakukan Ulil guna menjaga keamanan paska penyerangan oleh orang yang tak dikenal terhadap Rois Syuriah NU Ranting Desa Truko, Kendal dan menantunya Agus Sakhban (27).

“Untuk menjaga kondusivitas di masyarakat, PC GP Ansor Kabupaten Kendal melalui tim Banser telah menempatkan personil Banser di rumah korban dan rumah sakit tempat korban sementara dirawat,” kata Ulil dalam pesan siar yang diterima Jurnalislam.com Senin, (19/3/2018).

Selain itu, guna membantu kinerja aparat dalam mengusut tuntas kasus tersebut, Ustaz Ulil juga sudah membentuk tim khusus untuk mendalami kasus yang sempat membuat gempar warga Kendal itu.

“Untuk mendorong proses pengusutan oleh pihak kepolisian, PC Ansor telah membentuk tim khusus untuk menginvestigasi kasus tersebut untuk menjadi bahan pertimbangan bagi para pihak yang berwenang,” paparnya.

Meski demikian, Ustaz Ulil tetap menyerahkan sepenuhnya pengusutkan kasus itu kepada aparat kepolisian, ia mendesak pihak aparat agar segera menjelaskan kepada masyarakat agar tidak timbul kecurigaan antar umat beragama khususnya di Kendal.

GP Ansor Desak Aparat Kepolisian Usut Tuntas Penyerangan Kiai NU Kendal

KENDAL (Jurnalislam.com)- Ketua Pengurus Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kendal Ustaz Muhammad Ulil Amri mendesak aparat kepolisian untuk segera mengusut tuntas kasus penyerangan terhadap Rois Syuriah NU Ranting Desa Truko, Kangkung, Kendal, KH Ahmad Zaenuri.

Menurutnya, bila tidak diusut secara tuntas, masyarakat akan semakin tidak percaya dengan kinerja aparat kepolisian dalam menangani kasus penyerangan ulama.

“Mendesak kepada pihak kepolisian untuk mengusut kasus ini secara tuntas dan profesional, termasuk mengungkap motif pelaku, dan segera menyampaikan hasilnya kepada masyarakat,” katanya dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com Senin, (19/3/2018).

Lebih lanjut, Ustaz Ulil menghimbau kepada kader NU untuk tetap menjaga kondusivitas dan tidak main hakim sendiri, ia juga mengajak umat Islam untuk menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada aparat kepolisian.

“Menghimbau kepada masyarakat Kendal, khususnya warga Nahdliyin, untuk tidak menciptakan opini yang dapat memicu situasi di masyarakat menjadi tidak kondusif dan menyerahkannya kepada proses hukum yang berlaku,” paparnya.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, KH Ahmad Zaenury (51) dan menantunya Agus Sahkban (27) diserang orang tak dikenal secara membabi-buta mengunakan senjata tajam pada Sabtu, (17/3/2018) sore. Akibat serangan tersebut, KH Ahmad dan Agus menderita cukup parah dibagian kepala dan kaki, hingga saat ini, kedua korban masih dirawat di RSI Weleri Kendal.