Turki Dukung Afghanistan untuk Perundingan Tanpa Syarat dengan Taliban

TURKI (Jurnalislam.com) – Menteri luar negeri Turki pada hari Selasa (27/3/2018) menyambut seruan Afghanistan untuk negosiasi tanpa syarat dengan Taliban, lansir World Bulletin.

“Kami menyambut panggilan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani untuk memulai negosiasi dengan Taliban tanpa prasyarat,” kata Mevlut Cavusoglu, sambil berbicara pada Konferensi Tashkent mengenai Afghanistan (the Tashkent Conference on Afghanistan) di ibukota Uzbekistan.

Pada bulan Februari, presiden Afghanistan menawarkan sebuah cabang zaitun kepada Taliban, yang telah mengobarkan perjuangannya di negara itu sejak invasi AS dan NATO, dalam 17 tahun terakhir.

Ratusan Petugas Pemerintah Afghanistan Tewas dan Terluka dalam Serangan Bom di Kabul

Ghani mengatakan gencatan senjata akan diberlakukan, kerangka politik akan dibentuk, dan langkah-langkah akan diambil untuk membebaskan tahanan Taliban.

Mevlut Cavusoglu

“Kami menginginkan semua kelompok di Afghanistan mengakui pemerintah Afghanistan, mengutuk kekerasan dan menjadi bagian dari politik yang sah,” tambah Cavusoglu.

Dia menekankan perlunya partisipasi mitra regional dan internasional dalam proses rekonsiliasi.

Cavusoglu juga menyuarakan dukungan Turki untuk Afghanistan yang stabil, aman dan sejahtera, mengingatkan dukungan keuangan Turki senilai 1 miliar dolar sejak tahun 2001.

Kemenangan Taliban Meningkat, NATO Kirim 3.000 Pasukan Tambahan ke Afghanistan

Berbicara pada konferensi yang sama, Menlu Rusia Sergey Lavrov menggarisbawahi pentingnya dialog konstruktif antara Aghanistan dan Taliban untuk perdamaian dan stabilitas di negara tersebut.

Kepala urusan kebijakan luar negeri Uni Eropa, Federica Mogherini, menggambarkan seruan Ghani untuk Taliban tersebut sebagai tawaran berani dan konkrit, dan menyebutnya sebagai peluang teladan untuk perdamaian.

Ini Alasannya, Mengapa Puluhan Negara Serentak Usir Diplomat Rusia

LONDON (Jurnalislam.com) – Puluhan negara telah memerintahkan pengusiran lebih dari 100 diplomat Rusia saat meningkatnya sengketa diplomatik besar antara Rusia dan Inggris karena kasus serangan zat beracun, Aljazeera melaporkan Selasa (27/3/2018).

Australia, Kanada, Amerika Serikat dan 23 negara Eropa pada hari Senin dan Selasa mengumumkan bahwa mereka akan mengusir 121 diplomat Rusia selama pekan mendatang.

Pengumuman itu muncul beberapa hari setelah Inggris mengusir 23 pejabat Rusia karena menuduh Rusia atas dugaan serangan terhadap mantan agen ganda Sergei Skripal dan putrinya, Yulia.

Keduanya sakit kritis di sebuah rumah sakit di Inggris setelah diracuni oleh gas saraf kelas militer di kota Salisbury, Inggris selatan bulan lalu.

Rusia membantah terlibat dalam kasus ini.

Pada 4 Maret, Skripal dan putrinya ditemukan pingsan di bangku dekat pusat perbelanjaan di Salisbury, 120km barat daya ibukota Inggris, London.

Skripal adalah mantan perwira intelijen militer Rusia yang dituduh memata-matai Rusia untuk Inggris.

Ia dipenjara pada tahun 2006 dan kemudian ditukar dengan warga Rusia yang dituduh melakukan spionase di AS.

Ketegangan dalam hubungan Inggris-Rusia meningkat setelah Perdana Menteri Inggris Theresa May menuduh bahwa Rusia “sangat mungkin” berada di balik percobaan pembunuhan Skripal dan putrinya.

May memberi Rusia batas waktu hingga 13 Mei untuk menjelaskan bagaimana sebuah gas saraf era Soviet bisa berada di Salisbury, Inggris bagian selatan.

“Mereka telah memperlakukan penggunaan gas saraf kelas militer di Eropa dengan sarkasme, penghinaan dan pembangkangan,” kata May di parlemen, sebelum memerintahkan pengusiran para diplomat Rusia.

Perdana menteri Inggris juga membatalkan undangan bagi Sergey Lavrov, menteri luar negeri Rusia, untuk mengunjungi Inggris.

Di antara berbagai respon, menteri kabinet dan anggota keluarga kerajaan juga tidak akan menghadiri Piala Dunia di Rusia musim panas ini.

Kementerian luar negeri Rusia menyanggah tuduhan Inggris, menyebut bahwa tuduhan tersebut bermotif politik dan merupakan “pertunjukan sirkus”.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan Inggris harus menyelidiki apa yang terjadi sebelum melemparkan tuduhan terhadap Rusia.

“Anda pertama-tama harus sampai ke hal-hal mendasar di sana, dan setelah itu, kita bisa mendiskusikannya,” kata Putin seperti dikutip.

Sebagai langkah balasan, Moskow memerintahkan pengusiran 23 diplomat Inggris dan menutup konsulat Inggris di St Petersburg dan badan kebudayaan British Council.

Duta besar Rusia untuk AS juga menyatakan keprihatinannya atas keputusan Washington untuk mengusir Rusia.

“Apa yang dilakukan Amerika Serikat hari ini, mereka menghancurkan yang masih tersisa dari hubungan AS-Rusia,” kata Anatoly Antonov.

“Saya menambahkan bahwa semua tanggung jawab atas hancurnya hubungan Rusia-Amerika ada di AS.”

Tanggapi Serangan Zat Beracun di Inggris, AS Usir 60 Diplomat Rusia dari Negaranya

Dalam solidaritas dengan Inggris, sejauh ini, 23 negara Eropa – 18 negara anggota Uni Eropa dan lima negara non-UE – telah mengumumkan bahwa mereka akan mengusir 55 diplomat Rusia selama pekan mendatang.

Negara-negara UE termasuk: Prancis (4), Polandia (4), Jerman (4), Lituania (3), Republik Ceko (3), Denmark (2), Italia (2), Spanyol (2), Belanda (2) , Estonia (1), Latvia (1), Swedia (1), Finlandia (1), Rumania (1), Kroasia (1), Hongaria (1), Irlandia (1) dan Belgia (1).

Negara-negara Eropa Non-UE adalah: Ukraina (13), Moldova (3), Albania (2), Norwegia (1) dan Makedonia (1).

Sementara itu, sekutu NATO – AS dan Kanada – juga telah memutuskan untuk mengambil tindakan.

Pada hari Senin, Presiden AS Donald Trump memerintahkan pengusiran 60 warga Rusia, termasuk 12 perwira intelijen dari misi Rusia untuk markas PBB di New York.

AS mengatakan pihaknya juga menutup konsulat Rusia di Seattle.

Kanada mengusir empat warga Rusia yang diduga bekerja sebagai mata-mata atau mencampuri urusan Kanada di bawah perlindungan diplomatik.

NATO juga bergabung dengan paduan suara negara-negara yang menghukum Rusia.

Sekretaris Jenderal Jens Stoltenberg mengatakan pada hari Selasa bahwa NATO akan mengurangi misi NATO di Rusia dari 30 menjadi 20.

Pada 19 Maret, perwakilan badan PBB Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (the Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons-OPCW), , mengumpulkan sampel dari gas saraf Novichok yang digunakan untuk meracuni Skripal.

Hasil mereka diharapkan akan dirilis dalam sepekan.

Ada kekhawatiran krisis diplomatik dapat memburuk jika hasil investigasi OPCW menunjukkan keterkaitan dengan Rusia.

“Moskow sekarang akan mencoba membagi Uni Eropa menjadi dua kubu – kubu pro-Inggris radikal dan orang-orang yang mereka pikir akan mengikuti Uni Eropa karena tuntutan solidaritas daripada karena keyakinan,” Konstantin Eggert, seorang analis dan wartawan Rusia, kepada Al Jazeera.

Menurutnya, Inggris juga akan meningkatkan tindakannya secara bertahap terhadap Rusia.

“Menurut saya sangat mungkin bahwa sebentar lagi akan ada Hukum Magnitsky versi Inggris dan tampaknya keinginan untuk menekan kejayaan Rusia di Inggris adalah yang paling serius dari semua pihak lain selama 15-17 tahun terakhir,” katanya.

Militer Yahudi Persulit Perayaan Paskah di Yerusalem Bagi Kristen Gaza

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Tiga hari sebelum hari Jumat Agung bagi penganut Nasrani, Israel belum mengeluarkan izin bagi umat Kristen Gaza untuk melakukan perjalanan ke Yerusalem demi merayakan Paskah, kata pihak berwenang Gereja, lansir Aljazeera Selasa (27/3/2018).

Patriarkat Latin dari Yerusalem mengatakan, otoritas gereja telah mengajukan sekitar 600 izin bagi umat Kristen Palestina untuk melakukan perjalanan, tetapi belum menerima apapun.

Gaza berada di bawah blokade Israel dan akses keluar-masuk dibatasi ketat oleh militer Israel.

Otoritas militer yang dijalankan Israel yang beroperasi di Tepi Barat membela kebijakannya menolak para pemohon akses ke kota Yerusalem di Tepi Barat, dengan mengatakan bahwa mereka hanya akan mengeluarkan izin bagi orang yang berusia sedikitnya 55 tahun.

Rayakan Hari Raya Zionis, Ratusan Pemukim Yahudi Serbu Masjid al Aqsha

Pastor Ibrahim Shomali, kanselir dari Patriarkat Latin di Yerusalem, mengatakan bahwa umat Kristen seharusnya tidak perlu meminta izin.

“Kita harus memiliki akses gratis ke Tanah Suci, akses bebas ke tempat-tempat suci kita,” katanya di Gereja Makam Suci, yang dihormati sebagai tempat penyaliban dan kebangkitan kristus.

Tentu saja, kami mengajukan izin, tetapi seharusnya tidak perlu izin untuk datang mengunjungi tempat Anda sendiri.”

Para pemimpin gereja khawatir akan lebih banyak pembatasan dari biasanya tahun ini karena Paskah jatuh pada akhir pekan yang sama dengan dimulainya Passover, hari besar Yahudi dimana militer zionis meningkatkan keamanan.

Para pemimpin Kristen mengatakan keputusan Presiden AS Donald Trump pada bulan Desember untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel bisa memberatkan pembatasan otoritas Israel ke situs suci mereka.

“[Israel] akan menutup setiap pos pemeriksaan, dan akan lebih ketat daripada tahun lainnya karena proklamasi Trump dan efek yang kami dapatkan darinya, dan yang akan kami dapatkan,” kata Shomali.

Youssef Daher, dari Pusat Inter-Gereja Yerusalem, mengatakan keputusan Trump dapat menyebabkan tekanan Israel lebih lanjut pada otoritas Kristen, karena “mereka berpikir bahwa mereka memiliki kebebasan.”

Pada bulan Februari, para pemimpin Kristen mengambil keputusan langka untuk menutup Gereja Makam Suci selama tiga hari, sebagai protes terhadap kebijakan pajak baru Israel dan undang-undang pengambilalihan lahan yang diusulkan.

Gara-gara Pajak Israel, Para Pemimpin Gereja Tutup Gereja Paling Bersejarah di Dunia

Gaza memiliki 1.000 orang Kristen – sebagian besar dari mereka adalah Ortodoks Yunani – di antara populasi 2 juta orang di garis pantai yang sempit. Otoritas Ortodoks Yunani tidak tersedia untuk berkomentar pada hari Selasa.

Di Gaza, George Antone dari Patriarkat Latin mengatakan Israel mengizinkan hampir 570 orang Kristen keluar dari Gaza tahun lalu, dan berharap mereka akan berhasil lagi kali ini.

“Sejauh ini, belum ada tanggapan. Saya tidak akan kehilangan harapan tetapi saya akan sedih jika izin tidak didapat,” katanya.

Umat ​​Kristen Ortodoks merayakan Paskah sepekan kemudian, ketika orang Palestina dan peziarah dari seluruh dunia menghadiri upacara Api Kudus.

Mendekati Manbij, Operasi Militer Turki Kini Berlanjut ke Tal Rifaat

AZAZ (Jurnalislam.com) – Sejak milisi YPG di Suriah melarikan diri dari Afrin ke kota Tal Rifaat saat pasukan Turki dan Free Syrian Army membebaskan pusat kota Afrin pada 18 Maret, sebagai bagian dari Operation Olive Branch, Tal Rifaat menjadi perpanjangan alami dari operasi tersebut, Anadolu Agency melaporkan Senin (26/3/2018).

Setelah tanah mereka dibebaskan dari teroris, ratusan ribu warga Tal Rifaat akan memiliki kesempatan untuk kembali ke rumah mereka.

Turki meluncurkan Operation Olive Branch pada 20 Januari untuk membersihkan kelompok-kelompok teroris dari Afrin, Suriah barat laut, di saat ancaman dari kawasan itu meningkat.

Pada awal 2016, pasukan YPG bertujuan untuk menguasai daerah antara tepi timur Sungai Eufrat dan Afrin barat, untuk menghubungkan tanah yang sudah diambilnya.

YPG bergerak dari Afrin ke tenggara dan dari Manbij ke barat, mencoba menguasai Tal Rifaat dan Al-Bab dan menghubungkan wilayah-wilayah itu. Dengan demikian, YPG berusaha untuk mendapatkan dominasi di sepanjang perbatasan Suriah-Turki.

Milisi Dukungan AS akan Keluar dari Manbij, Menlu Turki: Tidak Cukup Hanya Itu

Menggunakan dukungan serangan udara intens Rusia pada saat hubungannya dengan Turki menegang, para milisi memiliki kesempatan untuk menyebar ke tenggara dari Afrin.

Kelompok teroris YPG meninggalkan Afrin dan dengan cepat menyerang Tal Rifaat dan desa-desa terdekat yang berada di bawah kendali oposisi.

Tal Rifaat memainkan peran sebagai jembatan untuk garis invasi yang dibentuk para teroris di utara.

Struktur administrasi teroris YPG di Suriah terdiri dari tiga “wilayah” dan enam “suku (canton).”

Kelompok teror menggambarkan struktur wilayah tersebut sebagai “Jazira (Hasakah dan Qamisli), Eufrat (Kobane dan Tal Abyad), dan Afrin (Afrin dan Shahba)”.

Mereka juga memberikan status khusus bagi Raqqah, yang masih terus mereka kendalikan.

Mereka menyebut garis yang membentang dari Tal Rifaat ke Manbij “Shahba Canton.”

Tetapi distrik Al-Bab antara Tal Rifaat dan Manbij terletak di dalam area yang dibebaskan oleh Operation Euphrates Shield Turki, sehingga mustahil bagi para teroris untuk menghubungkan Tal Rifaat dengan Manbij.

Operation Euphrates Shield dimulai pada Agustus 2016 dan berakhir pada akhir Maret 2017 untuk meningkatkan keamanan, mendukung pasukan koalisi, dan menghilangkan ancaman teror di sepanjang perbatasan Turki.

Merasa Kena Tipu di Suriah, Erdogan Kecam Amerika

Selama invasi Tal Rifaat, YPG memaksa sekitar 250.000 penduduk Arab keluar.

Penduduk lalu mencari perlindungan di Azaz, yang bersebelahan dengan daerah Euphrates Shield dan berada di bawah kendali oposisi.

Para teroris mulai mengakomodasi keluarga Kurdi di Tal Rifaat yang mereka bawa dari Afrin.

Saat ini, sekitar 15.000-20.000 suku Kurdi dan Arab tinggal di distrik tersebut, hanya 700-800 di antaranya adalah penduduk Arab Tal Rifaat.

Berbicara di Kongres Provinsi Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) pada hari Ahad, Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan: “Insya Allah, kami akan mencapai tujuan operasi ini dengan mengambil alih Tal Rifaat dalam waktu singkat.”

Pada Sabtu, warga Suriah Tal Rifaat menggelar unjuk rasa untuk menuntut operasi militer Turki terhadap kelompok teroris YPG di kota itu.

Info grafik

14 Anggota Uni Eropa Serentak Usir Diplomat Rusia di Negaranya Masing-masing

LONDON (Jurnalislam.com) – Empat belas negara anggota UE telah mengusir puluhan diplomat Rusia dalam reaksi serempak pada hari Senin (26/3/2018), atas keracunan bekas mata-mata Rusia, Sergei Skripal dan putrinya, Yulia, di Inggris, lansir Anadolu Agency.

Sedikitnya 45 diplomat Rusia telah diusir di seluruh Eropa sejauh ini.

“Sebagai tindak lanjut langsung atas keputusan Dewan Eropa pekan lalu untuk bereaksi terhadap Rusia dalam kerangka umum, hingga hari ini sudah 14 negara anggota yang memutuskan untuk mengusir diplomat Rusia,” kata Presiden Dewan Eropa, Donald Tusk, yang berada di Varna Bulgaria untuk KTT Uni Eropa-Turki (EU-Turkey Summit).

“Dewan Eropa setuju dengan penilaian pemerintah Inggris bahwa Federasi Rusia sangat mungkin bertanggung jawab dan tidak ada penjelasan alternatif lainnya yang masuk akal. Kami memutuskan untuk memanggil Duta Besar UE untuk Rusia untuk konsultasi,” tambahnya.

Jerman adalah salah satu negara pertama yang membuat pengumuman itu saat Menteri Luar Negeri, Heiko Maas, mengatakan Berlin telah “mengusir empat diplomat Rusia.”

Tanggapi Serangan Zat Beracun di Inggris, AS Usir 60 Diplomat Rusia dari Negaranya

Sebuah pernyataan Kementerian Luar Negeri Perancis juga mengatakan mereka telah “memberitahu pihak berwenang Rusia tentang keputusan kami untuk mengusir empat personel Rusia dengan status diplomatik dari wilayah Perancis, dalam waktu satu pekan.”

Polandia mengatakan mereka juga mengusir empat warga Rusia setelah deretan keracunan mantan mata-mata.

Denmark, Belanda, Latvia, Spanyol dan Italia mengatakan mereka masing-masing telah mengusir dua diplomat.

Lithuania dan Republik Ceko membuat pengumuman serupa setelah mengusir tiga diplomat. Sementara itu, Estonia, Kroasia, Finlandia dan Rumania mengatakan mereka telah meminta satu diplomat untuk pergi. Perdana Menteri Swedia Stefan Lofven kemudian mengatakan mereka juga akan mengusir seorang diplomat Rusia.

Ukraina, negara non-UE, bergabung dengan 14 negara lainnya dan mengusir 13 diplomat Rusia. Albania mengikuti dengan mengusir dua diplomat Rusia.

Tusk mengatakan bahwa “langkah-langkah tambahan, termasuk pengusiran lanjutan dalam kerangka kerja sama Uni Eropa ini akan dilanjutkan dalam beberapa hari dan pekan mendatang”.

Dukungan kuat dari negara-negara Uni Eropa, serta Ukraina, AS dan Kanada berdampak pada pertemuan Dewan Eropa yang diadakan di Brussels pekan ini.

Inggris Desak DK PBB Selidiki Serangan Zat Beracun pada Mantan Mata-mata Rusia

AS mengusir 60 diplomat yang menurut Washington bekerja sebagai perwira intelijen, dan memerintahkan penutupan konsulat Moskow di Seattle.

Selain itu, Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland mengatakan empat staf diplomatik kedutaan Rusia di ibukota Kanada, Ottawa, atau konsulat jenderal di Montreal akan diperintahkan keluar dari negara itu.

“Kami sepakat tentang pentingnya mengirim pesan kuat Eropa sebagai tanggapan atas tindakan Rusia,” Perdana Menteri Inggris, Theresa May, mengatakan kepada anggota parlemen di House of Commons pada hari Senin.

“Tanggapan internasional yang luar biasa saat ini oleh sekutu kami dicatat dalam sejarah sebagai pengusiran kolektif terbesar terhadap perwira intelijen Rusia yang pernah ada dan akan membantu membela keamanan bersama kami,” kata Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson, di Twitter.

“Rusia tidak dapat melanggar aturan internasional dengan impunitas,” tambahnya.

Tanggapi Serangan Zat Beracun di Inggris, AS Usir 60 Diplomat Rusia dari Negaranya

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Hari Senin (26/3/2018) AS membalas serangan kimia di Inggris yang dituduh dilakukan oleh Rusia dengan mengusir 60 diplomat yang menurut Washington bekerja sebagai perwira intelijen, dan memerintahkan penutupan konsulat Moskow di Seattle, Anadolu Agency melaporkan.

Mereka yang diusir termasuk 48 karyawan kedutaan dan 12 orang yang bekerja dalam misi Rusia untuk PBB, seorang pejabat administrasi senior menegaskan kepada wartawan dengan syarat anonimitas.

Mereka semua dituduh oleh pejabat bekerja sebagai perwira intelijen Rusia rahasia di bawah perlindungan diplomatik yang mereka terima karena jabatan mereka, dan seorang pejabat lain juga menyebut bahwa jumlah perwira intelijen Rusia di AS “jumlahnya sangat banyak.”

60 orang tersebut memiliki waktu tujuh hari untuk meninggalkan AS.

Konsulat Seattle ditutup karena letaknya yang berdekatan dengan pangkalan kapal selam AS, pejabat lain juga berbicara kepada wartawan dengan syarat tidak disebutkan namanya.

“Tindakan hari ini membuat Amerika Serikat lebih aman dengan mengurangi kemampuan Rusia untuk memata-matai Amerika dan melakukan operasi rahasia yang mengancam keamanan nasional Amerika,” kata juru bicara Gedung Putih, Sarah Huckabee Sanders, dalam sebuah pernyataan.

Inggris Desak DK PBB Selidiki Serangan Zat Beracun pada Mantan Mata-mata Rusia

Aksi-aksi tersebut adalah sebagian dari serangan terkuat dari pemerintahan Donald Trump hingga saat ini terhadap Rusia setelah Moskow dituduh melakukan serangkaian kegiatan untuk melemahkan Barat, termasuk dugaan campur tangan dalam pemilihan presiden AS 2016.

Baru-baru ini, mantan mata-mata Rusia, Sergei Skripal, 66 tahun, dan putrinya Yulia, 33 tahun, dirawat di rumah sakit pada 4 Maret setelah ditemukan tidak sadarkan diri di kota Salisbury, Inggris Selatan. Para pejabat Inggris telah menempatkan kesalahan kepada Rusia, tuduhan yang dengan tegas disangkal oleh Vladimir Putin.

London mengatakan serangan itu dilakukan menggunakan gas saraf Perang Dingin era Soviet yang disebut Novichok yang merupakan gas saraf terhebat ciptaan Soviet yang sangat mematikan.

Skripal diberikan perlindungan di Inggris setelah pertukaran mata-mata 2010 antara AS dan Rusia. Sebelum pertukaran, dia menjalani hukuman 13 tahun penjara karena membocorkan informasi kepada intelijen Inggris.

14 Anggota Uni Eropa Serentak Usir Diplomat Rusia di Negaranya Masing-masing

Pekan lalu, setelah KTT Uni Eropa di Brussels, Inggris, Jerman, dan Perancis menegaskan kembali bahwa Rusia bertanggung jawab atas gas saraf yang meracuni Skripal dan putrinya.

“Di luar perilaku destabilisasi Rusia di seluruh dunia, seperti partisipasi mereka dalam kekejaman di Suriah dan tindakan ilegal di Ukraina, mereka sekarang juga menggunakan senjata kimia terhadap salah satu sekutu terdekat kami,” duta besar AS untuk PBB, Nikki Haley, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

“Di sini, di New York, Rusia menggunakan Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai tempat berlindung yang aman untuk kegiatan berbahaya mereka di dalam perbatasan kita sendiri. Saat ini, Amerika Serikat dan banyak teman-teman kami mengirimkan pesan yang jelas bahwa kita tidak akan diam saja menghadapi kesalahan Rusia,” tambahnya.

Pemerintah Kanada mengusir diplomat Rusia pada hari Senin demi melindungi “keamanan Kanada.”

Menteri Luar Negeri Kanada, Chrystia Freeland, mengatakan bahwa empat staf diplomatik di kedutaan Rusia di ibukota Kanada, Ottawa, atau di konsulat jenderal di Montreal akan diperintahkan keluar dari negara itu.

“Keempatnya telah diidentifikasi sebagai perwira intelijen atau individu yang telah menggunakan status diplomatik mereka untuk merusak keamanan Kanada atau ikut campur dalam demokrasi kami,” kata Freeland. “Langkah-langkah ini tidak ditujukan bagi seluruh warga Rusia, dimana Kanada memiliki hubungan yang panjang dan bermanfaat. Kanada tetap berkomitmen untuk berdialog dan bekerja sama dengan Rusia mengenai masalah-masalah yang kami hadapi bersama.”

Dia menambahkan bahwa pengusiran itu juga dilakukan untuk menunjukkan “solidaritas” dengan Inggris atas serangan gas saraf di Salisbury.

“Serangan gas saraf di Salisbury, di wilayah mitra dan sekutu Kanada, adalah tindakan keji, keji dan sembrono, dan berpotensi membahayakan kehidupan ratusan orang lainnya,” kata Freeland dalam sebuah pernyataan.

Permintaan Rusia untuk menambah tiga staf tambahan di Kanada ditolak, kata Freeland.

Langkah-langkah yang dilakukan oleh AS dan Kanada adalah bagian dari upaya lebih luas dengan sekutu Eropa mereka yang mengusir puluhan diplomat Rusia sebagai reaksi serempak atas upaya meracuni Skripals.

Sedikitnya 43 diplomat Rusia telah diusir dari negara-negara anggota Uni Eropa.

“Sebagai tindak lanjut langsung atas keputusan Dewan Eropa pekan lalu untuk bereaksi terhadap Rusia dalam kerangka umum, hari ini 14 negara anggota telah memutuskan untuk mengusir diplomat Rusia,” kata Presiden Dewan Eropa Donald Tusk, yang berada di Varna, Bulgaria untuk KTT Uni Eropa -Turki (EU-Turkey Summit).

Dan 13 diplomat Rusia diusir Di Ukraina, sebuah negara yang bukan bagian dari Uni Eropa, tetapi telah menjadi titik pertikaian antara Rusia dan Barat sejak Rusia menganeksasi Semenanjung Krimea dan menopang pemberontak separatis di timur negara itu.

Soal Indonesia Bisa Bubar 2030, Ini Kata Sukmawati Sukarnoputri

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Anak Proklamator Republik Indonesia, Sukmawati Sukarnoputri angkat bicara soal pidato Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang mengatakan Indonesia akan bubar tahun 2030. Dirinya menyayangkan topik seperti itu dijadikan bahan orasi.

“Jangan mendoakan masa depan Bangsa Indonesia yang tidak baik,” katanya kepada Jurnalislam.com belum lama ini di Kantor PBNU Jalan Kramat Raya No. 164, Jakpus.

Menurutnya, orasinya seperti menyiapkan masa depan yang sangat tidak diharapkan untuk Indonesia.

“Harus lebih dipertimbangkan dan bijak untuk memilih topik orasi,” pungkasnya.

Sukma melanjutkan, semua warga negara pasti mempunyai visi dan misi yg dicita-citakan oleh para perintis kemerdekaan suatu Indonesia yang semakin kokoh dan maju.

Sebelumnya, dalam sebuah potongan video yang diunggah oleh akun Facebook resmi Partai Gerindra, Prabowo tampak berapi-api saat berpidato. Ia mengatakan sudah ada kajian di negara-negara lain yang menyatakan Indonesia akan bubar pada 2030.

Prabowo menilai hal itu bisa terjadi lantaran elite Indonesia saat ini tidak peduli meskipun 80 persen tanah di Indonesia dikuasai oleh 1 persen rakyat. Begitupun saat sebagian besar kekayaan Indonesia diambil di luar negeri.

Reporter : Gio

H Sudarno Hadi Terpilih Sebagai Ketua Dewan Dakwah Jatim Periode 2018 – 2023

MOJOKERTO (Jurnalislam.com) – Ustaz H. Sudarno Hadi terpilih sebagai ketua baru Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) Jawa Timur periode 2018-2023 menggantikan H. Tamat Anshory Ismail yang sudah berakhir masa baktinya.

Penyerahan tongkat estafet itu dilakukan pada forum Silaturahim Daerah (Silatda) DDII Jatim di Ponpes Islamic Centre ElKisi dusun Kemuning, desa Mojorejo, kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto (24 – 25/3/2018) bertepatan dengan tanggal 6 – 7 Rajab 1439 H.

Forum Silatda yg terdiri atas utusan DDII kabupaten/kota se-jatim, utusan DPP DDII, dan Muslimat DDII Jatim menunjuk 5 orang formateur yang bertugas menyusun kepengurusan. Setelah bermusyawarah, ke 5 orang formatur : Drs. Avit Sholihin MM (DPP), H Tamat Anhory Ismail (Ketua demisioner), KH Fathurrahman Fadhil (Ponpes ElKisi), H. Agus Iskandar (utusan Banyuwangi), dan H. Muhamnad ‘Alim ( utusan Magetan), secara aklamasi menetapkan H Sudarno Hadi sebagai Ketua, didampingi KH Fathurrahman Fadhil (Sekretaris) dan H Subagio Budiyanto (Bendahara). Selanjutnya dalam tempo maksimal 1 bulan formateur akan melengkapi susunan kepengurusan.

Sebagai nakhoda baru, Sudarno Hadi mengajak segenap eksponen DDII Jatim untuk bersinergi menjaga umat dan NKRI ” DDII akan senantiasa berkhidmat untuk Umat, menjaga aqidah dan beramal sosial dalam binkai Negara Kesatuan Republik Indonesia”, kata Sudarno dalam pidato iftitah Ketua Baru.

Semangat Sudarno, didukung pula oleh Sekjen DPP DDII, Drs H Avit Sholihin MM yang meminta DDII Jatim bisa menjadi perekat umat.

“Perbedaan, apalagi dalam hal furu’iyah tidak perlu dibesar-besarkan. Tapi kalau itu penyimpangan, maka DDII harus ikut meluruskan”, imbuh Sholihin yang mencontohkan organisasi Ahmadiyah sebagai penyimpangan karena berkeyakinan adanya Nabi baru setelah Nabi Muhammad SAW.

Menarik dalam forum Silatda kali ini adalah orasi Kebangsaan yang disampaikan oleh Prof. Yusril Ihza Mahendra (Ketua Umum Partai Bulan Bintang), partai yg salah satu deklaratornya adalah DDII.

Tepat dihadapan ribuan orang yang memadati gedung ElKisi, Yusril ‘mewanti- wanti’ agar kita hati-hati terhadap tenaga kerja asal Tiongkok yang masuk Indonesia adalah tentara.

“Tiongkok adalah negara yang menerapkan Wajib Militer bagi warganya. Jadi setiap warganya negaranya adalah orang-orang yang terlatih secara militer. Tinggal senjatanya saja masuk, maka bisa merepotkan kita semua”, tandas Yusril yang berperan sebagai Laksamana Cheng Ho di film serial yang pernah diputar di salah satu stasiun TV.

Hakim di Inggris Kutip Ayat al Quran untuk Nasehati Pengikut ISIS di Pengadilan

LONDON (Jurnalislam.com) – Seorang hakim Inggris menggunakan Ulama Islam dalam menghukum seorang remaja yang dihukum karena melakukan serangan bom terhadap kereta api di pusat kota London, lansir Aljazeera, Senin (26/3/2018).

Ahmed Hassan dijatuhi hukuman minimal 34 tahun penjara pada hari Jumat lalu atas serangan yang dilakukannya di stasiun Parsons Green pada September tahun lalu.

Alat peledak yang dia buat gagal meledak sepenuhnya dan tidak membunuh siapa pun kecuali menyebabkan sedikitnya 30 orang terluka.

Hargai Membom Mekkah 2.500 Point, Polisi Inggris Kejar Penyebar Selebaran Kebencian

Pada persidangan, Hakim Charles Haddon-Cave mengatakan simpatisan kelompok Islamic State (IS) berusia 18 tahun tersebut telah melakukan ‘hiraba’ (terorisme) dan menyebabkan ‘kerusakan’.

Ahmed Hassan

Kedua istilah ini digunakan dalam hukum Islam untuk menggambarkan tindakan pemberontakan dan sering digunakan oleh para da’i dalam konteks modern demi merujuk pada “ekstrimisme”.

“Anda akan memiliki banyak waktu untuk mempelajari Al-Quran di penjara di tahun-tahun mendatang,” kata Hakim Haddon-Cave dalam pidato penutupnya di persidangan Hassan.

Dia menambahkan: “Al-Qur’an dan Islam melarang sesuatu yang ekstrim, termasuk ekstremisme dalam agama. Islam melarang melanggar hukum wilayah di mana seseorang yang tinggal (mukim) atau sebagai tamu. Islam melarang terorisme.

Peduli Ghouta Timur, Warga London Gelar Aksi Unjuk Rasa Desak Inggris Lawan Rezim Assad

“Al-Qur’an dan Sunnah menyatakan bahwa kejahatan melakukan teror untuk ‘menyebabkan kerusakan di muka bumi adalah salah satu kejahatan paling berat dalam Islam “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi (Qs 2:11)”… begitu juga dalam hukum Kerajaan Inggris.”

Hassan tiba di Inggris sebagai pengungsi dari Irak berusia 16 tahun tiga tahun lalu.

Pada saat itu, ia mengaku sebagai yatim piatu yang diculik oleh kelompok IS.

 

7 Rudal Balistik Syiah Yaman Targetkan Ibukota Arab Saudi

RIYADH (Jurnalislam.com) – Pasukan Saudi mencegat tujuh rudal pemberontak Syiah Yaman pada hari Ahad, termasuk yang jatuh di ibukota Riyadh, lansir Al Arabiya News Channel, Senin (26/3/2018).

“Tindakan agresif dan penyerangan oleh kelompok pemberontak Syiah Houthi yang didukung Iran ini membuktikan bahwa rezim Iran terus mendukung kelompok bersenjata dengan kemampuan militer,” kata juru bicara Koalisi Arab, Turki al-Malki.

Koalisi Arab: Syiah Houthi Targetkan Arab Saudi dengan 95 Rudal Balistik

“Penembakan beberapa rudal balistik ke arah kota adalah perkembangan yang serius.”

Para saksi menegaskan ledakan keras dan kilatan terang di langit kepada Al Arabiya.

Diam-diam Arab Saudi Lakukan Ini dengan Pemberontak Syiah Houthi

Sebuah video yang dikirim ke Al Arabiya menunjukkan momen ketika rudal anti-pertahanan ditembakkan dari Saudi Patriot untuk mencegat rudal Houthi di atas ibu kota.

Sejak November, milisi Houthi yang diarahkan Iran telah menembakkan beberapa rudal ke Arab Saudi, yang semuanya dicegat oleh pasukan Saudi.

Lihat video disini: ara.tv/6yk6n