GAZA (Jurnalislam.com) – Kelompok perlawanan Palestina Hamas pada hari Sabtu (7/4/2018) mengutuk AS karena memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan penyelidikan atas tindakan kekerasan Israel di Jalur Gaza.
Juru bicara Hamas Hazem Qassem mengatakan dengan memblokir resolusi, AS terlibat dalam serangan Israel terhadap warga sipil tak bersenjata di Gaza, lansir Anadolu Agency, Ahad (8/4/2018).
Dia mengatakan dengan memblokir kecaman Dewan Keamanan pada hari Jumat atas tindakan Israel terhadap demonstran sipil di Gaza, AS “mengambil bagian dalam serangan terhadap warga kami.”
AS selama dua pekan berturut-turut memblokir pernyataan Dewan Keamanan yang mendukung hak Palestina untuk melakukan unjuk rasa secara damai dan mendukung seruan Sekretaris Jenderal Antonio Guterres untuk melakukan penyelidikan independen terhadap aksi protes berujung serangan mematikan di Gaza.
Washington adalah satu-satunya anggota Dewan Keamanan dari 15 anggota yang menolak pernyataan mengutuk respon Israel terhadap demonstrasi ‘March for Return’.
Qassem juga mengatakan bahwa AS “mendorong pasukan penjajah untuk melanjutkan kejahatannya.”
Kementerian Luar Negeri Palestina telah meminta masyarakat internasional untuk menemukan formula baru yang akan menolak hak AS untuk memveto resolusi Dewan Keamanan yang berupaya menuntut pembentukan komisi penyelidikan independen terhadap peristiwa di Gaza.
Jika gagal melakukannya, Dewan Keamanan akan menjadi lembaga yang tidak berdaya dan kehilangan kredibilitas, kementerian mengatakan dalam sebuah pernyataan.
Kementerian iItu juga mengutuk AS karena memveto resolusi Dewan Keamanan untuk kedua kalinya dan mencatat bahwa Washington telah menutup-nutupi pembantaian warga Palestina oleh pasukan Israel.
AS telah menolak permintaan oleh Dewan Keamanan untuk penyelidikan independen dan transparan terhadap insiden kekerasan di mana puluhan warga Palestina menjadi martir akibat penggunaan kekuatan Israel yang tidak proporsional di Jalur Gaza sejak 30 Maret.
SURIAH (Jurnalislam.com) – Sebuah serangan kimia di sebuah kota yang dikuasai oposisi Suriah telah memicu kemarahan internasional.
Sedikitnya 85 orang, termasuk banyak wanita dan anak-anak, tewas di Douma pada hari Sabtu (07/04/2018), menurut pernyataan oleh petugas penyelamat dan staf medis.
Kecaman dilontarkan pada hari Ahad (8/4/2018) saat Presiden AS Donald Trump memperingatkan akan ada “harga besar sebagai balasan,” sementara Turki mengatakan: “tidak mungkin untuk membenarkan atau menerima serangan tersebut untuk alasan apapun dan dengan cara, bentuk atau wujud apapun,” lansir Aljazeera.
“Banyak yang mati, termasuk wanita dan anak-anak, dalam serangan KIMIA tanpa perasaan di Suriah,” tulis Trump di Twitter, mengecam Presiden Suriah Bashar al-Assad dan sekutunya, Presiden Rusia Vladimir Putin.
“Presiden Putin, Rusia dan Iran bertanggung jawab karena mendukung Binatang Assad. Harganya besar,” katanya.
Ancaman Trump diucapkan tepat setahun dan sehari setelah tentara AS menembakkan rudal jelajah di sebuah pangkalan udara Suriah sebagai balasan atas serangan gas sarin yang mematikan di kota Khan Sheikhoun yang dikuasai oposisi.
Tom Bossert, penasihat keamanan dalam negeri Gedung Putih, mengatakan kepada stasiun televisi ABC bahwa dia “tidak akan men-tolerir lagi” ketika ditanya apakah AS dapat membalas lagi dengan serangan rudal.
Pemerintah Assad dan Rusia sama-sama membantah penggunaan senjata kimia dan menyebut berita tersebut sebagai “fabrikasi (palsu)”. Kementerian luar negeri Rusia menyebut laporan terbaru itu sebagai “provokasi”, dan memperingatkan bahwa “intervensi militer adalah dalih yang dibuat-buat.”
Mengomentari insiden tersebut, Uni Eropa menyerukan tanggapan internasional terhadap serangan itu.
“Bukti-buktinya mengarah pada satu lagi serangan kimia oleh rezim,” kata blok itu dalam sebuah pernyataan.
“Ini adalah masalah yang memprihatinkan bahwa senjata kimia terus digunakan, terutama pada warga sipil. Uni Eropa mengutuk dalam istilah terkuat penggunaan senjata kimia dan menyerukan tanggapan segera oleh masyarakat internasional.”
Uni Eropa juga meminta Dewan Keamanan PBB untuk menetapkan kembali pemeriksaannya demi mengidentifikasi para pelaku serangan kimia dan pada Rusia dan Iran – sekutu terdekat pemerintah Suriah – untuk menggunakan pengaruh mereka terhadap al-Assad demi mencegah serangan lainnya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian mengatakan Prancis mengecam keras serangan dan pemboman oleh pasukan rezim pemerintah Suriah dalam 24 jam terakhir di Douma, menambahkan bahwa itu adalah “pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional.
Dia meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa untuk bertemu secepatnya untuk memeriksa situasi dan mengatakan bahwa Perancis akan bekerja dengan sekutu untuk memverifikasi laporan bahwa senjata kimia digunakan.
Mengacu pada peringatan Presiden Emmanuel Macron bahwa Perancis dapat menyerang secara sepihak jika ada serangan kimia mematikan, Le Drian mengatakan bahwa Paris akan menanggung semua tanggung jawabnya dalam perang melawan proliferasi senjata kimia.
The White Helmets Suriah, yang merupakan responden pertama di wilayah Suriah yang dikuasai oposisi, mengatakan serangan pada Sabtu malam itu melibatkan “gas klorin beracun.”
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Suriah telah dituduh menggunakan senjata kimia sebagai alat melawan oposisi bersenjata.
DOUMA (Jurnalislam.com) – Sebuah serangan kimia yang diluncurkan pada kubu pertahanan oposisi terakhir di Douma, yaitu Jaishul Islam, di dekat ibu kota Suriah, Damaskus, telah menewaskan sedikitnya 70 orang dan ratusan orang juga terkena dampaknya, kata relawan medis kepada Al Jazeera.
The White Helmets, sekelompok penyelamat yang beroperasi di daerah yang dikuasai oposisi di Suriah, mengatakan pada hari Sabtu (7/8/2018) bahwa sebagian besar korban jiwa adalah wanita dan anak-anak.
“Tujuh puluh orang mati lemas dan ratusan lainnya masih tercekik (sulit bernafas),” Raed al-Saleh, kepala The White Helmets, mengatakan kepada Al Jazeera, menambahkan bahwa jumlah korban tewas diperkirakan akan meningkat karena banyak orang berada dalam kondisi kritis.
Al-Saleh mengatakan bahwa gas klorin dan gas lain yang tidak dikenal tetapi lebih kuat dijatuhkan dari atas Douma.
“Para sukarelawan White Helmet mencoba membantu warga, tetapi yang bisa kami lakukan hanyalah mengevakuasi mereka ke area lain dengan berjalan kaki karena sebagian besar kendaraan dan pusat-pusat penampungan tidak berfungsi.”
Korban serangan gas beracun rezim Assad, kebanyakan anak-anak
Salah satu anggota White Helmets mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ada satu keluarga yang seluruh anggotanya mati lemas ketika mereka bersembunyi di ruang bawah tanah milik mereka, mencoba berlindung dari serangan udara dan bom barel.
Pemerintah Amerika Serikat telah memperingatkan tanggapan global terhadap Suriah jika laporan tentang serangan kimia itu dikonfirmasi.
Namun rezim Syiah Suriah berkelit, menyebut berita tersebut sebagai fabrikasi (buatan, palsu), mengabaikan pembicaraan bahwa tentara Suriah menggunakan gas beracun sebagai “lucu”.
Pasukan pro-rezim Assad dan sekutu mereka pada hari Jumat (6/4/2018) melancarkan serangan udara dan darat yang dahsyat ke Douma, kota terakhir yang dikuasai oposisi Jaish al Islam di Ghouta Timur.
Kantor berita rezim Suriah SANA mengatakan pemboman besar, yang menghancurkan 10 hari tenang, sebagai balasan terhadap penembakan oleh Jaish al-Islam, kelompok bersenjata yang mengendalikan Douma, di daerah pemukiman di Damaskus.
SANA melaporkan bahwa penembakan oleh Jaish al-Islam itu menewaskan empat orang dan menyebabkan kerusakan material. Jaish al-Islam membantah tuduhan itu.
“Douma mengalami serangan udara yang intens dan banyak wilayah kota hancur,” kata Moayed al-Dayrani, seorang warga Douma dan relawan medis, kepada Al Jazeera, menambahkan bahwa para dokter berjuang untuk menjangkau semua korban.
“Kami saat ini berurusan dengan lebih dari 1.000 kasus orang yang berjuang untuk bernafas setelah bom kaporit dijatuhkan di kota. Jumlah korban tewas mungkin akan sangat jauh meningkat.”
Douma Media Center, sebuah kelompok pro-oposisi, memasang gambar di media sosial orang-orang yang sedang dirawat oleh petugas medis, dan gambar yang tampak seperti mayat, termasuk banyak wanita dan anak-anak.
Petugas penyelamat juga memposting video orang-orang yang menunjukkan gejala yang serupa dengan serangan gas. Beberapa tampak mengeluarkan busa putih di sekitar mulut dan hidung mereka.
Gejala serangan klorin termasuk batuk, dyspnea, iritasi intensif pada selaput lendir dan kesulitan bernafas.
Ahmad Tarakji, presiden Asosiasi Medis Amerika Suriah, mengatakan bahwa “hanya ada beberapa dokter dan staf medis” yang masih “di Douma untuk mengobati begitu banyak korban jiwa.”
Berbicara kepada Al Jazeera dari Fresno, di negara bagian California, AS, Tarakji mengatakan bahwa banyak keluarga di Douma saat ini yang sedang berlindung di ruang bawah tanah untuk melindungi diri mereka sendiri dari bom barel dan penembakan.
“Penggunaan senjata kimia seperti klorin atau produk sejenis, secara de facto gas ini turun mengalir hingga ke ruang bawah tanah dan orang-orang itu … mulai terpapar senjata kimia itu dan itulah mengapa jumlah korban sangat tinggi,” tambahnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, rezim Syiah Suriah telah dilaporkan menggunakan senjata kimia sebagai alat melawan oposisi bersenjata, laporan tersebut selalu dibantah.
Oposisi di Ghouta Timur berhasil menahan serbuan pasukan rezim Syiah Suriah selama bertahun-tahun dalam peperangan, tetapi pengepungan rezim selama empat tahun terhadap distrik itu telah menyebabkan krisis kemanusiaan akibat kekurangan makanan dan obat-obatan yang parah.
Pekan lalu, dua kelompok oposisi mencapai kesepakatan evakuasi dengan tentara Rusia, yang menghasilkan sekitar 19.000 orang dievakuasi ke provinsi utara Idlib.
Mereka termasuk pejuang dari kelompok oposisi Faylaq al-Rahman dan Ahrar al-Sham, keluarga mereka dan warga lainnya.
Kelompok-kelompok oposisi berpendapat bahwa evakuasi seperti itu sama dengan pemindahan paksa, tetapi akhirnya menyerah setelah berpekan-pekan dibombardir serangan intens oleh rezim dan Rusia.
Hanan Halimah, seorang mantan penduduk Douma, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa lebih dari 100.000 warga sipil masih terperangkap dan tidak mungkin menerima bantuan karena kota itu telah menderita kerusakan yang parah selama serangan rezim terakhir.
JAKARTA (Jurnalislam.com) — Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah menyesalkan setelah tujuh tahun berlalu, penyelesaian konflik di Suriah tidak kunjung menemukan titik terang.
Alih-alih berakhir, negeri yang dipimpin Bashar Assad itu menurutnya saat ini justru dinilainya menjadi tempat “perkelahian” negara-negara besar.
Fahri menuturkan konflik berkepanjangan di Suriah telah mengakibatkan musibah kemanusiaan yang luar biasa.
“Sementara itu, di Indonesia yang banyak terlibat adalah masyarakat sipil dan NGO kita seperti ACT (Aksi Cepat Tanggap) dan lain-lain,” ujarnya melalui video yang dikirimkan dari Bahrain dalam diskusi publik Jurnalis Islam Bersatu (JITU) bertema ‘Tujuh Tahun Konflik Suriah: Antara Realita dan Propaganda’ di Hotel Gren Alia, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (7/4/2018).
Namun, kata Fahri, pihaknya belum melihat inisiatif Pemerintah yang lebih luas dan masif dalam meredam konflik di Suriah. Sebagai wakil dari negara muslim terbesar di dunia, ia menegaskan seharusnya Pemerintah bertindak sebagai juru bicara perasaan umat Islam.
“Kita harus all out untuk menghentikan bencana kemanusiaan di Suriah ini,” ungkapnya.
“Jangan biarkan ini menjadi politik negara-negara besar karena yang menjadi korban adalah negara-negara kecil,” pungkas Fahri.
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Konflik berkepanjangan di Suriah kini telah masuk tahun ke tujuh. PBB menyebutnya bencana kemanusiaan terbesar yang telah membuat kerugian dari harta hingga nyawa yang sangat besar. Tragedi ini juga dinilai tidak semata-mata ditujukan kepada rakyat Suriah.
Hal itu disampaikan Presiden lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ahyudin bahwa konflik Suriah perlu ditarik dengan perspektif keimanan kepada Allah. Ia menegaskan sudah saatnya umat menyelamatkan umat.
“Hal yang paling penting dilakukan kita semua adalah memberitahu umat tragedi ini. Gugah umat, bangunkan umat, setiap kata yang temen-temen share adalah jihad kita,” katanya dalam diskusi publik yang diselenggarakan Jurnalis Islam Bersatu (JITU) bertema ‘Tujuh Tahun Konflik Suriah: Antara Realita dan Propaganda’ di Hotel Gren Alia, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (7/4/2018).
“Saya nggak mau Indonesia itu absen di langit gak ada,” imbuhnya.
Sementara itu, redaktur kantor berita Turki Anadolu Agency, Muhammad Pizaro menjelaskan situasi di Suriah tak ubahnya seperti kota mati. “Gelap sekali. Tidak ada air, tidak ada listrik, gelap total. Bunyi jangkrik pun tidak terdengar,” sebutnya.
Ketua Umum Jurnalis Islam Bersatu (JITU) M Pizaro/foto: Zakhi Hidayatullah/JITU
Terlebih, lanjut dia, konflik di Suriah bukan hanya bermula pada tahun 2011, melainkan telah berlangsung puluhan tahun. Kemudian, Pizaro yang juga Ketua Umum JITU menuturkan rakyat dan para ulama di Suriah kerap menitipkan salam pada rakyat Indonesia sebagai negara muslim terbesar.
“Katakan bahwa kami meminta doa-doa mereka, katakan bahwa kami meminta dukungan mereka, karena kita adalah saudara,” ucapnya menirukan penduduk Suriah.
Dalam diskusi tersebut, narasumber dari ACT, Firdaus menyampaikan kondisi terkini di Suriah melalui live streaming. Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah juga turut menyampaikan pesan moral terhadap tragedi Suriah serta kritik kepada Pemerintah untuk lebih aktif membantu penyelesaian konflik.
BOYOLALI (Jurnalislam) – Divisi Advokasi dan Kelaskaran Dewan Syariah Kota Surakarta kembali menggelar Aksi Siyahah Boyolali (jalan malam) pembinaan fisik dan ruhiyah untuk pemuda Islam, pada Sabtu – Ahad (7-8/4/2018).
Aksi yang merupakan salah satu ajang reuni dan penguatan kembali ukhuwah para peserta JUMPA 2 (Jambore Ukhuwah Mukhayam Pemuda Islam) Surakarta tersebut digelar di Lapangan Olahraga Teras Boyolali.
Selain diikuti para Alumni JUMPA 2 Jalan Malam yang Akan menempuh jarak sekitar 23 kilometer tersebut juga diikuti oleh beberapa elemen dan Laskar Islam se-Solo Raya.
Ketua Panitia Ahmad Sigid mengatakan bahwa acara ini dihelat untuk merekatkan ukhuwah bagi para alumni JUMPA 2 khususnya dan para peserta dan masyarakat luas.
“Tidak kurang 500 peserta dengan penuh semangat mengikuti acara yang akan dibagi menjadi 5 Pos untuk sekedar melepas lelah” katanya kepada Jurnalislam.com.
Senada dengan Ahmad Sigid, Habib Adnan yang merupakan sekretaris dari acara jurit malam menambahkan bahwa para peserta harus menyelesaikan beberapa amanah dan permainan di setiap pos yang akan dipandu oleh Instruktur.
Perwakilan DSKS, ustaz Suro Wijoyo mengapresiasi para peserta yang tetap aktif di tengah hujan deras dan menyebut para peserta sebagai generasi pelanjut pemuda Al Kahfi.
“Karena dipundak Antumlah Islam akan memiliki izzah, dan Antum sekalianlah penerus perjuangan agama ini” pungkasnya.
SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Komunitas Pecinta Sedekah (KPS), KONAS, Amar Makruf, Bang Japar Solo, Zam Zam, FOSAM bekerjasama dengan Pengkol Peduli Lingkungan (PPL) menggelar Tabligh Akbar bertajuk ‘Jalin Ukhuwah Kami Peduli dan Masih Bersama Warga’ di Masjid Al Mukminin Proyek Colo, Nguter, Sukoharjo, Jum’at, (6/4/2018).
Kegiatan yang dihadiri lebih dari seribu warga yang dulu terdampak limbah bau PT RUM ini, adalah sebagai bentuk kepedulian elemen umat Islam Soloraya sekaligus sebagai motivasi agar tetap berani memperjuangkan hak hak mereka.
“Kita harapkan dengan kegiatan ini bisa memberikan motivasi dan membangkitkan semangat masyarakat untuk tetap berjuang,” kata ketua KONAS ustaz Dadyo Hasto kepada jurnalislam.com.
Lebih lanjut, ustaz Hasto mengatakan, bahwa elemen umat Islam Soloraya akan selalu mendukung dan mengadvokasi permasalahan-permasalahan yang muncul terkait dengan kasus limbah bau PT RUM.
“Kita ingin masyarakat terus semangat berjuang dan umat Islam melalui elemen Islam soloraya akan selalu membersamai, mendukung dan siap membantu masyarakat,” imbuhnya.
Selain tabligh akbar, elemen umat Islam Soloraya juga memberikan paket sembako kepada masyarakat Pengkol dan sekitarnya. Sebagaimana diketahui sebelumnya, masyarakat Nguter dan sekitarnya adalah warga yang terdampak limbah bau dari PT RUM Sukoharjo.
Paska di protes oleh warga dengan melakukan demo beberapa kali, akhirnya PT RUM secara resmi harus berhenti beroperasi sementara hingga bisa mengatasi permasalahan limbah bau mirip septic tank tersebut.
SOLO (Jurnalislam.com)- Sekjen The Islami Study and Action Center (ISAC) Endro Sudarsono menilai, bahwa munculnya gelombang aksi ‘Tangkap Sukmawati di berbagai daerah di Indonesia, disebabkan lambatnya pihak aparat kepolisian dalam menanggapi laporan sejumlah pihak terhadap puteri Proklamator RI itu.
“Kalau kepolisian segera pro aktif maka saya kira masyarakat segera teredam, kalau ini terkesan lambat, maka reaksi masyarakat semakin menguat,” katanya kepada Jurnalislam.com di Solo, Jum’at, (6/4/2018).
Endro juga mengatakan bahwa umat Islam mungkin saja sudah memaafkan Sukmawati, namun, katanya, proses hukum harus tetap berjalan sesuai dengan prosedur hukum yang ada di Indonesia.
“Bagi umat Islam permintaan maaf terbuka bagi siapapun yang telah mengakui kesalahannya, kemudian secara hukum negara kita mengamanahkan bahwa permintaan maaf tidak menggugurkan proses pidananya, tetap harus berjalan,” ujarnya.
Untuk itu, pihaknya mendesak aparat kepolisian untuk segera melakukan pemeriksaan terhadap Sukmawati, sebab, katanya, jika aparat kepolisian terkesan tebang pilih dan tidak serius dalam menangani kasus ini, maka akan muncul aksi bela Islam sebagaimana aksi 212 pada saat kasus Ahok.
“Kita tidak ingin kasus 212 terjadi lagi pada kasus ibu Sukmawati,” tandasnya.
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) mengusulkan agar pemerintah segera menetapkan aturan hukum untuk pelaku lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT).
“Pelaku seks menyimpang lainnya harus dihukum berat. Demikian juga penganjur, fasilitator, pendonor dana dan komunitas yang mengambil manfaat secara ekonomis dan politis terhadap perilaku seksual menyimpang tersebut,” ujar Wakil Ketua Umum ICMI Sri Astuti Buchari saat diskusi media Dialetika ICMI ‘Memberantas Sodomi dan Pencabulan’ di kantor pusat kegiatan ICMI, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (06/04/2018).
Menurutnya, dengan adanya aturan hukum yang tegas terkait pelarangan LGBT di Indonesia, diharapkan mampu menangkal maraknya perilaku seksual menyimpang tersebut dalam kehidupan sosial masyarakat.
“Untuk menjadi peringatan bahwa LGBT adalah perbuatan dilaknat. Hukumnya haram dan merupakan tindak pidana kejahatan,” ujarnya.
Sri Astuti mengungkapkan, pada Februari lalu, ICMI telah memberikan saran atau rekomendasi guna menyelesaikan persoalan LGBT di Tanah Air yang dikaji melalui kegiatan seminar nasional.
Rekomendasi pertama, ucap Sri Astuti, desakan ke Presiden dan DPR segera menerbitkan norma hukum yang tegas terkait aktivitas LGBT sehingga memiliki efek jera. Lalu kedua, perlunya upaya sosialisasi dan rehabilitasi sebagai metode pencegahan maraknya LGBT di kalangan masyarakat.
“Rekomendasi ketiga, perlunya kerja sama antar pemangku kepentingan pusat dan daerah untuk menutup situs porno dan LGBT di media sosial, mengampanyekan dampak seks bebas dan menyimpas serta ajakan menghindarinya, penyuhan ke lembaga pendidikan dan pembuatan modul informasi Infeksi Menular Seksual (IMS),” kata Sri Astuti.
Rekomendasi keempat, menginformasikan kepada generasi muda era 1981-2000 dan 2000-2010 tentang risiko gempuran teknologi digital, akibat anal seks dan penularannya, tidak melakukan seks bebas sebelum menikah dan kampanye bangga menjaga keperawanan maupun keperjakaan.
Kemudian rekomendasi terakhir, Sri Astuti menjelaskan, perlu ada Pedoman dan Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa I dan II sehingga LGBT dapat dikategorikan penyakit.
SEMARANG (Jurnalislam.com) – Aksi unjuk rasa damai memprotes Sukmawati Soekarnoputri juga dilakukan ratusan umat Islam Semarang yang tergabung dalam Forum Ummat Islam Semarang (FUIS) di depan Mapolda Jateng Jl. Pahlawan Kota Semarang, Jum’at (6/4/2018)
FUIS menuntut aparat menegakkan hukum atas Sukmawati yang dinilai telah melecehkan syarat Islam dalam puisinya berjudul Ibu Indonesia.
“Kami mewakili dari kaum muslimin dalam rangka penegakan hukum secara adil. Walaupun yang melanggar hukum adalah putri proklamator, namanya hukum harus tetap ditegakkan,” kata Ketua FUIS Wahyu Kurniawan kepada media disela-sela aksi.
Kendati Sukmawati telah menyamoaikan permintaan maafnya kepada umat Islam, namun FUIS meminta aparat untuk tetap memproses laporan-laporan umat Islam yang tersinggung atas puisi putrid Bung Karno tersebut.
“Walaupun sudah menyampaikan maaf secara terbuka Sukmawati Soekarnoputri harus tetap menjalani proses peradilan sesuai hukum yang berlaku,” katanya.
Jika kasus tersebut tidak ditindaklanjuti, FUIS menyerukan umat Islam untuk melakukan aksi yang lebih besar lagi. Kendati demikian, FUIS tetap mengimbau umat Islam untuk menjaga akhlak yang baik.
Sebelumnya, aksi serupa digelar umat Islam di beberapa kota. Tuntutannya sama, yaitu mendesak aparat untuk melanjutkan proses hukum terhadap Sukmawati atas puisinya yang dinilai telah melecehkan Syariat Islam.