Bincang Politik Anis Matta Bersama Aktivis Islam Tasikmalaya

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Aliansi Aktivis dan Masyarakat Muslim Tasikmalaya (Almumtaz) bersama Persaudaraan Alumni 212 menggelar acara Tatsqif Siyasi bertajuk ‘Wawasan Politik Islam’ bersama Anis Matta di Hotel Horison, Kota Tasikmalaya, Selasa (10/4/2018) malam.

Dalam paparannya, mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengatakan, Indonesia sedang mengalami krisis narasi dan krisis kepemimpinan.

Anis menjelaskan, Indonesia telah melewati dua gelombang sejarah. Gelombang pertama ialah gelombang menjadi Indonesia yang puncaknya adalah kemerdekaan 1945.

Gelombang kedua adalah menjadi Indonesia sebagai bangsa yang modern. Gelombang ini terjadi pada masa orde lama, orde baru, dan orde reformasi.

“Kita bangun konstitusi kita, institusi negara, kita bangun masyarakat kita. Dan dalam proses ini antara sistem dan outputnya adalah demokrasi dan kesejahteraan. Di masa orde lama ada demokrasi tapi tidak ada kesejahteraan, di masa orde baru ada kesejahteraan tapi tidak ada demokrasi, di masa reformasi ini kita berusaha mempertemukannya tapi terseok-seok,” jelas Anis Matta.

Kendati demikian, Anis mengakui demokrasi dan kesejahteraan sudah relatif ada di masa reformasi ini. Akan tetapi jika dibandingkan dengan potensi besar yang dimiliki Indonesia, seharusnya keseimbangan demokrasi dan kesejahteraan itu dapat berjalan dengan baik.

“Langit kita terlalu tinggi tapi kita terbang terlalu rendah, yang kita punya terlalu banyak tapi yang kita ciptakan terlalu sedikit. Dan ini yang saya maksud dengan krisis narasi dan krisis kepemimpinan,”

Selanjutnya, Indonesia memasuki gelombang ketiga yaitu menjadi kekuatan utama dunia. Ia menyampaikan potensi menjadikan Indonesia sebagai kekuatan kelima di dunia.

Sebagai bangsa dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia seharusnya mampu menjadi penopang kebangkitan Islam di dunia.

“Ini momentum yang harus kita raih. Seharusnya kita bisa membangun negara kita ini dalam parameter ekonomi, teknologi dan militer menjadi negara yang kuat. Karena kita bisa memberikan model keseimbangan baru secara global,” papar Anis.

Sebelumnya, Anis juga mengisi acara serupa di Pondok Pesantren Miftahul Huda 2, Ciamis.

Perancis akan Balas Serangan Senjata Kimia Assad

PERANCIS (Jurnalislam.com) – Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris telah meningkatkan tekanan terhadap rezim pemerintah Suriah dengan menjanjikan reaksi keras terhadap dugaan serangan gas terhadap Douma, kota terakhir yang masih dipegang oleh oposisi di bekas benteng mereka di Ghouta Timur.

Perancis pada hari Selasa (10/4/2018) memperingatkan akan membalas dendam terhadap Assad jika senjata kimia terbukti melewati “batas garis merah” di Douma, lansir Aljazeera.

Berbicara kepada radio Europe 1, Presiden Perancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa intelijen berbagi data dengan Trump “menegaskan penggunaan senjata kimia.”

Waspadai Serangan AS ke Suriah, Pasukan Assad dan Angkatan Laut Rusia Siaga 1

Pada hari Senin, duta besar AS untuk PBB, Nikki Haley, mengatakan pada pertemuan mendadak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa Washington siap untuk “menanggapi” serangan tersebut tanpa menghiraukan apakah Dewan Keamanan bertindak atau tidak.

Sementara itu, Theresa May, perdana menteri Inggris, mengatakan bahwa pemerintah Suriah “dan para pendukungnya, termasuk Rusia, harus dimintai pertanggungjawaban” jika terbukti bertanggung jawab menjatuhkan senjata kimia pada warga Douma.

Presiden Perancis: Kami akan Intervensi Militer ke Ghouta, Serang Suriah

Namun juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov memperingatkan bahwa “membuat kesimpulan seperti itu adalah salah dan berbahaya”, dengan menunjukkan bahwa oposisi bisa saja melancarkan serangan itu untuk melemparkan kesalahan pada Damaskus.

Sergey Lavrov, menteri luar negeri Rusia, membantah dengan mengatakan spesialis Rusia tidak menemukan jejak serangan kimia terhadap Douma.

Sejak 18 Februari, serangan rezim Syiah Nushairiyah Suriah terhadap Ghouta telah menewaskan lebih dari 1.600 warga sipil.

Info Grafik Serangan Senjata Kimia Rezim Assad dan Bantahan Sitematis Rusia

ANKARA (Jurnalislam.com) – Rusia secara sistematis menyangkal serangan-serangan senjata kimia yang dilaporkan dilakukan oleh rezim Syiah Bashar al-Assad terhadap warga sipilnya, mengklaim bahwa gambar-gambar yang menunjukkan penduduk Suriah diracuni dibuat oleh negara-negara Barat, lansir Anadolu Agency Selasa (10/4/2018).

Rusia juga memblokir pertemuan Dewan Keamanan PBB yang membahas pelanggaran hak asasi manusia di Suriah.

Sejak awal perang di Suriah, pasukan rezim Syiah Nushairiyah Assad dilaporkan telah melakukan 215 serangan kimia.

Hanya tiga serangan yang diketahui Internasional dimana jumlah korban tewas tinggi sehingga menarik perhatian dunia.

Namun gambar warga sipil Suriah yang terkena dampak serangan kimia tidak cukup meyakinkan bagi pihak berwenang Rusia, yang bersikeras selalu membantah bahwa gambar-gambar tersebut adalah foto palsu yang dibuat oleh beberapa negara Barat.

Waspadai akan Serangan AS ke Suriah, Pasukan Assad dan Angkatan Laut Rusia Siaga 1

Korban tewas terbesar adalah ketika rezim Assad menggunakan senjata kimia di Ghouta Timur pada 21 Agustus 2013.

Sedikitnya 1.400 warga sipil tewas. Selain itu, sejumlah besar warga sipil, terutama perempuan dan anak-anak, terkena dampak serangan kimia tersebut.

Presiden Rusia Vladimir Putin membuat pernyataan pertamanya tentang insiden itu setelah inspektur PBB menyelesaikan pemeriksaan mereka di Suriah.

“Saya yakin bahwa [serangan kimia] tidak lebih adalah provokasi oleh mereka yang ingin menyeret negara lain ke dalam konflik Suriah, dan yang ingin memenangkan dukungan dari anggota kuat arena internasional, terutama Amerika Serikat,” Putin mengatakan pada 31 Agustus 2013.

Setelah serangan kimia 2013 di Suriah, AS diperkirakan akan melakukan intervensi terhadap Suriah. Namun, Rusia menghindari intervensi Amerika – yang tampaknya melanggar “garis merah” AS sebelumnya – setelah rezim mengatakan akan menghancurkan stok senjata kimia mereka. Kesepakatan dicapai pada 15 September 2013.

Senjata-senjata itu dihancurkan karena Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (the Organization for the Prohibition of Chemical Weapons-OPCW) ikut bermain. Organisasi mengumumkan proses penghancuran berakhir pada 19 Agustus 2014.

Namun, organisasi hanya menghancurkan stok senjata yang diungkap oleh rezim. Serangan di Idlib, Aleppo dan Eastern Ghouta adalah bukti bahwa rezim berhasil menyembunyikan beberapa senjata kimianya.

Inilah Infografik 162 Serangan Senjata Kimia Rezim Assad di Suriah

Sedikitnya 100 warga sipil tewas dalam serangan senjata kimia oleh rezim di Khan Sheikhoun Idlib pada 4 April 2017.

Beberapa warga Khan Sheikhoun sedang tidur selama serangan yang terjadi di pagi hari tersebut.

Pihak oposisi melaporkan jet tempur Suriah melintas, dan mengira bahwa itu adalah serangan udara biasa. Tetapi ketika pemboman itu tidak mengakibatkan pendarahan atau bekas luka, segera dipahami bahwa itu adalah serangan kimia.

Namun, pihak berwenang Rusia mengklaim bahwa mereka menargetkan “depot amunisi”, bukan warga sipil.

Juru Bicara Departemen Pertahanan Rusia Mayor Jenderal Igor Konashenkov juga menegaskan bahwa serangan itu menargetkan depot amunisi di timur Khan Sheikhoun, mengklaim bahwa gudang tersebut digunakan untuk memproduksi dan menyimpan bom yang mengandung gas beracun.

Rekaman udara yang diperoleh oleh Anadolu Agency sehari setelah serangan mengungkapkan bahwa gudang yang ditargetkan adalah lumbung gandum yang tidak terpakai.

Tiga hari setelah dugaan serangan kimia, AS membalas dengan serangan udara di lapangan udara Shayrat, yang menurut Rusia hanya alasan AS untuk campur tangan di Suriah.

Mekanisme Investigasi Bersama (Joint Investigative Mechanism-JIM) antara Organisasi untuk Pelarangan Senjata (OPCW) dengan PBB pada 27 Oktober 2017 menyimpulkan bahwa rezim Assad bertanggung jawab atas pembantaian Khan Sheikhoun dan mempresentasikan laporan tersebut ke Dewan Keamanan PBB. Dalam proses penyidikan serangan dan laporan JIM, pihak berwenang Rusia membuat pernyataan mengkritik metode dan hasil temuan penelitian.

Pada 21 Oktober 2016, JIM menahan rezim Syiah Assad yang bertanggung jawab atas tiga serangan lagi selama investigasi Khan Sheikhoun.

Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia melontarkan kemarahan setelah JIM memutuskan bahwa rezim telah menggunakan senjata kimia di desa Talamenes, Idlib, pada 21 April 2014, di desa Sarmin pada 16 Maret 2015, dan di Marea, Aleppo, pada 21 Agustus 2016. Nebenzia menyebut mereka “penyelidikan fiktif” dan “tuduhan tanpa dasar.”

Cegah PBB Selidiki Serangan Bom Kimia di Suriah, AS Salahkan Rusia

Rusia memveto keputusan untuk memperpanjang penyelidikan JIM pada 18 November 2017. Ini adalah veto ke-10 yang diambil Rusia demi rezim sejak perang saudara dimulai. Nebenzia menjelaskan hak veto itu dengan mengatakan JIM telah “mempermalukan dirinya sendiri” karena melontarkan tuduhan tak berdasar.

Belum ada sanksi yang dijatuhkan terhadap rezim tersebut sejak keputusan JIM, yang menetapkan bahwa rezim bertanggung jawab atas serangan terhadap Khan Sheikhoun dan tiga serangan kimia lainnya; bahkan orang-orang rezim Suriah yang bertanggung jawab atas pembantaian dianggap tidak cukup banyak untuk dibawa ke hadapan Pengadilan Pidana Internasional (the International Criminal Court-ICC).

Karena Suriah bukan anggota ICC, Dewan Keamanan PBB harus merujuk rezim ke ICC. Namun, Rusia juga mencegah proses ini.

Serangan terakhir rezim dengan senjata kimia menewaskan 78 warga sipil di distrik Douma di Ghouta Timur. Rusia mengatakan serangan itu hanyalah alasan untuk menyabotase evakuasi sejak 22 Maret berdasarkan perjanjian yang diperantarai oleh Rusia, antara rezim Bashar al-Assad dan kelompok-kelompok oposisi bersenjata, Jaishul Islam di Douma.

Negara-negara Eropa Serentak Kutuk Serangan Senjata Kimia di douma

Kementerian Luar Negeri Rusia malah mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa berita itu “palsu”.

“Informasi palsu sedang ditanam tentang dugaan penggunaan klorin dan agen beracun lainnya oleh pasukan Suriah,” kata kementerian itu.

Ketika ditanya apakah rezim menggunakan senjata kimia di Suriah dalam sebuah wawancara dengan penyiar NBC bulan lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan pemerintah Suriah telah lama menghancurkan semua senjata kimia yang dimilikinya.

Putin berkata: “Semua ini adalah hasil dari elemen radikal, aksi teroris. Mereka melakukan kejahatan ini untuk menyalahkan Assad. Kami menyadari rencana para pemberontak untuk menunjukkan bahwa tentara Suriah menggunakan senjata kimia. Mereka telah mencoba melakukan ini di masa lalu.”

Presiden Rusia juga menuduh pasukan oposisi bersenjata di Suriah menggunakan tuduhan bahwa rezim menggunakan senjata kimia “sebagai alasan untuk perjuangan mereka melawan Assad.”

Waspadai Serangan AS ke Suriah, Pasukan Assad dan Angkatan Laut Rusia Siaga 1

DAMASKUS (Jurnalislam) – Rezim Suriah menempatkan pasukannya pada posisi “siaga tinggi” di tengah ancaman respon militer AS yang membayangi menyusul dugaan serangan senjata kimia pada hari Sabtu (7/4/2018) di sebuah kota yang dikuasai oposisi di dekat Damaskus, lansir Aljazeera Selasa (10/4/2018).

Donald Trump menggambarkan serangan bom barel klorin terhadap Douma tersebut sebagai “hal yang mengerikan” dan berjanji untuk menanggapi “dengan keras”.

Rezim Syiah Suriah dan sekutunya, Rusia, membantah terjadinya serangan kimia itu, tetapi tim penyelamat dan petugas medis di lapangan mengatakan bahwa puluhan orang, termasuk banyak wanita dan anak-anak, tewas.

Rusia dan AS Perang Mulut, Trump: Kami akan Putuskan Segera atas Serangan Beracun

Trump bertemu kabinetnya serta jenderal tinggi pada hari Senin dan menjanjikan “keputusan besar selama 24 hingga 48 jam berikutnya,” sebagai tanggapan atas serangan itu.

Berbicara kepada wartawan pada hari Selasa, juru bicara Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders mengatakan Trump tidak akan melakukan perjalanan ke Amerika Latin, seperti yang direncanakan, dan akan tetap berada di AS untuk “mengawasi respon Amerika terhadap Suriah dan untuk memantau perkembangan di seluruh dunia.”

Info Grafik Serangan Senjata Kimia Rezim Assad dan Bantahan Sitematis Rusia

Sementara itu, James Mattis, menteri pertahanan AS, tidak mengesampingkan tindakan militer terhadap pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Kantor berita DPA melaporkan pada hari Selasa bahwa tentara Suriah telah menempatkan semua posisi militer dalam keadaan siaga, termasuk bandara dan semua pangkalan, selama 72 jam.

Dikatakan bahwa keadaan waspada mencakup semua posisi dan pangkalan militer di provinsi selatan Sweida, provinsi Aleppo, Latakia dan provinsi Deir Az Zor.

Secara terpisah, situs web berita pro-pemerintah Al Masdar melaporkan bahwa armada Laut Hitam Angkatan Laut Rusia juga telah ditempatkan pada siaga tinggi setelah kapal perang AS dilaporkan meninggalkan Siprus menuju perairan Suriah.

Negara-negara Eropa Serentak Kutuk Serangan Senjata Kimia di douma

Tidak ada tanggapan resmi dari Rusia tentang pengumuman itu.

Tapi berita itu muncul karena sedikitnya satu kapal penghancur rudal AS berangkat ke pantai Suriah setelah Trump menyatakan kemungkinan respon militer.

Vladimir Shamanov, mantan panglima tertinggi Pasukan Lintas Udara Rusia, bersumpah bahwa Rusia akan mengambil semua langkah pembalasan politik, diplomatik dan militer jika AS melakukan serangan di Suriah.

“Politik standar ganda telah mencapai titik terendah. Dan di sini, partai Rusia Bersatu secara sadar menyatakan bahwa semua langkah politik, diplomatik dan militer akan diambil jika perlu,” Shamanov mengatakan pada rapat pleno Negara Duma.

Demikian pula, kementerian luar negeri Rusia memperingatkan “intervensi militer terhadap dalih yang dibuat-buat dan palsu.”

Ormas Islam Jatim Kembali Laporkan Sukmawati

SURABAYA (Jurnalislam.com) – Asosiasi Pembela Islam (API) Jawa Timur bersama LBH BHF (Bantuan Hukum Front Garda FPI) melaporkan Sukmawati Soekarnoputri ke Polda Jatim, Selasa (10/4/2018). Laporan tersebut masih terkait puisi Sukmawati yang dinilai melecehkan Syariat Islam.

Laporan disampaikan atas nama Indra Septika selaku pelapor terkait Penodaan Agama dan atau ujaran kebencian dan UU No.40 tahun 2008 yang disampaikan oleh Sukmawati melalui puisi “Ibu Indonesia”.

“Sebagai sebuah bangsa yang beradab, dibangun di atas pengakuan atas pluralitas ras, warna kulit, etnis, agama, dan lain sebagainya. Ini berarti bahwa segala bentuk provokasi, hasutan ataupun hinaan terhadap segala aspek keragaman adalah hal yang tak bisa ditoleransi,” kata perwakilan LBH BHF, Fatimah.

Menurutnya, puisi dengan judul ‘Ibu Indonesia’ yang dibacakan di depan publik mengandung pernyataan yang dapat dikategorikan sebagai bentuk ujaran kebencian terhadap kelompok tertentu, yaitu umat Islam, sehingga bisa mencederai tenunan kebangsaan Indonesia.

Oleh karena itu, Asosiasi Pembela Islam Jawa Timur, menyatakan sikap sebagai berikut:

  1. Menerima permohonan maaf ibu Sukmawati Soekarno Putri, berdasarkan prinsip ukhuwah islamiah, ukhuwah wathoniyah, dan ukhuwah insaniyah;
  2. Meminta penegak hukum agar tetap proses hukum tetap dilanjutkan berdasarkan prinsip kepastian hukum dan keadilan;
  3. Menyerukan kepada umat Islam agar tidak mudah terprovokasi dan mengedepankan prinsip saling menghargai sesama anak bangsa dan menghindari segala perkataan, perilaku, tulisan, ataupun pertunjukan yang dapat menjurus pada ujaran kebencian.
  4. Ibu Sukmawati harus mencabut pernyataan atau puisi yang telah menjadi kontroversi, menyinggung suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).

Pelaporan Ade Armando Untuk Mencegah Aksi Main Hakim Sendiri Masyarkaat

KH. Shabri Lubis: Ade Armando Dilaporkan agar Terhindar dari Hakim Sendiri Masyarakat

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ade Armando resmi dilaporkan oleh Front Pembela Islam (FPI) ke Bareskrim Mabes Polri pada Selasa (10/4/2018) siang.

Ketua Umum DPP FPI, KH Shabri mengatakan, pelaporan atas Ade Armando dilakukan untuk mencegah aksi main hakim sendiri dari masyarakat.

“Kita sebagai warga negara yang baik dan sebagai Front Pembela Islam ingin memberikan pandangan dan arahan kepada anggota kami serta masyarakat supaya tidak main hakim sendiri dalam hal seperti ini. Tapi harus kita lakukan sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku,” katanya kepada Jurnalislam.com usai pelaporan itu di Bareskrim, Jakarta, Selasa (10/4/2018).

Ade Armando dipolisikan atas postingannya dalam akun facebook miliknya yang menyebut FPI sebagai anjing binaan Polri. “Polri harus membuktikan pada publik bahwa FPI bukan anjing binaan mereka,” tulis Ade dalam facebooknya.

Ade Armando dinilai melanggar ketentuan hukum pasal 28 ayat 2 terkait penghinaan, pencemaran nama baik, dan menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu atau masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Reporter: Gio

Disebut Anjing Binaan Polri, FPI Laporkan Ade Armando

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum DPP Front Pembela Islam (FPI), KH Shabri Lubis melaporkan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Ade Armando atas pernyataannya di dalam status Facebook pribadinya.

Dalam postingannya, Ade Armando dinilai telah mengolok-ngolok FPI dengan ujaran kebencian. Di salah-satu statusnya, Ade menulis, “Polri harus membuktikan pada publik bahwa FPI bukan anjing binaan mereka.”

“Kami datang ke Bareskrim Polri melaporkan Ade Armando terkait ujaran kebencian yang dilakukannya,” katanya kepada Jurnalislam.com di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Selasa (10/04/2018).

Shabri menambahkan, pelaporan kali ini adalah sebagai upaya untuk mencegah aksi main hakim sendiri. Shabri pun berharap agar kepolisian segera merespon, memeriksa dan menghukum Ade Armando.

“Orang ini sedari dulu kerjaannya menghina Ormas Islam, menghina agama. Ini maunya apa,” ujarnya.

Lebih lanjut, menurut pelapor KH. Shobri Lubis, Ade Armando acap kali melontarkan ujaran kebencian baik itu terhadap agama maupun ormas Islam. Bahkan setelah ditetapkan sebagai tersangka pun, Ade Armando dapat bebas.

“Ini sudah terlalu sering. Ade Armando ini gak kena terus nih, udah jadi tersangka masih gak ditangkap juga,” pungkasnya.

Ade Armando dinilai melanggar ketentuan hukum pasal 28 ayat 2 terkait penghinaan, pencemaran nama baik, dan menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu atau masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Reporter: Gio

MUI Jabar Ajak Seluruh Elemen Berantas Miras

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat Prof Dr KH Rachmat Safe’i mengaku, sangat prihatin atas kasus peredaran miras oplosan yang merenggut 45 nyawa di tiga daerah. Dia meminta seluruh intansi terkait bersatupadu memberantas peredaran miras.

Menurut Rachmat, miras sudah jelas dilarang oleh agama karena merusak fisik dan mental manusia. Karena itu, ia mengimbau, kepada para orang tua untuk memberikan pengawasan secara ketat kepada anak-anaknya yang akan menjadi pewaris bangsa ini.

Jika generasi muda dirusak oleh miras dan narkoba, kata dia, bagaimana dengan nasib bangsa ini ke depan. “Saya mengimbau para orangtua terus mengawasi dan memberikan bimbingan kepada anak-anaknya agar tidak menjadi korban peredaran miras dan narkoba,” ujar dia kepada wartawan di Bandung, Selasa (10/4/2018).

Rachmat juga mengajak para tokoh agama untuk membantu polisi dalam menyosialisasikan bahaya peredaran miras dan narkoba. “Tokoh agama harus bersama-sama dengan polisi dalam memberikan informasi kepada masyarakat tentang bahaya peredaran miras dan narkoba,” kata dia.

Rachmat juga meminta Polda Jabar untuk melakukan tindakan hukum secara tegas kepada produsen dan penjual miras oplosan. “Ini sangat memprihatinkan. Peredaran miras sudah merenggut banyak nyawa manusia. Masyarakat dan pihak terkait harus bersatu memeranginya,” ujarnya.

Kapolda Jabar Irjen Pol Drs Agung Budi Maryoto, mengajak, para tokoh agama, khususnya kiai dan ustasz menyampaikan sosialisasi bahaya peredaran miras dan narkoba dalam setiap khutbah Jumat atau kegiatan ceramah lainnya. “Saya sangat prihatin dengan kasus ini. Kami mengajak tokoh agama bersama-sama menyosialisasikan bahaya peredaran miras dan narkoba kepada masyarakat,” tutur dia.

Hingga saat ini korban tewas akibat mengonsumsi miras oplosan di Kabupaten Bandung mencapai 41 orang. Sebanyak 31 orang tewas di RSUD Cicalengka, di RSUD Majalaya sebanyak tiga orang dan Rumah Sakit (RS) AMC sebanyak tujuh orang. Total korban sebanyak 41 orang.

Pejuang Subuh Akan Gelar Silatnas IV di Bogor Akhir Pekan Ini

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Komunitas Pejuang Subuh akan menggelar kegiatan Silaturahim Nasional (Silatnas) yang keempat di Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu hingga Ahad (14-15/4/2018) mendatang.

Ketua Yayasan Pejuang Subuh Indonesia Miskam Ayla mengatakan, tujuan diadakan Silatnas IV Pejuang Subuh ini guna menyamakan persepsi terkait visi dan program Pejuang Subuh. Kemudian juga memberikan spirit kepada para Pejuang Subuh yang telah menyelesaikan program 40 hari untuk dapat bersemangat membangunkan calon Pejuang Subuh lainnya.

Ia menjelaskan, ratusan Pejuang Subuh dari berbagai daerah yang bisa menghadiri Silatnas tersebut hanya mereka yang sudah lolos tantangan shalat berjamaah 40 hari tidak putus di masjid atau musholla dekat rumahnya bagi laki-laki, atau 30 hari shalat Subuh tepat waktu di rumah bagi perempuan.

“Inilah tantangan yang mesti dilakukan jika ingin bergabung Pejuang Subuh,” ujarnya di Jakarta, Selasa (10/4/2018).

Miskam menambahkan, pada Silatnas itu juga akan diluncurkan Aplikasi Pejuang Subuh yang spesial untuk membantu membangunkan para Pejuang Subuh dan dapat mendeteksi berapa orang anggota Pejuang Subuh yang shalat subuh dan di masjid mana.

“Ini adalah aplikasi modern karena Pejuang Subuh menyesuaikan dengan para Pejuang Subuh yang mayoritas anak muda dan melek teknologi,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Silatnas IV Junaedi menerangkan, acara itu akan dihadiri oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Shalahuddin Uno, President Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ahyudin, Da’i muda Ustadz Erick Yusuf dan Ustadz Salman Al Farisi.

“Juga akan ada Deklarasi Silatnas IV Pejuang Subuh, serta berbagai penghargaan mulai dari Chapter of The Year, Pejuang Subuh of the Year, Rookie of the Year dan berbagai macam penghargaan lainnya,” tandas Juna.

Salah satu pembicara, TGB Muhammad Zainul Majdi menyampaikan, turut menyambut baik kegiatan Pejuang Subuh yang merupakan komunitas yang mengikhtiarkan sholat subuh seramai sholat Jum’at.

“Motor-motornya adalah anak-anak muda yang berdedikasi dengan menggunakan teknologi informasi,” tuturnya.

Sedangkan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengajak, agar para Pejuang Subuh bersemangat dan istiqomah menuaikan ibadah shalat subuh berjama’ah di masjid.

“Jangan lupa ikut tantangan 40 hari sholah subuh berjama’ah di masjid. Semoga sholat subuh seramai sholat Jum’at,” tutupnya.

Kini Proyek Politik Eropa-AS Gambarkan Muslim Seperti Iblis

CALIFORNIA (Jurnalislam.com) – Politisi sayap kanan menggunakan Islamophobia untuk memenangkan pemilihan, menurut seorang ilmuwan terkemuka tentang masalah ini.

“Islamophobia, baik di Eropa maupun AS, digunakan sebagai proyek politik yang terhubung ke sayap kanan dan mungkin juga oleh elit politik yang menjelek-jelekkan Muslim untuk memenangkan pemilu,” Dr. Hatem Bazian dari University of California-Berkeley mengatakan kepada Anadolu Agency pada hari Ahad (8/4/2018).

Bazian, yang juga seorang kolumnis pekanan untuk surat kabar berbahasa Inggris yang berbasis di Istanbul, Daily Sabah, berada di Istanbul untuk mengambil bagian dalam konferensi tiga hari tentang Islamophobia di Sabahattin Zaim University.

Muslim dan Integrasi di Inggris

“Jadi, oleh karena itu, strategi demonizing Muslim (menggambarkan Muslim seperti iblis-jahat) dan menargetkan Muslim didorong oleh politik elektoral,” kata Bazian, yang juga seorang pendiri dan profesor Hukum dan Teologi Islam di Zaytuna College, perguruan tinggi seni liberal Muslim terakreditasi pertama di AS.

Di beberapa negara Eropa, partai-partai sayap kanan telah memperoleh kemenangan elektoral di tengah krisis pengungsi – yang terbesar di Eropa sejak Perang Dunia Kedua.

100.000 Warga AS Masuk Islam Pertahun, Muslim akan Menjadi Umat Terbesar di Amerika

Bazian mengatakan partai-partai politik sayap kanan “berusaha mendefinisikan diri mereka sebagai pelindung masyarakat Barat dari pihak luar, yang pada dasarnya adalah satu-satunya cara bagi mereka untuk mengembalikan kehormatan.”

Menurut Bazian, kelompok neo-Nazi, skinhead dan supremasi kulit putih menggunakan wacana anti-Muslim untuk mendapatkan rasa hormat setelah berada di pinggiran masyarakat.