YERUSALEM (Jurnalislam.com) – Polisi penjajah Israel membubarkan puluhan warga Palestina yang memprotes penutupan semua gerbang Masjid Al-Aqsha di Kota Tua Yerusalem setelah upaya serangan pisau, Anadolu Agency melaporkan, Jumat (17/8/2018).
Polisi Israel mencegah pengunjuk rasa Palestina berkumpul di depan Gerbang Singa (Bab Al-Asbat) untuk melakukan sholat Isya (malam).
Polisi menggunakan granat kejut untuk membubarkan kerumunan tetapi kemudian mengizinkan beberapa pejabat Palestina untuk melakukan sholat.
Kiswani mengatakan negara-negara Arab dan Muslim mengabaikan peristiwa yang terjadi di sekitar Masjid Al-Aqsa hingga warga Palestina bertanggung jawab atas apa yang terjadi di sana.
Polisi Israel menutup Al-Aqsa dua kali dalam 30 hari terakhir.
ANKARA (Jurnalislam.com) – Menteri keuangan Turki dan mitranya dari Perancis pada hari Jumat (17/8/2018) menyetujui melalui telepon untuk melakukan tindakan bersama terhadap sanksi AS yang menargetkan Turki, menurut sumber-sumber menteri.
Menteri Keuangan dan Keuangan Turki Berat Albayrak dan Menteri Ekonomi dan Keuangan Prancis Bruno Le Maire membahas kerja sama ekonomi, Departemen Keuangan dan Keuangan Turki mengatakan dalam sebuah pernyataan, lansir Anadolu Agency.
Albayrak dan Le Maire setuju untuk meningkatkan kerja sama bilateral, kata pernyataan itu, menambahkan delegasi dari kedua negara akan bertemu di Paris pada 27 Agustus.
Menteri Turki juga mengucapkan terima kasih kepada mitranya dan Presiden Prancis Emmanuel Macron atas dukungan mereka.
Turki dan AS saat ini sedang mengalami hubungan yang rumit setelah Washington memberlakukan sanksi terhadap dua menteri Kabinet Turki karena tidak membebaskan Brunson.
GAZA (Jurnalislam.com) – Sedikitnya dua orang Palestina menjadi martir dan 40 lainnya terluka pada hari Jumat (17/8/2018) akibat tembakan tentara penjajah Israel di dekat pagar pembatas antara Jalur Gaza timur dan Israel, menurut seorang pejabat Kementerian Kesehatan Gaza.
“Karim Abu Ftair, 30, ditembak gugur oleh tentara Israel di dekat perbatasan timur kamp pengungsi Al-Bureij di Jalur Gaza tengah,” kata juru bicara Kementerian Kesehatan Palestina Ashraf al-Qidra dalam sebuah pernyataan.
Sebanyak 40 warga Palestina lainnya terluka oleh peluru tajam, sementara 201 orang pingsan setelah menghirup gas air mata, tambahnya.
Sejak aksi protes “hak untuk kembali” dimulai pada 30 Maret, sedikitnya 162 warga Palestina telah menjadi martir – bersama dengan ribuan lainnya yang terluka – akibat tembakan brutal pasukan zionis, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.
Para pengunjuk rasa menuntut “hak untuk kembali” ke rumah mereka di Palestina yang bersejarah sejak mereka diusir pada tahun 1948 untuk memberi jalan bagi negara baru Israel.
Mereka juga menuntut diakhirinya blokade Israel yang kejam di Jalur Gaza, yang telah menghancurkan perekonomian kantong pesisir dan mencabut banyak komoditas pokok bagi 2 juta penduduknya.
KONGO (Jurnalislam.com) – Kekerasan milisi di Republik Demokratik Kongo (DRC) mencegah pekerja bantuan mengakses korban potensial Ebola, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (the World Health Organization-WHO).
Sebanyak 78 kasus telah dikonfirmasi dan kemungkinan penyakit Ebola telah tercatat di DRC timur laut sejak 1 Agustus, WHO mengatakan pada hari Jumat (17/8/2018), lansir Aljazeera.
Wabah terbaru telah menelan hingga 44 jiwa (17 dikonfirmasi dan 27 kemungkinan), tambahnya.
Sedikitnya 1.500 orang berpotensi terkena virus mematikan di provinsi Kivu Utara tetapi kekerasan di wilayah itu membuat para pejabat tidak yakin jika mereka telah mengidentifikasi semua rantai yang menyebar di bagian timur negara yang luas itu.
Di daerah itu, para pekerja kesehatan dipaksa untuk menavigasi tanggapan mereka di antara lebih dari 100 kelompok bersenjata.
Tedros Adhanom Ghebreyesus, kepala WHO, mengatakan wilayah itu penuh dengan “zona merah”, atau area yang tidak dapat diakses.
“Kami tidak tahu apakah kami telah mengidentifikasi semua rantai penularan. Kami memperkirakan akan melihat lebih banyak kasus sebagai akibat dari infeksi sebelumnya dan infeksi ini berkembang menjadi penyakit,” kata juru bicara WHO Tarik Jasarevic pada konferensi pers di Jenewa.
“Skenario terburuk adalah bahwa terdapat blindspot di mana epidemi bisa bertahan namun tidak kami ketahui,” katanya.
Wabah ini menyebar di seluruh lahan pertanian subur di Kongo timur dan telah mencapai provinsi Ituri yang terletak berdekatan.
Ebola menyebabkan penyakit serius termasuk muntah, diare dan dalam beberapa kasus perdarahan internal dan eksternal. Sering fatal jika tidak diobati.
DRC telah mengalami 10 kali wabah Ebola sejak virus itu ditemukan di Sungai Ebola pada tahun 1976, dan telah menewaskan sekitar 900 orang.
Agensi anak-anak PBB, UNICEF, mengatakan bahwa proporsi orang yang terkena dampak yang sangat tinggi dalam wabah ini adalah anak-anak.
Dua anak telah meninggal karena penyakit tersebut, dan pusat layanan medis di Beni dan Mangina merawat enam orang lain yang terinfeksi oleh penyakit atau yang diduga.
Dalam upaya untuk menghentikan kemajuan virus, pihak kesehatan DRC yang berwenang mengatakan bahwa dokter di Beni mulai menggunakan obat prototipe yang disebut mAb114 untuk mengobati pasien.
Dikembangkan di Amerika Serikat, obat prototipe adalah protein yang mengikat pada target spesifik virus dan memicu sistem kekebalan tubuh.
Ghebreyesus mengatakan lima pasien telah menerima obat yang sejauh ini tidak berlisensi, dan bahwa WHO menginginkan “untuk mempercepat sebanyak mungkin.”
Vaksinasi yang ditargetkan, yang ditujukan terutama untuk petugas kesehatan garis depan, dimulai pekan lalu, dan sejauh ini 216 orang telah menerima vaksin.
Epidemi antara 2013 dan 2016 menewaskan lebih dari 11.300 orang di Afrika Barat.
Saya sudah tidak punya apa-apa lagi, rumah saya hancur, saya hanya hidup sendirian disini
LOMBOK (Jurnalislam.com) – Gempa juga menghancurkan rumah milik Bu Kesmin, nenek 55 tahun warga Desa Rempek, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara. Dari tenda pengungsian, janda tua yang hidup seorang diri ini hanya bisa meratapi puing-puing rumahnya yang telah rata dengan tanah.
Suaminya telah lama meninggal dunia. Anak-anaknya pun sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari tempat tinggalnya. Kini rumah sederhana peninggalan sang suami pun sirna.
“Saya sudah tidak punya apa-apa lagi, rumah saya hancur, saya hanya hidup sendirian disini,” ucapnya yang tak kuasa menahan airmata.
Bu Kesmin sangat berharap ia dapat memiliki rumah sederhana untuk sekedar berlindung dari dingin dan hujan.
“Sekarang ini cuaca yang semakin dingin, ditambah hujan sudah mulai turun,” ungkapnya kepada Jurnalislam.com, Jumat (17/8/2018).
Hunian sementara Bu Kesmin. FOTO: Sirath/Jurniscom
Tim relawan dari Jamaah Ansharusy Syariah berinisiatif untuk membuatkan hunian sementara bagi Bu Kesmin. Rumah yang dibangun dari kayu dan baja ringan itu bersifat sementara hanya dapat digunakan untuk beristirahat.
“Saya sangat berterima kasih sekali, atas kebaikan dari para relawan yang sudah mau membangunkan rumah untuk saya,” tutur Bu Kesmin.
Meski sederhana, bangunan tersebut sangat berarti bagi Bu Kesmin yang hanya tinggal seorang diri. Ia berharap semuanya bisa kembali seperti semula.
Kabupaten Lombok Utara menjadi salah satu daerah terdampak gempa terparah yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, 75% infrastuktur di Lombok Utara hancur dan rusak.
LOMBOK (Jurnalislam.com) – Musibah gempa bumi yang berkali-kali mengguncang Lombok Utara beberapa waktu lalu telah meluluhlantakkan wilayah tersebut. Salah satunya Dusun Rempek Desa Rempek Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan hampir 75 persen permukiman di Lombok Utara hancur dan rusak akibat gempa.
Kondisi Dusun Rempek Desa Rempek Kecamatan Gangga Lombok Utara. FOTO: Sirath/Jurniscom
Kondisi Dusun Rempek Desa Rempek Kecamatan Gangga Lombok Utara. FOTO: Sirath/Jurniscom
Kondisi Dusun Rempek Desa Rempek Kecamatan Gangga Lombok Utara. FOTO: Sirath/Jurniscom
Kondisi Dusun Rempek Desa Rempek Kecamatan Gangga Lombok Utara. FOTO: Sirath/Jurniscom
Kondisi Dusun Rempek Desa Rempek Kecamatan Gangga Lombok Utara. FOTO: Sirath/Jurniscom
Kondisi Dusun Rempek Desa Rempek Kecamatan Gangga Lombok Utara. FOTO: Sirath/Jurniscom
Kondisi Dusun Rempek Desa Rempek Kecamatan Gangga Lombok Utara. FOTO: Sirath/Jurniscom
Seorang nenek menggendong cucunya di Dusun Rempek Desa Rempek Kecamatan Gangga Lombok Timur. FOTO: Sirath
Kondisi Dusun Rempek Desa Rempek Kecamatan Gangga Lombok Timur . FOTO: Sirath/Jurniscom
Kondisi Dusun Rempek Desa Rempek Kecamatan Gangga Lombok Utara. FOTO: Sirath/Jurniscom
Kondisi Dusun Rempek Desa Rempek Kecamatan Gangga Lombok Utara. FOTO: Sirath/Jurniscom
LOMBOK (Jurnalislam.com) – Meski di tengah duka, namun ratusan warga Desa Sembalun Bumbung, Lombok Timur yang terdampak gempa ini tampak khidmat mengikuti upacara HUT RI ke-73, Jumat (17/8/2018). Reporter Islamic News Agency (INA) berhasil mengabadikan momen tersebut.
Warga Desa Sembalun Bumbung, Lombok Timur mengikuti upacara hari kemerdekaan. FOTO: Ahmad Jilul Qur’ani Farid/INA
Warga Desa Sembalun Bumbung, Lombok Timur mengikuti upacara hari kemerdekaan. FOTO: Ahmad Jilul Qur’ani Farid/INA
Upacara 17 Agustus di Dusun Jorong, Desa Sembalun Bumbung, Kabupaten Lombok Timur. FOTO: Aghniya/INA
Pengibar bendera dalam upacara 17 Agustus di Dusun Jorong, Desa Sembalun Bumbung, Kabupaten Lombok Timur. FOTO: Aghniya/INA
Petugas upacara membacakan Pembukaan UUD 45 yang ditulis tangan. FOTO: Aghniya/INA
Pengungsian di Dusun Sembalung Bumbung, Kabupaten Lombok Timur. FOTO: Aghniya\INA
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke-73, Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Prof DR Jimly Asshiddiqie berpesan kepada bangsa Indonesia untuk tetap menjaga persatuan.
“Selamat merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 73 tahun kepada seluruh masyarakat lndonesia,” katanya melalui siaran pers yang diterima Jurnalislam.com, Jumat (17/8/2018).
Jimly menjelaskan, banyak cara dan upaya dapat dilakukan oleh masyarakat untuk melanjutkan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia dengan perbuatan yang positif, yakni melalui aksi-aksi kerja nyata dan tetap menjaga semangat persatuan nasional.
“Mari menikmati kemerdekaan dengan mengisinya melalui kerja nyata. Membangun bangsa dan negara tanpa perpecahan anak bangsa,” ujarnya.
Ia juga menyoroti peringatan 73 tahun kemerdekaan ini di tengah panasnya situasi politik menjelang Pilpres 2019. Ia menyebutnya dengan tahun politisi.
“Hari ulang tahun Republik Indonesia sekarang bertepatan dengan tahun politisi, bukan tahun politik. Sebab yang sibuk adalah para politisi, bukan rakyat,” kata Jimly.
Kendati demikian, Jimly mengimbau, supaya tetap mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa meskipun ada perbedaan pilihan dalam soal politik dan pemimpin.
Jimly mengatakan, yang harus dipahami dan disadari bahwa semua calon pemimpin bangsa yang berkompetisi dalam politik adalah saudara dalam satu Tanah Air.
“Makanya pilihan pasangan calon jangan hanya dengan semangat menang atau kalah sesaat. Kemajuan bangsa butuh perspektif yang luas dan jangka panjang,” ujar Jimly.
LOMBOK (Jurnalislam.com) – Ratusan warga terdampak gempa di Desa Sembalun Bumbung, Kabupaten Lombok Timur pada Jumat (17/8/2018) pagi, mengikuti upacara Hari Kemerdekaan.
Dengan pakaian seadanya, mereka tetap khidmat mengikuti upacara yang diselenggarakan oleh relawan dan Karang Taruna itu di tanah lapang di daerah tersebut.
Lantunan Indonesia Raya dari paguan suara pemudi Desa Sembalun Bumbung mengiringi pengibaran bendera ke atas tiang bambu.
Warga Desa Sembalun Bumbung, Lombok Timur mengikuti upacara hari kemerdekaan. FOTO: Ahmad Jilul Qur’ani Farid/INA
Pembina Upacara, Jusman yang merupakan Sekretaris Desa Sembalun Bumbung, dalam amanatnya menyampaikan pesan moral kepada warganya untuk menjadikan hari kemerdekaan sebagai momen untuk bangkit pasca bencana gempa yang meluluhlantakan desa mereka.
“Hari kemerdekaan adalah momentum bagi daerah untuk bangkit menoreh prestasi setelah bencana yang terjadi, kita harus bisa bangkit dari segala macam musibah dengan bersabar serta gotong royong memulihkan situasi dan kondisi,” terang Jusman dalam amanatnya sebagai inspektur upacara.
Jusman juga menekankan kepada warga untuk tidak hanya menjadi penonton sementara para relawan memberikan bantuan.
“Jangan sampai cuma relawan yang bekerja dan kita cuma jadi penonton saja, kita harus gotong royong ikut bekerja bersama para relawan,” tegas Jusman.
Reporter: Ahmad Jilul Qur’ani Farid | INA Foto: Ahmad Jilul Qur’ani Farid | INA
“Walau kami susah, kami tetap ingin bangkit dan berbagi,” kata Tria
JURNALISLAM.COM– Hitam. Gelap pekat membalut dusun Jorong, Desa Sembalun Bumbung, Kabupaten Lombok Timur. Setitik cahaya tersebar, di setiap tenda-tenda pengungsi. Malam itu, (16/8/2018), para pengungsi korban gempa Lombok hanya bisa berkumpul di terpalnya masing-masing.
Tak ada hingar bingar H-1 hari kemerdekaan. “17-an sekarang kami yasinan aja,” kata Iyuni, bocah kelas 1 SD Sembalun yang sekolahnya kini hanya menyisakan bangku-bangku kosong. Listrik yang byar-pet di pengungsian, membuat malam hari itu begitu gelap gulita.
Satu tenda pengungsian seluas 3 x 6 meter itu, bisa saja diisi 30 orang berjubel di dalamnya. Sunyi memang, tapi sesekali lantuan al Qur’an menyeruak dari sudut tenda itu. Hanya secuil cahaya dari senter, yang menemani bocah-bocah itu mengeja kalam suci.
Pengungsian di Dusun Sembalung Bumbung, Kabupaten Lombok Timur. FOTO: Aghniya\INA
Di masjid, mesin genset ditarik. “BRRRRRR……”
“Pet..” tiba-tiba mati. Shalat isya di Masjid darurat ramah gempa itu tetiba menjadi hening dan semakin syahdu. Beberapa warga masih melanjutkan bacaan al Qur’annya di masjid, sambil ditemani gemuruh genset yang terus menderu.
Malam itu, mungkin tak seperti desa -kampung- tempat lainnya di penjuru negeri ini. Tak ada paduan suara, tak ada malam gembira, tak ada lomba jelang 17 Agustus, tak ada hingar bingar meriahnya hari kemerdekaan Indonesia ke-73.
Ketika semburat fajar menyiram bukit dan gunung yang memagari Sembalun; Gunung Rinjani, bukit Nanggi, bukit Anak Dara, Pegasingan, Pelawangan, dan sekitarnya, semburat itu juga membelai pucuk tiang bambu.
Di atas tiang bambu sederhana itu, sehelai bendera merah putih berkibar. Tak jauh dari situ, di tengah ladang yang disulap menjadi lapangan, sebatang bambu dipasang tegak. Di sanalah, upacara sederhana itu terlakon.
Jangan tanya mengapa upacara tak dilakukan di sekolah. “Sekolahnya hancur, nggak bisa dipakai,” masih kata Iyuni, sahabat kecil kita. Upacara itu, dilakukan dengan sangat sederhana.
Para relawan dari berbagai daerah seperti Laz LMI, Sinergi Foundation, Santama (Santri Tanggap Bencana) segera berbagi peran dalam tim upacara. Ibu-ibu, anak- anak, remaja, pemuda, semua menyemut mengisi tanah lapang.
Sekretaris desa, Pak Jusman datang hadir menjadi pembina upacara yang sangat sederhana itu. Ibu-ibu dengan capingnya, anak-anak dengan sandal bututnya, para remaja dengan kaos belelnya datang.
Sederhana memang, tapi hari raya kemerdekaan itu begitu penuh makna bagi mereka.
Upacara 17 Agustus di Dusun Jorong, Desa Sembalun Bumbung, Kabupaten Lombok Timur. FOTO: Aghniya/INA
Tomi, seorang warga Sembalun yang juga porter (pemandu) Gunung Rinjani bilang, kalau tahun ini tak ada orang yang berlomba-lomba untuk sekadar berfoto – untuk dibagikan di media sosial- di kaki bukit, danau, atau puncak Gunung Rinjani.
“Tahun kemarin bisa jadi ada 1000 orang lebih ke puncak, 5000 orang di kaki bukit. Setiap 17 Agustus, bahkan tenda saja tak muat,” kata Tomi. Namun kini, Tomi menyaksikan pemandangan yang berbalik 180 derajat: gempa telah merubah segalanya.
Tak ada lagi orang –orang berebut bergaya di puncak gunung. Upacara warga Sembalun di kaki bukit Rinjani begitu sederhana, tapi sangat bermakna. Lihatlah, bagaimana seorang Ibu bernama Idam ini menatap haru, menyerapi upacara yang sederhana ini.
“Saya terharu,” katanya. Matanya berkaca-kaca, saat menyanyikan lagu ‘syukur’ saat bendera merah putih diturunkan menjadi setengah tiang untuk mengenangkan bencana gempa. Setiap tahun, kata Ibu Idam, 17 Agustusan dirayakan dengan sangat meriah.
Tapi tahun ini tidak. Warga merayakannya dengan sangat sederhana sekali. Pagi itu, merah putih berkibar setengah tiang di Sembalun. Pak Jusman, sekretaris desa mengingatkan warga bahwa momen kemerdekaan adalah momen warga kembali membangun desanya, dengan semangat.
Upacara ditutuh doa yang syahdu, dan lagu daerah sembalun. Sesudah itu, warga bersiap untuk shalat Jumat. Di masjid darurat, lagi-lagi, khatib shalat Jumat, ustaz Hardianysah mengingatkan kembali bahwa kemerdekaan.
Petugas upacara membacakan Pembukaan UUD 45 yang ditulis tangan. FOTO: Aghniya/INA
Ia pun mengingatkan kemerdekaan dalam pandangan Islam, ialah ketika seorang hamba, benar-benar mentauhidkan Allah. Ia mengisahkan kisah sahabat Rib’i bin Amir ketika bersua panglima Persia Rustum.
“Allah telah mengutus kami untuk memerdekaan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan terhadap sesama hamba kepada penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dan memerdekaan kezhaliman agama-agama kepada keadilan Al-Islam,”kata ustaz Hardi mengisahkan sahabat yang mulia ini.
Di tanah gempa ini, makna kemerdekaan menjadi sangat sederhana. Warga memaknainya dengan semangat untuk bangkit dan kembali membangun desanya.
“Walau kami susah, kami tetap ingin bangkit dan berbagi,” kata Tria, seorang petani –pengungsi- yang membagikan sayurannya untuk korban gempa di Kabupaten Lombok Utara.
Kata Tria, justru ketika kesulitan itulah, manusia harus semakin berbagi. “Justru ini adalah ujian keimanan kami, inilah makna kemerdekaan, keyakinan kepada Allah,” katanya.
Sayup-sayup, pekik merdeka kini menyeruak dari kampung ini. Kalimat takbir dan pekik merdeka saling bersahutan. “Merdeka..merdeka…Allahu Akbar…”
“Kami yakin dan kami masih memiliki Allah. Walaupun kami kesulitan, masih banyak saudara kami yang juga kesulitan di luar sana, dan insya Allah kami akan bangkit,” pungkas Tria. Kita doakan bersama-sama. Amin.