Refleksi Kemerdekaan : Sudahkan Indonesia Merdeka Secara Hakiki?

Oleh : Hardita Amalia,S.Pd.I,M.Pd.I – IRT, Penulis Buku Anak Muda Keren Akhir Zaman Qibla Gramedia, Founder Komunitas Ibu Pembelajar, Dosen STAI PTDII Jakarta-

EUFORIA merayakan hari jadi  ke 73 tahun kemerdekaan Indonesia bergema di seluruh negeri. Berbicara kemerdekaan, maka berkorelasi erat dengan keberhasilan negara dalam menyejahterahkan rakyatnya, menurunkan angka kemiskinan, menghilangkan kriminalitas, juga mampu mengatasi berbagai problematika sosial di masyarakat.

Juga tentang angka korupsi pejabat yang semakin rendah, dan hutang negara yang mampu tereduksi, kemampuan negara untuk berdikari tanpa didominasi oleh pressure asing dan aseng, termasuk dalam pengelolahan sumber daya alam juga kebijakan-kebijakan publik yang pro terhadap kepentingan rakyat bukan kepentingan asing atau aseng.

Namun sungguh ironis, secara de facto, berbagai macam problematika makin hari kian bertambah melingkupi negeri tercinta. Mulai dari persoalan ekonomi yang kian menghimpit rakyat, makin tercekik dengan berbagai kebijakan pemerintah yang tak memihak kepada rakyat kecil.

Pada era pemerintah sekarang misalnya, tercatat BBM naik 10 kali  (news.detik.com/3/7/2018). Yang jelas-jelas kenaikan BBM menjadikan rakyat makin terhimpit serta makin sulit memenuhi kebutuhan baik komoditas pangan, sandang maupun papan yang berimbas naik sebab kenaikan harga BBM.

Tak hanya itu hutang Indonesia yang kian hari kian menggunung menjadikan indikasi lemahnya stabilitas ekonomi Indonesia. Dimana Indonesia menanggung kuartal hutang luar negri sebesar  Rp. 5,075 Triliun (www.viva.co.id, 17/7/2018). Bahkan penjualan aset negara yang dilakukan oleh pemerintah, mengutip pendapat Fadli Zon adalah salah satu bentuk penghianatan bangsa.

Kita pun menyaksikan bahwa sumber daya alam Indonesia yang begitu berlimpah ruah yang Allah karuniakan kepada negeri ini nyatanya tak dikuasai oleh pribumi, namun dikuasai oleh asing. Kita bisa menyaksikan salah satu penguasaan asing atas sumber daya alam Indonesia, misalnya saja penguasaan tambang emas oleh PT Freeport yang dinilai Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyebutkan bahwa PT Freeport Indonesia (PTFI) telah menimbulkan kerugian negara sebesar 185 Triliun (finance.detik.com/19/3/2018).

Kondisi kemiskinan pun kian meroket, dimana penduduk miskin kian meningkat, mengutip dari (ekonomi.kompas.com, 19 Juli 2017). Ditambah problem degradasi moral, serta kondisi serba permissif pada aspek sosial yang dihadapi Indonesia yakni maraknya kasus aborsi, free sex yang melanda generasi muda akibat gaya hidup hedonis yang berkiblat kepada Barat. Hingga pada akhirnya dari berbagai fakta problematika kompleks yang ada di Indonesia secara de facto, Indonesia belum bisa dikatakan merdeka. Indonesia masih dijajah secara pemikiran dan kebijakan.

Negara merdeka adalah negara yang idealnya terbebas dari berbagai bentuk penjajahan fisik maupun non fisik dari berbagai aspek, sosial, politik, budaya, dsb. Hal tersebut bertentangan dengan yang terjadi di Indonesia.

Dalam Islam, kemerdekaan adalah bentuk penghambaan kepada Allah dalam semua aspek kehidupan. Tak terbatas pada aspek ibadah ritual saja, karena Islam memiliki solusi komprehensif untuk mengadapi berbagai problem kehidupan manusia termasuk masalah politik, pendidikan, sosial, dsb.

Maka hendaknya sebagai muslim kita mau diatur dengan Islam dan mau menerapkan Islam dalam berbagai aspek kehidupan kita, termasuk dalam lingkup negara. Karena hanya Islamlah satu-satunya aturan yang mampu mengatasi berbagai problematika yang dihadapi oleh manusia. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S Al-A’raf 96  :

Allah SWT berfirman:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 96).

Maka hanya dengan aturan Islam yang diterapkan secara sempurna maka akan kita jumpai kemerdekaan hakiki yang mampu menghantarkan Indonesia menjadi negeri yang mulia dan terdepan.*

Belum Nampak Relawan dan Bantuan, Pengungsian di Lombok Timur Ini Memprihatinkan

LOMBOK (Jurnalislam.com) – Kondisi pengungsian di Dusun Tanah Lilin, Desa Bilopetung, Sembalun, Lombok Timur sangat memprihatinkan. Belum nampak para relawan dan bantuan di daerah ini.

Hadri, salah seorang warga mengaku belum punya rencana apa-apa kedepan. Ia dan warga lainnya hanya menunggu bantuan segera datang.

“Rumah kami hancur, mata pencaharian ndak ada, kami bingung mau apa setelah ini,” ungkap Hadri, kepada Islamic News Agency (INA), Kamis (16/8/2018).

Hadri belum punya rencana untuk bekerja dan membangun rumah. Dirinya masih trauma, sehingga belum berani meninggalkan keluarga.

“Belum tahu mau apa, kita mau lihat dulu gimana bantuan pemerintah,” lanjutnya.

Selain itu, masalah yang dihadapi pengungsi adalah tempat tinggal sementara. Setidaknya dalam 3 bulan ke depan, warga masih akan tinggal di pengungsian.

“Kami akan tetap di sini minimal tiga bulan lagi,” kata Muhammad Ali (32), warga Dusun Jorong, Desa Sembalun Bumbung, Sembalun, Lombok Timur.

Namun Ali mengaku bingung kapan bisa menempati rumah baru. Biaya yang besar menjadi alasan utamanya.

“Mungkin satu tahun lagi kami mengungsi, karena kami sendiri ndak tahu kapan punya biaya buat bikin rumah,” lanjutnya.

Ali pun mengkhawatirkan kondisi pengungsian saat musim hujan tiba.

“Kita mengungsi di kebun, kalau hujan, habislah sudah,” pungkasnya.

Seorang pengungi di Desa Bayan, Lombok Timur sedang beristiharat

Berharap keberadaan relawan

Sementara itu, Supiadin (46), warga Desa Sembalun Bumbung, Sembalun, Lombok Timur, menyampaikan harapannya kepada relawan agar tetap memberi perhatian terhadap korban bencana di Lombok.

“Berharap relawan tetap ada selama kami ngungsi, terutama medisnya,” ungkap Supiadin kepada Islamic News Agency (INA), Kamis (16/8/2018).

Supiadin mengungkapkan jika keberadaan Relawan sangat membantu masyarakat. Namun ia khawatir seandainya relawan yang saat ini bertugas berangsur pulang. Sehingga ia berharap ada relawan-relawan baru yang datang dari penjuru Indonesia.

“kalau pun harus pulang, ada penggantinya dari daerah lainnya di Indonesia,” tambahnya.

Kebutuhan pengungsi masih sangat banyak. Di Sembalun misalkan, warga sangat kesulitan mendapatkan beras.

“Iya masih perlu banyak bantuan, di sini beras sulit. Kami hanya panen beras merah setahun sekali.”

Selain itu, pasca ratusan gempa susulan, kata Supiadin, banyak tembok-tembok yang berjatuhan.

Dan itu yang dikhawatirkan akan mencelakakan anak-anak. Sehingga ia berharap aparat segera merobohkan dan membersihkan reruntuhan.

“Kami khawatir sama anak-anak, jadi kami berharap aparat segera melakukan survei untuk membongkar rumah kami,” pungkasnya.

Reporter: Hilman | INA

Pengungsi Lombok Utara Harus Berjalan 10 Kilometer Untuk Dapatkan Air Bersih dan Makanan

LOMBOK (Jurnalislam.com) – Para pengungsi di Lombok Utara masih kesulitan mendapatkan air bersih dan makanan pokok. Ratimi (40), salah satu pengungsi di Dusun Tanah Lilin Desa Bayan Kabupaten Lombok Utara mengaku harus berjalan berkilo-kilo meter.

“Belum ada bantuan, kami cari air sama beras jauh, 10 kilometer baru dapat,” ungkap Ratmini (40), kepada Islamic News Agency (INA), Rabu (15/8/2018).

Menurutnya, sulitnya akses jalan menuju Dusun Tanah Lilin membuat bantuan terlambat masuk ke kampungnya. Jalanan yang sempit dan retak akibat gempa hanya bisa ditempuh oleh sepeda motor.

Baca juga: Forum Me-DAN Akan Dirikan Hunian Sementara Untuk Korban Gempa di Lombok Utara

Selain krisis air dan makanan, Dusun Tanah Lilin membutuhkan tenda dan selimut. “Kami di sini kekurangan tenda sama selimut,” lanjut Ratmini.

Pengungsi Lombok Utara harus menempuh puluhan kilomeer untuk mendapatkan air bersih. FOTO: Hilman/INA

Muhammad Ali (19), putra dari Ratmini, mengaku dirinya harus menempuh jarak 10 km untuk menuju sumber mata air di Mendala, Lombok Utara.

Setiap harinya, Ali yang ditemani sang adik, Riawan Hadi (17) membawa 2 jerigen yang berisikan 40 liter air untuk sekali mandi keluarga.

“Sehari kita bawa dua jerigen air, pagi sama sore, dua kali mandi, dua kali ambil air,” kata Ali.

Hal serupa masih dialami ribuan pengungsi lainnya di Kabupaten Lombok Utara, bahkan dalam pantauan INA, warga harus berkumpul di pinggir jalan untuk meminta bantuan.

Reporter: Hilman | INA

Rumah Hasil Nabung 10 Tahun, Ambruk Dalam Hitungan Detik

Taufik menyadari apa yang menimpanya adalah ketentuan terbaik dari Allah

LOMBOK (Jurnalislam.com) – Manusia tak bisa mengira apa yang terjadi di masa mendatang. Banyak hal yang dibangun dengan perjuangan yang sangat lama namun harus sirna seketika.

Itulah yang dialami Taufik (31), pengungsi Dusun Jorong, Desa Sembalun Bumbung, Sembalun, Lombok Timur. Selama 10 tahun Taufik bekerja di sebuah restoran di Legian, Bali. Mulai 2005 hingga 2015, ia bekerja keras mengumpulkan uang demi rumah idaman keluarga.

Namun nahas, rumah yang dibangun dari hasil menabung selama 10 tahun itu ambruk dalam hitungan detik akibat gempa Lombok. Taufik membangun rumah secara berangsur. Hasil gajinya setiap bulan ia kirim ke Lombok untuk membangun rumah. Bahkan ia terpaksa berutang ke toko bangunan agar rumahnya cepat selesai.

“Setiap bulan saya kirim 1 juta, kadang 2 juta untuk bangun rumah. Dan selama 10 tahun saya terus nyicil untuk bayar utang bangunan,” ungkap Taufik pada INA News Agency (INA) kantor berita yang diinisiasi Jurnalis Islam Bersatu (JITU), Kamis (16/8/2018).

Rumah Taufik roboh, gerai pulsa miliknya pun rusak parah. Sebagian dindingnya roboh, sedangkan lantai atasnya retak-retak. Sehingga gerai pulsa yang menjadi mata pencariannya tak lagi bisa digunakan.

“Sedih saya kalau mengingatnya, kerja selama 10 tahun terasa tidak ada artinya,” ungkap Taufik menahan tangis.

Taufik berdiri di depan rumahnya yang hancur akibat gempa 7 SR di Dusun Jorong, Desa Sembalun Bumbung, Sembalun, Lombok Timur. Foto : Hilman/INA

Namun ia menyadari bahwa apa yang menimpanya adalah ketentuan terbaik dari Allah. Ia mengatakan bahwa gempa yang menimpanya membuatnya merenung.

“Saya ambil hikmahnya, mungkin kita banyak salah,” ungkapnya.

Meski ditimpa bencana, Taufik tetap bersyukur. Ia mengungkapkan meski saat ini rumah dan mata pencariannya tidak ada, tapi ia tetap bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup. Dan karena alasan itulah, ia merasa masih banyak orang yang di bawahnya yang lebih layak untuk ditolong.

“Masih banyak yang di bawah kita, jadi kita masih punya banyak alasan untuk bersyukur,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Hal serupa dialami Hadri (36), warga Dusun Reguar, Desa Bilopetung, Sembalun, Lombok Timur. Rumah yang baru dibangun, ambruk dalam hitungan detik.

Hadri membangun rumah hasil jerih payahnya merantau selama 6 tahun di Samarinda, Kalimantan Timur. Di rumah yang baru saja ia tempati selama dua bulan, ia tinggal bersama anaknya, Erik Pramanagandi (11), mertua, dan anak yatim yang ia asuh sejak kecil.

Rumah Hadri rata dengan tanah. Yang tersisa hanya puing-puing yang berserakan. Kini ia tinggal di tenda sebelah reruntuhan dengan keadaan serba kekurangan.

“Kami tinggal di sini seadanya. Ndak ada selimut sama kekurangan air,” ungkap Hadri.

Reporter : Hilman | INA

Kerugian Ekonomi Akibat Gempat Tembus Rp 7,45 T

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan hingga hari ke-10 penanganan gempa, kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan oleh gempa bumi terus bertambah. Berdasarkan basis data terakhir, kerugian ekonomi tembus Rp 7,45 triliun.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan tim dari Kedeputian Rehabiitasi dan Rekontruksi BNPB masih melakukan hitung cepat dampak gempa. “Angka ini masih terus bertambah seiring data yang terus masuk ke Posko,” kata dia dalam keterangan resmi, Rabu (15/8/2018) sore, sebagaimana dilansir Republika.co.id

Ia mengungkapkan, kerugian tersebut meliputi sektor permukiman Rp 6,02 triliun, infrastruktur Rp 9,1 miliar , ekonomi produktif Rp 570,55 miliar, sosial Rp 779,82 miliar, dan lintas sektor Rp 72,7 miliar. Sektor permukiman merupakan penyumbang terbesar dari kerusakan dan kerugian akibat bencana, yaitu mencapai 81 persen.

Ia mengatakan BNPB juga akan menghitung berapa besar kebutuhan yang diperlukan untuk pemulihan dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Pembangunan kembali akan dilakukan di lima sektor yakni permukiman, infrastruktur, ekonomi produktif, sosial, dan lintas sektor.

“Tentu, ini memerlukan dana triliunan rupiah. Tidak mungkin semua dibebankan ke pemerintah daerah. Sebagian besar pendanaan berasal dari pemerintah pusat,” lanjut dia.

Seorang warga Dusun Rembek, Lombok Utara di atap rumahnya yang hancur akibat gempa. FOTO: Sirath/Jurniscom

Sutopo menuturkan, bantuan dari dunia usaha diperlukan untuk proses pemulihan akibat gempat. Ia memperkirakan proses rekonstruksi dan rehabilitasi akan memakan waktu selama dua tahun. “Perlu waktu untuk memulihkan kembali,” kata dia.

Dia pun mengajak masyarakat, Pemda NTB, dan pemda kabupaten dan kota terdampak untuk bangkit. Pemerintah pusat akan selalu mendampingi dan memberikan bantuan hingga rehabilitasi dan rekonstruksi nanti

Gempa Lombok yang meluluhlantahkan kehidupan ekonomi dan pembangunan di Lombok memberikan kesempatan kepada seluruh pihak untuk menata pembangunan lebih baik. Tata ruang perlu ditata kembali menyesuaikan peta bahaya gempa.

Tak hanya itu, bangunan yang didirikan juga harus mengikuti standar konstruksi tahan gempa. Pariwisata sebgai andalan devisa bagi NTB juga harus ditata ulang.

Wisatawan pun perlu dibekali pemahaman pengetahuan kebencanaan dan fasilitas kepariwisataan. “Hotel-hotel di pantai sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai shelter evakuasi saat ada peringatan tsunami,” ujar dia.

Sutopo menambahkan masyarakat Lombok harus diedukasi dan disosialisasi terus menerus dengan ancaman bencana. “Jadikan pendidikan kebencanaan sebagai pelajaran matapelajaran tambah atau muatan lokal yang wajib diikuti oleh semua siswa,” kata dia.

Data BNPB

Total Meninggal: 460 orang

  • 396 orang Kab. Lombok Utara
  • 39 orang Kab. Lombok Barat
  • 12 orang Kab. Lombok Timur
  • 9 orang Kota Mataram
  • 2 orang Kab. Lombok Tengah
  • 2 orang Kota Denpasar

Korban Luka: 7.773 orang

  • 959 orang luka berat/rawat inap
  • 6.774 orang luka ringan/rawat jalan

Mengungsi 417.529 orang: terdiri dari 187.889 laki-laki dan 229.640 perepuan.

  • 178.122 orang Lombok Utara (80.155 laki, 97.967 perempuan)
  • 104.060 orang Lombok Timur (46.827 laki, 57.233 perempuan)
  • 116.453 orang Lombok Barat (52.404 laki, 64.049 peremuan)
  • 18.894 orang Kota Mataram (8.503 laki, 10.391 perempuan)

Kerusakan

  • 71.962 unit rumah rusak (32.016 RB, 3.173 RS, 36.773 RR)
  • 671 unit fasilitas pendidikan (124 PAUD, 341 SD, 95 SMP, 55 SMA, 50 SMK, 6 SLB)
  • 52 unit fasilitas kesehatan ( 1 RS, 11 puskesmas, 35 pustu, 4 polindes, 1 gedung farmasi)
  • 128 unit fasilitas peribadatan (115 masjid, 10 pura, 3 pelinggih)
  • 20 unit perkantoran
  • 6 unit jembatan

Student Up Creativity PII Wati Jawa Barat Didukung P2TP2A dan Enam Ormas

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Pengurus Koordinator Wilayah Korps Pelajar Islam Indonesia (PII) Wati Jawa Barat periode 2017-2019 pada hari Rabu (15/8/18) telah melakukan audiensi kepada pihak P2TP2A Jawa  Barat yang bertepatan di Kantor P2TP2A Jalan R.E. Marthadinata Babakan Ciamis, Sumur Bandung, Kota Bandung.

Audiensi ini diawali dengan pembukaan dan sosialisasi terkait rangkaian kegiatan untuk memperingati Hari Lahir Korps PII Wati yang ke-54 dan peluncuran gerakan eksternal yang bernama Brotherhood: Pelajar Subject Perubahan.

Gerakan Brotherhood: Pelajar Subject Perubahan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pelajar puteri yang sesuai dengan perannya sebagai entitas sosial dengan pemenuhan tiga skill kompentesi yang diantaranya adalah kemampuan Public Relationship, peer counseler, dan juga sebagai Event Organizer yang dimana ketiga kompetensi tersebut bisa diaktualisasikan untuk menjadikan pelajar puteri lebih produktif sebagai subjek perubahan sesuai dengan tupoksinya.

Gerakan brotherhood ini merupakan proses pembentukan pelajar puteri yang produktif dan siap mencetak generasi untuk menyelamatkan bonus demografi yang di mulai pada tahun 2020 mendatang, dan diperkiraan 2030 fenomena ini berada di titik puncak nya.

Pihak P2TP2A yang dihadiri oleh Ibu Dwi menanggapi gerakan brotherhood dengan positif dan siap mengawal dan mendukung gerakan Brotherhood dengan menjadi pembicara pada dialog terbuka dalam main event rangkaian Harlah PII Wati yang akan dilaksanakan pada tanggal 25-26 Agustus 2018 bertepatan di Gedung Bandung Creative Hub dan juga dihadiri oleh LAHA dan KPID.

Disamping itu, Ibu Dwi juga berpesan bahwa Ormas Islam harus bisa merepresentasikan keislamannya dalam behavior dan attitudenya, hal ini sesuai dengan gerakan PII Wati sebagai sahabat pelajar dengan menjaga dan menanam nilai-nilai keislaman pada semangatnya.

Sebelum melakukan audiensi, Koordinator Korps PII Wati Jawa Barta telah melakukan kegiatan Bincang Hangat yang dihadiri oleh enam Ormas diantaranya adalah KOPRI, IPP NU, IPM, KOHATI, IPPI Persis yang dilaksanakan pada Hari Jumat (10/8/18) di Kantin The Panas Dalam. Acara tersebut termasuk rangkaian Harlah PII Wati yang ke-54 dengan bertujuan untuk sosialisasi gerakan dan bersinergi dengan ormas Jawa Barat.

Dua kegiatan tersebut merupakan gerbang awal Koordinator Wilayah Korps PII Wati untuk melebarkan langkahnya di ruang eksternal, dalam upaya menjadi garda terdepan mengakomodir pelajar putri dalam menjawab isu perempuan dan anak. Salah satu upaya itu diwujudkan dalam event Student Up Creativity yang akan digelar akhir Agustus ini.

Rangkaian SUC ini diharapkan dapat menjadi starting point gerakan PII Wati sebagai Badan Otonom, yang mana dapat melebarkan cita-cita yang dimiliki oleh PII yakni terciptanya izzul islam walmuslimin dari tangan pelajar, dan sebagai refleksi konten dan konteks Harlah PII Wati yang ke-54 yang akan diikuti oleg seluruh kader PII Wati Jawa Barat khususnya dan umumnya untuk kader PII, Pelajar umum, dan masyarakat.

Main event dalam acara tersebut beraneka ragam ada berupa dialog terbuka yang akan dihadiri oleh para pihak dari berbagai lembaga sebagai penguat gerakkan Brotherhood, lalu akan membuka kelas mendongeng, peer Counseler, dan beauty and handsome class yang bertujuan sebagai pilot project aktualisasi gerakan brotherhood yang bisa diaplikasikan oleh eselon dibawahnya serta untuk memenuhi kebutuhan pelajar pada hari ini.

Selain itu SUC juga dapat diikuti oleh kader maupun non kader, lalu dilanjutkan dengan acara internal yaitu Sarasehan Instruktur dan Pemandu Putri juga Refleksi Harla PII Wati-54 yang akan di hadiri oleh para ketua Korwil PII Wati  dalam rentang 10 periode sebelumnya.

Kiriman: Aini Nur Firani

Israel Protes ICC Sebut Palestina Korban Kejahatan Perang

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Israel telah mengajukan protes resmi kepada Pengadilan Kriminal Internasional (the International Criminal Court-ICC) menyusul seruan-seruan terakhir ICC untuk membantu “korban-korban situasi di Palestina”, media Israel melaporkan Rabu (15/8/2018).

Menurut situs berita Times of Israel, para pejabat di kementerian peradilan dan urusan luar negeri Israel marah terhadap langkah pengadilan, yang, kata mereka, berfungsi untuk menimbulkan keraguan atas objektivitas tribunal yang bermarkas di Den Haag, lansir World Bulletin.

Bulan lalu, tiga hakim ICC menyerukan pembentukan “sistem informasi publik dan kegiatan penjangkauan untuk kepentingan para korban dan komunitas yang terkena dampak situasi di Palestina.”

The Times of Israel mengutip satu sumber Israel yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan: “Pemerintah Israel terkejut oleh keputusan hakim pada bulan Juli.”

Sumber itu kemudian menegaskan bahwa pengadilan internasional tidak memiliki yurisdiksi atas masalah Palestina-Israel.

Baca juga: Palestina Larang Warganya Partisipasi dalam Jajak Pendapat Pemilihan Kota Israel

Menurut sumber yang sama, Kepala Kejaksaan ICC Fatou Bensouda belum memutuskan apakah pengadilan memiliki yurisdiksi atas hal-hal yang berkaitan dengan konflik abadi.

Pada akhir Mei, Otoritas Palestina yang berbasis di Ramallah meminta ICC untuk melakukan investigasi terhadap pembangunan pemukiman ilegal Israel dan dugaan kejahatan perang.

Palestina secara resmi bergabung dengan ICC pada tahun 2015 setelah Presiden Palestina Mahmoud Abbas menandatangani Statuta Roma tahun sebelumnya.

Meskipun Israel menandatangani Statuta Roma (yang mendirikan pengadilan) pada tahun 2000, mereka bukan anggota dari ICC.

Turki Akan Ekstradisi Pastor Asal AS Jika Gulen Diserahkan

ANKARA (Jurnalislam.com) – Pimpinan Partai Gerakan Nasionalis Turki (MHP),  Devlet Bahceli mengatakan, jika Amerika Serikat mau mengekstradisi Fetullah Gulen, maka juga Turki akan mengekstradisi terpidana kasus terorisme asal AS, Andrew Brunson.

“Jika pengkhianat di Pennsylvania diekstradisi ke negara kami, serah terima pastor kemungkinan akan segera terjadi sebentar lagi, dan kedua negara akan mendapatkan apa yang mereka inginkan,” kata Bahceli kepada wartawan di Ankara, Rabu (15/8/2018), lansir Anadolu Agency.

Baca juga: Lawan Kekuatan Ekonomi AS, Turki Didukung Dunia

Gulen yang saat ini berada di Pennsylvania dengan Organisasi Teror Fetullah (FETO) mengatur kudeta pada Juli 2016 di Turki yang menyebabkan 251 orang tewas dan hampir 2.200 orang terluka.

Bahceli tidak berbicara untuk pemerintah Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) Turki, tetapi partainya bersekutu dengan Partai AK di parlemen.

Pemimpin MHP itu menambahkan bahwa konspirasi yang mencoba Turki untuk menyerah pada serangan spekulatif terhadap nilai tukar mata uang akan dikalahkan, sambil menyuarakan dukungan atas keputusan untuk memboikot produk teknologi dan beberapa barang AS.

Baca juga: Menlu Turki Desak AS Segera Tangkap Fetullah Gulen

Dia menggarisbawahi bahwa Turki tidak berada dalam krisis ekonomi, namun Turki diserang dengan “permusuhan di tingkat tertinggi.”

“Dengan langkah-langkah yang diambil dan pendekatan ekonomi yang baru diumumkan, awan gelap di cakrawala akan menghilang. Kami memiliki keyakinan penuh,” tambahnya.

Hubungan Turki dan AS saat ini sedang kurang baik sejak Washington menjatuhkan sanksi kepada dua menteri Kabinet Turki setelah Ankara menolak membebaskan Brunson, yang menghadapi tuduhan terkait terorisme di Turki.

Jumat lalu, Presiden AS Donald Trump menggandakan tarif impor aluminium dan baja Turki.

Lawan Kekuatan Ekonomi AS, Turki Didukung Dunia

ANKARA (Jurnalislam.com) – Di tengah ketegangannya dengan AS, Turki mendapat dukungan besar dari seluruh dunia. Demikian dikatakan Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu Rabu (15/8/2018).

“Peristiwa ini telah membuka mata dunia,” katanya pada konferensi pers bersama dengan timpalannya dari Sudan, Al-Dirdiri Mohamed Ahmed pada Konferensi Duta ke-10 di ibukota Ankara, dilansir Anadolu Agency.

Sejak pemerintahan Donadl Trump, kata Cavusoglu, masyarakat internasional melihat “sikap tidak sopan AS terhadap semua negara”.

Dia menambahkan bahwa secara internasional, AS juga akan menggunakan kekuatan ekonominya “secara kasar” terhadap negara lain.

“Jadi semua orang mencari cara untuk keluar dari dolar,” tegasnya.

Cavusolgu menekankan bahwa Turki akan melanjutkan sikap tegasnya.

“Kami akan melanjutkan upaya kami untuk menyelesaikan masalah-masalah ini melalui cara-cara diplomatik. Tetapi kami tidak akan memberikan tekanan atau imposisi,” katanya merujuk ketegangan yang sedang berlangsung antara Ankara dan Washington.

“Karena mereka telah belajar dari pengalaman, pemerintah Turki mengambil langkah-langkah untuk mereformasi ekonomi,” sambungnya.

Langkah-langkah yang diambil telah meringankan pasar, tambahnya.

Baca juga: Trump Serang Turki dengan Tarif Impor, Erdogan: Ekonomi Kami Kuat

Cavusoglu juga menekankan bahwa Turki telah menggunakan kekuatannya dalam mendukung kemanusiaan di berbagai negara.

“Turki adalah negara paling dermawan di dunia dalam hal bantuan asing,” katanya seraya menambahkan bahwa orang-orang yang tertindas di seluruh dunia menyadari hal ini dan berdoa untuk ekonomi Turki yang kuat.

Cavusoglu juga menyoroti bahwa Uni Eropa dan negara-negara yang memiliki hubungan ekonomi dengan Turki mendukung ekonomi Turki yang kuat.

Mengenai penahanan pastor Amerika Andrew Brunson, Cavusoglu mengatakan bahwa AS dan negara-negara lain seharusnya tidak hanya mempertimbangkan kekecewaan mereka sendiri tetapi juga orang lain.

Ia mengatakan, bagaimana AS memasok sejumlah besar senjata ke YPG/PKK, kelompok teroris di dekat perbatasan Turki, dia mengatakan senjata-senjata itu sekarang dijual di pasar terbuka.

Baca juga: Negara-negara Teluk Tetapkan Feto sebagai Organisasi Teroris Berbasis di AS

Cavusoglu juga mengutip dukungan AS untuk Fetullah Gulen, pemimpin Organisasi Teror Fetullah (FETO) berbasis di Pennsylvania yang mengatur upaya kudeta Juli 2016 yang berhasil dikalahkan di Turki, yang menewaskan 251 orang dan melukai ribuan orang.

“Kami melihat bahwa mereka [AS] mencoba melindungi anggota FETO di negara-negara ketiga,” katanya, seraya menambahkan bahwa duta besar AS mendukung anggota FETO di beberapa negara yang ingin menyingkirkan kelompok teror itu.

Menyatakan bahwa semua orang harus tunduk pada proses peradilan jika ada kejahatan,  Cavusoglu mengatakan Turki ingin menyelesaikan semua masalah melalui negosiasi dan dialog, bukan tekanan dan imposisi.

“Tapi ada kebingungan serius,” tambahnya, mengacu pada AS yang mencoba menerapkan tekanan pada Turki.

Cavusoglu mengatakan muncul larangan penjualan jet tempur F-35 ke Turki di AS.

“Larangan ini tidak memiliki arti praktis. Turki sudah menerima dua pengiriman dari mereka.” Dia menjelaskan bahwa pilot Turki sekarang berlatih dengan jet di AS selama dua tahun.

Erdogan Gelar Pertemuan Tertutup di Sela-sela KTT NATO

Undang-undang pembelanjaan AS yang ditandatangani pekan ini mencakup tindakan yang melarang penjualan F-35 ke Turki hingga Pentagon mengeluarkan laporan tentang hubungan Turki-AS dalam 90 hari.

Turki telah berada dalam program F-35 sejak tahun 1999. Industri pertahanan Turki telah mengambil peran aktif dalam produksi mereka, termasuk Alp Aviation, AYESAS, Kale Aviation, Kale Pratt & Whitney, dan Turkish Aerospace Industries membuat bagian untuk jet tempur F-35 yang pertama.

Turki berencana untuk membeli 100 jet tempur F-35 di tahun-tahun mendatang.

“Jadi tidak ada penangguhan,” kata Cavusoglu, menambahkan bahwa pembatasan pengiriman jet adalah masalah domestik AS.

Dia menambahkan bahwa AS menggunakan hal-hal seperti itu untuk menekan negara-negara lain yang justru akan merugikan kedudukan dan prestise mereka.

“Tidak ada negara yang tidak memiliki alternative. Mereka tidak putus asa, dan setiap negara terhormat … Mereka harus menghormati ini.”

40 Pasukan Bentukan AS Tewas dalam Serangan Terbaru Taliban

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 40 tentara bentukan AS dan polisi Afghanistan tewas dalam serangan Imarah Islam Afghanistan (Taliban) di sebuah pos militer di provinsi utara. Serangan tersebut merupakan yang terbaru dalam serangkaian serangan mematikan terhadap pasukan Afghanistan.

Sembilan polisi dan 35 tentara tewas dalam serangan di provinsi Baghlan Afghanistan yang dimulai pada Rabu (15/8/2018) pagi hari, kata para pejabat, lansir Aljazeera.

Mohammad Safdar Mohseni, kepala dewan provinsi, mengatakan para pejuang membakar pos-pos pemeriksaan setelah serangan di distrik Markazi Baghlan-i.

Tidak ada komentar langsung dari kementerian pertahanan Afghanistan. Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengaku bahwa Taliban bertanggung jawab atas serangan itu.

Pada hari Senin, Taliban juga menyerbu pangkalan militer yang dikenal sebagai Kamp Chinaya di provinsi Faryab utara, menewaskan 17 tentara dan melukai 19 lainnya.

Serangan di Baghlan terjadi ketika pertempuran antara Taliban dan pasukan bentukan AS berkecamuk di beberapa wilayah di negara yang dilanda perang itu.

Namun, pertempuran di Ghazni mereda, setelah Taliban menyerang kota strategis itu pada Jumat.

Serangan Taliban di Ghazni Masuk Hari Keempat

Taliban mengatakan pihaknya memerintahkan para pejuang keluar dari Ghazni setelah lima hari pertempuran jalanan yang menewaskan dan melukai ratusan pasukan Afghanistan

Rumah sakit kota penuh sesak dengan ratusan orang yang terluka serta puluhan mayat dan orang-orang putus asa yang mencari kerabat mereka di antara orang yang tewas dan terluka.

Ketika warga sipil muncul di jalan Ghazni, warga mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa mereka bersembunyi di ruang bawah tanah selama serangan.

“Pertempuran berlangsung sengit. Selama dua hari, kami tidak punya air dan makanan. Anak-anak saya akan menangis ketika mereka mendengar dentuman dan suara tembakan Taliban dari balik tembok kami.”

Ghazni terletak di sepanjang jalan raya Kabul-Kandahar, yang secara efektif berfungsi sebagai gerbang antara Kabul dan benteng Taliban di selatan.

Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mengirim air bersih dan generator listrik untuk operasi trauma dan materi yang dikirim untuk pengelolaan sisa-sisa.

Sekitar 20 persen dari populasi di Ghazni bergantung pada sistem air kota, yang rusak sejak awal pertempuran. ICRC mengatur pasokan air darurat dengan truk untuk memenuhi kebutuhan sekitar 18.000 orang.

Arif Noori, juru bicara gubernur provinsi, mengatakan pada hari Rabu bahwa “kehidupan telah kembali normal”. Tetapi PBB memperingatkan tentang “penderitaan manusia yang ekstrim” yang disebabkan oleh pertempuran terbaru.

“Laporan-laporan mengindikasikan bahwa jumlah korban di Ghazni sangat besar,” kata perwakilan khusus PBB di Afghanistan, Tadamichi Yamamoto, hari Rabu.

“Perkiraan yang belum dapat dikonfirmasi berkisar dari 110 hingga 150 korban sipil akibat pertempuran kedua belah pihak. Informasi yang dapat dipercaya menunjukkan bahwa rumah sakit umum Ghazni dipenuhi oleh gelombang terus menerus pasukan pemerintah, pejuang Taliban dan warga sipil yang terluka.”

Efektif Lawan AS dan NATO, Taliban Promosikan Unit Pasukan Khusus

Di tempat lain di Afghanistan, Taliban menyerang pos pemeriksaan polisi di provinsi Zabul selatan Rabu pagi, menewaskan empat polisi, menurut kepala polisi provinsi, Mustafa Mayar, yang mengatakan tiga petugas lainnya terluka.

Dia mengatakan tujuh penyerang tewas dan lima orang terluka selama pertempuran, di mana Taliban menggunakan artileri dan senjata berat.

Taliban telah merebut beberapa distrik di seluruh negeri dalam beberapa tahun terakhir dan melakukan serangan hampir setiap hari yang menargetkan pasukan keamanan Afghanistan.

Serangan terhadap Ghazni secara luas dilihat sebagai unjuk kekuatan sebelum berlangsungnya perundingan perdamaian dengan Amerika Serikat, yang telah berperang di Afghanistan selama hampir 17 tahun.