Gempa Bertubi-tubi, Ansharusyariah Ajak Semua Pihak Muhasabah dan Bertaubat

Muhasabah dengan sebaik-baiknya karena sesungguhnya setiap musibah itu ada hikmah di balik setiap kejadiannya

SOLO (Jurnalislam.com) – Gempa dengan skala 7,0 magnitudo kembali mengguncang wilayah Lombok dan sekitarnya pada Ahad (19/8/2018) sekitar pukul 21.56 WIB. Ini adalah gempa terbesar kedua setelah pada 5 Agustus lalu, gempa 7,0 skala richter juga melanda wilayah ini.

BMKG menjelaskan, gempa 7,0 SR tadi malam merupakan aktivitas baru yang berbeda dengan gempa sebelumnya. Tercatat lebih dari enam kali gempa susulan dengan skala lebih kecil terjadi pada hari Ahad (19/8/2018) kemarin.

Juru bicara Jamaah Ansharusy Syariah, Abdul Rochim Ba’asyir

Setiap muslim meyakini bahwa segala peristiwa terjadi atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Termasuk gempa bumi di Lombok yang telah merenggut ratusan jiwa dan memporak-porandakan wilayah tersebut.

Oleh sebab itu, umat Islam harus memetik hikmah di balik kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan bangsa ini dengan berbagai musibah.

“Kita sebagai orang-orang mukminin seharusnya menjadikan ini sebagai i’tibar (mengambil pelajaran-red). Sangat disayangkan apabila kejadian ini dimaknai sebagai peristiwa alam semata,” kata Juru bicara Jamaah Ansharusy Syariah, Ustadz Abdul Rochim Ba’asyir kepada Jurnalislam.com, Senin (20/8/2018).

Baca juga : Pengungsi Lombok Harap Setiap Masjid Gelar Shalat Taubat

Ustadz Iim juga mengajak semua pihak untuk bermuhasabah dan bertaubat atas segala dosa dan maksiat yang dilakukan hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menegur bangsa ini dengan berbagai musibah.

“Muhasabah dengan sebaik-baiknya karena sesungguhnya setiap musibah itu ada hikmah di balik setiap kejadiannya. Siapa tahu mungkin karena dosa-dosa yang banyak terjadi sehingga Allah sedang menegur kita,” kata dia.

“Khususnya kepada masyarakat Lombok, kami mengimbau para ulama di sana untuk mengajak secara masif kepada seluruh masyarakat NTB, kalau perlu untuk melakukan shalat taubat,” sambungnya.

Ia juga mengajak umat Islam untuk membantu masyarakat terdampak gempa di Lombok dengan segenap kemampuan, termasuk mendonasikan harta dan memanjatkan doa.

Laporan Terbaru: 24.000 Muslim Rohingya Dibunuh Pasukan Myanmar

LONDON (Jurnalislam.com) – Lebih dari 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh pasukan pemerintah Myanmar sejak Agustus 2017, menurut laporan baru, Anadolu Agency melaporkan, Ahad (19/8/2018).

Angka-angka itu terungkap dalam laporan – Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tidak Terungkap (Forced Migration of Rohingya: The Untold Experience) – dirilis oleh Badan Pembangunan Internasional Ontario (the Ontario International Development Agency), yang melibatkan para peneliti dan organisasi dari Australia, Bangladesh, Kanada, Norwegia dan Filipina.

Pengungsi Muslim Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh dari Myanmar mengatakan lebih dari 40.000 warga Rohingya menderita luka tembak, kata laporan itu.

Penelitian ini menyatakan perkiraan jumlah Rohingya yang terbunuh hingga 23.962 (± 881) dari jumlah yang diberikan Doctors Without Borders sebelumnya yaitu sebanyak 9.400.

Lebih dari 34.000 orang ditembak dan lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, menurut penelitian.

Ia juga mengatakan 17.718 (± 780) wanita dan gadis Rohingya diperkosa saat tentara Myanmar dan polisi secara sistematis menargetkan kelompok yang paling teraniaya di dunia tersebut.

Baca juga: Ternyata Pembantaian Muslim Rohingya Direncanakan Myanmar, Begini Laporannya

Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 115.000 rumah-rumah Rohingya dibakar dan 113.000 lainnya dirusak.

Laporan sebelumnya oleh Doctors Without Borders mengatakan sedikitnya 9.400 warga Rohingya tewas di Rakhine dari 25 Agustus hingga 24 September tahun lalu.

Kelompok kemanusiaan mengatakan jumlah itu termasuk 730 anak-anak di bawah usia 5 tahun.

Studi baru memberi bukti contoh kebrutalan oleh tentara Myanmar dan perlakuan tidak manusiawi terhadap minoritas Rohingya.

Salah satu kasus paling mengganggu yang dilaporkan oleh kelompok studi itu adalah kisah seorang wanita Rohingya berusia 21 tahun, Hasina Begum yang “cukup beruntung untuk dapat bertahan hidup dan melarikan diri ke Bangladesh.”

Di desanya Tolatuli (Moungdaw), Begum mendengar suara tembakan dan melihat militer membakar desanya dan membunuh orang. Dia dan keluarganya, bersama dengan yang lain, berlindung di tepi sungai tetapi personil tentara mengepung mereka dan mulai menembak, menewaskan 50-60 orang dalam rentetan tembakan pertama.

Beberapa dari mereka melompat ke sungai tetapi hanya beberapa yang selamat.

Baca juga: Petinggi PBB: Muslim Rohingya Tidak Mungkin Kembali ke Myanmar, Ini Alasannya

Tentara membunuh semua orang dalam empat hingga lima jam ke depan dan membakar tubuh mereka dengan lubang yang digali di tanah. Para anggota tentara kemudian mengambil bayi Begum yang berusia empat bulan dan melemparkannya ke dalam api yang menyala.

Para prajurit Myanmar memperkosa wanita muda, termasuk Begum, sebelum membakar bangunan tempat mereka berada sebelumnya lalu pergi.

Begum dan adik iparnya kemudian berhasil mencapai perbatasan Bangladesh-Myanmar dalam beberapa hari berikutnya.

Sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan keras terhadap komunitas Muslim minoritas tersebut, menurut Amnesty International.

Lebih dari 40 persen pengungsi Rohingya berada di bawah usia 12 tahun, menurut PBB dan banyak lainnya adalah orang lanjut usia yang membutuhkan bantuan dan perlindungan tambahan.

Permukiman di Kutupalong dan Nayapara di distrik Cox’s Bazar di Bangladesh menampung hampir semua pengungsi yang datang dari Myanmar.

Baca juga: Aung San Suu Kyi Dinobatkan sebagai Tokoh Nomor 1 Islamophobia Dunia

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kaum Muslim yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat sejak ratusan  orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

PBB mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan – termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal, mutilasi, dan penghilangan yang dilakukan oleh pasukan Budha Myanmar.

Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut bisa dianggap sebagai kejahatan berat terhadap kemanusiaan.

Innalillahi, Lombok Kembali Diguncang Gempa 7 SR

LOMBOK (Jurnalislam.com) – Gempa dengan kekuatan 7 magnitudo kembali mengguncang Lombok, Ahad (19/8/2018) pukul 21.56 WIB. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam twitternya menyatakan, gempa tersebut tidak berpotensi tsunami

“Magnitude: 7.0, 19-Aug-2018 Pkl. 21:56:27 WIB, Lokasi: 8.28 LS 116.71 BT (30 km TimurLaut LOMBOKTIMUR-NTB), Kedalaman: 10 Km, TIDAK berpotensi TSUNAMI,” tulis akun twitter @infoBMKG

Dalam pantauan reporter Jurnalislam.com di lapangan, warga yang sedang beristirahat sempat panik dan berlarian keluar tenda.

Berikut video singkat hasil rekaman relawan Forum Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me-DAN) di Dusun Karang Jurang, Kecamatan Gangga, Lombok Utara.

Warga masih berada di luar tenda karena gempa susulan dengan skala lebih kecil masih terjadi hingga saat ini. Tercatat sudah 3 kali gempa susulan dengan magnitude 5,6 dan 5,8 skala richter.

Laa Hawla wa Laa Quwwata illa Billah..

Reporter: Ridwan Abdullah

 

Milad ke 20, Mardani Doakan FPI Tetap Istiqomah Menjaga Umat dan Bangsa

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera menghadiri Milad ke-20 Front Pembela Islam (FPI) yang digelar di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Ahad (19/08/2018).

Dalam pesannya, Mardani mendoalan FPI agar tetap konsisten dalam menjaga umat dan bangsa Indonesia.

“Semoga Allah selalu menjaga Seluruh Kader FPI agar tetap istiqomah terdepan menjaga Umat Islam dan Bangsa Indonesia,” kata Mardani.

Inisiator gerakan #2019GantiPresiden tersebut juga mengajak seluruh umat Islam di Indonesia agar mendoakan pimpinan FPI Habib Rizieq agar diberikan kekuatan, kesehatan dan dijaga oleh Allah.

“Tak lupa kita harus terus berdoa untuk Habib Rizieq, beliau adalah Imam Umat Islam di Indonesia,” ujarnya.

Legislator FPKS asli Betawi itu berharap di usia FPI ke 20, FPI semakin dekat dan dicintai umat Islam di Indonesia.

“Semoga FPI semakin peduli terhadap rakyat dan terdepan membantu warga,” katanya.

Selain itu, Mardani yang juga merupakan Wakil Ketua Komisi II DPR mengucapkan terimakasih yang banyak kepada FPI karena turut menjaga rumahnya pasca Teror Bom Molotov yang lalu.

Pengungsi Lombok Harap Setiap Masjid Gelar Shalat Taubat

Tokoh masyarakat menilai gempa kali ini di luar kewajaran karena berlangsung terus menerus

LOMBOK TIMUR (Jurnalislam.com) – Usai gempa susulan 6.5 magnitudo melanda kembali Lombok Timur, Ahad (19/8/2018), masyarakat Dusun Jorong, Sembalun Bumbung, Lombok Timur menggelar shalat taubat di masjid darurat.

Tokoh masyarakat, yang juga imam shalat taubat, Haji Miftah mengatakan kejadian gempa ini dinilai di luar kewajaran karena berlangsung terus menerus dalam skala cukup besar.

“Kalau kekeringan, kita shalat istisqa untuk berdoa minta hujan. Ini ada musibah gempa sudah seharusnya kita bertaubat dan meminta kepada Allah agar musibah ini segera berakhir,” kata Haji Miftah, Ahad (19/8/2018) malam.

Haji Miftah (berdiri) menyampaikan pentingnya taubat di hadapan jamaah shalat isya masjid darurat yang terletak di Dusun Jorong, Lombok Timur pada Ahad (19/8). FOTO: Rizki Lesus/INA

Ia mengatakan masyarakat Indonesia, khususnya warga Lombok harus kembali kepada Allah dengan gerakan taubat bersama -sama dan menghilangkan sifat pongah.

“Jangan sampai gunung longsor disalahkan, tapi kitalah manusia yang salah,” kata Haji Miftah.

Ia pun berharap, tak hanya dari masjid darurat di Sembalun Bumbung saja dilakukan taubat nasuha, tetapi juga bisa meluas ke wilayah Lombok, bahkan Indonesia.

“Dari masjid darurat ini, semoga shalat taubat ini bisa meluas ke semua masjid,” pungkas Haji Miftah.

Reporter: Rizki Lesus/ INA News Agency

Gempa 6,5 Skala Richter Guncang Lombok, Perbukitan di Rinjani Longsor

Gempa pertama berkekuatan 5.4 SR, disusul 6.5 SR

LOMBOK (Jurnalislam.com) – Lombok kembali diguncang gempa sebanyak 2 kali hanya berselang beberapa menit pada Ahad (19/8/2018).

Gempa pertama berkekuatan 5,4 Skala Richter, disusul gempa kedua berkekuatan 6,5 Skala Richter. Keduanya berpusat di laut sejauh 32 km timur laut Lombok Timur, seperti dilansir BMKG.

Dari pantauan INA-News Agency yang berada di kaki Gunung Rinjani di Sembalun, Lombok Timur, warga berhamburan menuju ke jalanan dan tangah lapang diiringi tangis anak-anak.

Akibat gempa, banyak perbukitan mengalami longsor dan mengakibatkan debu tebal. Di antara bukit tersebut yakni bukit pegasingan dan bukit nanggi.

Sementara menurut informasi warga setempat yang berprofesi porter, beberapa jalur pendakian tertutup akibat longsor. Di antaranya Jalur pendakian Senaru, Torean dan Sambielen.

Reporter: Ahmad Jilul Qur’ani Farid/INA

Dari Masjid, Lombok Bangkit

“Bagaimana pun keadaannya, orang yang tangannya di atas selalu lebih unggul dari orang yang tangannya di bawah.”

LOMBOK (Jurnalislam.com) – “Saya sungguh bahagia!” Ada rasa yang bergemuruh dalam dada Aji Wira, pengungsi asal Dusun Jorong Desa Sembalun Bumbung Kabupaten Lombok Timur.

Apa gerangan yang membuat seorang pengungsi korban gempa Lombok begitu bahagia?

“Saya bahagia karena bisa berbagi,” kata pria paruh baya itu. Matanya berkaca-kaca ketika membopong sekarung wortel hasil panennya untuk dibagikan kepada para pengungsi – juga -di daerah Gangga, Kabupaten Lombok Utara.

Sudah beberapa hari ini – seminggu pasca Gempa 7 magnitudo melanda Lombok Agustus 2018 – , para pengungsi di Desa Sembalun Bumbung Lombok Timur justru tergerak hatinya turut membantu para pengungsi korban gempa lainnya di Lombok Utara.

“Rumah saya rata dengan tanah Pak,” Aji Wira mengenangkan. Para pengungsi di hadapan Pak Aji, sapaan karibnya, tak kuasa mengucapkan apa pun.

Mereka berdecak kagum, bagaimana mungkin seorang yang rumahnya luluh lantak malah turut membantu para korban lainnya?

Para pengungsi ini saling berpelukan dan saling berbisik untuk saling mendoakan. “Terima kasih, kami terharu,” kata pria bersarung datang memeluk Aji Wira.

Setelah menempuh perjalanan lebih dari empat jam, seakan ‘penderitaan’ Pak Aji sirna setelah melihat wajah saudaranya yang juga senasib.

Senyum sumringah tak hanya merekah dari wajah Pak Aji. Masih ada ribuan pengungsi di Desa Sembalun Lombok Timur, yang justru kini merasakan kebahagiaan yang dirasakan Pak Aji.

Bapak Aji Wira sedang diwawancara jurnalis Islamic News Agency (INA). FOTO: Agniya/INA

Padahal, seluruh penduduk Sembalun Bumbung kini mengungsi. Pak Oza, tokoh masyarakat Sembalun mengatakan gerakan berbagi ini berawal dari masjid. Masjid sederhana yang dibangun seminggu usai gempa besar kedua melanda Lombok.

“Kami sempat shalat Jumat di sawah,” katanya. Tepatnya di tengah sawah yang dibabat menjadi lapangan. Warga Jorong, Sembalun Bumbung, Lombok Timur, tidak berani kembali ke masjid-masjid mereka, yang retak dan separuh doyong.

Waktu itu, hanya langit yang menaungi mereka.

Jangan tanya panasnya terik yang langsung menyengat kulit mereka. Lebih dari cukup bagi mereka shalat berjamaah dengan nyaman.

“Alhamdulillah, berkisar dua minggu setelah mereka mengungsi karena gempa (pertama), datang kawan-kawan lembaga Sinergi Foundation bersama warga mendirikan masjid,” kata Oza.

Masjid darurat Jorong Sembalun, warga menyebutnya. Bangunan sederhana beratap terpal berwarna jingga itu sekilas tampak seperti tenda – tenda pengungsian lainnya. Tiang penyangganya berbahan bambu, diikat dengan bambu pula.

Siapa sangka, di bawah terpal itu, kalam suci mengalun merdu. Di kaki gunung Rinjani, suara azan itu mengalun merdu. Di bangunan sederhana itu, para pengungsi itu berdiri, rukuk, dan sujud. Bangunan sederhana ini lebih dari cukup bagi mereka shalat berjamaah dengan nyaman.

Masjid ini berdiri tegak; tanpa menara; tanpa pelantang; tanpa beton bertulang yang justru luluh lantak menantang gempa. Dari bawah bungkusan terpal ini, warga memupuk harapan.

Adalah relawan Sinergi Foundation saat itu, ustaz Maftuh Supriadi yang disebut Oza menginspirasi warga agar optimis dan bangkit.

“Gerakan berbagi ini diinisiasi bersama dari Masjid sederhana ramah gempa ini,” kata Oza.

Ia mengatakan bahwa masjid ini dibuat bersama-sama dan ‘dikebut’ hanya setengah hari, sehingga shalat Jumat kini bisa digelar di masjid.

Warga sedang bermusyawarah di Masjid darurat Desa Sembalun Bumbung, Lombok Timur. FOTO: Agniya/INA

Pada shalat Jumat pertama – setelah ada masjid- ini pula, ustaz Maftuh didaulat warga menjadi khatib. Kesempatan ini dimanfaatkan sang ustaz untuk terus menguatkan tauhid, bahwa semua yang terjadi merupakan rencana Allah, Sang Maha Pengasih.

“Saya ingin warga Sembalun Lombok Timur, bangkit dan tidak terus menerus berkabung dengan musibah gempa,” kenang ustaz Maftuh.

“Makanya saat ceramah, beberapa kali saya sampaikan kisah Abdurrahman bin Auf yang saat hijrah dalam keadaan miskin dan kelaparan. Kendati demikian, ia tetap bersemangat kerja dan bersedekah meski dalam kondisi sulit,” tambahnya.

Ceramah ustaz Maftuh ini, kata Oza, justru tak disangka membuat warga begitu terharu. Esok harinya, warga berdatangan ke masjid darurat membawa hasil bumi; sayur; bawang; tomat; selada; strawberi; dan sebagainya.

“Mereka semangat memberikan bantuan untuk saudara kita di Lombok Utara, yang terdampak gempa lebih parah. Mereka mendermakan 45 ton sayuran hasil tani mereka,” kenang Oza.

Tak ada yang menyangka, dari bawah masjid sederhana berlapis terpal ini, ruang solidaritas terus mengalir. Satu per satu warga kembali tersenyum ceria. “Bahwa memang kami sedang susah, tapi masih banyak warga yang rupanya masih membutuhkan bantuan kita,” kata Aji Wira.

Di Sembalun Bumbung sendiri, hingga hari ini (18/8/2018), lebih dari 50 ton sayuran hasil bumi dari desa Sembalun disumbangkan untuk korban gempa di Lombok Utara, termasuk oleh sahabat kita tadi, Pak Aji Wira.

Koordinator Lapangan relawan Sinergi Foundation, Eggie Ginanjar mengatakan bahwa dirinya bersama warga Sembalun kini akan membangun masjid yang lebih layak sebagai pusat aktivitas warga: belajar, musyawarah, trauma healing, tausiyah, dll.

“Insya Allah dari masjid, Lombok bangkit, Sembalun telah mengajarkan kita,” pungkas Eggie.

Reporter: Rizki Lesus | INA
Foto : Aghnia | INA

Shalat di Masjid Darurat, Menjaga Taqwa Pasca Gempa

LOMBOK TIMUR (Jurnalislam.com) – Sabtu (18/8/2018) adzan subuh berkumandang bersaut-sautan di Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun Lombok Timur.

Meski di tengah suhu dingin yang menusuk tulang, warga berbondong-bondong pergi ke sumber suara dimana adzan berkumandang, namun mereka tak pergi ke masjid. Sumber suara itu berasal dari tenda yang cukup besar dari terpal yang disangga bambu yang ternyata berfungsi sebagai masjid darurat.

Warga masih trauma untuk shalat di dalam masjid, selain itu beberapa masjid juga ambruk. Kecamatan Sembalun yang berada di kaki Gunung Rinjani ini, merupakan salah satu lokasi yang cukup parah terdampak gempa.

Ratusan rumah ambruk, fasilitas umum seperti Puskesmas dan beberapa masjid juga ikut ambruk.

Suasana shalat shubuh di masjid darurat yang tepatnya berada di Dusun Lauk Rurung Barat itu berlangsung khitmad. Pada rakaat pertama sang imam melantunkan Surat Al Baqarah ayat 153 sampai ayat 157 dengan penuh penghayatan.

“..Alladzina idza ashabat-hum mushibatun qalu inna lillahi wa inna ilaihi raji’un..,” baca sang Imam dengan suara yang bergetar.

Diantara ayat-ayat yang dibaca imam tersebut Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman yang artinya “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

Setelah shalat subuh, dilanjutkan dengan penyampaian ceramah, mengingatkan para jama’ah untuk selalu bersabar.

“Dalam Qur’an Surat Az Zumar ayat 55 Allah tegas memperingatkan kita semua, dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya,” tegas seorang penceramah di Masjid darurat.

Dalam nuansa pasca gempa, dan susul menyusul gempa setelahnya, masyarakat Desa Sembalun Bumbung tak mau tertinggal untuk selalu menegakkan shalat meski di masjid darurat, menjaga taqwa di tanah gempa.

Reporter: Ahmad Jilul Qur’ani Farid/INA

Habib Rizieq Sambut Baik Pembentukan HRS Center

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Juru bicara Front Pembela Islam (FPI), Munarman SH meluncurkan sebuah lembaga Kajian Ilmiah Strategi bernama HRS Center di Hotel Balairung, Jakarta, Sabtu (18/08/2018). HRS sendiri diambil dari inisial nama Imam Besar FPI, Habib Rizieq Shihab.
Dalam rekaman suara yang disampaikan Pendiri HRS Center, Munarman SH, Habib Rizieq menyampaikan alasan mengapa inisial namanya bisa menjadi nama lembaga Kajian Ilmiah Strategi ini.
“Kepada segenap sahabat yang tercinta yang telah menggagas berdirinya HRS Center yang insyaallah diresmikan hari ini, terus terang, pada mulanya, ketika saya dihubungi para penggagas pendiri HRS Center, saya agak risih dengan pencantuman nama saya untuk lembaga ini,” ungkap dalam rekaman suara tersebut, dilansir Kiblat.net
“Entah mengapa kerisihan itu saya rasakan, karena saya tidak ingin pencantuman inisial nama saya tersebut menjadi ganjalan dalam langkah perjuangan saya dan kawan kawan. Atau ganjalan keikhlasan bagi kita semua dalam berjuang menegakkan kalimat Allah,” lanjutnya.
Habib Rizieq dalam Tabligh Akbar di Ponpes Miftahul Huda Utsmaniyah, Ciamis, Ahad (8/1/2017). Foto: Roman/Jurniscom

Namun, HRS mengungkapkan, setelah dirinya melakukan diskusi yang panjang bersama para penggagas HRS Center, akhirnya HRS bisa menerima pencantuman nama dirinya dalam lembaga ini.

“Setelah saya cermati, semua visi dan misi yang diletakkan oleh penggagas dalam HRS Center ini, termasuk juga rincian-rincian kegiatan strategis yang akan dilakukan HRS Center, ini sesuai dengan prinsip juang yang selama ini saya junjung tinggi,” ungkap HRS.

Adapun Visi yang sama antara HRS dan HRS Center adalah ayat suci harus selalu berada diatas ayat konstitusi. Ia pun mengharapkan HRS Center ini bisa menjadi model pusat kajian ilmiah dan strategis, berdasarkan prinsip prinsip islam, guna mengembangkan ilmu pengetahuan, dalam rangka mewujudkan kemaslahatan umat, bangsa, dan negara.

“Sehingga dalam pandangan saya selama ini, di kala memantapkan langkah perjuangan, saya dan kawan-kawan selalu berusaha bagaimana menampatkan ayat-ayat konstitusi agar tidak bertentangan dengan ayat suci,” tegasnya.

HRS pun menyebut bahwa sudah sejak lama menjadi cita-citanya adalah formalisasi Syariat islam sebagai hukum nasional di NRKI. Bahkan, dalam pandangan HRS selama ini, pelembagaan syariat islam di bumi Nusantara adalah menjadi sebuah keniscayaan.

“Pelembagaan Syariat Islam di Bumi Nusantara bukan hanya karena mayoritas bangsa Indonesia beragama islam, akan tetapi juga karena nilai-nilai syariat islam itu sendiri telah menjadi bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara selama ini,” tukasnya.

Puskesmas di Sembalun Lombok Timur Rusak, Pelayanan Medis Terganggu

LOMBOK TIMUR (Jurnalislam.com) – Gempa berkekuatan 7,0 Skala Richter pada Ahad (5/8/2018) telah merusak banyak fasilitas umum di Lombok, diantaranya adalah Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kecamatan Sembalun Lombok Timur. Atap, pagar beserta beberapa bagian tempok ambruk akibat gempa.

Dari pantauan Islamic News Agency (INA), Puskesmas telah dikosongkan padahal perannya sangat vital di tengah kondisi pasca gempa.

Menurut tenaga Medis dari Laznas LMI Dokter Afifah Dzakiyah, meski telah banyak klinik medis darurat yang didirikan, tanpa adanya puskesmas pelayanan medis menjadi terganggu.

“Tanpa Puskesmas pelayanan terganggu meski telah dialihkan ke Puskesmas pembantu atau klinik darurat, sebab fasilitas menjadi berkurang ketimbang di Puskesmas, dan banyak yang tidak bisa dicover oleh klinik darurat,” terang Dokter Afifah yang telah berkoordinasi dengan pihak Puskesmas Sembalun.

Selain itu, kendala dari pihak Puskesmas yang masih bertugas ialah penyebaran pasien yang menjadi tidak terpusat dan tidak terdata.

“Warga kebingungan mencari tempat berobat yang terpadu dan terpusat, sementara persebaran klinik-klinik darurat yang didirikan berbagai NGO dan lembaga lain juga belum terdata, hal itu menyulitkan pihak puskesmas untuk mengetahui penyakit yang tersebar dan juga melakukan tindakan,” ungkap Dokter Afifah.

Dokter Afifah menambahkan, dalam pengungsian, penularan penyakit akan lebih mudah karena para pengungsi tinggal dalam satu tenda besar.

“Dalam tenda besar, penyakit mudah menular, terlebih penyakit kulit dan penyakit lain karena faktor kebersihan yang kurang terjaga, tenda pengungsi di halaman rumah pun, banyak yang dekat dengan saluran air yang tidak terjaga kebersihannya,” pungkas Dokter Afifah.

Reporter: Ahmad Jilul Qur’ani Farid | INA