Dikecam Dunia, China Justru Dukung Kuat Isolasi 1 Juta Muslim Xinjiang

CHINA (Jurnalislam.com) – China mengeluarkan pembelaan kuat terhadap pengisolasian massal pada minoritas Muslim di wilayah Xinjiang barat jauh, dengan pejabat bersikeras pemerintah setempat beralasan mencegah “terorisme” melalui pusat-pusat “pendidikan kejuruan”.

Sohrat Zakir, gubernur Xinjiang, berdalih bahwa Beijing menyelamatkan Uighur dan Kazak Muslim dari godaan kekerasan agama dengan mengajarkan mereka keterampilan kerja dan pelatihan berbicara bahasa Mandarin, menurut laporan oleh kantor berita resmi Xinhua pada hari Selasa (16/10/2018).

Wawancara media negara terjadi di tengah kecaman global atas laporan penahanan massal dan pengawasan ketat terhadap etnis Uighur dan minoritas Muslim Turki.

Baca juga: Ribuan Muslim Uighur Disekap di Tempat Penahanan Rahasia China

Hingga satu juta orang diyakini ditahan di kamp isolasi untuk dicuci otaknya, menurut perkiraan yang dikutip oleh panel Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Setelah awalnya mengeluarkan penolakan, para pejabat China dalam beberapa pekan terakhir mengatakan mereka tidak melakukan penahanan sewenang-wenang ataupun menyelenggarakan pendidikan ulang politik di seluruh jaringan kamp rahasia, tetapi hanya beberapa warga yang bersalah atas pelanggaran kecil yang dikirim ke pusat-pusat kejuruan untuk menyediakan kesempatan kerja.

Langkah-langkah itu membantu mencegah serangan di Xinjiang selama 21 bulan terakhir, kata Zakir dalam wawancara dengan Xinhua.

Dia tidak mengatakan berapa banyak orang yang ditahan di pusat-pusat itu.

Para trainee menandatangani “perjanjian pendidikan” untuk menerima “pelatihan terkonsentrasi” dan menjalani “live-in study“, kata Zakir.

Muslim Uighur di camp isolasi
Muslim Uighur di camp isolasi

Mereka menerima pelajaran bahasa China dan diceramahi tentang Konstitusi dan undang-undang, katanya. Pelatihan keterampilan termasuk pengolahan makanan, perakitan produk elektronik, tata rambut, pembuatan pakaian dan e-commerce.

“Melalui pelatihan kerja, sebagian besar peserta pelatihan telah mampu merefleksikan kesalahan mereka dan melihat dengan jelas esensi dan bahaya terorisme dan ekstremisme agama,” kata Zakir seperti dikutip.

“Mereka juga bisa lebih baik membedakan yang benar dari yang salah dan menahan infiltrasi pemikiran ekstremis,” katanya.

Baca juga: Pemerintah China Paksa Muslim Uighur Mengutuk Islam

Beberapa rincian keterangan dalam penggambaran Zakir tentang pusat-pusat itu justru bertentangan dengan laporan dari mantan tahanan, yang mengatakan bahwa kondisi di kamp-kamp itu buruk, dengan narapidana banyak yang mengalami pelecehan psikologis dan fisik.

Mereka mengatakan tahanan tidak menerima pelatihan kejuruan, mereka justru dipaksa untuk menolak ajaran agamanya (Islam).

Omir Bekali, seorang warga negara kelahiran Xinjiang, mengatakan kepada kantor berita Associated Press, ia dikurung di sebuah sel dengan 40 orang di dalam fasilitas yang dijaga ketat.

Sebelum makan, katanya, mereka disuruh melantunkan “Terima kasih Partai! Terima kasih Ibu Pertiwi!”

Selama kelas wajib harian, mereka diberitahu bahwa kelompok mereka berjalan mundur sebelum “dibebaskan” oleh partai pada tahun 1950-an.

Beberapa mengatakan mereka dipenjara karena memakai jenggot panjang dan kerudung wajah (jilbab) atau berbagi ucapan hari raya Islam di media sosial, sebuah proses yang menggemakan dekade reformasi pemikiran brutal di bawah Mao Zedong.

Patrick Poon, peneliti China Amnesty International, mengatakan klaim Zakir “terbantahkan di hadapan semua bukti yang ada dan merupakan penghinaan bagi mereka yang menderita di kamp dan keluarga mereka yang hilang”.

Dia menambahkan: “Tidak ada satu alasan pun yang dapat menyembunyikan fakta bahwa pihak berwenang China melakukan penindasan sistematis terhadap kaum Muslim.”

Laporan Xinhua muncul ketika Cina menggenjot upaya propaganda untuk mempertahankan langkah-langkahnya di Xinjiang, termasuk merangkul media asing dan menjalankan opini di luar negeri saat berusaha untuk memutar pesan yang lebih positif.

Baca juga: China Tolak Vonis Sanksi AS atas Diskriminasi Muslim Uighur

Pada Selasa malam, media negara China Central Television menayangkan program acara selama 20 menit yang konon memperlihatkan rekaman di dalam fasilitas pelatihan kejuruan di kota oasis selatan Hotan.

Dengan pakaian seperti seragam sekolah yang terang, puluhan siswa terlihat sedang di meja mempelajari bahasa Cina dan hukum-hukum mereka.

Dalam adegan lain, siswa ditampilkan di berbagai bengkel dan pabrik di depan mesin jahit, bekerja dengan kayu, menenun karpet atau membuat roti.

“Jika saya tidak belajar di sini, saya tidak dapat membayangkan kehidupan saya. Saya mungkin terus mengikuti para ekstremis religius itu menuju jalur kejahatan,” seorang mahasiswi muda mengatakan pada program itu.

Kepala hak asasi manusia PBB yang baru, Michelle Bachelet, mengatakan bulan lalu bahwa pengawas harus diizinkan masuk ke wilayah itu, dan Kongres AS telah menyuarakan seruan-seruan untuk menjatuhkan sanksi terhadap beberapa pejabat China.

IKAMI Minta Polisi Tindak Tegas Pengadang Habib Bahar di Bandara Manado

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Habib Hanif Alatas dan Habib Bahar Bin Smith diadang oleh ratusan anggota ormas adat di Bandara Sam Ratulangi, Manado pada Senin (15/10/2018) pukul 17.00 WITA. Mereka menolak kedatangan Bahar karena dinilai memberikan ceramah berisi paham radikal.

Menanggapi itu, sekjen Ikatan Advokat Muslim Indonesia (IKAMI), Djuju meminta aparat kepolisian untuk menindak tegas pelaku pengadangan terhadap dua tokoh Front Pembela Islam tersebut. Sebab, perilaku tidak terpuji di Bandara tersebut dapat membahayakan keselamatan dan keamanan penerbangan, kecuali memperoleh izin dari otoritas bandar udara

“Menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, pasal 210 dinyatakan; “setiap orang dilarang berada di daerah tertentu di bandar udara, membuat halangan (obstacle), dan atau melakukan kegiatan lain di kawasan keselamatan operasi penerbangan yang dapat membahayakan keselamatan dan keamanan penerbangan, kecuali memperoleh izin dari otoritas bandar udara,” katanya kepada Jurnalislam.com, Selasa (16/10/2018).

Ia menjelaskan, semestinya Bandara merupakan wilayah yang steril dari aksi unjuk rasa dan keberadaan orang-orang yang bersenjata tajam maupun senjata api. Djuju mengungkapkan, ia mendapat informasi bahwa sebagian dari para pengadang menenteng dan memamerkan senjata tajam berupa pedang-pedang terhunus.

Koordinator hukum gerakan #2019GantiPresiden ini juga mengungkapkan bahwa pada saat kejadian tersebut, terdapat banyak aparat polisi di area Bandara. Hanya saja, aparat tidak menghalangi, menangkap atau menyita senjata tajam atau pedang-pedang yang dibawa gerombolan pengadang.

“Sebagai negara yang berdasarkan atas hukum, kami meminta kejadian pelanggaran hukum terutama kepada para ulama dan tokoh-tokoh oposisi tersebut tidak selalu berulang. Kami juga meminta kepada aparat hukum untuk menegakkan hukum secara tegas, adil dan menindak hukum, para pihak yang terlibat melawan hukum tanpa adanya intervensi politik dan kepentingan apapun,” jelasnya.

Lebih dari itu, Djuju mengatakan bahwa kedatangan Hanif dan Bahar untuk menghadiri acara haul ayah dari Habib Bahar bin Smith dan berdakwah syiar agama Islam.

Arab Saudi akan Akui atas Terbunuhnya Jamal Khashoggi

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Arab Saudi sedang mempersiapkan pengakuannya dalam membunuh wartawan Saudi yang dianggap hilang Jamal Khashoggi saat interogasi, menurut laporan Senin (15/10/2018).

Pengakuan nanti bisa mengakhiri pertanyaan tentang nasib Khashoggi. Jurnalis Washington Post yang hilang sejak 2 Oktober ketika dia terakhir terlihat memasuki Konsulat Saudi di Istanbul.

Saudi akan mengklaim dalam laporan bahwa mereka hanya berniat menculik Khashoggi dari Turki, tetapi secara tidak sengaja membunuhnya selama proses interogasi, CNN melaporkan, mengutip dua sumber anonim.

Media tersebut mengutip satu sumber yang memperingatkan bahwa laporan tersebut masih dipersiapkan dan dapat diubah. Sumber lain mengatakan kepada CNN bahwa laporan itu kemungkinan akan mengalihkan keterlibatannya para pejabat tinggi Saudi, dengan alasan rencana itu dilakukan tanpa izin resmi dan transparansi dari kerajaan sambil berusaha menyalahkan orang-orang yang terlibat langsung.

Baca juga: Erdogan: Buktikan Kalau Wartawan Saudi Tewas di Luar Konsulat Arab

Khashoggi telah lama ditakuti di konsulat Saudi, setelah dia masuk ke gedung konsulat lalu tidak pernah terlihat keluar.

Presiden AS Donald Trump meningkatkan kemungkinan bahwa “pembunuh bayaran” bisa bertanggung jawab atas hilangnya Khashoggi setelah berbicara melalui telepon dengan Raja Salman selama 20 menit sebelumnya pada hari Senin.

Trump mengatakan Salman “dengan tegas menyangkal” pengetahuan tentang hilangnya Khashoggi

Baca juga: Trump: Mana Mungkin Raja Salman Tidak Tahu Info Tentang Khashoggi

Seorang juru bicara Dewan Keamanan Nasional mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa pihak berwenang penting Turki dengan dukungan penuh dan transparan dari Arab Saudi kemungkinan dapat menyelidiki kasus ini secara menyeluruh dan merilis hasil secara resmi begitu penyelidikan selesai.

Juru bicara tersebut lebih lanjut menyatakan dukungan untuk upaya para penyidik ​​Turki, dan mengatakan dia tidak akan berprasangka terhadap setiap hasil penyelidikan sambil mengingatkan Washington siap untuk membantu.

Diplomasi Turki Cegah Pembantaian Rezim Assad terhadap Warga Sipil Idlib

IDLIB (Jurnalislam.com) – Sekitar empat juta warga sipil berlindung di provinsi Idlib Suriah atas  upaya Turki yang telah menjaga dari kemungkinan pembantaian rezim Syiah Bashar Assad dan sekutunya dan mencegah risiko migrasi besar-besaran, Anadolu Agency melaporkan, Senin (15/10/2018).

Terletak di Suriah barat laut, Idlib telah menjadi salah satu wilayah yang dilanda gelombang kekerasan terbesar selama perang Suriah. Oleh karena itu, provinsi Idlib dijadikan sebagai zona de-eskalasi setelah pertemuan Astana oleh Turki, Rusia dan Iran pada 4-5 Mei 2017.

Pada saat yang sama, Idlib menjadi “benteng kuat” di tengah perang, yang terdiri dari berbagai oposisi militer dan faksi-faksi jihad, Idlib menerima sejumlah besar pengungsi dari berbagai wilayah di Suriah.

Disebabkan Serangan brutal rezim Nushairiyah Assad dan sekutu-sekutunya, hal tersebut membuat warga sipil melarikan diri dari berbagai bagian wilayah Suriah ke Idlib, meningkatkan populasi provinsi itu menjadi hampir empat juta.

Selain itu, oposisi militer juga dipaksa untuk mengevakuasi pejuang dan warganya dari berbagai titik wilayah yang rezim kuasai baru-baru ini baik melalui blockade dan serangan udara dikumpulkan di Idlib.

Baca juga: Erdogan: Turki Tetap Berada di Idlib untuk Bantu Selamatkan Warga

Idlib – di mana faksi-faksi jihad seperti Hayat Tahrir al-Sham (HTS) dan Huraseddin juga memiliki kehadiran bersama dengan oposisi anti Assad – telah berubah menjadi target baru rezim dan sekutu saat ini.

Sementara pasukan rezim secara intens mengerahkan elemen militer ke Idlib – mengelilinginya dari tiga arah – Pemerintah rezim Assad dan pejabat Rusia telah membuat pernyataan yang mengancam terhadap kawasan itu.

Rezim Assad dan Rusia meluncurkan serangan udara di Idlib pada 4 September. Puluhan ribu warga sipil mulai bermigrasi ke wilayah dekat perbatasan Turki atau titik-titik pengamatan tentara Turki di negara itu.

Ketika PBB meningkatkan peringatannya terhadap kemungkinan pembantaian besar pada warga sipil, gelombang migrasi dan krisis kemanusiaan di Idlib, Turki mempercepat lalu lintas diplomasi.

Pejabat Turki mengadakan pertemuan dengan delegasi Rusia dan Iran, penjamin gencatan senjata Suriah dalam kerangka perjanjian Astana.

Baca juga: Berikut Situasi Terakhir di Idlib, Benteng Terakhir Mujahidin Suriah

Setelah usulan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan selama KTT trilateral yang diadakan di Teheran pada 7 September, Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin menyetujui langkah-langkah tambahan untuk mempertahankan gencatan senjata di Idlib dalam pertemuan yang diadakan di Sochi pada 17 September.

Mengikuti Perjanjian Sochi, yang merupakan fase baru dimulai di Idlib – rezim Assad dan Rusia mengakhiri serangan udara dan ancaman mereka.

Sekitar 80.000 warga sipil yang meninggalkan rumah mereka saat serangan telah kembali ke Idlib. Warga sipil, didorong oleh kehadiran tentara Turki di titik-titik pengamatan, mulai memperbaiki rumah mereka yang rusak akibat serangan.

Meskipun kondisi sulit, para keluarga mulai mengirim anak-anak mereka kembali ke sekolah. Mulai terbangun kepercayaan dalam lingkungan, menghidupkan kembali kehidupan sosial dan ekonomi kota.

Konferensi Wisata Halal Rangkaian IMF – WB Digelar di Lombok

LOMBOK (Jurnalislam.com) – Salah satu kunci penguatan ekonomi Indonesia, khususnya dari sisi penerimaan devisa, adalah peningkatan sektor pariwisata.

Bentuk wisata yang berpotensi dikembangkan adalah wisata halal sehingga turut mendukung pengembangan ekonomi syariah.

Hal tersebut mengemuka dalam konferensi internasional hari ini (15/10/2018) di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Dilaksanakan sebagai kegiatan lanjutan Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018, konferensi tersebut merupakan kegiatan internasional pertama yang diselenggarakan di Lombok, pascagempa.

Dihadiri delegasi Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia yang berasal dari berbagai negara, tema yang diangkat dalam konferensi adalah Strengthening Islamic Economy Through Halal Tourism: Challenges, Opportunities and Prospects. Panel diskusi berisi pembicara-pembicara ahli di bidang ekonomi syariah.

Diantara pembicara adalah Direktur Jenderal Islamic Research and Training Institute (IRTI), Islamic Development Bank (IDB) Prof. Dr. Humayon Dar yang berasal dari Saudi Arabia dan CEO GMTI Mastercard Crescent Rating, Singapura, Fazal Bahardeen.

Ekonomi dan keuangan syariah merupakan salah satu tema yang didorong Indonesia dalam Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018. Dalam diskusi kali ini, para pembicara menyatakan besarnya potensi pariwisata halal untuk dikembangkan mengingat banyaknya jumlah umat muslim di dunia.

Di sisi lain, wisata halal juga menghadapi berbagai tantangan, terutama  dari sisi budaya, demografi, tujuan maupun alokasi biaya yang dikeluarkan untuk berwisata. Untuk itu diperlukan pemahaman lebih dalam dari berbagai pihak dalam pengembangannya.

Dilansir siaran pers Bank Indonesia, hal lain yang mengemuka adalah bahwa wisata halal tidak dapat berdiri sendiri melainkan menjadi bagian dari keseluruhan industri halal. Yang juga mencakup sektor finansial dan pembiayaan.

Untuk itu, dari sisi Indonesia, sangat disadari pentingnya kerja sama dengan berbagai negara, pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mendorong pengembangan wisata halal. Kerja sama juga perlu dilakukan dengan pemangku kepentingan di daerah-daerah wisata halal.

Lombok yang dikenal sebagai pulau dengan 1000 masjid, memiliki potensi sangat besar untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata halal di Indonesia. Jumlah wisatawan yang datang ke Lombok meningkat 50 persen dari satu juta wisatawan di tahun 2016 menjadi 1,5 juta di tahun 2017.

Mayoritas wisatawan berasal dari Australia, Malaysia, Singapura dan dari beberapa wilayah di Indonesia. Lombok telah dicanangkan sebagai The Best Destination for Halal Tourism Resort di dunia dari CNBC Indonesia di tahun 2017 dan Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) tahun 2018.

Selain itu, Lombok juga berhasil mendapatkan penghargaan The World Halal Tourism dua tahun berturut-turut di tahun 2015 dan 2016 di Dubai sekaligus sebagai The World Best Halal Honeymoon Destination. Kegiatan kali ini ini diharapkan dapat menunjukkan kepada masyarakat internasional mengenai keindahan dan ketahanan Lombok, sekaligus mendukung pemulihan ekonomi Lombok.

sumber: republika.co.id

 

 

Dugaan Suap Izin Meikarta, Bupati Bekasi dan Bos Lippo Jadi Tersangka

JAKARTA (Jurnalislam.com) – KPK menangkap Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro. Billy ditangkap setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap proyek Meikarta kepada Bupati Bekasi Neneng Hassanah Yasin.

“Tim sudah mengamankan BS (Billy Sindoro),” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah lansir  detik.com, Senin (15/10/2018).

Billy ditangkap di rumahnya. “Dari kediamannya dan segera dibawa ke kantor KPK untuk proses lebih lanjut,” jelasnya.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan 9 orang tersangka, yakni:

– Tersangka diduga pemberi

Billy Sindoro (Direktur Operasional Lippo Group), Taryadi (konsultan Lippo Group), Fitra Djaja Purnama (konsultan Lippo Group), Henry Jasmen (pegawai Lippo Group)

– Tersangka pihak diduga penerima

Bupati Bekasi Neneng Hassanah Yasin, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Bekasi Jamaludin, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Pemkab Bekasi Sahat MBJ Najor, Dewi Tisnawati (Kepala Dinas DPMPTSP Kabupaten Bekasi), dan Neneng Rahmi (Kepala Bidang Tata Ruang Dinas PUPR Kabupaten Bekasi).

Para pejabat pemkab Bekasi yang ditetapkan sebagai tersangka diduga menerima total duit Rp 7 miliar dari pihak pemberi. Duit itu merupakan bagian dari commitment fee fase pertama Rp 13 miliar.

sumber: detik.com

 

KPK Sebut Lippo Janjikan 13 Miliar untuk Muluskan Izin Meikarta

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Bupati Bekasi, Jawa Barat Neneng Rahmi berserta Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro dan tujuh orang lainnya sebagai tersangka suap pengurusan perizinan proyek pembangunan Meikarta di Kabupaten Bekasi.

Wakil Ketua KPK Laode M Syarief memastikan, operasi tangkap tangan yang melibatkan Bupati Bekasi dan Billy Sindoro dari Lippo Group di Kabupaten Bekasi pada Minggu lalu terkait dugaan suap pengurusan perizinan proyek pembangunan Meikarta di Bekasi, Jawa Barat, seluas 774 hektare.

Meikarta merupakan bagian proyek dari Lippo Group. “Diduga Bupati Bekasi dkk menerima hadiah atau janji dari penguasa terkait pengurusan perizinan proyek pembangunan Meikarta di Kabupaten Bekasi. Diduga pemberian terkait izin-izin yang sedang diurus oleh pemilik proyek seluas total 774 hektare ini dibagi ke dalam tiga fase.” ujar Laode di Gedung KPK, Jakarta, Senin (15/10/2018).

Laode mengatakan pemberian dalam perkara ini diduga sebagai bagian dari commitment fee fase proyek pertama dan bukan pemberian yang pertama dari total komitmen Rp13 miliar melalui sejumlah dinas yaitu Dinas PUPR, Dinas Lingkungan Hidup, Damkar, dan DPM-PPT.

“Diduga realisasi pemberian sampai saat ini adalah sekitar Rp7 miliar melalui beberapa kepala dinas yaitu pemberian pada bulan April, Mei, dan Juni 2018,” ujarnya.

KPK melakukan OTT di Kabupaten Bekasi pada Minggu (14/10) siang hingga dini hari dan berhasil mengamankan 10 orang dari pihak Pemerintah Kabupaten Bekasi dan swasta. Laode mengatakan informasi kasus ini berasal dari masyarakat sejak satu tahun lalu.

KPK melakukan OTT di Kabupaten Bekasi pada Minggu (14/10) siang hingga dini hari dan berhasil mengamankan 10 orang dari pihak Pemerintah Kabupaten Bekasi dan swasta. Laode mengatakan informasi kasus ini berasal dari masyarakat sejak satu tahun lalu.

Selain itu KPK juga melakukan penyegelan di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bekasi.

Sebelumnya, KPK mengatakan Bupati Bekasi Neneng dan pihak yang diduga sebagai penerima disangkakan melanggar pasal 12 huruf a atau pasal 12 huruf b atau pasal 11 atau pasal 12 B UU nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan korupsi sebagaiamana telah diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto pasal 64 ayat (1) KUHP.

sumber: sindonews

Analis : Kasus Suap Meikarta Berdampak Negatif ke Saham Lippo

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Analis pasar modal Indra menilai kasus operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kabupaten Bekasi.

KPK menangkap bos Lippo terkait perizinan proyek Meikarta berdampak negatif pada kinerja saham Grup Lippo, terutama sektor properti.

“Kabar itu membuat penilaian investor menjadi negatif terhadap saham Grup Lippo, terutama sektor properti,” ujar Indra yang juga Analis Henan Putihrai Sekuritas di Jakarta, Senin (15/10/2018) lansir Wartaekonomi.co.id.

Investor, lanjut dia, dipercaya akan melakukan kalkulasi valuasi harga sahamnya.

“Investor akan mencermati siapa saja pihak-pihak yang terkena kasus itu. Jika manajemen pengelola Meikarta tersandung kasus maka dampak negatifnya dapat berlanjut,” katanya.

Terpantau harga saham PT Lippo Cikarang Tbk yang merupakan pengembang Meikarta, dengan kode perdagangan LPCK di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penurunan sebesar 14,77 persen Rp1.385 per saham.

LPCK merupakan anak perusahaan PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR). Terpantau, harga saham LPKR juga mengalami koreksi sebesar 2,68 persen Rp290 per saham pada hari ini (Senin, 15/10/2018)

 

KPAI Minta Bayi Baru Lahir Dilindungi JKN

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta bayi yang baru lahir segera dilindungi dengan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) BPJS.

“Pada masa 28 hari sejak dilahirkan bayi harus dilindungi oleh JKN,” kata  Komisioner KPAI Bidang Kesehatan dan NAPZA, Sitti Hikmawati di kantornya, Jakpus, Senin (15/10/2018).

Hal tersebut ntuk mengantisipasi bila harus mendapatkan perawatan lanjutan, meskipun belum didaftarkan oleh orang tuanya.

Sitti menjelaskan, Pasal 16 Ayat (1) Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang JKN.

Pasal tersebut menyatakan bayi baru lahir dari peserta jaminan kesehatan wajib didaftarkan paling lambat 28 hari sejak dilahirkan.

Menurutnya, Pasal 16 tersebut sesuai dengan yang selama ini diperjuangkan KPAI.

Mengingat angka kematian balita tertinggi di Indonesia terjadi pada masa baru lahir, yaitu 28 hari.

Namun, pasal tersebut terkesan dinafikan oleh Pasal 104 yang menyebutkan Pasal 16 baru diberlakukan setelah tiga bulan sejak peraturan tersebut ditandatangani.

Hal itu bertolak belakang dengan bunyi Pasal 108, yang merupakan pasal terakhir, yang menyatakan Peraturan tersebut mulai berlaku pada tanggap diundangkan.

“Akibatnya terjadi ketidakpastian dalam pelaksanaan di lapangan yang berpeluang menuai korban dan konsekuensi lain yang seharusnya bisa dihindari,” katanya.

Karena itu, KPAI meminta pemerintah untuk menghapus Pasal 104 agar pelaksanaan Pasal 16 dapat segera dilakukan setelah peraturan tersebut ditandatangani Presiden Jokowi

KPAI juga mendorong BPJS Kesehatan untuk segera melakukan sosialisasi terkait peraturan tersebut.

“Pelaksanaan JKN terkait kesehatan anak seharusnya mendahulukan kepentingan terbaik anak karena mereka adalah generasi penerus bangsa,” tuturnya.

Trump: Mana Mungkin Raja Salman Tidak Tahu Info Tentang Khashoggi

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Presiden AS Donald Trump pada Senin (15/10/2018) menyampaikan bahwa Arab Saudi kemungkinan tidak berada di belakang hilangnya jurnalis Jamal Khashoggi.

Trump malah mengatakan kemungkinan “pembunuh bayaran” telah menculik  wartawan Saudi setelah berbicara dengan Raja Salman pada pagi hari.

“Kami tidak akan membiarkan apa-apa terlewati,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih. “Raja Salman dengan tegas menyangkal hal-hal tentang Khashoggi. Dia benar-benar tidak tahu, mungkin, saya tidak ingin masuk ke dalam pikirannya tetapi kedengarannya bagi saya seperti itu mungkin bisa jadi pembunuh bayaran, siapa tahu? Kita akan untuk mencoba mendapatkan data itu segera.. ”

Trump mengumumkan dia mengirim Sekretaris Negara Mike Pompeo ke Riyadh untuk bertemu dengan raja Saudi.

Baca juga: Anggota Kongres AS Galang Dukungan untuk Rilis Data Intelijen atas Khashoggi

Khashoggi, seorang wartawan dan kolumnis Saudi untuk surat kabar Washington Post, telah hilang sejak ia memasuki konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.

Pada hari yang sama 15 orang Saudi lainnya, termasuk beberapa pejabat, tiba di Istanbul dengan dua pesawat dan mengunjungi gedung diplomatik sementara Khashoggi juga berada di dalam, kata polisi Turki.

Semua orang yang diidentifikasi telah meninggalkan Turki.

Otoritas Saudi belum memberikan penjelasan yang jelas tentang nasib Khashoggi, sementara beberapa negara – terutama Turki, AS, dan Inggris – mendesak agar kasus itu diselesaikan secepat mungkin.

Baca juga:  Inggris, Perancis dan Jerman Ajukan Banding ke Saudi atas Hilangnya Khashoggi

Trump mengatakan bahwa selama obrolannya dengan Salman, kerajaan mengeluarkan penolakan tegas atas pengetahuan apa pun tentang hilangnya Khashoggi.

“Penyangkalannya kepada saya tidak mungkin lebih kuat bahwa dia tidak memiliki pengetahuan tentang Khashoggi. Dan mana mungkin orang seperti dia dan juga putra mahkota tidak memiliki pengetahuan itu,” kata Trump, mengacu pada Pangeran Mahkota Saudi Mohammad bin Salman.

Trump telah menghadapi tekanan yang meningkat dari anggota parlemen, meminta dia untuk mendesak Arab Saudi, apakah negara itu berada di belakang penculikan atau pembunuhan Khashoggi.