Berita Terkini

Petani Gaza: ‘Israel Menghancurkan Semua Hasil Panen Kami’.

GAZA (Jurnalislam.com) – Para petani di Gaza mengatakan bahwa semua tanaman mereka hancur total. Setelah untuk kedua kalinya bendungan di daerah pendudukan Israel yang berfungsi untuk menahan aliran air hujan yang melewati sebuah lembah ke Jalur Gaza dibuka.

Berbicara kepada Al-Araby Al-Jadeed, Petani Palestina, Mahmoud Shamali, menjelaskan: “dibukanya bendungan tersebut telah menghancurkan semua hasil panen, infrastruktur dan jaringan irigasi kami.”

Ribuan Dunam (1 dunam= + 1000 m2) lahan pertanian hancur di Al-Sheja’ea timur, sebuah daerah sebelah timur kota Gaza.

Shamali mengkonfirmasi bahwa luas lahannya yang sepenuhnya dibanjiri dengan air hujan yang dikirim oleh Israel sekitar 33 dunams (+ 3.3 hektar).

“Semua hasil jerih payah kami lenyap dalam satu menit,” kata Shamali, mengatakan bahwa semua hasil panennya, termasuk kacang, kentang, chard, lobak, selada air, kol, kacang polong dan bawang, telah hancur.

Kementerian Pertanian Palestina di Gaza mengumumkan bahwa lebih dari 950 dunam (+ 95 hektar) lahan pertanian di timur kota Gaza benar-benar telah musnah dan kerugian langsung yang diderita para petani lebih dari USD 500.000, sedangkan untuk kerugian tidak langsung lebih dari USD 2 Juta

Sumber: middleeastmonitor

 

Iran Tahan Seseorang Karena Memfilmkan Jatuhnya Pesawat Ukraina

IRAN (Jurnalislam.com) – Pada hari Rabu Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan bahwa mereka telah menangkap seseorang yang memfilmkan jatuhnya pesawat Ukraina Airlines, no. penerbangan PS752, akibat rudal Iran pekan lalu, yang menewaskan seluruh 176 penumpangnya.

IRGC menyimpulkan hasil investigasinya bahwa mereka telah mengidentifikasi orang tersebut, yang telah menyebarkan rekaman kamera pengawas pada saat jatuhnya pesawat dan tak lama setelahnya menjadi viral di dunia maya. Diyakini bahwa orang ini akan menghadapi dakwaan terkait dengan keamanan nasional.

Pada hari Sabtu, IRGC mengklaim bertanggung jawab bahwa insiden tragis ini terjadi akibat kelalaian manusia. Iran telah mengakui bahwa pesawat itu memang ditembak jatuh secara tidak sengaja, dan mengumumkan penangkapan beberapa orang atas insiden tersebut. Presiden Iran, Hassan Rouhani, menyatakan bahwa selanjutnya proses penyelidikan ini akan diawasi oleh sebuah “pengadilan khusus”.

Sumber: middleeastmonitor

Anies Berikan Hibah Rp 400 Miliar untuk Guru Agama di Jakarta

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan hibah berupa dana senilai Rp400 miliar untuk guru agama. Hibah itu diserahkan kepada Kementerian Agama (Kemenag).

Dana sebesar itu dialokasikan dari anggaran khusus untuk pendidikan Agama di DKI Jakarta yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pemberian dana tersebut baru tahap awal.

Ke depan, dia berharap akan ada join program yang lebih baik lagi dengan Kemenag. Anies menginginkan pendidikan di wilayah Provinsi DKI Jakarta mendapatkan kesetaraan dan kesejahteraan.

“Pemprov DKI ingin warga Jakarta bisa merasakan kesetaraan di dalam pelayanan. Termasuk bagi mereka yang bekerja di bidang pendidikan,” ujar Anies seusai Acara Tasyakuran Hari Amal Bakti ke-74 di Kementerian Agama, Kamis malam (16/1/2020).

Anies mengatakan sebagian guru-guru di wilayah Provinsi DKI Jakarta berada di bawah naungan Pemprov DKI dan sebagian di bawah naungan Kanwil Kementerian Agama. Atas hibah tersebut, Anies diberi penghargaan oleh Kemenag.

“Kami ingin mendukung para guru yang mengajar anak-anak di Jakarta yang berada di bawah naungan Kemenag dalam bentuk hibah,” kata Anies.

Selain itu, Anies juga mengatakan pihaknya telah memberikan bantuan rumah ibadah di Jakarta. Menurut dia, kehidupan beragama di DKI Jakarta maju dan berkembang.

Menag Akan Terus Lakukan Perbaikan Internal

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kementerian Agama (Kemenag) mendapatkan banyak prestasi dalam kategori pelayanan, kinerja, dan pengelolaan keuangan.

Karena itu, Menag merasa bangga meskipun belum sampai tiga bulan menjabat.

“Saya belum ada tiga bulan jadi menteri, jadi prestasi-prestasi tadi adalah dibuat atau di bawah pimpinan menteri-menteri sebelum saya. Tapi ke depan kita usahakan untuk berbuat lebih baik lagi,” kata Fachrul Razi saat sambutan acara tasyakuran “Umat Rukun, Indonesia Maju” di kantor Kementerian Agama, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (16/1/2020).

Dia memaparkan penghargaan yang telah dicapai dalam kurun beberapa waktu ke belakang dari Menag sebelumnya.

Hal yang menonjol, kata dia, adalah penghargaan di bidang keuangan dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) selama tiga kali berturut-turut.

“Dalam situasi seperti ini kita berhasil melakukan evaluasi, introspeksi, atau muhasabah tentang apa yang telah kita lakukan atau prestasi baik kita yang telah dilakukan di masa lalu,” katanya.

Selain itu, dia mengatakan bahwa ombudsman menilai Kemenag sebagai salah satu pelayanan publik terbaik.

Kerukunan beragama menjadi salah satu tanggung jawab Kemenag juga yang angkanya terus meningkat.

“Saya juga mendapat informasi KUA-KUA kita dinilai oleh Ombudsman bekerja dengan sangat baik dan juga pelaksanaan haji dinilai sangat baik,” kata Fachrul.

Pria Muslim Inggris Selamatkan Warga yang Ingin Bunuh Diri

INGGRIS (Jurnalislam.com) – Atif Jamil, seorang pria berusia 25 tahun dari Halifax di Inggris Utara, telah diberikan penghargaan Calderdale Policing Awards setelah ia membantu upaya pencegahan bunuh diri di pusat kota Halifax.

Upacara penghargaan tahunan ini diadakan untuk menghargai para pahlawan ‘tanpa tanda jasa’ karena “keberanian dan integritas mereka saat bertindak dalam keadaan sulit.” Keadaan sulit seperti yang dialami Jamil ketika ia mengemudi dan melihat seorang lelaki berdiri di sisi jalan.

“Naluri alami saya ketika itu adalah berhenti dan membantu, jadi saya berbicara dengannya,” kata Jamil kepada Halifax Courier.

Jamil menepi untuk mencari tahu apakah pria itu baik-baik saja.

“Pria itu menelepon seorang wanita dan dia mengatakan ‘dia telah meninggalkanku’.  Pria ini berada pada titik terendah dalam hidupnya, tetapi saya mengatakan kepadanya bahwa dia tidak sendirian dan mencoba memberanikan diri menolongnya,” katanya.

Atif Jamil menerima penghargaan dari Superintendent Dickie Whitehead di Stadion Shay

Jamil, yang diketahui adalah manajer sebuah dealer mobil, juga bekerja di bank mengatakan hal ini telah memberinya pengalaman tersendiri dalam berkomunikasi dengan orang-orang yang lebih rentan.

Selama 15 menit, Jamil mengatakan ia berbicara dengan pria itu sampai polisi tiba di tempat kejadian dan menarik pria itu ke tempat yang aman.

Jamil berkata: “Setiap hari saya berpikir tentang seberapa besar dampak bunuh diri pada sebuah keluarga.

“Hanya karena seseorang tersenyum bukan berarti mereka baik-baik saja secara mental atau fisik.”

“Saya seorang Muslim dan melalui Islam, kami diajarkan jika Anda menyelamatkan satu kehidupan, maka Anda menyelamatkan semuanya karena satu perbuatan baik memiliki potensi untuk membuat perubahan besar.”

Seorang juru bicara dari badan amal pencegahan bunuh diri, Samaritans, mengatakan: “Siapa pun dapat menghubungi petugas Samaritans kapan saja bebas tanpa biaya di 116 123, bahkan untuk ponsel tanpa pulsa sekalipun.

“Nomor ini tidak akan muncul di tagihan telepon Anda, atau Anda bisa mengirim email ke jo@samaritans.org atau kunjungi www.samaritans.org untuk mencari dimana cabang terdekat, sehingga Anda dapat berbicara dengan salah satu petugas kami secara langsung.

sumber: ilmfeed

 

Eks Komisioner Komnas HAM Sayangkan Peran Indonesia soal Uighur

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Mantan anggota Komisioner Komnas HAM, Hafid Abbas mengatakan Indonesia sebenarnya memiliki empat peran penting untuk menangani tragedi kemanusiaan yang terjadi di Uighur, Cina.

“Pertama kita kuat di nonblok. Ada 114 negara, kalau Indonesia bisa memengaruhi negara nonblok dengan menekan Cina, saya kira Cina akan mengalah,” katanya saat ditemui di bilangan Cikini, Jakarta, Kamis (16/1/2020).

Kedua, Indonesia sebagai negara terbesar beragama Islam di dunia, juga pendiri dan penentu di gerakan Organisasi Konferensi Internasional, namun seakan-akan kekuatan itu tidak dimanfaatkan.

“Tidak ada niat serius untuk memanfaatkan kekuatan Indonesia menyelesaikan kasus kemanusiaan disana,” ujarnya.

Ketiga, Indonesia sangat dominan berpengaruh di Asean, dimana 50 persen lebih penduduk Asean adalah Indonesia. Sementara Brunei hanya beberapa ratus ribu saja, mampu bersikap tegas.

“Indonesia ini raksasa dengan single community of nation, Indonesia menentukan. Tapi kenapa tidak digunakan, sayang sekali,” katanya.

Keempat, peran Indonesia sebagai anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB. Melalui peran ini, Indonesia dapat berperan penting.

“Saya sampaikan simpati atas tragedi di xinjiang. Jadi mudah-mudahan negara hadir dengan peran yang strategis,” ujarnya.

Sejarah Kebangkitan Pers dan Media Islam

SEJARAH telah mencatat perjalanan panjang perjuangan media dan pers Islam di Nusantara sampai Indonesia mendapatkan kemerdekaanya. Peran para aktivis media Islam dan jurnalis muslim sangatlah besar dalam kehidupan masyarakat bangsa dan Negara. Dalam catatan awal tahun Mujahid Dakwah ini, akan mengupas beberapa hal tentang media Islam dalam tinjauan sejarah dan fungsinya serta lahirnya puluhan bahakan ratusan media massa Islam dalam sejarah dan agenda kebangkita media Islam.

Kebangkitan pers dan media Islam telah tercatat dalam sejarah Nusantara, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Pers Islam memiliki andil yang sangat besar dalam melakukan berbagai perlawanan terhadap berbagai bentuk kolonialisme dan penjajahan yang dilakukan oleh Belanda dan sekutunya.

Sejarah perjalanan pers dan media Islam dalam analisa kami, telah melalui beberapa fase. Fase pertama adalah fase Nusantara sebelum kemerdekaan Indonesia dari tahun 1900-an sampai 1945. Fase kedua adalah fase kemerdekaan di Orde Lama dan Orde Baru sekitar tahun 1945-1998. Dan fase ketiga adalah fase reformasi yang di mulai tahun 1998-sekarang.

Perjuangan ummat Islam di Indonesia melalui media massa tampaknya telah berurat dan berakar, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Jika kita bercermin melalui sejarah, maka akan terlihat media massa Islam menjadi roda-roda penggerak dalam perjuangan Islam, menjadi minyak sebagai pembakar perjuangan umat Islam bahkan menyelami nasib umat yang terpuruk di negeri ini.

Pada fase awal sekitar tahun 1906 berdiri Al-Imam sebagai majalah Islam pertama di Asia Tenggara. Ia diterbitkan di Singapura pada Jumadil Akhir 1324 H / Juli 1906 M dan berakhir pada permulaan 1909. Majalah yang menggunakan aksara Arab-Melayu atau Jawi dan diterbitkan Melayu ini dirilis di Mathba’ah (Drukkery) Melayu Tanjung Pagar, Singapura.

Michael Laffan, dalam bukunya Kebangsaan Islam dan Indonesia Kolonial, Umma Below the Winds (2002), mencatat kehadiran tokoh kunci di balik lahirnya majalah ini. Di antara nama-namanya adalah Sayyid Ahmad Al-Hadi, yang merupakan anak angkat dari Raja Ali Kelana bin Raja Ahmad Riau, dan Syekh Muhammad Taher bin Muhammad Jalaluddin Al-Azhari, seorang ulama muda Minangkabau yang merupakan sepupu dari ulama Syaikh Ahmad Khatib Al- Minangkabawi (1860 – 1916). Pada tahun 1890, pindah dari Riau ke Lingga ke Kairo, Mesir, untuk tugas belajar dan Haji Abbas bin Muhammad Taha (Aceh). Selain Al-Hadi dan Syekh Taher, nama lain yang juga menonjol dalam majalah Al-Imam adalah Sayyid Muhammad bin Aqil bin Yahya dan Syekh Muhammad Salim Al-Kalali.

Begitu menjamurnya surat kabar pada masa itu seperti Vendunieuws (1744), Bataviasche Coloniale Courant (1801), Bintang Hindia dan lainnya. Namun sangat disayangkan karena tak satupun dari mereka menyuarakan nasib dan aspirasi umat Islam. Berbagai latar belakang yang membuat para Ulama ini merintis Al Imam menjadi media massa Islam pertama di tanah Melayu-Nusantara.

Berbagai latar belakang lahirnya Al Imam adalah keterpurukan, kehancuran dan kerusakan kondisi masyarakat dan umat di bawah penjajahan belanda, inggris dan sekutunya, berbagai cekaman, penindasan, kekerasan, kemiskinan di alami oleh masyarakat serta tidak adanya wadah untuk menyampaikan aspirasi ummat dan tegaknya amar ma’ruf dan nahi mungkar. Dan yang paling penting adalah agar umat Islam dapat meraih kemerdekaanya.

Sejak awal Al Imam memang bersuara menyatakan penyesalannya akan nasib umat Islam di tanah Melayu-Nusantara  yang tertajajah di mana-mana. Dalam sebuah edisinya, mereka menyebut “Tanah Sumatera, Tanah Manado, Tanah Jawa, Tanah Borneo dalam genggaman Belanda, hingga tanah melayu peninsula dalam cengkeraman Inggris.” (Al Imam Vol. 1, No. 3, 19 September 1906). Harapan mereka tak lain agar umat Islam mampu meraih kemerdekaannya.

Al Imam berdiri mengibarkan Islam sebagai dasarnya. Menyebarkan dakwah Islam. Mengikuti jejak jejak Al Manar yang dipimpin oleh Syekh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dengan semangat pembaruan dan pemurnian Islam, Al Imam menegaskan haluannya dalam sebuah edisinya, “Untuk mengingatkan mereka yang terlupa, membangunkan mereka yang terlelap, menunjukkan arah yang benar kepada mereka yang tersesat, memberi suara kepada mereka yang berbicara dengan bijak, mengajak umat Islam berupaya sebisa mungkin untuk hidup menurut perintah Allah, serta mencapai kebahagiaan terbesar di dunia dan memperoleh kenikmatan Tuhan di Akhirat.” (Al Imam, I Juli 1906).

Pada fase awal ini dalam rentang tahun 1906 sebagai awal lahirnya media massa Islam pertama di Nusantara, juga bertaburan media-media massa Islam di tahun-tahun berikutnya. Sebut saja Al Munir di Padang Panjang.

Tahun 1911 Al Munir didirikan di Sumatera Barat oleh Haji Abdullah Ahmad yang sebelumnya juga perwakilan Al Imam di Padang Panjang. Serta di bantu oleh Haji Abdul Karim Amrullah (ayah dari Buya Hamka) dan Syekh Jamil Jambek. Mereka semua adalah murid langsung dari Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi.

Al Munir sangat bersuara keras terhadap berbagai praktek bid’ah, menyuarakan kritik-kritik keras terhadap pemerintah kolonial Belanda, menyuarakan persatuan umat Islam dan kemerdekaan bangsa. Dan penyebaran Al Munir tersebar di Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan Malaya.

“Al Munir bertujuan untuk memperoleh agama Islam yang sejati serta menegakkan syariat Nabi Muhammad yang benar dengan dorongan menghidupkan kembali tradisi Nabi dan mengutuk bid’ah dalam praktik ibadah umat Muslim.” (Al Munir 3, 2, 1913).

Perjalanan sejarah media massa dan pers Islam terus berkembang baik secara kualitas dan kuantitas utamanya di pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Namun, tentu tulisan yang singkat ini kami tidak bisa menyebutkannya secara rinci.

Di Sumatera pada waktu itu sebagai pusat dan lumbungnya media massa Islam seperti Majalah Suluh Melayu di Padang (1913), Majalah Al-Radd wa Al-Mardud di bukittinggi (1926), Majalah Suara Tarbiyah Islamiyah di bukittinggi (1937-1945), Al Itqan dan Al-Mizan (1918) di Minanjau dan banyak lagi yang lainnya.

Pada tahun 1929 Tokoh Persis, Ustad A. Hassan bersama Fachrudin Al Kahiri dan Muh. Natsir mendirikan Majalah Pembela Islam. Pembela Islam menjadi media massa Islam yang gigih membela Islam. Pembela Islam menjadi salah satu lawan dari tokoh-tokoh Nasionalis sekuler yang menggelorakan ide sekularisme (contohnya, polemik antara Sukarno dan M. Natsir mengenai Islam melawan sekularisme).

Kritik-kritik keras Pembela Islam terhadap praktek kristenisasi dan pelecehan oleh missionaries. Seperti misalnya tulisan Muh. Natsir yang berjudul Zending Contra Islam (1931). Pembela Islam juga menyerang paham sesat Ahmadiyah Qadian, dengan menurunkan tulisan perdebatan langsung antara A. Hassan dengan Rahmat Ali dari Ahmadiyah di tahun 1933 dan 1934.

Semangat Majalah Pembela Islam untuk mengajak masyarakat kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sangat besar, serta menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Sangat tegas terhadap berbagai aliran sesat, perbuatan bid’ah dan paham-paham sekularisme. Kekuatan idealisme Pembela Islam mampu memberikan pengaruh yang sangat besar dan mendapatkan berbagai apresiasi dari para pembacanya, tokoh dan ulama di Nusantara.

Buya Hamka yang menjadi salah satu pembaca Pembela Islam yang juga Pendiri Pedoman Masyarakat mengatakan,

“Mulai saja majalah itu dibaca, timbullah dalam jiwa semangat yang terpendam yaitu semangat hendak turut berjuang dalam Islam. Artikel-artikel yang dimuat di dalamnya menggugah perasaan hati untuk bangun, bergerak, berjuang hidup dan mati dalam Islam.”

“Artikel-artikel dari M. Natsir di dalam majalah Pembela Islam itu sangat menarik hati saya. Saya pun seorang pengarang. Tetapi saya mengakui bahwa karangan Natsir memberi saya bahan untuk hidup, sehingga saking tertariknya saya kepada tulisan-tulisannya itu…” (Dikutip dari Panitya Peringatan M. Natsir/M. Roem 70 tahun. 1978. M. Natsir 70 tahun Kenang-kenangan Kehidupan & Perjuangan. Jakarta: Pustaka Antara).

Media Massa Islam

Buya Hamka sendiri sangat aktif dalam perjuangan dan pergerakan di media massa Islam. Pada tahun 1935, Buya Hamka dan Yunan Nasution mendirikan Pedoman Masyarakat di Medan Sumatera Barat. Pedoman Masyarakat memasang motto ‘Memajukan Pengetahuan dan Peradaban Berdasarkan Islam’.

Pedoman Masyarakat menjadi salah satu media massa Islam yang besar di zaman itu. Berhasil mencapai dan mencetak sebanyak 4000 eksemplar. Melalui Pedoman Masyarakat ini pula Buya Hamka melahirkan karya-karyanya yang banyak dan fenomenal. Namun pada masa awal pemerintahan Jepang banyak sekali media massa yang menemukan ajalnya termasuk Pedoman Masyarakat. Akan tetapi, hal ini tidak membuat Buya Hamka berhenti dalam perjuangan media Islam. Pada tahun 1942-1945 mendirikan Semangat Islam bersama beberapa kawannya.

Perjalanan panjang media massa Islam terus berlanjut pada fase kedua, yakni fase kemerdekaan Indonesia. Dalam catatan sejarah, telah terbukti bahwa media massa Islam menjadi penyuara aspirasi yang dihadapi oleh umat, baik dari segi keagamaan, social, ekonomi dan politik.

Pasca kemerdekaan berbagai media massa Islam muncul diantaranya Harian Abadi. Harian Abadi menjadi corong pergerakan dari Partai Masyumi yang menjadi pengawal terhadap pemerintahan Soekarno waktu itu. Menjadi media massa yang kritis terhadap pemerintahan dalam menyuarakan aspirasi umat. Namun, akhirnya Harian Abadi tutup tahun 1970. Begitupun dengan lahirnya kembali media massa Islam dibawah pimpinan Buya Hamka yakni Panji Masyarakat dan Harian Duta Masyarakat yang menjadi suara Nahdlatul Ulama.

Bukankah, sejarah panjang perjalanan media massa Islam ini begitu banyak pelajaran yang bisa dipetik oleh para aktivis media Islam hari ini. Kebangkitan, kemunduran dan kejatuhan media massa Islam telah tercatat dalam sejarah. Media Islam bukan sekedar berenang-renang di tepian, tetapi ia langsung terjun ke dalam pusaran perjuangan di negeri ini.

Sejarah ini bagi para aktivis media Islam adalah bagaikan sebongkah mutiara yang ia dapatkan dan sebagai api yang membara dan membakar semangat perjuangan dalam dirinya. Membuat ia terus bergerak, menebarkan cahaya Islam ke seluruh sendi kehidupan negeri ini.

Peran Media Islam

Menarik sebuah pertanyaan yang mengatakan, mengapa harus ada media Islam?

Maka jawabannya ada dalam sejarah negeri ini, bahwa media Islam lahir untuk memperjuangkan aspirasi dan suara umat, kezaliman, kemungkaran dan kebatilan yang merajalela, menjadi penyuara kebenaran (amar ma’ruf dan nahi mungkar), mempersatukan umat dan menjaga ukhuwah Islamiyah, membela kepentingan masyarakat, membangkitkan semangat perjuangan, hidup dan mati dalam Islam serta Ia menyatu dengan kondisi yang dialami oleh masyarakat.

Di tengah pergolakan dan problematika yang dihadapi umat saat ini, maka penguasaan media massa menjadi salah satu hal yang turut menentukan perjuangan umat Islam. Melalui media massa, peperangan pemikiran yang sengit, penyebaran ilmu serta penguasaan opini di masyarakat dapat dikuasai.

Oleh sebab itu, kebangkitan media Islam sangat dinanti oleh umat dan masyarakat hari ini. Di tengah krisisnya penyebaran informasi, maka media Islam dengan konsepnya yang sesuai tuntunan syariat diharapkan dapat menjadi cahaya di tengah krisisnya informasi hari ini.

Kebangkitan media Islam juga diharapkan melahirkan jurnalis Muslim yang handal dan profesional, sebab sejarah telah mencatat lahirnya karya para ulama hadir ditengah pergolakan media massa Islam yang banyak kala itu. Sebab, hari ini umat juga menghadapi masalah yakni krisis literasi di kalangan para aktivis dan penggeraknya. Minimnya budaya baca dan tulis menjadi salah satu faktor kemunduran umat Islam hari ini.

Padahal, dalam catatan sejarah peradaban Islam. Para ulama telah menoreh tinta emasnya dengan ratusan sampai ribuan karyanya. Seorang ulama salaf Ibnu Jauzi yang telah menulis ribuan jilid kitab sebagaimana pengakuan cucu Imam Ibnu Jauzi yang bercerita, “Menjelang akhir hayatnya, saya pernah mendengar kakek berkata di atas mimbar, “Jari-jari tanganku ini telah menghasilkan dua ribu jilid kitab. Selama hidupku ada seratus ribu orang yang menyatakan diri tobat di hadapanku dan dua puluh ribu Yahudi dan Nasrani yang menyatakan diri masuk Islam di hadapanku.”

Seorang ulama dan jurnalis Muslim sangat dinantikan umat hari ini dengan karya-karya mereka. Bacalah perkataan Imam al-Hasan al-Bashri: “Ditimbang tinta pena ulama dengan darah para syuhada, maka akan lebih berat tinta para ulama atas darah para syuhada.” (Al-Ihya (1/18).

Kebangkitan media Islam akan sejalan dengan lahirnya para ‘alim ulama dan Jurnalis Muslim, dalam sejarah media massa Islam di Nusantara dan Indonesia setiap media Islam lahir dari tangan para ulama dengan semangat amar ma’ruf dan nahi mungkar serta jihad fisabilillah.

Oleh sebab itu, melalui catatan awal tahun Mujahid Dakwah ini. Kami meluncurkan berbagai program dalam melahirkan para pejuang dan aktivis media Islam. Program ini bernama Daar Al-Qalam dengan visinya Jurnalis Muslim Bangkitkan Peradaban Islam. Serta meluncurkan Catatan Mujahid Dakwah yang terbit setiap pekan dengan pembahasan Jurnalisme, aktivitas media serta agenda kebangkitan peradaban Islam. Olehnya itu, sudah saatnya media Islam bangkit mengikuti jejak sejarahnya dan menoreh karya-karyanya.

“Penderitaan Muslim Uighur Sudah Terjadi Sejak 2009”

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Berita tentang penderitaan Muslim Uighur telah terjadi sejak tahun 2009 dan belum diketahui oleh masyarakat di Indonesia secara luas. Pernyataan itu disampaikan langsung oleh penulis buku Alazhi Perawan Xinjiang, Nuthyla Anwar dalam diskusi Kejahatan Kemanusiaan RRC atas Kaum Uighur pada Kamis (16/1/2020) di Cikini, Jakarta Pusat.

Saat itu, kata dia, dikabarkan bahwa terjadi kerusuhan di Xinjiang, kemudian dia pergi mengunjungi Xinjiang untuk melihatnya secara langsung.

“Kerusuhan sudah tidak ada, tapi bekasnya masih ada seperti rumah yang hancur, orang Uighur seperti ketakutan, saat diajak bicara ketakutan, tapi ada yang bisa diwawancara sambil sembunyi-sembunyi,” katanya saat diwawancara Jurnalislam.com di sela-sela diskusi.

Ia juga menceritakan, sejak tahun 2009 rumah-rumah milik orang Uighur dan masjid sudah dihancurkan. dan sekolah-sekolah Islam diubah menjadi sekolah Cina. Dulu belum ada kamp konsentrasi seperti sekarang yang keberadaannya mulai terungkap.

Penulis buku Alazhi Perawan Xinjiang yang diterbitkan Mizan 2012 ini mengaku, awalnya mau membuat artikel tentang Muslim Uighur. Tapi ketika kembali ke Guangzhou bertemu orang Uighur yang lari dari Xinjiang, bernama Alazhi.

“Ketika saya interview dia, kisah hidup dia, keluarga dipecah-pecah, ibu, ayah dan anak dipisahkan, kisah hidupnya saya tulis jadi novel Alazhi Perawan Xinjiang,” ujarnya.

Menurutnya, keluarga Muslim Uighur sengaja dipisah-pisahkan untuk menghilangkan keislamannya. Nuthyla juga menceritakan, tahun lalu dia berkunjung lagi ke Guangzhou untuk menemui Alazhi, namun Alazhi sudah tidak ada dan dikabarkan sudah menikah dengan pria non Muslim.

Ia menyampaikan, di Guangzhou memang orang-orang Uighur membuka restoran Muslim. Tapi mereka takut kalau diajak bicara tentang Uighur. Mereka seperti diawasi dengan ketat sehingga ketakutan.

Berdasarkan pengalaman Nuthyla di Guangzhou, orang Cina memperlakukan Muslim Uighur seperti warga kelas bawah. Warga Cina juga membenci orang Uighur, mereka menganggap orang Uighur sebagai pemberontak yang ingin memerdekakan diri.

Santri Pesantren Al Barokah Tasik akan Segera Mempunyai Bangunan Layak

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Selama 25 Tahun berdiri, Pesantren Al barokah yang berada di Desa Gunungsari, Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya ini belum pernah direnovasi. Saat tim ACT Tasikmalaya menyambangi pesantren ini di bulan Juli lalu, kondisinya begitu memprihatinkan, atapnya sudah bolong, tembok retak-retak dan dinding bilik yang sudah rapuh.

Pesantren yang menjadi tempat belajar agama bagi 150 orang santri dari tingkat TK hingga SMP ini hanya menampung 50 orang saja, seringkali santri belajar membludak hingga keluar.

Namun hal tersebut tidak menjadikan mereka berhenti belajar, mereka tetap semangat walaupun di tengah-tengah keterbatasan fasilitas. Tapi kondisi tersebut tak akan terjadi lagi, pasalanya tim ACT Tasikmalaya sedang melakukan proses pembangunan kembali madrasah tersebut menjadi lebih layak, Kamis (16/1/2020).

M Fauzi Ridwan selaku tim program menyebutkan pembangunan ini sudah dimulai dan diperkirakan akan selesai dalam jangka waktu 3 minggu kedepan. “Sudah dimulai dan Insyaa Allah akan selesai 3 minggu ke depan” ungkapnya Kamis (16/1/2020)

Ustadz Tatang Zaelani yang sejak tahun 1995 sudah mendedikasikan dirinya sebagai pengajar di pesantren ini menyampaikan rasa harusnya karena pesantren ni sedang di renovasi bahkan dibangun kembali menjadi lebih layak.

“Abdi mah ngaraoskeun kumaha suka dukana ti kawit 25 tahun kapengker, ngaraos cukeri upami ningal murangkalih kedah belajar berdesakan bahkan dugikeun kaluar, ayeuna alhamdulillah nuju dibangun, simkuring ngahaturkeun nuhun sinareng do’a mudah-mudahkan ACT sareng para donaturna dipasihan kasehatan sareng kaberkahan ti Allah SWT, jazakallah ahsanak jaza” ungkapnya

YLBHI: Pelanggaran HAM Makin Buruk, Didominasi Kriminalisasi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) memprediksi 2020 akan menjadi tahun yang mengancam hak asasi manusia (HAM) rakyat atau warga Indonesia.

Terdapat beberapa indikator untuk menyatakan hal tersebut.

“Memburuk (dari tahun sebelumnya). Sehingga kami memproyeksikan tahun 2020 akan menjadi tahun yang mengancam kehidupan rakyat atau warga,” jelas Ketua YLBHI, Asfinawati, di Jakarta Pusat, Rabu (15/1/2020).

Asfinawati melihat ada beberapa indikator yang menyebabkan pihaknya memprediksi hal tersebut.

Pertama, terdapat hilangnya nyawa yang sangat besar untuk sesuatu hal yang mulanya umum dilakukan, yaitu hak menyampaikan pendapat di muka umum.

“Indonesia sejak tahun 1998 sudah memiliki Undang-Undang (UU) Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum dan di UU itu dikatakan, polisi harus menjaga orang yang demonstrasi karena demontrasi adalah hak,” katanya.

Berdasarkan catatan YLBHI, selama 2019 tercatat telah terjadi sebanyak 53 kasus pelanggaran kemerdekaan berekspresi.

Selain itu, ada pula 32 kasus pelanggaran kemerdekaan berkumpul dan dua kasus pelanggaran kemerdekaan berserikat.

Dari jumlah tersebut terdapat beberapa modus pelanggaran umum yang dilakukan. Modus pelanggaran tersebut di antaranya kriminalisasi, penghalangan kegiatan, razia, dan pembubaran paksa kegiatan.

Persentase terbesar dari penggunaan modus tersebut ialah modus kriminalsisasi, yakni mencapai 51 persen.

Modus kriminlaisasi itu dilakukan mulai dari penangkapan sewenang-wenang, pemeriksaan, sampai dengan menjadikan tersangka atau terdakwa.

Asfinawati menyebutkan, indikator kedua, yakni tingginya kasus kriminalisasi terhadap pembela HAM. Menurutnya, jika pembela HAM demi hukum saja mendapatkan serangan atau kriminalisasi, apalagi yang dibela oleh mereka.

“Padahal seorang advokat itu dia lakukan pembelaan itu adalah bagian dari tugas UU, dijamin UU,” katanya.

sumber: republika.co.id