Berita Terkini

LUIS: Kapolri Tebang Pilih

SOLO (Jurnalislam.com) – Pernyataan Kapolri Jendral Pol Tito Karnavian soal kasus penyerangan di gereja Santa Lidwina Sleman dan penyerangan sejumlah ulama di Jabar dinilai tendensius dan tebang pilih.

Tito menyebut kasus penyerangan terhadap sejumlah ulama di Jawa Barat adalah kriminal biasa, akan tetapi terhadap pelaku penyerangan gereja Santa Lidwina di Sleman Tito mengatakan bahwa pelaku terpengaruh paham radikal.

“Statement itu tendensius, istilah Jawa Mbang cinde mbang ciblandan, atau berat sebelah, jadi kalau itu persoalan kriminal ya kriminal, kalau teror ya teror, kalau menyangkut penganiayaan ulama hingga pembunuhan itu kriminal biasa kemudian ditempat lain terorisme maka ini sudah penilaian yang tidak obyektif,” kata Humas Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) Endro Sudarsono di Solo, Selasa (13/2/2018).

Harusnya, kata Endro, Kapolri memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat. Pernyataan Kapolri tersebut dapat membuat gejolak perpecahan di kalangan umat beragama di Indonesia.

“Jadi aparat kepolisian itu harus memberikan statement yang sejuk kepada masyarakat, segera mungkin penegakan hukum, sehingga masyarakat ini tidak terlalu banyak mendengar hal hal yang yang tidak perlu di masyarakat,” tandasnya.

Pemuda Muhammadiyah Minta Jenazah MJ Diautopsi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Azhar Simanjuntak mendesak Densus 88 untuk menjelaskan kepada publik perihal kematian Muhammad Jefri (MJ). Kasus MJ dinilainya serupa dengan kasus Siyono pada tahun 2016 lalu.

Dahnil mengaku pihaknya menemukan banyak kejanggalan dalam kasus kematian MJ. Oleh sebab itu ia meminta jenazah MJ untuk diautopsi.

“Pertama, Saya menemukan sinyal banyak kejanggalan terkait dengan kematian MJ, oleh sebab itu agar sinyal kejanggal-kejanggalan tersebut tidak menjadi fitnah dan tuduhan terhadap Kepolisian,” ungkap Dahnil sebagaimana dilansir Sangpencerah.id,Rabu (14/2/2018).

“Penting agaknya, Densus 88, perlu menjelaskan secara terbuka hasil autopsi terhadap MJ, dan penting dilakukan autopsi yang lebih independent terkait sebab kematian MJ,” sambung Dahnil.

Dahnil menilai Densus 88 selama ini selalu bertindak reprensif dan arogan, kali ini, tidak diperbolehkannya keluarga melihat jenazah MJ, mengingatkannya kepada kasus kematian Siyono yang dikawal oleh Pemuda Muhammadiyah 1,5 tahun yang lalu.

“Terlepas dari apakah Muhammad Jeffri terlibat dalam jaringan terorisme atau tidak, Saya menganggap Densus 88 harus terbuka terkait dengan kematian Muhammad Jefri,” tegasnya.

Lebih lanjut, Dahnil mendorong keluarga MJ untuk berani mengadukan kasus ini ke Komnas HAM, sebab, ia tidak ingin memori kelam atas kematian Siyono yang tidak tuntas penyelesaian kasusnya kembali terulang, meski saat itu, hasil otopsi membuktikan bahwa penyebab kematian Siyono adalah penganiayaan.

“Kedua, Saran saya keluarga berusaha mencari keadilan secara aktif dan tidak perlu takut, Silahkan bawa kasus kematian MJ ke Komnas HAM agar bisa ditangani oleh institusi negara tersebut, untuk dibuktikan penyebab kematian MJ. Ini penting, dan polisi tidak boleh tertutup terkait dengan hal ini,” pungkasnya.

Marak Pelecehan Muslimah, Warga Solo Diimbau Lebih Waspada

SOLO (Jurnalislam.com) – Merespon maraknya pelecehan kepada muslimah di Solo, Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) menghimbau warga Solo untuk meningkatkan kewaspadaannya.

“Kita minta kepada muslimah untuk berhati-hati, kemudian bersama mahramnya untuk bisa menemani di jalan sepi atau setelah subuh, karena modus waktunya itu setelah subuh dan ditempat tempat yang sepi,” kata anggota Divisi Advokasi DSKS Endro Sudarsono usai audensi di Gedung DPRD Surakarta, Selasa (13/2/2018).

Menurut Endro, selain para muslimah pelecehan seksual juga menimpa muslim di kalangan pondok pesantren. Ia menduga, pelaku pelecehan tersebut mempunyai jaringan yang terorganisir.

“Jadi ada yang putra ada yang putri, namun akhir-akhir ini muslimah menjadi korban dan bahkan dari kalangan pondok pesantren,” ujar Endro.

Ditemui ditempat terpisah, ketua DSKS Ustaz Muinudinillah Basri meminta kepada elemen umat Islam Soloraya untuk merespon kasus ini.

“Jaga muslimah kita, itu perintah Al Quran untuk menjaga kehormatan muslimah kita, Rasulullah ada seorang muslimah dilecehkan langsung angkat senjata perang,” terangnya.

DSKS Desak Polisi Ungkap Sejumlah Kasus Pelecehan Muslimah di Solo

SOLO (Jurnalislam.com) – Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) mendesak aparat kepolisian Surakarta untuk segera menangkap pelaku pelecehan terhadap Muslimah yang marak terjadi di Soloraya dalam beberapa bulan terakhir ini.

Anggota Divisi Advokasi DSKS Endro Sudarsono mengaku prihatin dengan teror telah meresahkan masyarakat Solo khususnya muslimah.

“Kepada kepolisian untuk bisa mengungkap apa yang terjadi sebenarnya, karena ini banyak fenomena yang kita anggap aneh, satu pelecehan terhadap muslim atau muslimah,” Endro Sudarsono kepada Jurnalislam.com di Gedung DPRD Surakarta, Selasa (13/2/2018).

Baca juga: Lagi, Pelecehan Muslimah Kembali Terjadi di Solo

Namun, Endro mengimbau para korban pelecehan agar melapor kepada pihak berwajib. Sebab, ia khawatir penyebab pihak aparat lambat dalam mengungkap kasus tersebut karena belum adanya laporan dari masyarakat terutama korban.

“Kita berharap dari korban itu berani melapor kepada aparat agar dilakukan identifikasi awal, karena yang jadi korban sudah ada yang dari pondok pesantren,” pungkasnya.

Endro juga menyoroti fenomena ‘orang gila’ yang menyerang pemuka agama. “Kita berharap agar teror seperti ini agar segera dihentikan,” imbuhnya.

400 Anggota IS Ditangkap oleh Koalisi Faksi Jihad di Idlib

IDLIB (Jurnalislam.com) – Faksi jihad di provinsi Idlib di Suriah pada hari Selasa (13/2/2018) menangkap 400 milisi kelompok Islamic State (IS) – dan menetralisir sejumlah lainnya – saat berusaha menyusup ke zona de-eskalasi.

Menurut seorang koresponden Anadolu Agency di daerah tersebut, beberapa koalisi faksi jihad Idlib telah meluncurkan operasi gabungan untuk melindungi zona de-eskalasi Idlib dari pasukan rezim Syiah Suriah dan IS.

Armada Perang Turki Dirikan Titik Pengamatan di Idlib

Untuk mengkoordinasikan kegiatan mereka dengan lebih baik, 12 faksi jihad diprovinsi Idlib telah menanggapi kerjasama yang ditingkatkan yang baru-baru ini mendirikan sebuah “operasi bersama” di Idlib.

Provinsi Idlib Suriah termasuk dalam jaringan zona de-eskalasi – yang didukung oleh Turki, Rusia dan Iran – di mana tindakan agresi militer dilarang.

Suriah baru saja mulai bangkit dari konflik dahsyat yang dimulai pada tahun 2011, ketika rezim Syiah Nushairiyah Assad membantai pelaku unjuk rasa dengan keganasan militer yang tak terduga.

Tanggapan Syaikh Abu Mahmud Al-Filistini Bagi Orang yang Menyamakan HTS dengan IS

Hayat Tahrir al Sham
Hayat Tahrir al Sham

Komandan Senior Syiah Houthi Tewas dalam Serangan Artileri di Taiz

YAMAN (Jurnalislam.com) – Seorang komandan lapangan senior pemberontak Syiah Houthi di Taiz terbunuh pada hari Selasa (13/2/2018), bersama dengan empat lainnya, pusat media militer Yaman menyatakan.

Abu Taha al-Ghalisi tewas dalam serangan tembakan artileri oleh tentara Yaman terhadap posisi Houthi, lansir Al Arabiya.

Abu Taha, menurut sumber lapangan, bertanggung jawab untuk memimpin front Houthi di utara kota Taiz.

Koalisi Arab: Syiah Houthi Targetkan Arab Saudi dengan 95 Rudal Balistik

Tentara Yaman yang didukung oleh pasukan koalisi Arab melancarkan serangan pada hari Selasa.

Kemajuan berturut-turut telah dilaporkan oleh pejabat militer Yaman dalam operasi membebaskan kota tersebut dari milisi Syiah Houthi.

Mayjen Khalid Fadel, komandan pusat militer Taiz, mengatakan pada hari Selasa bahwa milisi runtuh total, setelah mengalami kerugian besar sejak dimulainya operasi militer.

Diadili dalam Pengadilan Militer Zionis, Pejabat PBB Desak Israel Bebaskan Ahed Tamimi

JENEWA (Jurnalislam.com) – Israel melanggar Konvensi Internasional mengenai Hak Anak dengan menjebloskan ke penjara seorang remaja Palestina hanya karena menampar seorang tentara Israel, kata pakar hak asasi manusia PBB pada hari Selasa (13/02/2018).

Setelah insiden di mana dia menampar seorang tentara Israel, Ahed Tamimi, 17 tahun, muncul di pengadilan militer Israel pada hari Selasa, lansir Aljazeera.

Pakar PBB meminta pembebasannya, dengan mengatakan bahwa persidangan di masa depan harus sangat disesuaikan dengan standar hukum internasional.

Begini Kabar Terakhir Ahed Tamimi dalam Pengadilan Militer Israel

“Konvensi tentang Hak-hak Anak, yang telah diratifikasi oleh Israel, dengan jelas menyatakan bahwa jika anak-anak harus dirampas kebebasannya itu haruslah hanya sebagai upaya terakhir, dan hanya untuk jangka waktu yang sesingkat mungkin,” kata Michael Lynk, pelapor khusus tentang situasi hak asasi manusia di wilayah Palestina yang diduduki sejak 1967.

“Tidak satu pun dari fakta kasus yang muncul untuk membenarkan penahanan Tamimi sebelum disidang, terutama mengingat keprihatinan yang diungkapkan oleh Komite mengenai Hak Anak tentang penahanan pra-peradilan dan penahanan di penjara,” Lynk mengatakan.

Tamimi dikurung di tahanan sejak dia ditangkap di rumahnya oleh tentara penjajah Israel Desember lalu, saat berusia 16 tahun. Empat hari sebelumnya, dia terekam secara fisik menghadapi tentara Israel di lahan tanah milik keluarganya di Nabi Salah, di Tepi Barat yang dijajah zionis.

Pada tanggal 1 Januari, Tamimi didakwa melakukan sejumlah pelanggaran berdasarkan hukum militer Israel. Beberapa dakwaan berasal dari insiden bulan Desember, dan yang lainnya berasal dari bulan April yang lalu. Pengadilan memutuskan bahwa dia harus tetap ditahan sampai akhir masa persidangannya, yang dijadwalkan pada awal Maret.

Ahed Tamimi Dikenakan 12 Tuduhan oleh Pengadilan Zionis

“Tamimi ditangkap pada tengah malam oleh pasukan bersenjata, dan kemudian diinterogasi oleh militer Israel tanpa ada pengacara atau anggota keluarga yang hadir. Ini melanggar jaminan hukum mendasar untuk mendapat akses konsultasi selama interogasi,” kata Jose Guevara, ketua Kelompok Kerja Penahanan sewenang-wenang.

Para ahli PBB juga mengatakan bahwa “tempat penahanannya – penjara Hasharon di Israel – dianggap melanggar Konvensi Jenewa Keempat yang menyatakan bahwa deportasi orang-orang yang dilindungi dari wilayah yang diduduki ke wilayah kekuasaan pendudukan, atau ke negara lain, dilarang, apapun motifnya.”

Zionis Hancurkan 168 Rumah, 740 Warga Termasuk 384 Anak Palestina Kehilangan Tempat Tinggal

“Laporan dari Palestina menunjukkan bahwa Israel menahan dan menuntut antara 500 sampai 700 anak-anak Palestina di pengadilan militer setiap tahunnya,” Lynk mencatat.

“Kami telah menerima laporan bahwa anak-anak ini umumnya disiksa secara keji saat berada dalam tahanan, mengalami penganiayaan fisik dan psikologis, kehilangan akses ke pengacara atau anggota keluarga selama interogasi, dan diadili di bawah sistem pengadilan militer di mana ada kekhawatiran signifikan mengenai independensi dan ketidakberpihakan, dan tingkat kekhawatiran yang sangat tinggi,” katanya.

Para ahli juga meminta pihak berwenang Israel untuk menghormati dan memastikan hak proses dasar, dengan memperhatikan hak dan perlindungan yang diberikan kepada anak-anak, dan menekankan kembali seruan mereka agar Tamimi dilepaskan sesuai dengan perlindungan ini.

Biadab, Rezim Syiah Assad Hujani Warga Ghouta Timur dengan Artileri

GHOUTA TIMUR (Jurnalislam.com) – Pasukan rezim Syiah Bashar al-Assad pada hari Selasa (13/02/2018) melancarkan serangan di Ghouta Timur, di pinggiran kota Damaskus, menyebabkan enam warga sipil, termasuk dua anak tewas, kata Pertahanan Sipil Suriah.

Gempuran artileri tersebut menghantam daerah pemukiman di Ghouta Timur yang terkepung hingga menewaskan enam orang dan menyebabkan banyak lainnya terluka.

Rezim Syiah Assad Bunuh 75 Warga Sipil di Ghouta Timur dalam Sehari

Rumah bagi sekitar 400.000 penduduk sipil, Ghouta Timur tetap berada di bawah pengepungan rezim yang melumpuhkan selama lima tahun terakhir.

Suriah baru saja mulai bangkit dari konflik dahsyat yang dimulai pada tahun 2011, ketika rezim Syiah Nushairiyah membantai aksi unjuk rasa dengan keganasan militer yang tak terduga.

54 Warga Gaza Tewas, Begini Kondisi Penjara Terbuka Terbesar di Dunia

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Israel harus bertanggung jawab atas sedikitnya 54 kematian warga Palestina tahun lalu karena menolak ratusan permintaan izin medis penduduk Gaza yang mencari perawatan di luar wilayah mereka yang diblokade militer zionis, kata kelompok hak asasi manusia.

Dalam sebuah pernyataan bersama pada hari Selasa (13/2/2018), Pusat Hak Asasi Manusia Al Mezan yang berbasis di Gaza, Amnesty International, Human Rights Watch, Bantuan Medis untuk Orang Palestina (Medical Aid for Palestinians-MAP), dan Dokter untuk Hak Asasi Manusia Israel (Physicians for Human Rights Israel-PHRI), menyoroti kebutuhan mendesak agar Israel mengakhiri pengepungannya yang telah berlangsung selama satu dekade di Jalur Gaza.

Pada 2017, Israel hanya menyetujui kurang dari setengah permintaan izin medis, yang terkait dengan konsultasi dan sesi perawatan di rumah sakit di wilayah jajahan Israel. Jumlah tersebut adalah yang terendah sejak 2008.

Zionis Serang Hamas dengan Tank dan Jet Tempur setelah Roket dari Gaza Hantam Israel

Lebih dari 25.000 permintaan izin diajukan ke pihak Israel. Dari jumlah tersebut, 719 ditolak, kebanyakan dengan alasan keamanan.

Sebanyak 11.281 aplikasi lainnya masih menunggu persetujuan – yang berarti ribuan orang berada dalam keadaan terancam bahaya.

Samir Zaqout, direktur Al Mezan, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa tidak ada “alasan rasional yang nyata” mengapa pasien yang membutuhkan bantuan medis mendesak tidak mendapatkan akses ke rumah sakit.

“Israel berada di bawah kewajiban hukum untuk memfasilitasi kebebasan bergerak rakyat Palestina,” katanya. “Keputusan ini dikeluarkan ketika blokade Israel tidak hanya menolak hak warga Gaza untuk bebas bergerak, tapi juga menghukum orang yang memiliki hak untuk mengakses layanan kesehatan.”

Pada tahun 2007, setelah Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) memenangkan pemilihan dan menguasai kontrol atas wilayah tersebut, Israel memberlakukan blokade darat, udara dan angkatan darat yang ketat di Gaza.

Hamas Terus Hajar Israel dengan Roket Walaupun Dibalas dengan Serangan Udara

Pada tahun 2013, negara tetangga Mesir, yang sebagian besar telah menutup persimpangan perbatasannya dengan Gaza, memblokir terowongan yang menghubungkan Gaza dengan kapal el-Arish Mesir, menutup satu-satunya jalan di Gaza.

Alternatif utama lainnya adalah jalan melalui persimpangan Erez, yang menghubungkan Israel dan wilayah-wilayah pendudukan lainnya.

Selama bertahun-tahun, penjajah Israel menempatkan hambatan di jalan bagi orang-orang yang mencari izin medis.

Misalnya, pasien anak harus didampingi wali yang berusia lebih dari 50 tahun untuk melakukan perjalanan.

Anak-anak dengan kanker tanpa wali dengan usia yang ditetapkan Israel belum dapat mengakses jalan menuju rumah sakit, kata Zaqout.

Meskipun Israel menyetujui sekitar 10 hingga 15 persen permintaan izin, sebagian besar tetap “dalam peninjauan” selama berbulan-bulan, yang memaksa banyak orang menjadwalkan ulang beberapa janji temu dengan dokter beberapa kali.

“Perlakuan Israel yang terkadang tidak benar-benar mengeluarkan penolakan membuat pasien tidak mungkin menindaklanjuti pengacara atau organisasi hak asasi manusia,” kata Zaquot.

Hanya pasien yang benar-benar membutuhkan perawatan darurat yang bisa mengajukan permohonan izin medis, yang berarti “lebih dari 25.000 warga Gaza berada di antara hidup dan mati.”

Hani, ayah Ruba, seorang pasien kanker berusia tujuh tahun, mengatakan bahwa izin medis putrinya baru-baru ini ditolak untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun.

Hamas: Deklarasi Balfour Jembatan Kolonial Isreal ke Palestina

“Dia bukan satu-satunya,” kata Hani, yang memilih menyembunyikan nama terakhirnya karena takut akan pembalasan Israel.

“Anak perempuan saya yang lain meninggal saat berusia tujuh bulan,” katanya kepada Al Jazeera. “Dia menderita kanker yang sama, dan kami kehilangan dia enam tahun yang lalu.

“Saya tidak ingin kehilangan anak perempuan lagi.”

Ruba didiagnosis menderita kanker saat ia balita.

Dia menjalani transplantasi sumsum tulang pada bulan Januari tahun lalu dalam sebuah prosedur yang menghabiskan biaya tabungan keluarganya.

Ruba menerima sumbangan jaringan dari kakak laki-lakinya.

“Saya memastikan kakak laki-lakinya adalah anak saya yang paling sehat, saya ingin dia memiliki kesempatan terbaik untuk bertahan,” kata Hani.

Tapi tanpa perawatan yang diperlukan, dia takut akan kehidupan putrinya.

“Dia gadis yang baik, dia sangat cantik dan cerdas,” katanya. “Kami orang baik dan melakukan segalanya dengan benar – kami tidak menghadapi masalah dengan pihak berwenang dan dokumen kami selalu teratur.

Hani mengatakan bahwa keluarga tersebut telah menerima izin sebelum kejadian pada beberapa kesempatan dan tidak diberi tahu alasan penolakan terakhir tersebut.

“Saya bahkan tidak mengerti mengapa, tidak ada alasan yang diberikan kepada saya saat ini, dan saya memanfaatkan setiap kontak yang saya miliki … tidak ada yang lebih penting bagi saya daripada kesejahteraan anak-anak saya.

“Kepada siapa lagi kita berpaling?”

Ribuan Warga Gaza Bentrok dengan Serdadu Zionis dalam Aksi Protes Ibukota Israel

Militer zionis Yahudi dalam dekade terakhir telah meluncurkan tiga serangan besar di Gaza, memperburuk situasi kemanusiaan yang mengerikan.

Dengan krisis utama bahan bakar dan listrik, PBB pekan lalu memperingatkan pasokan bahan bakar darurat Gaza akan segera kering kecuali segera mendapat dukungan donor.

Bahan bakar generator untuk mengoperasikan persediaan rumah sakit sebagian besar tidak ada.

Sejak 2008, populasi Gaza meningkat dua kali lipat sementara fasilitas medis tetap minim.

Dengan pembatasan akses terhadap layanan dasar yang parah, Gaza dijuluki penjara terbuka terbesar di dunia.

6 Tentaranya Tewas oleh Mujahidin Kashmir, India Justru Ancam Pakistan

New Delhi (Jurnalislam.com) – India memperingatkan bahwa Pakistan “akan membayar atas petualangan mereka” di Kashmir yang dikuasai India setelah terjadi serangan mematikan di sebuah kamp tentara di kota Jammu, Aljazeera melaporkan Selasa (13/2/2018).

Sedikitnya enam tentara India tewas setelah pejuang menyerbu kamp tentara Sunjuwan pada hari Sabtu (10/02/2018). Ketiga penyerang gugur dalam pertempuran senjata yang berlanjut selama lebih dari dua hari.

“Pakistan sedang memperluas jalur teror … Kami akan berikan bukti untuk membuktikan bahwa mereka kembali ke Pakistan dan mereka adalah dalang, yang mempengaruhi semua ini … Pakistan akan membayar untuk kesia-siaan ini,” Nirmala Sitharaman, menteri pertahanan India, mengatakan pada hari Senin (12/02/2018).

Pertempuran Sengit Memasuki Hari Kedua di Kashmir, 5 Tentara India Tewas

Komentarnya muncul saat wilayah Himalaya yang terpecah menyaksikan dua serangan mematikan dalam tiga hari, meningkatkan ketegangan antara Negara tetangga Asia Selatan.

Pejabat India menyalahkan Jaish-e-Muhammad (JeM), sebuah kelompok perlawanan bersenjata yang berbasis di Pakistan, atas serangan Jammu, namun kementerian luar negeri Pakistan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa “Tuduhan India terlalu dini dan tidak tepat.”

Mohammed Faisal, juru bicara Kementerian Luar Negeri, pada hari Selasa mengatakan bahwa “kecenderungan India untuk menyalahkan Pakistan, tanpa sedikit pun bukti, sangat disesalkan” dan “tidak menggambarkan kredibilitas.”

Dia menambahkan: “Yang lebih menyedihkan adalah nada mengancam [India] yang memanaskan suasana yang sudah tegang, ditandai dengan pelanggaran gencatan senjata oleh India yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

Secara terpisah, Khurram Dastgir, menteri pertahanan Pakistan, mengatakan: “Setiap agresi India, kesalahan perhitungan yang strategis, atau misadventure (petualangan)… harus dibalas dengan respon yang sama dan proporsional.”

Pada hari Selasa, seorang pejabat dari Central Reserve Police Force (CRPF) India mengatakan seorang tentara paramiliter dan dua pejuang tewas dalam serangan lain di Srinagar, kota utama Kashmir yang dikelola India.

Tentara India Ujug-ujug Berondong Artileri ke Lembah Kashmir, 2 Warga Tewas dan6 Terluka

Rajesh Yadav, juru bicara CRPF, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa operasi pencarian di daerah tersebut telah memicu baku tembak dengan para penyerang.

“Pertemuan berlanjut selama sekitar 20 jam, di mana kita kehilangan satu personil paramiliter. Kedua pejuang yang bersembunyi di sebuah bangunan besar juga tewas. Operasi telah berakhir,” kata pejabat tersebut.

“Informasi awal menyebutkan keduanya berasal dari kelompok Lashkar-e-Taiba meskipun kami belum mengkonfirmasi identitas mereka,” kata Yadav.

Serangan hari Sabtu di pangkalan militer itu adalah adalah serangan terbesar sejak September 2016 ketika pejuang separatis menyerbu sebuah pangkalan militer di kota perbatasan Kashmir di Uri, menewaskan 18 tentara India.

Menurut pemerintah Jammu & Kashmir, sedikitnya 56 pasukan India telah terbunuh selama tiga tahun terakhir dalam baku tembak lintas batas, mengakhiri sebuah kesepakatan gencatan senjata yang sebagian besar berhasil ditandatangani pada tahun 2003.

Pemerintah menyalahkan tentara Pakistan atas kematian sebanyak 97 orang, termasuk 41 warga sipil, dan melukai 383 lainnya dalam 834 pelanggaran gencatan senjata selama tiga tahun terakhir.

Konflik intensitas rendah yang sedang berlangsung di Kashmir telah menimbulkan pertanyaan tentang keefektifan pendekatan garis keras Narendra Modi.

Mehbooba Mufti, yang mengatur Jammu & Kashmir sebagai menteri utama sebuah koalisi yang di dalamnya mencakup partai Modi, yaitu BJJ, pada hari Senin mendesak India dan Pakistan untuk mengadakan pembicaraan.

Pembantaian Jammu, Genosida Muslim Kashmir oleh Hindu India yang Terlupakan

“Masalah mendasar kita belum terselesaikan. Tidak ada solusinya tanpa dialog,” katanya.

Para ahli mengatakan bahwa kekerasan tersebut dapat meningkat di masa depan kecuali pemerintah India dan Pakistan mengambil “tindakan segera.”

“Meningkatnya kekerasan di perbatasan dan serangan teror di negara menandakan ketidakmampuan pemerintah India dan Pakistan untuk tiba pada modus vivendi untuk de-eskalasi konflik,” kata Happymon Jacob, profesor di School of International Studies di Universitas Jawaharlal Nehru, New Delhi, kepada Al Jazeera.

Tetapi dengan pemilihan nasional tahun 2019 yang akan datang, kepemimpinan politik di kedua negara dipandang hanya sedikit terdorong untuk mengajukan penawaran perdamaian atau mengajukan proposal diplomatik.

“Secara umum, Pakistan harus mengendalikan kelompok teror anti-India, dan New Delhi harus bersedia membahas isu-isu yang menonjol dengan Pakistan termasuk di Kashmir. Kecuali ada kemauan politik di kedua belah pihak, tidak satu pun hal ini dapat dicapai,” Jacob kata