Berita Terkini

Israel Hancurkan Puluhan Bangunan Pengungsi Palestina di Tanah Palestina

PALESTINA (Jurnalislam.com) –  Penjajah Israel pada hari Rabu (21/11/2018) menghancurkan puluhan bangunan Palestina di kamp pengungsi Shuafat di Yerusalem Timur yang dijajah.

Menurut seorang koresponden Anadolu Agency yang bermarkas di daerah tersebut, dewan kota Israel di Yerusalem memerintahkan pembongkaran 20 toko di kamp dengan dalih bahwa bangunan tersebut dibangun tanpa izin.

Pada hari Selasa, pemerintah Israel dilaporkan memberi tahu pemilik toko bahwa properti mereka akan dihancurkan.

Organisasi Pembebasan Palestina (The Palestine Liberation Organization-PLO) untuk urusan pengungsi mengutuk penghancuran tersebut, menuduh kotamadya Yerusalem “mengobarkan perang” terhadap kamp dan penduduknya.

Kepala departemen Ahmad Abu Holi melaporkan bahwa pemerintah kota mencoba mengubah karakter kamp untuk mengakhiri kehadiran Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB (the UN’s Relief and Works Agency-UNRWA) dan layanan yang diberikannya.

“Pemerintah kota berusaha untuk membawa Shuafat di bawah yurisdiksi kota, sehingga Shuafat akan tunduk pada hukum kota dan tidak lagi berada di bawah pengawasan UNRWA,” katanya.

Kamp pengungsi Shuafat adalah rumah bagi sekitar 21.000 warga Palestina di tanah Palestina yang membawa kartu identitas Israel ke Yerusalem.

Baca juga: 

Bulan lalu, pemerintah kota Israel  mengumumkan rencana untuk mengusir UNRWA dari Yerusalem Timur yang dijajah Yahudi.

Kotamadya menuduh badan pengungsi tersebut beroperasi secara ilegal dan mempromosikan “hasutan” terhadap Israel.

Didirikan pada tahun 1949, UNRWA memberikan bantuan penting bagi para pengungsi Palestina di Jalur Gaza yang diblokade, Tepi Barat yang dijajah Israel, Yordania, Libanon dan Suriah.

AS Butuh Minyak Saudi, CIA: MBS yang Perintahkan Bunuh Khashoggi

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – AS terus mendukung Arab Saudi karena minyak, Iran dan terorisme, namun, seorang ahli kebijakan luar negeri berpendapat bahwa alasan ini menjadi semakin tidak dapat dipertahankan.

Mark Hannah dari the Eurasia Group Foundation (EGF) menanggapi dukungan Presiden AS Donald Trump untuk Arab Saudi, meskipun laporan CIA disimpulkan dengan keyakinan tinggi bahwa Pangeran Mahkota Saudi Mohammad bin Salman (MBS) memerintahkan pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Khashoggi, seorang wartawan dan kolumnis Saudi untuk The Washington Post, hilang setelah memasuki Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.

Setelah awalnya mengatakan bahwa dia meninggalkan konsulat dalam keadaan hidup, beberapa pekan kemudian pemerintah Saudi mengakui dia terbunuh di sana.

Baca juga:

Trump mempertahankan dalam sebuah pernyataan bahwa AS membutuhkan Arab Saudi karena minyaknya, karena kesediaannya untuk melawan Iran dan kemampuannya untuk melawan terorisme di wilayah tersebut.

Namun, Hannah menulis bahwa “tidak ada satupun alasan tersebut yang masuk akal.”

Menurut Hannah, dukungan AS untuk Arab Saudi telah menyebabkan perang di Yaman yang merupakan “salah satu krisis kemanusiaan terburuk dalam hidup kita,” tulisnya dalam artikel opini untuk NBC News.

Ketika konflik memasuki tahun keempat, sekitar 14 juta orang di Yaman, atau setengah dari jumlah penduduk, berada dalam risiko kelaparan, menurut PBB.

“Arab Saudi, telah lama menjadi mitra AS yang bermasalah, dan menjadi berulah, dan dukungan penuh Washington untuknya semakin tidak dapat dipertahankan,” tulis Hannah, Selasa.

Hannah, seorang peneliti di EGF, mengatakan bahwa AS telah melampaui Arab Saudi sebagai produsen minyak bumi terkemuka di dunia, dan bahwa Saudi perlu mengekspor minyak mereka lebih banyak dari kebutuhan AS untuk mengimpor dari mereka.

Dia berpendapat gagasan bahwa Iran siap untuk mendominasi Timur Tengah dan bahwa Saudi adalah benteng melawan terorisme adalah gagasan yang salah.

Faktanya, Hannah mengatakan gagasan bahwa Saudi dapat membantu dalam perang melawan terorisme “tampaknya benar-benar bodoh,” mencatat bahwa 15 dari 19 pembajak yang terlibat dalam serangan 11 September 2001 berasal dari Arab Saudi.

Ada juga “hubungan jangka panjang dan erat antara al-Qaeda dan komponen agama pemerintah Saudi,” menurut pengacara utama dalam kasus serangan itu, katanya.

Kongres dapat memutuskan untuk mengakhiri dukungan militer AS untuk Arab Saudi, dan kemudian mengajukan pertanyaan mengenai pendekatan Washington atas Timur Tengah, menurut Hannah.

“Sudah lama lewat waktunya untuk mulai memikirkan kembali kebijakan luar negeri kami di Timur Tengah, yang berpusat di sekitar dukungan yang tidak perlu dan tidak dapat dipertahankan untuk salah satu otokrasi paling represif di dunia,” tulisnya.

Pelecehan Seksual Dunia Kampus dan Egoisme Salah Benar

“Wah itu laki-laki aja yang berpikiran mesum, kata perempuan. Kata laki-laki, loh perempuannya saja yang memberikan peluang.”

Ditulis oleh: Muhammad Fajar Aditya, Jurnalis Jurnalislam.com

JURNALISLAM.COM – Boom. Berita sensasional yang menggelitik nalar kemanusiaan kembali mencuat kepermukaan. Berita klasik namun intrik ini kembali didendangkan dan menyita atensi warga Indonesia yang masih memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi. Berita yang dapat bersaing dengan tema politik. Benar, ini tentang pelecehan seksual di dunia kampus.

Sudah mau satu bulan kalendar, publik digemparkan oleh berita pelecehan seksual yang dialami oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, ketika mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Maluku. Perkosaan diduga dilakukan oleh rekan satu tim korban. Peristiwa terjadi Juni 2017, tetapi baru terungkap pada Desember lalu dan tersebar luas ketika Badan Penerbitan Pers Mahasiswa Balariung menerbitkan tulisan berjudul Nalar Pincang UGM atas Kasus Perkosaan.

Selain kasus yang sedang naik daun tersebut, ternyata ada sejumlah kasus tindak pelecehan seksual yang terjadi di Bumi Pertiwi. Di perguruan tinggi yang sama, pernah terjadi kasus dugaan pelecehan seksual yang dialami mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM yang dilakukan oleh dosen. Peristiwa tersebut terjadi pada 2015 dan baru terungkap setahun kemudian.

Kasus ini kemudian berakhir secara “damai” dengan sanksi pembebastugasan terhadap oknum dosen dari tugas mengajar, serta bimbingan skripsi dan tesis. Kasus ini tak berlanjut ke jalur hukum.

Ilustrasi Pelecehan Seksual

Kasus serupa dialami mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Mahasiswi dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI tersebut mengalami pelecehan seksual oleh penyair dan seniman Sitok Srengenge. Mahasiswi tersebut hamil dan mengalami depresi. Kasus ini sempat ramai, Sitok akhirnya mengundurkan diri dari komunitas Salihara, tempatnya bekerja sebagai kurator.

Jauh sebelum itu, ada kasus yang terkenal pada tahun 2001. Yaitu Bandung Lautan Asmara. Dimana kisah cinta mahasiswa Institut Teknologi Nasional (Itenas) Kota Kembang dengan mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, di sebuah hotel itu direkam dan diproduksi sejumlah keping CD.

Perkara ini tidak hanya berhenti di jalur hukum. Tetapi ada sanksi tegas dari masing-masing kampus. Unpad menskorsing mahasiswinya selama beberapa semester. Alasannya, setiap mahasiswa masih diberi kesempatan memperbaki diri. Tapi, tak begitu bagi sang lelaki. Mahasiswa angkatan 1999 ini dipecat dengan tidak hormat dari Itenas. Alasannya, ia dinilai telah mencemarkan nama baik kampus. Termasuk di antaranya melanggar norma susila yang telah ditetapkan kampus. Apalagi, dalam film itu, ia menggunakan kaos basket Itenas.

Adil dalam Memahami Konteks

Meskipun demikian, menurut salah satu praktisi kampus, Fikri, masyarakat harus melihat permasalahan pelecehan seksual ini dengan lebih luas. Menurutnya, bingkai atau frame permasalahan ini masih sangat kecil dan menaruh tendensi pada sebagian pihak saja, tidak komperhensif.

“Harus bisa mengklasifikasi bentuk pelecehan seksual, ada juga berbentuk verbal. Pelecehan seksual bisa dilakukan dosen terhadap mahasiswa, mahasiswa terhadap dosen juga bisa. Frame pelecehan seksual juga harus diperluas. Bukan cuma laki-laki terhadap perempuan, tapi perempuan juga berpotensi untuk melakukan itu (pelecehan seksual),” katanya sesaat ditemui di lingkungan kampus Unsera, Serang, Rabu (21/11/2018).

Kabag Kesejahteraan Unsera ini juga mengatakan, kasus pelecehan di kampus kerap kali hanya mengangkat sisi dosen laki-laki kepada mahasiswi. Sebenarnya, kata dia, ada juga potensi pelecehan seksual mahasiswa kepada dosen.

“Saya mengajak bahwa ini adalah
common enemy (musuh bersama). Tidak boleh disegmenkan pada satu pihak. Saat ini laki-laki saja yang menjadi objek, padahal tidak demikian,” ungkapnya.

Kalau kita tarik definisi bahwa pelecehan seksual di dunia kampus bisa dilakukan oleh berbagai pihak, katanya, maka kita bisa menyelesaikan pelecehan seksual secara komperhensif. “Kenapa sulit? Karena pemikirannya sempit. Masih saling menyalahkan satu sama lain,” tandas pria berkemeja putih ini.

Ilustrasi tindakan pelecehan di dunia kampus 

Memang, kebanyakan regulasi yang mengatur tidak eksplisit kepada pelecehan seksual. Hanya tata cara berpakaian yang umum dipilih. Walaupun sebenarnya debat cara berpakaian yang sesuai mesti hadir karena ketidaksepahaman. “Ah, otak laki-laki yang ngeres, ah perempuannya dandanan seksi,” paparnya memberikan contoh.

Fikri yang juga masih mengajar ini kerap mempertanyakan, mengapa mau menyelesaikan masalah pelecehan seksual, tetapi tidak mau menyelesaikan permasalahan sendiri.

“Dua-duanya ada masalah, otak laki-laki ada masalah, penampilan perempuan juga masalah. Saling menyalahkan, tetapi tidak menyelesaikan masalahnya sendiri,” tegas pria asal Menes, Pandeglang ini.

“Regulasi ada untuk mencegah. Kejahatan itu bukan hanya ada niat dari pelaku, tetapi juga ada kesempatan,” tambahnya meniru Bang Napi.

Berbicara Solusi

Sama seperti rumput yang hendak dicabut, harus dari akarnya. Begitu juga kasus yang sepatutnya tidak terjadi di institusi pendidikan ini, harus dari akarnya. Dengan kehidupan yang dinamis dengan kultur dan perilaku yang ikut bergeser, setidaknya ada beberapa penawaran pendekatan untuk memangkas atau setidaknya mengurangi tindakan yang berujung pada kasus asusila tersebut.

Pertama melalui pendekatan regulasi atau peraturan. Semua pihak pasti tidak menginginkan pelecehan seksual terjadi, apalagi kampus yang notabene tempat diajarkannya norma kesopanan dan kesusilaan.

Regulasi terkait pakaian yang belum pakem juga dapat berpotensi menjadi tindak pelecehan seksual. Juga peraturan konsep bimbingan dosen, praktik Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), dan komunikasi yang terlalu longgar diantara mahasiswa dan dosen juga dapat berpotensi memunculkan permasalahan ini.

Selanjutnya pendekatan kultural, caranya, kata Fikri, masyarakat harus mempunyai filter (saringan). Filter dibangun dari pemahaman. Pemahaman didapat dari banyaknya bacaan dan lain sebagainya. “Makannya gak pernah akan selesai permasalahan pelecehan seksual ini. Dari mulai definisi yang salah, padahal semua orang punya potensi melakukan hal tersebut,” lugasnya.

Sebelah Kiri, Fikri, Kabag Kesejahteraan Unsera. Dan kanan, Uus, Kabag Kemahasiswaan Unsera. Foto: Fajar/Jurnis

Solusi ketiga hadir dari seorang praktisi kampus juga. Seorang Kabag Kemahasiswaan Unsera, Uus. Ditempat yang sama, ia menawarkan solusi tambahan yang bisa diberikan, yaitu melalui pendekatan agama.

Haji Uus, sapaan karibnya mengatakan, sebenarnya agama sudah memberikan panduan, seperi bagaimana tata cara berpakaian baik itu laki-laki dan perempuan.

“Kalau tadi ada perdebatan wah itu laki-laki aja yang berpikiran mesum, kata perempuan. Kata laki-laki, loh perempuannya saja yang memberikan peluang. Sehingga tidak ada titik temu, makanannya saya lihat, Allah membuat sebuah aturan untuk kebaikan manusia itu sendiri,” pungkasnya.

Makannya, kata pria berkemeja garis-garis ini, kalau ditambahkan solusinya melalui pendekatan regulasi, kultural, perlu juga melalui pendekatan melalui keagamaan.

“Saya yakin agama manapun mengajarkan tentang kebaikan, khususnya Islam yang mempunyai banyak aturan. Itu saya kira, sehingga tidak lagi berbicara kepentingan dan persepsi yang berbeda. Karena jika kita menyerahkan masalah ini kepada manusia tidak kunjung usai,” tutupnya.

Tawaran solusi sudah diberikan, tinggal bagaimana publik dan pemerintah mengambil sikap. Akankah berita dari tindakan pelecehan seksual di dunia kampus yang dapat merusak aspek Kognitif, Afektif, dan Behavior mengenai dunia pendidikan masih berlanjut? Atau sebaliknya, pemerintah dan semua pihak terlibat untuk menghapus tuntas permasalahan yang terus berulang ini?

Produsen Makanan Beku Win’s Kebab Luncurkan Brand Win’s Food Factory

BEKASI (Jurnalislam.com)–Win’s kebab meluncurkan win’s food factory,  brand baru dalam menjual semua produknya yang merupakan makanan beku (frozen) seperti kebab , roti maryam, sambosa,  pisang molen coklat lumer, dll

Selain meluncurkan nama baru dalam menjual produknya, Win’s kebab juga berpindah rumah rumah produksi menjadi pabrik dengan brand “Win’s Food Factory”.

Kepada Jurnalislam.com, pemilik  Win’s Food Factory Windy Anggraeni menjelaskan,  pemindahan rumah produksi ke pabrik salah satu fungsinya agar proses produksi bisa maksimal.

“Sekarang kita bisa produksi 5.000 pcs kebab dalam satu hari dengan 10 karyawan maka mudah-mudahan dengan pabrik baru ini kita bisa produksi 15.000 pcs kebab dengan 30 karyawan,” kata Windy, Ahad (18/11/2018).

Acara peresmian pabrik dan brand win’s food factory dihadiri oleh para agen dan reseller,  supplier, hingga warga sekitar Win’s Food Factory

acara peresmian Win’s Food Facotry

Peresmian Win’s food factory di meriahkan dengan kehadiran food court produk-produk Win’s Food yang disuguhkan agar para agen, reseller mengenal produk win’s food.

“kedepan Win’s food akan melakukan event-event bertajuk “makan kebab gratis” untuk para penghafal al Qur’an,” pungkasnya.

Bunga Riba Multifinance Bersiap-siap Naik

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Bagi orang –orang yang  terjerat riba pembiayaan multifinance bersiap-siaplah membayar cicilan kredit lebih besar lagi.

Dampak dari kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) 7-Days Reverse Repo Rate sebesar 25 bps pekan lalu menyebabkan industri pembiayaan tidak mempunyai pilihan lain.

Sejumlah multifinance bersiap mengerek bunga kredit bagi nasabah. Pilihan menaikkan bunga kredit mungkin menjadi satu-satunya cara perusahaan pembiayaan bisa menjalankan bisnis di hari-hari mendatang.

Direktur PT Mandiri Tunas Finance (MTF) Harjanto Tjitohardjojo menyebutkan langkah BI ini sudah hampir pasti membuat bunga bank yang menjadi pendanaan perusahaan pembiayaan meningkat.

 

Maklum, sumber pendanaan di sektor industri multifinance ini memang masih didominasi dari pinjaman perbankan.

Termasuk yang terjadi di MTF . “Sehingga kenaikan suku bunga ini akan menaikan cost of fund,” kata dia. Maka, untuk mengakali beban itu salah satunya adalah menaikkan bunga ke nasabah.

Kondisi ini tentu saja membuat perusahaan pembiayaan cukup khawatir dengan laju bisnis mereka. Namun kenaikan suku bunga secara bertahap bisa saja membuat nasabah tak terlalu kaget.

Di tahun ini Harjanto menyebutkan, pihaknya melakukan penyesuaian bunga pembiayaan secara bertahap kepada nasabah dengan mengikuti tren kenaikan bunga pinjaman dari bank.

Direktur Utama BCA Finance Roni Haslim menambakan, tahun ini memang penuh dengan sejumlah tantangan bagi pelaku usaha pembiayaan. Termasuk dari kenaikan biaya dana.

Selain itu kondisi ekonomi global juga turut membayangi ekonomi domestik. Misalnya tren nilai tukar yang bisa ikut berimbas pada daya beli masyarakat terhadap produk otomotif.

Sumber : kontan.co.id

TGB Tepis Tudingan Grace Natalie yang Sebut Perda Syariah Intoleran

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Mantan Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Tuan Guru Bajang Zainul Majdi mengatakan bahwa perda syariah baik UU ataupun peraturan daerah jelas bukan bentuk diskriminasi atau intoleransi.

TGB bersuara lantara ramai kembali isu perda syariah yang dituding Ketum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie yang menolak perda syariah dan injil.

“Apakah itu Undang Undang ataupun Peraturan Daerah. Baik terkait muamalah ataupun selainnya. Ketika telah disepakati, ia menjadi hukum positif. Undang Undang Perkawinan, Zakat, Haji, Perbankan Syariah, Sukuk atau Obligasi Syariah, Jaminan Produk Halal, Pornografi, dan banyak yang lain lahir dengan spirit agama yang sangat kuat,” ujar TGB Zainul Majdi melalui akun Instagramnya @tuangurubajang, Senin (19/11/2018).

 

Bahkan, kata TGB,  Presiden Jokowi sendiri membentuk Komite Keuangan Syariah Nasional (KKSN) untuk mengakselerasi ekonomi syariah di Indonesia yang manfaatnya bukan hanya untuk umat Islam namun juga untuk seluruh bangsa.

 

“Saat saya mengabdi sebagai Gubernur NTB, Perda tentang Wisata Halal dan Bank NTB Syariah lahir dari semangat berislam yang rahmatan lilalamin,” ungkapnya TGB Zainul Majdi.

 

Fakta lain yang diungkap TGB yaitu baik Perda Wisata Halal maupun Perda Bank NTB Syariah justru membuka ruang-ruang ekonomi baru bagi masyarakat, bukan hanya muslim tetapi juga bagi non muslim.

 

Walhasil, Perda Syariah, kata TGB justru dapat mengembangkan wisata NTB.

 

PBNU Tolak Pernyataan PSI Soal Perda Syariah

JAKARTA (Jurnalislam.com)– Ketua Umum Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj  mengaku tidak sependapat dengan pernyataan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie yang menolak penerapan peraturan daerah (perda) yang berlandaskan agama.

“Saya ormas tidak sependapat, itu kan pendapatnya PSI,” kata Said, di Kantor Lembaga Persahabatan Ormas-ormas Islam (LPOI) di Jakarta, Sabtu (17/11) lansir Republika.co.id,

Menurut Said, konteks keluarnya perda yang berlandaskan agama, baik Perda Syariah atau Injil di daerah, didasarkan atas kondisi atau situasi masing-masing.

“Misalkan, saya kepala daerah tertentu, banyak sekali pelacuran, minum-minum. Kita terpaksa mengeluarkan perda itu,” katanya.

Meski demikian, Said mengatakan pihaknya merespons pernyataan PSI itu dengan kepala dingin.

“Kalau ada orang berpendapat, apalagi dari partai kecil, kita serius menanggapi, bisa jadi besar nantinya. Malah jadi besar, malah kita jadi membesarkan PSI nanti,” kata dia.

PBNU pun tidak berencana melaporkan Grace Natalie ke kepolisian seperti yang dilakukan Eggi Sudjana. “Terserah dia yang punya hak melapor. Saya nggak akan lapor. NU tidak akan lapor,” ujarnya.

Sebelumnya, pernyataan Grace soal perda syariah itu dilaporkan ke kepolisian oleh kuasa hukum Sekretaris Jenderal PPMI Zulkhair, Eggi Sudjana. Laporan Eggi diterima Bareskirm dengan nomor laporan polisi LP/B/1502/XI/2018/BARESKRIM tertanggal 16 November 2018.

Grace dilaporkan dengan dugaan pelanggaran Pasal 156A KUHP, Pasal 27 ayat (3) juncto Pasal 28 ayat (2) juncto Pasal 14 juncto Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Eggi menilai pernyataan Grace lebih parah dari penistaan agama yang pernah dilakukan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Grace menyebut perda menimbulkan ketidakadilan, diskriminasi, serta intoleransi.

Sumber: cnnindonesia.com

Demi AS dan Israel, Trump Tetap Bela Arab Saudi Meski MBS Bunuh Khashoggi

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Selasa (20/11/2018) bahwa Pangeran Mahkota Saudi Mohammad bin Salman mungkin telah mengetahui tentang pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, tetapi dia bermaksud untuk “tetap menjadi mitra setia” dengan kerajaan.

“Agen-agen intelijen kami terus menilai semua informasi, tetapi sangat mungkin bahwa Putra Mahkota memiliki pengetahuan tentang peristiwa tragis ini – mungkin dia melakukannya dan mungkin dia tidak!” Kata Trump dalam sebuah pernyataan Gedung Putih.

Pernyataan itu muncul setelah sebuah laporan di mana CIA menyimpulkan dengan keyakinan tinggi bahwa Muhammad bin Salman (MBS) memerintahkan pembunuhan Khashoggi.

Presiden juga mengatakan kontrak yang ditandatangani dengan Arab Saudi senilai sekitar $ 450 miliar telah menciptakan ribuan lapangan pekerjaan, dan “telah bekerja erat” dengan AS untuk menstabilkan harga minyak.

Dari investasi $ 450 miliar, Arab Saudi berjanji untuk membeli senjata senilai $ 110 miliar, namun, beberapa analis pertahanan hanya menetapkan $ 14,5 miliar dalam penjualan tercatat, menurut New York Times.

“Amerika Serikat bermaksud untuk tetap menjadi mitra setia Arab Saudi untuk memastikan kepentingan negara AS, Israel dan semua mitra lain di kawasan itu,” kata Trump.

Baca juga:

“Saya mengerti ada anggota Kongres yang karena alasan politik atau lainnya, ingin pergi ke arah yang berbeda – dan mereka bebas untuk melakukannya,” tambah Trump. “Saya akan mempertimbangkan ide apa pun yang disajikan kepada saya, tetapi hanya jika mereka konsisten dengan keamanan dan keselamatan mutlak Amerika.”

Khashoggi, seorang wartawan dan kolumnis Saudi untuk The Washington Post, hilang setelah memasuki Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.

Setelah awalnya mengatakan dia meninggalkan konsulat dalam keadaan hidup, pemerintah Saudi mengakui beberapa pekan kemudian bahwa dia terbunuh di sana.

 

Lebih dari 900 Anak Palestina Ditangkap Pasukan Israel

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Pasukan Israel telah menahan lebih dari 900 anak-anak Palestina sejak awal tahun ini, menurut sebuah LSM lokal pada hari Selasa (20/11/2018).

“Sebanyak 270 anak masih ditahan di penjara Israel,” the Palestinian Prisoners Society mengatakan dalam sebuah pernyataan, yang dirilis pada kesempatan Hari Anak Internasional.

LSM itu mengatakan anak-anak biasanya diambil di rumah mereka di tengah malam.

“Mereka dipukuli dan diancam untuk memaksa mereka menandatangani surat pengakuan,” katanya.

Pada hari Senin, Pertahanan untuk Anak Internasional-Palestina (the Defense for Children International-Palestine/DCI-P) mengatakan pasukan penjajah Israel telah menewaskan sedikitnya 52 anak-anak Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza sejak awal tahun ini.

Baca juga: 

Dalam sebuah pernyataan, DCI-P yang bermarkas di Jenewa itu mengatakan 48 dari kematian terjadi di Jalur Gaza yang diblokade sementara sisanya terjadi di Tepi Barat yang dijajah Israel.

LSM itu juga melaporkan militer zionis menggunakan kekerasan berlebihan – termasuk peluru tajam – terhadap anak-anak.

Menurut the Palestinian Prisoners Society, diperkirakan 350 anak di bawah umur Palestina saat ini mendekam di penjara-penjara Israel.

Bom Hantam Perayaan Maulid Nabi di Afghanistan, 50 Orang Lebih Terbunuh

KABUL (Jurnalislam.com) – Puluhan orang tewas dalam ledakan bom martir yang menargetkan sejumlah besar tokoh agama di ibukota Afghanistan, Kabul, menurut para pejabat.

Wahid Majroh, juru bicara kementerian kesehatan, mengatakan ledakan hari Selasa (20/11/2018) menewaskan sedikitnya 50 orang dan melukai lebih dari 70 orang lainnya.

Dia menambahkan bahwa jumlah korban tewas bisa meningkat karena banyak dari mereka yang terluka berada dalam kondisi kritis.

Najib Danish, juru bicara kementerian dalam negeri, mengatakan “seorang pembom martir meledakkan bahan peledaknya” di dalam aula besar tempat ratusan ulama dan cendekiawan berkumpul untuk menandai hari kelahiran Nabi Muhammad Saw.

“Saya mendengar ledakan itu, saya hanya berhasil membawa sepupu saya yang terluka parah keluar dari sana,” kata Ahmad Fahim sambil terbaring di ranjang rumah sakit. “Tapi ketika saya sampai di sini, saya baru sadar kalau saya juga terluka.”

Pakar studi agama Mohammad Hanif mengatakan ayat-ayat Al-Qur’an sedang dibacakan ketika terjadi ledakan yang memekakkan telinga diikuti “kekacauan” di dalam aula yang penuh sesak.

“Lebih dari 60 atau 70 orang menjadi martir,” kata Hanif, 31, kepada kantor berita AFP di luar fasilitas trauma yang dikelola oleh LSM Darurat Italia. Dia lolos tanpa cedera.

“Mereka menderita luka bakar, semua orang di aula berteriak minta tolong.”

Baca juga:

Seorang pengelola gedung Uranus Wedding Palace, yang juga kadang menjadi tempat pertemuan acara politik dan agama, mengatakan kepada AFP bahwa seorang pembom martir meledakkan dirinya di tengah-tengah pertemuan para ulama.

“Ada banyak korban – saya sendiri telah menghitung 30 korban,” tambahnya, dengan kondisi anonimitas.

Pejabat di Rumah Sakit Darurat Kabul mengatakan 30 ambulan bergegas ke lokasi ledakan dan lebih dari 40 orang luka parah.

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani mengecam keras serangan itu dan menyatakan hari Rabu sebagai hari berkabung nasional, juru bicaranya, Haroon Chakhansuri, menulis di Twitter.

Presiden menyatakan hari Rabu, 21 November, sebagai hari berkabung nasional setelah serangan menghebohkan itu. Bendera nasional akan dikibarkan setengah tiang di seluruh Afghanistan dan misi diplomatik Afghanistan di luar negeri.

Tidak ada klaim tanggung jawab segera. Imarah Islam Afghanistan (Taliban) mengutuk serangan itu dalam pesan WhatsApp.