Pelecehan Seksual Dunia Kampus dan Egoisme Salah Benar

Pelecehan Seksual Dunia Kampus dan Egoisme Salah Benar

“Wah itu laki-laki aja yang berpikiran mesum, kata perempuan. Kata laki-laki, loh perempuannya saja yang memberikan peluang.”

Ditulis oleh: Muhammad Fajar Aditya, Jurnalis Jurnalislam.com

JURNALISLAM.COM – Boom. Berita sensasional yang menggelitik nalar kemanusiaan kembali mencuat kepermukaan. Berita klasik namun intrik ini kembali didendangkan dan menyita atensi warga Indonesia yang masih memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi. Berita yang dapat bersaing dengan tema politik. Benar, ini tentang pelecehan seksual di dunia kampus.

Sudah mau satu bulan kalendar, publik digemparkan oleh berita pelecehan seksual yang dialami oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, ketika mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Maluku. Perkosaan diduga dilakukan oleh rekan satu tim korban. Peristiwa terjadi Juni 2017, tetapi baru terungkap pada Desember lalu dan tersebar luas ketika Badan Penerbitan Pers Mahasiswa Balariung menerbitkan tulisan berjudul Nalar Pincang UGM atas Kasus Perkosaan.

Selain kasus yang sedang naik daun tersebut, ternyata ada sejumlah kasus tindak pelecehan seksual yang terjadi di Bumi Pertiwi. Di perguruan tinggi yang sama, pernah terjadi kasus dugaan pelecehan seksual yang dialami mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM yang dilakukan oleh dosen. Peristiwa tersebut terjadi pada 2015 dan baru terungkap setahun kemudian.

Kasus ini kemudian berakhir secara “damai” dengan sanksi pembebastugasan terhadap oknum dosen dari tugas mengajar, serta bimbingan skripsi dan tesis. Kasus ini tak berlanjut ke jalur hukum.

Ilustrasi Pelecehan Seksual

Kasus serupa dialami mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Mahasiswi dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI tersebut mengalami pelecehan seksual oleh penyair dan seniman Sitok Srengenge. Mahasiswi tersebut hamil dan mengalami depresi. Kasus ini sempat ramai, Sitok akhirnya mengundurkan diri dari komunitas Salihara, tempatnya bekerja sebagai kurator.

Jauh sebelum itu, ada kasus yang terkenal pada tahun 2001. Yaitu Bandung Lautan Asmara. Dimana kisah cinta mahasiswa Institut Teknologi Nasional (Itenas) Kota Kembang dengan mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, di sebuah hotel itu direkam dan diproduksi sejumlah keping CD.

Perkara ini tidak hanya berhenti di jalur hukum. Tetapi ada sanksi tegas dari masing-masing kampus. Unpad menskorsing mahasiswinya selama beberapa semester. Alasannya, setiap mahasiswa masih diberi kesempatan memperbaki diri. Tapi, tak begitu bagi sang lelaki. Mahasiswa angkatan 1999 ini dipecat dengan tidak hormat dari Itenas. Alasannya, ia dinilai telah mencemarkan nama baik kampus. Termasuk di antaranya melanggar norma susila yang telah ditetapkan kampus. Apalagi, dalam film itu, ia menggunakan kaos basket Itenas.

Adil dalam Memahami Konteks

Meskipun demikian, menurut salah satu praktisi kampus, Fikri, masyarakat harus melihat permasalahan pelecehan seksual ini dengan lebih luas. Menurutnya, bingkai atau frame permasalahan ini masih sangat kecil dan menaruh tendensi pada sebagian pihak saja, tidak komperhensif.

“Harus bisa mengklasifikasi bentuk pelecehan seksual, ada juga berbentuk verbal. Pelecehan seksual bisa dilakukan dosen terhadap mahasiswa, mahasiswa terhadap dosen juga bisa. Frame pelecehan seksual juga harus diperluas. Bukan cuma laki-laki terhadap perempuan, tapi perempuan juga berpotensi untuk melakukan itu (pelecehan seksual),” katanya sesaat ditemui di lingkungan kampus Unsera, Serang, Rabu (21/11/2018).

Kabag Kesejahteraan Unsera ini juga mengatakan, kasus pelecehan di kampus kerap kali hanya mengangkat sisi dosen laki-laki kepada mahasiswi. Sebenarnya, kata dia, ada juga potensi pelecehan seksual mahasiswa kepada dosen.

“Saya mengajak bahwa ini adalah
common enemy (musuh bersama). Tidak boleh disegmenkan pada satu pihak. Saat ini laki-laki saja yang menjadi objek, padahal tidak demikian,” ungkapnya.

Kalau kita tarik definisi bahwa pelecehan seksual di dunia kampus bisa dilakukan oleh berbagai pihak, katanya, maka kita bisa menyelesaikan pelecehan seksual secara komperhensif. “Kenapa sulit? Karena pemikirannya sempit. Masih saling menyalahkan satu sama lain,” tandas pria berkemeja putih ini.

Ilustrasi tindakan pelecehan di dunia kampus 

Memang, kebanyakan regulasi yang mengatur tidak eksplisit kepada pelecehan seksual. Hanya tata cara berpakaian yang umum dipilih. Walaupun sebenarnya debat cara berpakaian yang sesuai mesti hadir karena ketidaksepahaman. “Ah, otak laki-laki yang ngeres, ah perempuannya dandanan seksi,” paparnya memberikan contoh.

Fikri yang juga masih mengajar ini kerap mempertanyakan, mengapa mau menyelesaikan masalah pelecehan seksual, tetapi tidak mau menyelesaikan permasalahan sendiri.

“Dua-duanya ada masalah, otak laki-laki ada masalah, penampilan perempuan juga masalah. Saling menyalahkan, tetapi tidak menyelesaikan masalahnya sendiri,” tegas pria asal Menes, Pandeglang ini.

“Regulasi ada untuk mencegah. Kejahatan itu bukan hanya ada niat dari pelaku, tetapi juga ada kesempatan,” tambahnya meniru Bang Napi.

Berbicara Solusi

Sama seperti rumput yang hendak dicabut, harus dari akarnya. Begitu juga kasus yang sepatutnya tidak terjadi di institusi pendidikan ini, harus dari akarnya. Dengan kehidupan yang dinamis dengan kultur dan perilaku yang ikut bergeser, setidaknya ada beberapa penawaran pendekatan untuk memangkas atau setidaknya mengurangi tindakan yang berujung pada kasus asusila tersebut.

Pertama melalui pendekatan regulasi atau peraturan. Semua pihak pasti tidak menginginkan pelecehan seksual terjadi, apalagi kampus yang notabene tempat diajarkannya norma kesopanan dan kesusilaan.

Regulasi terkait pakaian yang belum pakem juga dapat berpotensi menjadi tindak pelecehan seksual. Juga peraturan konsep bimbingan dosen, praktik Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), dan komunikasi yang terlalu longgar diantara mahasiswa dan dosen juga dapat berpotensi memunculkan permasalahan ini.

Selanjutnya pendekatan kultural, caranya, kata Fikri, masyarakat harus mempunyai filter (saringan). Filter dibangun dari pemahaman. Pemahaman didapat dari banyaknya bacaan dan lain sebagainya. “Makannya gak pernah akan selesai permasalahan pelecehan seksual ini. Dari mulai definisi yang salah, padahal semua orang punya potensi melakukan hal tersebut,” lugasnya.

Sebelah Kiri, Fikri, Kabag Kesejahteraan Unsera. Dan kanan, Uus, Kabag Kemahasiswaan Unsera. Foto: Fajar/Jurnis

Solusi ketiga hadir dari seorang praktisi kampus juga. Seorang Kabag Kemahasiswaan Unsera, Uus. Ditempat yang sama, ia menawarkan solusi tambahan yang bisa diberikan, yaitu melalui pendekatan agama.

Haji Uus, sapaan karibnya mengatakan, sebenarnya agama sudah memberikan panduan, seperi bagaimana tata cara berpakaian baik itu laki-laki dan perempuan.

“Kalau tadi ada perdebatan wah itu laki-laki aja yang berpikiran mesum, kata perempuan. Kata laki-laki, loh perempuannya saja yang memberikan peluang. Sehingga tidak ada titik temu, makanannya saya lihat, Allah membuat sebuah aturan untuk kebaikan manusia itu sendiri,” pungkasnya.

Makannya, kata pria berkemeja garis-garis ini, kalau ditambahkan solusinya melalui pendekatan regulasi, kultural, perlu juga melalui pendekatan melalui keagamaan.

“Saya yakin agama manapun mengajarkan tentang kebaikan, khususnya Islam yang mempunyai banyak aturan. Itu saya kira, sehingga tidak lagi berbicara kepentingan dan persepsi yang berbeda. Karena jika kita menyerahkan masalah ini kepada manusia tidak kunjung usai,” tutupnya.

Tawaran solusi sudah diberikan, tinggal bagaimana publik dan pemerintah mengambil sikap. Akankah berita dari tindakan pelecehan seksual di dunia kampus yang dapat merusak aspek Kognitif, Afektif, dan Behavior mengenai dunia pendidikan masih berlanjut? Atau sebaliknya, pemerintah dan semua pihak terlibat untuk menghapus tuntas permasalahan yang terus berulang ini?

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close X