Ustadz Abu Bakar Ba’asyir Dibawa ke Rumah Sakit, Mohon Doa Untuk Kesembuhannya

BOGOR (Jurnalislam.com) – Abdul Rochim Ba’asyir membenarkan kondisi sakit yang dialami ayahnya, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Melalui sambungan telepon, Ustadz Iim Sapaannya, mengatakan, bahwa ayahnya mengalami pembengkakan dikakinya, dan saat ini dibawa ke Rumah Sakit (RS).

“Tim kesehatan beliau, baru berjuang untuk mendapatkan ijin ke rumah sakit, mengingat kondisi kaki Ustadz Abu semakin membengkak. Tim dokter baru mencari penyebabnya dahulu untuk bisa dibawa ke rumah sakit, mohon doa untuk kesembuhannya,” kata Ustadz Iim kepada Jurnalislam.com, Rabu (9/8/2017).

Menurut Ustadz Iim, Sakit yang dialami Ustadz Abu Bakar sudah sejak berada di LP Nusakambangan, fasilitas kesehatan yang minim di LP Gunung Sindur membuat kondisi ayahnya semakin parah, ia melanjutkan, saat ini tim dokter sedang berusaha mencari penyebab penyakit yang dialami Ulama kharismatik tersebut.

“Penyakitnya beliau itu sebenarnya sudah lama, saat masih di Nusakambangan, dan saat itu belum separah seperti sekarang,”katanya.

“Waktu itu, kecurigaan dokter ada yang ke jantung, ginjal, kita belum bisa memastikan karena belum ada ijin untuk periksa,” imbuh Ustaz Iim.

Ustaz Iim juga menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan untuk ayahnya di LP Gunung Sindur, tidak lebih baik dari LP Nusakambangan.

“Saat dipindah di gunung sindur yang saat itu katanya untuk mendapatkan pelayan yang lebih baik, ternyata kondusi pelayanan kesehatan di Gunung Sindur pun kondisi pelayanan kesehatannya pun tidaklah layak,”paparnya.

Dalam perjalanan menuju Bogor, Ustadz iim menjelaskan bahwa keberadaan Ustadz Abu belum bisa dipastikan, rumah sakit yang akan menanganinya.

“Saya mungkin belum bisa kasih tahu di rumah sakit mana, tapi insyaAllah akan saya update jika sudah sampai,” imbuhnya.

Ini 4 Poin Ikrar Kebangsaan Ormas Islam dan Pondok Pesantren se- Bima

BIMA (Jurnailslam.com) – Menggandeng Tentara Nasional Indonesia (TNI), Ormas Islam dan Pondok Pesantren se-Bima menggelar silaturahim sekaligus membacakan ikrar kebangsaan guna mewujudkan masyarakat yang aman, tertib dan damai, bertempat di Lapangan Serasuba Bima NTB, Selasa (8/8/2017).

Ketua Panitia acara ini Ustadz Samsuddin mengatakan bahwa acara ini meneguhkan kembali komitmen umat Islam untuk bersama-sama membangun negeri, di tengah ada tudingan bahwa umat Islam anti NKRI, Pancasila bahkan kerap dituding radikal.

Karenanya, dalam helatan silaturahim bersama TNI ini, umat Islam Bima membacakan Ikrar Kebangsaan untuk terus berbakti kepada agama dan bangsa. Berikut 4 poin Ikrar Kebangsaan:

  1. Setia kepada Negara Kesatuan Republic Indonesia (NKRI) yang berdasar Pancasila dan UUD 1945, hidup rukun dan saling menghormati antar umat beragama
  2. Menolak bima sebagai daerah zona merah dan sarang teroris
  3. Senantiasa mewaspadai dan menyikapi ancaman dari berbagai kelompok yang berusaha untuk memecah belah keutuhan NKRI
  4. Meminta kepada seluruh elemen masyarakat untuk terus menerus menguatkan silaturrahmi demi menjaga keutuhan NKRI

Bupati Bima : Ormas Islam dan Pesantren Aset Penting Berbangsa dan Bernegara

BIMA (Jurnalislam.com) – Bagi sebagian kalangan, ormas Islam dianggap momok hingga terbit aturan tersendiri yang bisa membubarkan ormas tanpa pengadilan. Namun, bagi Bupati Bima Hj Indah Damayanti Putri, ormas Islam dan juga pondok pesantren merupakat aset penting bangsa ini.

Pernyataan itu disampaikan orang nomor satu di Kabupaten Bima dalam acara silaturrahim ormas Islam serta Pondok Pesantren se-Kota dan Kabupaten Bima di di lapangan serasuba Kota Bima, Selasa (8/8/2017).

“Oleh karena itu kehadiran kita semua disini adalah merupakan bagian dari komitmen kita bersama untuk mendukung tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya.

Hj Indah meyakini meyakini bahwa mustahil keamanan, ketentraman dan ketertiban masyarakat dapat diciptakan tanpa dukungan dari seluruh elemen.”Mari kita terus rapatkan barisan serta tidak mudah terprovokasi bila ada isu ataupun info yang tidak jelas,” katanya.

Senada dengan Bupati Bima, Wakil Wali Kota Bima H. A. Rahman Abidin menyampaikan pentingnya peran pondok pesatren dan ormas Islam untuk terus menjaga kondisi keamanan secara utuh.

“Kami berterima kasih karena pondok pesantren dan ormas islam selalu membantu dan menyejukkan umat di masyarakat kota dan Kabupaten Bima,”pungkasnya.

Auction For Humanity Ajak Umat Islam Indonesia Berkurban untuk Pengungsi Rohingya

JAKARTA (Jurnalislam.com)- Lembaga kemanusiaan Auction for Humanity (A4H) mengajak seluruh umat Islam di Indonesia berpartisipasi dalam program Kurban untuk Pengungsi Rohingya. Program ini dilaksanakan menyambut Hari Raya Idul Adha 1438 H.

Relawan kemanusiaan A4H Abdush Shomad menjelaskan program ini dilaksanakan karena banyaknya pengungsi Rohingya yang kurang mendapat perhatian besar dari lembaga-lembaga kemanusiaan dunia.

“Mereka (Pengungsi Rohingya) adalah kaum muslimin terdzalimi. Karena mereka harus terusir dari tanah kelahirannya sendiri dan tugas kita sebagai umat Islam membantunya,” katanya melalui rilis yang diterima redaksi Jurnalislam.com, Rabu (09/08/2017).

Shomad menjelaskan, tujuan program kurban tahun ini agar pengungsi Rohingya bisa merasakan kasih sayang dan ukhuwah islamiyah dari kita para muslimin Indonesia.

“Kita tunjukkan bahwa muslim itu bersaudara tak mengenal ras, suku, status dan kewarganegaraan. Kita ingin menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian disini, dan bahwa kami peduli,” pungkasnya.

KH Tholchah Hasan Ajak Umat Budayakan Wakaf Seperti Halnya Umroh

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Dewan Ahli Badan Wakaf Indonesia (BWI) KH Tholchah Hasan mengajak umat Islam di Indonesia agar membudayakan berwakaf sebagaimana halnya umat berumroh. Hal tersebut disampaikan dalam acara Peluncuran Buku Pedoman Akuntansi Wakaf di Hotel Sultan Jakarta, Selasa (8./8/2017).

“Budaya wakaf ini harus ditanam selayaknya budaya umroh, selametan, dll,” kata Prof. Dr. KH Tholchah Hasan. Mantan Ketua BWI dan Menteri Agama Era Reformasi ini mencontohkan bahwa jika wakaf dijadikan budaya, maka akan mendapat manfaat nyata yang sangat besar seperti halnya di negara-negara yang menjadikan wakaf sebagai salah satu pilar ekonomi.

“Di Kuwait, di jalan-jalan itu ada anjungan wakaf. Orang tinggal pencet ingin wakaf berapa, langsung masuk,” kata Kiai Tholchah Hasan.

baca juga : ‘Wakaf Harus Produktif’

“Kalau di sini malah dana haji yang mau diperebutkan urus,” katanya disambut gelak tawa hadirin. Seharusnya, kata KH Tholchah, budaya wakaf dibangun bersama-sama oleh seluruh elemen masyarakat khususnya nazir dan BWI.

“Sekarang mari kita bangun budaya wakaf bersama-sama,” pungkasnya.

BWI Luncurkan Buku Pedoman Akuntansi Wakaf

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Badan Wakaf Indonesia (BWI) meluncurkan Buku Pedoman Akuntansi Wakaf bertempat di Hotel Sultan Jakarta, Selasa (8/8/2017). Acara ini dihadiri oleh Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin, Ketua Badan Pelaksana BWI Slamet Riyanto, Ketua Dewan Ahli BWI cum Menteri Agama RI Era Reformasi Prof. Dr. KH Tholchah Hasan dan juga insan pers.

“Saya sebagai Dirjen Bimas Islam mengapresiasi acara-cara sosialisasi seperti ini, karena pemberitaan tentang wakaf sangat kurang,” kata Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin dalam sambutannya.

Ia berharap buku Pedoman Akuntansi Wakaf menjadi langkah awal bagi BWI dan juga nazir-nazir dari pelbagai lembaga pengelola wakaf dapat terus mensosilisasikan tentang wakaf.

“Jangan sampai wakaf dipandang hanya seperti sekolah, pesantren, dll. Padahal wakaf harus diproduktifkan,” tambahnya.

Ketua Badan Pelaksana BWI Slamet Riyanto berharap buku Panduan Akuntansi Wakaf dapat menggambarkan potensi wakaf dan juga penghitungan wakaf secara mendetail di Indonesia, berbeda dengan akuntasi zakat atau pasar keuangan syariah.

Wakaf Harus Berorientasi Bisnis Agar Produktif

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Paradigma tentang wakaf selama ini umumnya masih tentang wakaf-wakaf sosial seperti masjid, sekolah, madrasah, dll. Padahal wakaf harus diproduktifkan agar terus berkembang dan manfaatnya dapat digunakan untuk kepentingan sosial.

Hal tersebut dikatakan oleh Anggota Badan Wakaf Indonesia (BWI) Ir. Jurist Efrida Robbiyantono bidang Pengelolaan dan Pemberdayaan Wakaf pada acara Peluncuran Buku Pedoman Akuntansi Wakaf di Hotel Sultan Jakarta, Selasa (8/8/2017).

“Wakaf harus business oriented. Wakaf dikelolanya harus profit oriented. Begitulah konsep wakaf seharusnya,”kata pria yang karib disapa Robbi ini.

Dengan orientasi kepada bisnis, maka wakaf akan menjadi produktif. Hal ini, menurut Robbi sudah dicontohkan bahkan di zaman Rasulullah.

“Wakaf pertama adalah wakaf Umar dengan kebunnya. Kalau sekarang seumpama wakaf Kebun Sawit. Artinya wakaf harus produktif, hasil keuntungannya justru digunakan untuk kepentingan sosial,” kata Robbi.

Robbi pun menceritakan beberapa proyek wakaf produktif yang sudah berjalan baik di dalam negeri atau di negara-negara muslim seperti Arab Saudi, Bangladesh, Singapura,dll.

“Di Indonesia sendiri ada lembaga-lembaga yang menggiatkan wakaf produktif seperti Dompet Dhuafa, ada Global Wakaf, Wakafpro Sinergi Foundation, dll. Juga beberapa proyek properti,” pungkasnya.

Gelar Silaturahim Bersama Media Islam, Perisai Nusantara : Kita Lawan Kezaliman!

SUKOHARJO (Jurnalislam.com)- Yayasan Perisai Nusantara Esa, lembaga yang aktif dalam advokasi keumatan bersilaturahim dengan wartawan dan perwakilan media Islam Solorayadi Gubuk Makan “Mang Engking”, Pabelan, Kartosuro, Sukoharjo, Senin (7/8/2017).

“Kami ingin silaturahim dengan media Islam. Slogan kami menegakkan kebenaran, perlu bekerja sama dengan media ini,” kata Dodiek Kurniawan, Humas Perisai, Senin (7/8/2017).

Lebih lanjut, Perisai bersyukur banyak pengacara-pengacara muslim yang bersinergi dalam memperjuangkan kepentingan umat. Oleh karena itu, peran media khususnya media Islam sangatlah penting bagi para advokat muslim.

“Kami Perisai bersyukur karena ada banyak advokad ikut membela melawan kezaliman ini, termasuk para jurnalis ini, para mujahid pena,” tambahnya.

Dodik berharap Yayasan Perisai bisa bekerjasama dengan media Islam dalam isu-isu keumatan khususnya advokasi terhadap umat Islam. “Harapan kami yang memiliki bidang garap edukasi dan advokasi, perlu kerjasama dengan media Islam dan saling mendukung,” ungkapnya.

Mewakili media, anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU) cum wartawan Panjimas.com, Ranu Muda yang pernah merasakan kriminalisasi, mengatakan saat ini media Islam masih perlu berbenah.

Karenanya, ia menyambut baik sinergi antara advokat dan media Islam.

Ini Pernyataan Sikap 49 Ormas se-Jawa Timur Soal Patung Pahlawan Cina di Tuban

SURABAYA (Jurnalislam.com)--Aliansi Bhoemi Poetra Menggoegat terdiri dari 49 Ormas se-Jawa Timur yang menyuarakan dengan satu suara yang sama jangan nodai Jawa TImur dengan sikap intoleran.

Dalam aksi yang berlangsung didepan kantor DPRD Jatim Senin (7/8/2017) kali ini diikuti oleh ratusan massa dari berbagai macam ormas se-Jawa Timur menyampaikan 4 poin tuntutan terkait dengan berdirinya Patung Kwaan Sing Tee Koen di Tuban.

Berkaitan dengan itu maka Rakyat Jawa Timur yang tergabung dalam Gerakan Bhoemi Poetra Menggoegat menyatakan sikap sebagai berikut :

  1. Menolak pembangunan Patung Kwaan Sing Tee Koen serta dihilangkan dari Bumi Tuban jawa timur serta kawasan Indonesia lainnya, karena patung itu menunjukkan penjajahan yang terulang di Indonesia serta tidak ada urgensinya bercokol di Bumi pertiwi. Patung Kwaan Sing Tee Koen tidak ada jasanya bagi bumi pertiwi dalam memperjuangkan kemerdekaan indonesia.

 

  1. Sebagai ganti dari itu kami mengusulkan agar dibangun monumen para pahlawan yang pernah berjasa dalam memperebutkan kemerdekaan Indonesia, khususnya para pahlawan kemerdekaan yang berkaitan dengan daerah Tuban, karena itu akan menjadi pembangunan karakter dan pendidikan tentang nasionalisme anak cucu kita kelak.

 

  1. Mendesak Ketua MPR RI untuk meminta maaf kepada rakyat Indonesia akibat kecerobohan yang dibuat dengan ikut meresmikan keberadaan patung tersebut yang jelas-jelas tidak ada catatan sejarah yang menguntungkan Indonesia yang akibatnya menyebabkan Lembaga MPR RI tercoreng dalam catatan sejarah.

 

  1. Memberikan waktu 7 X 24jam kepada pemilik untuk menghilangkan patung tersebut, karena mengusik rasa kebangsaan dan serta menunjukkan perilaku intoleran yang jelas-jelas akan bisa memicu konflik secara horizontal.

“Kami berharap tuntutan kami di hembuskan ke Presiden RI, Ketua MPR RI, Ketua DPR RI, dan lain sebagainya,” kata Koordinator Aksi Didik Muladi.

 

Gelar Aksi Solidaritas, Komunitas Muslimah Bima Peduli Galang Dana untuk Palestina

BIMA (Jurnalislam.com) – Krisis kemanusiaan yang hari ini masih melanda Palestina akibat konflik yang terus berkepanjangan menjadi perhatian serius bagi Komunitas Muslimah Bima Peduli dengan menggelar aksi solidaritas bertajuk penggalangan dana untuk Palestina.

Acara yang berlangsung pada Sabtu-Ahad (5-6/8/2017) berlangsung di Lapangan Simpang Paruga Na’e, Jalan Soekarno-Hatta Kota Bima. Koordinator Muslimah Bima Peduli Parmila mengatakan aksi penggalangan dana ini adalah merupakan bentuk kepedulian kita terhadap saudara sesama muslim yang sampai hari ini terus mengalami penindasan serta terusir dari tempat tinggalnya.

“Kami sudah berkomitmen untuk terus membantu mereka, karena mereka adalah saudara kita, dan kita memiliki kewajiban untuk membantu mereka,” kata Parmila kepada Jurnalislam.com.

Penggalangan dana dilakukan dengan pelbagai cara mulai dari menggelar bazar hingga menjual barang-barang seperti jilbab, makanan, kue, baju, tas, buku-buku sekolah, boneka, dll.

“Untuk aksi dan kegiatan akan terus kita agendakan, mengingat sangat pentingnya bantuan kemanusiaan ini. Dan untuk penyalurannya kita sudah memiliki rekanan langsung ke pPalestina, karena bantuan ini bukan kali pertama,” tambahnya.

“Harapan kami semoga masyarakan Bima banyak yang terketuk pintu hatinya untuk membantu, dan kami juga mengajak agar selalu peduli dengan dengan keadaan saudara kita di sana,” pungkasnya.