Ahad, 6 Muharram 1448 / 21 Juni 2026
Search for:
  • Beranda
  • Berita
    NasionalInternasionalFeature
  • Artikel
    AnalisaKolomOpini
  • Khazanah
    IslamasterIslamophobiaKomunitasMuallafPesantrenHikmah
  • Syariah
    AqidahEkonomiFiqhAkhlaqSiyasah
  • Jejak Islam
    Jejak Islam BangsaJejak Islam Dunia
  • Muslimah
  • Keluarga
  • Jurnalislam TV
  • InfoGrafik

Penulis: Mazaya

Marak Orang Gila Aniaya Ulama Dinilai Sebagai Upaya Adu Domba

10 Feb 2018 16:17:22
Marak Orang Gila Aniaya Ulama Dinilai Sebagai Upaya Adu Domba

SUKOHARJO (Jurnalislam.com)- Maraknya penganiayaan yang dilakukan oleh orang yang diduga gila terhadap para ulama di Jawa Barat, dinilai ketua Gerakan Bela Negara (GBN) Solo adalah sebuah upaya adu domba terhadap umat Islam.

“Apa yang terjadi terjadi khususnya Jawa Barat yang menimpa terhadap beberapa ulama ini, bukan terjadi tanpa sengaja atau kita bilang by desain yang memang diarahkan untuk menimbulkan ketegangan di kalangan umat Islam dan bangsa Indonesia, yang kemungkinan ingin memancing keributan di negara ini,” katanya di Masjid An-Nuur, Madegondo, Sukoharjo, Kamis, (8/2/2018).

“Kemungkinan ini ada pihak-pihak yang ingin mengadu domba umat Islam,” imbuhnya. Ustaz Tengku juga mengatakan, bahwa ulama adalah panutan bagi umat Islam, jika mereka dihabisi, katanya, maka akan dengan mudah musuh-musuh Islam mengalahkan mayoritas muslim yang ada di Indonesia ini.

“Karena ini bisa jadi bagian dari cara-cara mereka menghabisi ulama, karena kekuatan itu ada ditangan ulama, kalau ulama sudah habis, kekuatan umat dimana lagi, maka ini yang harus diperhatikan,” paparnya.

Untuk itu, ia mendesak aparat kepolisian untuk segera mengungkap kasus ini, jika tidak, ujarnya, maka rakyat akan berfikiran bahwa ini semua adalah sebuah isu yang sengaja diciptakan oleh pihak penguasa di negeri ini.

“Saya berharap kepada pemerintah terutama pihak kepolisian untuk mengungkap fakta ini, karena ada kesaksian terhadap pelaku yang dianggap atau dikatakan gila, mereka tidak gila,” paparnya.

“Kalau ini tidak bisa dibuktikan jangan sampai ini membuat kecurigaan umat Islam terhadap penguasa yang membuat ini semua,” tandasnya.

Kategori : Nasional

Tags : adu domba orang gila teror ulama ulama ulama dianiaya

Bagaimana Hukum Membangun Masjid di Lahan Sengketa?

10 Feb 2018 16:14:43
Bagaimana Hukum Membangun Masjid di Lahan Sengketa?

SUKOHARJO (Jurnalislam.com)- Ketua Gerakan Bela Negara (GBN) Solo Ustaz Tengku Adzar menegaskan, bahwa haram shalat di dalam masjid yang dibangun diatas tanah sengketa, hal itu, ia katakan paska rencana Pemkot Surakarta yang akan membangun Masjid Raya di Taman Sriwedari, meski status tanah tersebut masih menjadi milik ahli waris Wiryodiningrat setelah diputuskan oleh Mahkamah Agung (MA) tahun 2016 lalu.

“Haram hukumnya dan shalat didalamnya tidak sah, lalu untuk apa ini dibangun dengan harga yang sekian miliar kalau kemudian hanya sia-sia, bukankan ini mubazir?,” katanya kepada Jurnalislam.com usai beri materi di Masjid An-Nuur, Madegondo, Grogol, Kamis,(8/2/2018).

“Selama Masjid itu, tanah itu tanah sengketa, maka para ulama sepakat tidak boleh membangun masjid di tanah sengketa dan kaum muslimin harus tau. Kalaupun nanti Masjid itu dibangun ditanah sengketa, kita harus tau bahwa kita tidak boleh shalat didalam masjid yang didalamnya tanah sengketa, umat harus harus tau,”tambahya.

Lebih lanjut, ustaz Tengku menjelaskan, bahwa umat Islam harus paham hukum syariat Islam tentang pendirian Masjid di tanah sengketa, ia juga membantah bahwa, penolakan sejumlah ormas Islam terhadap pembangunan Masjid itu, karena kebencian umat Islam terhadap wali kota,

“Bukan karena kebencian kita terhadap wali kota Solo, tidak, ini kita bicara karena hukum syariat, hukum Syar’i , dan kita tidak bicara karena yang bangun wali kotanya, tidak, ini kita bicara syariat, kita tidak boleh membangun masjid di tanah sengketa,” paparnya.

Untuk itu, ustaz Tengku memberi saran kepada Pemkot Surakarta untuk membangun Masjid di tempat lain yang status kepemilikan tanahnya tidak dalam kondisi sengketa dengan pihak lain. “Jadi saran saya, cari tanah yang memang betul-betul tidak sengketa dan bangun masjid disana,” pungkasnya

Kategori : Fiqh Nasional

Tags : hukum masjid sengketa lahan sengketa Masjid sriwedari wali kota solo

Sudah Ada Warga Terdampak Limbah PT RUM , Namun Belum Ada Penindakan

09 Feb 2018 18:25:40
Sudah Ada Warga Terdampak Limbah PT RUM , Namun Belum Ada Penindakan

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Dua minggu lebih paska perjanjian kesepakatan warga terdampak limbah bau PT RUM, warga Nguter, Sukoharjo mengaku masih merasakan bau mirip Septic tank dari pabrik Rayon itu, meski pada Jumat, (19/1/2018) lalu, Presiden Direktur PT RUM Pramono berjanji akan mengatasi masalah limbah bau yang sudah dirasakan lebih dari ribuan warga selama 4 bulan itu dalam waktu 1 bulan.

“Paling keras baunya, kalau limbah cair itu hanya yang terkena alirannya, kalau bau mengikuti arah mata angin, warga pusing, mual di perut, muntah dan kalau fisiknya tidak kuat terus pingsan,” kata ketua Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL) Sukoharjo Eko Supriyadi saat ditemui Jurnalislam.com, Jum’at (8/2/2018).

Selain menyebabkan, warga usia dewasa muntah, mual dan pusing, efek yang ditumbulkan dari bau PT RUM itu juga membuat banyak anak-anak mengeluhkan sesak nafas. Bahkan, kata Eko, sudah ada beberapa warga yang dilarikan ke Rumah Sakit karena tidak kuat.

“Hari ini ada beberapa yang masuk RS, anak anak juga banyak, dan yang mengalami mual, pusing, muntah, itu ratusan pak, 300 sampai 400 juga sudah ada, dan itu kami data dan dokumentasikan dalam bentuk foto atau video,” paparnya.

Eko juga menegaskan, bahwa sampai saat ini belum ada kompensasi dari pihak PT RUM untuk menanggung biaya pengobatan dari warga yang terdampak, setidaknya, sampai saat ini, warga desa Kedung Winong, Nguter, Pengkol, Gupit, Juron, Serut, Manisharjo, dan Cabean masih harus merasakan bau tak sedap dan diduga beracun itu setiap harinya.

“Nggak ada, pernah itu ada satu kampung diberi susu, makanan, namun warga menolak, apa artinya makanan itu kalau baunya tetap ada,” terangnya. Untuk itu, ia bersama warga tetap konsisten untuk mendesak Bupati Sukoharjo, Wardoyo untuk menutup PT RUM, jika tidak bisa mengatasi limbah bau itu hingga tanggal (19/2/2018) nanti.

“Tuntuntan cuma satu, bagaimana bau hilang, kalau tidak ya di tutup, ini sudah tidak bisa ditawar, dan ini memang kemauan warga dan yang paling mempunyai kepentingan yang sangat besar ya yang terkena dampak itu, jadi pokoknya tutup kalau bau tidak hilang,” tandasnya.

Kategori : Nasional

Tags : limbah pt rum pt rum tutup pt rum

Limbah Bau PT RUM Tak Kunjung Hilang, Warga Desak Presiden Jokowi Turun Tangan

09 Feb 2018 18:18:14
Limbah Bau PT RUM Tak Kunjung Hilang, Warga Desak Presiden Jokowi Turun Tangan

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Upaya-upaya yang dilakukan warga Nguter, Sukoharjo yang terkena dampak limbah bau mirip septic tank dari PT Rayon Utama Makmur (RUM) untuk kembali menghirup udara segar ternyata berbuah nihil.

Meski ribuan warga telah melakukan aksi unjuk rasa tiga kali dan melakukan audensi dengan para anggota dewan di DPRD Sukoharjo. Namun, Ribuan warga Nguter dan sekitarnya itu tetap saja harus merasakan bau tak sedap yang membuat muntah, mual, pusing, sesak nafas bahkan hingga pingsan.

Eko Supriyadi, Salah satu warga yang ikut terkena limbah bau yang kadang mirip bau telur busuk itu mengaku miris dan sedih. Ia merasa bahwa warga sudah dizalimi oleh segelintir elit penguasa pemangku kebijakan di negeri ini terkait permasalahan yang dialami ribuan warga dari 3 kabupaten tersebut.

Kini, Eko dan ribuan warga yang terkena dampak limbah bau PT RUM itu berharap pada presiden Jokowi untuk mau mendengar aspirasi dari rakyat kecil seperti dirinya.

“Kami sebagai warga yang terdampak terutama kepada bapak presiden Jokowi, mohon dengan sangat kami tidak ada jalan lain hanya bapak yang bisa memberikan instruksi kepada perusahaan,” katanya saat ditemui Jurnalislam.com di rumah salah satu warga di desa Plesan, Nguter, Sukoharjo, Jum’at (8/2/2018) malam.

“Terutama kepada pimpinan daerah kami di kabupaten Sukoharjo, karena saya tau persis, bapak Jokowi saya yakin Insya Allah mendengar,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, bahwa warga hanya ingin bau yang sudah meracuninya selama lebih dari 4 bulan itu hilang dan warga kembali menghirup udara segar seperti sediakala.

“Kami mohon ini diselesaikan dengan baik, keinginan warga cuma satu, monggo perusahaan itu berdiri, tapi tidak mengganggu lingkungan, itu permohonan kami,” pungkasnya.

Kategori : Nasional

Tags : bau jokowi limba limbah bau pt rum tutup pt rum

Gandeng GBN, SMA Negeri 1 Polokarto Sosialisasikan Haramnya Rayakan Valentine Day

09 Feb 2018 14:18:45
Gandeng GBN, SMA Negeri 1 Polokarto Sosialisasikan Haramnya Rayakan Valentine Day

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Maraknya budaya barat yang menyerang para remaja di Indonesia semakin hari semakin tak terbendung lagi, budaya pacaran, seks bebas, alkohol, tawuran, saat ini seakan lekat dan identik dengan perilaku para pemuda yang menjadi harapan bangsa itu.

Berawal dari hal itu, SMA Negeri 1 Polokarto, Sukoharjo menggelar kajian haram merayakan ‘Hari Valentin’ pada Jum’at (8/2/2018) di halaman sekolah menggandeng Gerakan Bela Negara (GBN). Acara ini bertujuan untuk menghindarkan kenakalan remaja di hari Valentine yang memang bukan dilarang dalam agama Islam itu.

“Minggu depan itu pada tanggal 14 akan ada yang namanya Valentine Day, pengajian ini kita majukan di Jum’at kedua agar anak anak mendapat berkah dan dapat mengcounter isu-isu tentang Valentine Day,” kata Sri Mulyono Wakil kepala Sekolah Bidang Kesiswaan kepada wartawan di sela-sela kegiatan pada Jum’at (8/2/2018).

Sementara itu, Ketua GBN Solo yang juga Dai asal Aceh Ustaz Tengku Adzar yang menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut menjelaskan, tentang sejarah munculnya tradisi Hari Valentin.

“Valentine Day itu, berawal dari seorang pendeta yang bernama Valentin dan kemudian dieksekusi mati oleh pihak Gereja karena melanggar institusi Gereja untuk tidak boleh jatuh cinta, apalagi sampai menikah, dan hari kematiaannya itu karena mempertahankan dari wanita yang dicintainya kemudian diperingati sebagai hari Valentine,” terangnya.

“Oleh sebab itu, kita sebagai kaum muslimin tidak ada kaitannya apa-apa dengan Valentine Day itu, sehingga sebagai kaum muslimin kita tidak ada hak untuk merayakannya apalagi sampai ikut mengerjakan kemaksiatan kemasiatan didalamnya,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia berpesan kepada 724 siswa yang hadir itu, untuk mengunakan cara-cara Islam untuk mengungkapkan cinta dan kasih sayang terhadap orang lain.

“Cara-cara mengungkapkan cinta itu ada syariatnya dalam Islam, jadi tidak perlu kita ikut cara-cara orang lain untuk mengungkapkannya karena Islam sudah mengatur itu,” tandasnya.

Kategori : Nasional

Tags : gbn solo valentine day

Limbah Bau Tak Kunjung Hilang, Elemen Umat Islam Soloraya Akan Dampingi Warga Hadapi PT RUM

09 Feb 2018 13:55:56
Limbah Bau Tak Kunjung Hilang, Elemen Umat Islam Soloraya Akan Dampingi Warga Hadapi PT RUM

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Elemen umat Islam Soloraya siap mengawal jalannya kesepakatan 1 bulan paska perjanjian kesepakatan antara warga Nguter, Sukoharjo yang terkena dampak limbah bau dengan PT Rayon Utama Makmur (RUM) pada Jum’at (19/1/2018) lalu di Gedung DPRD Sukoharjo.

“Karena kita melihat apa yang terjadi di Nguter ini adalah gambaran di semua daerah di Indonesia, kepentingan masyarakat kalah dengan kepentingan elit penguasa, dan saya apresiasi dengan kehadiran elemen-elemen di Sukoharjo terutama MPL,” kata ketua Komunitas Nahi Mungkar Surakarta (Konas) Ustaz Dadyo Hasto saat bersilaturahmi dengan warga Plesan, Nguter, Sukoharjo, Kamis (8/2/2018).

Ustaz Hasto berharap, umat Islam Soloraya dan warga berdampak limbah bau PT RUM dapat bersinergi dalam memangani kasus ini, ia menilai, bahwa selama ini masyarakat Nguter yang mayoritas berprofesi sebagai petani itu, selalu dibohongi oleh pihak-pihak pemangku kebijakan terkait masalah limbah bau mirip septic tank dari PT RUM tersebut.

“Kita berharap elemen Soloraya bisa dilibatkan dalam permasalahan ini, karena kita tidak ingin warga menghadapi situasi seperti ini,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Erwin wakil ketua Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL) Sukoharjo berterima kasih atas dukungan dari umat Islam Soloraya itu, menurutnya, paska perjanjian kesepakatan satu bulan itu, limbah bau yang dirasakan warga lebih dari 4 bulan itu, belum juga berkurang dan bahkan semakin parah.

“Saya hari ini merasa plong, saya senang karena saudara-saudara ini mau mendukung kita, kedatangan teman teman disini bisa membantu, agar bisa mengeluarkan warga dari kesengsaraan disini,” paparnya.

“Kita punya harapan agar teman-teman bisa ikut bersama kami untuk memperjuangkan hak-hak kami,” sambungnya.

Dalam kesempatan tersebut, Elemen umat Islam Soloraya juga memberikan bantuan berupa masker, tabung oksigen dan obat-obatan untuk masyarakat.

Kategori : Nasional

Tags : limbah bau pt rum tutup pt rum

Jika Ingat Tragedi Subuh Itu, KH Umar Basri Tiba-tiba Menangis

08 Feb 2018 11:14:29
Jika Ingat Tragedi Subuh Itu, KH Umar Basri Tiba-tiba Menangis

CICALENGKA (Jurnalislam.com) – Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH. Umar Basri (Mama Santiong) saat ini sudah berada di rumahnya. Kiai Umar pulang pada Sabtu (3/2/2018) setelah dirawat di Rumah Sakit Al Islam Bandung selama 8 hari.

Kondisi fisiknya membaik. Memar di beberapa bagian wajahnya mulai menipis, tapi warna ungu bekas pukulan benda tumpul masih terlihat. Mata kirinya masih tertutup sedikit bengkak, enam giginya pun rontok. Namun secara psikis, Kyai Umar masih trauma berat.

Ditemui Jurnalislam.com di kediamannya pada Rabu (7/2/2018) malam, Kiai sepuh 74 tahun ini sesekali menangis ketika mengingat peristiwa memilukan subuh 27 Januari itu. “Bapa suka nangis kalau ingat, tapi kalau ngobrol yang lain mah enggak” kata Aceng Deding Junaedi, putra kedua Kiai Umar.

Tak hanya itu, Kyai Umar juga kerap terbangun tiba-tiba ketika tidur kemudian menangis. “Kalau ngigau mah enggak, tapi inimah tiba-tiba bangun aja terus nangis gitu,” tambah Dadang Iskandar kerabat Kiai Umar sembari memijit kaki Kiai.

Tangisan Kiai Umar ternyata bukan hanya karena peristiwa itu, yang lebih menyakitkan lagi bagi Kiai Umar adalah ia ingin segera shalat di masjid seperti sebelumnya. Tapi apa daya, kondisinya yang masih lemah mengharuskannya shalat di rumah dengan terlentang.

“Bapak sering nanyain, ‘jam berapa sekarang? Udah subuh belum? Bapa mau ke masjid,'” ungkap Aceng Deding menirukan perkataan ayahnya.

KH Umar Basri adalah ulama karismatik yang sangat dihormati di Kabupaten Bandung. Keikhlasannya dalam beramal sudah tak perlu diragukan lagi. Pondok pesantren Al Hidayah didirikan tahun 1936 oleh sang kakek itu tak pernah membebankan biaya kepada santrinya kecuali uang listrik Rp.15.000 per bulan.

Atas dasar itulah keluarga sangat yakin bahwa Kyai Umar tidak punya musuh. Keluarga telah ikhlas menerima peristiwa itu sebagai musibah yang harus diambil hikmahnya.

“Untuk masalah hukum dan sebagainya kami serahkan sepenuhnya kepada polisi. Nggak perlu ada tim pencari fakta atau apalah, ini semuanya murni musibah untuk keluarga kami,” tutup Aceng Deding.

KH Umar Basri menangis

 

KH Umar Basri dipapah ke kamar kecil
Kategori : Nasional

Tags : kh umar kiai umar basri penganiayaan ulama dianiaya

Catatan dari Asmat (3) : Suasana Malam hingga Jalanan dari Kayu

08 Feb 2018 07:50:52
Catatan dari Asmat (3) : Suasana Malam hingga Jalanan dari Kayu

PAPUA (Jurnalislam.com)–Jika malam tiba, ibu kota berangsur angsur sepi. Kecuali di Jalan Yos Sudarso. Jalan itu layaknya Kemang di Jakarta atau Malioboro di Yogyakarta. Warga lalu lalang untuk sekadar “cari angin”, “cuci mata” mencari makan malam atau sekadar jajan. Keramaian mulai reda dari jam sembilan ke atas.

Patut diperhatikan, hati-hati bila keluar malam di atas jam 21.00 WIT. Menurut penuturan warga setempat, di atas jam tersebut adalah jam rawan kejahatan. Apalagi untuk turis atau pendatang.

Damai, itulah gambaran suasana Agats malam hari. Biasanya, warga suka keluar ke jalanan di depan rumah untuk sekadar bercengkrama maupun tidur-tiduran menikmati malam. Bintang-bintang terlihat jelas, kebetulan malam ini langit sedang cerah.

Ada “Jalan Tol” di Agats

Aktifitas warga Agats, Kabupaten Asmat dihubungkan dengan jalan kayu selebar satu meter. Kita tidak akan menemui jalan beraspal di sini, kecuali jalan beton.

Catatan dari Asmat (1): Sulitnya Menembus Agats

Saat memasuki kota dari dermaga, akan terlihat jalan beton selebar empat meter. Bisa dibilang jalan ini adalah jalan protokolnya atau “Jalan Tol” kota Agats. Kendaraan roda dua biasa berlalu-lalang di sini.

Jalan beton dibangun di sepanjang Jalan Yos Sudarso. Jalan serupa juga mulai dibangun di distrik-distrik luar ibu kota dengan konstruksi beton dan komposit.

Pada 2017 lalu Pemkab Asmat mencanangkan jalan beton pada 11 titik dan dua titik jalan komposit di tiga distrik, yaitu Distrik Atsj, Fayit, dan Suator.

Catatan dari Asmat (2) : Agats, Kota di Atas Rawa

Jalan Yos Sudarso adalah pusat aktifitas warga ibu kota Agats. Sebagian gedung pemerintahan berdiri di sana, di antaranya Kantor Pelabuhan, Kantor Polsek, Bank, Rumah Sakit Daerah, Taman Baca. Pertokoan juga berdiri di sepanjang jalan itu.

Mereka menjual beragam barang, mulai dari pernak-pernik, pakaian, rumah makan, sayur-sayuran dan kebutuhan pangan lainnya. Warga juga banyak yang berdagang di pinggir jalan. Kebutuhan warga mayoritas disuplai dari Timika dan Merauke. Bersambung….

* Laporan Suandri Ansyah, anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU) dari Asmat, Papua.

Kategori : Nasional

Tags : asmat jitu Kelaparan laporan Papua

Catatan dari Asmat (2) : Agats, Kota di Atas Rawa

08 Feb 2018 07:43:50
Catatan dari Asmat (2) : Agats, Kota di Atas Rawa

Oleh : Suandri Ansyah, Anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

PAPUA (Jurnalislam.com)— Pukul 14.40 WIT, Selasa (6/2/2018) speed boat yang mengantar relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan tim jurnalis tiba di Bandara Ewer. Kami pun segera berangkat ke Agats lewat Sungai Asewet. Perahu adalah sarana transportasi utama untuk mencapai kota. Perjalanan ke Dermaga Agats memakan waktu sekitar 20 menit. Sungai Asewet bermuara ke laut Arafura.

Aktifitas Dermaga Agats cukup ramai. Lalu lintas kapal kecil mondar-mandir di sekitar dermaga, mengangkut barang bawaan atau penumpang yang akan pergi dan datang dari Agats.

Anak-anak tengah asyik berenang saat kami tiba. Mereka tertawa dan berteriak-teriak. Terlebih saat saya mengarahkan kamera. Mereka berloncatan ke sana kemari, seakan ingin aksi “lompat indah” terbaiknya terabadikan di kamera saya.

Catatan dari Asmat (1): Sulitnya Menembus Agats

Di dalam kota, seluruh bangunan dibuat dengan desain panggung. Mulai dari rumah, pasar, pertokoan, kantor pemerintahan, hingga lapangan sepak bola. Bahan bangunan terbuat dari kayu. Di bawahnya air menggenang dan berlumpur.

Tanah yang kosong ditumbuhi rumput-rumput liar dan pohon mangrove. Sampah dan botol-botol bekas tak jarang menumpuk. Desain panggung dipilih untuk menghindari rendaman air jika laut pasang.

Air bersih sangat sulit di dapat di sini. Untuk kebutuhan sehari-hari warga memanfaatkan air hujan. Banyak warga memiliki tandon air berukuran besar yang dipasang di tempat-tempat strategis, ada yang di halaman, belakang rumah atau membuat tower. Hujan benar-benar sebuah berkah bagi kota ini.

Memasang selang di atap rumah dan mengalirkannya ke toren adalah salah satu cara memaksimalkan tampungan. Banyak warga memiliki lebih dari satu tandon, terutama penginapan dan fasilitas publik seperti masjid. Untuk kebutuhan minum dan masak, warga lebih memilih air mineral kemasan.

Catatan dari Asmat (3) : Suasana Malam hingga Jalanan dari Kayu

Di ibu kota, harga relatif bersaing dengan di luar Agats. Air kemasan 1,5 liter yang saya beli dihargai Rp 10.000. Sementara kebutuhan listrik sudah mengalir di sini, PLN punya kerja.

Profesi warga Agats terbilang beragam, kebanyakan nelayan. Ada juga tukang ojek, kuli panggul, tukang angkut, supir kapal, dan pedagang. Jasa penginapan juga tersedia di sini, termasuk calo-nya. (suandri/jurnalislam)

Kategori : Nasional

Tags : asmat catatan jitu jitu Kelaparan liputan asmat Papua

Catatan dari Asmat (1): Sulitnya Menembus Agats

08 Feb 2018 07:39:20
Catatan dari Asmat (1): Sulitnya Menembus Agats

Oleh: Suandri Ansyah, anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

PAPUA (Jurnalislam.com) – Selasa (6/2/2018) siang rombongan relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan jurnalis tiba di Bandara Ewer, Kabupaten Asmat, Papua. Rombongan berangkat dari bandara lama Mozes Kilangin, Timika.

Mozes Kilangin adalah bandara internasional milik PT Freeport Indonesia. Awalnya, bandara ini khusus perusahaan. Namun, pada 2013 peruntukannya diubah menjadi umum.

Salah seorang pekerja bandara bernama Atyh Wakum mengatakan, aktifitas bandara belakangan ini menjadi ramai semenjak kasus gizi buruk dan campak menguak ke media.

Rombongan terbang menggunakan pesawat Charter Twin Otter milik jasa penerbangan Airfast. Maksimal penumpang yang bisa diangkut 19 orang termasuk awak kokpit.

Pesawat take off pukul 12.00 WIT, kami dibawa terbang ke ketinggian 7500 kaki. Dari atas sana, landscape geografis Timika terlihat jelas. Kelok-kelok sungai berwarna kecoklatan membelah hijaunya hamparan kota Timika dan sekitarnya.

Untungnya, cuaca saat itu cerah berawan. Perjalanan kami lalui tanpa kendala berarti. Kecepatan pesawat 105 Knot. Di angkasa, sebagian jurnalis asyik mengambil pemandangan, sebagian berbincang-bincang.

Pukul 12.45 WIT kami mendarat di Bandara Ewer, Asmat. Bandaranya kecil, hanya ada satu landasan. Bandara ini dibangun di atas rawa, kontur tanahnya yang empuk membuat pesawat besar tak bisa mendarat di sini.

Rijal Juliawan, pilot yang membawa kami menuturkan, panjang landasan 600 meter dan saat ini sedang diperpanjang lagi menjadi 1.100 meter.

Dari kejauhan, bandara itu lebih mirip lapangan kosong dengan aspal melintang di tengahnya. Di sekelilingnya rumah-rumah panggung terbuat dari kayu, tepat di bawah rumah itu air menggenang.

Tak ada tower komunikasi laiknya bandara lainnya. Rijal menuturkan, pendaratan dilakukan dengan teknik pendaratan visual (pandangan mata).

Semenjak kasus gizi buruk dan campak mencuat, frekuensi penerbangannya ke Asmat bertambah. “Tadi pagi ada. Besok kita juga kesini lagi,” tuturnya. Hari ini, dirinya sudah dua kali ke Asmat. Ia paling sering terbang ke Ilaga.

Di bandara, kami melipir sejenak di sebuah warung makan dan satu-satunya warung. Mengisi tenaga untuk melanjutkan perjalanan ke Agats lewat jalur sungai.

Catatan dari Asmat (2) : Agats, Kota di Atas Rawa

Makanan yang disediakan hanya mi instan rebus maupun goreng. Sepesialnya, warung itu tersedia Wi-Fi. Jaringan komunikasi apalagi internet adalah sesuatu yang berharga di Asmat, selain air bersih.

Sebelumnya, kondisi cuaca yang tak menentu sempat membuat relawan dan tim jurnalis tertahan di Timika. Berdasar jadwal perjalanan, sedianya Senin (5/2/2018) pagi tim akan berlayar ke Asmat lewat pelabuhan Pomako.

Gelombang laut dan ombak tinggi menjadi kekhawatiran terbesar. Beberapa penyedia jasa transportasi baik laut atau udara yang dihubungi tim relawan belum ada yang diperbolehkan berangkat ke Asmat.

Ada dua skema perjalanan untuk sampai ke Agats. Pertama lewat Pelabuhan Pomako di Timika. Kedua lewat Bandara Ewer di Kabupaten Asmat. Skema pertama bisa menyewa perahu long boat dengan waktu tempuh 10 jam. Jika gelombang laut tinggi, urungkan perjalanan. Karena tidak ada kapal yang diperbolehkan berlayar.

Catatan dari Asmat (3) : Suasana Malam hingga Jalanan dari Kayu

Skema kedua, menyewa pesawat Charter dari Bandara Mozes Kilangin menuju Bandara Ewer. Waktu tempuhnya sekitar 45 menit. Konsekuensinya, daya angkut penumpang lebih sedikit. Tentu menyulitkan jika membawa banyak orang dan barang.

Dari Bandara Ewer dilanjutkan dengan speed boat menuju Darmaga Agats dengan waktu tempuh sekitar 20 menit melewati sungai Asewet. Jika membawa banyak orang, sewalah banyak perahu. [] /Suandri Ansah/ JITU

Kategori : Nasional

Tags : asmat jitu jurnalis muslim liputan asmat Papua

Navigasi pos

Pos-pos lama
Pos-pos baru
Dukung Kami

Opini

Tercoreng Otoritarianisme: Saat Hak Bersuara Disambut Arogansi

Tercoreng Otoritarianisme: Saat Hak Bersuara Disambut Arogansi

3 Jun 2026 17:37:58
Ketika Dunia Digital Diam-Diam Merusak Anak

Ketika Dunia Digital Diam-Diam Merusak Anak

25 Mei 2026 13:14:14
Antara Validasi Data dan Keadilan Akses Kesehatan di Kota Bogor

Antara Validasi Data dan Keadilan Akses Kesehatan di Kota Bogor

24 Mei 2026 22:13:47
Membangun Safe Haven di Tengah Konflik Internasional

Membangun Safe Haven di Tengah Konflik Internasional

24 Mei 2026 22:11:53

Internasional

Netanyahu Tegas Tolak Palestina Urus Gaza, Israel Ingin Kuasai Pascaperang

Netanyahu Tegas Tolak Palestina Urus Gaza, Israel Ingin Kuasai Pascaperang

5 Feb 2026 12:38:35
Israel Ungkap AS Berpotensi Serang Iran dalam 2 Bulan Mendatang

Israel Ungkap AS Berpotensi Serang Iran dalam 2 Bulan Mendatang

5 Feb 2026 12:37:07
Israel Terus Bujuk AS agar Serang Iran, Turki Peringatkan Bahaya Perang Regional

Israel Terus Bujuk AS agar Serang Iran, Turki Peringatkan Bahaya Perang Regional

5 Feb 2026 12:35:37
Tekanan AS Meningkat, Iran Melunak soal Nuklir dan Buka Negosiasi

Tekanan AS Meningkat, Iran Melunak soal Nuklir dan Buka Negosiasi

5 Feb 2026 12:33:24

jurnalislam.com

  • Iklan
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Dukung Kami

INFOGRAFIK

 
 
 
 

Alamat Redaksi

Boulevard Raya No 16 Blok A 1 No 16 Taman Cilegon Indah (TCI), Cilegon, Banten
+62 813-1029-0583

Info Iklan :
+62 821-2000-0527
marketing@jurnalislam.com

Kirim tulisan :
redaksi.jurnalislam@gmail.com
newsroom@jurnalislam.com

COPYRIGHT © 2026 JURNALISLAM.COM, ALL RIGHT RESERVED