Bagaimana Hukum Membangun Masjid di Lahan Sengketa?

SUKOHARJO (Jurnalislam.com)- Ketua Gerakan Bela Negara (GBN) Solo Ustaz Tengku Adzar menegaskan, bahwa haram shalat di dalam masjid yang dibangun diatas tanah sengketa, hal itu, ia katakan paska rencana Pemkot Surakarta yang akan membangun Masjid Raya di Taman Sriwedari, meski status tanah tersebut masih menjadi milik ahli waris Wiryodiningrat setelah diputuskan oleh Mahkamah Agung (MA) tahun 2016 lalu.

“Haram hukumnya dan shalat didalamnya tidak sah, lalu untuk apa ini dibangun dengan harga yang sekian miliar kalau kemudian hanya sia-sia, bukankan ini mubazir?,” katanya kepada Jurnalislam.com usai beri materi di Masjid An-Nuur, Madegondo, Grogol, Kamis,(8/2/2018).

“Selama Masjid itu, tanah itu tanah sengketa, maka para ulama sepakat tidak boleh membangun masjid di tanah sengketa dan kaum muslimin harus tau. Kalaupun nanti Masjid itu dibangun ditanah sengketa, kita harus tau bahwa kita tidak boleh shalat didalam masjid yang didalamnya tanah sengketa, umat harus harus tau,”tambahya.

Lebih lanjut, ustaz Tengku menjelaskan, bahwa umat Islam harus paham hukum syariat Islam tentang pendirian Masjid di tanah sengketa, ia juga membantah bahwa, penolakan sejumlah ormas Islam terhadap pembangunan Masjid itu, karena kebencian umat Islam terhadap wali kota,

“Bukan karena kebencian kita terhadap wali kota Solo, tidak, ini kita bicara karena hukum syariat, hukum Syar’i , dan kita tidak bicara karena yang bangun wali kotanya, tidak, ini kita bicara syariat, kita tidak boleh membangun masjid di tanah sengketa,” paparnya.

Untuk itu, ustaz Tengku memberi saran kepada Pemkot Surakarta untuk membangun Masjid di tempat lain yang status kepemilikan tanahnya tidak dalam kondisi sengketa dengan pihak lain. “Jadi saran saya, cari tanah yang memang betul-betul tidak sengketa dan bangun masjid disana,” pungkasnya