Jika Ingat Tragedi Subuh Itu, KH Umar Basri Tiba-tiba Menangis

CICALENGKA (Jurnalislam.com) – Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH. Umar Basri (Mama Santiong) saat ini sudah berada di rumahnya. Kiai Umar pulang pada Sabtu (3/2/2018) setelah dirawat di Rumah Sakit Al Islam Bandung selama 8 hari.

Kondisi fisiknya membaik. Memar di beberapa bagian wajahnya mulai menipis, tapi warna ungu bekas pukulan benda tumpul masih terlihat. Mata kirinya masih tertutup sedikit bengkak, enam giginya pun rontok. Namun secara psikis, Kyai Umar masih trauma berat.

Ditemui Jurnalislam.com di kediamannya pada Rabu (7/2/2018) malam, Kiai sepuh 74 tahun ini sesekali menangis ketika mengingat peristiwa memilukan subuh 27 Januari itu. “Bapa suka nangis kalau ingat, tapi kalau ngobrol yang lain mah enggak” kata Aceng Deding Junaedi, putra kedua Kiai Umar.

Tak hanya itu, Kyai Umar juga kerap terbangun tiba-tiba ketika tidur kemudian menangis. “Kalau ngigau mah enggak, tapi inimah tiba-tiba bangun aja terus nangis gitu,” tambah Dadang Iskandar kerabat Kiai Umar sembari memijit kaki Kiai.

Tangisan Kiai Umar ternyata bukan hanya karena peristiwa itu, yang lebih menyakitkan lagi bagi Kiai Umar adalah ia ingin segera shalat di masjid seperti sebelumnya. Tapi apa daya, kondisinya yang masih lemah mengharuskannya shalat di rumah dengan terlentang.

“Bapak sering nanyain, ‘jam berapa sekarang? Udah subuh belum? Bapa mau ke masjid,'” ungkap Aceng Deding menirukan perkataan ayahnya.

KH Umar Basri adalah ulama karismatik yang sangat dihormati di Kabupaten Bandung. Keikhlasannya dalam beramal sudah tak perlu diragukan lagi. Pondok pesantren Al Hidayah didirikan tahun 1936 oleh sang kakek itu tak pernah membebankan biaya kepada santrinya kecuali uang listrik Rp.15.000 per bulan.

Atas dasar itulah keluarga sangat yakin bahwa Kyai Umar tidak punya musuh. Keluarga telah ikhlas menerima peristiwa itu sebagai musibah yang harus diambil hikmahnya.

“Untuk masalah hukum dan sebagainya kami serahkan sepenuhnya kepada polisi. Nggak perlu ada tim pencari fakta atau apalah, ini semuanya murni musibah untuk keluarga kami,” tutup Aceng Deding.

KH Umar Basri menangis

 

KH Umar Basri dipapah ke kamar kecil