Sudah Ada Warga Terdampak Limbah PT RUM , Namun Belum Ada Penindakan

9 Februari 2018
Sudah Ada Warga Terdampak Limbah PT RUM , Namun Belum Ada Penindakan

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Dua minggu lebih paska perjanjian kesepakatan warga terdampak limbah bau PT RUM, warga Nguter, Sukoharjo mengaku masih merasakan bau mirip Septic tank dari pabrik Rayon itu, meski pada Jumat, (19/1/2018) lalu, Presiden Direktur PT RUM Pramono berjanji akan mengatasi masalah limbah bau yang sudah dirasakan lebih dari ribuan warga selama 4 bulan itu dalam waktu 1 bulan.

“Paling keras baunya, kalau limbah cair itu hanya yang terkena alirannya, kalau bau mengikuti arah mata angin, warga pusing, mual di perut, muntah dan kalau fisiknya tidak kuat terus pingsan,” kata ketua Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL) Sukoharjo Eko Supriyadi saat ditemui Jurnalislam.com, Jum’at (8/2/2018).

Selain menyebabkan, warga usia dewasa muntah, mual dan pusing, efek yang ditumbulkan dari bau PT RUM itu juga membuat banyak anak-anak mengeluhkan sesak nafas. Bahkan, kata Eko, sudah ada beberapa warga yang dilarikan ke Rumah Sakit karena tidak kuat.

“Hari ini ada beberapa yang masuk RS, anak anak juga banyak, dan yang mengalami mual, pusing, muntah, itu ratusan pak, 300 sampai 400 juga sudah ada, dan itu kami data dan dokumentasikan dalam bentuk foto atau video,” paparnya.

Eko juga menegaskan, bahwa sampai saat ini belum ada kompensasi dari pihak PT RUM untuk menanggung biaya pengobatan dari warga yang terdampak, setidaknya, sampai saat ini, warga desa Kedung Winong, Nguter, Pengkol, Gupit, Juron, Serut, Manisharjo, dan Cabean masih harus merasakan bau tak sedap dan diduga beracun itu setiap harinya.

Nggak ada, pernah itu ada satu kampung diberi susu, makanan, namun warga menolak, apa artinya makanan itu kalau baunya tetap ada,” terangnya. Untuk itu, ia bersama warga tetap konsisten untuk mendesak Bupati Sukoharjo, Wardoyo untuk menutup PT RUM, jika tidak bisa mengatasi limbah bau itu hingga tanggal (19/2/2018) nanti.

“Tuntuntan cuma satu, bagaimana bau hilang, kalau tidak ya di tutup, ini sudah tidak bisa ditawar, dan ini memang kemauan warga dan yang paling mempunyai kepentingan yang sangat besar ya yang terkena dampak itu, jadi pokoknya tutup kalau bau tidak hilang,” tandasnya.