Forum MeDAN Nusa Tenggara Gelar Aksi Bedah Rumah Kaum Dhuafa

BIMA(Jurnalislam.com) – Lembaga kemanusiaan Forum Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me DAN) wilayah Nusa Tenggara (Nusra) menggelar bedah rumah bagi warga Kabupaten Bima yang kurang mampu.

Aksi bedah rumah kali ini dilakukan terhadap rumah Nurdin yang beralamat di Desa Keli RT 08, RW 06, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima. Nurdin yang dikenal sebagai guru mengaji diketahui menderita penyakit yang membuatnya tidak bisa beraktivitas normal.

“Bedah Rumah ini merupakan salah satu program sosial kemanusiaan dari forum Me-DAN NTB, dan ini adalah kali yang ke tiga kami melakukan program bedah rumah,” kata aktivis Forum MeDAN, Suherman kepada Jurnalislam.com, Ahad (25/2/2018).

“Selain bedah rumah, kami juga melakukan perawatan rutin luka, serta pemberian modal usaha dengan harapan keluarga bisa mandiri serta kembali beraktifitas seperti sediakalanya,”tambahnya.

Suherman mengakui masih banyak masyarakat yang memerlukan uluran tangan dan bantuan di wilayah pelosok NTB. Ia mengajak masyarakat agar aktif membantu, salah satunya dengan berdonasi.

“Kami juga menyampaikan terimakasih kepada seluruh donatur yang mempercayakan kepada forum Me-DAN NTB untuk kegiatan kemanusiaan, semoga kepedulian ini dibalas dengan kebaikan yang lebih oleh Allah,” pungkasnya.

 

Wadah Silaturahim, Forum Pengajian Ukhuwah Jateng Gelar Tabligh Akbar

PATI (Jurnalislam.com)-Dalam rangka mempererat tali silaturrahim, Forum Pengajian Ukhuwah Jawa Tengah menggelar tabligh akbar bertajuk ‘Ukhuwah Islamiyah’ bertempat di Masjid Al Islam Randu Kuning, jalan Diponegoro Pati, Sabtu (24/2/2018).

Ketua Panitia Ustaz Mustaqim mengatakan bahwa kajian ini akan dihelat rutin dan dihadiri oleh lintas ormas dan gerakan islam.

“Dengan forum ini kita harapkan khususnya Jawa Tengah memahami ukhuwah Islamiah dan nilai persatuan,” kata ustaz Mustaqim, kepada Jurnalislam.com.

Pemateri kajian, Ustaz Ahmad Ibnu Khaldun menyampaikan bahwa urusan ukhuwah lebih penting dan utama daripada sibuk berdebat urusan fikih

“Hari ini kita membahas sesuatu (ukhuwah) yang lebih wajib dari pada membicarakan tentang masalah kotoran kucing,” ucapnya saat menyampaikan materi

Terakhir beliau berpesan kepada hadirin yang hadir agar lebih mengedepankan ukhuwah dan bertoleran terhadap perbedaan fikih maupun ijtihad yang terjadi dikalangan gerakan Islam.

“Kita bantu membantu dalam masalah yang kita sepakati dan bersikap toleran pada masalah yang kita perselisihkan,pungkasnya

Acara tersebut dihadiri dari berbagai ormas Islams se-Jawa Tengah seperti Pati, Rembang, Blora, Juwana, dll.

Disebut Akan Bebas, Keluarga : Kenyataannya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir Masih Dipenjara

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Tengku Zulkarnaen mengatakan di akun twitternya bahwa Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin berdiskusi dengan Presiden Joko Widodo terkait kebebasan tokoh Islam Ustaz Abu Bakar Ba’asyir dari penjara dan dipindahkan ke RSCM.

Putera ustaz Abu Bakar Ba’asyir, Abdurrachim Ba’asyir mengatakan bahwa faktanya sampai saat ini ustadz Abu masih dipenjara.

“Karena pada kenyataannya memang saat ini ustadz Abu masih di penjara dan sampai hari ini setelah surat izin untuk check up ke RSCM itu terbut satu bulan yang lalu dan siap-siap mau berangkat, tiba-tiba dari BNPT dan Densus minta penundaan dengan alasan masih sibuk dan masih belum bisa,” kata Abdurrachim kepada Jurnalislam.com, Jumat (23/2/2018).

Pria yang karib disapa Iim ini mengakui sudah berbincang langsung dengan Wasekjen MUI KH Tengku Zulkarnaen dan mengapresiasi MUI atas upayanya membebaskan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir.

Menurutnya, pernyataan Kiai Tengku bisa jadi benar dalam tataran elit, yaitu dialog antara Ketua MUI dengan Presiden Joko Widodo. Namun, pada tataran pelaksanaan, Iim mengakui seringkali bertolakbelakang dengan kebijakan yang diputuskan.

“Namun terkait keberadaan Ustaz Abu di RSCM mungkin itu perlu diluruskan karena sepertinya apa yang beliau dengar langsung dari Presiden atau dari para elit. Tapi di bawah nanti pelaksanaannya berbeda lagi tampaknya itu yang sering terjadi. Jadi dari atas sudah ada persetujuan tapi di bawah selalu saja ada halangan,” kata Iim.

Karenanya, apabila kebijakan itu benar terjadi, maka keluarga mengucapkan apresiais terhadap MUI yang terus memperhatikan para ulama di Indonesia. “Para ulama apabila bisa bersatu tentu itu akan membawa kebaikan buat umat Islam di Indonesia khususnya,” pungkas Iim.

 

Soal Ulama Diteror, Guru Besar Unair : Yang Mengatakan Gila Harusnya Psikiater, Bukan Polisi

SURABAYA (Jurnalislam.com) – Maraknya kejadian penyerangan ulama dan perusakan tempat ibadah di Jawa Timur oleh terduga orang gila membuat masyarakat semakin waspada. Pihak kepolisian diminta berhati-hati mengkhawatirkan. Pihak kepolisian pun diminta hati-hati untuk tidak asal mengatakan orang gila. Pasalnya, yang mempunyai otoritas tersebut adalah psikiater.

Hal ini diungkapkan guru besar di bidang Ilmu Politik Universitas Airlangga (Unair) Prof .Kacung Marijan. “Ini harus ada pemetaan yang jelas. Siapa sebetulnya yang terlibat dalam penyerangan, apakah betul meraka orang gila,” katanya saat ditemui di Surabaya, Kamis (22/2/2018).

Pria yang juga sebagai Wakil Rektor I Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menyebutkan bahwa kalau memang betul orang gila itu seperti apa. Prof. Kacung menilai bahwa pihak kepolisian terlalu cepat menyebutkan pelakunya adalah orang gila.

“Jangan belum-belum sudah mengatakan orang gila. Publik sekarang ini kan kritis, orang gila kok yang menentukan polisi. Polisi kan tidak punya kompetensi menentukan itu orang gila apa tidak,” ujarnya. Harusnya, lanjut Kacung, yang mempunyai otoritas adalah psikiater. “Makanya sekarang mulai hati-hati polisi dalam mengeluarkan pernyataannya,” imbuhnya.

Selain itu, Kacung melanjutkan, jika memang pelaku adalah orang gila juga perlu diselidiki lebih dalam. Apakah kemauan orang gila sendiri atau ada yang menyuruh.

“Kan, ada orang gila yang bisa disuruh juga. Kasus di Ploso, Kediri itu kalau tidak asalnya bukan dari situ. Masak orang gila dari Situbondo terus tiba-tiba ke Ploso,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Kacung meminta kepada pihak kepolisian untuk melakukan investigasi terkait pola penyerangannya seperti apa.

“Mereka gila itu datang kesitu atas kemauan diri sendiri atau ada yang menyuruh. Kalau ada ini siapa. Ini tugas polisi,” pungkasnya.

Mengintip SHAF, Klinik Gratis Berkonsep Islam di Sukoharjo

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Berkonsep Islami dan mencari keberkahan, itulah yang diharapkan Dr. Ismail Maryanto,Sp.OT saat mendirikan Klinik Utama SHAF yang terletak di jln Mangesti Raya, Purbayan, Baki, Sukoharjo.

Pasalnya, di klinik yang berdiri atas dasar desakan warga sekitar yang membutuhkan sarana kesehatan tersebut, Dr Ismail selaku direktur sekaligus pemilik klinik, mewajibkan setiap perawat jaga untuk membaca Al-Quran. Selain itu, pihaknya juga mengadakan kajian rutin setiap Jumat sore untuk para pegawai dan masyarakat sekitar.

“Kita itu Islam, tapi baca Al-Quran hanya Ramadhan saja, nah sekarang anak-anak itu kita paksakan setiap jam jaga kita suruh awali membaca Al-Quran 2 ayat dan alhamdulillah lancar. Kita juga mempunyai dokter yang hafal Quran mau mengawasinya,” katanya kepada Jurnalislam.com usai acara saft louncing Klinik tersebut pada Jumat, (23/2/2018).

“Kalau klinik yang barakah, dengan bekerja disini diharapkan bisa dekat dengan Allah, prinsipnya seperti itu,” sambung Dr Ismail.

Selain itu, klinik yang berdiri 2 lantai ini, juga memberikan layanan kesehatan gratis pada santri Ponpes di sekitar lokasi, bahkan, untuk para pengajarnya pun tidak dibebankan biaya saat memeriksakan kesehatannya di Klinik yang mempunyai semboyan Small is Beautiful.

“Rencana itu sudah ada, ada 5 ponpes di sekitar sini, sudah kita beri edaran setiap pondok dipersilahkan untuk memeriksakan santrinya yang sakit secara gratis setiap pondok maksimal 10 orang setiap bulan, dan untuk ustadzah dan ustaznya gratis dan hanya itu yang bisa buat untuk sangu akhirat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, nama Klinik yang diambil dari salah satu surat dalam Al-Qur’an ini mempunyai 40 kamar rawat inap, 6 dokter, 6 perawat dan 5 bidan untuk menangani para pasien yang ingin berobat di klinik tersebut.

Bupati Tak Segera Tandatangani SK Pencabutan Izin, Unjuk Rasa di Depan PT RUM Ricuh

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Massa aksi unjuk rasa warga terdampak limbah bau dari PT RUM yang sejak Kamis (22/2/2018) sore memblokade akses masuk pabrik, akhirnya terlibat kericuhan dengan pihak aparat yang melakukan penjagaan di sekitar lokasi kejadian.

Ribuan massa yang sejak awal menginginkan perusahan Rayon tersebut untuk segera tutup itu, berhasil merangsek akses masuk perusahaan pada Jum’at (23/2/2018) siang, massa yang emosi akibat belum ditandatanganinya SK pencabutan ijin oleh Bupati Sukoharjo Wardoyo kian tidak terkendalikan.

“Kami sudah datang ke Pemkab Sukoharjo dan kami tidak mendapatkan hasil seperti yang dijanjijkan kemarin. Alasannya belum dibahas. Jangan salahkan rakyat jika harus melakukan blokade karena ini mempertaruhkan nyawa masyarakat,” papar Pembina Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL) Bambang Wahyudi sebagaimana dilansir dari Sukoharjo.sorot.co.

Menurut pantauan Jurnalislam.com di lapangan, beberapa truck Dalmas didatangkan guna untuk menghalau massa yang kian tak terkendali itu, suasana mencekam pun terasa saat massa berhasil merusak pagar dan membakar pos keamanan yang ada di area pabrik tersebut.

Tak hanya itu, massa yang kian bertambah ini juga memecahkan kaca pos keamanan dan membakar ban di sekitar lokasi aksi. pihak aparat pun menangkap beberapa orang yang didukan melakukan tindakan anarkis.

Aksi unjuk rasa ini pun akhirnya terhenti pada pukul 17.26 wib, ketika salah satu tokoh masyarakat sekitar membacakan surat keputusan dari bupati terkait pemberhentian sementara perusahaan Rayon tersebut, setelah dibacakan SK itu, massa pun membubarkan diri dengan tertib.

Kontributor : Nurdin

Selain Diusut, JAS Minta Pelaku Penganiayaan Ulama Juga Harus Dihukum

SURABAYA (Jurnalislam.com)—Ketua Jamaah Ansharusy Syariah Jawa Timur Hamzah Baya mengatakan bahwa pelaku penyerangan terhadap ulama baru-baru ini harus dihukum. Jagan sampai katanya, pelaku lolos begitu saja, apalagi dengan alasan pelaku diduga gila.

Menurutnya, bila diperhatika, belum ada satu pekan sudah terjadi tiga modus penyerangan yang terjadi di Lamongan, Madiun dan Surabaya.

Lagi, Kali Ini Teror Menimpa Ketua Dewan Dakwah Jabar

Hal ini menurutnya hampir serupa dengan di Jawa Barat atau boleh diambil lebih jauh seperti kejadian tahun 1998 dimana para ulama dan kyai NU di Banyuwangi banyak yang dibantai oleh mereka orang gila.

“Penyerangan terhadap ulama, ustaz dan teror ke pondok pesantren juga masjid ini merupakan tindakan yang sudah sangat mencederai umat islam. Siapapun pelakunya dia harus diproses hukum. Pelaku merupakan orang yang anti agama menginginkan konflik dan menimbulkan ketakutan serta ketidak nyamanan bagi ulama, santri dan umat islam”, kata Ustaz Hamzah Baya kepada Jurnalislam.com, Kamis (22/2/2017).

Amien Rais: Penyerangan Ulama Ada Dalangnya!

Menurutnya, kasus ini harus membuat umat Islam bersatu dan jangan mau diadu domba.

” Pertolongan Allah akan datang manakala kita senantiasa sabar dan istiqamah membela agama Allah. Maka jangan takut dan gentar terus maju berjuang membela agama Allah dari segala bentuk kezaliman bersabar dan istiqamah sampai Allah wafatkan kita dalam keadaan khusnul khatimah”, pesan Ustaz Hamzah Baya kepada umat islam indonesia.

Bertahan sampai Malam, Warga : PT RUM Harus Ditutup

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Ratusan massa aksi menuntut ditutupnya perusahaan Rayon Utama Makmur (PT RUM), tetap bertahan melakukan aksi blokade di depan akses masuk perusahaan Rayon tersebut pada Kamis, (22/2/2018) malam.

Menurut pantauan jurnalislam.com dilapangan, hingga pukul 22.40 wib, situasi masih berjalan aman dan kondusif.

Massa yang mayoritas warga terdampak limbah bau itu, tampak duduk di depan PT RUM dan sesekali bernyanyi, puluhan aparat polisi dan TNI pun, tampak bersiaga dan melakukan penjagaan di sekitar pabrik tersebut.

Agus, Salah satu warga yang ikut bertahan dalam aksi tersebut menegaskan, bahwa warga hanya menginginkan pabrik Rayon tersebut untuk ditutup.

Kecewa Dengan Sikap Bupati, Warga Nguter Blokade Akses Menuju PT RUM

Warga, katanya, akan tetap bertahan hingga Bupati mau menandatangani SK pencabutan izin dari PT RUM itu pada Jumat (23/2/2018).

“Kita akan bertahan sampai sekuat tenaga, sampai janji pak bupati untuk tanda tangan besok dipenuhi, untuk keinginannya hanya satu, tutup PT RUM,” tegasnya ketika ditemui Jurnalislam.com Kamis, (22/2/2018) malam.

Senada dengan hal itu, salah satu warga asal desa Celep Prasetyo menjelaskan, bahwa warga hanya ingin dapat kembali menghirup udara bebas sebagaimana dulu.

Pasalnya, setelah berdirinya PT RUM tersebut, limbah bau yang dihasilkan membuat warga sekitar mengalami muntah, pusing, mual dan bahkan pingsan.

“Kami hanya ingin dapat bernafas dengan bebas dan sehat tanpa terganggu oleh gas limbah bau dari PT RUM,” ungkapnya.

Menurut keterangan yang didapatkan Jurnalislam.com, Bupati Suloharjo Wardoyo akan menandatangani Surat Keputusan (SK) pencabutan ijin PT RUM pada Jum’at (23/2/2018) pagi.

 

Kontributor : Nurdin

Kecewa Dengan Sikap Bupati, Warga Nguter Blokade Akses Menuju PT RUM

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Usai melakukan aksi demontrasi di depan Kantor Setda Bupati Sukoharjo, massa terdampak limbah bau dari PT Rayon Utama Makmur (RUM) melanjutkan aksinya di depan PT RUM, Nguter, Sukoharjo, Kamis, (22/2/2018) sore.

Kali ini, massa yang menuntut Bupati Sukoharjo Wardoyo untuk segera mencabut ijin perusahaan Rayon tersebut, melakukan aksi memblokade akses masuk perusahaan dengan memarkir truk dan melakukan pembakaran ban.

Sebelumnya, massa yang kecewa dengan sikap bupati itu, juga sempat menurunkan bendera pabrik dan membakarnya. Salah satu korlap aksi, Ari Suwarno menjelaskan, bahwa warga hanya mengingingkan PT RUM tersebut tutup.

Bertahan sampai Malam, Warga : PT RUM Harus Ditutup

“Sampai PT RUM tutup, tujuannya yaitu blokade supaya bahan kimia itu tidak bisa masuk untuk stok,” kata Ari saat ditemui Jurnalislam.com di sela-sela aksi.

Dalam aksi itu, warga juga melakukan orasi di atas mobil komando, massa pun meneriakan kata “Tutup RUM,” bersama-sama. Aksi ini juga dijaga oleh aparat kepolisian dan TNI lebih dari 50 personil.

 

Kontributor : Nurdin

Bawa Pisau di Sekitar Masjid, Pria Diduga Gila Gegerkan Warga Banaran Sukoharjo

SUKOHARJO (Jurnalislam.com)- Teror penyerangan terhadap para ulama di sejumlah daerah di Indonesia membuat banyak masyarakat khawatir dan was-was. Kali ini, warga desa Ngenden, Banaran, Sukoharjo, digegerkan dengan datangnya orang yang tak dikenal yang mondar-mandir di sekitar masjid setempat pada senin, (19/2/2018) sore.

“Datang lelaki tak dikenal yang berpakaian rapi memakai tas slempang dan mondar-mandir di masjid Al-Hidayah, setelah ditanya oleh warga sekitar dia berpindah lokasi ke mushola Al-Falah, dia berhenti di warung wedangan depan mushola tersebut dan menampakkan gelagat yang mencurigakan (seperti mengawasi aktifitas di mushola-red),” kata Rendi Gunawan Ketua Forum Ukhuwah Pemuda Islam Banaran (FUPIBA).

“Setelah diamati oleh warga, akhirnya lelaki tersebut di datangi dan di tanya lagi oleh warga,” sambungnya.

Rendi melanjutkan, “Karena warga curiga, akhirnya salah satu warga membuka tas bawaan orang tak dikenal tersebut dan menemukan sekitar 50 kartu ponsel dan catatan plat nomer, 2 buku panduan doa untuk agama non muslim dan sebuah pisau,” ujarnya.

Lebih lanjut, menurut Rendi orang tersebut mengaku bernama Arman Tanjung asal Sidorejo, Bendosari, Sukoharjo dan beragama Islam. “Orang itu mengatakan bahwa ingin mencari keluarganya di salah satu pesantren, dirinya juga sempat menjelaskan bahwa ada 5 agama dalam dirinya,” ungkapnya.

Karena khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka Rendi bersama warga akhirnya mengubungi pihak aparat terdekat agar segera ditangani.

“Setelah di introgasi pihak aparat, hasil sementara oleh pihak polisi, orang tersebut terindikasi orang gila dan akhirnya dibawa ke tempat rehabilitasi di SINAI Sukoharjo,” tandasnya.

Maraknya kasus orang gila menyerang ulama juga membuat keprihatinan Rendi, untuk itu, ia menghimbau kepada umat Islam agar senantiasa meningkatkan kewaspadaan dan selalu menjaga dan mengawal para ulama.