Soal Ulama Diteror, Guru Besar Unair : Yang Mengatakan Gila Harusnya Psikiater, Bukan Polisi

24 Februari 2018
Soal Ulama Diteror, Guru Besar Unair : Yang Mengatakan Gila Harusnya Psikiater, Bukan Polisi

SURABAYA (Jurnalislam.com) – Maraknya kejadian penyerangan ulama dan perusakan tempat ibadah di Jawa Timur oleh terduga orang gila membuat masyarakat semakin waspada. Pihak kepolisian diminta berhati-hati  mengkhawatirkan. Pihak kepolisian pun diminta hati-hati untuk tidak asal mengatakan orang gila. Pasalnya, yang mempunyai otoritas tersebut adalah psikiater.

Hal ini diungkapkan guru besar di bidang Ilmu Politik Universitas Airlangga (Unair) Prof .Kacung Marijan. “Ini harus ada pemetaan yang jelas. Siapa sebetulnya yang terlibat dalam penyerangan, apakah betul meraka orang gila,” katanya saat ditemui di Surabaya, Kamis (22/2/2018).

Pria yang juga sebagai Wakil Rektor I Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menyebutkan bahwa kalau memang betul orang gila itu seperti apa. Prof. Kacung menilai bahwa pihak kepolisian terlalu cepat menyebutkan pelakunya adalah orang gila.

“Jangan belum-belum sudah mengatakan orang gila. Publik sekarang ini kan kritis, orang gila kok yang menentukan polisi. Polisi kan tidak punya kompetensi menentukan itu orang gila apa tidak,” ujarnya. Harusnya, lanjut Kacung, yang mempunyai otoritas adalah psikiater. “Makanya sekarang mulai hati-hati polisi dalam mengeluarkan pernyataannya,” imbuhnya.

Selain itu, Kacung melanjutkan, jika memang pelaku adalah orang gila juga perlu diselidiki lebih dalam. Apakah kemauan orang gila sendiri atau ada yang menyuruh.

“Kan, ada orang gila yang bisa disuruh juga. Kasus di Ploso, Kediri itu kalau tidak asalnya bukan dari situ. Masak orang gila dari Situbondo terus tiba-tiba ke Ploso,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Kacung meminta kepada pihak kepolisian untuk melakukan investigasi terkait pola penyerangannya seperti apa.

“Mereka gila itu datang kesitu atas kemauan diri sendiri atau ada yang menyuruh. Kalau ada ini siapa. Ini tugas polisi,” pungkasnya.