Pemimpin Politik Tertinggi Pemberontak Syiah Houthi Yaman Tewas

YAMAN (Jurnalislam.com) – Pemimpin politik pemberontak Syiah Houthi Yaman telah tewas dalam serangan udara yang dipimpin Saudi di provinsi Hudaida, kata kelompok itu.

Jaringan TV Al-Masirah yang dikelola Houthi melaporkan pada hari Senin (23/4/2018) bahwa Saleh al-Sammad, presiden Dewan Politik Tertinggi yang menjalankan ibukota Yaman, Sanaa, dan daerah-daerah yang dikuasai pemberontak lainnya, terbunuh pada hari Kamis.

Kelompok itu mengatakan telah memilih Mahdi al-Mashat sebagai penerus Sammad.

Dalam pidato yang disiarkan televisi Senin malam, pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, mengatakan bahwa, secara keseluruhan, tujuh orang tewas dalam serangan udara hari Kamis.

“Kejahatan ini tidak akan merusak kehendak rakyat dan negara kita … [dan] tidak akan berlalu tanpa pertanggungjawaban,” tambahnya.

“Kekuatan agresi yang dipimpin oleh Washington dan rezim Saudi secara hukum bertanggung jawab atas kejahatan semacam itu dan semua implikasinya,” pungkasnya.

Begini Laporan PBB Tentang Pelanggaran HAM Koalisi Arab dan Houthi dalam Perang Yaman

Tidak ada komentar langsung dari koalisi pimpinan Saudi.

Syiah Houthi yang berbasis di barat laut Yaman, menyerbu banyak wilayah, termasuk Sanaa, pada tahun 2014, memuntahkan kemarahan terhadap pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.

Pada bulan Maret 2015, sebuah koalisi negara-negara Arab yang dibentuk oleh Arab Saudi meluncurkan operasi pemboman besar-besaran untuk menggulingkan kemajuan para pemberontak.

Sejak itu, Saudi telah melakukan lebih dari 16.000 serangan udara, yang mengakibatkan korban sipil massal yang menargetkan acara pernikahan, rumah sakit dan acara pemakaman. Amerika Serikat membantu koalisi dengan dukungan persenjataan dan logistik.

Pada hari Ahad, dua serangan udara koalisi pimpinan Saudi menewaskan sedikitnya 20 orang dan melukai puluhan orang di Yaman barat laut, menurut warga dan personil medis.

Sebagian besar korban tewas adalah wanita dan anak-anak yang sedang berkumpul di tenda dalam acara pesta pernikahan di distrik Bani Qays Hajjah, seorang pejabat medis mengatakan kepada Al Jazeera.

Serangan Udara Koalisi Arab Hantam Tenda Pernikahan, 20 Tewas

Hakim Almasmari, pemimpin redaksi the Yemen Post, mengatakan kematian al-Sammad adalah perkembangan yang “sangat signifikan.”

“Dia adalah presiden yang bertindak di daerah-daerah yang dikuasai Houthi di Yaman, jadi ini dianggap sebagai pukulan terbesar bagi Houthi, secara politik, sejak perang dimulai,” katanya kepada Al Jazeera.

Almasmari mencatat bahwa lokasi kejadian itu juga penting.

“Hudaida dianggap sebagai tempat paling aman untuk Houthi, di mana mereka menempatkan semua agen intel mereka,” katanya.

“Ini adalah pukulan besar bagi Houthi, juga bagi keamanan,” tambahnya.

Sudah 3 Tahun Konflik, Berikut Sejumlah Fakta Kunci Perang di Yaman

“Sudah bukan rahasia lagi bahwa Hudeida jauh lebih aman daripada Sanaa, jadi jika dia tewas di Hudeidah, dengan semua langkah keamanan ekstrim yang mereka tempatkan di sana, [menimbulkan pertanyaan] apakah ada penyusup di internal provinsi Hudeida itu sendiri atau dalam aparat intelijen pada umumnya.”

Almasmari juga mengatakan tidak mengherankan bahwa al-Sammad telah digantikan oleh al-Mashat, yang ia gambarkan sebagai “tokoh yang sangat berpengaruh di sekte Syiah Houthi.

Penasihat Keamanan AS yang Baru, Bekas Pemimpin Lembaga Think Tank Anti Islam

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Penasihat keamanan nasional Presiden Donald Trump yang baru diangkat sebelumnya adalah pemimpin sebuah lembaga think tank yang bermarkas di New York, yang membuat “berita-berita anti-Muslim yang menyesatkan dan salah,” menurut sebuah laporan berita yang diterbitkan Senin (23/4/2018).

John Bolton memimpin Gatestone Institute dari 2013 hingga ia mendapat posisi di Gedung Putih pada awal bulan ini, NBC News melaporkan, lansir Anadolu Agency.

Pada halaman beranda situs webnya, institut tersebut telah menempatkan artikel dengan judul seperti “Belgia: Negara Islam Pertama di Eropa?”, Dan “Inggris: ‘Buku Pegangan Guru’ yang Mendukung Ekstremisme?”

Kini Proyek Politik Eropa-AS Gambarkan Muslim Seperti Iblis

Kelompok ini menggambarkan dirinya sebagai “dewan kebijakan dan think tank internasional non-partisan dan non-profit” yang didedikasikan untuk “mendidik masyarakat tentang apa yang gagal dilaporkan oleh media mainstream.”

Namun, Ibrahim Hooper, seorang juru bicara Dewan Hubungan Muslim Amerika-Islam (the Council on American-Islamic Relations-CAIR), sebuah kelompok advokasi Muslim, mengatakan kepada NBC bahwa Gatestone Institute adalah “bagian penting dari seluruh industri Islamophobia di internet.”

Muslim di Inggris jadi Target Serangan Islamophobia Media Cetak

Hubungan Bolton dengan Gatestone “sangat mengganggu” terutama mengingat perannya sekarang yang menonjol di Gedung Putih, Hooper menambahkan.

NBC mengutip kelompok itu sebagai salah satu sumber utama artikel yang menuduhkan tentang “zona terlarang (no-go zones)” yang dikendalikan oleh Muslim di Eropa, yang dikutip oleh Senator Ted Cruz selama kegagalannya menjalankan Gedung Putih 2016, dan oleh mantan Gubernur Louisiana, Bobby Jindal pada 2015.

KTT Muslim Dunia: Islamophobia adalah Kejahatan Kemanusiaan

Selain itu, NBC juga menemukan empat kasus di mana berita troll media sosial Rusia di-retweet dari akun Twitter milik Gatestone. Troll adalah postingan online yang secara sengaja dibuat secara tidak menyenangkan atau provokatif dengan tujuan membuat seseorang marah atau memunculkan respons marah.

Semua berita troll itu dibuat untuk Internet Research Agency yang terkait dengan pemerintah Rusia, yang telah dijatuhi sanksi oleh pemerintah AS setelah didakwa oleh grand jury karena diduga ikut campur dalam pertarungan menuju Gedung Putih tahun 2016.

“Dalam memunculkan berita anti-Muslim, Gatestone memiliki tujuan yang sama dengan upaya disinformasi Rusia yang lebih luas yang berusaha untuk menggambarkan masyarakat Barat menghadapi resiko ‘islamisasi’,” NBC melaporkan.

Serangan Udara Koalisi Arab Hantam Tenda Pernikahan, 20 Tewas

YAMAN (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 20 orang tewas dalam dua serangan udara koalisi pimpinan Saudi di barat laut Yaman, penduduk dan personil medis mengatakan kepada Al Jazeera, Senin (23/4/2018).

Sebagian besar korban tewas adalah wanita dan anak-anak yang berkumpul di tenda yang disiapkan untuk pesta pernikahan di distrik Bani Qays Hajjah pada hari Ahad (22/4/2018), seorang pejabat medis mengatakan kepada Al Jazeera.

Sedikitnya 46 orang terluka dalam serangan itu, 30 di antaranya anak-anak, pejabat itu menambahkan.

Diam-diam Arab Saudi Lakukan Ini dengan Pemberontak Syiah Houthi

Rekaman video seorang bocah yang selamat dari serangan itu menyebar melalui media sosial, menunjukkan si anak menempel pada tubuh yang tampaknya adalah ayahnya yang telah meninggal.

Anak itu menolak untuk meninggalkan laki-laki tersebut.

Koalisi pimpinan Saudi mengatakan akan menyelidiki insiden itu.

“Kami menanggapi laporan ini dengan sangat serius dan akan diselidiki sepenuhnya sebagaimana semua laporan lain yang serupa,” kata seorang juru bicara koalisi.

Koalisi Arab campur tangan dalam perang Yaman pada tahun 2015 terhadap pemberontak Syiah Houthi yang menggulingkan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi yang diakui secara internasional.

Komandan Syiah Houthi Tewas Mengenaskan dalam Pertempuran dengan Saudi

Pemberontak Syiah Houthi menguasai ibukota, Sanaa.

Serangan udara koalisi Saudi berulang kali menyerang sasaran sipil ketika mencoba menargetkan pasukan Houthi selama perang tiga tahun. Koalisi mengatakan mereka tidak menargetkan warga sipil.

Pada 28 September 2015, serangan udara koalisi menewaskan 131 orang yang menghadiri pernikahan di desa Laut Merah al-Wahjiah, dekat pelabuhan kuno al-Mokha.

Pada 7 Oktober 2015, serangan udara lainnya menewaskan 43 orang di sebuah pesta pernikahan di desa Sanaban di Dhammar governorate di Yaman.

Koalisi membantah memiliki peran dalam kedua kasus tersebut.

Polisi Malaysia Rilis Sketsa Wajah Pembunuh Ilmuan Palestina

KUALA LUMPUR (Jurnalislam.com) – Polisi Malaysia telah merilis beberapa sketsa wajah dari dua orang yang diduga membunuh seorang Ilmuan Palestina yang juga anggota Hamas di Kuala Lumpur.

Dua pria dengan sepeda motor menembakkan sedikitnya 14 tembakan ke arah Fadi al-Batsh, seorang dosen teknik, di Kuala Lumpur pada hari Sabtu (22/4/2018), yang seketika membunuhnya di tempat.

Peringatan untuk para tersangka telah dikeluarkan di semua titik jalan keluar negara itu, kata polisi pada hari Senin.

Ilmuwan Palestina Ditembak Mati Intelijen Zionis di Malaysia

Hamas, kelompok pejuang Islam Palestina yang memerintah Jalur Gaza, menuduh agen mata-mata Israel Mossad membunuh al-Batsh. Israel menolak tuduhan itu.

Foto-foto para tersangka yang dihasilkan oleh komputer didasarkan pada deskripsi oleh para saksi, kepala polisi Mohamad Fuzi Bin Harun mengatakan kepada wartawan.

Foto-foto tersebut menunjukkan dua tersangka berkulit terang yang kemungkinan warga Eropa atau Timur Tengah. Kedua pria itu memiliki tinggi badan sekitar 180cm dan berbadan tegap, kata kepala polisi, menurut rekaman komentarnya yang didengar oleh kantor berita Reuters.

Kedua tersangka berada di motor bertenaga tinggi berwarna gelap yang tampaknya adalah BMW atau Kawasaki. Keduanya membawa ransel dan memakai jaket dan helm gelap.

Foto-foto itu menunjukkan seorang tersangka mengenakan helm dan kacamata.

Pemeriksaan forensik menemukan bahwa korban meninggal karena banyak luka di kepala dan tubuhnya.

“Kami akan mengirimkan beberapa peluru yang dikumpulkan ke ahli analisis kami untuk menentukan jenis senjata apa yang digunakan dalam pembunuhan keji ini,” kata Mohamad Fuzi. Dia mengatakan mereka tidak yakin apakah orang-orang itu masih berada di Malaysia.

“Kami tidak bisa menutup pintu keluar kami dan kami tidak memiliki informasi lain selain dari photofit,” katanya, lansir Aljazeera.

Wakil Perdana Menteri Ahmad Zahid Hamidi mengatakan pada hari Sabtu bahwa para tersangka diyakini orang Eropa yang memiliki hubungan dengan agen intelijen asing.

Begini Cara Mossad Menghabisi Ilmuan-ilmuan Islam

Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman berkelit, menepis klaim peran Mossad dalam pembunuhan itu dan menyatakan bahwa al-Batsh tewas sebagai bagian dari perselisihan internal Palestina.

Keluarga Al-Batsh telah meminta agar mayatnya dimakamkan di Gaza.

Mossad telah dilaporkan melakukan beberapa pembunuhan besar-besaran yang melibatkan warga Palestina di seluruh dunia, meskipun Israel secara konsisten membantah tuduhan tersebut.

Agen mata-mata zionis itu juga mengeksekusi pembunuhan komandan militer Hamas Mahmoud al-Mabhouh di kamar hotelnya di Dubai pada tahun 2010. Pada 2016, Hamas menyalahkan Mossad atas pembunuhan seorang warga Tunisia yang digambarkan sebagai salah satu ahli drone hamas.

Tahrir Saeed 18 Tahun, Syuhada Ke-41 Palestina dalam Aksi Anti Israel

GAZA (Jurnalislam.com) – Seorang pemuda Palestina pada hari Senin (23/4/2018) meninggal akibat luka yang dideritanya oleh tembakan pasukan penjajah Israel selama aksi anti-penjajahan di perbatasan Jalur Gaza, menurut kementerian kesehatan.

Pemuda itu adalah warga Palestina ke-41 sebagai martir. Ratusan lainnya terluka oleh tembakan Israel sejak protes dimulai pada 30 Maret.

Pekan Keempat Aksi Great Return March, Tiga Orang Tertembak

“Tahrir Saeed, 18 tahun, dari Khan Younis, selatan Jalur Gaza, meninggal karena luka di kep

alanya pada hari Senin,” kata juru bicara kementerian Ashraf al-Qidra dalam sebuah pernyataan, lansir Anadolu Agency.

Unjuk rasa itu merupakan bagian dari protes enam pekan yang puncaknya akan diselenggarakan pada tanggal 15 Mei. Hari itu akan menandai ulang tahun ke-70 pendirian Israel – sebuah peristiwa yang oleh warga Palestina disebut sebagai “Nakba” atau “Malapetaka.”

Sudah 28 Warga Palestina Gugur Diterjang Peluru Israel dalam Aksi Protes 2 Pekan

Demonstran menuntut agar para pengungsi Palestina diberi “hak untuk kembali” ke kota-kota dan desa-desa mereka di Palestina yang bersejarah dari mana mereka diusir untuk memberi jalan bagi negara baru Israel pada tahun 1948.

Begini Cara Mossad Menghabisi Ilmuan-ilmuan Islam

MALAYSIA (Jurnalislam.com) – Pembunuhan seorang ilmuwan Palestina berusia 35 tahun, Fadi al-Batsh di ibukota Malaysia, Kuala Lumpur, telah membuka tabir program pembunuhan rahasia yang ditargetkan terhadap warga Palestina yang dianggap sebagai ancaman besar oleh Israel.

Al-Batsh mempelajari teknik elektro di Gaza sebelum melanjutkan untuk mendapatkan gelar PhD dalam bidang yang sama di Malaysia.

Dia mengkhususkan diri dalam sistem tenaga dan penghematan energi dan telah menerbitkan sejumlah makalah ilmiah tentang masalah ini.

Hamas yang berkuasa di Gaza mengatakan al-Batsh adalah anggota penting kelompok itu dan menuduh badan intelijen Israel Mossad berada di balik insiden hari Sabtu (21/4/2018).

Ilmuwan Palestina Ditembak Mati Intelijen Zionis di Malaysia

Hamas mengatakan al-Batsh adalah anggota setia dan merupakan seorang ilmuwan cendekiawan muda Palestina yang berpotensi dan memiliki kontribusi penting dan berpartisipasi dalam forum internasional di bidang energi.

Berbicara kepada Al Jazeera, ayah al-Batsh mengatakan dia mencurigai Mossad berada di belakang pembunuhan putranya dan mengajukan tuntutan ke pihak berwenang Malaysia untuk mengungkap plot “pembunuhan” sesegera mungkin.

Menurut wartawan investigasi Israel, Ronen Bergman, yang merupakan salah satu ahli terkemuka intelijen Israel dan penulis buku Rise and Kill First, pembunuhan al-Batsh menanggung semua keunggulan operasi Mossad.

“Fakta bahwa para pembunuh menggunakan sepeda motor untuk membunuh target mereka, yang banyak digunakan di operasi Mossad sebelumnya dan merupakan operasi pembunuhan yang bersih dan profesional di lokasi yang jauh dari Israel, menunjukkan keterlibatan Mossad,” Bergman mengatakan kepada Al Jazeera melalui telepon.

Intelijen Israel biasanya mengidentifikasi target pembunuhan melalui beberapa langkah institusional dan organisasional dalam internal Mossad, serta komunitas intelijen Israel yang lebih luas dan kepemimpinan politik.

Terkadang target diidentifikasi oleh layanan domestik dan militer Israel lainnya.

Intelijen Zionis, Mossad, Dalang Pembunuhan Ilmuan-ilmuan Islam di Dunia

Misalnya, al-Batsh diidentifikasi sebagai target melalui pengumpulan intelijen secara umum melalui unit-unit di dalam organisasi militer dan intelijen Israel yang membuntuti Hamas.

Al-Batsh juga bisa diidentifikasi melalui operasi intelijen Israel lainnya dan jaringan mata-mata Israel di seluruh dunia.

Sumber mengatakan kepada Al Jazeera bahwa komunikasi antara Hamas dengan Gaza, Istanbul (Turki) dan Beirut (Lebanon) diawasi ketat oleh jaringan intelijen Israel. Dengan demikian, pemilihan awal al-Batsh sebagai target bisa dilakukan melalui saluran-saluran ini.

Teman-teman al-Batsh yang berbicara dengan Al Jazeera dengan syarat anonimitas mengatakan dia tidak menyembunyikan hubungannya dengan Hamas.

“Dia dikenal dalam komunitas Palestina untuk hubungannya dengan Hamas,” kata seorang teman.

Setelah al-Batsh diidentifikasi sebagai target, Mossad kemudian akan mengevaluasi intelijen yang tersedia untuk memutuskan apakah dia harus dibunuh, apa manfaat membunuhnya dan cara terbaik untuk melakukannya.

Setelah unit khusus Mossad menyelesaikan arsipnya pada target, mereka membawa temuannya ke kepala Komite Layanan Intelijen, yang terdiri dari para pemimpin organisasi intelijen Israel dan dikenal dengan akronim Ibrani, VARASH, atau Vaadan Rashei Ha-sherutim.

VARASH hanya akan membahas operasi dan memberikan masukan serta saran.

Namun, ia tidak memiliki otoritas hukum untuk menyetujui suatu operasi.

Hanya perdana menteri Israel yang memiliki wewenang untuk menyetujui operasi semacam itu.

Para Petinggi Mossad

Bergman mengatakan bahwa perdana menteri Israel biasanya memilih untuk tidak mengambil keputusan itu sendiri karena alasan politik.

“Seringkali perdana menteri akan melibatkan satu atau dua menteri lain, yang seringkali termasuk menteri pertahanan, dalam keputusan untuk menyetujui operasi,” kata Bergman.

Setelah persetujuan diperoleh, rencana operasi kemudian dibawa kembali ke Mossad untuk persiapan dan pelaksanaan, yang bisa memakan waktu berpekan-pekan, berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, tergantung pada target.

Caesarea atau Kaisarea adalah cabang operasi rahasia di Mossad yang bertugas menempatkan dan menjalankan mata-mata terutama di negara-negara Arab dan di seluruh dunia.

Unit ini didirikan pada awal 1970-an, dan salah satu pendirinya adalah mata-mata Israel yang terkenal, Mike Harari.

Caesarea memanfaatkan jaringan mata-mata di negara-negara Arab dan Timur Tengah yang lebih luas untuk mengumpulkan informasi dan melakukan pengawasan terhadap target saat ini dan masa depan.

Harari kemudian mendirikan unit yang paling mematikan di Caesarea, yang dikenal dalam bahasa Ibrani sebagai Kidon (“bayonet”), yang terdiri dari pembunuh profesional yang mengkhususkan diri dalam operasi pembunuhan dan sabotase.

Anggota Kidon sering diambil dari cabang militer Israel termasuk tentara atau pasukan khusus.

Yang membunuh al-Batsh di Kuala Lumpur mungkin anggota Kidon; sumber mengatakan kepada Al Jazeera.

Mossad tidak hanya menargetkan para pemimpin dan operator Palestina tetapi juga warga Suriah, Lebanon, Iran dan Eropa.

Caesarea setara dengan Pusat Kegiatan Khusus CIA (Special Activities Center-SAC), yang dulu disebut Divisi Kegiatan Khusus (Special Activities Division), sebelum reorganisasi dan perubahan nama pada tahun 2016.

PM Palestina Luput dari Serangan Bom Israel saat Berkunjung ke Hamas

CIA melakukan misi paramiliter rahasia – termasuk operasi pembunuhan yang ditargetkan – melalui Special Operation Group (SOG), yang merupakan bagian dari SAC dan memiliki beberapa kesamaan dengan Kidon milik Mossad.

Bergman menulis bahwa, hingga tahun 2000, yang menandai dimulainya Intifada kedua di wilayah Palestina yang diduduki, Israel telah melakukan lebih dari 500 operasi pembunuhan yang mengakibatkan kematian lebih dari 1.000 orang, termasuk target dan masyarakat yang melihat ketika eksekusi dilakukan.

Selama Intifada Kedua, Israel melakukan 1.000 operasi lagi, di mana 168 operasi dinilai berhasil, tulisnya dalam bukunya.

Sejak itu, Israel telah melakukan sedikitnya 800 operasi lainnya yang ditujukan untuk membunuh para ilmuan, pemimpin sipil dan militer Hamas di Jalur Gaza dan di luar negeri.

Peduli Palestina Asal Swedia Ini, Tiba di Ibukota Turki dengan Jalan Kaki

ANKARA (Jurnalislam.com) – Seorang aktivis muda Swedia yang telah berjalan kaki dari Swedia ke Palestina dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran atas pelanggaran hak asasi manusia di wilayah penjajahan Israel kini telah mencapai ibukota Turki, Ankara, pada hari Ahad (21/4/2018).

Benjamin Ladraa, 25, melakukan perjalanan melintasi Jerman, Austria, Slovenia, Kroasia, Serbia, dan Bulgaria sebelum sampai ke Turki. Rencananya adalah terus berjalan kaki melewati Suriah, Yordania, dan Lebanon untuk mencapai Palestina.

Di distrik Kizilcahamam dekat Ankara, Ladraa bertemu dengan perwakilan dari dua organisasi non-pemerintah (LSM).

Peduli HAM, Pemuda Swedia Ini Berjalan Kaki ke Palestina

Mengenakan sepatu kulit selama lebih dari sembilan bulan di sepanjang jalan, ia memutuskan untuk menyebarkan pesan tentang situasi di Palestina pada negara-negara yang dilewatinya, Ladraa mengatakan kepada Anadolu Agency.

“Jika saya tidak bisa masuk ke Palestina, saya akan mencoba memberi tahu melalui media tentang hal itu,” tambahnya.

Dia memposting foto-foto dan kisah perjalanannya di media sosial untuk menarik perhatian masyarakat tentang penjajahan Israel di Palestina dan memotivasi lebih banyak orang untuk berkampanye agar terjadi perubahan disana, tambahnya.

Turki Kritik Laporan HAM Amerika

ANKARA (Jurnalislam.com) – Turki pada hari Ahad (21/4/2018) mengkritik Laporan Hak Asasi Manusia Departemen Luar Negeri AS karena mengistimewakan pandangan dari sumber-sumber yang terkait dengan kelompok teror dan mengabaikan fakta-fakta.

Turki “sangat kecewa” dengan laporan itu, Kementerian Luar Negeri mengatakan dalam sebuah pernyataan mengenai laporan tahunan, yang dirilis pada hari Jumat (20/4/2018) tersebut.

“Laporan ini didasarkan pada pemahaman tanggung jawab yang jauh dengan menghadirkan tuduhan dan klaim dari lingkaran kelompok yang terkait teroris,” tambahnya.

Laporan “dipenuhi dengan tuduhan dan klaim di bagian yang merujuk negara kami yang tidak dapat diterima,” kata kementerian.

“Selain itu, kami menyarankan negara-negara yang menuduhkan tidak adil terhadap negara kami sebaiknya terlebih dahulu menghentikan pelanggaran hak asasi manusia yang sistematis terhadap warga mereka sendiri,” kata pernyataan kementerian tersebut, lansir Anadolu Agency.

Liga Arab Serukan Ankara Hentikan Operasi Militer di Suriah, Begini Kata Turki

Ia menekankan bahwa terlepas dari perjuangan yang intens melawan ancaman teror yang serius dan multifaset, Turki melanjutkan komitmennya pada prinsip-prinsip demokrasi, hak asasi manusia dan supremasi hukum.

Ia menambahkan bahwa laporan itu menggambarkan langkah Turki sebagai bagian dari perjuangannya yang adil dan sah terhadap kelompok-kelompok teror seperti, YPG/PKK, Organisasi Teror Fetullah (FETO), Islamic State (IS), dan DHKP-C dengan cara yang bias yang tidak sesuai dengan fakta-fakta.

Pernyataan itu mengatakan laporan tahunan tersebut mengabaikan perjuangan Turki melawan “kelompok teror radikal FETO” atau Organisasi Teror Fetullah, kelompok di balik upaya kudeta 2016 yang kandas, seraya menambahkan:

“Bukan suatu kebetulan bahwa laporan semacam itu, yang mengulangi perkataan kelompok-kelompok terkait teror dan menggambarkan perang melawan terorisme sebagai” konflik internal” ditulis di sebuah negara di mana pemimpin biro FETO tinggal.”

PM Turki: Pertempuran AS dan Rusia Seperti Geng Jalanan

FETO dan pemimpinnya di AS, Fetullah Gulen mengatur kudeta yang berhasil dikalahkan Turki pada 15 Juli 2016, yang menewaskan 250 orang dan melukai hampir 2.200 orang.

Turki mengeluhkan Washington gagal bertindak atas permintaan ekstradisi untuk Gulen, yang tinggal di Pennsylvania.

Ia menambahkan bahwa perjuangan Turki melawan terorisme akan berlangsung dengan pasti, dan upaya untuk memperkuat hak-hak dasar dan kebebasan akan terus berjalan tanpa henti.

Tim Penyelidik Senjata Kimia Dunia Berhasil Ambil Sampel di Douma

ANKARA (Jurnalislam.com) – Tim pengawas senjata kimia global pada hari Sabtu (21/4/2018) akhirnya tiba di wilayah Douma Suriah untuk menyelidiki dugaan serangan kimia oleh rezim Syiah Bashar al-Assad.

Dalam sebuah pernyataan, Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (the Organisation for the Prohibition of Chemical Weapon-OPCW) mengatakan misi pencari fakta mereka mengunjungi salah satu lokasi di Douma “demi mengumpulkan sampel untuk dianalisa sehubungan dengan laporan penggunaan senjata kimia pada 7 April 2018.”

Menhan AS: Amerika akan Lanjutkan Operasi Militer Jika Assad

Sampel yang dikumpulkan akan dianalisis di laboratorium OPCW, kemudian dilaporkan berdasarkan hasil dan informasi lain serta materi yang dikumpulkan oleh tim.

Laporan ini akan diserahkan kepada negara-negara anggota Konvensi Senjata Kimia (the Chemical Weapons Convention) untuk pertimbangan mereka.

Kemungkinan akan ada kunjungan kedua ke Douma, kata pengawas itu.

Pasukan rezim Syiah Assad menyerang target di pinggiran Damaskus awal bulan ini, dilaporkan menggunakan gas beracun yang menyebabkan sedikitnya 78 warga sipil tewas, menurut White Helmets, sebuah badan pertahanan sipil lokal.

Pasukan Saudi Tembak Jatuh Pesawat Tanpa Awak di Dekat Istana, Ternyata Cuma Ini

RIYADH (Jurnalislam.com) – Pasukan Saudi menembak jatuh pesawat tanpa awak di dekat istana kerajaan di ibukota, Riyadh, melihat video yang diposting online yang konon menunjukkan daerah itu bergetar akibat tembakan berat.

Juru bicara resmi polisi Riyadh mengatakan pada hari Sabtu (21/04/2018) bahwa pasukan keamanan “berurusan dengan” sebuah mainan bertipe drone ilegal, setelah ditemukan di sebuah titik keamanan di daerah Khuzama, kantor berita SPA yang dikelola negara mengatakan.

Investigasi atas insiden yang terjadi pada pukul 7:50 malam (16:50 GMT) itu sedang berlangsung, tambah SPA.

Tidak ada informasi segera tentang korban cedera atau kerusakan apa pun.

Obama: 116 Warga Sipil Tewas Oleh Serangan Drone, HAM: 1100 Tewas

Rekaman yang dibagikan di media sosial muncul untuk menunjukkan penembakan berat yang berlangsung sedikitnya 30 detik, memicu spekulasi kerusuhan politik.

Al Jazeera tidak dapat memverifikasi keaslian video secara independen.

Seorang pejabat senior Saudi yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa Raja Salman dari Arab Saudi tidak berada di istananya pada saat kejadian.

“Raja ada di ladangnya di Diriya,” kata pejabat itu, menyebut daerah lain di Riyadh.

Putra Amir Taliban Pakistan Gugur dalam Serangan Drone AS di Kunar

Pada Oktober 2017, seorang pria bersenjata melaju ke gerbang istana raja di kota Laut Merah Jeddah dan melepaskan tembakan, menewaskan sedikitnya dua penjaga keamanan dan melukai tiga lainnya sebelum akhirnya ditembak mati.

Penyerang, yang diidentifikasi oleh kementerian dalam negeri sebagai Mansour al-Amri, seorang warga negara Saudi berusia 28 tahun, dipersenjatai dengan senapan Kalashnikov dan tiga bom Molotov.