Korban Kebakaran Yunani Meningkat 81 Orang Tewas dan 164 Hilang

ATHENA (Jurnalislam.com) – Korban tewas akibat kebakaran hutan Senin (23/7/2018) di pantai timur dan barat wilayah Attica Yunani telah meningkat menjadi 81, menurut Departemen Pemadam Kebakaran Rabu (25/7/2018).

Korban meningkat dari 76 menjadi 81 ketika satu orang korban menyerah pada luka-lukanya di rumah sakit sementara empat mayat lainnya ditemukan di sekitar wilayah tersebut.

Pada Selasa malam, juru bicara Departemen Pemadam Kebakaran Stavroula Mallire mengatakan kebakaran hutan telah melukai 164 orang, termasuk sedikitnya 23 anak-anak, sementara lebih dari 100 orang masih hilang, lansir Anadolu Agency.

Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras telah mengumumkan periode berkabung nasional tiga hari.

“Negara ini sedang mengalami tragedi yang tak terkatakan,” kata Perdana Menteri Alexis Tsipras di sebuah pidato televisi pada hari Selasa.

Kebakaran Yunani: Ribuan Rumah Hangus, Ratusan Mobil Hancur, 76 Tewas dan 100 Hilang

“Hari ini, Yunani sedang berduka dan kami menyatakan tiga hari berkabung nasional untuk mengenang mereka yang tewas,” tambahnya.

Yunani berduka atas nyawa yang hilang, dengan bendera di parlemen dikibarkan setengah tiang.

Berbicara kepada saluran TV lokal SKAI, Rafina-Pikermi Walikota Evangelos Bournos pada hari Selasa mengatakan mengkhawatirkan jumlah korban tewas bisa mencapai 100.

Juga, lebih dari 1.000 rumah hancur, sementara ratusan mobil hangus karena kebakaran di Mati.

Menurut Departemen Pemadam Kebakaran, 47 kebakaran terjadi di negara itu selama 24 jam terakhir; 15 kebakaran terjasi di sekitar Athena.

Wilayah pesisir di sisi barat Attica, Kineta – sekitar 54 kilometer (34 mil) barat Athena – dievakuasi ketika kebakaran terjadi Senin sore di hutan di Pegunungan Geraneia yang mengelilingi daerah itu.

Api di wilayah Kineta belum dapat dikendalikan.

Beberapa korban jatuh ketika orang terjebak di rumah atau kendaraan mereka, atau ketika mereka tenggelam di laut ketika mencoba melarikan diri dari api.

Lebih dari 700 orang yang selamat dari api dan mencapai pantai diangkut ke daerah aman oleh tim penjaga pantai dan perahu pribadi.

Artileri Israel Targetkan 7 Pos Militer Afiliasi Hamas

GAZA (Jurnalislam.com) – Sedikitnya tiga warga Palestina menjadi martir sementara yang lainnya terluka parah pada Rabu (25/7/2018) malam dalam serangan artileri Israel di Jalur Gaza, menurut Kementerian Kesehatan Palestina, lansir Anadolu Agency.

Dalam sebuah pernyataan oleh kementerian, kemartiran ketiga orang Palestina itu terjadi ketika sekelompok pemuda Palestina menjadi sasaran di kota Gaza.

Menurut pernyataan militer zionis, pasukan itu menargetkan tujuh titik pemantauan militer yang berafiliasi dengan gerakan perlawanan Islam Palestina (Hamas).

Ribuan Pemukim Ilegal Zionis Yahudi Serbu Masjid Al Aqsha

Surat kabar Israel Yediot Ahronot dan Channel 10 melaporkan bahwa seorang tentara Israel terluka dalam baku tembak di pagar keamanan Gaza-Israel.

Tidak ada pernyataan resmi dari militer Israel yang dikeluarkan sejauh ini atas cedera tentara Israel yang dilaporkan sampai 1750 GMT.

Zionis Luncurkan Serangan Udara Terbesar setelah Puluhan Roket Hamas Hantam Israel

Bahas Suriah dan Iran Situasi Terkini, PM Zionis Temui Menlu Rusia

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Perdana Menteri zionis Benjamin Netanyahu bertemu Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Senin (23/07/2018) malam untuk membahas perkembangan terbaru mengenai Suriah dan Iran, menurut harian Israel Haaretz, lansir World Bulletin Selasa (24/7/2018).

Kepala Staf Militer Rusia Valery Vasilyevich Gerasimov juga akan menghadiri diskusi.

Berbicara pada pertemuan kabinet pekanan, Netanyahu mengatakan pertemuan hari Senin tersebut diadakan atas permintaan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Netanyahu mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pembicaraan itu akan menangani “masalah regional – pertama dan terutama, situasi di Suriah”.

Israel Siaga Satu, Pertempuran Sengit Meletus Dekat Dataran Tinggi Golan

Pertemuan Senin malam itu terjadi satu hari setelah pesawat tempur Israel dilaporkan menyerang instalasi militer di provinsi Hama di pusat-barat Suriah.

Israel sering menuduh Teheran mengeksploitasi konflik yang sedang berlangsung di Suriah – di mana Iran mendukung rezim Syiah Assad yang berkuasa – untuk membangun kehadiran militer permanen di dekat perbatasan Israel.

Walaupun Rusia juga mendukung rezim Syiah Suriah, mereka tetap berkomunikasi erat dengan para pejabat militer zionis Yahudi untuk menghindari bentrokan yang mungkin terjadi.

Baru Dipuji Jenderal AS Tentang Kemampuan Militer Afghanistan, Taliban Rebut 2 Distrik di Paktika

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com)Imarah Islam Afghanistan (Taliban) menyerbu pusat distrik Omna dan Gayan di provinsi timur Paktika hari Selasa (24/7/2018) setelah beberapa hari pertempuran sengit. Pengambilalihan Taliban atas dua distrik tersebut terjadi ketika jenderal AS berusaha untuk memantapkan kemampuan militer Afghanistan.

“Setelah hampir dua hari pertempuran sengit, Taliban merebut kedua pusat distrik,” seorang anggota dewan provinsi Paktika mengatakan kepada Reuters. Sejumlah personel militer Afghanistan tewas, kata anggota dewan itu, lansir Long War Journal.

Taliban menegaskan bahwa mereka menguasai Gayan. Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan di situs resminya, Voice of Jihad, Taliban mengatakan bahwa pihaknya mencegah pasukan militer mencapai pusat distrik yang terkepung selama lima hari dan personil Afghanistan melarikan diri karena kurangnya bantuan.

17 Tahun Perang Gak Kelar-kelar, AS Akan Negosiasi Lansung dengan Taliban

“Dengan melarikan diri, distrik tersebut benar-benar berada di bawah kendali Mujahidin karena semua daerah lain di distrik itu sudah diambil alih oleh Mujahidin,” kata Taliban.

Distrik Omna dan Gayan telah diperebutkan selama setahun terakhir. Omna berpindah tangan antara Taliban dan pemerintah Afghanistan beberapa kali pada tahun 2017. Taliban menyerang Gayan pada September 2017 tetapi kehilangan kendali pusat distrik tak lama kemudian sekarang merebutnya kembali. Taliban menguasai sebagian besar wilayah di luar kedua pusat distrik.

Provinsi Paktika masih dalam perebutan. Dari 19 distrik, tiga dikuasai oleh Taliban, empat oleh pemerintah Afghanistan, dan 12 sisanya diperebutkan, menurut penelitian Long War Journal FDD yang sedang berlangsung.

Dikuasainya Gayan dan Omna terjadi hanya empat hari setelah Mayor Jenderal Angkatan Darat AS Andrew Poppas, wakil kepala staf operasi Resolute Support, memuji kehebatan militer Afghanistan sejak gencatan senjata sepihak pemerintah berakhir lebih dari tiga pekan lalu.

Pasukan militer Afghanistan, yang lebih banyak, lebih bersenjata, dan mendapat dukungan militer Amerika Serikat, tidak mampu melawan pasukan Taliban menyerang distrik Omna dan Gayan.

Para pejabat AS telah secara konsisten menyesatkan publik Amerika tentang situasi di lapangan di Afghanistan. Misalnya, pada pertengahan Mei, Juru Bicara Pentagon Dana White menggambarkan Taliban “putus asa” dan hanya mencapai “target lunak” selama operasinya. White juga mengatakan bahwa “Taliban tidak memiliki inisiatif,” namun faktanya Taliban sedang dalam proses menduduki beberapa distrik dan pangkalan militer, dan bahkan menguasai beberapa bagian Kota Farah, selama jangka waktu tersebut.

Taliban Tegaskan sebagai Wakil Rakyat Afghanistan yang Sah pada Forum Internasional

Poppas dan White tidak sendirian dalam meremehkan operasi ofensif Taliban dan berbohong tentang pasukan militer Afghanistan. Baru kemarin, Jenderal Joseph Votel, komandan Komando Sentral AS, mengatakan kepada wartawan bahwa “ada alasan untuk optimisme dan bukti bahwa strategi Asia Selatan kami berhasil” dan operasi militer mendorong Taliban untuk bernegosiasi.

Kenyataan yang sebenarnya adalah Taliban secara konsisten menyatakan tidak akan bernegosiasi dengan pemerintah Afghanistan, yang dianggapnya tidak sah dan tidak Islami.

Amerika Latih SDF Untuk Bantu Milisi YPG Kuasai Sisa-sisa Wilayah IS

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Milisi bentukan AS “Pasukan Pertahanan Suriah Utara (Northern Syrian Defense Forces)” – membantu kelompok teror YPG/PKK untuk mengamankan wilayah yang dibebaskan tetap di bawah kontrol AS setelah operasi militer di Suriah, seorang pejabat Perancis mengatakan pada hari Selasa (24/07/2018).

Berbicara pada konferensi pers melalui telekonferensi, Brigadir Jenderal Perancis Frederic Parisot, direktur operasi koalisi sipil-militer Operasi Inherent Resolve yang dipimpin AS, mengatakan kepada wartawan di Pentagon bahwa tujuan mereka adalah untuk mencegah kembalinya para milisi yang tersisa sebagai pasukan tempur.

“Dan untuk melakukan ini, di satu sisi kami melatih pasukan keamanan Irak yang benar-benar melakukan pekerjaan yang sangat baik di sana dan di sisi lain kami melatih Angkatan Pertahanan Suriah Utara yang sebenarnya juga melakukan pekerjaan yang baik,” kata Parisot.

Ketika ditanya oleh Anadolu Agency, Parisot menggambarkan Pasukan Pertahanan Suriah Utara sebagai SDF dan mengatakan tidak ada pasukan perbatasan dalam pelatihan itu.

“Mereka akan memiliki apa yang kami sebut ‘pasukan keamanan’,” kata Parisot. “Jelas itu sama di sisi Irak karena mereka perlu mengkonsolidasikan keuntungan yang mereka miliki di pihak militer setelah operasi militer.”

Laporan Terbaru: Kelompok Islamic State di Irak Telah Berakhir

Beberapa anggota koalisi telah mendukung PYD/YPG atas nama SDF – sebuah kelompok yang dianggap oleh Ankara sebagai cabang Suriah dari organisasi teror PKK.

PKK telah berperang selama 33 tahun melawan negara Turki hingga menewaskan puluhan ribu orang.

Menanggapi pertanyaan lain tentang sisa-sisa area yang dimiliki kelompok IS di Suriah, dia mengatakan bahwa kelompok itu menguasai sekitar 190 mil persegi, termasuk beberapa kota, di mana sekitar beberapa ratus milisi IS tetap ada.

“Luasnya sangat kecil. Ada beberapa kota di sana tetapi sisa garisnya cukup terbuka. Kami berharap bahwa pertempuran terakhir melawan sisa-sisa kelompok IS akan berjalan cepat,” tambahnya.

Perang Komentar Erdogan Vs PM Zionis Meletus Setelah Israel Berlakukan UU Ini

TURKI (Jurnalislam.com) – Pemimpin Turki dan Israel saling balas komentar penuh kemarahan, yang semakin memperkeruh hubungan bilateral kedua negara yang sudah tegang.

Perang kata-kata terakhir meletus setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengkritik hukum kontroversial yang diadopsi oleh parlemen Israel pekan lalu, yang mendefinisikan negara Palestina sebagai negara-bangsa (the nation-state) bagi orang-orang Yahudi.

Undang-undang tersebut memprovokasi kekhawatiran yang akan mengarah pada diskriminasi terang-terangan terhadap warga Palestina, karena menetapkan Ibrani sebagai bahasa nasional negara dan mendefinisikan pembentukan komunitas Yahudi sebagai kepentingan nasional, namun membatalkan bahasa Arab sebagai bahasa resmi.

“Langkah ini telah menunjukkan tanpa sedikit pun keraguan bahwa Israel adalah negara paling Zionis, fasis dan rasis di dunia,” kata Erdogan dalam pidato pada hari Selasa (24/7/2018) kepada anggota Partai Keadilan dan Pembangunan (AK), lansir Aljazeera.

“Tidak ada perbedaan antara obsesi Hitler [pemimpin Nazi Jerman Adolf] atas ras Aria dan pemahaman Israel bahwa tanah kuno ini hanya dimaksudkan hanya untuk orang Yahudi.

Turki Kecam Undang-undang Bangsa Yahudi Baru

“Semangat Hitler, yang membawa dunia ke malapetaka besar, telah menemukan kebangkitannya di antara beberapa pemimpin Israel,” tambahnya.

Menanggapi di Twitter, Perdana Menteri zionis Benjamin Netanyahu menuduh Erdogan “membantai warga Suriah dan Kurdi dan memenjarakan puluhan ribu warganya.”

“Fakta bahwa kaum “demokrat besar” Erdogan menyerang hukum nasional [Israel] adalah pujian terbesar.

“Turki di bawah Erdogan berada dalam kediktatoran gelap, sementara Israel secara cermat mempertahankan persamaan hak bagi semua warganya, sebelum dan sesudah hukum [nasional],” klaim Netanyahu.

Kecam Pembentukan Negara Zionis, Mantan PM Israel: Ini Pemerintah Nasionalis Gelap

Turki memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel pada tahun 2010 setelah 10 aktivis pro-Palestina Turki dibunuh oleh pasukan komando zionis yang menaiki armada kapal milik Turki yang berusaha mengirim bantuan dan menghancurkan blokade maritim Israel selama bertahun-tahun di Jalur Gaza.

Hubungan dipulihkan pada tahun 2016, tetapi memburuk lagi baru-baru ini ketika kedua negara masing-masing mengusir diplomat mereka pada Mei tahun ini dalam perselisihan mengenai pembunuhan oleh Israel atas warga Palestina di tengah protes massal di Jalur Gaza dekat pagar Israel (wilayah Palestina yang dijajah).

Selama hampir empat bulan, warga Palestina di Jalur Gaza telah memprotes di sepanjang pagar dengan Israel, menuntut hak mereka untuk kembali ke rumah dan tanah keluarga mereka sejak diusir 70 tahun yang lalu.

Sejak protes dimulai pada 30 Maret, pasukan penjajah Israel telah membunuh sedikitnya 140 warga Palestina di daerah kantong yang terkepung dan melukai lebih dari 16.000 orang, menurut pejabat kesehatan di Gaza.

Pada April, Erdogan mengecam keras Netanyahu atas komentarnya yang menargetkan operasi militer Turki yang sedang berlangsung di wilayah barat laut Suriah, Afrin.

Ketua Pembebasan Islam Moro Sambut Baik Ratifikasi Undang-undang Bangsamoro

FILIPINA (Jurnalislam.com) – Ketua Front Pembebasan Islam Moro (Moro Islamic Liberation Front-MILF) Haji Murad Ibrahim menyambut ratifikasi UU Bangsamoro – sebuah bagian kunci dari undang-undang untuk otonomi yang diperluas di wilayah Filipina selatan.

“Kami hampir mencapai tonggak lain dalam perjuangan revolusioner kami,” kata Ibrahim dalam wawancara dengan Asosiasi Koresponden Asing Filipina (the Foreign Correspondents’ Association of the Philippines), yang diterbitkan di akun Twitter-nya, lansir Anadolu Agency, Selasa (24/7/2018).

“Kami telah menghabiskan seluruh bagian terbaik dari hidup kami dalam perjuangan; sebagai pribadi, kecenderungannya adalah untuk bertanya apakah kami sudah dapat pensiun. Tetapi kami tahu bahwa akan ada lebih banyak tantangan perjuangan di masa depan.

Siapkan Serangan Terakhir di Marawi, Militer Filipina Minta Bantuan Pejuang Islam Moro

“Jadi kita harus memaksa diri untuk terus bekerja agar Bangsamoro benar-benar berdiri,” katanya, sambil menyatakan bahwa ia berharap perjanjian damai itu menjadi yang terakhir.

“Kami terus menjunjung proses perdamaian selama kami melihatnya dapat bergerak maju.”

Ketua MILF tersebut juga mengatakan, “Turki sangat aktif dalam mendukung proses normalisasi”.

“Kami melihat sekarang bahwa undang-undang yang akan disahkan adalah awal yang baik yang dapat kami tangani, tetapi MILF masih akan melakukan konsultasi dengan warga kami. Keberhasilan apapun akan melalui dukungan mayoritas rakyat kami,” katanya.

Dia juga mengatakan diskusi lebih lanjut tentang bagaimana pendekatan dekomisioning akan dilakukan ketika MILF “pada umumnya setuju” dengan dekomisioning.

Kelompok-kelompok sempalan di kawasan itu “memanfaatkan kegagalan proses perdamaian di masa lalu,” katanya.

“Kami yakin bahwa jika ada solusi politik yang dapat diterima oleh Bangsamoro, mereka akan dibawa ke arus utama; tidak ada pilihan bagi mereka tetapi untuk bergabung dengan [Bangsamoro],” katanya.

Pejuang Islam Moro ajak Oposisi Bersenjata Lainnya untuk Meletakan Senjata

Ibrahim juga membahas masalah pendidikan, menyatakan itu akan menjadi prioritas karena wilayah tertinggal di sektor itu.

“Satu-satunya cara untuk membuat orang-orang kami mendukung proses perdamaian adalah agar mereka memahami bahwa mereka akan mendapat manfaat dari itu,” katanya.

Haji Murad Ibrahim

“Tantangan berikutnya adalah plebisit. Tapi setelah 40 tahun menghadapi tantangan, kami yakin bahwa kami dapat melampaui tantangan berikutnya.”

Setelah penundaan satu hari, bagian kunci dari undang-undang untuk otonomi yang diperluas di wilayah Filipina selatan disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat pada hari Selasa, dan akan ditandatangani menjadi undang-undang oleh Presiden Filipina Rodrigo Duterte.

Langkah ini, yang bertujuan untuk memberikan otonomi yang lebih luas bagi Bangsamoro – sebuah istilah kolektif untuk Muslim Filipina – akan menggantikan Daerah Otonom yang ada di Mindanao Muslim dengan Daerah Otonomi Bangsamoro – sebuah wilayah dengan kekuatan politik dan fiskal yang lebih besar, termasuk dana hibah tahunan yang lebih besar, yaitu setara dengan lima persen dari total pengumpulan pendapatan internal nasional.

Front Pembebasan Islam Moro, kelompok pejuang Islam Moro terbesar di Filipina, telah menempa UU Bangsamoro dengan perwakilan pemerintah sebagai salah satu persyaratan perjanjian damai yang ditandatangani pada tahun 2014 dengan Presiden Benigno Aquino III.

Kebakaran Yunani: Ribuan Rumah Hangus, Ratusan Mobil Hancur, 76 Tewas dan 100 Hilang

ATHENA (Jurnalislam.com) – Jumlah korban tewas akibat kebakaran hutan Senin di pantai timur dan barat wilayah Attica Yunani telah meningkat menjadi 76 orang, kata pejabat pada hari Selasa (24/7/2018).

Jumlah korban menjadi 76 ketika dua orang tua ditemukan terbakar di rumah mereka di Mati, timur Athena, yang terletak di Attica, menurut brigade pemadam kebakaran, lansir Anadolu Agency.

Jurubicara pemadam kebakaran Stavroula Mallire mengatakan dua kebakaran itu melukai 164 orang, termasuk sedikitnya 23 anak, sementara lebih dari 100 orang masih hilang.

Berbicara kepada saluran TV lokal SKAI, Rafina-Pikermi Walikota Evangelos Bournos mengatakan dikhawatirkan jumlah korban tewas bisa mencapai 100.

Juga, lebih dari 1.000 rumah hancur, sementara ratusan mobil di Mati hancur terbakar.

Trump Deklarasikan Bencana Kebakaran Besar Selang Beberapa Hari Resmikan Ibukota Israel

Menurut Departemen Pemadam Kebakaran, 47 lokasi kebakaran terjadi di negara itu selama 24 jam terakhir; 15 terjadi di sekitar Athena.

Wilayah pesisir di sisi barat Attica, Kineta – sekitar 54 kilometer (34 mil) barat Athena – dievakuasi ketika kebakaran terjadi Senin sore di hutan di Pegunungan Geraneia yang mengelilingi daerah itu.

Api di wilayah Kineta belum dapat dikendalikan.

Korban berjatuhan ketika orang terjebak di rumah atau kendaraan mereka, atau ketika mereka tenggelam di laut saat mencoba melarikan diri dari api.

Lebih dari 700 orang yang selamat dari api dan mencapai pantai diangkut ke daerah aman oleh tim penjaga pantai dan perahu pribadi.

Sementara itu, Pengadilan Tinggi Yunani memerintahkan penyelidikan atas api.

Kementerian Luar Negeri Polandia juga mengumumkan kebakaran tersebut menewaskan dua wisatawan Polandia.

Hindari Kebakaran Besar, Ribuan Warga Zionis Kabur Tinggalkan Rumahnya

Operasi pemadam kebakaran sedang berlangsung dengan lebih dari 600 petugas pemadam kebakaran dan 300 mesin berusaha untuk menahan api, karena daerah itu dikelilingi oleh pinus, sementara Yunani meminta bantuan Uni Eropa.

Kebakaran besar lainnya di sisi timur laut Attica telah memaksa pihak berwenang setempat untuk mengevakuasi kamp musim panas sementara ratusan orang lagi meninggalkan rumah mereka.

Asap tebal membungkus langit di atas Attica terlihat dari banyak daerah di wilayah tersebut.

Milisi YPG Dukungan AS dan Rezim Syiah Suriah Berkolaborasi di Manbij

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Milisi YPG dukungan AS dilaporkan melakukan pembicaraan dengan rezim Syiah Assad mengenai usulan pengalihan kota utara Manbij ke pihak rezim, dengan kedua pihak berencana untuk memberikan keamanan lokal.

Meskipun beberapa pengamat mengklaim bahwa YPG/PKK telah sepenuhnya ditarik dari Manbij, indikasi menunjukkan bahwa kelompok tersebut masih mempertahankan kehadiran aktif di kota.

Sementara YPG dan rezim Assad tampak meningkatkan kemitraan mereka, pasukan Turki dan AS terus melakukan patroli bersama di wilayah itu sebagai bagian dari kesepakatan yang ditujukan untuk membersihkan wilayah dari kehadiran YPG / PKK.

Menurut informasi yang diperoleh koresponden Anadolu Agency Senin (23/7/2018) yang berbasis di wilayah itu, “dewan militer” Pasukan Demokrasi Suriah (the Syrian Democratic Forces-SDF) – sebuah proksi regional untuk kelompok teroris PKK – dan pejabat rezim Assad sedang mengadakan pembicaraan reguler atas Nasib politik Manbij.

Warga Manbij Desak Pasukan Turki Bersihkan Kota dari Milisi Teror Dukungan AS

Awal bulan ini, para pejabat rezim dan perwakilan YPG/PKK dari wilayah pegunungan Qandil Irak timur laut mengadakan pembicaraan di Aleppo.

Pada hari Ahad (22/7/2018), kedua belah pihak dilaporkan bertemu sekali lagi – di kota yang sama – untuk membahas masalah yang sama.

Pertemuan hari Ahad di Aleppo dilaporkan dihadiri oleh pejabat Partai Baath Suriah Fadel Jabbar, Abdullah Hussein dan Ahmad Gabhan.

YPG/PKK pada pertemuan tersebut diwakili oleh Mohamed Karidi (komandan kelompok “dewan militer Manbij”), Ibrahim Bennawi, Mohamed Guweyshi dan Shukri al-Awni.

Menurut sumber-sumber yang dekat dengan pertemuan itu, para peserta mendiskusikan cara-cara menentang intervensi militer Turki di Suriah utara dan antisipasi kembalinya pasukan rezim ke Manbij.

Rezim Nushairiyah Assad dan YPG/PKK dilaporkan setuju untuk membentuk “pasukan polisi” bersama untuk mengamankan wilayah yang terdiri dari suku pro-rezim dan teroris YPG / PKK.

Pada hari Ahad, “dewan militer” kelompok itu mengulangi penolakannya – melalui media sosial – untuk melepaskan kendali Manbij kepada Angkatan Bersenjata Turki, menegaskan pilihan mereka untuk menyerahkan kota ke rezim Damaskus.

Sebelum Keluar dari Kota Manbij Milisi YPG akan Dilucuti Pasukan Turki

Sejak 18 Juni, pasukan Turki telah melakukan patroli keamanan di wilayah tersebut.

Dalam lebih dari 30 tahun operasi teror melawan Turki, PKK – di mana YPG adalah cabang Suriah – telah menghilangkan nyawa sekitar 40.000 jiwa, termasuk wanita dan anak-anak.

Jika operasi Manbij terbukti berhasil, Turki akan mendorong pengaturan serupa di Suriah timur.

Ankara mengatakan kehadiran kelompok-kelompok teroris di dekat perbatasannya merupakan ancaman yang jelas dan terus berlanjut dan telah meluncurkan serangkaian operasi militer dengan tujuan membersihkan wilayah mereka dari elemen-elemen teror.

Pada bulan Agustus 2016, teroris YPG/PKK yang didukung AS mendirikan pijakan di distrik Manbij Aleppo dengan dalih memerangi kelompok IS.

Menurut perkiraan, etnis Arab menyumbang lebih dari 90 persen populasi Manbij.

Tagar #IStandWithOzil Mendunia

BERLIN (Jurnalislam.com) – Keputusan Mesut Ozil untuk keluar dari tim nasional Jerman telah menyebabkan gelombang dahsyat di media sosial setelah bintang Arsenal tersebut mengatakan Asosiasi Sepakbola Jerman (DFB) atas rasisme dan memperlakukan Ozil sebagai “Jerman ketika kami menang, dan sebagai seorang imigran ketika kami kalah,” lansir Aljazeera Senin (23/7/2018).

Ozil, yang dianggap sebagai salah satu gelandang terbesar di generasinya, membuat pengumuman pada hari Ahad (22/7/2018) dalam sebuah pernyataan panjang yang diposting di Twitter.

Pemain sepakbola Muslim berusia 29 tahun itu mengatakan ia merasa diasingkan karena kegagalan tim Jerman untuk maju melampaui tahap grup di Piala Dunia 2018, karena ia keturunan Turki dan pertemuannya dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada bulan Mei.

Dalam posting, Ozil, pemain kunci untuk kemenangan Jerman pada Piala Dunia 2014, lebih lanjut menjelaskan bagaimana dia merasa diperlakukan oleh Presiden DFB Reinhard Grindel selama kemenangan dan selama kekalahan.

Keluar dari Tim Jerman Alasan Rasisme, Mesut Ozil: Apakah Karena Saya Muslim?

“Perlakuan yang saya terima dari DFB dan banyak lainnya membuat saya tidak lagi ingin memakai kaos tim nasional Jerman,” kata Ozil, yang tampil 92 kali untuk tim nasional.

“Saya merasa tidak diinginkan dan berpikir bahwa apa yang telah saya capai sejak debut internasional saya di tahun 2009 telah dilupakan.

“Maka dengan berat hati dan setelah banyak pertimbangan atas kejadian baru-baru ini, saya tidak akan lagi bermain untuk Jerman di tingkat internasional saat memiliki perasaan rasisme dan tidak hormat. Saya dulu memakai baju Jerman dengan kebanggaan dan kegembiraan, tapi sekarang tidak lagi … Rasisme seharusnya tidak pernah diterima.”

DFB belum mengomentari klaim Ozil.

Ozil juga mengutip pernyataan dari politisi Jerman, ejekan rasis dari penggemar dan surat kebencian sebagai contoh dari iklim permusuhan yang dia dan keluarganya hadapi menjelang keputusannya.

Tapi komentarnya yang beredar luas di media sosial adalah bahwa dia dilihat sebagai Jerman ketika timnya menang dan dianggap sebagai seorang imigran ketika kalah, setelah beberapa pemain Eropa terkemuka keturunan asing mengutip keluhan yang sama.

Ozil mengatakan dia tidak bisa menerima “outlet media Jerman yang berulang kali menyalahkan garis keturunan saya dan menyalahkan saya untuk Piala Dunia 2018 yang buruk atas nama seluruh skuad.”

Romelu Lukaku, pencetak gol terbanyak Belgia selama Piala Dunia, menulis dalam artikel Player’s Tribune bulan lalu: “Ketika semuanya berjalan lancar, saya sedang membaca artikel surat kabar dan mereka memanggil saya Romelu Lukaku, striker Belgia. Ketika hal-hal tidak terjadi mereka memanggil saya Romelu Lukaku, striker Belgia keturunan Kongo.”

Berikut kutipan #IStandWithOzil yang dirangkum Aljazeera:

Striker Perancis dan Real Madrid Karim Benzema mengatakan pada tahun 2011: “Jika saya mencetak gol, saya Prancis … jika saya tidak melakukannya, saya orang Arab.”

Ribuan orang masuk ke Twitter untuk mendukung Ozil dan mengecam pelecehan atas Muslim dan pemain Afrika di Eropa, dimana hashtag #IStandWithOzil menjadi topik yang sedang tren di seluruh dunia.

Pengguna Twitter Joey Ayoub menulis tentang ekspektasi tidak adil dan tidak realistis yang ditempatkan pada migran – terutama migran Muslim untuk membuktikan diri, mengutip kasus Mamoudou Gassama setelah dia menyelamatkan seorang balita yang tergantung di balkon Prancis.

Eksperimentalisme Gassama dielu-elukan oleh pers Prancis dan karena keberaniannya ia dianugerahi kewarganegaraan Prancis.

Ayoub tweeted: “Seandainya saja Ozil menyelamatkan bayi dari sebuah gedung sambil secara bersamaan menjadi salah satu pemain sepakbola terbaik mereka.”

Ronan Murphy, seorang wartawan di situs web sepak bola, Goal.com, mengatakan Ozil membuat “keputusan yang tepat mengingat cara dia dikambinghitamkan oleh DFB.”

Beberapa politisi terkemuka Jerman telah mengkritik Ozil dan pemain internasional Jerman Manchester City Ilkay Gundogan karena bertemu dengan Erdogan, tetapi tidak melontarkan kecaman keras terhadap Lothar Matthaus yang berjabat tangan dan berfoto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Pengguna Twitter Shazad Amin mengatakan itu menunjukkan bagaimana “Islamophobia struktural beroperasi bahkan di tingkat tertinggi dalam olahraga.”

Jan Aage Fjortoft memuji Ozil atas kontribusinya kepada pihak nasional Jerman, dan secara sarkastik mengucapkan selamat kepada orang-orang yang “menindas” dia ke masa pensiunnya.

Zito, seorang penulis di SBNation, mengatakan merupakan suatu “kebodohan” bahwa “bigot” telah menang.

“Keberadaannya di tim itu sangat menjengkelkan bagi mereka dan bagi konsepsi mereka tentang identitas Jerman, dan sekarang dia dipaksa untuk pensiun karena lingkungan telah menjadi tak tertahankan,” Zito tweeted.

Seorang juru bicara untuk kantor Kanselir Angela Merkel menggambarkan Ozil sebagai pemain sepak bola hebat yang telah melakukan banyak hal untuk tim nasional, lalu menambahkan bahwa mayoritas dari sekitar tiga juta orang dengan akar Turki yang tinggal di Jerman “terintegrasi dengan baik.”

Kick It Out, sebuah organisasi yang fokus memerangi rasisme dan diskriminasi dalam sepakbola, mengatakan dalam sebuah pernyataan “imigrasi telah mengubah kehidupan modern dan sepakbola modern menjadi lebih baik,” menambahkan bahwa beberapa komentar Ozil benar.

“Namun, Ozil benar ketika menunjukkan bahwa untuk sebagian elemen masyarakat, ‘ketika kami memenangkan saya Jerman, tapi saya seorang imigran ketika kami kalah.’ Sayangnya, pemain kulit hitam di Inggris, Prancis dan sekitarnya telah diperlakukan dengan cara yang sama untuk waktu yang lama,” kata pernyataan itu.

Namun, yang lain masuk ke Twitter untuk mengkritik keras pemain itu, dengan Thomas Bareiss, anggota senior Demokrat Kristen Merkel, mengatakan pengunduran dirinya menunjukkan “tidak hormat” dan “salah tempat”.

Sementara itu, Uli Hoeness, mantan presiden Bayern Munich, mengungkapkan kegembiraannya, mengklaim bahwa pria Arsenal tersebut telah menjadi “bajingan selama bertahun-tahun.”

Hoeness, yang dijatuhi hukuman tiga setengah tahun karena kecurangan pajak pada tahun 2014, mengatakan kepada surat kabar Jerman Bild: “Ozil terakhir memenangkan tackle sebelum Piala Dunia 2014. Dan sekarang dia dan penampilannya sembunyi di balik gambar ini.”