Keluar dari Tim Jerman Alasan Rasisme, Mesut Ozil: Apakah Karena Saya Muslim?

Keluar dari Tim Jerman Alasan Rasisme, Mesut Ozil: Apakah Karena Saya Muslim?

BERLIN (Jurnalislam.com) – Pesepakbola Mesut Ozil pada hari Ahad (22/7/2018) mengumumkan pengunduran dirinya dari tim nasional Jerman, dengan alasan “rasisme dan ketidakhormatan.”

Pemain bintang Jerman, yang berasal dari Turki, dikritik oleh politisi dan media Jerman setelah ia bertemu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada bulan Mei, menjelang pemilihan di Turki.

Dalam serangkaian tweet pada hari Ahad, Ozil membela pertemuannya dengan Erdogan selama acara amal di London, mengatakan gambar dengan presiden Turki bukan tentang politik atau pemilihan, Anadolu Agency melaporkan.

“Ini tentang saya menghormati pejabat tertinggi negara keluarga saya,” katanya.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Mesut Ozil

“Apapun hasilnya dalam pemilihan sebelumnya, atau pemilihan sebelum itu, saya masih akan berfoto bersamanya,” tambahnya.

Bintang berusia 29 tahun itu sangat mengecam media Jerman yang mempertanyakan kesetiaannya kepada Jerman, dan menuduhnya, sendirian, atas kegagalan tim nasional di Piala Dunia 2018 di Rusia.

“Saya orang Jerman ketika kami menang, tetapi saya adalah imigran ketika kami kalah,” katanya.

Demi Palestina, Tim Sepak Bola Argentina Batalkan Pertandingan Persahabatan dengan Israel

Ozil meraih 92 caps untuk Jerman sejak debutnya di tahun 2009. Dia adalah pemain kunci dari tim pemenang Piala Dunia 2014 di negara itu.

Piala Dunia 2014, Mesut Ozil

Ozil menyatakan kekecewaannya karena masih menghadapi diskriminasi dan rasisme meskipun ia lahir dan dididik di Jerman.

“Teman saya Lukas Podolski dan Miroslav Klose tidak pernah disebut sebagai orang Jerman-Polandia, jadi mengapa saya orang Jerman-Turki? Apakah ini karena Turki? Apakah karena saya seorang Muslim?” tanyanya.

Kini Giliran Bocah-bocah Muslim Rohingya dapat Dukungan Cristiano Ronaldo

Ozil juga mengecam Presiden Asosiasi Sepakbola Jerman (DFB) Reinhard Grindel karena penganiayaan dan mengejar agenda politik, segera setelah dia dikritik oleh politisi dan media karena bertemu dengan presiden Turki Erdogan.

“Aku dulu memakai baju Jerman dengan kebanggaan, tapi sekarang tidak lagi,” katanya, sambil menambahkan bahwa itu adalah keputusan yang “sangat sulit” baginya.

“Tapi ketika pejabat DFP yang berpangkat tinggi memperlakukan saya seperti itu, tidak menghormati keturunan Turki saya dan secara egois mengubah saya menjadi propaganda politik, maka cukup sudah,” katanya.

“Rasisme seharusnya tidak pernah ada disini,” tegasnya.

Fans Sepak Bola Celtic Kumpulkan Lebih Dari £ 50.000 untuk Amal Palestina

Bagikan
Close X