Hamas Terus Hajar Israel dengan Roket Walaupun Dibalas dengan Serangan Udara

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Pesawat zionis menyerang posisi Hamas di Gaza pada awal pagi di hari Selasa (2/1/2018) untuk menanggapi roket dari daerah wilayah Palestina yang menargetkan Israel selatan beberapa jam sebelumnya, kata sebuah sumber.

Pesawat tersebut menargetkan sebuah “kompleks militer milik Hamas,” bunyi sebuah pernyataan dari tentara, lansir World Bulletin.

Peneliti: Inilah Tempat Paling Sering Dihujani Gas Air Mata di Dunia

Sumber keamanan Palestina mengatakan serangan tersebut terjadi di Khan Younes di selatan dan Deir al-Balah di Gaza tengah, menyebabkan kerusakan namun tidak ada korban jiwa.

Pada Senin malam, sebuah roket menghantam sebuah kota di Israel selatan, namun tidak menyebabkan korban jiwa.

AS Tawarkan Daerah Ini sebagai Pengganti Ibukota Palestina, Ini Kata Hamas

Pejuang Palestina yang berafiliasi Brigade Ezzeddin al-Qassam di Gaza telah menembakkan 18 roket atau mortir ke Israel dalam konfrontasi yang meletus setelah pengakuan nyeleneh 6 Desember Presiden AS Donald Trump tentang Yerusalem sebagai ibukota Israel, hanya enam roket yang mampu dicegat oleh sistem pertahanan udara zionis “Iron Dome” sisanya menghantam wilayah Israel.

Demonstrasi Hari keenam di Iran, 23 Orang Tewas dan 500 Ditangkap

TEHERAN (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 23 orang telah terbunuh – dan lebih dari 500 dilaporkan ditahan – sejak demonstrasi anti-pemerintah meletus di Iran akhir pekan lalu.

Menurut media lokal dan pejabat negara, empat orang tewas di provinsi Lorestan, Iran; dua di provinsi Khuzestan; tiga di provinsi Hamadan; dan 14 di provinsi Isfahan, termasuk seorang petugas polisi.

Sementara pejabat negara mengatakan sedikitnya 500 lainnya telah ditahan, sumber tidak resmi menempatkan jumlah tersebut jauh lebih tinggi, lansir Anadolu Agency Selasa (2/1/2018).

Pada hari Kamis, ribuan orang memenuhi jalan-jalan di kota-kota timur laut Iran di Masyhad dan Kashmar untuk memprotes kenaikan inflasi dan kesalahan pengelolaan oleh pemerintah, menurut laporan media setempat.

12 Massa Demo Tewas, 2 Diantaranya Digilas Mobil Anti Huru-hara Iran

Protes hari Kamis diikuti oleh sejumlah demonstrasi pro-pemerintah pada hari Sabtu.

Pada hari Ahad, Presiden Hassan Rouhani memperingatkan warga agar tidak ikut demonstrasi, yang sejak itu menyebar ke sejumlah pusat kota lainnya.

“Kita harus menghindari menempatkan negara dalam situasi yang bisa dimanfaatkan musuh kita,” kata Rouhani setelah rapat kabinet.

Presiden Palestina: Israel Lancarkan Agresi Brutal terhadap Rakyat, Tanah dan Tempat Suci

RAMALLAH (Jurnalislam.com) – Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada hari Senin (1/1/2018) mengecam sebuah keputusan oleh partai Israel yang berkuasa untuk mencaplok permukiman Yahudi di Tepi Barat yang diduduki.

Abbas mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan dari kantornya bahwa Israel ingin “menghapuskan kehadiran warga Palestina dari tanah bersejarah Palestina,” lansir Anadolu Agency.

“Keputusan tersebut merupakan agresi brutal terhadap rakyat, tanah dan tempat-tempat suci Palestina,” tambahnya.

Komite sentral partai Likud menyetujui sebuah proposal pada hari Ahad yang memungkinkan pembangunan permukiman Yahudi di wilayah Palestina di Tepi Barat.

Mahmoud Abbas Desak EU Pimpin Upaya Perdamaian, Bukan AS lagi

Perdana Menteri zionis Benjamin Netahyahu belum mengomentari masalah tersebut.

Abbas menambahkan bahwa Israel tidak akan melakukan langkah “berbahaya” ini tanpa dukungan dari pemerintah AS.

Jika proposal diajukan ke parlemen Israel Knesset, perlu didiskusikan dalam tiga sesi berbeda sebelum disetujui.

Israel dilaporkan ingin membawa jumlah pemukim ilegal di Tepi Barat menjadi satu juta dalam waktu singkat, sementara setengah juta penduduk saat ini tinggal di permukiman Yahudi di tanah Palestina dan 220.000 di pemukiman di Yerusalem Timur.

Menurut hukum internasional, semua permukiman Yahudi di wilayah ini “ilegal”.

10.204 Warga Suriah Terbunuh di 2017, 754 Anak-anak dan 591 Wanita Tewas Disiksa Rezim Assad

ANKARA (Jurnalislam.com) – Sebanyak 10.204 warga sipil Suriah terbunuh terutama oleh rezim Syiah Nushairiyah Bashar al-Assad di Suriah pada 2017, menurut sebuah laporan dari Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SNHR) yang berbasis di London yang dikeluarkan pada hari Senin (1/1/2018), lansir Anadolu Agency.

Laporan tersebut mengatakan 2.298 anak dan 1.536 wanita termasuk di antara mereka yang terbunuh.

Sebanyak 4.147 warga sipil, termasuk 754 anak dan 591 perempuan terbunuh akibat penyiksaan dan serangan yang dilakukan rezim Assad tahun lalu, katanya.

Juga, 316 warga sipil, termasuk 58 anak-anak dan 54 perempuan terbunuh oleh kelompok teror PKK / PYD di Suriah sementara 1.421 warga sipil lainnya, termasuk 281 anak-anak dan 148 perempuan dibunuh oleh kelompok Islamic State (IS).

Erdogan: Bashar Assad Teroris, Masa Depan Suriah Tidak Bisa Berlanjut Dengannya

Serangan yang dilakukan oleh pasukan Rusia menewaskan 1.436 warga sipil, termasuk 439 anak-anak dan 284 wanita sementara 1.759 warga sipil terbunuh dalam serangan koalisi pimpinan A.S.

Dalam bentrokan antara pembangkang militer dan kelompok anti-rezim, 211 warga sipil termasuk 47 anak-anak dan 30 perempuan terbunuh.

Secara terpisah, 913 warga sipil terbunuh oleh pihak yang tidak dikenal.

Menurut laporan tersebut, 2.019 warga sipil di pinggiran kota Damaskus, 1.512 warga sipil di Raqqa, 1.352 di Aleppo, serta 1.324 lainnya Deir ez-Zour dan 1.256 warga sipil di Idlib terbunuh.

Juga, 882 warga sipil di Daraa, 852 di Hama dan 781 di Homs serta 198 di Hasakah dan 28 warga sipil lainnya di provinsi Quneitra terbunuh.

Laporan tersebut mengatakan 211 warga sipil pada 2017 terbunuh setelah disiksa rezim.

Laporan ini juga mendesak Rusia sebagai negara penjamin bagi Assad untuk menuntut rezim mematuhi persyaratan kesepakatan mengenai zona de-eskalasi.

Ahed Tamimi Dikenakan 12 Tuduhan oleh Pengadilan Zionis

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Israel menetapkan 12 tuduhan terhadap Ahed Tamimi, seorang aktivis Palestina berusia 16 tahun yang terkenal setelah terekam menampar dan menendang dua tentara Israel di Tepi Barat yang diduduki.

Remaja tersebut ditahan pada 19 Desember, empat hari setelah sebuah video yang menunjukkan dia melawan tentara di luar rumah keluarganya di desa Nabi Saleh menjadi viral.

Insiden tersebut terjadi beberapa saat setelah pasukan penjajah Israel menembak sepupu Ahed yang berusia 15 tahun di wajah dengan peluru karet. Remaja yang terluka tersebut mengalami pendarahan internal yang parah dan berada dalam kondisi koma dan diinduksi secara medis selama 72 jam.

Sepupu Ahed, Nour, berusia 20 tahun, yang juga tampak dalam video tersebut, serta ibunya, juga ditangkap segera setelah Ahed ditahan.

Gadis Palestina Ini Diperpanjang Masa Tahanannya karena Serang Serdadu Zionis

Dalam sebuah persidangan pada hari Senin (1/1/2018) di pengadilan militer Ofer Israel di dekat Ramallah, Ahed didakwa dengan 12 tuduhan, termasuk dugaan menyerang seorang tentara Israel, mengganggu tugas seorang tentara dan dua kali melakukan pelemparan batu di masa lalu, menurut pengacaranya Gabi Laski.

Laski mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Nariman, ibunda Ahed, juga dikenai tuduhan “hasutan” karena mengupload video di media sosial, dan juga tuduhan penyerangan lainnya.

Pengacara tersebut mengatakan bahwa tuduhan terhadap Ahed dan Nariman termasuk dugaan insiden lama yang tidak terkait dengan video tersebut.

Nour didakwa pada hari Ahad karena diduga menyerang seorang tentara dan mencampuri tugas seorang tentara, kata Laski.

Keluarga Tamimi adalah aktivis terkenal di Nabi Saleh.

Ini adalah kali pertama Ahed ditahan oleh pasukan zionis, sedangkan Nariman telah ditangkap sedikitnya lima kali sebelumnya.

Pada hari Kamis, Manal Tamimi, kerabatnya, juga ditangkap saat demonstrasi di luar pusat penahanan Ofer menuntut pembebasan Nariman dan juga pembebasan Munther Amira, seorang aktivis Palestina terkemuka di kamp pengungsi Aida di Bethlehem yang ditangkap pekan lalu.

Laski mengatakan bahwa dia bisa membebaskan Nour dan Manal – yang belum dituntut melakukan kejahatan. Namun, jaksa angkatan darat Israel menetapkan sampai Selasa untuk mengajukan banding atas keputusan tersebut.

Ayah Ahed, Bassem, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kemungkinan besar putrinya akan dihukum dan dipenjara karena tuduhan tersebut.

“Mereka membangun kasus di sekitarnya secara khusus untuk membuatnya tetap di penjara selama mereka bisa,” katanya.

“Saya sangat khawatir dengan putri saya,” tambah Bassem, yang juga telah ditangkap beberapa kali oleh pasukan Israel.

“Nasibnya sekarang berada di tangan orang-orang yang bahkan tidak melihat orang-orang Palestina sebagai manusia seutuhnya.”

Laski mengatakan kepada Al Jazeera bahwa karena banyaknya tuduhan terhadap Ahed, “ada kemungkinan dia akan ditahan dalam waktu yang lama.”

Dia mencatat bahwa remaja Palestina biasanya menghadapi hukuman enam sampai sembilan bulan di penjara karena tuduhan melempar batu.

Kelompok hak tawanan Addameer telah melaporkan bahwa lemparan batu adalah tuduhan paling umum yang dijatuhkan terhadap anak-anak Palestina. Di Tepi Barat yang diduduki, di mana warga Palestina diatur oleh hukum militer Israel, lemparan batu dapat dihukum hingga 20 tahun penjara.

Kelompok tersebut mengatakan bahwa Israel secara rutin menargetkan “anggota keluarga Palestina yang aktif secara politik yang termuda dan paling rentan” untuk “memberikan tekanan pada keluarga mereka dan seluruh masyarakat agar mengakhiri semua mobilisasi sosial mereka.”

Bassem mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Israel berusaha untuk “mematahkan Ahed, karena dia adalah simbol perlawanan.”

“Israel ingin menunjukkan kepada orang muda Palestina lainnya apa yang akan terjadi pada mereka jika mereka mencoba untuk menentang Israel.”

AS dan Kanada Dukung Demontrasi Anti Pemerintah Iran

IRAN (Jurnalislam.com) – Iran pada hari Ahad (31/12/2017) menuduh Kanada “mencampuri urusan dalam negeri Teheran” dalam pendiriannya terhadap demonstrasi anti-pemerintah di negara tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Bahram Qasemi mengatakan bahwa sikap “campur tangan” pemerintah Kanada mengenai demonstrasi tersebut merupakan “pelanggaran komitmen internasional,” World Bulletin melaporkan Senin (1/1/2018).

Ribuan warga Iran pada hari Kamis memenuhi jalan-jalan di kota-kota di timur laut Masyhad dan Kashmar untuk memprotes kenaikan harga komoditas dan kesalahan manajemen yang dilakukan pemerintah, menurut laporan media setempat.

Teheran juga menggambarkan pernyataan AS baru-baru ini yang dibuat sebagai “dukungan terhadap lawan-lawan anti-rezim.”

AS dan Kanada dalam pernyataan terpisah mengungkapkan keprihatinannya atas demonstrasi yang sedang berlangsung di Iran.

12 Massa Demo Tewas, 2 Diantaranya Digilas Mobil Anti Huru-hara Iran

“Kanada mendukung warga Iran yang menjalankan hak dasar mereka untuk melakukan demonstrasi secara damai,” kata Global Affairs Canada, sebuah departemen di pemerintahan Kanada yang mengelola hubungan diplomatik dan konsuler, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Presiden AS rival Iran, Donald Trump mengatakan di sebuah posting Twitter: “Protes besar di Iran. Orang-orang akhirnya bijak mempertanyakan bagaimana uang dan kekayaan mereka dicuri dan disia-siakan dalam terorisme. Sepertinya rakyat Iran tidak akan tahan lagi.”

Presiden Iran Hassan Rouhani memperingatkan warga Iran untuk menentang demonstrasi anti-pemerintah yang sedang berlangsung di seluruh negeri.

“Kita harus menghindari menempatkan negara dalam situasi yang bisa dimanfaatkan musuh,” kata Rouhani, menyusul sebuah rapat kabinet.

12 Massa Demo Tewas, 2 Diantaranya Digilas Mobil Anti Huru-hara Iran

IRAN (Jurnalislam.com) – TV pemerintah Iran melaporkan bahwa 12 orang telah terbunuh di tengah demonstrasi nasional, tanpa merinci.

Di antara 10 orang tersebut adalah dua pemrotes yang ditembak mati semalam di kota kecil Izeh di barat daya Iran, seorang anggota parlemen mengatakan kepada media Iran pada hari Senin (1/1/2018), lansir Al Arabiya.

“Penduduk Izeh, seperti beberapa kota lainnya, mengadakan demonstrasi menentang masalah ekonomi dan sayangnya hal itu menyebabkan pembunuhan dua orang dan luka-luka pada beberapa orang lainnya,” anggota parlemen daerah itu, Hedayatollah Khademi, kepada kantor berita ILNA.

“Saya belum tahu apakah penembakan semalam dilakukan oleh pemrotes atau polisi,” tambahnya

Dua orang lagi dilindas oleh “kendaraan anti huru-hara” di provinsi Lorestan, kata gubernur daerah tersebut.

Demonstrasi di Iran Semakin Meningkat 3 Orang Tewas Ditembak Garda Revolusi

Pemerintah Iran mengatakan pada hari Ahad bahwa pihaknya telah menahan lebih dari 370 demonstran selama empat hari terakhir demonstrasi tersebut, sementara aktivis Iran mengklaim bahwa jumlahnya jauh lebih tinggi.

Wakil gubernur provinsi Teheran, Ali Asghar Naserbakht, mengatakan bahwa polisi setempat menahan sekitar 200 orang di jalan-jalan yang dipenuhi pemrotes pada Ahad malam. Empat puluh dari mereka yang ditangkap memimpin demonstrasi tersebut, tambahnya.

Walikota provinsi Markazi, Ali Aghazadeh Dafsari, mengatakan bahwa polisi setempat menangkap lebih dari 100 pemrotes yang berpartisipasi dalam demonstrasi yang mereka sebut “tidak memiliki izin.”

Jaksa penuntut kota Kashan mengatakan bahwa lebih dari 60 demonstran ditangkap pada hari Sabtu karena memprotes kondisi politik dan ekonomi negara tersebut.

Sepanjang 2017 Pasukan Zionis Tahan 6.742 Warga Palestina

RAMALLAH (Jurnalislam.com) – Tentara Israel selama tahun 2017 menahan 6.742 orang Palestina di sepanjang Jalur Gaza dan Tepi Barat yang mereka jajah, menurut organisasi Palestina hari Ahad (31/12/2017).

Dalam sebuah pernyataan bersama, Komite Palestina Urusan Tahanan dan Narapidana yang Dibebaskan (Palestinian Committee of Prisoners and Released Prisoners’ Affairs), Komite Tahanan Palestina (Palestinian Prisoners Committee), Asosiasi Dukungan Tahanan dan Hak Asasi (Prisoner Support and Human Rights Association), Pusat Hak Asasi Manusia Al Mezan (Al Mezan Center for Human Rights) yang semuanya berhubungan dengan Organisasi Pembebasan Palestina (the Palestine Liberation Organization-PLO), mengatakan bahwa penangkapan pada tahun 2017 mencakup 1.467 anak-anak, 156 wanita, 14 anggota Dewan Legislatif Palestina dan 25 wartawan, lansir Anadolu Agency.

Pernyataan tersebut juga mengatakan beberapa tahanan kemudian dilepaskan.

6.500 Warga Palestina Berada di penjara Israel, Zionis Larang Kunjungan dari Keluarga Hamas

Pada hari Ahad, terdapat 6.950 tahanan Palestina, termasuk 359 anak, 22 wartawan dan 10 anggota parlemen, yang masih berada di penjara Israel, tambahnya.

Ada juga 450 tahanan yang berada di bawah “penahanan administratif.”

Di bawah kebijakan penahanan administratif, narapidana dapat ditahan tanpa pengadilan untuk periode mulai dari enam bulan sampai satu tahun.

Pasukan zionis sering menyerbu rumah-rumah warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki dan menahan warga Palestina setempat, mengklaim bahwa mereka “diinginkan/dicari” oleh badan keamanan Israel.

Remaja Palestina yang Fotonya Viral di Dunia Akhirnya Dibebaskan Militer Israel

Pernyataan tersebut juga mengatakan 2.436 warga Palestina, sepertiga di antaranya adalah anak-anak, telah ditangkap di Yerusalem yang dijajahi.

Ketegangan meningkat di wilayah Palestina sejak 6 Desember, ketika penrnyataan nyeleneh Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Yerusalem sebagai ibukota Israel, yang memicu demonstrasi kemarahan di Tepi Barat dan Gaza hingga hampir di seluruh dunia.

Sejak saat itu, sedikitnya 14 warga Palestina telah menjadi martir – dan ribuan lainnya terluka – dalam bentrokan sengit dengan pasukan penjajah Israel.

Yerusalem tetap menjadi inti konflik Timur Tengah, dan warga Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur – yang diduduki oleh Israel sejak 1967 – pada akhirnya dapat berfungsi sebagai ibukota negara Palestina.

Israel Caplok 2.500 Hektar Tanah Palestina pada 2017

RAMALLAH (Jurnalislam.com) – Penjajah Israel telah mencaplok sekitar 2.500 hektar tanah Palestina, menghancurkan 500 bangunan dan membangun delapan unit pemukiman Yahudi baru pada tahun 2017, menurut Pusat Penelitian Tanah Palestina (Land Research Center-LRC), lansir Anadolu Agency, Ahad (31/12/2017).

Menurut laporan pusat tersebut, Israel mengambil tanah Palestina dengan “tujuan militer” dan “tujuan untuk membangun unit pemukiman Yahudi” di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

Laporan tersebut juga mencatat 900 insiden kekerasan dan serangan pasukan penjajah Israel di Masjid Al-Aqsha di Yerusalem Timur.

Menurut lembaga hukum Israel dan Palestina, kegiatan pemukiman illegal Yahudi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur meningkat tiga kali lipat pada tahun 2017 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Gerakan Peace Now juga mengumumkan bahwa pemerintah Israel menyetujui pembangunan 1.982 rumah pada tahun 2015, 2.629 rumah pada tahun 2016 dan angka ini meningkat menjadi 6.500 pada tahun 2017.

Pemukiman Ilegal Yahudi Israel Usir Warga Muslim Yerusalem Secara Sistematis

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan zionis, Yoav Galant, pada tanggal 24 Desember mengumumkan rencana untuk membangun 300.000 rumah baru di Yerusalem Timur atas nama “perumahan di tanah Yerusalem bersatu, ibukota Israel.”

Kegiatan pembangunan permukiman ilegal Yahudi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur dianggap sebagai salah satu hambatan paling penting bagi perundingan damai Israel-Palestina yang dihentikan pada bulan April 2014.

Pemerintah Israel di bawah pimpinan Perdana Menteri zionis Benjamin Netanyahu baru-baru ini mempercepat pembangunan permukiman Yahudi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

Israel telah mendirikan 131 permukiman illegal di Tepi Barat, 10 di Yerusalem Timur dan 116 di wilayah Bukit Tepi Barat sejak tahun 1967.

Israel ingin membawa jumlah pemukim di Tepi Barat menjadi satu juta dalam waktu singkat, sementara setengah juta penduduk saat ini tinggal di permukiman Yahudi bercampur warga Palestina dan 220.000 menetap di pemukiman illegal lainnya di Yerusalem Timur.

Tolak Tawaran Perdamaian dari Trump, Palestina Tarik Utusannya di AS

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Pemimpin Palestina telah mengatakan bahwa mereka memanggil pulang utusan mereka untuk Amerika Serikat menyusul pengakuan Washington yang kontroversial mengenai Yerusalem sebagai ibukota Israel beberapa hari lalu.

Pejabat Palestina sebelumnya mengatakan bahwa mereka “tidak akan lagi menerima” rencana perdamaian yang diajukan oleh AS setelah pernyataan sepihak Donald Trump pada 6 Desember.

Langkah nyeleneh Trump memicu demonstrasi kemarahan di wilayah Palestina yang diduduki dan demonstrasi besar mendukung warga Palestina di seluruh dunia Muslim.

Begini Kata Diplomat AS Jika Yerusalem Tidak Direbut Kembali

Mayoritas negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa juga menentang ancaman AS yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menyatakan pengakuan AS terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel “batal di mata hukum.”

Pada hari Ahad (1/12/2017), kantor berita resmi Palestina WAFA mengatakan bahwa Husam Zomlot, utusan Organisasi Pembebasan Palestina untuk Washington, DC, akan kembali ke Palestina untuk “konsultasi”, lansir Aljazeera.

Riyad al-Malki, menteri luar negeri Palestina, mengatakan bahwa diskusi akan berlangsung “untuk menetapkan keputusan yang dibutuhkan oleh pimpinan Palestina dalam periode yang akan datang mengenai hubungan kita dengan AS.”

Dia menambahkan bahwa utusan tersebut diharapkan bisa kembali ke “pekerjaan normalnya” setelah berdiskusi.

Yerusalem, tempat ibadah suci, memiliki arti penting bagi umat Islam, Kristen dan Yahudi.

Yerusalem Barat dicaplok oleh penjajah Israel selama perang Arab-Israel 1948, ketika lebih dari 750.000 warga Palestina diusir dari kota bersejarah Palestina. Peristiwa ketika Israel didirikan secara resmi disebut warga Palestina sebagai Nakba (malapetaka).

Israel kemudian menduduki dan mencaplok bagian timur kota setelah kemenangan militernya dalam perang 1967, namun penguasaannya atas Yerusalem Timur tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.

Setelah 128 Negara Tolak Veto AS, Erdogan, Jerman, Palestina Bahas Yerusalem Lebih Lanjut

Para pemimpin Palestina ingin mendudukkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara Palestina di masa depan, sementara penjajah Israel mengatakan bahwa kota tersebut tidak dapat dibagi.

Juga pada hari Ahad, Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyebut Yerusalem sebagai “ibukota abadi rakyat Palestina,” dalam sebuah acara peringatan ulang tahun ke-53 gerakan Fatah.

“Kami tidak akan menerima status quo. Kami tidak akan menerima sistem apartheid. Kami tidak akan menerima penjajahan, dan Anda [Israel] harus memikirkan kembali kebijakan dan tindakan agresif Anda terhadap rakyat kami, tanah kami dan tempat-tempat suci kami sebelum terlambat,” kata Abbas.