Peneliti: Inilah Tempat Paling Sering Dihujani Gas Air Mata di Dunia

27 Desember 2017
Peneliti: Inilah Tempat Paling Sering Dihujani Gas Air Mata di Dunia

TEPI BARAT (Jurnalislam.com) – Kamp pengungsi Aida, sebuah kamp pengungsi Palestina di Tepi Barat yang diduduki kemungkinan merupakan tempat yang paling sering diserang dengan gas airmata di dunia, menurut seorang penulis penelitian baru.

Pusat Hak Asasi Manusia Universitas California di Berkeley baru-baru ini melaporkan bahwa pasukan militer Israel telah menggunakan “gas airmata” secara meluas, “sering” dan “membabi buta” terhadap warga Palestina di kamp pengungsi Aida dekat Bethlehem.

Laporan tersebut – yang dikatakan sebagai laporan pertama untuk menganalisis dampak gas air mata di Tepi Barat – menemukan bahwa 100 persen dari lebih 200 warga Palestina yang disurvei di kamp Aida terkena gas air mata selama setahun terakhir.

Laporan tersebut, No Safe Space: Konsekuensi Kesehatan akibat Terpapar Gas Air Mata di antara warga Palestina, mengumpulkan kesaksian pada musim panas lalu di Aida dan kamp pengungsi Dheisheh di dekatnya.

Perlawanan di Tepi Barat Tetap Berkobar Meski Hadapi Peluru Tajam Zionis

“Kami menemukan bahwa penggunaan gas air mata yang konstan dan tak terduga di kamp-kamp pengungsi Palestina memiliki dampak buruk pada kesehatan mental dan fisik penduduk,” kata rekan penulis laporan tersebut, Dr Rohini Haar, seorang peneliti di pusat UC Berkeley dan seorang Dokter di Physicians for Human Rights (Dokter untuk Hak Asasi Manusia).

Efeknya, Haar mengatakan kepada Al Jazeera, Selasa (26/12/2017) sangat berbahaya bagi “warga yang paling rentan, termasuk wanita hamil, anak-anak, orang tua, dan orang-orang yang sudah dalam keadaan sakit”.

Laporan tersebut mensurvei 236 warga Aida, yang semuanya mengatakan bahwa mereka terkena gas air mata tahun lalu.

Dari jumlah tersebut, 84 persen orang mengatakan bahwa mereka terpapar saat berada di rumah mereka.

Sesuai namanya, gas air mata dimaksudkan untuk menyebabkan mata seseorang berair dan kulit mereka terbakar.

Warga juga mengatakan kepada penulis laporan tersebut bahwa penggunaan gas air mata tentara Israel “seringkali tidak beralasan.”

Tentara zionis tidak menanggapi permintaan Al Jazeera untuk mengomentari temuan penelitian tersebut.

Kamp pengungsian termasuk yang paling rentan terhadap paparan gas air mata di wilayah Palestina yang diduduki, kata laporan tersebut.

Sebagai rumah bagi sekitar 6.400 pengungsi Palestina, Aida hanya mencakup 0,017 kilometer persegi, menjadikannya tempat yang paling padat penduduknya di dunia.

Bentrokan antara pasukan Israel dan warga Palestina di kamp Aida sering terjadi, dengan badan PBB untuk pengungsi Palestina (the UN agency for Palestinian refugees UNRWA) memperkirakan bahwa sedikitnya 376 konfrontasi terjadi sejak Januari 2014 hingga 15 Desember tahun ini, kata laporan tersebut.

“Kehidupan kita di kamp di sini dipenuhi dengan gas air mata, dipenuhi granat setrum, dipenuhi air kotor,” kata Sabreen berusia 30 tahun, ibu dari seorang tahanan Palestina, mengacu pada cairan berbau busuk yang sering disemprotkan oleh tentara penjajah Israel ke arah pemrotes Palestina dan rumah-rumah di Tepi Barat.

“Ini adalah kehidupan pengungsi. Apa yang bisa kita lakukan?” tambah Sabreen, yang tidak memberi tahu nama belakangnya kepada Al Jazeera.

Dua tahun yang lalu, seorang tentara Israel difilmkan untuk memberi peringatan pada penduduk kamp tersebut: “Orang-orang di kamp pengungsi Aida, kita adalah pasukan pendudukan. Anda melempar batu, dan kita akan menyerang Anda dengan gas sampai Anda semua mati. Anak-anak, pemuda, orang tua – Anda semua akan mati.”

Gaza Kembali Menyambut Syuhada dalam Bentrokan Terbaru dengan Pasukan Zionis

Pembakaran gas air mata di dekat rumah melanggar Kode Etik PBB dan Prinsip-prinsip Dasar PBB tentang Penggunaan Angkatan perang dan senjata api oleh tentara terhadap warga sipil, demikian laporan tersebut menyatakan.

Laporan ini juga menjelaskan bahwa rumah dan sekolah tidak dirancang untuk berlindung menghadapi serangan gas air mata, sehingga penduduk hanya memiliki sedikit pilihan untuk menghindari serangan atau mengurangi dampaknya.

Jumat lalu, Al Jazeera melihat tentara zionis menembakkan ratusan tabung gas air mata ke kerumunan kecil pemrotes di daerah yang berbatasan dengan kamp Aida. Bentrokan terbatas juga menyebar ke kamp tersebut, dimana tentara Israel menanggapi dengan lebih banyak gas air mata.

“Saya pulang dari pesta pernikahan, dan saya menemukan 25 tabung gas di dekat rumah saya,” kata Sana, seorang penduduk kamp, ​​yang juga tidak memberi nama terakhir kepada Al Jazeera.

Banyak penduduk kamp mengenakan masker gas untuk melindungi diri mereka sendiri, meski masker tersebut sulit didapat dan harganya mahal.

Menurut Dr Haar, paparan reguler terhadap gas air mata dapat mempengaruhi “semua sistem [tubuh].

Dalam laporan tersebut, warga menggambarkan berbagai efek fisik akibat paparan gas air mata yang sering dirasakan, termasuk kehilangan kesadaran, keguguran, masalah pernapasan, asma, batuk, pusing, ruam, sakit parah, alergi dermatitis, sakit kepala, iritabilitas neurologis dan bahkan trauma memar akibat dipukul oleh tabung gas air mata.

“Sistem tubuh semua orang terpengaruh oleh ini,” kata Dr Haar.

Penggunaan gas air mata tentara Israel yang berulang juga membuat penduduk memiliki bekas luka psikologis.

Karena sifat acak serangan Israel, warga kamp Aida menemukan fakta bahwa mereka semua “terus-menerus berada di tepian, takut akan serangan berikutnya,” menurut laporan tersebut.

Amal Manasra, 27, warga Aida, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa anak perempuannya baru-baru ini terkena gas air mata setelah sebuah tabung yang dilempar oleh tentara Israel mendarat di dekat pintu rumahnya.

“Tingkat oksigennya nol … Dia tercekik … Kami membawanya ke rumah sakit … Dia dirawat tujuh hari di sana,” kata Amal.

“Kami berada di daerah yang terkena penembakan setiap hari, mencium bau gas air mata tiap hari. Aku punya anak. Gas tersebut bocor ke dalam rumah melalui jendela dan dari bawah pintu,” katanya.

Dr Haar melaporkan kepada Al Jazeera bahwa, “Tidak ada orang lain yang terpapar tingkat gas air mata setinggi ini.”

Protes terhadap pengakuan nyeleneh Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengenai Yerusalem sebagai ibukota Israel telah meningkatkan serangan gas air mata terhadap warga Palestina, studi tersebut menemukan.

Sementara itu, warga Palestina juga melaporkan bahwa komposisi gas tersebut semakin kuat.

“Ini bukan gas air mata; Ini adalah racun,” kata Thaer, seorang penduduk kamp Aida lainnya, kepada Al Jazeera.

Gas air mata biasanya terdiri dari campuran gas sintetis atau alami, termasuk semprotan merica, “Namun bahan kimia spesifik yang digunakan oleh [pasukan Israel] beberapa tahun ini tidak diketahui,” menurut laporan tersebut.

Menurut Dr Haar, “Israel berkewajiban untuk mengungkapkan komposisi gas air mata yang mereka gunakan sehingga para profesional medis dapat mengobati gejala akibat bahan kimia tersebut.”

Sementara itu, Chris Gunness, juru bicara UNRWA, mengatakan, “Laporan tersebut menyadarkan kekhawatiran serius tentang penggunaan gas air mata di area yang sangat padat seperti kamp pengungsian di Bethlehem.”

“Penggunaan gas air mata yang meluas, sembarangan dan sering terhadap para pengungsi termasuk staf kita sendiri meningkatkan risiko kesehatan, namun pada tahap ini, para profesional kesehatan tidak mungkin menilai risiko ini sepenuhnya juga dampak jangka panjang akibat kontaminasi yang berkepanjangan dan reguler,” Gunness mengatakan kepada Al Jazeera.

“Jelas bahwa dampak psikologis pada remaja yang disurvei itu signifikan dan prospek pengembangan dan pendidikan anak-anak juga terpengaruhi.”