Tuntut Pemerintahan Hadi Lengser, PM Yaman: Kudeta di Kota Aden Didukung oleh UEA

YAMAN (Jurnalislam.com) – Perdana menteri Yaman mengatakan pasukan separatis selatan didukung oleh Uni Emirat Arab (UEA) dalam melakukan “kudeta” setelah mereka menyita beberapa kantor pemerintah dalam bentrokan mematikan di kota pelabuhan Aden.

“Di Aden, legitimasi dibatalkan,” Perdana Menteri Ahmed bin Dagher mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Ahad.

“Apa yang terjadi sangat berbahaya dan mempengaruhi keamanan, stabilitas dan kesatuan Yaman … Pelanggaran ini tidak berbeda dengan kejahatan yang dilakukan oleh Houthi di Sanaa,” tambahnya.

Bentrokan meletus di Aden awal hari Ahad (28/1/2018) setelah tentara Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi, yang didukung oleh Arab Saudi, berusaha mencegah kelompok separatis, yang didukung oleh UEA, memasuki kota tersebut.

Begini Laporan PBB Tentang Pelanggaran HAM Koalisi Arab dan Houthi dalam Perang Yaman

Sedikitnya 10 orang tewas dan 30 lainnya cedera dalam pertempuran tersebut, kata sumber-sumber rumah sakit. Bandara utama juga dilaporkan ditutup.

Southern Transitional Council (STC) – sebuah gerakan yang menuntut pemisahan diri untuk Yaman selatan memberi ultimatum tujuh hari pekan lalu pada pemerintah Hadi untuk mengganti perdana menteri dan kabinetnya, atau digulingkan.

Pemerintah Hadi menolak untuk dipaksa dan kemudian melarang pertemuan umum menjelang tenggat waktu hari Ahad.

Murad Abdu, seorang aktivis pemuda di Yaman selatan, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pengerahan petugas kepresidenan Hadi memicu konfrontasi sengit dengan angkatan bersenjata STC.

Tembakan senjata berat bergema di sebagian besar kota dengan pertempuran jalanan di distrik Aden Khormaksar, al-Mansoura, dan Dar Sad, kata Abdu.

Qatar Kecam Tuduhan Emirat Arab Mediasi Pemberontak Yaman

Jalan-jalan kosong. Sekolah, kantor pemerintah, dan sebagian besar toko tutup.

Hani bin Braik, wakil presiden STC, menyalahkan pemerintah Hadi atas pertempuran dalam sebuah cuitan di Twitter.

“Mereka memaksa kami mengenakan kembali seragam militer kami, meski kami mengatakan kepada mereka bahwa kami anti-kekerasan, tapi kami siap,” katanya.

Menanggapi pengumuman tersebut, Zaid al-Jamal, sekretaris pemimpin STC Aidarous al-Zubaidi, bersumpah bahwa “pemberontakan” akan berlanjut sampai pemerintahan Hadi “digulingkan”.

“Kami telah mengumumkan sebuah program pemberontakan rakyat baru yang akan dimulai besok. Warga sudah mulai membanjiri Al-Orouth Square dan tidak akan pergi sampai pemerintah digulingkan.”

Saluran TV Saudi Al-Hadath melaporkan bahwa Hadi menyerukan gencatan senjata segera dan meminta semua pihak menarik pasukannya dari kota.

Seruan gencatan senjata itu “terlambat” karena pasukan separatis dengan tegas telah menguasai “kendali”, anggota lain dari STC mengatakan.

“Saya mengharapkan campur tangan [Arab Saudi] dan menekan pemerintah [Hadi] untuk mengundurkan diri,” kata sumber tersebut tanpa menyebut nama karena dia tidak berwenang berbicara dengan Al Jazeera.

“Hadi hanya meminta gencatan senjata untuk menyelamatkan sisa-sisa tentaranya,” katanya, menambahkan pertempuran telah mencapai momen yang “menentukan”.

Sumber tersebut juga mengatakan ada korban di kedua sisi dengan sedikitnya 24 orang dikonfirmasi tewas, dan tembakan senjata berat masih bergema di seluruh kota menjelang malam.

Pesan Terbaru Dr Ayman al Zawahiri Terkait Kegagalan Arab Spring

SURIAH (Jurnalislam.com) – Dr Ayman al Zawahiri, pemimpin Al Qaeda global, membahas kegagalan Arab Spring dalam pesan audio yang baru dirilis oleh As Sahab, sayap media Al Qaeda, merilis rekaman online berbahasa Arab berdurasi 12 menit beberapa hari lalu, ditranslate oleh Long War Journal, Sabtu (27/1/2018).

Syeikh Zawahiri berbicara pada peringatan tujuh tahun pergerakan Arab, yang dimulai di beberapa negara pada akhir 2010 dan awal 2011. Pesannya berjudul, “Tujuh Tahun Kemudian, Mana Hasilnya?” Syeikh menyampaikan, bahwa “semua revolusi ditekan kecuali Suriah, yang memasuki spiral solusi internasional,” yang berarti bahwa negara-negara kuat sekarang mendikte jalannya peristiwa.

“Rezim yang memerintah di Tunisia, Mesir, Yaman dan Libya semuanya hanya berubah menjadi lebih ganas dan korup daripada sebelumnya,” kritik Syeikh Zawahiri. Dia mengingatkan bahwa jihadis harus belajar dari pengalaman pahit ini. Pelajaran nomor satu yang ingin dia sampaikan adalah bahwa para jihadis tidak dapat berkompromi dengan ideologi mereka dengan cara yang sama seperti yang dilakukan oleh banyak kelompok Islam lainnya.

Begini Seruan Al Qaeda Global Terkait Isu Yerusalem sebagai Ibukota Israel

Syeikh Zawahiri menasihati kelompok Islam, seperti partai Ennahda di Tunisia dan Ikhwanul Muslimin Mesir, atas kegagalan gerakan Arab untuk mewujudkan pemerintahan berbasis syariah di beberapa negara. Pernyataan al Qaeda mengatakan bahwa umat Muslim meminta diberlakukannya syariah, namun hanya tertarik pada kekuasaan, membuat konsesi yang membahayakan ideologi mereka. Syeikh Zawahiri berpendapat bahwa Ennahda dan Ikhwanul Muslimin sangat ingin menenangkan Barat dan Amerika, namun jalan yang mereka lakukan hanya membawa kembalinya rezim kriminal yang sama yang mereka gulingkan.

Pesan terakhir Zawahiri sama dengan yang dia rilis pada Agustus 2016. Dia menceritakan gagalnya gerakan Arab di Mesir, Tunisia dan Yaman. Dia mengatakan jangan seperti “peternakan unggas, yang menciptakan ayam-ayam yang senang dengan apa yang mereka dapatkan, namun membuat mereka tidak mengetahui sedikit pun tentang ancaman pemangsa yang mengelilingi mereka.”

Penerus Syeikh Usamah bin Laden itu sekarang mengatakan gerakan Libya sebagai salah satu contoh yang gagal. Dan dia menyesalkan bahwa negara-negara dapat mengendalikan konflik Suriah melalui pendanaan dan beberapa kelompok perlawanan malah takut diberi label teroris. Poin terakhir adalah referensi untuk usaha pimpinan AS untuk menunjuk kelompok jihad tertentu sebagai organisasi teroris. Salah satu alasan bahwa “kesatuan” al Qaeda di Suriah terganggu karena beberapa oposisi khawatir bahwa peruntukan tersebut akan merusaknya. Meskipun Syeikh Zawahiri tidak menyebutkannya, Al Qaeda sendiri pada awalnya berusaha menyembunyikan jangkau jaringannya di Suriah, untuk menghindari pengawasan internasional.

Al Qaeda Rilis Pesan Audio Hamzah Bin Ladin Terbaru

Sebelumnya, Syeikh Usamah bin Laden memperkirakan bahwa ada “potensi yang cukup besar di dalam Ikhwan” yang berkembang ke arah para jihadis. Syeikh Bin Laden juga menulis dalam jurnal pribadinya beberapa saat sebelum syahidnya, bahwa gerakan Arab merupakan kesempatan unik bagi perjuangannya. Sebagai tambahan, Al Qaeda memerintahkan anak buahnya untuk bekerja sama dengan kelompok-kelompok Islam di negara-negara mayoritas Arab dalam upaya mengarahkan mereka menuju ideologi jihad. Di Suriah, misalnya, pasukan al Qaeda telah bekerja sama dengan kelompok Islam dan Salafi dari berbagai faksi dan bahkan bersiyasah dengan kelompok yang didukung oleh Barat.

Walaupun Syeikh Zawahiri menyesalkan kegagalan untuk mencapai tujuan tata pemerintahan syariah yang sudah berjalan lama di beberapa negara, hal itu tidak berarti bahwa dia menilai semuanya hilang. Meskipun tata kelola syariah yang meluas tidak berakar, Al Qaeda masih mempertahankan tapak gerakan di banyak wilayah di sejumlah negara. Meskipun menghadapi banyak hambatan, pasukan gerilya Al Qaeda justru saat ini berjuang di lebih banyak negara.

Gencatan Senjata Baru Dimulai, Rezim Syiah Assad Malah Bombardir Ghouta Timur

SURIAH (Jurnalislam.com) – Aktivis Suriah melaporkan rezim Nushairiyah Bashar al-Assad melanggar gencatan senjata di Ghouta Timur, kubu oposisi terakhir yang tersisa di wilayah dekat ibu kota, Damaskus.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (the Syrian Observatory for Human Rights-SOHR) mengatakan sedikitnya lima rudal dan artileri menargetkan daerah kantong yang terkepung pada dini hari Sabtu (27/1/2018, tak lama setelah gencatan senjata yang dinegosiasikan Rusia mulai berlaku.

Mohammed Alloush, seorang anggota senior faksi Jaish al-Islam, sebuah faksi oposisi Suriah yang kuat, menulis di Twitter: “Rusia gagal dalam menerapkan gencatan senjata secara praktis yang diumumkan semalam di Ghouta Timur. Rudal ‘Elephant‘ masih membombardir Ghouta Timur. Mereka tidak bisa berhenti menembak bahkan untuk sepuluh menit saja.”

White Helmets: 200 Lebih Warga Sipil Ghouta Timur Dibantai Rezim Assad

Reporter Al Jazeera, Stefanie Dekker, melaporkan dari daerah dekat perbatasan Turki-Suriah, bahwa kedekatan Timur Ghouta dengan Damaskus menggarisbawahi pentingnya wilayah tersebut bagi rezim Syiah Assad.

“Gencatan senjata saat ini dihentikan namun nasibnya akan bergantung pada bagaimana segala sesuatu berkembang di lapangan,” katanya.

Tidak semua faksi oposisi di Ghouta Timur telah menandatangani kesepakatan tersebut, dan tetap harus dilihat berapa lama waktu yang dibutuhkan, koresponden kami menambahkan.

Ghouta Timur telah berada di bawah pengepungan rezim Syiah Suriah sejak 2013, dan gencatan senjata tersebut diperkirakan akan membawa bantuan sementara kepada sekitar 400.000 orang di wilayah tersebut yang menderita kekurangan makanan dan obat-obatan akut.

Selama dua bulan terakhir, jet tempur Rusia dan Suriah telah mengintensifkan pemboman mereka terhadap daerah kantong oposisi.

Berita tentang kesepakatan tersebut terjadi saat oposisi Suriah mengumumkan bahwa pihaknya berencana untuk memboikot perundingan damai yang diselenggarakan oleh Gates di Sochi pekan depan, dengan mengatakan bahwa ini adalah usaha demi melemahkan upaya Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menjadi perantara sebuah kesepakatan.

Dukungan Dunia untuk Bayi Suriah yang Dibom Rezim Syiah Assad di Ghouta Timur

Pengumuman hari Sabtu dibuat di Wina, di mana putaran terakhir perundingan PBB antara pemerintah Suriah dan oposisi terjadi tanpa terobosan besar.

“Kami mendengarkan banyak jaminan mengenai komitmen, namun tidak satupun dari mereka terealisasi,” kata Yahya al-Aridi, juru bicara oposisi Suriah, setelah pengumuman tersebut.

“Kita bosan dengan itu, kita butuh keterlibatan nyata, kita butuh komitmen nyata,” katanya kepada Al Jazeera.

Aridi mengatakan bahwa terserah kepada Rusia untuk memberi tekanan lebih besar pada pemerintah Suriah untuk membuat langkah konkret demi menyelesaikan krisis, yang sekarang berada di tahun ketujuh.

“Kami yakin bola itu ada di lapangan Rusia,” katanya. “Mereka mengatakan bahwa mereka berada di atas angin di Suriah dan mereka bertanggung jawab menyelamatkan rezim ini untuk waktu yang lama, dan mereka dapat membawanya untuk melakukan resolusi legalitas internasional dan jika mereka menginginkannya, mereka dapat melakukannya.

Ketika ditanya berapa kali oposisi bersedia menghadiri pembicaraan yang ditakdirkan untuk gagal sejak awal, al-Aridi memilih menyalahkan rezim.

6 Hari Pertempuran di Ghouta Timur, Pasukan Assad Kalah Telak, 135 Tewas

“Anda harus mengingat pihak yang berusaha merongrong proses politik. Rezim memilih solusi perang sebagai strategi untuk membungkam warga Suriah, namun dunia memikirkan solusi politik, dan resolusi tersebut dikeluarkan dari UNSC. Namun [Assad] malah berupaya melawan resolusi politik dan menemukan cara sendiri untuk menghalangi PBB melakukan tugasnya.”

Dalam sebuah konferensi pers terpisah pada hari Sabtu pagi, Nasr al-Hariri, pemimpin delegasi oposisi Suriah, juga mendesak rezim Assad untuk berkomitmen pada “tujuan nyata” yang ditetapkan oleh PBB.

Sejauh ini, sembilan putaran perundingan PBB antara pihak-pihak yang bertikai hanya membuat sedikit pengaruh dalam upaya mengakhiri perang Suriah.

447 Pasukan PYD Tewas dalam Operasi Militer di Afrin

ANKARA (Jurnalislam.com) – Sebanyak 447 pasukan PYD/PKK dan IS telah “dinetralisir” sejak awal Operation Olive Branch (Operasi Ranting Zaitun) di wilayah barat laut Afrin, Suriah, kata militer Turki pada hari Sabtu (27/1/2018).

Militer umumnya menggunakan istilah “menetralkan” untuk menandakan bahwa target tersebut telah dibunuh, lansir Anadolu Agency.

Menurut sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Staf Umum Turki, tentara “menetralkan” 53 milisi PYD/PKK dan IS pada hari Sabtu.

Pernyataan tersebut mengatakan 22 jet Turki dengan aman kembali ke markas mereka setelah menghancurkan 42 sasaran yang digunakan sebagai tempat persembunyian senjata, tempat penampungan, dan depot amunisi oleh kelompok teror PYD/PKK dan IS.

10 Jawaban Erdogan atas Pertanyaan Operasi Militer di Suriah

Pernyataan ini menambahkan dua tentara Turki tewas, sementara 11 lainnya menderita cedera luka yang tidak mengancam nyawa mereka dalam bentrokan Sabtu dengan milisi.

Dua anggota Tentara Pembebasan Suriah juga menjadi martir dan empat lainnya cedera, menurut pernyataan tersebut.

Operasi Olive Branch “dilanjutkan seperti yang telah direncanakan,” tambahnya.

Pihak militer menegaskan bahwa pihaknya sangat berhati-hati agar tidak membahayakan warga sipil selama operasi tersebut.

Pada 20 Januari, Turki meluncurkan Operation Olive Branch untuk membersihkan milisi PYD/PKK dan IS dari Afrin.

Menurut Staf Umum Turki, operasi tersebut bertujuan untuk membangun keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan dan wilayah Turki serta untuk melindungi warga Suriah dari penindasan dan kekejaman teroris.

Gelar Operasi Militer di Suriah, Sekjen NATO: Turki Memiliki Hak

Operasi tersebut dilakukan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, keputusan Dewan Keamanan PBB, hak pembelaan diri berdasarkan piagam PBB dan penghormatan terhadap integritas teritorial Suriah, katanya.

Afrin telah menjadi tempat persembunyian utama bagi PYD/PKK sejak Juli 2012 ketika rezim Syiah Nusairiyah Assad di Suriah menyerahkan kota dengan cuma-cuma.

Al Qaeda Mali Serang Markas Militer, 14 Pasukan Tewas dan 18 Terluka

MALI (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 14 tentara Malia telah tewas dan 18 lainnya luka-luka dalam sebuah serangan pejuang al-Qaeda di mana pejuang mengambil alih sebuah kamp militer di utara negara Afrika tersebut, kata militer.

“Pasukan bersenjata Malia diserang pagi ini, sekitar pukul 4 pagi waktu setempat, di Soumpi (wilayah Timbuktu). Kami telah mencatat 14 korban tewas, 18 luka-luka dan kerusakan material,” kata sebuah pernyataan dari militer yang diposkan di media sosial, Sabtu (27/1/2018), lansir Aljazeera.

Serangan mematikan tersebut memaksa Presiden Mali, Ibrahim Boubacar Keita untuk membatalkan kunjungan ke KTT Uni Afrika yang akan diadakan di Addis Ababa, ibu kota Ethiopia.

Pada pertempuran dini hari itu tentara kehilangan kendali atas pangkalan tersebut, namun merebutnya kembali dari para pejuang pada siang hari, sebuah sumber militer Mali yang tiba di lokasi mengatakan kepada kantor berita AFP.

“Pasukan Malian kembali menguasai kamp. Dua penyerang terbunuh,” kata sumber tersebut.

Pasukan PBB di Mali Utara Dihantam Ranjau Darat, 3 Tewas

Insiden Soumpi terjadi dua hari setelah 26 warga sipil termasuk ibu-ibu dan anak mereka terbunuh saat kendaraan mereka melewati ranjau darat di Boni, Mali tengah, menurut laporan korban tewas PBB.

Pemerintah Malian semakin kehilangan cengkeramannya di daerah pedesaan di tengah meningkatnya serangan al-Qaeda terhadap pasukan pemerintah dan asing.

Pejuang Al-Qaeda dalam koalisi dengan gerakan Azawad menguasai padang pasir yang luas di Mali utara sejak awal tahun 2012, namun mulai didorong mundur dalam operasi militer pimpinan Perancis yang diluncurkan pada Januari 2013.

Pada bulan Juni 2015, pemerintah Mali menandatangani sebuah perjanjian damai dengan koalisi oposisi yang tidak berafiliasi dengan al-Qaeda. Tapi pejuang tetap aktif, dan traktat (wilayah) besar di negara ini tidak bisa dikendalikan oleh pemerintah.

Dewan Keamanan PBB pada hari Rabu (24/1/2018) dengan suara bulat mengadopsi sebuah pernyataan rancangan Prancis yang memberi kesepakatan perdamaian 2015 bagi para pihak yang bertikai sampai akhir Maret tahun ini untuk menunjukkan kemajuan atau mendapatkan sanksi.

Serangan Terkoordinasi Al Shabaab Tewaskan 23 Pasukan Uni Afrika dan Somalia

Dewan tersebut mengatakan bahwa ada “kebutuhan mendesak untuk menyampaikan keuntungan perdamaian yang nyata dan terlihat kepada penduduk di utara dan bagian Mali lainnya” menjelang pemilihan yang dijadwalkan tahun ini.

Mali adalah satu dari negara di wilayah Sahel Afrika yang telah dilanda perang yang sedang berlangsung yang mendahului kebangkitan al-Qaeda.

Negara ini telah bergabung dengan apa yang disebut “kekuatan Sahel G5” dengan Mauritania, Niger, Chad dan Burkina Faso, yang menggabungkan militer mereka untuk berperang.

Mali telah menghadapi medan perang intensitas rendah yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Meskipun merupakan penghasil emas terbesar ketiga di benua Afrika, separuh dari populasinya hidup dengan kurang dari $ 1 per hari, yang berada di bawah garis kemiskinan internasional.

Ratusan Petugas Pemerintah Afghanistan Tewas dan Terluka dalam Serangan Bom di Kabul

KABUL (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 246 personil militer termasuk petugas telah menjadi korban dalam serangan martir terbaru selama serangkaian Operasi Mansoori di ibukota Afghanistan, Kabul, lansir Al-Emarah News, Sabtu (27/1/2018).

Wartawan Al-Emarah mengatakan seorang pejuang Taliban dari unit syahid Imarah Islam Afghanistan, Salahuddin dari provinsi Kandahar pada hari Sabtu siang mengemudikan kendaraannya yang penuh dengan bahan peledak di daerah dekat gedung lama kementerian dalam negeri dan meledakkannya di pos pemeriksaan kedua di dekat pintu masuk kementerian dalam negeri setelah melewati pos pemeriksaan pertama.

Targetkan Pertemuan Asing, 5 Mujahidin Taliban Kepung Hotel Intercontinental di Kabul

Daerah tersebut telah diawasi selama sepekan terakhir karena operasi tersebut akan berlangsung dan serangan hari ini adalah hal yang benar pada saat yang tepat karena pejabat, staf, petugas dan personil militer kementerian dalam negeri berkumpul saat makan siang dekat dengan lokasi serangan.

Sementara Anadolu Agency melaporkan, sekitar pukul 12.50 siang waktu setempat (0820GMT), sebuah ambulans yang dilengkapi dengan bahan peledak diledakkan di pintu masuk Kementerian Dalam Negeri, dekat dengan Alun-alun Sadarat selama jam sibuk siang hari. Korban tewas terus meningkat. Kementerian Dalam Negeri mengumumkan di malam hari bahwa hingga 95 orang telah hilang. Nusrat Rahimi, wakil juru bicara Kementerian Perindustrian, mengatakan lebih dari 150 orang telah terluka.

Departemen Pendidikan Afghanistan Senang Taliban Kendalikan 219 Sekolah di Provinsi Herat

Menurut Al Emarah, sebanyak 246 personil musuh dan petugas termasuk di antara mereka yang tewas dan menderita luka-luka dalam serangan, yang terjadi setelah operasi Helmand yang menewaskan sejumlah besar pasukan boneka tersebut.

Operasi martir Sabtu merupakan pembalasan atas serangan udara musuh terhadap warga sipil yang tidak berdaya, menhancurkan rumah penduduk dan menculik mereka.

Ratusan Warga Irak akan Bergabung dengan Operasi Militer Turki di Suriah

IRAK (Jurnalislam.com) – Turkmen Irak di kota Kirkuk, Irak utara, telah menyuarakan kesiapan mereka untuk ambil bagian dalam Operasi Olive Branch yang sedang berlangsung, yang berusaha untuk menghilangkan kehadiran teroris di dan sekitar distrik Afrin, Suriah utara.

“Turkmen ingin menunjukkan dukungan mereka dengan memainkan peran aktif dalam operasi sesuai kebutuhan,” Aydin Beyatli, ketua Federasi Turkmeneli yang berbasis di Istanbul, mengatakan kepada Anadolu Agency pada hari Jumat (26/1/2018).

Sabtu lalu, Turki, bekerja sama dengan Free Syria Army (FSA), meluncurkan Operation Olive Branch dengan tujuan untuk menghilangkan keberadaan pasukan PYD/PKK dan IS di distrik Afrin utara Suriah dekat perbatasan Turki.

Menurut Staf Umum Militer Turki, kampanye tersebut terutama bertujuan untuk membersihkan wilayah perbatasan dari elemen-elemen teroris dan melindungi penduduk sipil di distrik tersebut.

Gelar Operasi Militer di Suriah, Sekjen NATO: Turki Memiliki Hak

“Dua ratus pasukan bersenjata Turkmen di Kirkuk siap untuk bergabung dalam operasi tersebut,” kata Beyatli, menambahkan bahwa sejumlah Turkmen yang tinggal di Turki juga telah meminta untuk berpartisipasi dalam kampanye tersebut.

Sebagai seorang dokter, Beyatli mengatakan bahwa banyak dokter Turkmen juga yang siap untuk menawarkan layanan mereka kepada tentara Turki di lapangan.

Menurut Beyatli, Operasi Ranting Zaitun telah “memberikan harapan” tidak hanya kepada wilayah Turkmen, tapi juga komunitas lokal Arab, Kurdi, Muslim dan Syiah, yang semuanya dia katakan telah disalahgunakan oleh milisi PYD.

Pejabat militer Turki mengatakan operasi tersebut dilakukan berdasarkan hukum internasional; resolusi Dewan Keamanan PBB; hak untuk membela diri sebagaimana diabadikan oleh piagam PBB; dan menghormati kesatuan dan integritas teritorial Suriah.

Pejabat militer juga menekankan bahwa mereka sangat menekankan untuk menghindari korban sipil.

PYD / PKK telah menikmati kehadiran yang signifikan di distrik Afrin sejak pertengahan 2012, ketika pasukan rezim Syiah Nushairiyah Suriah memberikan wilayah tersebut ke milisi PYD dengan cuma-cuma.

Anadolu Agency: PYD Gunakan Foto-foto Lama di Internet Untuk Kampanye Hitam

ANKARA (Jurnalislam.com) – Kelompok PYD/PKK menggunakan foto-foto lama, termasuk foto pemenang dari Anadolu Agency Istanbul Photo Awards 2016, dalam sebuah kampanye propaganda hitam di media sosial untuk menyalahartikan Operasi Olive Branch di Suriah.

Organisasi teroris dan pendukungnya sangat putus asa dalam usaha mereka menghasilkan propaganda hitam sehingga mereka menggunakan gambar asal-asalan dari internet.

Empat foto yang diduga diambil selama operasi yang sedang berlangsung di wilayah Afrin bagian barat laut Suriah saat ini, ternyata merupakan gambar lama yang diambil dalam berbagai kejadian di masa lalu.

Satu foto yang dibagikan di Twitter mengklaim: “Tentara Turki disandera di Afrin”. Namun, ternyata foto tersebut diambil oleh Anadolu Agency pada tanggal 3 Maret 2014, dan menunjukkan 20 tentara yang telah dieksekusi oleh kelompok Islamic State (IS) di Irak.

10 Jawaban Erdogan atas Pertanyaan Operasi Militer di Suriah

Dua foto lainnya dibagikan di Twitter dengan hashtag #TerroristTurkey dan #SaveAfrin yang menunjukkan bahwa anak-anak yang terluka juga milik Anadolu. Gambar-gambar tersebut sebenarnya berasal dari serangan udara Rusia di kota Aleppo di Suriah dan diambil pada 11 Oktober 2016, dan pada 11 Juli 2016.

Akun Pro-PKK membagikan foto lain yang merupakan pemenang AA Istanbul Photo Awards pada tahun 2016 seolah-olah baru saja diambil di Afrin. Foto pemenang penghargaan tersebut menunjukkan seorang anak yang terluka di Aleppo dua tahun lalu. Mereka membagikan foto di media sosial dengan hashtag #Afrinwillwin.

Foto palsu yang beredar online oleh kelompok teror yang diduga menggambarkan operasi Afrin di Turki telah dibongkar oleh Anadolu Agency. “Kebohongan mereka tentang Afrin ” di media sosial kini telah mencapai titik jenuh.

Propaganda hitam dan manajemen persepsi terhadap militer Turki dimulai segera setelah Turki meluncurkan operasi tersebut, dimana pendukung organisasi teroris PYD / PKK memposting foto palsu dan terdistorsi di media sosial yang secara salah mengklaim bahwa foto-foto itu berasal dari Afrin.

Kelompok teror PKK telah memberikan instruksi kepada pendukungnya untuk berbagi gambar palsu dan berita online dalam upaya membayangi operasi Afrin yang sedang berlangsung di Turki.

Dalam beberapa hari terakhir, sedikitnya 10 gambar yang dibagikan oleh akun pro-PYD / PKK di media sosial ternyata merupakan foto-foto lama yang diambil saat kejadian yang berbeda di masa lalu.

Foto-foto itu diambil sebelum Operation Olive Branch dimulai. Beberapa akun yang memposting berita dan gambar palsu tersebut ditutup setelah Anadolu Agency menyebarkan sebuah cerita tentang mereka.

Kelompok teror PYD/PKK menempati seperempat Suriah dan 65 persen perbatasan Suriah-Turki.

Menurut Staf Umum Turki, Operation Olive Branch bertujuan untuk membangun keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan dan kawasan tersebut serta untuk melindungi warga Suriah dari penindasan dan kekejaman teroris.

Erdogan kepada Trump: Tarik Pasukan AS dari Manbij

Operasi tersebut dilakukan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, keputusan Dewan Keamanan PBB, hak pembelaan diri berdasarkan Piagam PBB dan penghormatan terhadap integritas teritorial Suriah, katanya.

Militer juga mengatakan bahwa hanya target militer yang dihancurkan dan “sangat ditekankan” untuk tidak merugikan warga sipil manapun.

Afrin telah menjadi tempat persembunyian utama bagi PYD/PKK sejak Juli 2012 ketika rezim Syiah Bashar al-Assad menyerahkan kota tersebut ke kelompok teror secara cuma-cuma.

AS Menyendiri dari Kenyataan

ANKARA (Jurnalislam.com) – Turki pada hari Jumat (26/1/2018) mengkritik ucapan Presiden AS Donald Trump tentang konflik Israel-Palestina di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, dengan mengatakan bahwa AS “menyendiri” dari kenyataan.

Pada hari Kamis, Trump mengancam pihak berwenang Palestina akan memotong bantuan dalam sebuah pertemuan dengan Perdana Menteri zionis Benjamin Netanyahu di sela Forum Ekonomi Dunia di Davos dan mengatakan Palestina sekarang harus bernegosiasi dengan Israel untuk menerima bantuan AS.

“Ketika mereka tidak menghormati kami sepekan yang lalu dengan tidak membiarkan wakil presiden kami [Mike Pence] melihat mereka, sedangkan kami memberi mereka bantuan ratusan juta dolar… uang tersebut ada di atas meja, dan uang itu tidak akan mereka dapatkan kecuali mereka duduk dan menegosiasikan perdamaian,” kata Trump.

Tolak Tawaran Perdamaian dari Trump, Palestina Tarik Utusannya di AS

Dalam sebuah pernyataan tertulis, Hami Aksoy, juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki , mengungkapkan keprihatinan atas ucapan Trump.

“Pernyataan ini menunjukkan betapa jauhnya pemikiran Presiden AS dan rombongannya dari kenyataan yang terjadi di wilayah dan dinamika konflik,” kata pernyataan tersebut.

Menggambarkan status terakhir Yerusalem sebagai komponen paling mendasar dari proses perdamaian “menuju penyelesaian konflik Israel-Palestina yang komprehensif, adil dan abadi sejak awal,” pernyataan tersebut mengatakan: “Parameter yang mapan dari masyarakat internasional berkaitan dengan proses penyelesaian ini tidak dapat diubah oleh AS dengan apapun.”

“Kami menyerukan kepada Amerika Serikat, sebagai hal yang mendesak, untuk menghormati tekad kuat masyarakat internasional mengenai masalah Yerusalem, terutama resolusi Dewan Keamanan PBB, yang merupakan anggota tetap,” tambahnya.

Belgia Sumbangkan $23 Juta ke Palestina, Setelah AS Potong Bantuan ke UNWRA

Pekan lalu, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan bahwa pihaknya menahan $ 65 juta bantuan untuk Palestina “dengan pertimbangan lebih lanjut.”

Pemotongan dana AS terjadi sebulan setelah Trump memicu kecaman dunia dengan secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

10 Jawaban Erdogan atas Pertanyaan Operasi Militer di Suriah

ANKARA (Jurnalislam.com) – Pada akun Twitter resminya, presiden Turki menjawab 10 pertanyaan – baik dalam bahasa Turki maupun Inggris – tentang Operation Olive Branch, yang akan memasuki pekan kedua pada hari Sabtu (26/1/2018).

Kepresidenan memberikan penjelasan ringkas tentang berbagai aspek operasi, termasuk tujuan utamanya dan dampak ekonomi serta kemanusiaan yang diantisipasi.

Sabtu lalu, Turki, bekerja sama dengan Tentara Pembebas Suriah (FSA), meluncurkan Operation Olive Branch untuk menghapuskan kehadiran pasukan PYD/PKK dan IS di distrik Afrin utara Suriah.

Pertempuran Turki vs Amerika di Ambang Pintu Kota Manbij, Suriah

PYD/PKK telah menikmati kehadirannya yang kuat di Afrin – terletak di dekat perbatasan Turki – sejak pertengahan 2012, ketika pasukan rezim Syiah Suriah mundur dari daerah tersebut tanpa pertempuran.

Menurut Staf Umum Turki, operasi tersebut terutama ditujukan untuk membersihkan daerah perbatasan dari elemen teroris dan melindungi penduduk sipil setempat.

Operasi dilakukan berdasarkan hukum internasional; resolusi Dewan Keamanan PBB; hak untuk membela diri sebagaimana diabadikan oleh piagam PBB; dan menghormati kesatuan Suriah dan integritas teritorial.

Pejabat militer Turki, sementara itu, sangat menekankan untuk menghindari korban sipil.

Berikut adalah beberapa pertanyaan dan jawaban yang diberikan oleh kepresidenan Turki, yang dirilis oleh Anadolu Agency:

Apakah Operasi Ranting Zaitun (Olive Branch)?

Operation Olive Branch adalah operasi yang diluncurkan Turki pada hari Sabtu untuk melawan teroris PYD/PKK dan IS dan dilakukan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan undang-undang internasional, resolusi Dewan Keamanan PBB, dan hak untuk membela diri berdasarkan Pasal 51 Konvensi PBB serta penghormatan untuk Integritas teritorial Suriah.

Apakah keamanan nasional Turki beresiko?

Turki adalah target langsung dari organisasi teroris PYD/PKK dan IS, yang keduanya meningkatkan serangan mereka ke Turki setelah perang Suriah dimulai pada 2011. Lebih dari 700 serangan terhadap Turki telah dilakukan dari wilayah Suriah dalam setahun terakhir saja.

Apa tujuan operasi itu?

Operasi Olive Branch bertujuan untuk membangun keamanan dan stabilitas di sepanjang wilayah perbatasan Turki-Suriah dan untuk melindungi warga sipil Suriah dari serangan-serangan kelompok teroris. Operasi ini juga bertujuan untuk memastikan kembalinya pengungsi Suriah yang selamat ke rumah mereka.

Siapa target utama operasi?

Operasi tersebut secara khusus menargetkan kelompok teroris PYD/PKK dan IS. Operasi ini tidak menargetkan kelompok agama atau etnis tertentu.

Kapan operasi akan berakhir?

Operasi akan berlanjut sampai ancaman keamanan terkait terorisme di wilayah tersebut dieliminasi dan teroris terakhir dinetralisir.

Akankah operasi ini merugikan warga sipil?

Perhatian sepenuhnya diberikan untuk menghindari bahaya bagi penduduk sipil di wilayah ini.

IS merupakan salah satu target utama operasi. Berlawanan dengan kepercayaan populer, kelompok PYD/PKK dan IS sesungguhnya bekerja sama untuk mencapai tujuan mereka.

Apa arti operasi bagi keamanan Eropa?

Operasi tersebut akan berfungsi untuk mengamankan perbatasan selatan NATO. Terlebih lagi, operasi akan menghambat arus elemen teroris dan migran tak berdokumen ke Eropa.

Bagaimana operasi ini akan mengurangi arus keluar pengungsi dari Suriah?

Operasi tersebut bertujuan untuk menstabilkan kawasan ini, sehingga mencegah arus keluar pengungsi baru dan memungkinkan pengungsi Suriah kembali ke rumah mereka. Setelah Operasi Euphrates Shield yang sukses di Turki, lebih dari 100.000 pengungsi telah kembali ke Jarablus. Kesimpulan keberhasilan Operation Olive Branch akan memungkinkan 500.000 pengungsi kembali ke Afrin.

Akankah operasi tersebut mempengaruhi ekonomi Turki?

Meskipun ekonomi kawasan ini berkembang negatif baru-baru ini, ekonomi Turki adalah salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia tahun lalu, yaitu tumbuh lebih dari 11 persen pada kuartal terakhir. Perekonomian Turki tidak terpengaruh oleh usaha kudeta 2016 yang gagal atau Operation Euphrates Shield. Dampak ekonomi dari Operation Olive Branch kemungkinan akan diabaikan.