Erdogan kepada Trump: Tarik Pasukan AS dari Manbij

ANKARA (Jurnalislam.com) – Presiden Turki Tayyip Erdogan mengatakan kepada Presiden AS Donald Trump dalam sebuah percakapan telepon pada hari Rabu (24/1/2018) bahwa tentara AS harus menarik diri dari wilayah Manbij di Suriah utara, kata menteri luar negeri Turki, Kamis (25/1/2018).

Pada hari Rabu, sebelum teleponnya dengan Trump, Erdogan mengatakan bahwa Turki akan memperluas operasi militernya di Suriah ke kota Manbij, sebuah langkah yang berpotensi membawa pasukan Turki ke dalam konfrontasi terbuka dengan pihak sekutu NATO mereka, Amerika Serikat.

Seorang pejabat Turki mengatakan bahwa siapa pun yang mendukung milisi YPG akan menjadi “target”, sebuah peringatan yang cenderung membuat Amerika Serikat marah karena pasukannya bekerja sama dengan kelompok bersenjata Kurdi di wilayah Suriah utara, lansir Aljazeera.

Pertempuran Turki vs Amerika di Ambang Pintu Kota Manbij, Suriah

Komentar Wakil Perdana Menteri Bekir Bozdag pada hari Kamis muncul setelah Turki mengancam untuk menyerang kota Manbij, sekitar 100 km timur Afrin, sebagai bagian dari operasi lintas perbatasan melawan wilayah Afrin, yang dikendalikan oleh pasukan Kurdi dukungan AS.

AS memiliki sekitar 2.000 tentaranya yang bermarkas di Manbij, yang bekerja bersama YPG dalam memerangi Islamic State (IS).

Jika AS ingin “menghindari konfrontasi dengan Turki – yang tidak mereka atau Turki inginkan – jalan untuk ini jelas: mereka harus mengurangi dukungan yang diberikan kepada teroris YPG/PYD”, Bozdag mengatakan kepada penyiar Turki A Haber.

“Mereka yang mendukung organisasi teroris akan menjadi sasaran dalam pertempuran ini. Amerika Serikat perlu meninjau kembali tentaranya serta elemen yang memberi dukungan kepada teroris di lapangan sedemikian rupa untuk menghindari konfrontasi dengan Turki,” katanya.

Tidak ada tanggapan langsung dari AS atas komentar Bozdag pada hari Kamis.

Koalisi militer AS yang beroperasi di Manbij pada hari Rabu mengatakan tentara Amerika di sana memiliki hak untuk membela diri dari serangan apapun.

“Pasukan koalisi yang berada di daerah itu memiliki hak yang melekat untuk membela diri dan akan melakukannya jika perlu,” kata juru bicara Kolonel Ryan Dillon.

Juru bicara Pentagon Dana White mengatakan pada hari Kamis bahwa dia telah melihat laporan media tentang Turki mendesak AS untuk memindahkan pasukan dari Manbij, namun dia tidak tahu apakah itu sedang dipertimbangkan.

Ini Alasan Erdogan Gelar Operasi Militer di Suriah

Turki melancarkan serangannya melawan YPG di Afrin sepekan yang lalu. Militer mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya “menetralisir” lebih dari 300 pasukan di Suriah utara sejak operasi dimulai.

Turki menganggap YPG – yang dilatih, dipersenjatai dan didukung oleh AS untuk berperang melawan IS – sebagai perpanjangan dari Partai Pekerja Kurdistan yang dilarang (PKK), yang telah melakukan teror berdarah selama bertahun-tahun di negara Turki.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg membela tindakan militer Turki namun mendesak agar berhati-hati.

“Turki adalah salah satu negara NATO yang paling menderita akibat serangan terorisme,” kata Stoltenberg dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis.

“Semua negara memiliki hak untuk membela diri, tapi ini harus dilakukan dengan cara yang proporsional dan terukur.”

Sementara itu, administrasi Afrin yang dipimpin Kurdi meminta rezim Syiah Assad Suriah untuk mempertahankan wilayah tersebut melawan serangan Turki.

“Kami meminta negara Suriah untuk melaksanakan kewajiban negaranya terhadap Afrin dan melindungi perbatasannya dengan Turki dari serangan pasukan Turki … dan mengerahkan angkatan bersenjata Suriah untuk mengamankan perbatasan wilayah Afrin,” katanya dalam sebuah pernyataan di situsnya.

Seminar Kepemimpinan Islam “Kepempimpinan Islam dalam Dinamika Politik Indonesia”

“Leiden is lijden, Memimpin adalah Menderita” (Haji Agus Salim)

Dalam masyarakat Islam, kepemimpinan memainkan peranan sentral. Kepemimpinan dalam Islam tidak terbatas pada menjalankan fungsi-fungsi sosial-politik semata, melainkan juga fungsi religius. Kepemimpinan juga bukan soal kekuasaan, ia adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Konsep kepemimpinan yang integral menjadikan kepemimpinan Islam bersifat unik.

Memadukan konsep-konsep umum kepemimpinan Islam dengan realita umat Islam di Indonesia tidak semudah membalikan telapak tangan. Dibutuhkan kajian yang serius dan terus-menerus untuk dapat menelurkan format kepemimpinan Islam yang tepat bagi umat Islam Indonesia. Yang pasti sebuah konsep kepemimpinan lahir dari landasan-landasan teoritis yang dihasilkan melalui kajian ilmiah, sebelum ia termanifestasikan dalam amal nyata. Kesadaran inilah yang mendorong lahirnya gagasan Seminar Kepemimpinan Islam yang Insya Allah akan dilaksanakan pada hari Selasa, 6 Februari 2018 di Hotel Sofyan Betawi, Cikini, Jakarta Pusat.

Seminar terbatas ini akan dihadiri oleh tokoh-tokoh nasional, politi serta para ulama.

 

Ikutilah! Daurah Pendidikan ‘100 Tahun Perkembangan Keilmuan dan Pendidikan dalam Peradaban Islam”

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sirah Community Indonesia menggelar Daurah Pendidikan dengan tema “100 Tahun Perkembangan Keilmuan dan Pendidikan dalam Peradaban Islam” pada Ahad, 28 Januari 2018 mendatang. Acara akan dilangsungkan di Aula INSIST Jalan Kalibata Utara II No. 84, Jakarta Selatan dengan menghadirkan pemateri Ustadz Asep Sobari, Lc dari MIUMI.

 

Politik Ekonomi Islam Dalam Hegemoni Kapitalisme dan Sosialisme (Tamat)

 

Oleh: Dr. H. Mohammad Ghozali, MA

 

 

Selain itu pemikiran yang lahir dari sosialisme ini, yaitu materialism historis dan evolusi materi adalah pemikiran yang keliru sebab bertentangan dengan fithrah manusia. Materi tidak berevolusi dengan sendirinya. Namun melalui pengaruh hukum. Dan hukum inilah yang membuat cara tertentu hingga terjadi perpindahan dari satu keadaan kepada keadaan yang lain. Konversi ini tidak terjadi dari materi.

Oleh karena itu, konversi itu terjadi melalui sesuatu yang lain di luar materi. Yaitu selain materi ada sesuatu yang lain yang memaksanya hingga terjadi terjadi perubahan (konversi) dari keadaan yang satu kepada keadaan yang lain. Kekuatan yang memaksakan (factor ekstern) itulah yang menyebabkan materi berubah bentuk . Dengan demikian tidak ada evolusi yang terjadi sendiri . Ini menunjukkan kerusakan filsafat materialism serta kerusakan system yang lahir darinya. Berdasarkan aspek ini, maka system sosialisme marxisme adalah system yang rusak.

Politik Ekonomi Islam sebagai Sistem Ideal

Berdasarkan pembahasan sebelumnya, maka jelaslah bahwa pemikiran-pemikiran yang menjadikn peningkatan pendapatan nasional sebagai asas system ekonomi adalah kekeliruan. Pemikiran pemikiran sosialisme negara adalah keliru sebab bertentangan dengan realitas. Pemikiran-pemikiran keadilan social justru memperpanjang umur system kapitalisme.

Oleh karena itu, tidak lah benar bila seorang muslim mempropagandakan system tersebut ataupun mencoba menerapkannya. Sebab dilihat dari aspek pemikirannnya sudah banyak ketimpangan-ketimpangan atau dengan kata lain ada kerusakan. Disamping negara-negara besar Barat untuk memperpanjang umur imperalisme dan memperkokoh eksistensi system kapitalisme.

Sebuah pertanyaan yang harus di jawab oleh semua orang Islam yaitu politik ekonomi manakah yang dapat diterapkan secara praktis di masa sekarang sebagai solusi terhadap masalah ekonomi? Mengingat doktrin pertumbuhan pendapatan Nasional, sosialisme dan keadilan social merupakan pemikiran pemikiran yang rusak.

Jawabannya adalah bahwa politik ekonomi di negara dimanapun harus dibangun dari pemikiran yang komprehensif tentang alam, manusia dan kehidupan. Yaitu Politik Ekonomi Islam. Karena hanya di dalam konsep Islam pemikiran yang konprehensif tentang alam, manusia dan kehidupan.

Bagi mereka yang hendak membicarakan tentang politik ekonomi negara, harus menggambarkan dan memahami realitas negara tersebut, serta mengetahui apa yang dibutuhkannya. Jika realitas negara itu tidak meiliki pemikiran yang konprehensif, maka mereka akan menggambarkan politik ekonomi dengan tidak konstan. Sebab mereka tidak memiliki pemikiran yang konprehensif untuk membangun politik ekonomi yang orisiinil dan konstan.

Baca juga: Politik Ekonomi Islam Dalam Hegemoni Kapitalisme dan Sosialisme (1)

Secara realita pula negeri-negeri Islam saja yang memeluk pemikiran yang konprehensif yang khas tentang alam, manusia dan kehidupan yaitu berlandaskan aqidah Islam. Sehingga secara realita yang hadir dalam peradaban sekarang ini, pemikiran kapitalis dan sosialisme dipaksakan dijadikan asas dalam membangun solusi masalah kehidupannya. Olehkarena itu tidak layaklah dan tidak cocok rancangan politik ekonomi kapitalisme dan sosialisme diterapkan di negeri-negeri Islam. Sebab kebijaksanaan politik ekonomi kapitalisme dan sosialisme sangat jauh berbeda dengan konsep yang ada di dalam Islam, dan kedua pemikiran itu merupakan pemikiran yang buruk yang tampak sekali kebobrokannya.

Dengan demikian sebuah keharusan bagi negeri-negeri Islam merancang politik ekonominya sendiri berdasarkan pemikiran konprehensif yang dianutnya, yaitu aqidah Islam. Artinya kebijakan ekonomi negeri-negeri Islam harus kembali dan berupa hukum-hukum syara’ yang digali dari al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka kebijakan ekonomi selain itu dilarang di terapkan karena kebijakan tersebut rusak. Alasannya adalah rancangan dan usaha penerapannya tidak mengantarkan kecuali pada bertambahnya akumulasi masalah-masalah ekonomi, semakin miskinnya manusia, pengabadian keterbelakangan dan ketertekanan.

Politik ekonomi negeri-negeri Islam harus menggunakan politik ekonomi yang Islami yaitu seluruh kebijakan ekonomi bersumber dari syari’at Islam. Politik ekonomi adalah target yang menjadi sasaran hukum-hukum yang menangani pengaturan perkara-perkara manusia. Politik ekonomi Islam menjamin terpenuhinya pemuasan semua kebutuhan primer (al hajat al asasiyah/basic needs) tiap tiap individu dan memenuhi kebutuhan sekunder dan lux (al hajjat al kamaliyah) nya sesuai kadar kemampuannya sebagai individu yang hidup dalam masyarakat tertentu yang memiliki gaya hidup khas.

Islam memandang tiap orang secara individu, bukan secara kolektif sebagai komunitas yang hidup dalam sebuah negara. Islam memandang individu sebagai manusia, maka dalam tataran perencanaan ekonomi dalam Islam memperhatikan beberapa simpul: pertama kali harus dipuaskan kebutuhan primernya secara menyeluruh. Kedua Islam memandangnya sebagai individu tertentu yang memungkinkan memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekundernya sesuai dengan kadar kemampuannya, kemudian ketiga pada saat yang sama Islam memandangnya sebagai orang yang terikat dengan sesamanya dalam interaksi tertentu, yang dilaksanakan dengan mekanisme tertentu, sesuai dengan gaya hidup Islam. Keempat Islam memperhatikan setiap individu itu sendiri, bukan sebuah kumpulan individu-individu yang hidup di beberapa negeri.

Perpektif Islam terhadap persoalan diatas ini merupakan asas politik ekonomi Islam, bahwa tiap individu itu adalah individu yang memerlukan pemenuhan kebutuhan. Dalam pemenuhan kebutuhan secara menyeluruh terhadap kebutuhan primer dan tiap individu adalah manusia yang membutuhkan jaminan pemeliharaan akan barang dan jasa yang menjadi tuntutan hidup tiap-tiap individu.

Baca juga: Politik Ekonomi Islam Dalam Hegemoni Kapitalisme dan Sosialisme (2)

Dengan demikian politik Islam tidak sekedar meningkatkan taraf hidup dalam sebuah tatanan negara semata. Tidak menjadikan pertumbuhan pendapatan nasional sebagai asasnya, dan tidak pula memperbanyak barang dan jasa yang menjamin terwujudnya kemakmuran hidup manusia kemudian membiarkan mereka bebas mendapatkannya sesuai yang mereka mampu menjamin terwujudnya dengan memberikan kebebasan memiliki dan bekerja.

Politik Ekonomi Islam tidak lain merupakan solusi masalah-masalah mendasar bagi tiap-tiap individu dengan kapasitasnya sebagai manusia, menjadikan tiap individu mampu meningkatkan taraf hidupnya, dan merealisasikan kemakmuran dirinya sebagai seorang individu.

Selain itu Politik ekonomi Islam menjadikan nilai-nilai luhur yang mendominasi setiap interaksi yang terjadi diantara individu. Inilah politik ekonomi Islam, dan atas dasar inilah hukum – hukum ekonomi dibangun.

Seyogyanya Politik ekonomi Islam yang harus dijadikan landasan bagi negeri-negeri Islam, bukan pertumbuhan pendapatan Nasional dan terwujudnya apa yang dinamakan dengan keadilan social, dan bukan pertumbuhan pendapatan nasional, serta sosialisme negara. Namun politik ekonomi harus bertujuan menjamin pendidtribusian kekayaan negara, baik internal ataupun eksternal bagi semua individu warga negara atau persatu, sehingga terjamin pemenuhan kebutuhan-kebutuhan primer tiap individu secara menyeluruh, serta bertujuan menjamin tiap individu memenuhi semua kebutuhan sekundernya sebesar kadar kemampuannya. Artinya asas yang dibangun berupa hukum-hukum dan kaidah-kaidah ekonomi untuk merealisasikannya, bukan meningkatkan kekayaan dan memperbanyaknya. Akan tetapi berupa pendidtribusian kekayaan dan pendistribusian yang menjamin pemenuhan semua kebutuhan primer (al hajjat al-asasiyah) secara menyeluruh bagi tiap individu rakyat, dan menjadikan masing-masing individu dari kemampuan mereka mampu memenuhi kebutuhan kebutuhan sekunder dan luxnya (al-hajjat al-kamaliyah) nya. Jadi dasar ekonomi Islam adalah pendistribusian kekayaan, bukan pada pertumbuhan kekayaan.

Pengelolaan bidang ekonomi dalam Islam terbagi menjadi dua bagian yang benar benar terpisa, dan satau sama lainnya tidak ada hubungannya. Bagian pertama, Politik Ekonomi dan tatanan pengelolaan terbagi menjadi 2 hal;

Garis-garis besar sumber ekonomi. Dalam sumber ekonomi ini ada empat bagian yang dikelola yaitu, pertanian, perindustrian, perdagangan dan usaha manusia. Garis-garis tentang jaminan kebutuhan-kebutuhan pokok.

Bagian kedua; Garapan tentang bertambahnya harta karena multiplikasi harta itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kondisi setiap negara. Misalnya keadaan di Suriah, berbeda dengan keadaan kawasan di Pakistan ataupun Iran. Olehkarena itu pengelolaannya pun sesuai dengan tuntutan-tuntutan kondisi masing masing wilayah.

Kesimpulan

Negara kapitalis imperalis berfikir bahwa tidak ada jalan lain untuk mempertahankan imperalisme di negeri negeri muslim kecuali dengan mengubah taktik penjajahan dan tidak ada jalan untuk mengambil wilayah imperalismenya dari sisa-sisa negara terjajah dengan melakukan taktik baru imperalisme (neo Imperalisme).

Menurut sistem kapitalisme pertumbuhan produksi merupakan dasar penyelesaian masalah ekonomi, bukan kehidupan pada tiap tiap individu dari masyarakat.

Propaganda tentang pengembangan dan perencanaan perekonomian, semuanya merupakan propaganda terselubung (kamuflase). Sebab maksud sebenarnya adalah memperkokoh eksistensi system kapitalisme di suatu negara dengan memelihara asas dan menambahnya dengan konsep sosialisme, yaitu sosialisme negara dan keadilan sosial. Sehingga kapitalisme tetap dapat diterapkan disuatu Negara dan mengontrol setiap interaksi kaum muslimin.

Politik ekonomi di negara dimanapun harus dibangun dari pemikiran yang konprehensif tentang alam, manusia dan kehidupan. Hal ini merupakan solusi masalah masalah mendasar bagi tiap-tiap individu dengan kapasitasnya sebagai manusia, menjadikan tiap individu mampu meningkatkan taraf hidupnya, dan merealisasikan kemakmuran dirinya sebagai seorang individu.

Selain itu Politik ekonomi Islam menjadikan nilai-nilai luhur yang mendominasi setiap interaksi yang terjadi diantara individu. Inilah politik ekonomi Islam, dan atas dasar inilah hukum – hukum ekonomi dibangun.

Asas yang dibangun berupa hukum-hukum dan kaidah-kaidah ekonomi untuk merealisasikannya, bukan meningkatkan kekayaan dan memperbanyaknya. Akan tetapi berupa pendidtribusian kekayaan dan pendistribusian yang menjamin pemenuhan semua kebutuhan primer (al hajjat al-asasiyah) secara menyeluruh bagi tiap individu rakyat, dan menjadikan masing-masing individu dari kemampuan mereka mampu memenuhi kebutuhan kebutuhan sekunder dan luxnya (al-hajjat al-kamaliyah) nya. Jadi dasar ekonomi Islam adalah pendistribusian kekayaan, bukan pada pertumbuhan kekayaan.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, Pendiri IDC Berpulang

BEKASI (Jurnalislam.com) – Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, KH Muhammad Dachlan, pendiri Yayasan Infaq Dakwah Center (IDC) berpulang ke rahmatullah.

Pria Betawi kelahiran Jakarta, 10 Februari 1928 ini wafat pada hari Selasa (23/1/2018) bertepatan dengan 5 Jumadil Awal 1439, selepas Ashar pukul 16.47 WIB.

Sebelumnya, pria berjuluk “Si Pitung dari Bekasi” itu sudah lebih dari tiga tahun tergolek lemah di tempat tidur lantaran penyakit stroke yang dideritanya.

Haji Dachlan sempat beberapa kali keluar masuk rumah sakit. Hingga pada hari Selasa siang, kondisi beliau tiba-tiba memburuk dan tak sadarkan diri, hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

Segenap kru Relawan Infaq Dakwah Center (IDC), sangat kehilangan sosok sespuh KH Muhammad Dachlan. Semoga Allah Ta’ala mengampuni segala dosanya dan menerima segala amal shalihnya.

Dan kepada keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan ketabahan dan kesabaran atas musibah yang menimpa.

Profil Singkat KH Muhammad Dachlan

KH Muhammad Dachlan adalah pejuang Angkatan 1945 dari Bekasi, Jawa Barat. Pria Betawi kelahiran Jakarta, 10 Februari 1928 ini, turut membesarkan ormas Islam pejuang seperti Pelajar Islam Indonesia (PII), Gerakan Pemuda Islam (GPI). Di masa penjajahan, ia aktif berjihad dalam barisan pejuang Islam Hizbullah menghadapi kompeni Belanda. Di masa kemerdekaan, Haji Dachlan juga aktif di lingkungan partai Islam legendaris, Masyumi. Ia pun mengikuti jejak M Natsir, sang pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), sebagai sesepuh di lembaga pencetak para dai tersebut.

Setelah Indonesia merdeka, teman dekat KH Noer Alie -Pahlawan Nasional dari Bekasi- itu tak pernah mencari manfaat demi kepentingan pribadi. Ia bahkan terus berjuang mengisi kemerdekaan.

Bahkan, sebagai orang yang pernah memperjuangkan kemerdekaan, Haji Dachlan terbilang kritis terhadap rezim yang berkuasa. Sehingga tak heran, bila dirinya kerap menjadi bulan-bulanan Kopkamtib Orde Baru (ORBA) dengan berbagai tuduhan makar. Seperti M Natsir dan Buya HAMKA, seolah “tidak sah” seorang aktivis Islam bila tak pernah mencicipi “cemeti” siksaan atau dinginnya terali besi.

Namun, seolah tak peduli ujian tersebut. Haji Dachlan tetap meneruskan langkahnya. Ada satu ruang kosong yang dijelajahinya, pasca Indonesia merdeka, yakni dakwah ke berbagai pelosok daerah tertinggal.

Meski fisik tak lagi muda, tubuh pun mulai renta, Haji Dachlan tetap istiqomah di medan juang baru yang digelutinya itu. Ia habiskan waktu, tenaga, pikirannya untuk menembus belantara jahiliyah lagi miskin, yang saat itu menyelimuti pelosok Bekasi Utara, seperti Tanjung Air, Kramat Batok, Singkil, Sungai Kramat, Poncol di wilayah Bekasi dan daerah Sukaresmi, Jonggol, Kabupaten Bogor.

Keterbelakangan warga masyarakat di kawasan Bekasi Utara yang akut, membuatnya tak tinggal diam. Bertahun-tahun ia terjun ke gelanggang, berkeringat dalam dakwah dan menyantuni kemiskinan.

Haji Dachlan begitu prihatin melihat kemiskinan agama yang mengikuti kemiskinan materi. Karena kondisi minimnya pemahaman agama, tak sedikit juga orang tak mengenal shalat dan pengetahuan tentang Islam. Saat berdakwah dahulu, ia bahkan sempat dibuat geleng-geleng kepala saat melihat ketidaktahuan warga di Kramat Batok tentang Idul Adha sebagai hari raya Islam.

Totalitas Haji Dachlan dalam soal dakwah memang tak bisa dianggap enteng. Dalam tujuh hari yang dimiliki, pria berputra 16 orang dari dua isteri ini, menyisihkan setidaknya empat hari dalam seminggu untuk mengisi pengajian di Bekasi Utara.

Lalu dari mana Haji Dachlan yang penampilannya bersahaja ini menghidupi kegiatan dakwahnya? Tak lain, dari koceknya sendiri, serta usaha yang dimilikinya. Memadukan dakwah dengan bersedekah, dianggapnya sebagai metode paling efektif.

Maka tak heran jika Haji Dachlan dijuluki “Si Pitung dari Bekasi” sesuai dengan kisah kepedulian sosial si Pitung yang melegenda karena kerap menolong rakyat miskin dari kantongnya sendiri.

Di belakang Haji Dachlan, telah berdiri kurang lebih 14 yayasan yang bergerak di bidang pendidikan Islam dan panti asuhan. Yayasan itu memberikan pelayanan pendidikan terjangkau bagi kaum lemah di Kota dan Kabupaten Bekasi serta di Jakarta Timur. Selain itu, perjuangan “Si Pitung” dari bekasi itu juga dilanjutkan dengan mendirikan lembaga yayasan Infaq Dakwah Center (IDC) dan kantor media Voice of Al Islam (voa-islam.com). Dua lembaga tersebut kini berjuang di bidang dakwah dan sosial, serta menyajikan pemberitaan dan mengadvokasi kaum Muslimin dari sisi media. [AW]

Tokoh Utama Partai Anti Islam Jerman Mengundurkan Diri dan Masuk Islam

JERMAN (Jurnalislam.com) – Seorang politisi terkemuka dari partai Alternative for Germany (AfD) telah masuk Islam dan mengundurkan diri dari jabatannya di partai anti-Muslim itu, partai tersebut mengkonfirmasi.

Arthur Wagner, seorang anggota terkemuka partai sayap kanan di negara bagian Jerman timur di Brandenburg, telah memeluk agama Islam dan mengundurkan diri dari AfD karena “alasan pribadi”, juru bicara partai mengkonfirmasi, menurut media nasional Deutsche Welle, lansir Aljazeera, Rabu (24/1/2018).

Wagner, yang telah menjadi anggota partai sejak tahun 2015, menolak berkomentar kepada Tagesspiegel, surat kabar harian yang pertama kali mengabarkan kabar pertobatannya.

Baca juga: 

“Itu urusan pribadi saya,” katanya pada harian itu.

Di komite negara bagian Brandenburg, Wagner fokus pada gereja dan komunitas religi, menurut Deutsche Welle.

AfD telah berkampanye melawan pengungsi dan migran dan membuat sejarah ketika memenangkan 12,6 persen suara dalam pemilihan federal pada bulan September 2017, memasuki Bundestag untuk pertama kalinya.

AfD menjadi partai terbesar ketiga di Bundestag. Berita tersebut memicu cemoohan pada media sosial. Banyak pengguna Twitter yang menunjuk pada ironi Wagner untuk masuk Islam setelah menjadi anggota partai berpangkat tinggi yang mencerca kehadiran Muslim di Jerman.

Baca juga: 

Emily Dische-Becker mengatakan: “Sharia meningkatkan kecepatannya saat politisi dari islamophobic Jerman, AfD, masuk Islam.”

Mark Berry berkata, “Saya benar-benar tidak mengerti Nazi.”

AfD telah lama berusaha membantah tuduhan bahwa mereka adalah Islamofobia.

Awalnya didirikan pada tahun 2013 sebagai partai Eurosceptic, AfD memimpin sebagai suara anti-pengungsi paling agresif di negara ini sementara hampir satu juta pencari suaka tiba di Jerman pada tahun 2015.

Dalam RUU pertama partai sejak keberhasilan pemilihan pada bulan September, AfD mengusulkan untuk mengubah Undang-undang Tempat Tinggal Jerman dengan melarang pengungsi membawa kerabat mereka dari negara-negara yang dilanda perang.

Baca juga: Sebarkan Kebencian di Medsos, Politisi Jerman Anti Islam Ini Hadapi Denda $ 50 Juta

Awal bulan ini, Beatrix von Storch, wakil pemimpin kelompok parlemen AfD, diblokir dari Facebook dan Twitter setelah menerbitkan tulisan-tulisan Islamofobik yang mengkritik polisi karena mengirim update berbahasa Arab pada Malam Tahun Baru.

Dia menulis: “Apa yang terjadi di negara ini? Mengapa situs polisi resmi men-tweet dalam bahasa Arab? Menurut Anda apakah ini untuk menyenangkan kaum Muslim?”

Partai tersebut juga berusaha melarang pembangunan masjid di Jerman. Pada bulan Maret 2016, cabang Bavaria partai tersebut menerbitkan sebuah pernyataan kebijakan yang menyerukan diakhirinya “pembangunan dan operasi” masjid-masjid di wilayah tersebut, Deutsche Welle melaporkan pada saat itu.

Pada bulan Februari tahun itu, pemimpin partai Petry Frauke memicu kemarahan saat dia menyatakan bahwa penjaga perbatasan Jerman harus “menggunakan senjata api jika perlu” untuk mencegah “penyeberangan perbatasan ilegal” oleh para pengungsi dan migran.

Baca juga: Islamic Council: Islamophobia di Jerman Meningkat, Sudah 91 Masjid di Serang

Pada bulan April 2016, Alexander Gauland dari AfD menyatakan bahwa Jerman harus tetap menjadi “negara Kristen” dan “Islam adalah entitas asing.”

Meningkatnya retorika anti-Muslim juga bertepatan dengan lonjakan kekerasan terhadap pencari suaka.

Kementerian dalam negeri Jerman mendokumentasikan 3.533 serangan terhadap pengungsi Muslim dan akomodasi bagi mereka – hampir 10 serangan per hari – sejak 2016.

Ini Alasan Erdogan Gelar Operasi Militer di Suriah

ANKARA (Jurnalislam.com) – Dalam operasi militernya di Suriah barat laut, Turki ingin mencari keadilan, bukan mengambil alih wilayah, kata presiden Turki, Rabu (24/1/2018).

Menghadapi pejabat lokal di kompleks kepresidenan, Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa dalam operasi di Afrin, Suriah, di sepanjang perbatasan Turki, Angkatan Bersenjata Turki yang didukung oleh pejuang Tentara Pembebasan Suriah (Free Syrian Army-FSA) mengendalikan wilayah ini.

“Perhatian kami adalah pembentukan keadilan, bukan merebut tanah,” kata Erdogan, lansir Anadolu Agency.

Turki pertama-tama akan menghancurkan para teroris dan, setelah Operation Olive Branch (Operasi Ranting Zaitun) berakhir, mengupayakan 3,5 juta pengungsi Suriah di Turki untuk kembali ke rumah mereka dengan selamat, tambahnya.

Dalam pidatonya, Erdogan mencatat bahwa 268 milisi telah dinetralkan, sementara tentara Turki dan pasukan FSA menderita delapan pasukan yang martir selama empat hari terakhir.

Pertempuran Turki vs Amerika di Ambang Pintu Kota Manbij, Suriah

Militer umumnya menggunakan istilah “menetralkan” untuk menandakan bahwa target telah dibunuh.

“Turki mencoba untuk mengalahkan sebuah organisasi [teror] yang memposting foto anak-anak berusia 13 atau 15 tahun serta wanita tua yang tidak berdosa dengan senjata ditaruh di tangan mereka dan memaksa mereka yang membutuhkan roti untuk membayarnya dengan sejumlah uang.”

Erdogan menambahkan bahwa kelompok teror PYD/PKK telah membebaskan semua tahanan militer pasukan Islamic State (IS) dengan syarat mereka akan berperang melawan tentara Turki dan FSA di wilayah Afrin, Suriah.

“Organisasi teror ini [PYD, PKK, IS, YPG, kiri jauh DHKP-C] semuanya sama… Ini adalah kelompok teroris yang memiliki tujuan yang sama dalam skenario yang sama dengan peran yang berbeda.”

Presiden juga mengecam orang-orang yang, katanya, salah mengartikan operasi tersebut sebagai “melawan saudara laki-laki Kurdi kita, namun jelas bahwa operasi ini menargetkan beberapa organisasi teror”.

Erdogan mengingat tuduhan yang sama dilemparkan melawan Turki selama Operasi Perisai Euphrates.

“Turki telah menetralkan lebih dari 3.000 pasukan IS dan ratusan milisi PYD YPG dalam Operasi Perisai Euphrates, katanya, menambahkan bahwa Turki telah mengupayakan hampir ribuan warga Suriah untuk kembali ke rumah mereka dengan aman.

White Helmets: 200 Lebih Warga Sipil Ghouta Timur Dibantai Rezim Assad

“Saya ingin tahu apakah mereka yang menyerang Suriah tidak memperhatikannya?”

Presiden Turki mengatakan operasi tersebut akan berlangsung sampai teroris terakhir tewas.

Turki meluncurkan operasi tersebut pada hari Sabtu lalu untuk menghapus kekuatan bersenjata PYD / PKK dan IS dari Afrin.

Staf Umum Turki mengatakan operasi tersebut bertujuan untuk membangun keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan dan wilayah Turki serta melindungi penduduk Suriah dari penindasan dan kekejaman teroris.

Dikatakan operasi tersebut dilakukan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional.

Pihak militer juga mengatakan bahwa hanya target teroris yang dihancurkan, dan “sangat ditekankan” untuk menghindari kerusakan bagi penduduk sipil.

Afrin telah menjadi tempat persembunyian utama bagi PYD/PKK sejak Juli 2012 ketika rezim Syiah Assad di Suriah menyerahkan kota tersebut ke kelompok teror dengan Cuma-cuma.

Masjid di Turki Dihantam Roket dari Suriah

KILIS (Jurnalislam.com) – Sedikitnya dua warga sipil terbunuh dan enam lainnya terluka saat sebuah roket yang ditembakkan oleh milisi PYD/PKK dari Suriah menghantam sebuah Masjid di provinsi Kilis, Turki, Rabu (24/1/2018), menurut gubernur provinsi tersebut.

Serangan roket itu terjadi setelah Turki melancarkan operasi di Afrin Suriah melawan kelompok PKK/KCK/ PYD-YPG dan IS pada hari Sabtu.

Sebuah roket menghantam Masjid Calik di Kilis sekitar pukul 6.10 malam (1510GMT), Gubernur Kilis Mehmet Tekinaslan mengatakan kepada Anadolu Agency.

Tekinaslan mengkonfirmasi korban tewas pertama, mengatakan seorang warga sipil, yang terluka parah, telah meninggal di rumah sakit. Sebuah pernyataan pers yang dikeluarkan dari kantor gubernur pada hari Rabu mengatakan bahwa seorang warga sipil kedua juga menderita luka.

“Roket dari Suriah menghantam Masjid Calik saat sholat Isya,” kata gubernur tersebut.

Sementara itu, roket lain menabrak sebuah rumah, di mana lima orang, termasuk empat anak, menderita akibat asapnya dan dilarikan ke rumah sakit, tambahnya.

Pertempuran Turki vs Amerika di Ambang Pintu Kota Manbij, Suriah

Pasukan Angkatan Bersenjata Turki, yang ditempatkan di perbatasan, membalas serangan tersebut, menurut sebuah sumber militer.

Sumber tersebut mengatakan bahwa target penyerang terdeteksi oleh radar.

Turki pada hari Sabtu meluncurkan Operation Olive Branch untuk membersihkan teroris PYD/PKK dan Daesh dari Afrin, Suriah barat laut.

Menurut militer, operasi tersebut bertujuan untuk membangun keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan dan wilayah Turki serta melindungi warga Suriah dari penindasan dan kekejaman teroris.

Operasi tersebut dilakukan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, resolusi Dewan Keamanan PBB, hak pembelaan diri berdasarkan piagam PBB, dan penghormatan terhadap integritas wilayah Suriah, katanya.

White Helmets: 200 Lebih Warga Sipil Ghouta Timur Dibantai Rezim Assad

Militer juga mengatakan bahwa hanya target pasukan PYD/PKK yang dihancurkan dan “sangat ditekankan” agar tidak merugikan warga sipil manapun.

Afrin telah menjadi tempat persembunyian utama bagi milisi PYD/PKK sejak Juli 2012, ketika rezim Syiah Assad menyerahkan kota itu ke kelompok teror dengan cuma-cuma.

LGBT Merusak Tatanan Kehidupan, Islam Telah Memberi Pelajaran

SOLO (Jurnalislam.com) – Juru bicara Jamaah Ansharusy Syariah Ustadz Abdul Rochim Ba’asyir mengimbau segenap elemen bangsa untuk mewaspadai bahaya kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). Menurutnya, perilaku LGBT akan merusak tatanan kehidupan dan moral masyarakat Indonesia yang telah dibangun dengan budi pekerti yang luhur berasaskan ketuhanan.

“Bangsa Indonesia nantinya akan menjadi seperti binatang kalau perilaku LGBT ini dibiarkan merasuki generasi-generasi kita,” katanya kepada Jurnalislam.com seusai acara Jambore Pemuda Islam Solo yang digelar DSKS, Rabu (24/1/2018).

Ia menjelaskan, LGBT adalah penyakit yang merusak kejiwaan. Jika dibiarkan, perlahan LGBT akan merusak jiwa bangsa ini.

“Maka siapapun yang mengaku cinta terhadap bangsa ini, maka dia pasti tidak ingin bangsa ini menjadi bangsa yang sakit,” ujarnya.

DSKS Akan Gelar Jambore Ukhuwah Pemuda Islam Surakarta Kedua Bulan Depan

Oleh sebab itu, perlu ketegasan untuk menghalau gerakan LGBT. Pria yang karib disapa Ustadz Iim ini, mengatakan, Islam telah menawarkan solusi dalam menyikapi LGBT.

“Islam adalah agama yang paling keras menentang perilaku LGBT,” katanya.

Ustadz Iim menggambarkan azab yang ditimpakan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada kaum-kaum homoseksual yang dikisahkan di dalam Al Qur’an.

“Kisah-kisah itu adalah kejadian yang benar-benar terjadi di masa lalu agar manusia mengambil pelajaran. Islam memberikan hukum yang tegas terhadap perilaku LGBT, hukumannya adalah hukuman mati,” tegasnya.

Untuk itu, ia berharap pemerintah juga mengambil langkah tegas untuk membendung gerakan LGBT.

“Jangan biarkan mereka bergerak bebas, negara harus hadir disini untuk menjaga bangsa ini dari pengaruh buruk LGBT,” terangnya.

White Helmets: 200 Lebih Warga Sipil Ghouta Timur Dibantai Rezim Assad

GHOUTA TIMUR (Jurnalislam.com) – Lebih dari 200 warga sipil terbunuh dalam serangan rezim Assad di distrik Ghouta Timur yang dikepung sejak 29 Desember, menurut laporan badan pertahanan sipil White Helmets (Helm Putih), lansir Anadolu Agency.

Dalam sebuah pernyataan Rabu (24/1/2018), White Helmets mengatakan bahwa serangan mortir dan roket rezim Syiah Assad di daerah Kafr Batna, Beit Sawa dan Irbin telah menyebabkan sedikitnya 216 orang tewas, termasuk 35 wanita dan 53 anak-anak.

PBB Kecam Pembantaian Warga Sipil Ghouta Timur oleh Rezim Assad dan Rusia

Dalam sebuah laporan tahunan yang baru dirilis, Helm Putih meaporkan bahwa sebanyak 1.337 warga sipil telah terbunuh di Ghouta Timur pada tahun 2017 karena serangan yang terus berlanjut oleh pasukan rezim.

Rumah bagi sekitar 400.000 penduduk, Ghouta Timur, di pinggiran kota Damaskus, tetap berada di bawah pengepungan dan blokade rezim Nushairiyah Assad yang melumpuhkan selama lima tahun terakhir.