PBB Kecam Pembantaian Warga Sipil Ghouta Timur oleh Rezim Assad dan Rusia

11 Januari 2018
PBB Kecam Pembantaian Warga Sipil Ghouta Timur oleh Rezim Assad dan Rusia

JENEWA (Jurnalislam.com) – Pejabat tinggi hak asasi manusia PBB pada hari Rabu (10/1/2018) mengecam sebuah peningkatan serangan udara dan serangan darat baru-baru ini oleh pasukan rezim Syiah Assad, dan Rusia  yang menewaskan hampir 100 orang dalam 10 hari terakhir di Ghouta Timur Suriah.

“Sejak 31 Desember, sedikitnya 85 warga sipil, termasuk 21 perempuan dan 30 anak-anak, telah terbunuh dan sedikitnya 183 lainnya terluka di Ghouta Timur, di pinggiran kota Damaskus, menurut informasi yang dikumpulkan oleh Kantor Hak Asasi Manusia PBB,” kepala hak asasi manusia PBB, Zeid Ra’ad Al-Hussein, mengatakan dalam sebuah pernyataan, Anadolu Agency melaporkan.

Seorang pria membawa anak yang terluka dalam operasi pencarian dan penyelamatan di puing-puing sebuah bangunan setelah pesawat tempur milik Rezim Assad melakukan serangan udara di zona de-eskalasi kota Sekba Ghouta Timur di Damaskus, Suriah pada tanggal 09 Januari 2018.

1.337 Warga Ghouta Timur Tewas oleh 7.325 Serangan Artileri Rezim Syiah Assad

“Sedikitnya dua fasilitas medis dihantam  serangan udara selama periode ini, menewaskan seorang pekerja medis dan membuat satu fasilitas tidak berfungsi,” tambahnya.

Al-Hussein mengatakan upaya untuk mengevakuasi kasus medis mendesak dari Ghouta Timur gagal, mengingatkan rezim Assad  akan kewajibannya berdasarkan hukum humaniter internasional.

Serangan Udara Rezim Assad Targetkan Warga Sipil Kelaparan di Ghouta Timur, 23 Tewas

Dia juga mengungkapkan “keprihatinan serius” tentang situasi sekitar dua juta orang di Idlib, dimana terjadi peningkatan dalam pertempuran.

Timur Ghouta dan Idlib dianggap sebagai daerah de-eskalasi (zona larangan agresi militer) pada bulan Mei 2017 di bawah proses Astana oleh Rusia, Turki dan Iran, dengan tujuan untuk mengakhiri perang dan memperbaiki situasi kemanusiaan, namun malah menjadi tempat pembantaian oleh rezim Assad dan Rusia.