Menjadi Orang Tua Remaja Zaman Now ala Burhan Sodiq

MAGELANG (Jurnalislam.com)- Guna memahamkan para orang tua akan perilaku remaja di masa kini, Mah’ad Tahfidzul Qur’an An-Nahl Magelang bekerja sama dengan Rumah Shodaqoh gelar kajian remaja bertajuk “Menjadi Orang Tua Remaja Zaman Now” bersama Ustaz Burhan Sodiq di Gedung Margoutomo, Rabu, (28/2/2018).

Ustaz Rino, salah satu pengajar di Mahad An-Nahl berharal, dengan diadakannya kegiatan yang dihadiri ratusan siswa beserta orang tuanya ini, bisa menjadikan orang tua lebih bijak lagi dalam mendidik dan lebih memperhatikan lagi perilaku anak-anaknya.

“Saya berharap acara ini bisa menjadikan para remaja lebih waspada menghadapi zaman kekinian dan juga menjadikan orangtua lebih berhati hati dalam mendidik anaknya,” katanya.

Sementara itu, dalam paparannya ustaz Burhan mengatakan, bahwa saat ini, sangat banyak remaja yang dirusak oleh gadget sehingga lupa waktu untuk beribadah dan belajar.

“Baca al Quran satu menit, setelah itu buka instagram tiga jam. Cari artikel untuk tugas setengah jam, buka facebook 3 jam,” terang penulis buku ‘Ya Allah Aku Jatuh Cinta’ ini dihadapan siswa dan orang tua yang hadir.

Kontributor : Hasan Shoghir

Mengapa Iran Tingkatkan Perannya di Suriah?

SURIAH (Jurnalislam.com) – Seiring dunia yang terus gagal dalam menghentikan tumpahnya darah warga sipil di Suriah, Iran mempertahankan dua tujuan utama untuk menyelamatkan muka mereka di tanah airnya dan menaikkan harga kesepakatan yang sangat mungkin akan terjadi di masa depan.

Rezim Assad terus-menerus membom warga yang tidak bersalah di Ghouta Timur dekat Damaskus, menewaskan sedikitnya 500 orang. Petugas penyelamat terus-menerus menarik warga sipil yang tewas di bawah puing-puing bangunan. Karena Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menetapkan sebuah resolusi gencatan senjata 30 hari, jelas bahwa untuk mendukung tuntutan tersebut diperlukan tindakan yang kuat.

Neraka di Bumi itu Bernama Ghouta Timur

Karena pembunuhan itu mengerikan, kita harus ingat bahwa Teheran adalah kekuatan pendukung yang mempertahankan rezim Suriah sebagai bagian dari kerajaan Syiah-Persia yang diimpikan. Iran terus memperluas pijakan di Suriah, sementara negara-negara Arab di seberang Teluk, yaitu Jerman dan Prancis juga terdengar membuat tuntutan yang kuat. Uni Eropa secara keseluruhan juga harus membuat Iran mengerti bahwa kekejaman semacam itu tidak dapat diterima.

Sejak Assad mengobarkan perang melawan rakyatnya sendiri, rakyat Suriah pada tahun 2011, Iran telah menempatkan seluruh dukungannya di belakang kediktatoran Assad, dan meminta dukungan udara Rusia pada tahun 2015 untuk memastikan kelangsungan rezim tersebut, karena mengetahui kekuasaannya sendiri akan terancam jika kehilangan Damaskus.

Iran Dibalik Pembantaian Aleppo

Setelah jatuhnya Aleppo dan setelah IS diusir dari Raqqa, dan terutama setelah menikmati pendekatan penuh hormat dari Obama, sumbu Teheran-Moskow-Damaskus ini sekarang memiliki jalur yang berfokus pada markas oposisi Suriah yang tersisa.

Aliansi ini akan berusaha untuk membangun kembali kendali Assad atas Suriah melalui perdamaian yang disponsori oleh Rusia, yang merendahkan upaya dukungan PBB yang sudah lemah. Rusia akan menuntut mempertahankan pangkalan militernya, dan Iran berusaha mencapai keinginan panjangnya untuk membangun pengaruh yang berarti di seluruh wilayah tersebut hingga ke Laut Tengah (Mediterranean).

Seperti diberitakan secara luas, di daerah yang sekarang dikuasai oleh Assad, Iran sedang berupaya mengokohkan kehadiran militer Korps Pengawal Revolusi Islam (the Islamic Revolutionary Guard Corps-IRGC), Hizbullah Lebanon, tentara Syiah bayaran dari Pakistan, Irak dan Afghanistan, dan proxy Suriah setempat.

Penasihat Keamanan Nasional AS H.R. McMaster mengungkapkan keprihatinannya pada bulan Desember tentang “kemungkinan Iran memiliki tentara proxy.” Perkiraan menunjukkan bahwa milisi Syiah Hizbullah membangun sebuah armada 100.000 roket yang berbasis di Lebanon dan mungkin juga Suriah. Kekuatan Iran seperti itu di Suriah menimbulkan potensi perang Timur Tengah lainnya, walaupun Teheran pasti akan mundur mengetahui peralatannya tidak memiliki kapasitas seperti itu.

Mata-mata Zionis di Iran: Kerusuhan Saat Ini Tidak Dapat Menggulingkan Rezim

Walaupun Iran secara terbuka mengatakan tujuan akhir mereka adalah “memerangi Israel,” namun pemimpin Quds Force dari IRGC, Qasem Soleimani, baru-baru ini mengatakan bahwa niat utama mereka ada dua.

Kebutuhan Teheran untuk terus berperang di luar negeri meningkat karena demonstrasi baru-baru ini di tanah air. Awal bulan ini ketegangan meningkat di seluruh wilayah tersebut saat militer Israel menembak jatuh sebuah drone yang diluncurkan oleh pasukan yang didukung oleh Iran dari kota Homs, Suriah. Jet tempur juga dikerahkan untuk menargetkan pangkalan yang mengendalikan drone, sejajar dengan target militer lainnya.

Iran: Setelah Aleppo, Kita akan Bantai Bahrain dan Yaman

Eskalasi ini muncul dari mentalitas Iran yang menunjukkan sikapnya di luar negeri untuk mempertahankan pengaruh di antara basis sosial yang sudah semakin berkurang di tanah air. Keadaan hari ini memaksa Pemimpin Tertinggi Syiah Iran Ali Khamenei untuk secara terbuka mengakui bahwa warga mengkritik pemerintah yang berkuasa dan posisinya.

Pada situasi yang luar biasa bagi penguasa Iran, berbohong mengenai posisi yang kuat di luar negeri melawan musuh-musuh asing juga memberikan alasan bagi Teheran untuk menolak perbedaan pendapat domestik.

Bagi Iran, sangat penting bagaimana masyarakat global merespons loncengnya, memahami kapan waktunya untuk mundur dan kapan waktu yang tepat untuk melanjutkan permusuhan.

Menteri Luar Negeri Saudi, Adel al-Jubeir, dalam pidato Parlemen Eropa menekankan perlunya kerja sama global untuk mencegah campur tangan Iran di luar negeri, menambahkan bahwa Teheran harus mengakhiri upayanya dan “revolusi telah berakhir.”

Menlu Arab: Iran Sumber Bahaya Terbesar

Di seberang Atlantik, Wakil Presiden AS Mike Pence mengulangi fakta bahwa Teheran tetap menjadi pendukung utama milisi Syiah internasional, memperingatkan Washington tidak akan lagi mentolerir kegiatan destabilisasi Iran di seluruh wilayah Timur Tengah.

Dan saat kembali dari tur Timur Tengahnya, Ed Royce, Ketua Komite Urusan Luar Negeri AS mengeluarkan sebuah pernyataan menekankan ancaman yang diajukan Iran untuk seluruh wilayah Timur Tengah. Tindakan finansial dan diplomatik terhadap program rudal Iran dan dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata dibahas dalam pertemuan Royce, menurut sebuah pernyataan.

Kembali ke Benua Hijau, Kanselir Jerman Angela Merkel telah meminta Uni Eropa meningkatkan tekanan pada Rusia dan Iran untuk mengakhiri kekerasan Suriah. Merkel memiliki kesempatan dan pengaruh untuk memimpin Eropa menyingkirkan kebijakan pertarungannya berhadapan dengan Iran dan berdiri seolah-olah pada sisi yang benar.

Memahami situasi yang sedang dihadapi, Iran menaikkan agresinya di Suriah – seperti pengeboman yang kejam di Ghouta Timur – untuk digunakan sebagai pengungkit kemungkinan pembicaraan di masa depan mengenai program rudal balistiknya dan campur tangan dalam urusan internal negara lain.

AS dan Kanada Dukung Demontrasi Anti Pemerintah Iran

Masyarakat Internasional, dan khususnya Uni Eropa, harus prihatin bahwa Timur Tengah mengalami gelombang baru ketegangan yang berbahaya. Presiden AS Donald Trump berjanji pada Oktober lalu untuk melawan aktivitas “destabilisasi” Iran dan dukungannya terhadap proxy (kelompok bersenjata Syiah global) di wilayah Timur Tengah.

“Sudah saatnya menyadari bagaimana Iran perlu meningkatkan taruhannya di Suriah untuk terus-menerus menolak perbedaan pendapat di tanah airnya dan memperbarui perdebatan sengit.

Jawabannya adalah mendukung pemberontakan rakyat Iran terhadap pemerintah yang berkuasa dan secara signifikan menaikkan nilai peran destruktif Teheran di luar perbatasannya dengan mengancam memberlakukan kembali sanksi melumpuhkan yang menargetkan entitas rezim Suriah.

Wasekjen MUI : Cyber Islam Ditangkap, Cyber Hina Ulama Dibiarkan Saja

KARANGANYAR (Jurnalislam.com)—Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Tengku Zulkarnain turut mengomentari peristiwa terbaru tentang penangkapan orang yang diduga mengatasnamakan Muslim Cyber Army.

“Sejauh ini Cyber Islam empat orang sudah ditangkap sedangkan cyber yang lain tidak. Akun saya dipalsukan sampai delapan, artinya dibiarkan saja. Para Kyai dimaki-maki, dibiarkan,”kata KH Tengku Zulkarnain kepada Jurnalislam.com di Tawangmangu Jawa Tengah, Rabu (28/2/2018).

KH Tengku Zulkarnain mencontohkan seperti akun twitter Aa Gym yang kerap dibully pihak-pihak tertentu, namun para pelaku tetap tidak ditindak. Padahal, penghinaan terhadap tokoh agama di media sosial terjadi terus menerus.

“Akunnya Aa Gym dimaki-maki begitu lembut nya Aa Gym. Saya setiap hari dibilang kunyuk,” pungkas Kiai Tengku.

Tahun Politik, MUI Imbau Umat Islam Pilih Pemimpin Muslim yang Shalih

KARANGANYAR (Jurnalislam.com)—Tahun 2018 dan 2019 disebut-sebut sebagai tahun politik karena helatan pemilihan wakil rakyat, gubernur, bupati hingga presiden terjadi di tahun ini.

Menyikapi tahun politik, Majelis Ulama Indonesia mengimbau agar umat Islam turut berpartisipasi memilih pemimpin yang shalih. Hal ini, agar pemimpin Indonesia ke depan dapat memimpin negara dengan baik.

“Bangsa Indonesia ini sebagian besar umat Islam. Kita harus aktif. Pilih orang shalih dalam pemilu sebagai Presiden, DPR, Gubernur, Bupati,”kata Wakil Sekjen MUI KH Tengku Zulkarnain kepada Jurnalislam.com, Rabu (28/2/2018).

Menurut KH Tengku, sudah cukup sesame umat Islam saling bertengkar urusan pemilu. Kini, menurut Kiai Tengku sudah saatnya umat Islam dapat menjalankan agamanya sesuai dengan UUD 1945 tentang kebebasan menjalankan agama masing-masing.

“Jadi yang begini-begini (rebut_red) sudah. Berhentikan. Kita rebut bangsa Indonesia ini, 88,7 % umat Islam jadi pilih yang shalih. Kalau kita dapat Bupati yang shalih tempat-tempat Maksiat di Kabupaten tersebut ndak dapet izin,” pungkasnya.

LSM Ghouta: 22 Pusat Kesehatan, 1 Panti Asuhan dan 1 Masjid Diratakan Rezim Assad dan Rusia

GHOUTA TIMUR (Jurnalilsam.com) – Menurut kelompok pertahanan sipil Suriah White Helmets, jumlah korban telah melampaui 500 lebih dalam sepekan terakhir karena serangan sengit rezim Assad, lansir Anadolu Agency Rabu (28/2/2018).

Dalam dua pekan terakhir, rezim tersebut telah menargetkan 22 pusat kesehatan, sebuah Masjid dan sebuah panti asuhan di Ghouta Timur.

Ghouta Timur berada dalam jaringan zona de-eskalasi yang disahkan oleh Turki, Rusia dan Iran dimana tindakan agresi militer dilarang.

AS Tuduh Rusia dan Rezim Assad ingin Gagalkan Gencatan Senjata di Ghouta Timur

Pada hari Sabtu, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengadopsi sebuah resolusi yang menuntut gencatan senjata 30 hari untuk mengizinkan pengiriman bantuan kemanusiaan.

Resolusi tersebut, yang disiapkan oleh Swedia dan Kuwait, juga menyerukan evakuasi medis 700 orang, terutama di Ghouta Timur, yang telah dikepung selama lima tahun terakhir, mencegah pengiriman makanan dan obat-obatan dan melalaikan ribuan pasien yang membutuhkan pengobatan.

AS Salahkan Rusia atas Pembantain Warga Sipil Ghouta Timur

Suriah telah terkunci dalam perang global yang menghancurkan sejak awal 2011 ketika rezim menindak aksi unjuk rasa warga dengan keganasan militer yang tak terduga.

Menurut pejabat PBB, ratusan ribu orang telah terbunuh dalam konflik tersebut.

Balita Karim Tinggal di Bawah Tanah untuk Hindari Serangan Rezim Assad di Ghouta

GHOUTA TIMUR (Jurnalislam.com) – Dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap rezim Syiah Assad Suriah, “Baby Karim” – yang kehilangan satu mata pada serangan udara rezim – berlindung di bawah tanah untuk bertahan hidup.

Warga sipil terpaksa berlindung di bawah tanah karena serangan udara yang dilakukan oleh rezim Nushairiyah Bashar al-Assad dan pendukungnya di daerah pinggiran Ghouta yang diblokade semakin brutal.

Dukungan untuk Bayi Karim yang Cacat Akibat Pemboman Rezim Syiah Assad Meningkat

Sejak Anadolu Agency pertama kali melaporkan ceritanya, ribuan orang telah menyatakan dukungannya untuk anak tersebut melalui kampanye media sosial online.

“Saya membawa Karim dan saudara-saudaranya ke tempat penampungan bawah tanah. Karim telah tinggal di tempat penampungan selama delapan hari bersama saudara-saudaranya. Banyak warga berada di tempat penampungan bawah tanah ini. Tidak ada yang keluar karena serangannya belum dihentikan,” ayah bayi itu, Ebu Muhammad, kepada Anadolu Agency, Rabu (28/2/2018).

Dia mengatakan tidak ada makanan, cahaya, listrik dan panas di tempat penampungan dimana anak-anak tinggal dan pesawat terus-menerus melayang-layang di atas.

MUI Desak Polisi Segera Ungkap Pihak di Balik Penyerangan Ulama

KARANGANYAR (Jurnalislam.com)—Majelis Ulama Indonesia mendesak kepolisian untuk segera mengungkap pihak di balik penyerangan terhadap ulama oleh orang diduga gila akhir-akhir ini.

“Ketua Pertimbangan Ulama MUI mengatakan ini adalah skenario sistemik memang dibuat oleh satu pihak dan secara sistematis dan Sistemik artinya mengenai semua agama,” kata Wakil Sekjen MUI KH Tengku Zulkarnain kepada Jurnalislam.com, Rabu (28/2/2018) di Tawangmangu, Jawa Tengah.

MUI, kata KH Tengku juga meminta polisi agar dalam tugasnya jangan terkesan berleha-leha. Kasus ini, menurut KH Tengku merupakan kasus serius yang membahayakan keselamatan nyawa.

“Kami Majelis Ulama Indonesia memesankan kepada pihak yang berwenang terutama Kepolisian Republik Indonesia jangan berleha-leha jangan bersantai-santai akan kasus ini, ini masalah serius menyangkut keselamatan Ulama dan Tokoh-tokoh Agama,” tegasnya.

MUI pun mengimbau kepada masyarakat bila terjadi kasus serupa, dapat membantu pihak kepolisian dengan mencatat dan mendata baik-baik para pelaku yang dicurigai akan menyerang ulama.

“Kita tangkap baik-baik, kita rekam sebagai barang bukti, kita catat namanya. Alamatnya semua dengan jelas sebelumnya harus jelas kita foto dulu, dimana kejadiannya baru kita serahkan ke polisi. Jadi kita punya data, polisi punya data,” pungkasnya.

 

Masih Beraktivitas Pasca Ditutup, LUIS Sambangi PT RUM

SUKOHARJO (Jurnalislam.com)- Banyaknya Laporan warga Nguter terkait adanya aktivitas kembali PT RUM pasca ditutup sementara pada Sabtu, (24/2/2018) lalu, membuat Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) mendatangi perusahaan rayon yang bertempat di Desa Plesan, Nguter, Sukoharjo itu pada Selasa, (27/2/2018).

Rombongan LUIS diterima Kepala HRD PT RUM Haryo yang didampingi Candra, selaku ahli dari Kementerian Lingkungan Hidup yang langsung melakukan peninjauan di tempat produksi bersama-sama.

Dalam peninjauan itu, Endro menjelaskan, bahwa pihaknya menemukan beberapa tangki berisi bahan untuk membersihkan alat pabrik dan bahan untuk produksi yang sebelumnya dikhwatairkan warga kedatangan bahan itu akan membuat PT RUM kembali beroperasi lagi.

“Ada 9 tangki adalah sebagian untuk pembersih alat pabrik dan sebagian bahan produksi, yang pernah dipesan sebelumnya, 9 tangki berisi Soda Kostik dan Asam Sulfat,” katanya kepada Jurnalislam.com Rabu, (28/2/2018).

Bupati Tak Segera Tandatangani SK Pencabutan Izin, Unjuk Rasa di Depan PT RUM Ricuh

“Pengiriman 9 tangki itu, memancing reaksi warga tanpa sepengetahuan kepala HRD, pak Haryo,” imbuhnya. Meski ada bahan yang datang, Endro memastikan bahwa mesin produksi sudah berhenti walaupun limbah cair dalam penampungan masih mengeluarkan bau menyengat jika tiupan angin kencang.

Selain itu, disebutkan beberapa karyawan masih trauma, dan tidak masuk kerja sehingga berdampak pada lambatnya proses pembersihan alat pabrik, sisa produksi sebelumnya.

Untuk itu, agar tidak timbul kecurigaan dari masyarakat terdampak, pihaknya mendesak PT RUM untuk menjelaskan kedatangan beberapa tangki tersebut kepada warga dan pihak terkait.

“Terkait aktivitas PT RUM sebaiknya pihak PT RUM mengkomunikasikan ke warga, pemerintah dan ormas sehingga masyarakat paham dan tidak berspekulasi,” tandasnya.

Selain itu, LUIS juga meminta PT RUM untuk segera mengurangi hingga menghilangkan limbah bau yang masih terasa paska penghentian produksi

AS Tuduh Rusia dan Rezim Assad ingin Gagalkan Gencatan Senjata di Ghouta Timur

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Amerika Serikat menuduh Rusia dan rezim Suriah melanggar gencatan senjata Ghouta Timur pada sebuah pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Gencatan senjata 30 hari tersebut, yang diabadikan dalam Resolution 2401, dipilih secara bulat oleh anggota Dewan Keamanan pada hari Sabtu (24/02/2018).

Gencatan senjata itu terjadi di balik serangan yang diluncurkan oleh pasukan Bashar al-Assad, dengan dukungan pesawat tempur Rusia, di daerah kantong sejak 18 Februari dan telah mengakibatkan kematian lebih dari 550 warga sipil, monitor perang the Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) mengatakan.

Berbicara pada hari Rabu (28/02/2018), perwakilan AS untuk PBB Kelley Currie mengutuk pemboman udara Suriah yang berlangsung di Ghouta Timur, sebuah daerah pedesaan di luar ibukota Damaskus yang dikuasai oposisi sejak 2013.

Neraka di Bumi itu Bernama Ghouta Timur

“Meskipun banyak pihak menyerukan gencatan senjata, serangan rezim terus berlanjut,” kata Currie. “Ratusan warga Siria telah terbunuh atau terluka sejak kami menetapkan resolusi pada hari Sabtu.”

“Serangan semacam itu menunjukkan penghinaan sepenuhnya atas Suriah dan menghina dewan ini serta Perserikatan Bangsa-Bangsa,” tambahnya.

Pada hari Senin, Rusia, sekutu utama rezim Syiah Bashar al-Assad, mengatakan akan menerapkan “jeda kemanusiaan” lima jam per hari untuk memungkinkan evakuasi warga sipil dan masuknya konvoi bantuan. Namun, penembakan dan serangan udara tidak berhenti dan mengakibatkan kematian sedikitnya empat orang.

Currie menggambarkan jeda kemanusiaan Rusia sebagai “sinis, tak berperasaan dan sangat menentang resolusi 2401.”

Warga di wilayah tersebut mengatakan bahwa pesawat tempur pemerintah meluncurkan beberapa serangan pada Rabu dini hari, dan menekankan bahwa serangan yang paling kuat diluncurkan di tiga kota – Douma, Misraba dan Harasta – di dekat garis depan.

“Tidak ada evakuasi apapun – baik medis, maupun kemanusiaan, tidak ada apa-apa,” seorang penduduk, yang meminta untuk tetap anonim, mengatakan kepada Al Jazeera.

“Rezim telah meluncurkan permainan psikologis – itu saja. Pemboman telah berlangsung sejak semalam.”

Koresponden Al Jazeera, Osama Bin Javaid, mengatakan bahwa banyak orang masih terdampar di Ghouta Timur.

“Hari kedua dari yang disebut gencatan senjata atau jeda ini berlalu tanpa ada perkembangan besar di lapangan,” katanya, berbicara dari kota Gaziantep, Turki.

“Tidak ada konvoi bantuan yang masuk karena Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pekerja bantuan lainnya mengatakan bahwa jeda seperti ini terlalu pendek tanpa ada jaminan apakah mereka dapat kembali pulang.”

Bin Javaid juga mengatakan bahwa oposisi di Ghouta Timur, yang telah dikepung oleh pasukan rezim sejak pertengahan 2013, tidak percaya dengan PBB.

“Serangan udara lebih banyak dan tembakan lebih banyak lagi dilaporkan terjadi di Ghouta Timur dan oposisi mengatakan bahwa resolusi DK PBB hanya kata-kata belaka,” katanya.

Vassily Nebenzia, duta besar Rusia untuk PBB, mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa Rusia melakukan segala sesuatu untuk menjamin keefektifan jeda kemanusiaan lima jam sehari, namun menyalahkan pasukan oposisi karena menargetkan koridor yang ditujukan untuk operasi kemanusiaan dengan tembakan mortir.

Oposisi Moderat Desak HTS Keluar dari Ghouta Timur dalam 15 Hari

“Kami percaya bahwa para pemimpin oposisi memiliki pendekatan serius dan bahwa kata-kata mereka akan terwujud dengan perbuatan,” katanya.

“Kami mengerti bahwa faksi yang terkait Hayat Tahrir al Sham (HTS) tetap menjadi target yang sah untuk operasi militer dan bahwa tidak akan ada pendekatan seremonial untuk mereka,” lanjutnya, menambahkan bahwa upaya harus dilakukan untuk “menetralisir secara efektif” kehadiran cabang al-Qaeda di Ghouta Timur, Jabhat Fateh al-Sham (JFS), sebelumnya dikenal sebagai Jabhat Nusrah.

Berbicara dari kantor pusat PBB di New York, editor diplomat Al Jazeera James Bays mengatakan beberapa faksi oposisi sedang mencari gencatan senjata.

Oposisi Moderat Desak HTS Keluar dari Ghouta Timur dalam 15 Hari

ANKARA (Jurnalislam.com) – Kelompok oposisi bersenjata dan institusi sipil di distrik Ghouta Suriah telah mengatakan kepada PBB bahwa individu-individu yang terkait dengan kelompok-kelompok bersenjata tertentu akan dikeluarkan dari wilayah tersebut dalam waktu 15 hari setelah pelaksanaan gencatan senjata yang didukung oleh PBB.

Dalam sebuah surat yang dikirim ke PBB, kelompok oposisi bersenjata terbesar di Ghouta Timur termasuk Jaish al-Islam, Faylaq al-Rahman dan Ahrar al-Sham, bersama dengan beberapa institusi sipil, menyuarakan dukungan untuk Resolusi 2401 Dewan Keamanan PBB.

Diadopsi dengan suara bulat pada hari Sabtu, resolusi tersebut menyerukan gencatan senjata 30 hari di Ghouta Timur untuk memungkinkan penyerahan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan.

Dalam surat, yang salinannya diperoleh oleh Anadolu Agency tersebut, kelompok oposisi dan institusi sipil menyatakan komitmennya bekerja sama dengan PBB untuk mendesak individu-individu yang terkait dengan Hayat Tahrir al Sham untuk keluar dari Ghouta Timur – bersama keluarga mereka – dalam waktu 15 hari sejak pelaksanaan gencatan senjata.

Rezim Assad Tidak Mampu Rebut Sejengkal Tanah Pun dari Faksi Jihad Ghouta Timur

Surat tersebut juga membahas situasi kemanusiaan Ghouta yang mengerikan, dengan mengatakan bahwa kelompok oposisi akan memfasilitasi – dan menjamin keselamatan konvoi bantuan menuju daerah pinggiran Damaskus yang terkepung.

Surat ini juga menyerukan diakhirinya serangan udara oleh rezim Syiah Assad, Rusia dan sekutu-sekutunya di beberapa wilayah oposisi di Ghouta Timur, dan untuk mengangkut korban luka ke rumah sakit di luar negeri untuk perawatan.

Surat tersebut kemudian mengecam serangan yang terus berlanjut terhadap warga sipil, fasilitas kesehatan dan institusi pendidikan di Ghouta Timur.

Menurut Wael Ulwan, juru bicara Faylaq al-Rahman, Rusia berusaha “dengan segala cara yang mungkin” untuk mencegah pelaksanaan resolusi gencatan senjata PBB.

“Tidak ada bantuan kemanusiaan yang sampai ke wilayah tersebut, sementara intensitas serangan semakin meningkat,” katanya.

“Kami [Faylaq al-Rahman] mengecam keputusan Rusia untuk menerapkan gencatan senjata lima jam [atau” jeda kemanusiaan “] per hari, yang diambil kendati ada resolusi PBB,” tambahnya.

Beberapa Menit setelah DK PBB Keluarkan Resolusi, Jet Tempur Assad Membom Ghouta Timur

“Keputusan PBB sudah jelas,” kata Ulwan. “Rusia telah membuat banyak orang di wilayah ini mengungsi dan terus mengancam mereka dengan serangan dan pengepungan. Itu sebabnya kami mengirim surat ke PBB.”

“Kelompok bersenjata tidak bisa dipaksa melakukan apapun yang tidak mereka inginkan,” tegasnya. “Kami hanya berusaha memastikan keamanan warga sipil, yang tidak bisa meninggalkan rumah mereka karena serangan lanjutan.”

Klaim Rusia bahwa kelompok oposisi menargetkan warga sipil – dan mencegah mereka menggunakan koridor evakuasi – adalah “dusta belaka”, menurut Ulwan.

Mengabaikan fakta bahwa Rusia melanjutkan serangannya ke pemukiman meskipun juga mengumumkan “jeda kemanusiaan” lima jam sehari, Ulwan mengatakan: “Penduduk di wilayah ini tidak mempercayai rezim [Assad]. Mereka tidak ingin meninggalkan daerah mereka.”

Resolusi 2401 PBB ditujukan terutama untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan dan medis ke Ghouta Timur, yang selama lima tahun terakhir tersiksa di bawah blockade, pengepungan yang melumpuhkan yang dipaksakan oleh rezim Syiah Nushairiyah Assad.