Mengapa Iran Tingkatkan Perannya di Suriah?

1 Maret 2018
Mengapa Iran Tingkatkan Perannya di Suriah?

SURIAH (Jurnalislam.com) – Seiring dunia yang terus gagal dalam menghentikan tumpahnya darah warga sipil di Suriah, Iran mempertahankan dua tujuan utama untuk menyelamatkan muka mereka di tanah airnya dan menaikkan harga kesepakatan yang sangat mungkin akan terjadi di masa depan.

Rezim Assad terus-menerus membom warga yang tidak bersalah di Ghouta Timur dekat Damaskus, menewaskan sedikitnya 500 orang. Petugas penyelamat terus-menerus menarik warga sipil yang tewas di bawah puing-puing bangunan. Karena Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menetapkan sebuah resolusi gencatan senjata 30 hari, jelas bahwa untuk mendukung tuntutan tersebut diperlukan tindakan yang kuat.

Neraka di Bumi itu Bernama Ghouta Timur

Karena pembunuhan itu mengerikan, kita harus ingat bahwa Teheran adalah kekuatan pendukung yang mempertahankan rezim Suriah sebagai bagian dari kerajaan Syiah-Persia yang diimpikan. Iran terus memperluas pijakan di Suriah, sementara negara-negara Arab di seberang Teluk, yaitu Jerman dan Prancis juga terdengar membuat tuntutan yang kuat. Uni Eropa secara keseluruhan juga harus membuat Iran mengerti bahwa kekejaman semacam itu tidak dapat diterima.

Sejak Assad mengobarkan perang melawan rakyatnya sendiri, rakyat Suriah pada tahun 2011, Iran telah menempatkan seluruh dukungannya di belakang kediktatoran Assad, dan meminta dukungan udara Rusia pada tahun 2015 untuk memastikan kelangsungan rezim tersebut, karena mengetahui kekuasaannya sendiri akan terancam jika kehilangan Damaskus.

Iran Dibalik Pembantaian Aleppo

Setelah jatuhnya Aleppo dan setelah IS diusir dari Raqqa, dan terutama setelah menikmati pendekatan penuh hormat dari Obama, sumbu Teheran-Moskow-Damaskus ini sekarang memiliki jalur yang berfokus pada markas oposisi Suriah yang tersisa.

Aliansi ini akan berusaha untuk membangun kembali kendali Assad atas Suriah melalui perdamaian yang disponsori oleh Rusia, yang merendahkan upaya dukungan PBB yang sudah lemah. Rusia akan menuntut mempertahankan pangkalan militernya, dan Iran berusaha mencapai keinginan panjangnya untuk membangun pengaruh yang berarti di seluruh wilayah tersebut hingga ke Laut Tengah (Mediterranean).

Seperti diberitakan secara luas, di daerah yang sekarang dikuasai oleh Assad, Iran sedang berupaya mengokohkan kehadiran militer Korps Pengawal Revolusi Islam (the Islamic Revolutionary Guard Corps-IRGC), Hizbullah Lebanon, tentara Syiah bayaran dari Pakistan, Irak dan Afghanistan, dan proxy Suriah setempat.

Penasihat Keamanan Nasional AS H.R. McMaster mengungkapkan keprihatinannya pada bulan Desember tentang “kemungkinan Iran memiliki tentara proxy.” Perkiraan menunjukkan bahwa milisi Syiah Hizbullah membangun sebuah armada 100.000 roket yang berbasis di Lebanon dan mungkin juga Suriah. Kekuatan Iran seperti itu di Suriah menimbulkan potensi perang Timur Tengah lainnya, walaupun Teheran pasti akan mundur mengetahui peralatannya tidak memiliki kapasitas seperti itu.

Mata-mata Zionis di Iran: Kerusuhan Saat Ini Tidak Dapat Menggulingkan Rezim

Walaupun Iran secara terbuka mengatakan tujuan akhir mereka adalah “memerangi Israel,” namun pemimpin Quds Force dari IRGC, Qasem Soleimani, baru-baru ini mengatakan bahwa niat utama mereka ada dua.

Kebutuhan Teheran untuk terus berperang di luar negeri meningkat karena demonstrasi baru-baru ini di tanah air. Awal bulan ini ketegangan meningkat di seluruh wilayah tersebut saat militer Israel menembak jatuh sebuah drone yang diluncurkan oleh pasukan yang didukung oleh Iran dari kota Homs, Suriah. Jet tempur juga dikerahkan untuk menargetkan pangkalan yang mengendalikan drone, sejajar dengan target militer lainnya.

Iran: Setelah Aleppo, Kita akan Bantai Bahrain dan Yaman

Eskalasi ini muncul dari mentalitas Iran yang menunjukkan sikapnya di luar negeri untuk mempertahankan pengaruh di antara basis sosial yang sudah semakin berkurang di tanah air. Keadaan hari ini memaksa Pemimpin Tertinggi Syiah Iran Ali Khamenei untuk secara terbuka mengakui bahwa warga mengkritik pemerintah yang berkuasa dan posisinya.

Pada situasi yang luar biasa bagi penguasa Iran, berbohong mengenai posisi yang kuat di luar negeri melawan musuh-musuh asing juga memberikan alasan bagi Teheran untuk menolak perbedaan pendapat domestik.

Bagi Iran, sangat penting bagaimana masyarakat global merespons loncengnya, memahami kapan waktunya untuk mundur dan kapan waktu yang tepat untuk melanjutkan permusuhan.

Menteri Luar Negeri Saudi, Adel al-Jubeir, dalam pidato Parlemen Eropa menekankan perlunya kerja sama global untuk mencegah campur tangan Iran di luar negeri, menambahkan bahwa Teheran harus mengakhiri upayanya dan “revolusi telah berakhir.”

Menlu Arab: Iran Sumber Bahaya Terbesar

Di seberang Atlantik, Wakil Presiden AS Mike Pence mengulangi fakta bahwa Teheran tetap menjadi pendukung utama milisi Syiah internasional, memperingatkan Washington tidak akan lagi mentolerir kegiatan destabilisasi Iran di seluruh wilayah Timur Tengah.

Dan saat kembali dari tur Timur Tengahnya, Ed Royce, Ketua Komite Urusan Luar Negeri AS mengeluarkan sebuah pernyataan menekankan ancaman yang diajukan Iran untuk seluruh wilayah Timur Tengah. Tindakan finansial dan diplomatik terhadap program rudal Iran dan dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata dibahas dalam pertemuan Royce, menurut sebuah pernyataan.

Kembali ke Benua Hijau, Kanselir Jerman Angela Merkel telah meminta Uni Eropa meningkatkan tekanan pada Rusia dan Iran untuk mengakhiri kekerasan Suriah. Merkel memiliki kesempatan dan pengaruh untuk memimpin Eropa menyingkirkan kebijakan pertarungannya berhadapan dengan Iran dan berdiri seolah-olah pada sisi yang benar.

Memahami situasi yang sedang dihadapi, Iran menaikkan agresinya di Suriah – seperti pengeboman yang kejam di Ghouta Timur – untuk digunakan sebagai pengungkit kemungkinan pembicaraan di masa depan mengenai program rudal balistiknya dan campur tangan dalam urusan internal negara lain.

AS dan Kanada Dukung Demontrasi Anti Pemerintah Iran

Masyarakat Internasional, dan khususnya Uni Eropa, harus prihatin bahwa Timur Tengah mengalami gelombang baru ketegangan yang berbahaya. Presiden AS Donald Trump berjanji pada Oktober lalu untuk melawan aktivitas “destabilisasi” Iran dan dukungannya terhadap proxy (kelompok bersenjata Syiah global) di wilayah Timur Tengah.

“Sudah saatnya menyadari bagaimana Iran perlu meningkatkan taruhannya di Suriah untuk terus-menerus menolak perbedaan pendapat di tanah airnya dan memperbarui perdebatan sengit.

Jawabannya adalah mendukung pemberontakan rakyat Iran terhadap pemerintah yang berkuasa dan secara signifikan menaikkan nilai peran destruktif Teheran di luar perbatasannya dengan mengancam memberlakukan kembali sanksi melumpuhkan yang menargetkan entitas rezim Suriah.