Trump: Amerika akan Luncurkan Serangan Rudal Canggih Terbaru ke Suriah

SURIAH (Jurnalislam.com) – Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Rusia di sebuah tweet pagi untuk bersiap mengadapi “serangan rudal canggih terbaru dan ‘pintar!'” Di Suriah setelah dugaan serangan gas terakhir di kubu oposisi di negara itu, lansir Aljazeera Rabu (11/4/2018).

Tweet itu muncul setelah duta besar Rusia untuk Libanon mengatakan dalam sebuah wawancara pada hari Selasa dengan televisi al-Manar milik Syiah Hisbullah bahwa “jika ada serangan rudal AS, kami – sejalan dengan Putin dan pernyataan staf kepala Rusia – akan menembak jatuh roket AS dan bahkan sumber yang meluncurkan rudal.”

Trump lebih lanjut mengecam Rusia karena dukungannya terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam tweet Rabu, mengatakan bahwa “seharusnya tidak bermitra dengan Hewan Gas Pembunuh yang membunuh rakyatnya dan menikmatinya!”

Waspadai Serangan AS ke Suriah, Pasukan Assad dan Angkatan Laut Rusia Siaga 1

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menanggapi tweet Trump dengan mengatakan: “Rudal cerdas harus terbang ke arah teroris, bukan pemerintah [Suriah] yang sah, yang telah menghabiskan beberapa tahun berjuang melawan terorisme internasional di wilayahnya.”

Peringatan itu muncul ketika Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa mengancam akan menggunakan aksi militer terhadap pemerintah Suriah dan sekutu utamanya, Rusia, sebagai tanggapan atas dugaan serangan senjata kimia di kota Douma yang dikuasai oposisi.

Serangan Sabtu di Ghouta Timur telah menewaskan puluhan orang, kebanyakan wanita dan anak-anak, menurut aktivis dan petugas medis setempat.

Rezim Suriah dan Rusia membantah bahwa serangan kimia telah terjadi.

Muncul laporan Rabu malam bahwa persenjataan berat telah dipindahkan dari pangkalan Suriah.

“Kami tidak memiliki informasi sumber terbuka yang dapat memverifikasi gerakan Suriah [memindahkan peralatan militer], tetapi kami memperkirakan bahwa informasi ini benar,” kata Ruslan Leviev, seorang peneliti militer yang berbasis di Moskow dengan Tim Intelijen Konflik, sebuah organisasi penelitian yang menyelidiki konflik di Suriah dan Ukraina.

“Mereka memindahkan beberapa peralatan mereka ke Hmeimim. Ini adalah langkah yang logis,” kata Leviev.

Rusia saat ini mengoperasikan pangkalan udara Hmeimim, yang terletak di provinsi Latakia, di mana mereka telah mengerahkan pasukan darat dan pesawat tempur.

Pada hari Selasa, rancangan kedua resolusi saingan dari AS dan Rusia untuk membentuk badan ahli baru guna menyelidiki serangan senjata kimia di Suriah sama-sama gagal lolos di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Info Grafik Serangan Senjata Kimia Rezim Assad dan Bantahan Sitematis Rusia

James Mattis, menteri pertahanan AS, tidak mengesampingkan tindakan militer apa pun terhadap pasukan Assad, sementara duta besar AS untuk PBB, Nikki Haley, memperingatkan bahwa Washington siap untuk “menanggapi” serangan tersebut terlepas dari apakah Dewan Keamanan bertindak atau tidak.

Vladimir Shamanov, ketua komite urusan pertahanan di majelis rendah parlemen Rusia, mengatakan kepada kantor berita Rusia Ria Novosti pada hari Rabu bahwa Rusia akan membalas.

“Rusia memiliki senjata yang layak. Jika ada upaya untuk mengujinya, mereka akan mendapat respon yang layak,” katanya.

Sementara itu, rezim Suriah telah menempatkan pasukannya pada posisi “siaga tinggi” di tengah ancaman serangan militer AS.

Dengan bantuan militer Rusia, rezim Syiah Assad meluncurkan serangan berdarah di Ghouta Timur, yang telah berada di bawah kendali oposisi sejak pertengahan 2013.

Perancis akan Balas Serangan Senjata Kimia Assad

Sejak dimulainya operasi pemboman udara pada 18 Februari, serangan itu telah menewaskan lebih dari 1.600 orang sipil, dan melalui serangkaian kesepakatan yang dicapai dengan kelompok oposisi, telah secara internal mengungsikan lebih dari 45.000 orang menurut PBB.

Trump kemudian tweeted bahwa hubungan Rusia-AS “sekarang lebih buruk” daripada sebelumnya.

Presiden menyimpulkan dengan membuka kemungkinan penurunan ketegangan: “Tidak ada alasan untuk ini. Rusia membutuhkan kita untuk membantu ekonomi mereka, sesuatu yang akan sangat mudah dilakukan, dan kita membutuhkan semua bangsa untuk bekerja sama. Hentikan perlombaan senjata?”

Rusia Kembali Veto Draft DK PBB atas Serangan Senjata Kimia di Douma

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Rusia memveto sebuah draft DK PBB pada hari Selasa (10/4/2018) yang akan membentuk badan ahli baru untuk menentukan kesalahan atas dugaan serangan kimia di Suriah.

Rancangan itu mendapat dukungan luar biasa dari dewan dengan didukung 12 anggota dewan yang beranggotakan 15 anggota tersebut, dengan hanya dua Negara, yaitu Rusia dan Bolivia, yang menentang. China menyatakan abstain, lansir Anadolu Agency.

Nikki Haley, utusan PBB AS, mengecam Moskow, mengatakan bahwa “Rusia telah menghancurkan kredibilitas dewan” segera setelah pemungutan suara selesai.

Info Grafik Serangan Senjata Kimia Rezim Assad dan Bantahan Sitematis Rusia

“Suara telah diberikan. Catatan akan menunjukkan bahwa saat ini beberapa negara telah memutuskan untuk membela kebenaran,” kata Haley.

“Catatan itu tidak akan berbaik hati kepada satu anggota tetap dewan ini.”

Dugaan serangan kimia di luar Damaskus pada Sabtu malam menewaskan puluhan orang dan melukai ratusan lainnya.

The White Helmets, sebuah badan pertahanan sipil, melaporkan rezim Suriah atas serangan di Douma Ghouta Timur, yang menewaskan 78 warga sipil dan melukai ratusan korban lainnya.

Waspadai Serangan AS ke Suriah, Pasukan Assad dan Angkatan Laut Rusia Siaga 1

Setelah pemungutan suara pada resolusi rancangan AS, resolusi yang dibuat oleh Rusia gagal mendapatkan suara yang dibutuhkan untuk lolos dari dewan.

Berbeda dengan AS, teks rancangan Rusia tidak berusaha untuk menetapkan kesalahan atas serangan itu, tetapi lebih memilih untuk menentukan apakah serangan kimia memang benar terjadi. Tujuh Negara anggota semuanya memilih menentang draft Rusia dengan enam suara mendukung.

Bincang Politik Anis Matta Bersama Aktivis Islam Tasikmalaya

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Aliansi Aktivis dan Masyarakat Muslim Tasikmalaya (Almumtaz) bersama Persaudaraan Alumni 212 menggelar acara Tatsqif Siyasi bertajuk ‘Wawasan Politik Islam’ bersama Anis Matta di Hotel Horison, Kota Tasikmalaya, Selasa (10/4/2018) malam.

Dalam paparannya, mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengatakan, Indonesia sedang mengalami krisis narasi dan krisis kepemimpinan.

Anis menjelaskan, Indonesia telah melewati dua gelombang sejarah. Gelombang pertama ialah gelombang menjadi Indonesia yang puncaknya adalah kemerdekaan 1945.

Gelombang kedua adalah menjadi Indonesia sebagai bangsa yang modern. Gelombang ini terjadi pada masa orde lama, orde baru, dan orde reformasi.

“Kita bangun konstitusi kita, institusi negara, kita bangun masyarakat kita. Dan dalam proses ini antara sistem dan outputnya adalah demokrasi dan kesejahteraan. Di masa orde lama ada demokrasi tapi tidak ada kesejahteraan, di masa orde baru ada kesejahteraan tapi tidak ada demokrasi, di masa reformasi ini kita berusaha mempertemukannya tapi terseok-seok,” jelas Anis Matta.

Kendati demikian, Anis mengakui demokrasi dan kesejahteraan sudah relatif ada di masa reformasi ini. Akan tetapi jika dibandingkan dengan potensi besar yang dimiliki Indonesia, seharusnya keseimbangan demokrasi dan kesejahteraan itu dapat berjalan dengan baik.

“Langit kita terlalu tinggi tapi kita terbang terlalu rendah, yang kita punya terlalu banyak tapi yang kita ciptakan terlalu sedikit. Dan ini yang saya maksud dengan krisis narasi dan krisis kepemimpinan,”

Selanjutnya, Indonesia memasuki gelombang ketiga yaitu menjadi kekuatan utama dunia. Ia menyampaikan potensi menjadikan Indonesia sebagai kekuatan kelima di dunia.

Sebagai bangsa dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia seharusnya mampu menjadi penopang kebangkitan Islam di dunia.

“Ini momentum yang harus kita raih. Seharusnya kita bisa membangun negara kita ini dalam parameter ekonomi, teknologi dan militer menjadi negara yang kuat. Karena kita bisa memberikan model keseimbangan baru secara global,” papar Anis.

Sebelumnya, Anis juga mengisi acara serupa di Pondok Pesantren Miftahul Huda 2, Ciamis.

Perancis akan Balas Serangan Senjata Kimia Assad

PERANCIS (Jurnalislam.com) – Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris telah meningkatkan tekanan terhadap rezim pemerintah Suriah dengan menjanjikan reaksi keras terhadap dugaan serangan gas terhadap Douma, kota terakhir yang masih dipegang oleh oposisi di bekas benteng mereka di Ghouta Timur.

Perancis pada hari Selasa (10/4/2018) memperingatkan akan membalas dendam terhadap Assad jika senjata kimia terbukti melewati “batas garis merah” di Douma, lansir Aljazeera.

Berbicara kepada radio Europe 1, Presiden Perancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa intelijen berbagi data dengan Trump “menegaskan penggunaan senjata kimia.”

Waspadai Serangan AS ke Suriah, Pasukan Assad dan Angkatan Laut Rusia Siaga 1

Pada hari Senin, duta besar AS untuk PBB, Nikki Haley, mengatakan pada pertemuan mendadak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa Washington siap untuk “menanggapi” serangan tersebut tanpa menghiraukan apakah Dewan Keamanan bertindak atau tidak.

Sementara itu, Theresa May, perdana menteri Inggris, mengatakan bahwa pemerintah Suriah “dan para pendukungnya, termasuk Rusia, harus dimintai pertanggungjawaban” jika terbukti bertanggung jawab menjatuhkan senjata kimia pada warga Douma.

Presiden Perancis: Kami akan Intervensi Militer ke Ghouta, Serang Suriah

Namun juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov memperingatkan bahwa “membuat kesimpulan seperti itu adalah salah dan berbahaya”, dengan menunjukkan bahwa oposisi bisa saja melancarkan serangan itu untuk melemparkan kesalahan pada Damaskus.

Sergey Lavrov, menteri luar negeri Rusia, membantah dengan mengatakan spesialis Rusia tidak menemukan jejak serangan kimia terhadap Douma.

Sejak 18 Februari, serangan rezim Syiah Nushairiyah Suriah terhadap Ghouta telah menewaskan lebih dari 1.600 warga sipil.

Info Grafik Serangan Senjata Kimia Rezim Assad dan Bantahan Sitematis Rusia

ANKARA (Jurnalislam.com) – Rusia secara sistematis menyangkal serangan-serangan senjata kimia yang dilaporkan dilakukan oleh rezim Syiah Bashar al-Assad terhadap warga sipilnya, mengklaim bahwa gambar-gambar yang menunjukkan penduduk Suriah diracuni dibuat oleh negara-negara Barat, lansir Anadolu Agency Selasa (10/4/2018).

Rusia juga memblokir pertemuan Dewan Keamanan PBB yang membahas pelanggaran hak asasi manusia di Suriah.

Sejak awal perang di Suriah, pasukan rezim Syiah Nushairiyah Assad dilaporkan telah melakukan 215 serangan kimia.

Hanya tiga serangan yang diketahui Internasional dimana jumlah korban tewas tinggi sehingga menarik perhatian dunia.

Namun gambar warga sipil Suriah yang terkena dampak serangan kimia tidak cukup meyakinkan bagi pihak berwenang Rusia, yang bersikeras selalu membantah bahwa gambar-gambar tersebut adalah foto palsu yang dibuat oleh beberapa negara Barat.

Waspadai akan Serangan AS ke Suriah, Pasukan Assad dan Angkatan Laut Rusia Siaga 1

Korban tewas terbesar adalah ketika rezim Assad menggunakan senjata kimia di Ghouta Timur pada 21 Agustus 2013.

Sedikitnya 1.400 warga sipil tewas. Selain itu, sejumlah besar warga sipil, terutama perempuan dan anak-anak, terkena dampak serangan kimia tersebut.

Presiden Rusia Vladimir Putin membuat pernyataan pertamanya tentang insiden itu setelah inspektur PBB menyelesaikan pemeriksaan mereka di Suriah.

“Saya yakin bahwa [serangan kimia] tidak lebih adalah provokasi oleh mereka yang ingin menyeret negara lain ke dalam konflik Suriah, dan yang ingin memenangkan dukungan dari anggota kuat arena internasional, terutama Amerika Serikat,” Putin mengatakan pada 31 Agustus 2013.

Setelah serangan kimia 2013 di Suriah, AS diperkirakan akan melakukan intervensi terhadap Suriah. Namun, Rusia menghindari intervensi Amerika – yang tampaknya melanggar “garis merah” AS sebelumnya – setelah rezim mengatakan akan menghancurkan stok senjata kimia mereka. Kesepakatan dicapai pada 15 September 2013.

Senjata-senjata itu dihancurkan karena Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (the Organization for the Prohibition of Chemical Weapons-OPCW) ikut bermain. Organisasi mengumumkan proses penghancuran berakhir pada 19 Agustus 2014.

Namun, organisasi hanya menghancurkan stok senjata yang diungkap oleh rezim. Serangan di Idlib, Aleppo dan Eastern Ghouta adalah bukti bahwa rezim berhasil menyembunyikan beberapa senjata kimianya.

Inilah Infografik 162 Serangan Senjata Kimia Rezim Assad di Suriah

Sedikitnya 100 warga sipil tewas dalam serangan senjata kimia oleh rezim di Khan Sheikhoun Idlib pada 4 April 2017.

Beberapa warga Khan Sheikhoun sedang tidur selama serangan yang terjadi di pagi hari tersebut.

Pihak oposisi melaporkan jet tempur Suriah melintas, dan mengira bahwa itu adalah serangan udara biasa. Tetapi ketika pemboman itu tidak mengakibatkan pendarahan atau bekas luka, segera dipahami bahwa itu adalah serangan kimia.

Namun, pihak berwenang Rusia mengklaim bahwa mereka menargetkan “depot amunisi”, bukan warga sipil.

Juru Bicara Departemen Pertahanan Rusia Mayor Jenderal Igor Konashenkov juga menegaskan bahwa serangan itu menargetkan depot amunisi di timur Khan Sheikhoun, mengklaim bahwa gudang tersebut digunakan untuk memproduksi dan menyimpan bom yang mengandung gas beracun.

Rekaman udara yang diperoleh oleh Anadolu Agency sehari setelah serangan mengungkapkan bahwa gudang yang ditargetkan adalah lumbung gandum yang tidak terpakai.

Tiga hari setelah dugaan serangan kimia, AS membalas dengan serangan udara di lapangan udara Shayrat, yang menurut Rusia hanya alasan AS untuk campur tangan di Suriah.

Mekanisme Investigasi Bersama (Joint Investigative Mechanism-JIM) antara Organisasi untuk Pelarangan Senjata (OPCW) dengan PBB pada 27 Oktober 2017 menyimpulkan bahwa rezim Assad bertanggung jawab atas pembantaian Khan Sheikhoun dan mempresentasikan laporan tersebut ke Dewan Keamanan PBB. Dalam proses penyidikan serangan dan laporan JIM, pihak berwenang Rusia membuat pernyataan mengkritik metode dan hasil temuan penelitian.

Pada 21 Oktober 2016, JIM menahan rezim Syiah Assad yang bertanggung jawab atas tiga serangan lagi selama investigasi Khan Sheikhoun.

Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia melontarkan kemarahan setelah JIM memutuskan bahwa rezim telah menggunakan senjata kimia di desa Talamenes, Idlib, pada 21 April 2014, di desa Sarmin pada 16 Maret 2015, dan di Marea, Aleppo, pada 21 Agustus 2016. Nebenzia menyebut mereka “penyelidikan fiktif” dan “tuduhan tanpa dasar.”

Cegah PBB Selidiki Serangan Bom Kimia di Suriah, AS Salahkan Rusia

Rusia memveto keputusan untuk memperpanjang penyelidikan JIM pada 18 November 2017. Ini adalah veto ke-10 yang diambil Rusia demi rezim sejak perang saudara dimulai. Nebenzia menjelaskan hak veto itu dengan mengatakan JIM telah “mempermalukan dirinya sendiri” karena melontarkan tuduhan tak berdasar.

Belum ada sanksi yang dijatuhkan terhadap rezim tersebut sejak keputusan JIM, yang menetapkan bahwa rezim bertanggung jawab atas serangan terhadap Khan Sheikhoun dan tiga serangan kimia lainnya; bahkan orang-orang rezim Suriah yang bertanggung jawab atas pembantaian dianggap tidak cukup banyak untuk dibawa ke hadapan Pengadilan Pidana Internasional (the International Criminal Court-ICC).

Karena Suriah bukan anggota ICC, Dewan Keamanan PBB harus merujuk rezim ke ICC. Namun, Rusia juga mencegah proses ini.

Serangan terakhir rezim dengan senjata kimia menewaskan 78 warga sipil di distrik Douma di Ghouta Timur. Rusia mengatakan serangan itu hanyalah alasan untuk menyabotase evakuasi sejak 22 Maret berdasarkan perjanjian yang diperantarai oleh Rusia, antara rezim Bashar al-Assad dan kelompok-kelompok oposisi bersenjata, Jaishul Islam di Douma.

Negara-negara Eropa Serentak Kutuk Serangan Senjata Kimia di douma

Kementerian Luar Negeri Rusia malah mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa berita itu “palsu”.

“Informasi palsu sedang ditanam tentang dugaan penggunaan klorin dan agen beracun lainnya oleh pasukan Suriah,” kata kementerian itu.

Ketika ditanya apakah rezim menggunakan senjata kimia di Suriah dalam sebuah wawancara dengan penyiar NBC bulan lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan pemerintah Suriah telah lama menghancurkan semua senjata kimia yang dimilikinya.

Putin berkata: “Semua ini adalah hasil dari elemen radikal, aksi teroris. Mereka melakukan kejahatan ini untuk menyalahkan Assad. Kami menyadari rencana para pemberontak untuk menunjukkan bahwa tentara Suriah menggunakan senjata kimia. Mereka telah mencoba melakukan ini di masa lalu.”

Presiden Rusia juga menuduh pasukan oposisi bersenjata di Suriah menggunakan tuduhan bahwa rezim menggunakan senjata kimia “sebagai alasan untuk perjuangan mereka melawan Assad.”

Waspadai Serangan AS ke Suriah, Pasukan Assad dan Angkatan Laut Rusia Siaga 1

DAMASKUS (Jurnalislam) – Rezim Suriah menempatkan pasukannya pada posisi “siaga tinggi” di tengah ancaman respon militer AS yang membayangi menyusul dugaan serangan senjata kimia pada hari Sabtu (7/4/2018) di sebuah kota yang dikuasai oposisi di dekat Damaskus, lansir Aljazeera Selasa (10/4/2018).

Donald Trump menggambarkan serangan bom barel klorin terhadap Douma tersebut sebagai “hal yang mengerikan” dan berjanji untuk menanggapi “dengan keras”.

Rezim Syiah Suriah dan sekutunya, Rusia, membantah terjadinya serangan kimia itu, tetapi tim penyelamat dan petugas medis di lapangan mengatakan bahwa puluhan orang, termasuk banyak wanita dan anak-anak, tewas.

Rusia dan AS Perang Mulut, Trump: Kami akan Putuskan Segera atas Serangan Beracun

Trump bertemu kabinetnya serta jenderal tinggi pada hari Senin dan menjanjikan “keputusan besar selama 24 hingga 48 jam berikutnya,” sebagai tanggapan atas serangan itu.

Berbicara kepada wartawan pada hari Selasa, juru bicara Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders mengatakan Trump tidak akan melakukan perjalanan ke Amerika Latin, seperti yang direncanakan, dan akan tetap berada di AS untuk “mengawasi respon Amerika terhadap Suriah dan untuk memantau perkembangan di seluruh dunia.”

Info Grafik Serangan Senjata Kimia Rezim Assad dan Bantahan Sitematis Rusia

Sementara itu, James Mattis, menteri pertahanan AS, tidak mengesampingkan tindakan militer terhadap pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Kantor berita DPA melaporkan pada hari Selasa bahwa tentara Suriah telah menempatkan semua posisi militer dalam keadaan siaga, termasuk bandara dan semua pangkalan, selama 72 jam.

Dikatakan bahwa keadaan waspada mencakup semua posisi dan pangkalan militer di provinsi selatan Sweida, provinsi Aleppo, Latakia dan provinsi Deir Az Zor.

Secara terpisah, situs web berita pro-pemerintah Al Masdar melaporkan bahwa armada Laut Hitam Angkatan Laut Rusia juga telah ditempatkan pada siaga tinggi setelah kapal perang AS dilaporkan meninggalkan Siprus menuju perairan Suriah.

Negara-negara Eropa Serentak Kutuk Serangan Senjata Kimia di douma

Tidak ada tanggapan resmi dari Rusia tentang pengumuman itu.

Tapi berita itu muncul karena sedikitnya satu kapal penghancur rudal AS berangkat ke pantai Suriah setelah Trump menyatakan kemungkinan respon militer.

Vladimir Shamanov, mantan panglima tertinggi Pasukan Lintas Udara Rusia, bersumpah bahwa Rusia akan mengambil semua langkah pembalasan politik, diplomatik dan militer jika AS melakukan serangan di Suriah.

“Politik standar ganda telah mencapai titik terendah. Dan di sini, partai Rusia Bersatu secara sadar menyatakan bahwa semua langkah politik, diplomatik dan militer akan diambil jika perlu,” Shamanov mengatakan pada rapat pleno Negara Duma.

Demikian pula, kementerian luar negeri Rusia memperingatkan “intervensi militer terhadap dalih yang dibuat-buat dan palsu.”

Ormas Islam Jatim Kembali Laporkan Sukmawati

SURABAYA (Jurnalislam.com) – Asosiasi Pembela Islam (API) Jawa Timur bersama LBH BHF (Bantuan Hukum Front Garda FPI) melaporkan Sukmawati Soekarnoputri ke Polda Jatim, Selasa (10/4/2018). Laporan tersebut masih terkait puisi Sukmawati yang dinilai melecehkan Syariat Islam.

Laporan disampaikan atas nama Indra Septika selaku pelapor terkait Penodaan Agama dan atau ujaran kebencian dan UU No.40 tahun 2008 yang disampaikan oleh Sukmawati melalui puisi “Ibu Indonesia”.

“Sebagai sebuah bangsa yang beradab, dibangun di atas pengakuan atas pluralitas ras, warna kulit, etnis, agama, dan lain sebagainya. Ini berarti bahwa segala bentuk provokasi, hasutan ataupun hinaan terhadap segala aspek keragaman adalah hal yang tak bisa ditoleransi,” kata perwakilan LBH BHF, Fatimah.

Menurutnya, puisi dengan judul ‘Ibu Indonesia’ yang dibacakan di depan publik mengandung pernyataan yang dapat dikategorikan sebagai bentuk ujaran kebencian terhadap kelompok tertentu, yaitu umat Islam, sehingga bisa mencederai tenunan kebangsaan Indonesia.

Oleh karena itu, Asosiasi Pembela Islam Jawa Timur, menyatakan sikap sebagai berikut:

  1. Menerima permohonan maaf ibu Sukmawati Soekarno Putri, berdasarkan prinsip ukhuwah islamiah, ukhuwah wathoniyah, dan ukhuwah insaniyah;
  2. Meminta penegak hukum agar tetap proses hukum tetap dilanjutkan berdasarkan prinsip kepastian hukum dan keadilan;
  3. Menyerukan kepada umat Islam agar tidak mudah terprovokasi dan mengedepankan prinsip saling menghargai sesama anak bangsa dan menghindari segala perkataan, perilaku, tulisan, ataupun pertunjukan yang dapat menjurus pada ujaran kebencian.
  4. Ibu Sukmawati harus mencabut pernyataan atau puisi yang telah menjadi kontroversi, menyinggung suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).

Pelaporan Ade Armando Untuk Mencegah Aksi Main Hakim Sendiri Masyarkaat

KH. Shabri Lubis: Ade Armando Dilaporkan agar Terhindar dari Hakim Sendiri Masyarakat

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ade Armando resmi dilaporkan oleh Front Pembela Islam (FPI) ke Bareskrim Mabes Polri pada Selasa (10/4/2018) siang.

Ketua Umum DPP FPI, KH Shabri mengatakan, pelaporan atas Ade Armando dilakukan untuk mencegah aksi main hakim sendiri dari masyarakat.

“Kita sebagai warga negara yang baik dan sebagai Front Pembela Islam ingin memberikan pandangan dan arahan kepada anggota kami serta masyarakat supaya tidak main hakim sendiri dalam hal seperti ini. Tapi harus kita lakukan sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku,” katanya kepada Jurnalislam.com usai pelaporan itu di Bareskrim, Jakarta, Selasa (10/4/2018).

Ade Armando dipolisikan atas postingannya dalam akun facebook miliknya yang menyebut FPI sebagai anjing binaan Polri. “Polri harus membuktikan pada publik bahwa FPI bukan anjing binaan mereka,” tulis Ade dalam facebooknya.

Ade Armando dinilai melanggar ketentuan hukum pasal 28 ayat 2 terkait penghinaan, pencemaran nama baik, dan menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu atau masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Reporter: Gio

Disebut Anjing Binaan Polri, FPI Laporkan Ade Armando

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum DPP Front Pembela Islam (FPI), KH Shabri Lubis melaporkan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Ade Armando atas pernyataannya di dalam status Facebook pribadinya.

Dalam postingannya, Ade Armando dinilai telah mengolok-ngolok FPI dengan ujaran kebencian. Di salah-satu statusnya, Ade menulis, “Polri harus membuktikan pada publik bahwa FPI bukan anjing binaan mereka.”

“Kami datang ke Bareskrim Polri melaporkan Ade Armando terkait ujaran kebencian yang dilakukannya,” katanya kepada Jurnalislam.com di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Selasa (10/04/2018).

Shabri menambahkan, pelaporan kali ini adalah sebagai upaya untuk mencegah aksi main hakim sendiri. Shabri pun berharap agar kepolisian segera merespon, memeriksa dan menghukum Ade Armando.

“Orang ini sedari dulu kerjaannya menghina Ormas Islam, menghina agama. Ini maunya apa,” ujarnya.

Lebih lanjut, menurut pelapor KH. Shobri Lubis, Ade Armando acap kali melontarkan ujaran kebencian baik itu terhadap agama maupun ormas Islam. Bahkan setelah ditetapkan sebagai tersangka pun, Ade Armando dapat bebas.

“Ini sudah terlalu sering. Ade Armando ini gak kena terus nih, udah jadi tersangka masih gak ditangkap juga,” pungkasnya.

Ade Armando dinilai melanggar ketentuan hukum pasal 28 ayat 2 terkait penghinaan, pencemaran nama baik, dan menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu atau masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Reporter: Gio

MUI Jabar Ajak Seluruh Elemen Berantas Miras

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat Prof Dr KH Rachmat Safe’i mengaku, sangat prihatin atas kasus peredaran miras oplosan yang merenggut 45 nyawa di tiga daerah. Dia meminta seluruh intansi terkait bersatupadu memberantas peredaran miras.

Menurut Rachmat, miras sudah jelas dilarang oleh agama karena merusak fisik dan mental manusia. Karena itu, ia mengimbau, kepada para orang tua untuk memberikan pengawasan secara ketat kepada anak-anaknya yang akan menjadi pewaris bangsa ini.

Jika generasi muda dirusak oleh miras dan narkoba, kata dia, bagaimana dengan nasib bangsa ini ke depan. “Saya mengimbau para orangtua terus mengawasi dan memberikan bimbingan kepada anak-anaknya agar tidak menjadi korban peredaran miras dan narkoba,” ujar dia kepada wartawan di Bandung, Selasa (10/4/2018).

Rachmat juga mengajak para tokoh agama untuk membantu polisi dalam menyosialisasikan bahaya peredaran miras dan narkoba. “Tokoh agama harus bersama-sama dengan polisi dalam memberikan informasi kepada masyarakat tentang bahaya peredaran miras dan narkoba,” kata dia.

Rachmat juga meminta Polda Jabar untuk melakukan tindakan hukum secara tegas kepada produsen dan penjual miras oplosan. “Ini sangat memprihatinkan. Peredaran miras sudah merenggut banyak nyawa manusia. Masyarakat dan pihak terkait harus bersatu memeranginya,” ujarnya.

Kapolda Jabar Irjen Pol Drs Agung Budi Maryoto, mengajak, para tokoh agama, khususnya kiai dan ustasz menyampaikan sosialisasi bahaya peredaran miras dan narkoba dalam setiap khutbah Jumat atau kegiatan ceramah lainnya. “Saya sangat prihatin dengan kasus ini. Kami mengajak tokoh agama bersama-sama menyosialisasikan bahaya peredaran miras dan narkoba kepada masyarakat,” tutur dia.

Hingga saat ini korban tewas akibat mengonsumsi miras oplosan di Kabupaten Bandung mencapai 41 orang. Sebanyak 31 orang tewas di RSUD Cicalengka, di RSUD Majalaya sebanyak tiga orang dan Rumah Sakit (RS) AMC sebanyak tujuh orang. Total korban sebanyak 41 orang.