Berita Terkini

Berita di Balik Bencana

Oleh: Beggy Rizkiyansyah – Anggota Divisi Wacana Publik JITU

Wajahnya tampak emosional. Disitulah ia berdiri, melaporkan bencana Tsunami di Aceh pada tahun 2004. Tak lama ia tak kuat menahan sedihnya. Ia melaporkan situasi pasca tsunami sambal menangis. Najwa Shihab, jurnalis yang menangis sambal mewartakan bencana tersebut adalah salah satu contoh bagaimana emosi dapat melibatkan proses liputan, termasuk dalam meliput bencana. Apakah keterlibatan emosi dapat mengganggu objektivitas seorang jurnalis?

Pertanyaan seperti itu menjadi salah satu bahan perdebatan dalam wacana jurnalisme dalam meliput bencana. Karin Wahl-Jorgensen dan Mervi Pantti dalam The Ethics of Global Disaster Reporting: Journalistic Witessing and The Challenge to Objectivity memuat berbagai pertannyaan seputar etika dalam liputan bencana. Persoalan tersebut termasuk keterlibatan emosi dalam pemberitaan.  (Karin Wahl-Jorgensen dan Mervi Pantti: 2013)

Ahmad Arif dalam Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme (2010) juga mengangkat soal keterlambatan media dalam mengungkap bencana tsunami di Aceh pada 2004. Ahmad Arif juga menggugat bagaimana media-media bahkan tergesa-gesa dalam mewartakan bencana tanpa verifikasi yang memadai. Salah satunya disebabkan kesalahan informasi yang disampaikan oleh berbagai institusi pemerintah yang bukan saja, tak mampu memberi informasi yang memadai tetapi juga memberi informasi keliru. Sehingga pemberitaan bencana kerap terlambat diangkat.

Diluar kedua kajian Arif dan Karin, ada banyak pertanyaan lain. Salah satunya yang merebak saat ini yaitu, bagaimana media Islam dalam mewartakan bencana? Bagaimana etika menilai bencana, termasuk kontroversi mengaitkan satu bencana sebagai azab dari Allah ﷻ.

Amat penting untuk menarik kembali tujuan awal dari meliput bencana. Ward (2010) menyebutkan bahwa jurnalisme bencana bukan semacam perlombaan. Tetapi  bertugaas untuk menggugah emosi  pembaca atau pemirsa. Ward menyebutnya jurnalisme humanistik yang menggabungkan emosi dan alasan. Jurnalisme humanistik untuk berempati pada korban dengan informasi yang berdasarkan fakta dan analisis kritis. (Karin Wahl-Jorgensen dan Mervi Pantti: 2013)

Pemahaman seperti ini juga mengundang kritik. Keterlibatan emosi dalam liputan dianggap akan mengacaukan objektivitas. Namun apakah mungkin seorang jurnalis menyingkirkan emosi sebagai satu ciri kemanusiaannya? Menurut Kovach dan Rosenstiel, penulis buku Elemen-Elemen Jurnalisme, akan sangat aneh, bahkan menekan, jika reporter berlaku seperti robot jurnalistik. (Karin Wahl-Jorgensen dan Mervi Pantti: 2013)

Satu penjelasan menarik disebutkan oleh WIlls (2013). “Pembaca dan penonton akan lebih terikat dengan sebuah cerita jika mereka merasa reporter peduli pada cerita, orang-orang yang terkena dan cukup peduli agar pembaca atau penonton menulis satu cerita yang peduli dan meyakinkan.” (Karin Wahl-Jorgensen dan Mervi Pantti: 2013)

Perdebatan diatas memang berkisar dalam bingkai juralisme barat yang mengusung humanisme sekular. kepedulian akan liputan bencana memang bermaksud untuk menggugah empati dan kepedulian sebagai sesama manusia.

Hal berbeda jika kita melihat dari perspektif jurnalisme Islami. Salah satu fungsi jurnalisme islami adalah edukasi (tabligh). Ia tak saja mengajak pembaca atau penontonnya untuk berempati dan peduli. Tetapi juga untuk mengambil hikmah dari bencana tersebut.

Umat Islam diajarkan untuk memahami bahwa bencana bukan saja pewujudan dari azab atau pun ujian, tetapi juga menunjukkan kekuasaan Allah ﷻ di balik sebuah bencana (al-Baqarah 155-157). (Fariq Gasim Anuz: 2017) Berbagai penjelasan ilmiah di balik terjadinya bencana tidak seharusnya membuat kita memiliki cara pandang yang sekularistik dan menyingkirkan peran Allah. Sebaliknya, berbagai penjelasan ilmiah seharusnya membawa kita semakin mempercayai bahwa Allah mampu mengatur segalanya.

Tak ada yang dapat mengetahui apakah bencana tersebut berupa azab ataupun ujian. Hanya pribadi masing-masinglah yang dapat menduga-duga makna di balik bencana tersebut dan bahan muhasabah bagi dirinya. Dalam satu hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari, Aisyah Ra bertanya pada Rasulullah tentang tha’un. Rasulullah kemudian menjawab tha’un sebagai azab yang dikirim Allah kepada siapa-siapa yang dikehendakinya; dijadikannya tha’un sebagai rahmat orang yang beriman. Jika hamba tersebut terkena penyakit tha’un, dia tetap tinggal di negerinya dengan sabar dan mengharap ganjaran dari Allah, maka ia mendapat ganjaran syahid jika ia mati. (Fariq Gasim Anuz: 2017)

Jurnalis muslim berperan agar -disamping mengajak untuk peduli pada para korban-  umat dapat mengambil hikmah dari sebuah bencana. Bagi jurnalis muslim. Ia tentu tak dapat menjangkau alasan di balik terjadinya bencana tersebut.; apakah itu azab atau ujian. Namun hikmah dari bencana tersebut dapat disampaikan oleh para jurnalis muslim.

Satu lokasi yang menjadi sarang kemaksiatan, kemudian terkena bencana dapat diangkat sebagai satu berita (peringatan) kepada para pembaca tanpa harus memakai bahasa yang menghakimi. Kumpulan fakta yang disusun dalam satu reportase atau liputan tersebut disajikan pada pembaca atau penonton, dan membiarkan mereka yang menilai.

Bagaimana pun, pesan pemberitaan satu bencana dapat kita pilah menjadi tiga aspek. Pertama liputan atau reportase bencana berfungsi untuk mengajak para pembaca atau penonton untuk bersegera membantu para korban. Emosi yang kemudian terlibat dalam reportase adalah manusiawi. Seperti diajukan Wills (2013), cerita yang menggugah akan membuat pembaca lebih peduli. Tentu saja, keterlibatan emosi harus dimbangi dengan fakta yang kuat.

Kedua, liputan atau reportase lebih mendalam tentang bencana tersebut disajikan dengan penjelasan ilmiah yang dibingkai oleh nilai tauhid untuk memaklumi kedhaifan manusia dan betapa besarnnya kekuasaan Allah ﷻ. Penjelasan ilmiah atas satu bencana disajikan sebagai satu proses bukan satu alasan terjadinya bencana tersebut. Dan bukan disajikan dengan bahasa, kata-kata, atau bingkai (framing) yang bertendensi menyingkirkan peran Allah ﷻ dalam menggerakkan segala fenomena alam tersebut.

Ketiga, liputan atau reportase lebih mendalam dari lokasi bencana juga menyingkap kehidupan masyarakat tersebut. Jika satu daerah yang terkena bencana setelah dilakukan liputan adalah bekas tempat yang menjadi sarang kemaksiatan misalnya, hal tersebut bukanlah tabu untuk diangkat. Dan tidak berarti tidak berempati kepada para korban.

Liputan yang demikian adalah wajar, selama tidak menghakimi para korban, memberi penilaian akhir atau melakukan penyimpulan yang memastikan alasan di balik bencana tersebut. Sebab yang demikian adalah satu hal yang hanya diketahui oleh Allah ﷻ. Poin yang lebih krusial dari liputan semacam itu adalah pesan (hikmah) kepada pembaca bahwa segala kemaksiatan membuka kemungkinan kemudharatan pada masyarakat, apa pun bentuknya.

Pada akhirnya, pemberitaan bencana alam dalam perspektif jurnalisme Islami bukanlah sekedar liputan biasa. Atau perlombaan dalam kecepatan meliput. Tetapi lebih penting, bagaimana pembaca atau penonton memahami, bahwa segala bencana adalah atas kuasa Allah dan manusia harus mengambil pelajaran atasnya.

Tulisan ini merupakan Program #MelekMedia dari Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

 

 

Bupati Boyolali Dilaporkan Karena Hujat Prabowo

BOYOLALI (jurnalislam.com)- Tim Advokasi Reaksi Cepat (TARC) bersama sejumlah elemen masyarakat kota Surakarta melaporkan bupati Boyolali Seno Samodro ke Polresta Boyolali, Jum’at, (9/11/2018).

Seno dianggap melakukan tindak penghinaan dan penghasutan atas makiannya dalam bahasa jawa terhadap paslon no 02 Prabowo dalam acara aksi unjuk rasa yang dihadiri bupati Boyolali pada ahad, (4/11/2018) lalu.

“Bahwa dalam hal ini, kata ‘ASU” didalam bahasa jawa memiliki arti adalah “Anjing”, Anjing merupakan salah satu spesies binatang, terhadap kata kata yang dilontarkan terlapor tersebut maka telah merendahkan martabat manusia, dan menghina bapak Prabowo Subiyanto,” kata Humas TARC Endro Sudarsono kepada wartawan.

“Saya ingin mengedukusai masyarakat boyolali bahwa berkata kotor itu bukan budaya Jawa,” sambungnya.

Menurut Endro, Seno melanggar pasal 310 ayat 1 dan 160 KUHP dengan hukuman maksimal 6 tahun dan denda paling banyak 4500 rupiah.

“Barang siapa di muka umum dengan lisan atau tulisan menghasut supaya melakukan perbuatan pidana, melakukan kekerasan terhadap penguasa umum atau tidak menuruti baik ketentuan undang-undang maupun perintah jabatan yang dibenarkan berdasar ketentuan undang undang diancam dengan pidana penjara paling Iama enam tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah,” ungkapnya.

Menanggapi hal itu, Polresta Boyolali AKBP Aries Andhi mengatakan, meski sudah ada yang melaporkan kasus tersebut ke Bareskrim Mabes Polri, ia tetap menerima laporan tersebut, ia berjanji akan mengkomunikasikan kepada Polda Jateng terkait penanganan yang melibatkan bupati Boyolali itu.

“Saat ini sudah ditangani polda jateng ,namun koridor proses penyidikan memang sudah ada rambunya. Laporan dan pengaduan ini tetap kami terima, dan akan kami komunikasikan karena pada saat ini perkara ini sudah ditangani Polda Jateng,” paparnya.

Selain melayangkan surat pengaduan, TARC juga menyertakan CD berisi video makian bupati Boyolali Seno Samodro terhadap Prabowo Subianto sebagai barang bukti

Habib Rizieq dalam Selilit Operasi intelijen

Oleh:  Harits Abu Ulya,
Pengamat Intelijen dan Terorisme dari Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA)

Media Indonesia seolah tidak ada habisnya untuk memberitakan soal Habib Rizieq Shihab (HRS). Tentu publik mulai sadar dan belajar; bahwa sosok HRS karena beberapa hal memang punya magnitude kuat untuk menjadi obyek pemberitaan, di sisi lain juga belajar bahwa kadang media obyektif jujur apa adanya hanya menyampaikan fakta, mengabarkan fakta dan peristiwa.

Kadang menyuguhkan berita dalam satu framing persepsi dan opini tertentu. Dan pada kasus sosok HRS publik kadang merasakan aroma determinasi subyektifitas sebagian besar media.

Menilik kasus terbaru; HRS dimintai keterangan oleh pihak berwajib Saudi terkait pelaporan adanya bendera bertuliskan kalimat Tauhid nempel didinding luar rumah kediaman HRS.

Bagi HRS bisa jadi hal ini sesuatu yang biasa. Tapi ternyata terkesan tidak bagi rezim dan sebagian media mainstream yang ada di Indonesia.

Publik melek; Ketika kasus HRS ini dianggap sangat “sesuatu” maka justru mengisaratkan ekspos kasus yang menimpa HRS itu ada target dan pesan tertentu yang ingin di sampaikan ke publik. Dan substansi pesan itu bisa di jejak dari alur dan bagaimana framing narasi media itu disuguhkan.

Dan jika kita mencermati bagaimana kasus itu terjadi dan kemudian distribusi  kabar kasus ke dan dari jejaring media abal-abal hingga viral merambah ke media mainstream akan mengantarkan pada satu kesimpulan; ini by design.

Analisa saya; dari evident (indikasi-indikadi) yang ada, apa yang menimpa HRS adalah produk operasi intelijen. Ada upaya menjatuhkan HRS dalam kubangan masalah. Paling tidak untuk mengunci semua langkah HRS selama di Saudi. Bahkan kalau perlu akan di buat opsi  “di-munir-kan”.

Ketika di kulik soal keimigrasian; HRS lolos, berikutnya niscaya akan dicoba dengan modus lain. Kali ini modusnya adalah membangun image kedekatan dan keterkaitan HRS dengan kelompok-kelompok yang di labeli ekstremis bahkan teroris.

Tembok luar rumah kediaman HRS di pasang bendera tauhid, didokumentasikan lanjut dilaporkan kemudian diasosiasikan dengan kelompok ISIS, HT dan sebagainya dimana Saudi sangat alergi bahkan keras bersikap terhadap kelompok2 tersebut. Ini cara atau modus murahan.

Bisa jadi aktor perencana menilai paska seruan HRS kepada umat Islam Indonesia agar mengibarkan bendera Tauhid sebagai respon terhadap kasus pembakaran bendera Tauhid di Garut Jabar itu dianggap relevan dengan bertenggernya bendera Tauhid di tembok luar kediaman HRS.

Dengan begitu HRS mudah dijadikan target oleh aparat keamanan Saudi. Dengan resiko penjara sampai hukuman mati. Padahal cara ini potensi blunder bagi pihak-pihak yang merencakan dan aktor lapangan.

Di sisi lain ada indikasi pihak rezim yang berkuasa di Indonesia melalui KBRI di saudi ingin meraup keuntungan; Narasi yang dibangun diatas kasus yang menimpa HRS di Saudi  adalah rezim ternyata peduli bahkan siap advokasi kasus yg dihadapi HRS.

Jadi stressing Analisanya; Rezim ingin meraup citra positif sembari cuci tangan seolah-olah tidak terlibat atau tidak tahu menahu dengan peristiwa yang menimpa HRS.

Dan ketika kasus ini bagi HRS adalah hal biasa namun bagi rezim penguasa di Indonesia dan ekspos media menjadikan seolah-olah kasus ini besar maka ini adalah cara untuk membuat citra negatif bagi HRS, sedang dibangun image HRS adalah trouble maker dimanapun berada. Targetnya untuk membuat untrush (ketidak percayaan) publik khususnya umat Islam Indonesia kepada HRS. Hulu dan Muaranya ini semua adalah soal kekuasaan; pertarungan pilpres 2019.

Pada konteks inilah relasi HRS dengan rezim bisa di ibaratkan; HRS menjadi selilit bagi rezim. Eksistensi HRS membuat “tidak nyaman” bagi rezim. Maka niscaya design demi design di buat untuk mencongkel “selilit” ini.

Saya melihat jika ada keinginan dari pihak FPI agar HRS pulang atau di pulangkan itu adalah ide yang positif. HRS dan keluarganya adalah WNI, tidak ada alasan negara untuk menolak kepulangannya. Sekiranya pulang kemudian HRS karena satu dan lain hal kemudian kembali masuk ke tahanan atau lapas maka saya yakin itu bukan hal yg menakutkan bagi beliau. Beliau sudah pernah merasakan hal itu.

Tapi dari sisi kepentingan umat yang lebih luas tentu hadirnya HRS di Indonesia akan jauh lebih besar maslahatnya.

Puncak bahaya bagi HRS adalah di “munirkan”. Tapi disaat umat islam pd level kesadaran berpikir dan kesadaran politiknya sangat baik, maka jika kalau HRS di “munirkan”  itu akan memantik kontraksi sosial yg luar biasa. Dan rezim yg bercokol hari ini akan menjadi pihak yang paling tertuduh dan harus bertanggungjawab dengan segala resikonya.

Jadi menurut hitung-hitungan saya; HRS pulang balik ke Indonesia itu lebih baik. Saya melihat jutaan Umat Islam siap disisi HRS. Dan HRS tidak hanya “selilit” tapi juga buahsimalakama bagi rezim saat ini.[]

Para Penghina Kalimat Tauhid

Oleh : KH Athian Ali*

Berulangkali   ketika Allah mengharamkan sesuatu kepada hambaNya, di antaranya ketika menetapkan hukum   haramnya   berzina(Q.S. Al Israa:32)  minum khamar dan berjudi(  Q.S. Al Ma idah 90), Allah SWT menetapkan keharamannya  tidak dengan kata “Diharamkan”  tapi dengan mempergunakan kalimat   “jangan dekati” atau dengan kata “jauhilah.”

 

Salah satu hikmahnya adalah dalam rangka  mendidik agar seseorang tidak sampai melakukan   yang diharamkan ,dengan cara tidak mendekati dan atau menjauhinya.  Karena seseorang yang berusaha  mendekati sesuatu yang dilarang, maka yang bersangkutan berpeluang dan berpotensi besar untuk melanggarnya.

 

Di antara hikmah lainnya, adalah untuk memperluas wilayah hukum. Sebab jika  dengan bahasa  “diharamkan minum khamar” misalnya, maka tentu saja yang berdosa hanyalah mereka yang meminumnya saja.

Tapi dengan kata “jauhilah” maka setiap yang terlibat dengan khamar berdosa hukumnya, mulai dari penjual, pembeli dan juga tentunya pabrik yang  memproduksinya.

Bahkan yang terberat dosanya  adalah semua  pihak yang terlibat dalam perizinan, terutama sekali yang menandatangani izin berdirinya  pabrik yang memproduksi barang haram tersebut.

Dimana yang bersangkutan  tentu saja harus ikut  menanggung dosa sekian banyak orang yang  terlibat dengan barang haram tersebut, khususnya para peminum sekian botol minuman khamar yang telah diproduksi selama sekian tahun.

 

Terkait dengan pembakaran kalimat tauhid, maka yang membakar tentu saja sangat besar dosanya dan sudah seharusnya  dihukum dengan hukuman yang seberat- beratnya.

 

Yang tidak kurang besar dosanya, adalah pihak yang membela para pembakar, karena  membela pelaku pembakaran kalimat tauhid  dengan menyatakannya sebagai bukan penistaan, secara substansi juga  merupakan  penghinaan.

 

Berjamaah juga dalam penistaan, semua pihak yang berupaya untuk tidak menghukum para pelaku penghinaan dengan pasal penghinaan dan penodaan, termasuk pengadilan yang  menetapkan “hanya ”  hukuman kurungan sepuluh hari dan denda 2000 rupiah , dengan tidak menerapkan pasal penghinaan dan penodaan, merupakan pihak yang juga telah ikut serta melakukan penghinaan dan penistaan.

 

Last  but not least, rezim yang membiarkan bahkan terkesan melindungi para penista Agama selama ini, termasuk pembakar kalimat tauhid, maka  tentu saja termasuk penghina dan penista sakralnya kalimat tauhid.

Padahal, sebagai pihak yang pada pundaknya terpikul kewajiban melindungi hak rakyatnya, terutama hak perlindungan terhadap kesucian Agama, maka  seharusmya pemerintah melindungi ummat Islam yang  demi makna yang terkandung dalam kalimat itulah hidup dan matinya seorang muslim.

Saya yakin, dengan sikap pembelaan terhadap para penista seperti ini, maka  darah ummat yang mendidih tidak akan pernah menjadi dingin, amarah di dada ummat yang membara tidak akan pernah padam.

Ummat Islam yang masih memiliki ruh keimanan dalam dirinya, masih  tersimpan utuh kalimat tauhid dalam hati sanubarinya,  pasti semakin yakin,  rezim ini memang  mutlak harus diganti di bulan April 2019 mendatang, agar penistaan terhadap Agama Islam selama ini,  tidak akan pernah  terjadi lagi dikemudian hari di negeri yang tentu saja sama sama kita cintai.

*Ketua Umum Forum Ulama dan Umat Indonesia

Rumah Zakat Raih Apresiasi Syariah Republika 2018

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Rumah Zakat menerima penghargaan Apresiasi Syariah Republika 2018 sebagai The Most Innovative Phylantrophy Institution di JW Marriot Hotel, Mega Kuningan, Jakarta pada Kamis malam tadi (8/11)..

Apresiasi Syariah Republika merupakan penghargaan yang diberikan kepada tokoh ekonomi syariah, institusi dan industri syariah di Indonesia.

Sejumlah tokoh hadir dalam acara ASR 2018 kali ini seperti Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma’ruf Amin, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menpan RB, Syafruddin, Mendagri, Tjahjo Kumolo dan Menteri Pariwisata, Arief Yahya.

“Terimakasih atas kepercayaan Sahabat kepada Rumah Zakat. Penghargaan ini, kami persembahkan kepada muzzaki, mitra, amil, mustahik, relawan dan semua pihak yang telah bersinergi,” ungkap CEO Rumah Zakat, Nur Efendi dalam keterangan tertulis yang diterima Jurnalislam.com.

“Mohon doanya, agar Rumah Zakat dapat terus menciptakan pemerataan, mengurangi kesenjangan, membantu membangun ekonomi bangsa, ekonomi umat, dan memajukan kesejahteraan bersama,” tambahnya.

Rusia akan Gelar Pembicaraan Damai Pertama Pemerintah Afghanistan dengan Taliban

MOSKOW (Jurnalislam.com) – Rusia akan menjadi tuan rumah putaran kedua konferensi perdamaian Afghanistan di Moskow bulan ini, yang menurut Kementerian Luar Negerinya merupakan pembicaraan tingkat tinggi langsung pertama antara Taliban dan pemerintah Afghanistan.

Rusia menilai tinggi sesi kedua konferensi Moskow tentang Afghanistan pada 9 November, dimana konferensi yang akan diadakan pada tingkat wakil menteri luar negeri, akan dibuka oleh Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov, yang tidak hadir di pertemuan serupa di Suriah.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengirim undangan ke perwakilan dari 11 negara – Afghanistan, AS, India, Iran, China, Pakistan, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan.

Pemerintah Afghanistan telah mengkonfirmasi bahwa delegasi dari Dewan Tinggi (High Peace Council) mereka akan hadir, sementara Taliban juga mengatakan akan mengirim perwakilan ke Moskow.

“Delegasi tingkat tinggi dari Kantor Politik Imarah Islam Afghanistan [Taliban] akan mengambil bagian dalam konferensi … Ini adalah konferensi untuk mengadakan diskusi yang komprehensif guna menemukan solusi damai bagi Afghanistan dan berakhirnya pendudukan Amerika. Imarah Islam juga akan memberikan pidato rinci dan memperjelas pandangan dan kebijakannya tentang semua aspek masalah, termasuk memulihkan perdamaian dan keamanan,” kata Taliban dalam sebuah pernyataan.

Mantan Presiden Afghanistan Hamid Karzai juga mengumumkan niatnya untuk menghadiri konferensi itu karena “kemungkinan pembicaraan damai dengan Taliban tidak boleh diabaikan”.

Atta Muhammad Nur, mantan gubernur provinsi Balkh, juga diharapkan untuk hadir.

Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia, semua negara yang diundang kecuali satu negara, yaitu AS – menegaskan partisipasi mereka. Departemen Luar Negeri AS sebelumnya menjelaskan penolakannya karena “tidak adanya hasil signifikan dari pertemuan pertama di Moskow mengenai proses perdamaian Afghanistan”.

Namun para diplomat Rusia mengatakan tidak ada catatan bahwa AS secara tidak langsung akan terlibat dan diberi tahu.

“Presiden Republik Islam Afghanistan, Tuan [Ashraf] Ghani, memutuskan untuk mengirim delegasi Dewan Tinggi negara itu ke pertemuan. Untuk pertama kalinya, sebuah delegasi dari Kantor Politik Taliban di Doha akan berpartisipasi dalam pertemuan internasional tingkat ini,” kata pernyataan itu.

Baca juga: 

“Pihak Rusia menegaskan kembali bahwa tidak ada alternatif untuk penyelesaian politik di Afghanistan dan bahwa ada kebutuhan untuk kerja terkoordinasi yang aktif oleh negara-negara tetangga Afghanistan dan mitra regional di daerah ini,” tambahnya.

Meskipun masing-masing negara yang diundang ke konferensi sangat terlibat dalam konflik Afghanistan, peran mereka di konferensi tersebut adalah untuk melegitimasi proses pembicaraan antara Taliban dan pemerintah Afghanistan, Omar Nessar, direktur Pusat Studi Afghanistan Kontemporer, mangatakan kepada Anadolu Agency.

Salah satu masalah utama yang Nessar harap didiskusikan antara Taliban dengan pemerintah Afghanistan pada konferensi tersebut adalah penarikan semua pasukan asing dari negara itu, terutama pasukan Amerika.

“Pada pandangan pertama, tampaknya ini adalah tugas yang tak terpecahkan. Di sisi lain, sikap terhadap kehadiran AS di Afghanistan berubah bahkan bagi mereka yang mendukungnya. Pasukan Amerika berada di Afghanistan di bawah perjanjian keamanan. Namun, setelah selama 17 tahun di negara ini, AS belum memenuhi kewajibannya. Jadi mengapa mereka ada di sana?” kata Nessar.

Dia menepis prediksi bahwa akan ada kudeta segera setelah keberangkatan militer AS.

“Ada stereotip umum bahwa pemerintah Afghanistan tidak akan bertahan sehari tanpa pasukan AS. Tetapi dalam kasus ini jika Taliban mengambil tindakan. Tetapi siapa yang mengatakannya? Kita harus ingat bahwa Taliban tidak akan bertahan lama tanpa dukungan eksternal juga. Dan jika pendukung kedua belah pihak setuju untuk segera menghindari perang, dengan titik awal ini, kita dapat bekerja “pada sebuah solusi,” katanya.

Jika AS menolak penarikan pasukannya, mereka bisa mempertahankan kehadiran militernya di negara tersebut, tetapi dalam kondisi lain. AS bisa menyewa pangkalan militer dari Afghanistan. Pilihan ini akan lebih jujur, kata Nessar.

Penarikan pasukan asing dari negara itu harus disertai dengan dukungan ekonomi, Alexey Muraviev, kepala Sekolah Studi Asia di the National Research University Higher School of Economics, mengatakan kepada Anadolu Agency.

“Saat ini, produksi obat-obatan (narkoba) adalah dasar ekonomi bayangan negara. Jika berpikir dengan tulus tentang proses perdamaian, perlu diputuskan penggantinya,” katanya.

Kelompok kekuatan ekonomi China dapat menjadi salah satu pendukung utama ekonomi Afghanistan, yang sejalan dengan kebijakan negara terutama mengejar kepentingan komersial, katanya.

“Kesulitan orang China di negara ini terkait dengan kurangnya pemahaman spesifik tentang Afghanistan dan kurangnya perhatian pada komponen budaya,” katanya.

Akhirnya, perlu untuk berhenti memaksakan pemimpin di negara itu. Harus ada pemimpin nasional yang dapat diterima semua segmen, kata ahli politik Denis Korkodinov.

“Afghanistan membutuhkan seorang pemimpin yang tumbuh, belajar dan bekerja di Afghanistan, yang mengenal wilayah itu, dan bukan warga Soviet atau Amerika atau anak didik dari negara lain mana pun. Hanya orang yang berasal dari Afghanistan yang dapat memahami mengapa warga mendukung Taliban, apa yang membuat warga mencari dukungan dari kelompok radikal itu daripada mencoba membangun masyarakat yang akan berjuang untuk persamaan sosial dan keadilan,” katanya.

Korkodinov mengingatkan bahwa sejak abad ke-19 , semua pemimpin Afghanistan adalah anak didik dari kekuatan asing.

Di India, kejadiannya akan sama jika Mahatma Gandhi tidak muncul, yang diterima oleh semua orang, katanya.

“Tetapi orang-orang seperti Mahatma Gandhi cukup langka. India beruntung. Pakistan kurang beruntung. Afghanistan bisa dibilang gagal dalam pengertian ini. Afghanistan adalah wilayah yang sangat multi-etnis dan multikultural di mana selalu sulit untuk menemukan keseimbangan. Jadi sekarang sulit untuk membayangkan bahwa seorang pemimpin nasional yang dapat diterima semua orang akan muncul dan menyatukan negara. Tapi setidaknya kita harus berusaha menemukannya. Namun upaya perlu dikerjakan di arah ini,” katanya.

 

 

Parlemen Turki: Rakyat Suriah akan Putuskan Pengganti Assad

MOSKOW  (Jurnalislam.com) – Jika pemimpin rezim Suriah Bashar al-Assad menjadi pemimpin di negara pasca-perang tersebut, warga Suriah yang menjadi pengungsi di negara lain tidak akan dapat kembali, menurut seorang anggota parlemen Turki terkemuka.

“Tentu saja, rakyat Suriah akan membuat keputusan utama tentang siapa yang akan menggantikan Assad,” kata Volkan Bozkir, kepala komite urusan luar negeri parlemen, saat kunjungannya ke Moskow pada Kamis (8/11/2018), lansir Anadolu Agency.

Bozkir bersama dengan delegasi bertemu dengan Konstantin Kosachev, ketua Komite Urusan Luar Negeri Dewan Federasi Rusia.

Dia menekankan bahwa Turki menampung 4 juta pengungsi dari Suriah dari sekitar total 5-6 juta pengungsi Suriah.

Pada proses Astana dan Sochi untuk perdamaian di Suriah, Bozkir mengatakan bahwa Turki, Rusia dan Iran mengambil langkah yang sangat penting dalam masalah Suriah.

“Berkat ketiga negara ini, PBB memiliki peluang untuk berhasil setelah bertahun-tahun,” katanya.

Baca juga: 

Menyebut Rusia sebagai negara “pintar” dengan budaya negara yang dalam, Bozkir mengatakan hubungan Turki-Rusia telah membentang sekitar 300 tahun, menyebut ikatan tersebut sebagai “teladan.”

Dalam pertemuan itu, Bozkir juga mengusulkan pembentukan komisi-komisi trilateral urusan luar negeri Turki-Azerbaijan-Rusia dan Turki-Serbia-Rusia.

Sedangkan Kosachev mengatakan bahwa masalah Suriah adalah salah satu topik paling penting dalam dialog Rusia-Turki.

“Turki dan Rusia mungkin memiliki posisi berbeda dalam menginterpretasi sebuah peristiwa, dan kami tahu masalah yang saling bertentangan. Namun kami memiliki konsensus tentang masa depan Suriah,” katanya.

Veteran Marinir AS Bunuh 12 Orang dalam Bar California

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 12 orang tewas oleh seorang pria bersenjata di sebuah bar dansa yang menjadi tempat menginap bagi para mahasiswa di California selatan, menggunakan pistol kaliber 45 dengan sebuah tambahan magazine, polisi mengatakan pada hari Kamis (8/11/2018).

Pria bersenjata itu, yang diidentifikasi polisi sebagai Ian David Long, seorang veteran Korps Marinir berusia 28 tahun, meninggal di tempat kejadian setelah polisi tiba di Borderline Bar and Grill di Thousand Oaks.

Polisi menjawab tiga menit setelah menerima laporan tembakan. Seorang sersan Sheriff terkena tembakan “berkali-kali” saat memasuki bar, kata Ventura County Sheriff Geoff Dean mengatakan kepada wartawan.

Sersan Ron Helus, yang pertama kali memasuki bar, ditarik keluar dari serangan tembakan oleh seorang rekan petugas dan dibawa ke rumah sakit terdekat.

Dia meninggal karena luka-lukanya bersama 11 korban yang berada di dalam.

Sebuah prosesi untuk perwira direncanakan untuk 10 pagi waktu setempat (1800GMT).

Polisi menemukan “beberapa” korban luka lain di dalam bar kemudian diangkut ke rumah sakit setempat, menurut Dean.

Baca juga:

 

“Ini adalah insiden yang mengerikan,” katanya. “Ini adalah bagian dari kengerian yang terjadi di negara kita dan di semua tempat, dan saya pikir tidak mungkin untuk menempatkan logika atau perasaan apa pun kepada yang tidak masuk akal.”

Penembakan massal itu, sedikitnya merupakan yang kedua di AS dalam waktu kurang dari dua pekan setelah seorang pria bersenjata menembaki sebuah sinagog Pennsylvania, menewaskan 11 orang.

Ini juga merupakan insiden paling mematikan sejak seorang pria bersenjata melepaskan tembakan di sebuah sekolah menengah di Florida, yang menewaskan 17 orang sembilan bulan lalu.

Presiden AS Donald Trump mengatakan di Twitter bahwa ia telah mendapat informasi penuh tentang penembakan yang mengerikan itu, dan berterima kasih kepada responden pertama atas “keberanian besar” mereka.

“Patroli Jalan Raya California tiba di lokasi kajdian dalam waktu 3 menit, dengan petugas pertama yang masuk berkali-kali ditembak. Sersan Sheriff itu meninggal di rumah sakit. Tuhan memberkati semua korban dan keluarga korban. Terima kasih kepada Penegak Hukum,” katanya.

LSM Turki Kirim Lebih dari 42.000 Truk Bantuan Kemanusian ke Suriah

IZMIR (Jurnalislam.com) – Bulan Sabit Merah Turki telah mengirim 42.000 truk bantuan kemanusiaan ke Suriah sejak dimulainya perang  pada tahun 2011, kata kepala kelompok bantuan itu.

“Bulan Sabit Merah Turki, sendiri atau bekerja sama dengan para mitra, telah mengirim sekitar 42.000 truk bermuatan bantuan kemanusiaan ke Suriah sejak awal konflik,” kata Kerem Kinik kepada Anadolu Agency.

“Pada periode ini, makanan, pakaian, dan tempat perlindungan terutama dikirim ke wilayah tersebut. Kehidupan sehari-hari mulai normal kembali setelah Operasi Euphrates Shield dan Operasi Olive Branch, serta gencatan senjata di Idlib,” kata Kinik.

Bulan Sabit Merah Turki juga mendukung bantuan internasional hingga 6,5 ​​juta pengungsi internal di Suriah, katanya.

Kinik mengatakan bahwa hampir 25 truk membawa bantuan kemanusiaan ke Suriah setiap hari.

Badan bantuan Turki itu juga melakukan operasi di daerah lain, termasuk meningkatkan pertanian, pembangunan tempat tinggal permanen, juga layanan kesehatan dan keamanan, kata kepala badan bantuan itu.

Baca juga:

Operasi itu menciptakan “atmosfer positif” di negara yang dilanda perang, kata Kinik, menambahkan:

“Suasana ini telah menjadi pemicu dan dorongan bagi mereka yang kembali ke Suriah dari Turki.”

Organisasi ini juga meningkatkan kondisi di kamp pengungsi, dan melayani warga sipil dalam perawatan kesehatan.

“Rumah sakit [didirikan di al-Bab dan Cobanbey] siap untuk beroperasi. Kami juga bekerja untuk memasok kebutuhan darah, ”kata Kinik.

Bulan Sabit Merah Turki juga berupaya mencegah warga sipil dari pengaruh operasi yang mungkin timbul di sebelah timur Sungai Eufrat, kata Kinik.

Organisasi bantuan beroperasi di 45 negara termasuk Karibia.

Pada 2017, Bulan Sabit Merah Turki membantu lebih dari 18 juta orang, Kinik mengatakan, menambahkan bahwa bantuan mereka akan mencapai hampir 30 juta orang pada akhir tahun ini.

Fenomena Mabuk Air Rebusan Pembalut, KPAI : Mereka Tahu dari Internet

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Kesehatan dan NAPZA, Sitti Hikmawatty, mengaku prihatin dengan semakin banyaknya kasus ditemukan anak-anak yang meminum rebusan pembalut wanita.

Sesuai data yang masuk di KPAI, kasus ini bukanlah kasus baru. KPAI mencatat, pada tahun 2017 kasus penyalahgunaan PCC sudah ditemui, namun jumlahnya relatif kecil.

“Kegiatan remaja mencari alternatif zat yang dapat membuat mereka fly, tenang ataupun gembira, awalnya didapatkan secara coba-coba atau eksperimen. Termasuk meminjam air rebusan pembalut juga didapat dari coba-coba, selain fenomena lain seperti ngelem, dll,” katanya dalam keterangan tertulis kepada Jurnalislam.com, Kamis (8/11/2018).

Menurutnya, beberapa zat “temuan” para remaja ini termasuk kelompok eksperimen psikotropika. Jumlahnya belum bisa diprediksi karena berkaitan erat dengan jumlah anak serta kreatifitas mereka “meramu” bahan-bahan yang mudah didapat di pasaran.

“Anak-anak ini cerdas, karena dengan berbekal internet mereka bisa membuat beberapa varian baru, dari racikan coba-coba. Dan disinilah tingkat resiko/bahaya menjadi meningkat karena mereka hanya konsen pada satu zat tertentu dalam sebuah bahan, namun zat lainnya cenderung diabaikan sehingga reaksi sampingan yang terjadi bisa berakibat fatal,” paparnya.