Berita Terkini

Belanda: Anti Islam Pegida Demontrasi di Sekitar Masjid

BELANDA (Jurnalislam.com) – Kelompok Islamophobia sayap kanan Pegida menggelar demonstrasi anti-Islam di depan sebuah Masjid di Belanda Rabu (16/1/2019) malam, lansir World Bulletin Jumat (18/1/2019).

Demonstrasi diadakan di luar Masjid Abi Bakar as Sidik, yang sering dikunjungi oleh anggota komunitas Maroko, di Utrecht, Belanda tengah.

Selama demonstrasi, anggota Pegida berpidato dan menunjukkan film yang menghina Islam.

Langkah-langkah keamanan yang ketat diambil di sekitar Masjid, termasuk pemasangan barikade tinggi, dan polisi tambahan dikirim ke daerah tersebut.

Setelah demonstrasi Pegida, beberapa warga setempat di belakang barikade sedikit terlibat bentrok dengan pasukan keamanan.

Polisi menahan dua orang.

Baca juga:

Jamal Houri, sekretaris pers untuk masjid, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa Pegida sengaja melakukan tindakan provokatif.

“Meskipun area yang mereka pilih untuk demonstrasi itu provokatif, administrasi Masjid dan masyarakat memutuskan untuk tidak mengikuti provokasi mereka dan mengabaikan mereka sepenuhnya,” kata Houri.

“Ini adalah respons terbaik yang bisa kami berikan kepada mereka. Karena memberi perhatian kepada mereka sama dengan menguntungkan mereka,” tambahnya.

Polri Harap Muhammadiyah Terdepan Lawan Hoaks

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wakabaintelkam Polri Irjen Pol. Suntana mengatakan, beredarnya berita bohonh atau hoaks sering menyebar bersamaan dengan tahun politik dan membawa potensi berbahaya bagi keutuhan NKRI.

Muhammadiyah sebagai salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia diharapkan menjadi pionir untuk melawan hoaks ini.

“Kami sangat berharap Muhammadiyah mengambil peran paling depan dalam melawan hoaks,” ungkapnya dalam acara seminar berjudul “Prahara Suriah: Hoax, Media Sosial, Perpecahan Bangsa” di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (18/1/2019).

Dalam acara yang digagas oleh Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat (MPI PP) Muhammadiyah ini, Suntana berpesan agar masyarakat Indonesia sama-sama belajar dan mengaca pada pengalaman Suriah yang hancur akibat hoaks.

“Indonesia seksi karena negara dengan penduduk muslim terbesar,” ujar Suntana menceritakan pengalaman bertabayun kepada para tokoh agama dan pemerintahan di Suriah selama sepekan.

Sementara itu ketua PP Muhammadiyah Hajriyanto mengatakan, berita bohong ini juga diproduksi oleh pihak yang berbicara tanpa latar belakang kompetensi yang sesuai.

Masih ditempat yang sama, wakil ketua MPI PP Muhammadiyah Edi Kuscahyanto menjelaskan, informasi yang tidak diimbangi dengan daya kritis akan mudah menyebar tanpa ada proses verifikasi.

Untuk mencegah hal tersebut, MPI bersama Majelis Tarjih telah membuat kode etik bagi netizen atau warganet Muhammadiyah.

Efek Pembebasan Ustaz ABB: Waspada Permainan Intelijen Asing

Oleh : Harits Abu Ulya
Pengamat Terorisme, Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA)

JURNIS – Kabar pembebasan murni Ustaz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) oleh pemerintah Indonesia mendapatkan respon cepat dari publik negara Australia, ini tampak dari kritik tajam oleh berbagai media terkemuka di Australia. Dan sangat mungkin pemerintah Australia akan mengakomodir reaksi publik dengan mengambil langkah-langkah melalui saluran diplomatiknya untuk menekan pemerintah Indonesia.

Sikap Australia pada rencana pembebasan Ustaz ABB di awal tahun 2018 juga menolak, dan saat ini juga tidak akan berbeda jauh. Bahkan sangat mungkin Australia akan konsulidasi menggalang dukungan bersama negara-negara mitranya terutama Amerika Serikat untuk melakukan operasi terbuka maupun operasi tertutup melakukan tekanan kepada pemerintah Indonesia.

Dalam kontek ini pemerintah Indonesia dihadapkan tantangan sebagai negara berdaulat tidak boleh tunduk dan membeo apa saja yang dikehendaki negara asing.

Sikap tegas pemerintah Indonesia menjaga kedaulatan optimis akan mendapatkan dukungan luas dari masyarakat Indonesia.

Sikap Australia sangat mungkin dinilai sebagai produk pemikiran yang paranoid dan hiperbola, kenapa harus ribut dengan keputusan pemerintah Indonesia terkait WNI. Sebagai negara tetangga, maka sangat kurang etis ikut campur urusan dapur negara Indonesia. Indonesia negara hukum, negara berdaulat, seorang Ustaz ABB sebagai WNI juga sudah jalani semua proses hukum yang berlaku atas semua tuduhan yang di alamatkan kepadanya terkait terorisme. Keadilan model apa yang mau di tuntut dan di ajarkan ke Indonesia?

Ustaz Abu Bakar Ba’syir bersama Yusril Ihza Mahendra keluar LP Gunung Sindur, Bogo

Analisa saya, pemerintah mengambil keputusan membebaskan Ustaz ABB secara murni tanpa sarat tidak hanya dikaji pada aspek legal hukum yang berlaku di Indonesia. Pasti juga sudah melalui kajian mendalam menyangkut aspek keamanan. Mengingat beliau adalah sosok sentral dalam pusaran isu terorisme di kawasan Pasifik.

Paling tidak, pemerintah Indonesia melalui alat negara; semua unsur intelijen dan kepolisian akan bekerja memberi garansi menganulir kekawatiran publik bahwa tidak ada dampak terganggunya keamanan atau ancaman serius aksi terorisme sebab bebasnya Ustaz ABB. Atau ada sistem dan mekanisme untuk membuat ustad ABB terputus dari semua anasir luar diri beliau yang berupaya menyeret-nyeret dan menjebak beliau pada plan terkait aksi terorisme.

Maka dalam konstalasi seperti sekarang, justru yang perlu di waspadai adalah kemungkinan operasi-operasi ilegal intelijen asing yang bekerja melalui jejaring mereka di Indonesia.
Mereka bisa saja dengan bebasnya Ustaz ABB di jadikan sebagai triger munculnya aksi-aksi terorisme by design intelijen asing. Targetnya memberikan mesagge (pesan) kepada publik untuk mendiskriditkan pemerintah Indonesia bahwa keputusan pembebasan Ustaz ABB adalah salah atau target yang lebih besar lainnya.

Maka kita berharap tokoh-tokoh masyarakat khususnya umat Islam untuk bijak bersikap, sungguh perdebatan-perdebatan soal bebas murninya Ustaz ABB bisa menjadi pintu masuk intelijen asing bermain. Jangan sampai tanpa sadar menjadi proxy dari proyek asing yang dengan mudah mengacak-acak Indonesia melalui taktik pecah belah dan adu domba antar anak bangsa. Intelijen asing punya kekuatan untuk design lahirnya kontraksi sosial politik dalam skala luas di NKRI. Ini early warning untuk Indonesia berdaulat!

Ustaz Abu Bebas, Keluarga Akan Gelar Tasyakuran

SOLO (Jurnalislam.com) – Bebasnya Ustaz Abu Bakar Ba’asyir disambut bahagia oleh keluarga. Atas alasan kemanusiaan, Ustaz Abu akan segera bebas dari LP Super Maximun Gunung Sindur, Jawa Barat.

Sebagai bentuk rasa syukur, pihak keluarga akan menggelar tasyakuran sederhana bersama para santri di Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki.

“Kita akan adakan syukuran kecil-kecilan di pesantren bahwa ayah kami bisa pulang, kami akan adakan sambutan gitu sambil syukuran mengundang tetangga-tetangga dan masyarakat sekitarnya,” kata Abdul Rochim Ba’asyir, putra bungsu Ustaz Abu Bakar Ba’asyir kepada wartawan di Solo, Sabtu (19/1/2019).

Ustaz Iim, sapaannya, mengaku pertama kali mendapat kabar rencana pembebasan Ustaz Abu dari Yusril Ihza Mahendra. Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) itu menyampaikan bahwa rencana itu telah disetujui presiden.

“Sekarang tinggal pelaksanaannya saja, ini bebas murni dan tanpa syarat,” ungkapnya.

Atas nama keluarga, ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pembebasan Ustaz Abu.

“Semoga Allah membalas dengan kebaikan di dunia dan akhirat, ini adalah nikmat besar yang harus kami syukuri,” tuturnya.

Ustaz Iim juga menyampaikan kondisi kesehatan Ustaz Abu yang lebih baik dari sebelumnya. Akan tetapi masih ada keluhan-keluhan yang disebabkan oleh faktor usia.

“Beliau alhamdulillah sehat tapi ya sehatnya orang tua, jadi memang karena beliau ini sudah uzur jadi masih ada keluhan-keluhan walaupun secara umum kondisi kesehatan lebih baik dari sebelumnya,” pungkasya.

Ustaz Abu Bakar Ba’asyir divonis 15 tahun dalam kasus pelatihan militer di Aceh. Saat ini, ulama 81 tahun Abu sudah menjalani 9 tahun masa hukuman. 

Kembali Bentrok, Inggris Khawatirkan Eskalasi Kekerasan di Rakhine

LONDON (Jurnalislam.com) – Inggris pada hari Jumat (18/1/2019) mengangkat kekhawatiran atas eskalasi kekerasan di Negara Bagian Rakhine Myanmar saat bentrokan kembali terjadi.

Mark Field, menteri negara untuk Asia dan Pasifik, mengatakan dia “sangat prihatin dengan eskalasi kekerasan di Negara Rakhine”.

Field mengatakan dalam sebuah pernyataan “Inggris meminta semua pihak yang terlibat dalam konflik untuk menahan diri”.

“Semua pihak memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa keselamatan warga sipil dijamin dan untuk menghormati hukum internasional,” katanya.

Negara bagian Rakhine di barat Myanmar adalah rumah bagi kaum Muslim Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok etnis yang paling teraniaya di dunia.

Baca juga: 

Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan penumpasan pada komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017.

Sejak 25 Agustus 2017, hampir 24.000 Muslim Rohingya telah terbunuh oleh pasukan negara Myanmar, menurut Ontario International Development Agency (OIDA).

Lebih dari 34.000 Rohingya juga terkena tembakan senjata api, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, kata laporan OIDA, menambahkan bahwa 17.718 (± 780) wanita dan gadis Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar. Lebih dari 115.000 rumah Rohingya juga dibakar dan 113.000 lainnya dirusak, tambahnya.

Dalam sebuah laporan, Badan Pengungsi PBB mengatakan hampir 170.000 orang meninggalkan Myanmar pada tahun 2012 saja.

PBB telah mendokumentasikan pemerkosaan massal, mutilasi, pembunuhan – termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal, pembakaran dan penghilangan yang dilakukan oleh pasukan Myanmar. Dalam sebuah laporan, penyelidik PBB mengatakan pelanggaran seperti itu bisa dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan berat.

Begini Ungkapan Perasaan Pengungsi Suriah di Turki

SANLIURFA (Jurnalislam.com) – Warga Suriah yang berlindung di Turki mengatakan mereka “merasa menjadi manusia” di negara tuan rumah dan bahwa mereka berharap tentang masa depan.

Puluhan ribu pengungsi, yang kebutuhan masalah kemanusiaannya telah diurus oleh pemerintah Turki dan LSM selama bertahun-tahun di fasilitas modern, berdoa agar perang berakhir dan kembali dengan selamat ke rumah mereka di Suriah.

Shuhaida Osman, salah satu warga Suriah yang telah berlindung di sebuah kamp pengungsi di provinsi Sanliurfa tenggara Turki, mengatakan kepada Anadolu Agency, Jumat (18/1/2019) bahwa dia diselamatkan di menit terakhir oleh Turki, dan bahwa goncangan dan trauma perang saudara masih belum berakhir.

Dia berkata: “Wanita Suriah sangat senang berada di Turki, di mana ada kehidupan. Meskipun berada di lingkungan kamp, ​​kami memiliki kondisi yang sangat baik dan kehidupan yang sangat baik di sini.”

“Banyak warga Suriah pergi ke Libanon dan Yordania dimana mereka tidak memiliki kenyamanan seperti ini dan sangat menderita.

“Orang-orang Suriah merasa sebagai manusia di Turki. Pada suatu waktu negara-negara lain menutup pintu bagi kami, namun Turki memberikan pendidikan kepada anak-anak kami, kursus kejuruan bagi para wanita dan mendukung semua warga Suriah,” kata Osman, menambahkan: “Semoga Allah berkenan dengan semua orang Turki, baik itu tujuh tahun atau tujuh puluh.”

Gayidah Najat, pengungsi lain yang kehilangan suami dan dua anaknya dalam serangan bom di rumah mereka oleh milisi YPG / PKK di kota Ayn al-Arab di Suriah utara, juga menyatakan rasa terima kasihnya, menekankan bahwa pilihan satu-satunya adalah berlindung di Turki dengan tujuh anaknya yang tersisa.

Dalam lebih dari 30 tahun aksi terornya melawan Turki, PKK – yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki dan Uni Eropa – telah bertanggung jawab atas kematian sekitar 40.000 orang, termasuk banyak wanita dan anak-anak. PYD/YPG adalah cabang Suriahnya.

“Kami tidak mungkin selamat di tengah perang, kami harus pergi. Kami selalu mendengar semua hal baik dari warga Suriah lain yang pergi ke Turki sebelum kami,” kata Najat.

“[Presiden] Recep Tayyip Erdogan adalah pelindung bagi semua yang tertindas, dia merawat kita dengan baik,” tambahnya. “Kami berharap suatu hari nanti kami akan kembali ke negara kami, dengan kenangan indah.”

Dia juga mengatakan anak-anaknya sudah bersekolah berkat Turki, salah satunya akan lulus.

Baca juga: 

Zaliha Badr, yang datang sebagai pengungsi lima tahun lalu setelah perjalanan panjang dan menyakitkan dari kota Ras al-Ayn, Suriah timur laut, mengatakan ia melihat Turki untuk pertama kalinya dan terbiasa dengan segala sesuatu dengan sangat cepat.

“Kami melarikan diri dari perang dan datang ke sini tanpa mengharapkan perlakuan yang baik ini. Syukurlah, kami sangat senang di sini,” katanya.

“Ada perdamaian dan keamanan di kota-kota Suriah yang dikuasai Turki di dekat perbatasan. Kami menantikan akhir perang yang telah menghancurkan negara kami selama bertahun-tahun. Kami akan kembali,” tambah Badr.

Turki menampung lebih dari 3,5 juta pengungsi Suriah, jauh lebih banyak dari negara lain mana pun di dunia.

Suriah baru saja mulai bangkit dari konflik dahsyat yang dimulai pada 2011 ketika rezim Syiah Nushairiyah Assad membantai para demonstran dengan keganasan militer yang tak terbayangkan.

Mozaik Mirip ‘Salib’ di Depan Balaikota Solo Akhirnya Dihilangkan

SOLO (Jurnalislam.com) – Wakil Walikota Surakarta, Achmad Purnomo mengaku pihak Pemkot Solo telah menemui kesepakatan dengan umat Islam terkait penanganan polemik Mozaik mirip ‘Salib’ di Jalan Jendral Sudirman depan Balaikota Solo.

Sebelumnya, Pemkot Surakarta dan Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) telah melakukan mediasi pada Kamis (17/1/2019) dan Jum’at (18/1/2019) pagi yang juga dihadiri pembuat desain dan dimediasi oleh Forum Kerukunan Umat Islam Beragama (FKUIB).

Dalam kesepakatan itu, pihak pemkot langsung melakukan tindakan cepat dengan cara mengecat ulang sisi selatan paving untuk menghilangkan kesan mirip mirip salib.

“Ini oleh perencana sebelum ada keputusan kesan kelihatan salibnya itu dihilangkan, dengan di cat,” katanya kepada wartawan di depan Balaikota Solo, Jum’at (18/1/2019).

“Tapi terlepas dari itu menurut saya walikota itu tidak mempunyai rencana ini gambar salib, itu tidak ada, karena itu direncanakan oleh perencana yang sudah tekan kontrak, dan ini proyek yang belum jadi,” imbuhnya.

Pengecatan paving blok yang diduga mirip Salib di badan jalan Jendral Sudirman, Solo. Foto: Arie/Jurnis

Dengan pengecatan tersebut, Purnomo berharap dapat menjadi solusi cepat antara umat Islam dan pihak Pemkot Solo.

“Kalau ini memang diartikan bentuk salib, menurut saya solusinya sangat mudah, sangat sangat mudah, dengan menganti warna yang selatan, yang merah bentuknya kayak salib itu diganti saja atau warnanya diganti sudah selesai,” ujarnya.

“Gambarnya seperti bunga, bisa diartikan 8 penjuru angin, bisa diartikan bunga, macam macam, dari sudut pandang itu macam macam, sehingga menurut saya ini bukan hal yang prinsip karena mudah sekali di cari jalan keluarnya,” sambungnya.

Ia juga mengaku bahwa Pemkot Solo belum bisa melakukan pengantian paving batu andesit tersebut dikarenakan proyek renovasi yang memakan anggaran 40 miliar itu belum diserahterimakan ke Pemkot dan masih menunggu keputusan.

“Kita harus saling mengerti, insyaAllah persoalan akan segera teratasi dan terbuka peluang untuk dikoreksi,” tandasnya.

Menurut pantauan jurniscom di lokasi, beberapa orang melakukan pengecatan di sisi selatan jalan tugu Pemandengan depan Balaikota Solo. Pengecatan tersebut merupakan solusi sementara sebelum pihak pemkot mengambil keputusan lanjutan terkait polemik mozaik mirip Salib tersebut.

Pengacara Ustaz Abu Tegaskan Kliennya Bebas Murni, Bukan Bersyarat

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pengacara Ustaz Abu Bakar Ba’asyir, Farid Ghozali menegaskan, kliennya bebas murni bukan bebas bersyarat. Ia menjelaskan, bebas bersyarat berlaku jika ada pengajuan dari narapidana.

“Bebas bersyarat itu ada permohonan dari warga binaan attau napi, Ustaz tidak mau mengajukan bebas bersyarat. Tapi tiba-tiba pak Yusril menyampaikan kepada beliau ada niat baik untuk membebaskan ustaz, bebas murni,” katanya dilansir Kiblat.net, Jumat (18/01/2018).

Farid juga menilai bahwa pembebasan bersyarat harus banyak persyaratan yang dipenuhi. Misalnya penjamin, belum tentu setiap warga binaan bisa memenuhi persyaratan itu.

“Siapa yang mau menjamin, harus tanda tangan ini itu, bagi orang tertentu menolak. Nggak semudah itu mengajukan PB. Kalau Ustaz mau mengambil bebas bersyarat, sebenarnya bulan Desember kemarin sudah bisa bebas. Tapi Ustaz tidak ambil,” ujarnya.

Soal mekanisme dan dasar hukum seperti apa, pihaknya belum mendapat penjelasan secara pasti dari Yusril. Menurutnya, Yusril hanya menyampaikan apa yang disetujui Jokowi.

“Itu (mekanisme dan dasar hukum.red) yang kita tunggu, beliau yang akan menyampaikan ke kita. Yang pasti beliau akan membebaskan karena pertimbangan kemanusiaan. Soal mekanisme, kita lihat seperti apa,” tuturnya.

Sumber : kiblat.net

Pembebasan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir Politis?

Oleh: Harits Abu Ulya
Pengamat Terorisme, Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA)

JURNIS – Hari Jumat (18/1/19) viral di berbagai sosial media soal kabar pembebasan ustaz ABB (Abu Bakar Ba’asyir) dari Lapas Gunung Sindur Bogor. Dan kabar tersebut benar adanya.
Terekspos YIM (Yusril Ihya M) mewakili pemerintah (Presiden Jokowi) mengeksekusi proses pembebasan tersebut.

Tentu peristiwa ini patut di sukuri, ustad ABB kapasitasnya sebagai ulama adalah milik umat bukan milik kelompok tertentu, karenanya wajar jika dari beragam kalangan umat Islam bersukur atas kabar bebasnya ustad ABB.

Dan juga niscaya banyak yang mengapresiasi langkah Presiden Jokowi atas keputusan tersebut.

Di sisi lain juga niscaya munculnya pro-kontra atas pembebasan ustad ABB. Apakah ini keputusan yang sarat dengan kepentingan politis? Atau murni karena hak beliau (ustad ABB) dan faktor pertimbangan kemanusiaan? Publik sah-sah saja membuat penilaian dengan masing-masing argumen. Paling tidak selama saya mengikuti, mencermati, monitoring isu, bahkan diskusi tertutup sharing gagasan mengkaji aspek-aspek keamanan terkait rencana pembebasan ustad ABB sejak di awal tahun 2018 punya pandangan sebagai berikut:

Pertama; di bulan Februari 2018 wacana pembebasan atau memulangkan ustad ABB ke Solo sudah muncul. Dan awak media mulai menghendus proses ini adalah ketika Menhan RI Ryamizard R datang ke Solo sebagai utusan khusus untuk menemui keluarga ustad ABB.

Substansi utamanya adalah mendiskusikan segala sesuatunya yang terkait kemungkinan pemulangan ustad ABB ke Solo dari Lapas Gunung Sindur Bogor.

Sebelum Menhan datang, sudah di awali utusan khusus Menhan datang untuk menyampaikan perihal rencana silaturrahmi Menhan ke rumah kediaman ustad ABB di Solo.

Bahkan Menhan ke Solo adalah atas keputusan Presiden Jokowi setelah melakukan proses kajian bersama institusi atau unsur-unsur terkait.

Namun sayang, akhirnya dinamika kecondongan untuk pemulangan ustad ABB terganjal oleh satu dan lain hal yang tidak terhendus publik. Yang kentara cuma adanya silang pendapat menteri Kumham soal ke absahan pada aspek legal formalnya pemulangan ustad ABB ke Solo.

Bahkan yang sangat kentara adalah adanya upaya intervensi pemerintah Australia, mereka keberatan dengan upaya pemerintah Indonesia memberikan keringanan hukuman kepada ustad ABB. Intinya Australia keberatan dengan wacana pembebasan atau pemulangan.

Dan sampai akhirnya publik menerima kabar Jumat (18/01/19) bahwa Ustad ABB di bebaskan. Maka menurut saya, keputusan saat ini adalah eksekusi dari proses panjang sebelumnya yang sempat mengendap, koma, terhenti atau dengan kalimat semisalnya.

Apakah pilihan momentum pembebasannya adalah sarat kepentingan politik pilpres 2019? Hak publik dan terserah publik untuk mengeja.

Karena yang terungkap dari dulu soal motif rencana pembebasan atau pemulangan adalah faktor kemanusiaan, mengingat usia ustad ABB sudah sepuh (81Th) dan sakit-sakitan. Di masa senjanya biarkan keluarga yang merawat. Tentu juga sudah melalui kajian aspek keamanannya jika ustad ABB pulang ke Solo.

Cuma ada pertanyaan bergelayut dibenak publik; kenapa baru sekarang di bebaskan? Karena hampir setahun berjalan dari wacana muncul bulan Februari 2018 dan baru di eksekusi sekarang pertengahan Januari 2019.

Bagi saya apapun alasannya pemerintah dan tantangan yang akan di hadapi atas pembebasan ustad ABB kita patut sukuri. Dan berharap pemerintah konsisten jangan sampai pembebasan ini di tunda atau bahkan di batalkan.

Kedua, sebagai WNI yang baik ustad ABB sejatinya telah menjalani lebih dari 1/3 masa hukuman dari vonis 15 tahun penjara sejak tahun 2011. Dan menjadi hak ustad ABB sebagai WNI untuk mengajukan pembebasan bersarat. Atau mungkin lebih dari itu semisal upaya Grasi yang pernah muncul jadi wacana.

Akhirnya seperti petuah Jawa:”Becik Ketitik Olo Ketoro”.

[Breaking News] Ustaz Abu Bakar Ba’asyir dalam Waktu Dekat Segera Dibebaskan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ustaz Abu Bakar Ba’asyir dikabarkan akan bebas dalam waktu dekat. Kabar itu disampaikan langsung oleh anak bungsunya, Abdul Rochim Ba’asyir.

Alhamdulillah kami mengucapkan tahmid tiada henti, dimana hari ini Jumat 18 Januari 2019 kami mendapat kabar gembira bahwasannya Ustaz Abu Bakar Ba’asyir akan segera dibebaskan dalam waktu dekat ini,” kata pria yang akrab disapa Ustaz Iim ini kepada Jurniscom, Jumat (18/1/2019).

Ustaz Iim mengatakan, kebebasan Ustaz Abu telah disetujui oleh Presiden Joko Widodo atas upaya yang dilakukan oleh Yusril Ihza Mahendra.

“Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala membalas segala upaya dan jerih payah seluruh pihak yang terlibat dalam pembebasan ini,” tuturnya.