Berita Terkini

Debat “Cerdas Cermat”

Oleh : M Rizal Fadillah
Ketua Maung Institute

JURNIS – Masih belum habis rasa kecewa pada program KPU ini. Dunia menonton kompetisi calon Presiden Indonesia. Agenda debat tidak bernuansa debat. Ada yang mengatakan debat berasa cerdas cermat. Beberapa media dunia mentertawakan acara ini. Ini semua gara gara KPU. KPU yang menghilangkan tahap penyampaian visi misi dan membocorkan pertanyaan. Settingan pun menjadi tidak bagus. Efek dari rekayasa dan sarat kepentingan.

Ramai di medsos tanggapan, dan nampaknya yang paling banyak berita adalah soal “contek menyontek”. Komentarnya lucu lucu dan bervariasi. Sampai-sampai anak sekolah gembira katanya ulangan boleh nyontek karena calon Presiden saja mencontohkan begitu. Luar biasa KPU memfasilitasi pembodohan masyarakat demi “menolong” kandidat.

Disamping settingan KPU yang blepotan, juga kandidat dinilai datar datar saja dalam menjawab. Pasangan Prabowo Sandi relatif lebih kompak dan hidup ketimbang pasangan Jokowi Ma’ ruf. Kyai Ma’ruf pasif dan tak mampu masuk ke ruang debat. Malah soal terorisme justru memojokkan umat Islam. Kyai yang juga Ketum MUI ini mestinya berada di pihak umat Islam. Tapi itulah kalau posisinya berada di “seberang” mau tidak mau harus bergaya bahasa petahana. Umat Islam (politik) diposisikan sebagai “oposisi” yang mesti dilemahkan.

Hal yang memalukan adalah stressnya Kyai Ma’ruf menghadapi debat. Di medsos viral ‘ngompol’ nya Kyai. Sarung basah disorot kamera. Memang pasangan Jokowi ini rontok marwah dan kecerdasannya. Rasanya ia kini berada di bidang yang tidak dikuasainya. Sebenarnya pa Kyai sangat mengetahui dan menyadari ucapan Nabi yang menyatakan bahwa mengemban amanah yang bukan bidangnnya adalah saat-saat menunggu kehancuran saja.

Empat tahun Jokowi memerintah telah membuat negara gaduh terus menerus. Kegaduhan yang disebabkan “mis manajemen” dalam pengelolaan negara. Jokowi tak memiliki keahlian kenegaraan
jabatannya pun dinilai “karbitan”. Selalu tak tuntas baik di Solo maupun di Jakarta. Melompat lompat. Seperti “frog” yang memang menjadi hewan peliharaan yang disukainya.

Kembali pada program debat KPU yang dinilai kurang bermutu dan tidak efektif untuk pendidikan politik. Sudah selayaknya jika KPU berniat untuk mengubah format. Intinya jangan terlalu banyak “rekayasa” seperti bocoran pertanyaan yang lalu. Biarlah rakyat menilai bebas ekspresi dan kemampuan kandidat Presiden dan Wakil Presiden apa adanya. Terlalu banyak “bekal” membuat stres pada kandidatnya. Moga format debat esok tidak menjadi acara “cerdas cermat” lagi yang menampilkan calon pemimpin bangsa yang justru tidak cerdas dan tidak cermat.

Sebenarnya yang lebih dikhawatirkan adalah kesadaran politik rakyat Indonesia yang tidak terlampau tinggi. Belum terbina dengan baik. Memilih pemimpin bangsa tidak berdasarkan kualifikasi dan kepatutan melainkan semata pada fanatisme atau pragmatisme. Jika ini yang terjadi maka program debat tidak memiliki arti penting. Pemilih nyatanya memilih pemimpin yang paling tidak cerdas dan paling tidak cermat. Ironi dan memalukan. Semoga tidak terjadi.

Murni Alasan Kemanusiaan, Keluarga Minta Bebasnya Ustaz ABB Tak Dikaitkan dengan Pilpres

SOLO (Jurnalislam.com) – Keluarga Ustaz Abu Bakar Ba’asyir (ABB)  meminta umat Islam tak mengaitkan bebasnya Ustaz Abu dengan pilpres.

“Saya minta kepada umat Islam untuk fokus tentang Ustaz Abu Bakar Ba’asyir yang memang harus dibebaskan,” kata putra ustaz ABB, Abdul Rahim Ba’asyir.

Pembebasan Ustaz ABB, kata pria yang karib disapa Ustaz Iim ini adalah kemanusiaan,  karena menurutnya, seluruh negara di dunia ini tahu kalau tidak manusiawi apabila seorang berumur 81 tahun masih ditahan dalam keadaan sakit-sakitan dan kondisi yang begitu sulit.

“Tentu seburuk apapun seorang penguasa apabila dia masih memiliki rasa kemanusiaan mestinya dia membebaskan orang seperti ABB. Jadi mohon kepada seluruh umat Islam Indonesia untuk tidak mengaitkan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir ini dengan kepentingan atau isu-isu politik Pilpres yang ada ini,” kata Iim.

Menurut Iim, kalau ada pihak yang mungkin  memanfaatkan hal ini karena kebetulan terjadinya mendekati pilpres itu hal yang sulit dihindari.

Tapi ia minta tetap tidak dikaitkan dengan kepentingan-kepentingan tersebut.

“Oleh karena itu, saya minta kepada umat Islam untuk fokus kepada kondisi dan situasi Ustaz Abu Bakar Ba’asyir sendiri. Mohon tidak dikaitkan dengan kepentingan politik,” pungkasnya.

Keluarga: Tolong Hati-hati Sebar Informasi terkait Ustaz ABB

SOLO (Jurnalislam.com)- Pihak keluarga Ustaz Abu Bakar Ba’asyir mengeluhkan banyaknya berita palsu (hoax) yang  beredar seputar kabar kebebasan Ustaz Abu Bakar  Ba’asyir.

Saat ini, keluarga mengaku disibukkan menepis kabar-kabar hoax yang mengaitkan ustaz Abu Bakar Ba’asyir dengan Pilpres 2019.

    contoh BC hoax terkait kebebasan ustaz ABB

Putra ustaz Abu Bakar Ba’asyir, Abdul Rahim Ba’asyir berharap masyarakat dapat berhati-hati menyebarkan informasi seputar kebebasan Ustaz Abu yang belum dikonfirmasi kebenarannya.

Ustaz Iim, sapaan karibny,  khawatir hal tersebut justru akan merugikan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir sendiri.

“Banyak hoax yang beredar soal berita yang berseliweran  seputar Ustaz Abu Bakar Ba’asyir, intinya ingin  mengaitkan kebebasan Ust ABB ini dengan kondisi politik  saat ini,” kata Abdul Rochim Ba’asyir, putra Ustaz Abu Bakar Ba’asyir saat dihubungi INA News Agency, kantor berita yang diinisiasi Jurnalis Islam Bersatu (JITU) Ahad, (20/1/2019).

Ustaz Iim, sapaannya, menyayangkan hal tersebut. Ia menegaskan, kebebasan Ustaz Abu tidak ada kaitannya dengan Pilpres 2019 karena proses pembebasan Ustaz Abu telah dilakukan sejak lama oleh keluarga dan tim kuasa hukum.

Langkah Yusril Usahakan Kebebasan Ustaz ABB Diapresiasi

SOLO (Jurnalislam.com) – Sekjen The Islamic Study and Action Center (ISAC), Endro Sudarsono mengapresiasi langkah Yusril Izha Mahendra.

Yusril dinilai berhasil meyakinkan Presiden Jokowi terkait pembebasan ulama kharismatik asal Jombang ustaz Abu Bakar Ba’asyir.

“Suksesnya upaya meyakinkan mengubah status bebas bersyarat menjadi bebas murni terhadap ustaz Abu Bakar Ba’asyir adalah langkah cerdas dan berani dari Yusril Ihza Mahendra,” katanya dalam rilis yang diterima Jurniscom, Ahad (20/1/2019).

“Usulan Yusril untuk mengesampingkan beberapa syarat dalam status bebas bersyarat menjadi bebas murni, telah disetujui presiden Jokowi adalah sebuah terobosan kebijakan dalam Lembaga Pemasyarakatan dibawah Kementerian hukum dan HAM,” imbuhnya.

Selain alasan kemanusiaan, Endro mengatakan bahwa ustaz Abu memang sudah sepantasnya bebas lapas Gunung Sindur Bogor karena telah menjalani dua pertiga hukuman yang dijalani

“Adalah hak bebas bersyarat dari ustaz Abu Bakar Ba’asyir setelah menjalani dua pertiga masa tahanan, Serta pertimbangan atas dan demi ulama sepuh, serta atas dasar peri kemanusiaan,” ungkapnya.

Untuk itu, Endro berharap Presiden Jokowi bisa mengatasi intervensi asing atas kebebasan ulama yang menjadi salah satu tokoh pondok pesantren Al Mukmin Ngruki itu.

“Sanggup dan mampukah Presiden Jokowi meredam pemerintah Australia yang merasa kurang nyaman terhadap rencana bebasnya Ust. Abu Bakar Ba’asyir?,” tandasnya.

Debat Capres dan Teori Semiotik

Ditulis oleh: Muhammad Fajar Aditya, mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Serang Raya, Jurnalis Jurnalislam.com

JURNALISLAM.COM – Baru beberapa hari debat Capres-cawapres Indonesia periode 2019-2024 digelar. Seperti hukum fisika, ada aksi timbul pula reaksi.

Tidak sedikit masyarakat yang mengomentari aksi panggung calon pimpinan negara selama dua jam ini. Salah satunya bahasa komunikasi simbol yang biasa disebut semiotik.

Stephen W. Littlejohn dalam bukunya Teori Komunikasi menjelaskan, semiotik atau penyelidikan simbol-simbol, membentuk tradisi pemikiran yang penting.

Semiotik berbicara tentang bagaimana tanda-tanda mempresentasikan benda, ide, keadaan, situasi, perasaan, dan kondisi di luar tanda-tanda itu sendiri.

Konsep dasarnya adalah tanda yang didefinisikan sebagai stimulus yang menandakan atau menunjukkan beberapa kondisi lain.

Selain itu, semiotik telah menjadi hal penting yang membantu kita dalam memahami apa yang terjadi dalam pesan dan bagaimana semua bagian itu disusun.

Di dalam ilmu atau tradisi semiotik, ada teori khusus yang mempelajari tentang simbol dari Susanne Langer.

Menurut Langer, semua binatang yang hidup didominasi oleh perasaan, tetapi perasaan manusia dimediasikan oleh konsepsi, simbol, dan bahasa. Binatang merespon tanda, tetapi manusia menggunakan lebih dari sekadar tanda sederhana dengan mempergunakan simbol.

Menelisik Komunikasi Simbol Debat Capres-cawapres

Agaknya bosan jika terus membahas teori, mari kita melanjutkan kepada substansi. Dalam catatan penulis setidaknya ada beberapa bahasa simbolik yang disajikan pada debat yang dinilai ‘agak’ membosankan dan normatif tersebut.

Pada saat sesi penyampaian visi dan misi pada tema hukum dan Ham, ada perbedaan yang cukup signifikan, yakni paslon 1 yang terdiri dari petahana Joko Widodo dan Ma’ruf Amin terlihat beberapa kali membaca teks sedangkan paslon 2 yang terdiri dari Prabowo dan Sandiaga Salahuddin Uno tidak. Ini menunjukkan kesiapan dari kedua belah pihak.

Selanjutnya, Sandiaga Uno kerap kali dalam pidato dan tanggapannya menggunakan kalimat ‘dibawah Prabowo-Sandi’. Ini merupakan pesan kepada masyarakat untuk meyakinkan terhadap kepastian janji.

Masih dalam sesi yang sama, ketika Paslon 1 diberikan kesempatan untuk menyampaikan pidato yang diwakili Jokowi, masih tersisa 40 detik untuk dimanfaatkan, namun Ma’ruf Amin mengatakan cukup dan mendukung.

Ini menunjukkan mantan ketua MUI seperti diatur untuk tidak banyak berbicara dalam tema tertentu. Benar saja, dikemudian hari banyak media yang memberitakan hal ini.

Baru pada sesi setelah hukum, yakni Ham Ma’ruf berbicara melengkapi Jokowi, namun dalam waktu kurang dari 1 menit ini, ia terlihat bertele-tele dan lamban. Ini menunjukkan kiai masih belum siap dan masih mengikuti alur debat.

Mari kita lanjutkan dalam tema terorisme, Paslon 1 yang diwakili Ma’ruf berbicara dengan mengaitkan dengan agama Islam seperti perkataan ‘Bukan Jihad, haram’. Ini menunjukkan kategori terorisme lebih kearah umat Islam.

Prabowo yang diberikan kesempatan untuk menanggapi dengan gaya tegas dia mengatakan ketidaksetujuan stigmatisasi teroris kepada umat Islam. Ini menunjukkan ketegasannya bahwa terorisme bisa dilakukan oleh siapa saja, dan dari agama serta latarbelakang apa pun.

Pada saat Ma’ruf berpidato terkait terorisme, Jokowi terlihat kerap mengangguk. Ini menunjukkan Jokowi setuju, mendukung, sekaligus menghormati Ma’ruf Amin sebagai salah satu pemuka agama.

Beribcara tentang harmonisasi antar kedua Paslon, Prabowo-Sandi dalam banyak kesempatan terlihat lebih harmonis. Beberapa kali ketika Prabowo berhenti berbicara langsung dilanjutkan oleh Sandi.

Ini menunjukkan kepercayaan utuh yang diberikan Prabowo kepada Sandi untuk menyampaikan gagasan dan pandangannya mengenai suatu kasus.

Dalam sesi debat, dengan tema korupsi dan terorisme, Jokowi berbicara tentang bekerja bebas dan lepas tanpa beban masa lalu. Ditambah pada saat closing ia berbicara lagi tentang rekam pelanggaran Ham.

Penulis menilai, hal itu ditujukan untuk memancing emosi dari Paslon 2 khususnya Prabowo karena kerap diisukan dengan pelanggaran Ham dimasa lalu.

Momen Joget dan Gulung Lengan Kemeja

Pada saat sesi debat masalah korupsi dan terorisme Jokowi menanyakan terkait isu caleg mantap koruptor ditubuh partai Gerindra. Pada saat itu Prabowo izin untuk interupsi sebelum waktu Jokowi habis.

Sesuai peraturan, moderator tidak mengizinkan dan seketika Prabowo tersenyum dan melakukan aksi joget kecil yang langsung direspon dengan Sandi yang memijatnya.

Ini bisa diartikan berbagai macam, diantaranya Prabowo sedang bergembira terhadap pertanyaan lawan. Bisa juga dia sedang mendinginkan suasana sedang diserang oleh pertanyaan sensitif yang ditujukan bukan hanya kepada pribadinya melainkan partai yang dipimpinnya.

Selain Prabowo, Sandi juga terlihat responsif serta peka terhadap suasana dengan menghampiri Prabowo dan melakukan aksi memijat kecil. Aksi ini juga bisa ditujukan untuk melihatkan kepada masyarakat bahwa dalam debat tidak dalam suasana tegang dan serius selamanya.

Yang terakhir, seusai Jokowi melakukan penutupan, ia menggulung lengan kemeja putihnya. Ini menunjukkan ia siap untuk bekerja nyata kepada rakyat.

Selain itu, aksi tersebut juga dapat diartikan pihaknya siap untuk menghadapi Paslon 2 dengan segenap tenaga dan usahanya hingga 17 April nanti.

Mungkin itu yang dapat penulis lihat dan nilai dalam perspektif semiotik. Rencananya pada debat selanjutnya pihak KPU tidak akan memberikan kisi-kisi seperti debat perdana kali ini.

Mari kita lihat aksi calon pemimpin negara kepulauan ini dalam menyampaikan gagasan dan beretorika. Sehabis itu, mari kita bijaksana dalam memilih sesuai dengan kecakapan kandidat dalam menyampaikan setiap gagasannya.

Gagasan untuk membangun Merah Putih ini dari keterpurukan yang kerap dirasakan oleh masyarakat.

Wadah Pengusaha Muslim, ISMI Komitmen Majukan Ekonomi Syariah

JAKARTA (Jurnalislam.com)— Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) melantik kepengurusan baru tahun 2018-2023 yang dipimpin oleh Ilham Akbar Habibie.

Sekretaris Jenderal ISMI, Juliana Wahid mengatakan ISMI menargetkan pembentukan minimal 10 cabang per tahun.

Sebelum tahun kepengurusan berakhir, data UKM syariah telah rampung. Pembentukan satu cabang harus minimal beranggotakan 100 pengusaha syariah.

“Saat ini, anggota kita ada sekitar 1.000 pengusaha dari delapan cabang awal, ragam bisnisnya bermacam-macam, mulai dari kontraktor, pangan, fashion, pertanian, hingga transportasi,” kata Juliana.

Sementara ISMI memprediksi jumlah pengusaha Muslim di Indonesia mencapai jutaan.

Ia mengatakan ISMI ingin jadi wadah pengusaha muslim untuk saling mengembangkan bisnis. Sehingga ikatan persaudaraan sesama umat bisa terus menguat.

ISMI dibentuk oleh empat organisasi Islam terbesar di Indonesia, yakni Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah.

Keempat organisasi umat ini bersatu melahirkan ISMI atas dasar kebutuhan untuk memajukan ekonomi syariah Indonesia.

Periode kepengurusan saat ini menekankan pengembangan teknologi dalam membantu stimulus bisnis. Berbagai program kerja strategis telah dibuat termasuk dengan menggandeng fintech syariah untuk membantu UKM syariah go digital.

sumber : republika.co.id

Yusril : Ustaz ABB Bebas Tanpa Syarat, Itu Memang Hak Beliau

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra, bersama Tim Pengacara Muslim (TPM) menjelaskan proses pembebasan Ustaz Abu Bakar Baasyir yang ditahan karena kasus terorisme.

Ditegaskan Yusril bahwa  Ustaz Abu Bakar Baasyir ditetapkan bebas tanpa syarat.

“Bebas tanpa syarat. Ini haknya beliau,” kata Yusril di The Law Office of Mahendradatta, Jakarta Selatan, Sabtu 19 Januari 2019.

Ia mengatakan bahwa jika seseorang narapidana sudah memenuhi syarat maka remisi wajib ditunaikan pemerintah.

Memang, diakui Yusril pada masa Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono ada Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 yang mengatur pengetatan pemberian remisi untuk terpidana kasus korupsi, narkoba, dan terorisme.

Yusril mengaku pernah menggugat aturan tersebut ke Mahkamah Agung, karena sejak dulu tidak sepakat dengan aturan tersebut.

Untuk kasus Ustaz Abu Bakar Baasyir, Yusril menilai aturan tersebut tidak berlaku karena kebijakan Presiden.

Untuk proses pembebasan Ustaz Abu Bakar Baasyir ini, menurut Yusril, tidak perlu ada kebijakan baru lantaran Presiden Joko Widodo telah langsung memberikan instruksi.  Aturan tersebut otomatis lebih lemah dibanding perintah Presiden.

sumber : viva.co.id

Ilham Habibie Didaulat Pimpin Ikatan Saudagar Muslim Indonesia

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) melantik kepengurusan baru tahun 2018-2023 yang dipimpin oleh Ilham Akbar Habibie.

Penyusunan kepengurusan merupakan rekomendasi Musyawarah Nasional (Munas) ISMI kedua di Bandung, Jawa Barat pada 2018 lalu.

 

“Saat ini kita baru ada delapan cabang ISMI di wilayah, targetnya dalam lima tahun sudah ada di seluruh provinsi,” kata Ilham pasca pelantikan.

Delapan cabang tersebut termasuk di Jawa Barat, Jawa Tengah, Maluku, Sulawesi Selatan, DKI Jakarta, Sumatera Utara, Bali.

 

Keberadaan cabang membantu pendataan jumlah pebisnis Muslim yang ada di Indonesia baik dari sektor usaha kecil maupun menengah.

Pendataan akan memudahkan perhitungan target pencapaian dan keberhasilan ISMI dalam membina pengusaha Muslim.

 

Ilham menekankan tugas ISMI adalah membantu perkembangan UKM syariah dan pebisnis muslim.

 

Seperti dengan melakukan beragam pembinaan, pendampingan bisnis, membangun jejaring, menyalurkan pada akses pembiayaan, hingga meningkatkan pemasaran.

“Kita ingin membuat yang tadinya memiliki usaha ultra mikro jadi mikro, mikro jadi kecil, kecil jadi menengah, menengah jadi besar,” kata dia.

sumber: republika.co.id

Ustaz Abu Bakar Ba’asyir Bebas, MUI : Alhamdulillah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Zainut Tauhid Sa’adi mengapresiasi kebijakan Presiden Joko Widodo membebaskan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir. Ia menilai itu sebagai langkah hukum yang bijak dan mulia.

“MUI memberikan apresiasi kepada Presiden RI Indonesia Bapak Joko Widodo yang telah mengambil kebijakan untuk membebaskan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dari tahanan tanpa syarat,” katanya dalam keterangan tertulis kepada Jurnis, Sabtu (19/1/2019).

Zainut mengungkapkan, usulan pembebasan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir pernah disampaikan oleh Ketua Umum MUI, KH Ma’ruf Amin pada awal 2018 lalu dengan pertimbangan kesehatan dan kemanusiaan. 

“Kami meyakini setelah melalui proses pertimbangan yang panjang akhirnya Bapak Presiden memutuskan untuk segera membebaskan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dalam waktu dekat ini, untuk hal tersebut MUI mengucapkan syukur Alhamdulillah dengan keputusan tersebut,” paparnya.

Baca juga :
[Breaking News] Ustaz Abu Bakar Ba’asyir dalam Waktu Dekat Segera Dibebaskan
Ustaz Abu Bebas, Keluarga Akan Gelar Tasyakuran

Kebijakan itu, kata Zainut, menunjukkan bahwa pemerintah senantiasa menjungjung tinggi prinsip perlindungan HAM dalam menangani masalah terorisme. 

MUI mengimbau masyarakat untuk tidak mengembangkan dugaan terkait pembebasan Ustaz Abu. Menurutnya, hal itu akan mengaburkan esensi hukum yang netral dan berpihak pada nilai kemanusiaan dan keadilan.

“MUI terus mengajak masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaannya terhadap bahaya terorisme, karena terorisme tidak pernah mati dan terus menjadi ancaman bagi kemanusiaan. Bukan saja ancaman terhadap keselamatan dan keutuhan bangsa Indonesia tetapi juga ancaman terhadap keselamatan dunia,” paparnya.

Politik Pembebasan

Oleh : M Rizal Fadillah
Ketua MAUNG Institute

JURNIS – Berita bebasnya Ustaz Abu Bakar Ba’asyir mengisi media sosial. Cukup ramai. Tentu saja berkaitan dengan “kunjungan” Yusril Ihza Mahendra (YIM) ke Lapas Gunung Sindur Bogor yang langsung memberitakan pembebasan tersebut. Konon dengan berita ikutan yang bersangkutan berkomunikasi dengan Presiden Jokowi sejak sebelum kunjungan dan senantiasa melapor selama berada di Lapas. Tentu kapasitas kedatangan adalah sebagai pengacara Jokowi-Ma’ruf Amin.

Yang memuji langkah YIM ada. Yang sinis langkah YIM juga ada. Yang memuji “kebaikan” Jokowi ada. Yang menilai “kelicikan” Jokowi pun ada. Menjadi sorotan menarik pembebasan ulama sepuh korban “hantu terorisme” yang biasa dibuat untuk memojokkan umat Islam ini. Muara alasan adalah “kemanusiaan” karena dinilai sudah berusia tua dan lama di penjara.

Alasan hukum agak simpang siur karena masalah pembebasan ada aturan hukumnya. Meski bisa saja aturan itu “dibuat buat” seperti untuk tahanan teroris pembebasan bersyarat mesti menandatangani surat pernyataan kesetiaan pada NKRI. Ustaz Ba’asyir tak mau tandatangani hingga kini. Aturan hukum bagi “bebas murni” harus selesai masa hukuman. Baru 2026 nanti. Untuk “bebas bersyarat” mesti dijalani 2/3 masa tahanan. Untuk ini sudah bisa terhitung 23 Desember 2018. Hanya ya itu ada syarat “Surat Pernyataan” dahulu. Dan yang berdasar kemanusiaan adalah “grasi” tapi syaratnya harus dimohon oleh terhukum, keluarga, atau kuasa. Nah semua mekanisme hukum itu “tidak dipenuhi” untuk atau oleh Ustaz Ba’asyir.

Kini menjelang Pilpres melalui Pengacara Jokowi-Ma’ruf Amin, Ustaz Ba’asyir akan dibebaskan. Tidak jelas “jalur hukum” mana yang digunakan. Hanya yang di “upload” adalah dasar “kemanusiaan”. Secara manusiawi sangat bisa diterima, secara hukum Presiden bisa dikualifikasi “menabrak hukum”. Namun melihat saat ini adalah momentum kampanye Pilpres sudah bisa difahami bahwa hal ini dapat menjadi bagian dari kampanye pencitraan tersebut. ini adalah “politik pembebasan”. Pembebasan yang sarat kepentingan politik dengan menggunakan alasan “kemanusiaan”.

Umat Islam yang sering dipojokkan selalu terkait “terorisme” tentu bahagia atas pembebasan ini. Bahkan mestinya sejak lebih dini, atau juga berkeyakinan memang tak pantas Ustaz Ba’asyir dipenjara. Para pengacara Ustaz Ba’asyir telah berjuang gigih dalam mendampingi dari awal pemeriksaan hingga kini sembilan tahun penahanan. Mereka adalah pengacara muslim pejuang, meski akhirnya “sang pahlawan” muncul diujung.

Masalahnya adalah menjadikan kasus Ustaz Ba’asyir sebagai bahan kampanye politik. Itu yang “tidak manusiawi”. Sampai sampai ada kalimat bahwa pembebasan tersebut adalah bukti penghormatan kepada ulama. Sebenarnya jika jujur, mampukah menyatakan bahwa Ustaz Ba’asyir adalah seorang ulama pejuang yang bukan teroris? Tentu tidak. Sebab ini adalah pemanfaatan momen untuk menjadikan kasus pembebasan ini sebagai “mainan politik” yang strategis. Mencari simpati umat. Sah sah saja dalam politik yang kadang menghalalkan segala cara.

Tapi “permainan” belum selesai apakah “jasa baik Presiden” berimbas pada sikap politik Ustad Baasyir untuk mendukungnya, atau memang pembebasan ini masih terkendala hukum, atau hukum diabaikan lagi demi politik, bagaimana dengan reaksi jokowers radikal yang selalu mengangkat isu terorisme untuk memperkuat posisinya. Semua masih menjadi bahan bahasan yang bisa pro dan kontra. Lalu sukseskah misi pembebasan politik ini. Atau boomerang bagi inisiator dan operator. Masih ada waktu untuk melihat perkembangan, mengingat ini bukan semata misi kemanusiaan tapi ikut (entah utama) misi politik tersebut.

Kembali kepada aspek keagamaan. Rencana yang didasarkan pada semata kepentingan dan mungkin manipulasi, selalu berhadapan dengan rencana Allah. Kita semua tahu rencana Allahlah yang terbaik. Rencana buruk manusia cepat atau lambat akan terbongkar. Allah Maha Melihat dan Mengetahui.

Yang pokok bagi kita adalah bahwa ulama sepuh yang terdzalimi ini memang seharusnya bebas.