Berita Terkini

Hamas Kecam Seruan Otoritas Palestina

GAZA (Jurnalislam.com) – Hamas pada hari Selasa (22/1/2019) mengecam seruan Otoritas Palestina (the Palestinian Authority-PA) yang berbasis di Ramallah untuk mengadakan pemilihan legislatif Palestina “sesegera mungkin”, mengatakan seruan tersebut “melanggar perjanjian rekonsiliasi [Hamas-Fatah] yang lalu”.

“Semua faksi Palestina telah sepakat untuk mengadakan pemilihan presiden, legislatif dan Dewan Nasional secara bersamaan, sejalan dengan konsensus nasional dan hukum Palestina,” kata juru bicara Hamas Hazem Qassem kepada Anadolu Agency pada hari Selasa.

“Kita harus terlebih dahulu melaksanakan apa yang telah disepakati sebelumnya: yaitu, penyelenggaraan pemilihan komprehensif – presiden, legislatif dan untuk Dewan Nasional – berdasarkan pada konsensus dan diawasi oleh pemerintah persatuan nasional,” kata Qassem.

Pada hari Ahad, Presiden Palestina Mahmoud Abbas meminta Hanna Nasser, kepala Komisi Pemilihan Umum Palestina, untuk memeriksa prospek mengadakan pemilihan legislatif.

Baca juga: 

Dia kemudian mengungkapkan “dukungan penuh” untuk mengadakan pemilihan legislatif “sesegera mungkin”.

Desember lalu, Abbas bersumpah untuk menerapkan putusan pengadilan yang menyerukan pembubaran Dewan Legislatif Palestina dan pemilihan parlemen baru dalam waktu enam bulan.

Hamas menanggapi dengan menuduh Abbas “berusaha untuk memajukan agendanya dengan menghancurkan sistem politik Palestina, mengakhiri pluralisme politik, dan menghancurkan institusi negara yang sah”.

Kelompok itu kemudian mendesak semua kekuatan politik Palestina – dan Mesir – untuk menentang apa yang digambarkannya sebagai upaya Abbas “untuk melemahkan semua upaya yang bertujuan untuk mencapai persatuan antar-Palestina”.

 

Serangan Udara Israel Targetkan Warga Pendemo di Gaza

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Seorang pria Palestina gugur dalam serangan udara penjajah Israel di Gaza timur, menurut kementerian kesehatan Gaza.

Mahmoud al-Nabahin, 24 tahun, meninggal  sementara dua warga Palestina lainnya terluka, salah satunya berada dalam kondisi kritis.

Menurut media lokal, serangan hari Selasa (22/1/2019) tersebut dilakukan beberapa saat setelah seorang tentara Israel terluka akibat sebuah peluru menembus helmnya.

Militer zionis mengklaim peluru itu berasal dari pengunjuk rasa di dalam kantong yang dikepung.

Sebelumnya pada hari Selasa, tentara Israel mengatakan pihaknya menargetkan sebuah pos pengamatan milik Hamas – kelompok pejuang Islam yang mengendalikan Jalur Gaza – dengan alasan sebagai respons terhadap tembakan dari bagian utara kantong itu.

Gencatan senjata yang rapuh antara Hamas dan penjajah Israel, yang ditengahi oleh Mesir, telah membawa ketenangan relatif ke Jalur Gaza dalam beberapa pekan terakhir.

Baca juga: 

Kesepakatan itu dirancang untuk memulihkan ketenangan dan mengakhiri dua hari serangan udara Israel di Gaza yang dimulai setelah faksi-faksi Palestina menembakkan roket ke Israel sebagai pembalasan atas operasi penyamaran Israel yang menewaskan tujuh warga di Gaza.

Sedikitnya 14 warga Palestina gugur dan dua warga Yahudi Israel tewas dalam konflik dua hari itu.

Warga Palestina di Gaza telah melakukan protes di sepanjang pagar perbatasan dengan Israel setiap pekan sejak Maret tahun lalu, menyerukan hak mereka untuk kembali dan mengakhiri blokade 11 tahun Israel.

Pengepungan telah menghancurkan ekonomi lokal, sangat membatasi masuknya makanan, akses mendapatkan layanan dasar, dan pergerakan lebih dari dua juta orang yang tinggal di Gaza.

Sejak demonstrasi dimulai, sedikitnya 170 warga Palestina telah dibunuh oleh pasukan penjajah Israel, dengan 18.000 lainnya terluka, menurut kementerian kesehatan.

3 Remaja AS Rencanakan Serang Muslim New York dengan Bom dan Senjata Api

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Tiga remaja didakwa karena berencana untuk menyerang wilayah Muslim di New York dengan bom dan senjata api, kata polisi pada hari Selasa (22/1/2010).

Polisi memulai penyelidikan atas rencana tersebut di Greece, New York, setelah seorang siswa menunjukkan foto kepada siswa lain dan mengatakan orang di foto itu “terlihat seperti penembak sekolah.”

Setelah melakukan penyelidikan, polisi menemukan komplotan untuk menyerang komunitas Muslim di Islamberg, New York.

“Ada rencana untuk menyerang komunitas ini dengan senjata,” kata Kepala Polisi Greece Patrick Phelan pada konferensi pers.

Departemen Kepolisian Greece menangkap Brian Colaneri, 20, Vincent Vetromile, 19, dan Andrew Crysel, 18, pada hari Sabtu. Ketiganya didakwa dengan tiga tuduhan memiliki senjata berbahaya tingkat pertama dan satu tuduhan konspirasi tingkat keempat.

Polisi juga menangkap dan menuduh seorang anak laki-laki berusia 16 tahun sehubungan dengan rencana itu dan berdasarkan undang-undang baru anak tersebut akan diadili sebagai seorang remaja.

Polisi menemukan tumpukan 23 senjata api serta tiga alat peledak improvisasi (IED), yang ditemukan di rumah anak yang berusia 16 tahun tersebut.

IED saat ini sedang diproses di laboratorium FBI di Virginia.

Baca juga:

Dewan Hubungan Amerika-Islam (The Council on American-Islamic Relations-CAIR) menuntut dakwaan federal.

“Siapa pun yang dituduh merencanakan tindakan kekerasan terhadap minoritas agama harus menghadapi kejahatan kebencian negara bagian dan federal dan tuntutan hak-hak sipil yang sepadan dengan keseriusan tindakan mereka,” kata Direktur Eksekutif CAIR-New York, Afaf Nasher dalam rilis berita.

Islamberg didirikan pada 1980-an oleh Mubarak Ali Gilani, seorang ulama yang berasal dari Pakistan, sebagai daerah kantong bagi Muslim yang melarikan diri dari kejahatan dan kemiskinan yang ada di daerah perkotaan. Komunitas ini sebagian besar terdiri dari Muslim kulit hitam.

Kelompok-kelompok sayap kanan mengklaim bahwa kota itu adalah surga bagi para ekstremis dan teroris, namun, tidak ada bukti yang mendukung dugaan tersebut.

Analisis kontra-terorisme 2008 dari Akademi Militer AS di West Point menyimpulkan tidak ada bukti bahwa Islamberg adalah bagian dari jaringan “tempat pelatihan paramiliter.”

“Abu Bakar Ba’asyir Akan Salat 2 Rakaat dan Berdoa Sebelum Bertemu Keluarga”

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Meski kabar kebebasan ustaz Abu Bakar Ba’asyir masih simpang siur, panitia acara penyambutan di Ponpes Islam Al Mukmin Ngruki, Sukoharjo terus melakukan persiapan jelang kepulangan ulama kharismatik asal Jombang tersebut.

Humas Ponpes Al Mukmin Ngruki ustaz Muchson mengatakan, Abu Bakar Ba’asyir diagendakan akan melakukan salat dua rakaat di Masjid Baitusallam sebelum bertemu keluarga.

“Ustaz Abu datang nanti langsung menuju Masjid untuk shalat dua rakaat dan doa,” katanya sesaat ditemui jurniscom di lokasi, Selasa (22/1/2019).

Pantauan jurniscom di lokasi terlihat beberapa orang melakukan pemasangan tenda di sekitar masjid Baitussalam yang lokasinya berada di tengah Ponpes tersebut.

“Tratak (tenda-red) itu mengantisipasi jika ada hujan, akan dilakukan pertemuan penyambutan di Masjid Baitussalam sebelum bertemu keluarga di rumah,” ungkap Muchson.

Saat dikonfirmasi perihal kapan kedatangan ulama sepuh, Muchson juga mengaku masih belum bisa memastikan jam berapa sampai di Ponpes Al Mukmin Ngruki.

Namun kabar yang ramai beredar,  Abu Bakar Ba’asyir akan bebas dari lapas Gunung Sindur pada Rabu (23/1/2019).

“Jam berapa atau malam, persisnya kita belum tahu,” paparnya.

Ia mengatakan, jika rombongan dari Bogor datang pada sore hari, acara akan digelar seusai salat Isya.

“Nanti ada sambutan dari perwakilan keluarga, kemudian pesantren, TPM. Seandainya pak Yusril datang ya pak Yusril,” tandasnya.

Ponpes Al Mukmin Ngruki Siap Menyambut Kedatangan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Humas Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki ustaz Muchson mengatakan, meski kabar kebebasan ustaz Abu Bakar Ba’asyir masih belum pasti, pihaknya telah melakukan persiapan untuk menyambut kedatangan ulama asal Jombang ini.

“Santri kita ada sekitar 1300 orang siap menyambut kedatangan ustaz Abu,” katanya kepada wartawan Selasa (22/1/2019).
Terkait kepulangan, menurutnya ustaz Abu akan mengunakan jalur darat untuk menuju pondok Al Mukmin Ngruki pada Rabu (23/1/2019).
“Karena informasi dari ustaz iim mengunakan jalur darat,” ungkapnya.
“Dari sana informasinya akan keluar pukul 09.00 pagi, jadi kemungkinan sampai sini sore,” imbuhnya.
Senada dengan hal itu, salah satu panitia penyambutan, ustaz Surawijaya mengaku tidak terpengaruh meski pemerintah belum memberikan keputusannya secara resmi terkait kebebasan ulama sepuh ini.
“Kita sudah berkordinasi dengan bebeberapa lembaga termasuk kepolisian, dalam hal ini polres Sukoharjo, kita persiapkan sedemikian rupa dari pihak laskar dan dari pihak pondok,” katanya.
“Kami tetap menjalani rowndon acara sesuai dengan kesepakatan yang kita jalani bersama, kita tidak kemudian terpengaruh dengan statmen-statmen yang berubah,” tandasnya.

Di Olimpiade Matematika ASEAN, Siswa SD Muhammadiyah PK Raih Medali Emas

SOLO (Jurnalislam.com)- Siswa SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo, Athar Ibrahim Aquilla Wibowo berhasil menyabet gold award  (medali emase mas)e ajang final Southeast Asian Mathematical Olympiad (SEAMO) 2019 yang berlangsung di Suntec Singapore Convention and Exhibition Centre, Sabtu (19/1/2019).

Yuli Ekowati, koordinator bidang lomba SD Muhammadiyah PK Kottabarat menyampaikan , SEAMO merupakan final olimpiade Matematika yang diikuti oleh ratusan peserta dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Ia menambahkan bahwa dalam final kali ini SD Muhammadiyah PK Kottabarat mengikutsertakan empat siswa kelas IV yang lolos babak penyisihan di Indonesia pada bulan September 2018 yang lalu. Keempat siswa tersebut adalah Athar Ibrahim Aquila Wibowo yang meraih medali emas, Danendra Giantoro medali emas, Mumtaza Aulia Hanifah medali perak, dan Muhammad Zidane Ramadhan Hakim medali perak.

“Kami tetap bersyukur meskipun dari keempat siswa yang mengikuti final di Singapura, baru satu yang memeroleh medali emas”, ungkapnya. Ia sangat mengapresiasi prestasi yang berhasil ditorehkan para siswa tersebut dan berharap bisa memupuk semangat berprestasi untuk siswa lainnya.

Lolos di final olimpiade Matematika tingkat internasional merupakan pengalaman ke tiga bagi Athar Ibrahim Aquilla Wibowo. Ia sebelumnya pernah mengikuti Singapore International Math Olympiad Challenge (SIMOC) di awal tahun 2018 dan memeroleh dua Silver Award. Kemudian di bulan September 2018, ia juga berhasil meraih gold award dalam ajang Hong Kong International Mathematical Olympiad (HKIMO).

Siswa yang akrab disapa Ibra ini terbiasa belajar rutin dengan bundanya untuk persiapan menghadapi babak final di Singapura. “Selain belajar dengan bunda, saya juga mencari bahan-bahan latihan soal berbahasa Inggris dari internet”, imbuhnya.

Muhamad Arifin, Wakasek bidang Kesiswaan dan Humas SD Muhammadiyah PK Kottabarat mengaku bangga dengan prestasi yang diraih Ibra dan kawan-kawan. “Atas nama sekolah, kami ucapkan selamat atas prestasi yang membanggakan tersebut”, ungkapnya.

Arifin juga menyampaikan bahwa pihak sekolah berupaya mendorong dan memfasilitasi potensi yang dimiliki setiap siswa untuk berprestasi di bidang apapun sesuai dengan kecenderungan yang mereka miliki.

Magnet Ba’asyir

Oleh: M Rizal Fadillah
Ketua Maung Instutute

JURNIS – Pembebasan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir menimbulkan kegaduhan. Tokoh kharismatik yang oleh penguasa dipredikatkan “teroris” ini memang menjadi perhatian nasional yang sedang sibuk dalam proses penghelatan politik. Sementara dunia juga ikut berteriak, terutama Australia. Sikap tegas “pada prinsip” Ustaz Ba’asyir turut menjadikan pembebasannya menjadi magnet perhatian.

Tokoh sepuh ini memang unik, kuat pendirian, serta masih merasa jadi korban stigma terorisme. Dalam salah satu ceramahnya yang diunggah di medsos disampaikan bantahan dirinya sebagai teroris. Membunuh seorang pun tidak pernah, memegang dan melihat bom juga tidak, ujarnya. Hukuman 15 tahunnya pun dihubungkan dengan pendanaan saja. Tapi dimaklumi memang isu terorisme ini sangat menarik rakyat dan dunia. Figur menjadi paket kebutuhan dari keberadaan isu itu. Muslim menjadi sasaran. Lihat saja seorang Kyai Ma’ruf pun saat acara debat KPU di TV begitu kencang mengarahkan pandangan terorisme pada umat Islam ini.

Ada empat kepentingan yang “tertarik” oleh medan magnetik Ba’asyir, yaitu :

Pertama, Presiden Jokowi yang maju sebagai kandidat Calon Presiden untuk periode kedua. Berkepentingan untuk menarik suara umat Islam. Dengan otoritas politik yang dimilikinya menerobos kebuntuan antara aturan dan pendirian sang Ustaz. Melalui utusannya Pengacara Jokowi Ma’ruf Yusril Ihza Mahendra “misi pembebasan” dilakukan. Dalam upaya kepentingan ini jasa dicitrakan tentu saja pada pengacara Jokowi Ma’ruf.

Kedua, para pengacara Ba’asyir yang tergabung dalam TPM dipimpin Mahendradatta. Sejak awal mendampingi berikhtiar untuk membebaskan pula melalui mekanisme hukum yang ada. Menurutnya pembebasan bersyarat semestinya sudah didapat Ustad Ba’asyir sejak 23 Desember 2018. Terkendala oleh sikap klien yang tidak bersedia menandatangani Surat Pernyataan “Kesetiaan pada NKRI”. Ba’asyir memilih untuk tetap mendekam di penjara. Baginya hanya ada kesetiaan pada Islam.

Ketiga, para Jokower radikal termasuk pandangan PDIP sebagaimana dikemukakan oleh Sekjen PDIP yang berkeberatan pada pembebasan ini jika yang bersangkutan tetap tidak bersedia mendatangani surat pernyataan kesetiaan NKRI. Minta untuk “keluar saja” dari Indonesia. Meskipun demikian nadanya memaklumi pada alasan “kemanusiaan”. Ada pula elemen lain yang “complain” pada Yusril yang dianggap tidak bermusyawarah terlebih dulu dengan Tim Jokowi Ma’ruf.

Keempat, sikap di luar Indonesia terutama Australia yang warganya banyak menjadi korban “Bom Bali”. Bagi negara ini tidak bisa diterima alasan apapun atas pembebasan “teroris”. Mereka menghendaki Ba’asyir tetap di penjara hingga waktunya. Tak peduli bahwa tak ada bukti keterkaitan bom Bali dengan Ba’asyir. Teroris tak bisa ditolerir. Sikap ini dijawab oleh pejabat Indonesia bahwa soal keputusan pembebasan menjadi sikap negara Indonesia yang berdaulat. Tak bisa dicampuri.

Di tengah tarik menarik itu, Ba’asyir menjadi tokoh yang menarik. Ulama sepuh ini sendiri yang akan menjadi penentu. Jika saja benar Ustaz Ba’asyir menarik pembebasannya dan menunda hingga usai Pilpres, maka selamat lah. Namun menjadi bukti gagalnya misi politik pembebasan Istana via Yusril. Jika siap dibebaskan dengan syarat dan aturan yang dilabrak, maka dengan “diam” tentu masih dalam konteks misi berhasil. Tapi jika ternyata “bernyanyi” merdu untuk tidak mendukung Jokowi. Maka pembebasan jadi “boomerang”. Apalagi memberi dukungan pada Prabowo Sandi.

Aspek lain mungkin saja karena adanya tekanan yang kuat pembebasan tanpa syarat ini pun bisa batal.

Tapi memang masalah selalu menjadi rumit jika ada niat yang tidak ikhlas. Terlalu sarat dengan kepentingan politik. Alasan “Kemanusiaan” itu memang terpuji jika benar. Namun jika pembebasan targetnya menjadi “komoditas politik” maka yang terjadi adalah malapetaka. Ramai tak menentu. Entah siapa yang rugi dalam hal ini. Hanya pepatah sering mengingatkan “Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri !

Pengamat: Elektabilitas Jokowi Akan Anjlok Jika Pembebasan Ustaz ABB Batal

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pengamat Politik Indonesia, Jaka Setiawan mengungkapkan elektabilitas Joko Widodo akan turun jika pemerintah tidak jadi membebaskan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Hal itu secara tegas ia sampaikan terkait adanya konferensi pers dari Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto yang menyatakan akan mengkaji ulang rencana pembebasan Tokoh Umat Islam tersebut.

“Kalau (pembebasan ABB) ini batal, basis elektoral jokowi di kalangan Islam sudah pasti semakin jeblok. Itu udah pasti,” ujar Jaka seperti dilansir Kiblat.net, Selasa (22/01/2019) pagi.

Namun, ketika pembebasan Ustadz ABB ini jadi dilakukan, jelas Jaka, Jokowi masih ada kesempatan untuk netral elektabilitasnya. Ia menyebut istilah ‘kosong kosong’. Tapi ketika Jokowi membatalkan pembebasan ini, maka akan semakin menambah citra buruk Jokowi.

“Jika dibatalkan, itu akan disebut sebagai pelecehan-pelecehan lagi dan upaya mempermainkan ulama yang sudah sangat senior dan berpengaruh di Indonesia,” ujarnya.

Lebih tegas lagi, Jaka melihat jika nantinya pembebasan Ustadz ABB dibatalkan, maka semakin jelas ketidakberpihakan Jokowi terhadap Islam, terlebih dengan mempermainkan suara ummat islam, dengan mempermainkan Ulama.

Bukan hanya di suara umat Islam saja yang akan turun jika Jokowi membatalkan pembebasan Ustadz ABB ini. Bahkan di kelompok yang tidak mendukung Ustadz ABB pun, Jokowi akan berkurang suaranya karena dinilai tidak konsisten atas kebijakan yang diambilnya.

“Inikan yang terpengaruh ada di dua pihak. Elektoral Islam, satu lagi elektoral yang tidak suka terhadap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Jokowi akan dianggap tidak konsisten oleh kedua belah pihak ini. Ketika tidak konsisten, maka suara itu akan pergi, sebagian mungkin netral sebagian memihak kandidat yang lain yang konsisten dan bisa di pegang janji-janjinya,”.

Sebelumnya, Senin (21/01/2019) siang, Tim Pengacara Muslim bersama Ustadz Abdurrahim, Putra ABB mengadakan konferensi pers, salah satu materi nya adalah pembebasan Ustadz ABB yang diusulkan akan dilakukan hari Rabu. Ustadz Abdurrahim pun menjelaskan bahwa hari Selasa ini hanya tinggal mengurus masalah Administrasi saja.

Tiba-tiba, Senin malam, Menkopolhukam Wiranto mengadakan konfernsi pers yang menyatakan upaya pembebasan tersebut masih dikaji ulang. Dalam konferensi pers (konpers) yang dilakukan selepas azan Maghrib di Kantor Kemenko Polhukam, Wiranto mengatakan Presiden sangat memahami permintaan keluarga untuk pembebasan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Pertimbangananya dilakukan atas dasar kemanusiaan.

“Namun, tentunya masih perlu dipertimbangkan dari aspek-aspek lainnya,” ujar Wiranto, Senin (21/01/2019) dilansir Republika.

Memaknai Pernyataan Wiranto Soal Pembebasan Ustaz ABB

Oleh: Harits Abu Ulya
Pengamat Terorisme & Intelijen, Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA)

JURNIS – Akhirnya pemerintah melalui Menkopolhukam Wiranto mengeluarkan pernyataan resmi terkait wacana pembebasan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) dengan dua substansi utama: “(Pembebasan Ba’asyir) masih perlu dipertimbangkan dari aspek-aspek lainnya. Seperti aspek ideologi Pancasila, NKRI, hukum dan lain sebagainya,”. Dan: “Oleh karena itu, Presiden memerintahkan kepada pejabat terkait untuk segera melakukan kajian secara lebih mendalam dan komprehensif guna merespons permintaan tersebut,”.

Sudah bisa dipastikan pernyataan diatas memantik perdebatan publik secara luas.

Bagaimanakah menalar statemen Menkopolhukam diatas? Berikut catatan kritis saya:

[1]. Diksi “dipertimbangkan” dan “kajian” pada kontek frase statemen Menkopolhukam memberi indikasi makna; Pertama, wacana pembebasan ustad ABB itu di batalkan. Kedua, wacana pembebasan ustad ABB di tunda sampai waktu yang tidak bisa dipastikan. Ketiga, pemerintah berusaha mencari jalan tengah menimbang plus minusnya bagi semua pihak terutama bagi kepentingan rezim.

[2]. Kasus ini menunjukkan kapasitas managerial seorang Presiden Jokowi mengelola pemerintahan sangat problematik. Bisa saja dalam kontek ini seorang Yusril Ihza Mahendra akan di salahkan karena dianggap tidak kordinasi dan sebagainya. Tapi publik paham karena YIM bukan siapa-siapa dalam pemerintahan Jokowi, namun sungguh apa yang di lakukan YIM bukan berdiri sendiri tapi ada sosok Presiden di belakangnya. Dan apa yang di lakukan YIM adalah menterjemahkan hak dan keinginan pribadi Jokowi sebagai presiden.

[3]. Wacana kebijakan politik Jokowi membebaskan ustad ABB akhirnya betul-betul di sadari sangat blunder. Karenanya butuh dipertimbakan dan dilakukan kajian lagi. Kenapa demikian?

Ternyata isu kemanusian, penghormatan pada ulama dan bahasa-bahasa positif lain yang menjadi substansi narasi dari latar belakang pembebasan betul-betul di hadapkan pada ragam kepentingan yang paradok. Pertama; keputusan Jokowi tidak bisa dipastikan untuk mendongkrak elektabilitas sebagai modal di kontestasi pilpres 2019, bahkan bisa sebaliknya menggerus basis dukungan Jokowi dari pemilih setia sebelumnya. Perdebatan dan ketidakselarasan TKN Jokowi dengan rencana pembebasan ustad ABB menjadi indikasi kuat adanya irisan kepentingan pilpres 2019 dengan pernyataan resmi pemerintah via menkopolhukam.

Kedua; tekanan asing yaitu Amerika dan sekutunya demikian kuat kepada pemerintah Indonesia khususnya kepada kemenkopolhukam dan Kemenkumham. Bisa jadi Indonesia takut dengan ragam sanksi atau embargo dari Amerika dan sekutunya. Dan lagi-lagi statemen Wiranto mengkonfirmasi indikasi adanya tekanan tersebut, dan kadaulatan Indonesia sangat kritis. Harusnya Presiden Jokowi tampil ke depan, tidak perlu “lepas tangan” dan menyerahkan kepada menteri-menterinya untuk merancang narasi agar meyakinkan publik mau memaklumi bahwa kebijakan Presiden tidak ada yang salah jika menimbang dan mengkaji ulang.

[4]. Sikap pemerintah akan membuka pintu lebar-lebar kritikan keras dan tajam dari ragam kalangan dan dengan beragam motif. Jika benar-benar batal rencana pembebasan ustad ABB maka reputasi dan integritas Jokowi sebagai presiden bisa hancur sehancur-hancurnya. Publik akan menggugat konsistensi seorang Presiden. Jika hal ini dianggap remeh oleh presiden Jokowi atau orang-orang disekelilingnya, maka jangan lupa peristiwa ini juga akan mengkofirmasi statemen ustad ABB selama ini bahwa kasusnya adalah pesanan pihak Asing (Amerika dan sekutunya). Dan pemerintah Indonesia hanya seperti budak yang harus taat kepada tuannya.

Dan jelas bahwa umat Islam sebagian besar akan kecewa dan makin mengkristalkan spirit untuk menggulingkan Rezim Jokowi di pilpres 2019.

[5]. Akan muncul penalaran liar; apakah ini permainan politik tingkat tinggi? Ada design untuk memenangkan pilpres 2019 melalui isu terorisme. Membuat kebijakan yang memantik kehadiran intervensi asing sekaligus di sana akan ada bergaining untuk mendapatkan keuntungan dan dukungan dikepentingan politik domestik. Dan pihak asing serta aktor-aktor domestik opuntunir juga bisa meraup keuntungam dari proyek globar war on terrorism dimana ustad ABB terus di branding menjadi icon isu terorisme di kawasan Pasific.

Akhirnya publik akan melihat bagaimana ending dari semua ini. Akankah rasa kemanusiaan dan atas nama kedaulatan NKRI dikalahkan oleh kepentingan politik pragmatis 2019, kepentingan kelompok opurtunis dan asing?[]

Setelah Bebas, Tak Sembarang Orang Bisa Temui Ustaz ABB

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kuasa hukum Ustaz Abu Bakar Ba’asyir (ABB), Achmad Michdan mengatakan, pihaknya sudah mempersiapkan rencana pengamanan untuk beliau jika telah bebas dari penjara.

Pihaknya akan memastikan agar tidak sembarang orang bisa bertemu Ustaz ABB, baik untuk mendengarkan ceramahnya maupun bertemu dan berbicara dengan ulama 81 tahun tersebut.

Michdan khawatir ada orang yang meminta fatwa Ba’asyir dan hal itu kemudian dimaknai sebagai anjuran melakukan aksi teror.

“Kami tahu banyak orang datang kemudian dia mau cari apa yang disampaikan ustaz kemudian dia akan memutarbalikannya. Ini yang akan kita jaga,” kata Michdan di Jakarta, Senin (21/01/2019).

Michdan yakin akan ada banyak orang yang memanfaatkan, memanipulasi, dan akan kemudian membuat teror. “Ini yang akan kami jaga,” pungkasnya.

Terkait kepulangan Ustaz ABB, tim kuasa hukum telah mengajukan agar hari Rabu, 23 Januari besok Ustaz ABB sudah bisa pulang ke Solo.